Thursday, 24 December 2009

Hidup adalah Saling Memberi (3)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-----------------------------------------------------------------------
Di tengah kerumunan orang saya melihat manusia yang tidak sempurna. Ada yang tanpa kaki, tanpa lengan, usus yag keluar, tanpa mata sebelah, dan kebanyakan tanpa nyawa. Beberapa orang berinisiatif menutupi jasad tanpa nyawa itu dengan kain yang ada di badannya, lalu seorang bapak paruh baya mengatakan, tutuplah yang masih hidup dan dirimu sendiri. Jaga yang masih hidup agar tetap hidup, iklaskan yang telah meninggal dunia. Pakaian tidak berarti apa-apa untuk mereka. Kitalah yang memerlukan pakaian sekarang. Kalau pakaian ini kita berikan kepada yang telah mati, apa yang akan kita gunakan untuk mngusir dingin nanti malam? Petuah bapak paruh baya ini dipatuhi. Mayat-mayat yang tergeletak disana akhirnya terbuka tanpa tutupan sama sekali. Hanya beberapa lembar tikar lusuh dan kertas koran dari asrama yang digunakan untuk menutupinya.

Lalu saya meminta izin kepada adik perempuan saya untuk pergi. Saya sudah pastikan mereka selamat dan sementara itu cukup. Saya harus membantu banyak orang yang mungkin bisa diselamatkan. Turun dari asrama saya mencoba menyusuri jalan yang berlumpur di depannya. Pemandangan mayat dan orang sakit ada di mana-mana. Saya membantu beberapa orang menganggat orang yang terluka. Tiba-tiba sala melihta sepotong tangan bergerak di tengah lumpur. Tangan itu melambai-lambai sambil berucap: Allah… Allah…. Allah… Seorang anak muda lari ketakutan. Tangan tanpa kepala itu disangka hantu. Saya dan seorang teman jadi penasaran. Tidak mungkin hantu mengucapkan lafaz suci nama Ilahi. Kami mendekati tangan hitam legam itu. Ternyata seorang orang tua yang terkubur lumpur. Lalu kami mengangkat orang itu dan membawa ke asrama.

Hari itu saya habiskan untuk membantu mengangkat jenazah, sampai sore. Sedikit waktu saya sisakan untuk mengantar makanan kepada adik-adik saya di asrama. Makanan yang saya peroleh dari sebuah kulkas yang hanyut (Seandainya ada yang merasa sebagai pemilik kulkas itu izinkan saya telah mengambil beberapa potong kue dan beberapa buah jeruk di dalamnya). Lalu kami berjalan kaki 6 km ke Lambaro Angan, rumah famili yang tidak terkena tsunami karena jauh dari lautan. Di sana berkumpul banyak famili lain dan saudara dari famili itu. Sehingga rumah kecil tiga kamar itu menjadi penuh sesak. Sebuah tenda darurat harus segera dibangun di depannya karena di dalam rumah tidak cukup tempat. Saya sendiri kembali ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman lain yang tidak ada saudaranya di Banda Aceh. Sangat tidak enak rasanya membiarkan mereka “terbuang” tanpa kebersamaan.

Malam hari kami tidur seputaran masjid dan perpustakaan Induk Unsyiah. Di sana tidur dan berkumpul banyak orang, entah dari mana saja asalnya. Pemandangan korban tsunami semakin beragam. Di atas masjid saya menjumpai beberapa orang dengan usus terburai di laur badan tidur dengan berlapis koran. Beberapa orang lainnya merintih kesakitan karena anggota badannya yang hilang. Namun hanya sedikit yang dapat terlayani, sebab kebanyakan mereka harus melayani diri sendiri. Di Masjid itu juga kami sering harus berlarian karena ada isu tsunami yang lebih besar muncul lagi. Katanya, air sudah smpai ke Rukoh dan dua kali lebih besar dari pagi tadi. Dan itu terjadi beberapa kali. Sampai ada inisiatif dari pengurus masjid untuk menjamin kebenaran informasi. Jam 11.00 malam pengurus masjid mengumumkan lewat microfon bahwa yang memiliki otoritas untuk menyatakan benar atau tidaknya info tsunami hanyalah pengurus masjid, selebihnya tidak boleh dipercaya. Kalau pengurus mengatakan ada air laut naik, maka larilah. Kalau sumber informasi tidak jelas, maka baikan saja. Sejak saat itulah kami sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.

Saya tidak memiliki kain selain baju yang menempel di badan. Di sebuah aula dekat perpustakaan ada dipajang beberapa papan bunga yang berisi ucapan selamat pernikahan yang dilaksanakan paginya. Saya dan beberapa orang yang lain merusak papan bunga itu dan mengambil kain dasarnya. Ternyata pemilik bunga menggunakan kain bludu yang agak tebal untuk ditusuk dengan jarum bunga. Setelah bunga-bunga itu saya buang saya mendapatkan selembar kain tebal yang luas dan sangat hangat. Cukup untuk mebungkus badan dan menghabiskan sisa malam itu. Dengan kain itu saya mencari posisi di tengah orang-orang yang sudah berbaring di sembarang tempat di sekitar masjid dan perpustakan. Di sebuah tempat kosong, di antara tubuh-tubuh yang terbujur lelap saya membaringkan diri berselimut kain bunga.

Saya bangun ketika matahari sudah naik sehasta dan menyilaukan mata. Meskipun masih ngantuk dan lelah saya mencoba bangun dan menggerakkan badan. Ketika keluar dari bungkjusan kain selimut dan membuka mata saya sedikit heran kanapa orang-orang yang tidur di samping kanan dan kiri saya juga belum bangun. Mereka masih tidur dengan tenang dan nyaris tanpa gerakan. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau di sana adalah tempat meletakkan jenazah korban tsunami yang sudah ditutp dengan berbagai macam benda, kain, goni, daun, koran dan lain sebagainya. Padahal pagi tad saya ikut mengantarkan jenazah ke sana, namun saya lupa. Semalam fenomena ini tidak nampak karena gelapnya malam sehingga saya tidur di sana bersma mereka. Dan ketika pagi datang saya baru tahu kalau semalam saya tidur diapit oleh jenazah-jenazah korban tsunami. Pantas saya bermimpi masuk surga.

Artikel ini juga dimuat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

1 comment: