Wednesday, 23 December 2009

Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
------------------------------------------
Sukses menyelamatkan diri dari kejaran Tsunami ternyata bukan akhir dari pejalanan hari itu, malah sebaliknya, awal dari semua perubahan yang saya alami sampai saat ini. Saya berlari lebih kurang 1,5 km dari rumah sampai benar-benar selamat dari amukan gelombang. Di Darussalam, tepatnya di lokasi kampus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, ternyata banyak orang berkumpul. Sebab di sanalah ujung dari gelombang dahsyat itu. Saya berjumpa dengan banyak teman yang juga “berhasil” menyelamatkan diri. Saat bertemu kami bercanda, tertawa, mengisahkan kehebohan yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Sama sekali saya, dan juga beberapa teman, tidak sadar ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah Aceh dan mungkin juga sejarah Indonesia.

Sampai tiba-tiba kami dihebohkan dengan sekelompok orang yang mengangkat sesosok jenazah laki-laki telanjang dari dalam air yang masih tergenang. Orang-orang berkerumun menyaksikan jenazah itu. Mungkin sebagian ingin tahu itu jenazah siapa, namun banyak pula yang hanya ingin melihat saja kondisi jenazah yang tidak lazim itu. Sebelum semua orang dapat melihat, dari arah lain sudah terdengar kabar ada jenazah yang lain lagi, dan bagitu seterusnya. Muka-muka senang dan penuh canda yang kami perlihatkan sebelumnya mendadak kecut dan takut. Saya berjalan agak ke Barat, dekat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Di sana ada sebuah jalan yang mengarah ke dalam lautan air gelombang yang sedang surut. Tiba-tiba seorang perempuan setengah telanjang, berkulit putih, sedikit gemuk dan agak pendek diangkat dari air. Itu persis seperti ciri-ciri adik perempuan saya. Tiba-tiba jantung saya berdetak cepat. Saya lupa diri dan kalut. Tidak peduli dengan air gelombang yang surut dengan begitu deras, saya masuk dan berenang. Niat hati hanya satu, memastikan kondisi tiga orang adik perempuan saya plus dua adik sepupu yang tinggal di desa Rukoh, sebuah desa yang turut hancur terkena tsunami.

Saya berusaha berenang dan sesekali berjalan mengarungi air gelombang yang sedang surut. Tempat di mana saya berjalan pada dasarnya memang sebuah jalan umum, namun gelombang lautan yang naik tiba-tiba menjadikannya sebagai sebuah sungai. Saya berusaha terus berjalan dan sesekali berenang. Setelah 100 meter saya lalui, air sudah mulai mengering hingga menjadi selutut. Saya bisa berjalan lebih cepat ke arah rumah adik saya meskipun dengan sebuah perjuangan keras karena air surut yang sangat deras.

Perjalanan itu menimbulkan kesan yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Untuk pertama kali, saya melihat beberapa jenazah tersangkut di pagar dan di dalam mobil. Sebuah mobil angkutan yang penuh sesak dengan penumpang terbalik ke selokan di pinggir jalan dengan seluruh penumpang di dalamnya tewas menggenaskan. Banyak jenazah tertutup lumpur dan hanya terlihat bagian tertentu dari badannya. Kebanyakan jenazah itu terbuka pakaiannya hingga telanjang. Mungkin ganas dan putaran air yang sangat kuat menjadikan semua yang melekat pada tubuh mereka lepas dan hilang. Saya juga melihat beberapa potongan tubuh yang tidak utuh. Di atas sebuah sampah yang menumpuk saya lihat sebuah potongan tangan yang badannya sama sekali tidak ada di sana. Belum lagi beberapa peralatan rumah tangga masyarakat yang berhamburan ke tengah jalan. Mobil, motor, kulkas, mesin cuci, dispenser, kompor gas, gas kompor, semuanya berserakan di tengah dan sekitar jalan yang saya lalui.

Tapi saya tidak bisa peduli dengan itu semua karena pikiran dan perasaan saya masih berkecamuk. Bagaimana nasip adik-adik saya? Dengan kondisi yang saya saksikan di sepanjang jalan, membuat saya semakin khawatir nasib mereka. Saya terus berjalan hingga sampai di ujung jalan, di mana ada tiga asrama mahasiswa Unsyiah berlantai tiga yang penuh sesak dengan manusia. Saya mencoba menuju ke sana, sebab bangunan itu tidak jauh dari rumah kosan adik saya. Ketika saya masuk ke pagar halaman yang di sisi kirinya tersangkut mayat seorang bapak tua, sebuah suara serak penuh tangisan memanggil saya dari lantai dua. Saya kenal pasti dengan suara itu, dan itu adalah adik perempuan saya. Setetes air mata meleleh di pipi saya. Setidaknya satu orang pasti selamat. Lalu saya bergegas naik ke lantai dua bangunan yang penuh sesak itu. Alhamdulillah, saya berjumpa dengan tiga orang adik perempuan saya dan dua adik sepupu. Mereka semuanya selamat. Hanya saja rumah dan semua isinya hancur lebih diterjang tsunami. Saya teringat dua lemari buku yang berisi lebih kurang 600 judul buku plus makalah, majalah, jurnal, kliping, dll yang saya “titip” di rumah mereka. Semuanya wa’fuanna, innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Renungan:


Saya kalang kabut, tidak hati-hati dan ceroboh. Perasaan sedih dan duka membuat saya bertindak tidak hati-hati. Saya “terjun” ke dalam air begitu ingin tahun kondisi adik saya. Padahal saya hanya punya pakaian di badan satu-satunya dan handphone di dalam kantong. Saya juga masuk ke dalam air yang masih deras. Saya bertindak tanpa ilmu. Handphone saya sebenarnya sudah selamat, namun ia menjadi korban kecerobohan saya. Untung saya selamat dalam air surut yang di tempat lain memakan banyak korban. Seharusnya saya sedikit berfikir dan tenang sebelum bertindak.

Bagian I

1 comment: