Tuesday, 30 March 2010

Ternyata Manusia Bukan Dari Monyet!

Siapa tidak tahu teori evolusi yang dipopulerkan Darwin? Saya kira hampir semua orang. Apalagi hal ini sering dikaitkan dengan ajaran agama dan diulas dengan dalil-dalil dari kitab suci. Jadilah teori darwin sangat terkenal bahkan sampai ke kampung-kampung. Sayangnya yang dikenal itu hanya satu kalimat: “Menurut Darwin, manusia berasal dari Monyet!”

Ternyata perdebatan ini telah sampai di sebuah forum Internasional di Swiss. Ilmuan pro dan kontra atas teori ini dipertemukan dalam satu meja. Mereka diberikan kesempatan untuk memaparkan alasan-alasannya dengan bukti ilmiah yang mutakhir. Tujuannya hanya satu, untuk memastikan apakah nenek monyang manusia berasal dari monyet atau bukan!

Pada waktu yang telah ditentukan kedua kelompok mengutus perwakilannya untuk mempresentasi hasil temuan mereka. Kelompok lain membantah dan mengajukan keberatan, mengatakan berbagai kelemahan yang disampaikan oleh kelompok lawan. Ini menyebabkan terjadinya perdebatan panjang dan tidak selesai. Satu Dua, tiga hari sampai seminggu belum juga ada kesimpulan. Panitia sudah kehabisan modal. Mereka mulai berfikir jangan-jangan para ilmuan hanya memperpanjang perdebatan agar mereka bisa berlama-lama berlibur sembari menikmati fasilitas yang disediakan panitia.

Oleh sebab itu, karena perdebatan tidak kunjung selesai, maka MC dan Fasilitator menawarkan jalan damai elalui voting. Kan voting bisa menyelesaikan perdebatan panjang, terserah hasilnya bermanfaat atau tidak. Tapi cukup kuat sebagai jalan menghentikan debat kusir, yah… seperti yang ditunjukkan oleh politikus kita di senayan lah… Dan ternyata para ilmuan setuju.

Pada hari yang telah ditentukan, semua ilmuan hadir dan siap mengajukan voting. Sebelumnya mereka sudah saling melobi agar ada pihak lawan berkhianat dan setuju dengan tawarannya. Bahkan dengan tawaran kursi menteri, atau jabatan di tempat-tempat basah segala. Sementara pimpinan kelompok mengancam anak buahnya agar tidak tergiur dengan tawaran pihak lawan atau akan dikeluarkan dari barisan.

Oke… waktu voting tiba…

Fasilitator mengatakan, voting dilakukan dengan amat sederhana dan terbuka. Sebab ilmuan tidak usah tertutup kalau memang mereka punya bukti kuat. Oleh sebab itu, Fasilitator mengatakan.

“Saudara-saudara yang terhomat. Seperti telah kita ketahui bersama bla.. bla…bla…. Oleh sebab itu, kepada mereka yang yakin nenek monyangnya monyet dipersilahkan berdiri!”

Apa yang terjadi? ternyata tidak ada ilmuan yang berdiri! Mereka takut disebut sebagai keturunan monyet!

:-)

Monday, 29 March 2010

Aman Guntur: Tetuwe Adat Gayo

Tahun lalu saat melakukan penelitian di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya berjumpa dengan seorang tokoh adat Gayo di sana. Beliau mengaku lahir pada tahu 30-an. Jadi, saat ini umurnya sudah lebih 70 tahun. Namun di usia tuanya, ia masih aktif mengepalai dua organisasi. Sebagai ketua Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat (JKMA) wilayah Lut Tawar, yang membawahi masyarakat adat di tiga kabupaten; Aceh tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Kedua ia menajadi Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Bener Meriah. MAA adalah lembaga adat bentukan pemerintah yang ada di setiap kabupaten kota dan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Makasar, dan beberapa kota lainnya di mana banyak orang Aceh.

Beliau dikenal dengan nama Aman Guntur. Sebenarnya nama asli beliau Jafaruddin. Namun sudah menjadi kebiasaan di sana seseorang dipanggil dengan nama anaknya yang paling tua di tambah kata ‘aman’ (orang tua dari) di depan nama tersebut. Jadi, karena Pak Jakfar nama anaknya Guntur, maka ia dikenal dengan nama Aman Guntur. Nama ini sudah melekat padanya sejak anak pertamanya lahir. Sehingga banyak orang di desa itu, terutama anak muda, tidak mengenal Jafaruddin. Yang mereka tahu adalah Aman Guntur atau Kepala Mukim, karena ia pernah menjabat sebagai Mukim sejak tahun 1969.
Aman Guntur adalah tokoh yang memperjuangkan agar adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistim pemerintahan yang ada. Soeharto dengan UU No. 5 Tahun 1979 menyeragamkan sistim pemerintahan di Indonesia meniru model pemerintahan di Jawa. Dengan UU ini menyebabkan model pemerinatahan Mukim di Aceh, Nagari di Sumatera Barat menjadi mati layu. Akibatnya beberapa sistem budaya tidak berjalan dengan baik. Apalagi Aceh diperparah dengan konflik yang membuat orang sangat takut menentang Soeharto.

Nah, pasca keluarnya UU Otonomi Khusus dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pada tahun 2006, Aceh mendapatkan kesempatan membangun kembali institusi adat yang sudah layu tersebut. Salah satunya adalah melalui revitalisasi peran mukim. Dan inilah yang dilakukan oleh Aman Guntur. Ia, di sepanjang usia senjanya masih sangat bersemangat untuk menghidupkan kembali adat di dataran tinggi Gayo.

Ia mengomandoi dua lembaga adat sekaligus, JKMA dan MAA. Bagi Aman Guntur kedua lembaga ini memiliki fungsi dan misi yang sama. Tujuannya sama-sama menginginkan bagaimana adat dan budaya dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan pemerintahan di Kabupaten Bener Meriah. Kedua harus sejalan dan tidak boleh ada dualisme. Jakfar menganggap pemerinatah tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan pengkajian dan mengeksplorasi berbagai aspek budaya yang hidup dalam masyarakat. Itulah yang menjadi tugasnya, mengambilnya dari kehidupan masyarakat, merumuskannya dalalu menyampaikan kepada pemerintah untuk dilaksanakan, baik dalam tubuh pemerintah itu sendiri maupun dalam aturan keseluruhan masyarakat umum.

Apalagi di Bener Meriah Meriah ada banyak suku (Gayo, Aceh dan Jawa), maka JKMA dan MAA harus menjadi fasilitator yang dapat menggabungkan seluruh suku itu untuk hidup rukun dan damai jangan ada perpecahan. Jakfar mengatakan, adat harus dapat menyelesaikan masalah yang ada dalam suku-suku tersebut. Sebab penyelesaian dengan adat jauh lebih efektif dibandingkan dengan penyelesaian di Pengadilan Negara. Untuk ini setiap masalah yang ada dalam suku tertentu harus didekati dan diselesaikan dengan pendekatan suku itu pula.

Aman Guntur juga menjelaskan kalau tidak semua undang-undang negara “laku” dalam masyarakat. Masyarakat punya undang-undang sendiri yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Menurut Aman Guntur, 75% dari masalah yang ada dalam masyarakat dapat diselesaikan melalui adat. Hanya 20% saja yang harus ke pengadilan. Misalnya masalah sengketa di perbatasan desa. Ini tidak bida dengan pengadilan atau KUHP. Ini masalah adat yang dapat diselesaikan dengan adat. Sebab tanah dibagi secara adat.
Damai di pengadilan tidak sama dengan damai di adat. Meskipun damai sudah diputuskan, namun hatinya tidak dapat menerima sepenuhnya. Sebab yang berperkara hanya satu orang lawan satu saja, tidak dengan keluarga. Dalam penyelesaian adat damai adalah kelompok dan keluarga, sehingga damainya iklas dan dapat terjalin lama dan hilang dendam.

Dalam akhir-akhir wawancara Aman Guntur juga memberikan nasehat tentang menjaga kesehatan dan resep panjang umur. Ia mengatakan kalau resep panjang umur adalah menjaga kesehatan dan tidak larut dalam masalah yang membuat stress. Selain itu selalu memberi salam, sebab salam adalah damai. Ketika kita sudah menyampaikan salam kepada seseorang dan ia menjawab salam, maka itu berarti sudah damai dan sudah saling memaafkan.


Boom Kuah Basi

Biasanya bom terbuat dari bahan kimia yang diisi dengan berbagai partikel berbahaya. Jika meleddak maka akan menghancurkan apa saja yang ada di sekiratnya. Bukan hanya orang dan bangunan, sebuah pulau bisa saja tenggelam kalau terkena bom. Ya.. pulaunya harus kecil dan bomnya harus bertenaga ledak luar biasa. Mungkin bom atom dan bom-bom lain yang dipakai Amerika untuk meledakkan Irak bisa jadi contoh yang sesuai.

Tapi belakangan ada yang unik, bom terbuat dari barang alami yang pedas dan baunya menusuk hidung. Bom sejenis ini saya dengar sedang dikembangkan di India. Bom tersebut terbuat dari ekstrak cabe India yang super pedas, terpadas di dunia. Untuk satu beulangong kari kambing mungkin hanya perlu beberapa biji saja. Ekstrak inilah yang dikumpulkan dan dipadatkan untuk dijadikan bom. Saya dengar juga, bom tersebut khusus diperutukkan buat teroris. Mereka akan kesulitan bernafas dan melihat jika kena ledakan bom ekstrak cabe.

Tapi ada yang lebih aneh, sebuah bom terbuat dari kuah basi. Bahkan teman seprofesi saya, penjual durian tahun 2000 pernah menjadi korban. Saya tidak tahu bagaimana rasanya, namun saya bisa lihat ekspresinya dan dapat bayangkan juga perasaannya setelah kena bom.

Ceritanya, tahun 2000 saya jualan durian di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Saya bukan toke-nya, hanya seorang yang membantu mendistribusikan saja di pasar. Pemiliknya seorang teman lain yang mendapatkan durian di beberapa daerah di Aceh. Di sisi kanan tempat saya jualan ada seorang laki-laki paruh baya yang sama seperti saja juga jualan durian. Kami sama-sama bermandi keringat saat siang terik Banda Aceh yang membakar.

Tempat di mana saya berjualan tidak jauh dari sebuah kontainer sampah. Dasar orang kota, meskipun kontainer sudah disedikan, sampah tetap saja dibuang sembarangan, bahkan sampai di tempat saya jualan. Persis di depan kami, agak ke pinggir jalan ada sebuah bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Sepertinya salah satu bagian sampah yang tidak dibuang di kontainer sampah yang telah disediakan.

Suatu teman saya membeli air mineral dalam gelas plastik (aqua gelas) dan memberikan saya satu gelas. Saya menyimpannya karena saat itu sedang tidak mau minum. Teman saya langsung meminum sampai habis dan membuang gelas platik itu di depan kami berjualan. Gelas itu jatuh persis di dekat bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Saya menegurnya, agar ia membuang sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, Sebab di sana tempat orang lewat dan akan sangat mengganggu pemandangan.

Teman ini menjawab: “Tidak masalah, nanti ada dinas kebersihan yang membersihkannya, kalau ngak untuk apa mereka digaji,….”

Ia belum selesai bicara saat tiba-tiba sebuah mobil sedan abu-abu melintasi jalan di depan kami. Pas di depan kami mobil itu hendak menghindari sebuah becak yang datang dari arah berbeda sehingga ia berjalan agak menepi, hanya satu meter dari kami berdiri. Mobil berjalan agak kencang karena jalan memang lagi kosong.

“Cpraaattt…” (saya lupa persis seperti apa suaranya). Bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman yang ada di depan kami meledak terlindas ban mobil. Air kuning kehitam-hitaman dari dalam palstik langsung terbang menuju teman saya. Air itu mengenai bagian depan baju teman saya dan sebagian mukanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Bau menusuk hidung tidak terhindarkan. Saya tidak bisa gambarkan bagaimana baunya. Tapi itu memang sangat bau.

Saya lihat muka teman saya memerah, atau tepatnya membara. Ia menahan amarah yang maha dahsyat dan mengutuk pengendara mobil. Beberapa saat setelah ia kena bom kuah basi ia tidak berkata apa-apa, namun dalam beberapa detik kemudian keluar berbagai sumpah serapah dan “peribahasa khas” yang tidak layak diucapkan dalam situasi normal.

Ia melihat pada saya, saya katakan: “Tidak masalah, nanti ada Dinas Kebersihan yang membersihkannya…”

***

Keburukan yang kita buat akan kembali kepada kita sendiri. Mungkin dalam bentuk lain yang kita tidak sadari.


Saturday, 27 March 2010

Pengumuman, Azan Dibatalkan!

Tahun 2009, saat masih kuliah semester empat saya bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu kami bekerja membuat sebuah gedung di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Yang saya maksud adalah gedung lama, sebelum pindah ke bangunan bantuan Jerman saat ini. Bangunan yang kami kerjakan setelah selesai dipakai untuk ruang bedah dan cuci darah. Letaknya persis di bagian belakang tempat parkir sebelah Barat bersisian dengan ruang ICCU.

Di tengah-tengah komplek rumah sakit ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Ibnu Sina. Masjid ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung jamaah yang terdiri dari keluarga pasien atau orang yang mengunjungi orang sakit. Letaknya yang memang berada di tengah-tengah menjadikan masjid ini mudah dijangkau dari sisi mana saja di rumah sakit tersebut. Dari tempat saya bekerja hanya melintasi tiga bangunan lain saja sudah sampai ke sana. Mungkin sekitar 150 meter. Di masjid itu kami sering shalat zuhur.

