Monday, 28 December 2009

UAN: Ujian Adu Nasib

Namanya Siti (bukan nama sebenarnya), siswa kelas tiga sebuah Madrasah Aliyah di Aceh Besar. Sejak kelas satu ia menjadi juara umum di sekolah yang dihuni seribuan siswa itu. Matematika adalah pelajaran yang lpaling disukainya. Sejak kelas satu ia mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran ini. Bahkan tidak jarang ia “dimanfaatkan” oleh guru untuk mengajarkan teman-temannya dalam sebuah topik bahasan saat sang guru berhalangan. Ia menjadikan soal-soal matematika sebagai permainan dan mengisi waktu luang. Bahkan ia mejadi duta sekolah untuk mengikuti berbagai olimpiade Matematika di berbagai tempat di Aceh dan Nasional. Memang ia bukan juara nasional, namun di Aceh ia termasuk jagoan dalam pelajaran ini. Tahun lalu.

Tahun lalu pula ia tertunduk lesu di meunasah (langgar) sekolah saat kepala sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang tidak lulus UAN. Satu diantara nama itu adalah namanya. Yang lebih menyedihkan nya, ia tidak lulus di mata pelajaran Matematika. Sementara pelajaran lain yang diujiankan ia mendapat nilai maksimal, bahkan yang tertinggi di sekolah itu. Namun apa daya, dengan ketentuan satu mata pelajaran tidak lewat berarti gatol (gagal total) ia harus menangis menunggu setahun kemudian. Padahal ia sudah mengantongi seurat undangan masuk ke Fakultas Kedokteran sebuah universitas di di Aceh. Dengan kondisi ini jelas ia harus permisi sambil menunduk malu.

Sementara Budi, juga bukan nama sebenarnya” berteriak girang karena ia dinyatakan lulus murni dalam mengikuti ujian itu. Padahal semua tahu kalau ia adalah anak yang jarang pergi ke sekolah, ugal-ugalan, menggunakan narkoba dan sama sekali tidak peduli dengan sekolahnya. Hanya karena ia anak “seorang” yang berpengaruh saja maka ia bisa bertahan dan tetap tercatat di lembaga pendidikan itu. Harinya, jangankan belajar buku saja dia tidak pernah bawa ke sekolah. Datang ke sekola kapan ia suka, pulang kapan ia mau. Mau tegur? Mau keluarkan? Mau pecat? “Bapakh saya si Anu” katanya, yang membuat dewan guru tidak berkutik, sebab itu menyangkut dengan hajat hidup dia sendiri.

Siti hanyalah satu di antara banyak “korban” UAN yang diwajibkan pemerintah pada semua sekolah di Indonesia dengan alasan standarisasi dan kontrol mutu. Namun karena pengawasan yang sangat lemah, plus moralitas pejabat yang sangat rendah, UAN justru berubah untuk kepentingan pejabat mempromosikan diri dan daerahnya. Seorang guru SMP bercerita sama saya bagaimana kepala sekolah meminta mereka untuk mengusahakan agar semua anak lulus UAN. Sebab sang kepala mendapat intruksi tidak tertulis dari kepala dinas untuk kredibilitas sekolahnya. Kepala dinas sendiri sedang berusaha menunjukkan kepada atasannya yang lebih tinggi bahwa di bawah kepemimpinannya lembaga pendidikan di Aceh sukses meningkatkan mutu lulusan.

Dengan cara demikin, maka UAN adalah ajang adu nasib para siswa. Keterlibatan dan teror pemegang kebijakan pendidikan, menjadikan sekolah tidak berdaya untuk menjalankan kejujuran. Anak-anak mendapatkan jawaban entah dari mana. Beredar dari ponsel ke ponsel atas nama “intruksi resmi” Mereka tinggal menghafal 1-a, 2-c, 3-a, 4-d, dan seterusnya, mereka akan mendapatkan tiket lulusan bernama ijazah. Sementara anak yang cerdas dengan kemampuan pribadi yang kuat, memegang teguh kejujuran dan percaya pada kemampuan sendiri, memiliki pemahaman yang baik pada pelajaran yang diikutinya belum tentu mendapatkan kelulusan. Selain ketidak hati-hatian dalam memberikan jawabab, kemampuan yang mereka dapatkan memang dibawah standar yang diharapkan. Ini juga tidak sepenuhnya salah mereka. Sebab fasilitas pendidikan, kemampuan guru, manajemen sekolah semua mempengaruhi kemampuannya dalam mendapatkan ilmu maksimal dari sebuah mata pelajaran.

Saya adalah orang yang setuju jika UAN tidak menjadi ajang vonis mati bagi siswa dalam menentukan kelulusan. Ada banyak faktor lain yang perlu dinilai dalam pendidikan, bukan hanya beberapa mata pelajaran. Sebab kita menamakannya dengan lembaga pendidikan, di mana anak dididik, bukan lembaga pengajaran di mana anak diajar. Pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan yang dilakukan terus menerus dalam berbagai bidang. Mengklaim anak “gagal” dalam pendidikan karena kegagalannya dalam satu mata pelajaran akan merusah semangatnya dalam belajar dan rasa pecaya dirinya dalam menggapai cita-cita.

Saya membayangkan ke depan tidak ada Siti lain yang tertunduk sedih, malu dan putus asa karena kegagalan dalam mata pelajaran yang ia faforitkan dan tidak ada Budi lain yang tertawa mengejeknya: “Apa juga juara umum!”

Tulisan saya yan lain bisa dilihat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

No comments:

Post a Comment