Rumah sakit ini dikelola oleh seorang imam yang sudah sangat tua, mungkin usianya saat itu lebih 70 tahun. Beliau adalah seorang pensiunan Angkatan Darat sejak masa Soekarno. Selain sebagai imam masjid, Ia memiliki “hak” untuk mengumpulkan kantong plastik infus bekas yang dipakai oleh pasien. Botol plastik ini dijual ke agen di Medan, Sumatera Utara. Ia dikenal dengan ketegasan dan disiplin. Salah satu yang paling diingat orang dari sikap beliau adalah instruksi awal sebelum shalat jamaah. Dengan menghadap kepada jamaah beliau berkata dengan suara sangat keras; “Lurus dan rapikan shaf, ratakan tumit dengan garis coklat”

Suatu hari, cuaca di Banda Aceh sangat mendung. Awan hitam seolah memayungi kota sejak pagi. Anehnya, sudah lama mendung hujan tidak juga turun. Kami bekerja seperti biasa dan sedikit santai karena udara tidak panas. Apalagi saat itu bos sedang tidak ada, katanya tidak bisa datang karena ada hal penting di rumahnya. Jadi kami hanya bisa menggali tanah untuk pondasi dan mengikat behel untuk cor tiang bangunan.

Tiba-tiba, jam 10.20 menjelang siang terdengar suara azan dari masjid yang memang tidak jauh dari tempat kami bekerja. Saya jadi heran, kenapa azan dikumandangkan begitu cepat. Di Banda Aceh umumnya shalat zuhur jam 12.45, bahkan terkadang jam 13.00. Tidak pernah jam 10.20. Atau apakah ada cara tertentu yang harus mengumandangkan azan? saya berfikir itu tidak mungkin.Pasti ada masalah. Apalagi dengan cuaca yang tidak menentu seperti ini.

Untuk memastikan semua dugaan saya pergi ke masjid. Saya lihat pak tua sudah duduk di tengah-tengah ruangan masjid yang memang tidak terlalu besar. Saya yang masih mengenakan pakaian kotor karena baru saja menggali tanah tidak bisa masuk ke dalam. Kebetulan beliau melihat saya di pintu. Saya bertanya:

“Pak imam, barusan azan untuk shalat atau ada acara?”

“Untuk shalat zuhur… ini sudah siang, karena mendung kita tidak rasakan.”

“Wah… sekarang belum zuhur pak imam. masih jam 10.45. Kan kita zuhur jam 12.45″ kata saya sambil menunjukkan jam dinding di bagian depan masjid.

Setelah berkata demikian, saya lihat beliau melihat jam yang tergantung agak tinggi tersebut. Kemungkinan beliau silau, dan menutup keningnya seperti orang hormat bendera. Selanjutanya saya tidak tahu apa yang terjadi, saya kembali ke lokasi kerja. Dalam perjalanan menuju lokasi kerja, saya dengat microfon dihidupkan. Setelah batuk-batuk beberapa kali, terdengar suara serak namun tegas dari pak imam:

“Pengumuman…pengumuman… azan dibatalkan… waktu zuhur belum tiba….”

Saya tertawa sendiri. Ada-ada saja Pak Imam.

***

Kalau kita bergantung pada perasaan, maka cuacapun bisa menipu kita.

Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!

Ada sepasang suami-istri yang tinggal tidak jauh dari kampung kami. Suaminya seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sudah sangat terkenal di Banda Aceh. Sementara istrinya seorang bidan yang bekerja di sebuah rumah sakit umum, juga di Banda Aceh. Saat ini mereka sudah berumur separuh baya dan tinggal berdua di sebuah rumah mewah di salah satu sudut kota.

Mereka menikha tahun 1983 karena saling mencintai. Adalah seorang anak yang menjadi dambaan hati pengikat kasih selalu mereka damba. Namun setahun, dua tahun, tiga tahu, dan lima tahun berlalu belum ada juga tanda-tanda. Tidak mungkin mereka tidak tahu “caranya” sebab selain itu adalah naluri manusia, juga keduanya paramedis yang belajar menekuni seluk beluk fisiologi manusia. Dari kabar angin yang pernah saya dengar, saat itu mereka sudah sangat mendambakan seorang buah hati penyejuk mata penenang jiwa. Segala cara mereka lakukan, berobat pada dokter, dukun, para normal, dalam dan luar negeri. Dan tentu saja, berdoa. Terkahir pada tahun 1992 mereka menunanaikan ibadah haji ke Makkah.

Alhamdulillah, beberapa bulan pulang dari sana terjadi keanehan pada si istri. Ikan tawar dibilang asin, sayur asin dibilang pahit, suka yang masam-masam, suka bakso, dan berbagai keanehan yang lain. Pasti mereka lebih dahulu tahu dengan tanda-tanda itu karena mereka memang ahlinya. Dan benar saja, sembilan bulan kemudian seorang anak laki-laki sehat, tampan, lahir ke dunia. Mereka membuat namanya Syukran Peunawa. Syukran berarti terima kasih, dan penawa berarti penawar rindu, penawar harap dan penantian orang tua.

Syukran tumbuh sehat karena kedua orang tuanya memang tenaga kesehatan. Beberapa pekerja didatangkan kerumah untukmengurus anak mereka. Seentara kedua orang tuanya, meskipun cinta dan sangat sayang pada anak yang memang mereka nantikan sejak lama tetap tidak mungkin menunggunya sepanjang hari. Tapi tidak masalah, karena orang yang mereka pilih untuk mengasuhnya dapat memenuhi kebutuhan si anak. Di akhir minggu mereka berekreasi ke berbagai tempat. Bahkan tidak jarang, ketika anaknya sudah mulai masuk sekolah, masa liburan diisi dengan jalan-jalan ke luar negeri.

Si anak tumbuh sangat manja. Bahkan hampir menamatkan pendidikannya di sekolah dasar ia masih belum bisa membuka dan memakai baju sendiri. Tapi tidak masalah, bapak dan ibunya bisa menggaji orang untuk memakaikan pakaian kepada anak mereka. Pada usia SMP sifat manjanya menjadi lebih-lebih lagi. Ia meminta bapaknya membelikan sebuah sepeda motor, dan itupun bukan masalah pada orang tuanya. Pada awal-awal masuk SMA bahkan ia minta orang tunya membelikan ia mobil. Lagi-lagi bagi orang tuanya tidak masalah, karena mobil juga bukan barang terlalu mahal bagi mereka. Si anak hidup sangat bergantung pada orang tuanya, tidak kreatif, tidak berfikir tentang masa depan, bahkan tidak peduli dengan resiko.

Saat ia duduk di kelas dua SMA, ia minta orang tuanya membelikan ia sebuah sepeda motor besar yang mirip-mirip pembalap di televisi. Semula orang tunya keberatan, sebab ia sudah ada sepeda motor, dan bahkan ada sebuah mobil, Untuk apa lagi sepeda motor? Namun mereka tidak kuat menahan tatkala si anak berulah, ia pulang larut malam, tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, tidak mau mandi. Akhirnya hati mereka luluh, sebuah sepeda motor besar yang diimpikan datang ke rumah pada hari minggu.

Si anak senang bukan main. Ia berterima kasih pada kedua orang tuanya, mencium dan memeluknya. Segera mengenakan pakaian dan hendak pergi entah kemana. Katanya ia akan menjumpai teman-temannya. Biasa, remaja yang suka menunjukkan kepada temannya apa yang baru yang dimilikinya. Dan hari ini ia akan menunjukkan pada teman-temannya sebuah sepeda motor besar yang gagah dan model terbaru yang baru dibeli orang tuanya. Orang tunya melepas dengan senyuman.

Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pagi minggu yang cerah itu adalah akhir pertemuan dari orang tua dengan satu-satunya anak mereka. Setelah sebuah SMS masuk ke nomor ibunya mengatakan ia tidak bisa pulang makan siang, sampai sore hari tidak ada kabar berita dari si anak. Setelah maghrib seorang rekan bapaknya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit di mana ia bekerja menelponnya. Hanya satu kalimat pendek yang terucap dari mulut temannya: “Syukran ada di sini”. Bergegas, kedua orang tuanya menuju IGD dengan hati yang tidak tenang. Sepuluh meit kemudian, ketika mereka tiba, mereka mendapatkan anaknya, Syukran, telah terbujur kaku berlumuran darah. Dokter mengatakan, Syukran diambil di sebuah jalan sepi yang sering dipakai remaja untuk balapan liar di sore hari.

***

terkadang cinta yang berlebihan justru membunuh mereka yang kita cintai

Friday, 26 March 2010

Tawa Sebagai Bahasa

Namanya Muhyat. Namun karena usianya sudah lebih 100 tahun, orang memanggilnya Mbah Muhyat. Ia adalah seorang lelaki sepuh di dusun Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah. Hampir semua persoalan adat dan supranatural warga dusun bertanya kepadanya. Sebab selain memiliki pengalaman yang panjang, ia juga seorang yang menguasai berbagai ilmu Jawa Kuno, semacam mujorabat dan astrologi. Ia juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita warga, seperti demam dan sakit-sakitan yang lain. Di tengah belantara di mana rumah sakit sangat jauh dan transportasi yang sulit, berobat dengan ramuan dan rajahan adalah pilihan yang paling logis. Dan Mbah Muhyat adalah “dokter” bagi 55 KK yang menetap di tengah hutan Pinus Kabupaten Pekalongan tersebut.

Satu hari, ketika saya berada di sana, saya duduk berbincang dengan beberapa warga. Pada jam 10.00 pagi warga yang saya ajak berbincang mulai meninggalkan saya karena harus kembali bekerja. Pada saat itulah seorang perempuan yang sudah sangat tua datang di depan saya. Ia berbicara dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak saya pahami. Bukan karena dialeknya asing atau kecepatan biacaranya, namun saya memang tidak paham sama sekali bahasa Jawa, selain ngeh, monggo, dan mutur nuwun. Saya mengatakan kepadanya kalau saya tidak bisa berbahasa Jawa, namun bukannya mendengar saya, ia malah terus berbicara dan kadang tertawa. Demi menghormatinya, saya juga tersenyum dan kembali mengatakan kalau saya dari Aceh dan tidak bisa bahasa Jawa.
Saya bangun dan hendak meninggalkannya. Namun ia menunjukkan ujung gang di mana dia tadi keluar. Ia terus berjalan ke ujung gang tersebut. Ketika saya melihat ke belakang, ia masih berada di sana dan tersenyum. Hati kecil saya mengatakan kalau nenek tua itu mengajak saya ke rumahnya. Saya mengikuti kata hati dan berjalan menuju gang itu. Benar saja, ketika saya menuju gang, ia mulai berjalan lagi hingga sampai ke sebuah rumah. Saya lihat ia membuka pintu lebar-lebar.

Sesampai di rumahnya saya ucapkan salam dan dijawab oleh seorang laki-laki yang jauh lebh tua dari si nenek. Ruang di mana saya masuk adalah sebuah ruang kecil. Di sana ada sebuah meja dengan dua kursi panjang di sisinya, sebuah ranjang dan sebuah kursi rotan di bagian kaki. Si nenek duduk di kursi rotan. Sementara si kakek menjumpai saya dan langsung berbicara bahasa Jawa. Saya kembali katakan kalau saya tidak bisa bahasa Jawa karena saya dari Aceh.

“Ooo…Aceh…Aceh…” kata si kakek sambil melihat pada istrinya dilanjutkan dengan beberapa potong kalimat dalam bahasa Jawa. Mereka berdua tertawa. Dan melihat mereka tertawa saya juga tertawa. Kami tertawa serempak untuk alasan yang berbeda.

Si kakek menunjuk istrinya kepada saya sambil memegang telinga lalu menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang lain ke arah saya. Saya pahami kalau si nenek tidak bisa mendengar lagi. Itu mungkin yang menyebabkan tadi beliau tidak mempedulikan saya ketika saya berbicara. Si kakek juga kerap setengah “berteriak” ketika bicara pada istrinya. Saya katakan -dengan bahasa Indonesia- tidak masalah, saya juga tidak bisa bahasa Jawa. Si kakek menjawab lagi dalam bahasa Jawa lalu kemudian tertawa. Saya juga ikut tertawa. Kami terus berbicara saling menjawab namun saling tidak mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Yang selalu kami lakukan adalah tertawa di akhir setiap kalimat. Tertawa lepas seolah kami saling mengerti dan sudah akrab bertahun-tahun.

Mbah Muhyat mengambil sebuah buku dan menunjukkan kepada saya. Buku yang sudah lapuk dimakan usia. Buku tulisan tangan dalam huruf wanacaraka yag seperti cacing kepanasan. Ia membaca buku itu dengan irama khas Jawa. Katanya, itu nembang dari Kitab Pertimah. Ia terus membacanya, dan saya menyimak dan menikmati alunan suara tuanya yang mulai serak. Setelah ia menutup bukunya, ia kembali mengatakan beberapa kalimat lalu tertawa. Saya juga tertawa.

Saya mengambil dan membuka-buka buku itu. Di sampulnya tertulis 1921. Saya tidak tahu pasti apa arti tahun itu. Saya tunjukkan padanya, tahun tersebut, lalu ia mengatakan sesuatu, lalu kembali tertawa. Saya tidak bisa menangkap maksudnya. Kemungkinan kalau bukan tahun pembelian buku, bisa saja tahun awal ia mulai menulis. Di beberapa halaman yang lain saya menemukan beberapa model perhitungan bulan jawa dan penunjuk arah mata angin. Ia kembali menjelaskan apa maksud gambar-gambar itu, lalu tertawa. Saya juga ikut tertawa.

Tidak terasa saya sudah menghabiskan waktu dua jam disana. Sebuah kopi dengan pemanis gula aren dan sepiring kipang yang diberikan sudah hampir habis. Saya masih tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Namun sepanjang dua jam itu kami tertawa bersama-sama. Saya tidak tahu apa katanya, dan saya yakin sekali kalau dia juga tidak tahu apa yang saya katakan. Namun tawa dan gerak yang kami lakukan menjadi alat komunikasi yang mengakrabkan pertemanan kami.

Setelah minta permisi dan pulang, saya berfikir, bagaimana mungkin kami bisa sangat akrab, berbicara selama dua jam padahal tidak saling mengerti bahasa yang kami pakai? Entahlah, tapi itu terjadi.

Tertawa adalah bahasa universal



Berdebat dengan Guru

Saat masih madrasah Tsanawiyah, saya sering berdebat dengan seorang guru tentang masalah agama. Sebenarnya beliau adalah seorang guru matematika, namun beliau juga belajar di sebuah pesantren yang ada di kampungnya. Belajar di pesantren sempat terputus saat beliau kuliah ke Banda Aceh. Namun setelah pulang kembali ke kampung dan menjadi guru, ia masih pergi ke pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.

Topik pedebatan kami sebenarnya sebauh topik khilafiah dikalangan ulama Islam, yakni mengenai jumlah rakaat shalat tarawih. Beliau bersikeras bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah dengan 3 rakaat sahalat witir. Sementara saya, seperti yang diajarkan kakek saya, cukup 8 rakaat, ditambah tiga rakaat shalat witir. Beliau menyampaikan berbagai argumen untuk menguatkan pendapatnya. Bahkan mengatakan kalau mereka yang shalat 8 rakaat tidak akan diterima oleh Allah karena tidak ada dalilnya. Tidak mau kalah, saat itu saya juga mengatakan argumen saya tentang shalat 8 rakaat. Karena masih sangat kanak-kanak (14 tahun), argumen saya sangat tidak sitematis dan mudah dipatahkan. Namun saya selalu yakin dan bertahan pada pendapat saya, 8 rakaat.

Meskipun terkadang perdebatan itu sudah tidak enak didengar, namun hubungan saya sebagai murid dengan beliau sebagai guru tidak terganggu. Seorang murid, pada masa itu, harus ta'zim kepada gurunya, sebab itu akan menjadikan ilmu yang diberikan berkah. Saya sangat yakin dengan dalil itu. Oleh sebab itu, saya membantu guru-guru saya dalam beberapa hal yang saya bisa. Seperti menanam padi dan menuai padi di sawah.

Pada suatu musim panen, saya pergi ke rumah guru yang sering berdebat dengan saya. Saat itu sabtu sore. Saya mengatakan kalau besok (minggu) saya mau membantunya memotong padi. Beliau sangat senang menyambut kedatangan saya. Apalagi saat itu padinya sudah mulai menua dan harus segera dipotong. Dengan menggunakan tuai, memotong padai sangat lambat sebab dilakukan satu-satu tangkai. Jadi kalau orang yang memotongnya banyak, maka akan cepat selesainya.

Setelah shalat ashar, beberapa temannya datang ke rumah. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal kecil, namun sedikit demi sdikit mengarah ke perdebatan lama, masalah rakaat shalat tarawih. Tiga orang teman guru saya yang santri pesantren berhadapan dengan Sehat Ihsan, anak kecil kelas dua madrasah tsanawiyah. Awalnya perdebatan santai sambil tertawa, namun lama-lama menjadi "panas" sebab bukan hanya masalah rakaat shalat tarawaih, tapi juga keabsahan kenduri kematian, i'adah zuhur, dan beberapa hal yang lain. Dasar keras kepala dan suka berdebat, saya tidak pernah mengalah. Saya tetap saja pada keyakinan saya meskipun sudah tidak memiiki argumen lagi. Lalu guru saya mengatakan, ya sudah nanti kamu saya hadapkan dengan Abu, panggilan untuk guru pimpinan pesantrennya. Saya katakan, tidak masalah.

Malam hari, kami shalat isya di pesantren dan mengikuti pengajian umum yang diberikan oleh Abu, pimpinan pesantren guru saya. Saya diperkenalkan kepada Abu, yang ternyata seorang laki-laki gagah paruh baya. Guru saya mengatakan saya adalah seroang yang bertahan dengan beberapa argumen khilafiah yang salah. Dia menceritakan beberapa argumen saya mengenai taraweh, shalat jum'at, kenduri kematian, dan lain sebagainya. Saya melihat guru saya bercerita dengan tidak objektif. Beberapa pendapat saya dipelintir untuk menunjukkan kekeliruan saya dalam berendapat.

Setelah guru saya selesai, Abu bertanya pada saya.

"Kamu dari mana?"

"Krueng Kluet (nama desa saya)"

"Berarti kamu kenal dengan Teungku Nyakni?"

"Oooo.. itu kakek saya"

"Kakek bagaimana?"

"Yaa.. kakek saya. Bapak dari bapak saya"

"Oo... sampaikan salam saya sama beliau. Beliau adalah guru saya dan dari guru saya. Ilmunya luas. Ia sangat paham dengan agama. Beiau sangat menghormati perbedaan pendapat. Saya sudah dua kali berjumpa dengannya dibawa oleh guru saya. Saya sangat menghormatinya."

"Baik Teungku, saya akan sampaikan."

Abu kemudian minta permisi dan meninggalkan kami. Guru saya, temannya, tidak mengerti apa yang terjadi. Saya juga tidak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, Abu menghormati perbedaan pendapat di kalangan kami. Dan "ilmu" tentang perbedaan itu ia beroleh dari kakek saya, yang juga mengajarkan saya mengenai hal yang sama.

***

terkadang pengetahuan yang terbatas menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, sementara seorang ahli ilmu justru sadar akan kebodohan dan kelemahannya.

Thursday, 25 March 2010

Hantu Parit Irigasi

Desa di mana aku lahir adalah sebuah pedalaman jauh. Televisi hitam putih baru masuk ke sana tahun 1987 dan itupun hanya ada dua rumah yang memilikinya. Saat itu kami belum punya listrik, jadi untuk menghidupkan TV kami memakai battrei besar yang selalu di cas kalau sudah habis dayanya. Masyarakat yang hendak menonton televisi datang ke rumah yang punya televisi tersebut. Tidak selau beruntung, terkadang pemiliknya tidak mau menghidupkan karena ada sanak keluarganya yang sakit, atau alasan lain yang memang bisa diterima. Tetapi hal ini jarang terjadi, apalagi malam minggu di mana TVRI menyiarkan film akhir pekan yang selalu diunggu (kalau tidak ada Laporan Khusus yang menjemukan itu).

Rumah saya hanya berjarak 700 meter dari rumah warga yang punya lelevisi. Namun untuk menuju ke sana saya harus melintasi komplek kuburan umum yang ada di pinggir jalan. Di sisi kanan komplek ada bangunan sekolah, sementara di sisi kirinya ada kebun masyarakat. Jadi antara rumah saya dan rumah tempat menonton televisi tidak ada perumahan warga lain, sangat sepi kalau malam hari. Sementara berseberangan jalan dengan komplek kuburan ada sebuah parit yang sedang digali untuk dibuat irigasi. Parit itu agak dalam, mungkin dua meter, tapi tidak ada airnya.

Pada satu malam minggu saya dan belasan warga lain pergi ke tempat nonton televisi, biasanya ada film akhir pekan. Ada beberapa film laga indonesia yang menarik waktu itu yang membuat masyarakat menantikan kahadiran malam minggu. Sebagai seorang yang masih tergolong anak-anak, saya duduk paling depan bersama anak-anak yang lain. Sementara orang dewasa duduk di belakang bahkan sampai ke teras rumah karena banyaknya warga yang datang menonoton televisi.

celakanya, malam itu ada laporan khusus peresmian sebuah proyek raksasa yang akan dilakukan oleh presiden Soeharto. Seperti biasanya, laporan khusus adalah program dadakan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Kalau ada laporan khusus maka penayangan film akhir pekan menjadi terlambat. Terkadang laporan khusus hanya sepuluh atau dua puluh menit saja. Namun biasanya laporan khusus bisa sampai satu atau dua jam. Bagi warga desa saya, laporan ini sangat menjemukan dan mengganggu harapan mereka untuk menikmati film akhir pekan. Nah, di sela-sela menunggu laporan khusus selesai, saya tidur di depan televisi. Celakanya lagi, saya tidak sadar kalau laporan khusus sudah selesai dan bahkan film juga sudah selesai. Saya terbangun saat penonton hampir habis pulang ke rumah. Dan yang membuat saya sangat sedih adalah teman-teman meninggalkan saya.

Jadinya, saya harus pulang sendirian. Ini menakutkan karena saya harus melintasi komplek kuburan umum. Saya ambil inisiatif untuk masuk ke dalam galian parit di seberang kuburan dan menutup kepala dengan sarung, kebetulan berwarna putih yang sudah kusam. Saya berjalan pelan-pelan di dalam parit, tanpa suara dan tidak melihat kebelakang, kiri dan kanan. Mulut saya tidak henti-hentinya komat-kamit berdoa agar tidak ada hantu yang mengganggu. Semua ayat al-Qur’an yang saya hafal, saya ulangi dalam perjalanan itu.

Tiba-tiba dari belakang saya terdengar ada orang berbincang dan tertawa cekikan. Saya tahu kalau mereka anak muda yang baru pulang menonton PHR (Panggung Hiburan Rakyat), sejenis bioskop sekarang ini. Mereka pulang dari Kota Fajar, kota kecamatan yang jakarknya sekitar 10 km. Mendengar suara mereka saya sedikit lega karena berarti saya punya teman. Oleh sebab itu ketika mereka hendak melintasi saya, saya keluar dari parit. Ternyata mereka ada empat orang yang mengenderai dua sepeda berboncengan. Begitu melihat saya keluar dari parit dengan kain putih menutup setengah badan ke atas, mereka berteriak: “Hantu…… hantu…. hantu…. ” mereka mendayung sepeda dengan sangat cepat. Namun karena jalan berbatu dan berlobang sepedanya jatuh, lalu mereka meninggalkan sepeda di sana dan terus berlari sambil meneriakkan, hantu… hantu…

Mendengar teriakan mereka saya kaget bukan main. Saya pikir mereka melihat hantu di belakang saya atau dari kuburan. Saya jugajadi sangat takut dan ikut berlari di belakang mereka untuk menyelamatkan diri dari hantu. Meihat saya lari ke arah mereka, mereka malah semakin ketakutan dan semakin kencang larinya. Hingga kami terlibat aksi kejar-kejaran, seperti densus dengan teroris. Namun karena saya masih kecil saya tertinggal jauh, tapi kami sudah sampai ke perumahan. Beberapa warga laki-laki ternyata keluar dari rumah ketika mendengar teriakan “hantu”. Ketika tiba di pinggir jalan bukan hantu yang mereka dapatkan tapi Sehat Ihsan yang sedang menangis ketakutan. Pemuda yang tadi lari kembali kepada saya dan beberapa warga yang berkumpul. Mereka mengatakan: “Oo… kami kira kamu hantu, makanya kami lari….” Lha, ternyata saya yang dianggap hantu. Apa mirip ya? Hahaha….

***

hantu dan rintangan selalu kita ciptakan sendiri dan kita sendiri pula yang ketakutan menghadapinya

Wednesday, 24 March 2010

Semangat Peneliti Asing

Sudah dua tahun terakhir saya berteman dan membangun relasi dengan beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh. Awalnya saya mengikuti sebuah pelatihan penelitian yang dilaksanakan oleh Aceh Research Training Institute (ARTI) di Banda Aceh. ARTI sendiri awalnya dipimpin oleh seorang peneliti dari Amerika Serikat. Programnya sederhana saja, melakukan pelatihan kepada siapa saja yang berminat dan mendaftar ke kantor ARTI. Pelatihan ini sendiri dibimbing oleh beberapa peneliti internasional, nasional dan peneliti lokal Aceh.

Selama melakukan pelatihan di sana saya mendapatkan banyak teman peneliti dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Aceh untuk keperluan akademiknya, tesis master atau Ph.D. Namun beberapa yang saya kenal adalah peneliti senior yang memang sudah malang melintang dalam konteks penelitian di Indonesia. Dari mereka saya belajar banyak hal, khususnya dalam masalah penelitian sosial.

Pelajaran yang sangat penting pada awal saya berkenalan adalah masalah dikotomi kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Sebelum bergabung dengan mereka saya seringkali disibukkan dengan masalah istilah ini. Apakah kualitatif itu metode, pendekatan, teknik atau apa? Nah, saat permasalah ini saya bicarakan dengan David Reeve, penulis Biografi Ong Hok Ham, ia mengatakan, itu semua adalah istilah saja. Penelitian adalah cara kamu menjawab masalah penelitian. Metodenya terserah saja, mana yang menurutmu dapat membawa kepada hasil yang kau inginkan. Tentu saja ia memberikan beberapa penjelasan lebih lanjut yang sedikit agak panjang. Namun saya mencatat adanya “penyederhanaan” metode dalam penelitian yang diberikan David. Dan ini sangat memudahkan saya dalam menempatkan masalah penelitian dan memetakan rencana-rencana penelitian.

Hal lain adalah menghubungakan konteks-konteks lokal dengan perkembangan ilmu yang lebih luas di dunia. Bagaimana konteks lokal yang hendak kita teliti dapat dihubungkan dengan sebuah teori besar keilmuan yang sedang berkembang. Saya berkenalan dengan Anthony Reid, profesor sejarah yang banyak menulis mengenai sejarah Aceh. saat itu saya menulis megenai kenduri kematian dalam suku Kluet. Saya tidak sadar kalau topik yang saya pilih adalah topik yang berhubungan secara luas dengan berbagai teori ilmu sosial, sampai Toni menjelaskannya. Dia adalah guru yang hebat!

Saya berkenalan dengan Harold, profesor politik dari Australian National University yag ahli politik Indoensia. Ia memimpin ARTI lebih dari satu tahun. Dan selama itu pula yang sering berdiskusi dengannya. Saya sangat teringat berbagai “kemudahan” yang ditunjukkan Harold dalam sebuah penelitian. Saat itu saya terjebak pada kesulitan dalam menentukan “teori” yang sesuai untuk penelitian yang akan saya lakukan. Namun Harold membebaskannya dengan pendapat bahwa penelitian adalah cara kita menulis sesuatu yang terjadi di lapangan dengan kaedah-kaedah akademik. Kesampingkan teori, bekerjalah. Teori akan datang menjemputmu saat data sudah ada di tangan.Prinsipnya hampir sama dengan slogan Majalah Tempo, “enak dica dan perlu”, kata Harold.

Saya tidak bisa menyebutkan semua yang saya kenal. Namun saya akui beberapa peneliti yang saya kenal memeiliki dedikasi yang kuat dan kesungguhan dalam melakukan penelitian. Saya melihat mereka melakukannya dengan sangat halus dan detail. Beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh bahkan lebih banyak tahu mengenai Aceh dari pada saya sendiri yang selama hidup berada di Aceh. Hampir semua aspek yang ada di Aceh belakangan ini terekam dengan baik oleh peneliti-peneliti ini. Beberapa hasil penelitian mereka yang saya lihat membuktikan semua ini.

Namun satu hal yang saya salut dari mereka, semangat yang tidak pernah pudar. Saya sendiri adalah orang yang “naik-turun”. Terkadang, kalau lagi semangat, saya melakukan penelitian dengan ssangt serius. Namun kala semangat itu pudar, saya menelantarkan beberapa tugas penelitian saya sehingga menjadi menumpuk. Akibatnya, ketika deadline tiba, -seperti sebulan kedepan- saya akan sibuk dengan penulisan. Jadinya, kualitas artikel hasil penelitian yang saya buat menjadi sangat rendah. Pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari mereka tidak sempat saya terapkan. Saya kembali kepada kebiasaan penelitian di kampus, “yang penting selesai”.
Saya masih harus terus belajar!

Penumpang vs Polisi 1-1

Tahun 2001, saat masih mahasiswa, saya dengan seorang teman, Ardi, menghadiri sebuah undangan pertemuan junalis kampus di Jember, Jawa Timur. Sebagai sesama jurnalis kampus kami diundang bersama teman yang lain untuk mempresentasikan perkembangan media kampus kami kepada teman-teman lain di Indonesia. Demikian juga dari berbagai kampus lainnya. Kebetulan saya dan Ardi yang punya waktu dan bersedia mengambil resiko perjalanan. Sekedar kilas balik informasi, tahun 2001 adalah waktu di mana perjalanan Aceh-Medan Seumatera Utara adalah perjalanan hidup mati. Banyak yang selamat di jalan, namun banyak juga yang selamat jalan untuk selamanya. Jangan tanya kenapa, itu kisah pilu negeri kami masa lalu.

Kami menumpang bus kelas ekonomi dari Banda Aceh menuju Jakarta. Sebab saya hanya mengantongi uang Rp. 500 ribu, demikian juga teman saya. Saya mendapatkan uang bantuan dari Kantor Gubernus Aceh yang saat itu di bawah pimpinan Abdullah Puteh. Saya menandatangani kuitansi Rp. 1.200 000, dan hanya mebawa pulang Rp. 500 ribu. Yah... maklum saja. Ongkos bus ke Jakarta saat itu Rp. 210 ribu. Tapi kami nekat saja, dengan doa dan tawakkal kami yakin jalan kami akan lancar.

Cerita ini bermula saat kami tiba diperbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sekelompok Polisi berseragam lengkap, di depan kantor mereka yang remang-remang meminta bus dihentikan dan semua penumpang diturunkan. Tidak ada yang aneh, sebab ini adalah pemeriksanan yang kesekian kalinya sepanjang perjalanan kami yang sudah tujuh jam. Beberapa anggota polisi naik ke dalam bus dan mulai memeriksa KTP penumpang dan barang-barang yang dimasukkan dalam Bus. Beberapa yang lain menunggu di bawah mengelilingi bus, dan melihat-lihat barang di dalam bagasi.

Tiba-tiba... srreekkk..., terdengar sebuah suara sesuatu meluncur di lantai bus. Dua polisi yang ada di dalam bus melihat ke bawah tempat duduk penumpang. Tiba-tiba mereka menemukan sebuah bungkusan seukuran bantal kursi di ruang tamu. Bungkusan itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan diikat dengan sangat rapi. Buru-buru seorang polisi mengambilnya dan lalu membawa turun. Hanya berselang menit, sebuah suara dari bawah mubil berteriak, "turun.... turun... semua penumpang turun...." Suara itu sangat keras dan ganas, lebish keras dari suara Sueharto di FIlm PKI.

Di bawah, kami dibariskan. Sebelum ditanyai apa-apa setiap laki-laki mendapatkan "salaman" pembukaan. Alhamdulillah saya hanya dapat dua hok kanan di perut dan satu tendangan di pantat. Teman saya, saya tahunya belakangan, mendapatkan beberapa pukulan di perut dan dua di pipi. Namun ada yang lebih dahsyat lagi, seorang laki-laki yang duduk persis di belakang kami. Dia dipukul, ditampar, ditendang, uang dalam dompetnya diambil, sebuah rantai emas di lehernya dirampas. Setiap pukulan dilakukan untuk sebuah jawaban dari pertanyaan: "Siapa pemilik ganja itu?" ternyata bungkusan tersebut berisi ganja 3,5 kg.

Setelah tidk sukses di pinggir jalan, semua penumpang dibawa ke dalam kompleks kantor polisi. KAmi dipanggil dua-dua orang ke dalam ruangan ntuk diselidiki. Sementara yang lain menunggu di halaman sambil dag-dig-dug membayangkan nasib. Kami menunggu tanpa bicara. Alhamdulillah... setelah dua ham menunggu polisi mengatakan pemilik ganja sudah ditemukan. Seorang ibu dengan seorang anak lima tahun yang ikut bersamanya. Namun kami tetap belum boleh melanjutkan perjalanan. Saya tidak tahu kenapa.

Seorang polisi muda setengah mabok, bermata merah, menghampiri kami. Ia nampak lebih ramah dan sepertinya mau diajak ngobrol. Saya ingat kalau dia tadi termasuk salah seorang yang memukul kami. Di depan kami yang duduk di halaman berbatu kerikil ia mulai bercerita tentang susahnya untuk menjadi polisi. "Kita harus lewat beberapa tas fisik yang berat. Jadi polisi itu harus kuat fisik dan mental, kalau ngak ngak bisa." Lalau dia menyebutkan beberapa jenis tes yang dilakukan sebelum akhirnya ia terpilih menjadi seorang polisi. Diantaranya push up dengan dua jari, bergerak kedepan dengan kekuatan siku, sit-up, jalan jongkok, dan beberapa tes lainnya. Dan model tes ini pula katanya yang dipakai waktu latihan.

Tiba-tiba seorang penumpang bersuara, setengah bertanya. "Mana mungkin push up dengan dua jari bang?" Polisi terkejut, saya juga. Beraninya teman ini bertanya. Tiba-tiba polisi setengah mabok itu menjawab. "Iya, bisa donk. Nih, coba lihat" katanya, sambil melakukan push up dengan dua jari beberapa kali. "Ooo... kalu itu memang mudah, tapi kalau jalan dengan siku kan tidak mungkin?" orang tadi bertanya lagi. "Kenapa ngak mungkin? lihat ni" kata polisi itu lagi sambil berjalan dengan siku keliling halaman. Saat kembali tiba di hadapan kami saya lihat siku polisi itu berdarah. Namun si penumpang ini tidak peduli, dia tersu bertanya dan polisi itu menjawab dan melakukannya. Sampai kami diminta aik bus kembali. Saat itu sudah jam tiga pagi.

Setelah bus berjalan, sopir bilang: "Apa yang kalian lakukan sama polisi tadi?" hahaha... kami tertawa hampir serempak. "Mantap..... satu sama" kata sopir.

***

Saat engkau terlena dengan pujian dan sanjungan,pelan-pelan engkau membunuh dirimu sendiri.


Tuesday, 23 March 2010

Bahasa SMS dan Status FB Masuk Kampus!

Semester lalu, saat memeriksa hasil ujian mahasiswa saya sedikit dibuat kesal. Sejak awal kuliah saya suah peringatkan bahwa tulisan yang mirip-mirip resep dokter tidak usah dikumpulkan sama saya, tapi dibawa ke apotek. Atau kalau memang mau saya nilai, tolong ketik dengan rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nyatanya, peringatan itu saja tidak mempan, yang terjadi adalah tugas kuliah dibuat dengan tulisan tangan yang sangat “artistik” hingga tidak bisa dibaca dan dipahami.

Apalagi jawaban soal ujian bertulis tangan yang dibuat buru-buru (mungkin sambil nyontek), sangat menjemukan untuk dibaca. Beberapa lembaran jawaban yang saya tidak bisa baca saya tinggalkan saja dan saya anggap dia (mahasiswa tersebut) tidak mengikuti ujian. Ada yang protes, namun saya tunjukkan jawaban ujiannya dan saya minta ia membaca jawaban itu. Ehh… ternyata ia juga tidak bisa membaca tulisannya sendiri. “Lalu kenapa kamu minta nilai bagus kalau kamu saja tidak bisa baca tulisan sendiri?” Aneh memang mahasiswa, persis seperti saya dulu :-)

Tapi itu tidak seberapa. Setidaknya mereka masih menggunakan bahasa Indonesia. Yang lebih parah adalah, beberapa mahasiswa menciptakan huruf sendiri dan bahkan kosa kata sendiri dari dunia entah berantah untuk membuat makalah di kampus. Anda mungkin pernah jumpa tUliSan BegNi, atau y4n6 8e61n1, bisa juga tulizn bgene, dan banyak ragam yang lain. Tulisan demikian ada di sms atas staus facebook. Sebuah status dari mahasiswa di FB seperti ini: “SaKiD MenGhadanG aqUH,,,, PeRGiLAh KAU DEMaM,,JANgAN gANggU AQuh pLiSzTtTTTT,” atau “GiLeee.. ne peRpUs pHa pasaR manuK?? bRisiK bneeR.. pasaR ngasEm pindaH kpeRpUs kmPuz q.. hkwakwak”

Saya tidak tahu kalau kalimat-kalimat seperti di atas masih bisa menjadi bahan komunikasi diantara mereka. Namun ketika kalimat tersebut masuk ke dalam tulisan makalah di kampus, itu sangat merusak. Kebebasan apapun yang kita anut, dalam aspek penulisan ilmiah dan akademik tetap harus memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar. Tidak semua orang mampu dan menguasa tata bahasa selengkapnya, namun harus ada usaha untuk terus belajar dan mengikuti tata cara penulisan yang baik. Setidaknya tidak mencampurkan bahasa-bahasa SMS dan status FB dengan bahasa dalam makalah dan tulisan di kampus.

Inilah yang saya dapat di kampus saya belakangan ini, terutama oleh beberapa mahasiswa semester baru. Beberapa kebiasaan mereka semasa SMA terbawa ke kampus dalam menulis. Nampaknya mereka sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan selama itu “asyik-asyik saja”. Padahal kelakuan itu sediit demi sedikit merusah bahasa mereka sendiri dan bahkan merusak penggunaan bahasa secara keseluruhan. Benar bahwa bahasa adalah budaya yang mungkin akan terus berubah, namun dalam tulisan-tulisan resmi bahasa bakulah yang harus kita pakai. Dan itu adalah salah satu tanda kita mencintai bahasa sendiri.

Saya yakin J.S. Badudu dan Dr. Gorys Keraf menangis melihat bahasa Indonesia ala status FB dan SMS yang dipraktekkan rakyat Indonesia selama ini.

Monday, 22 March 2010

Diimami Pasien RSJ

Kampung kami terletak di tengah kota Banda Aceh, persis di belakang Rumah Sakit Jiwa. Jalan menuju RSJ langsung melintasi kampung kami. Karena itu sering kali di jalan lewat pasien RSJ yang sudah lumayan sembuh untuk membeli rokok, beli mie, atau sekedar lewat tanpa alasan. Tidak semua yang lewat di sana bisa dinyatakan sembuh. Sebab beberapa yang saya jumpai masih suka ngobrol sendiri, berceramah, mengais tumpukan sampah mencari makanan, dan perilaku lainnya. Bahkan sering juga mereka menakut-nakuti anak-anak, meskipun tidak melakukan pelecehan seksual seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang mengaku tidak gila di berbagai daerah di Indoensia.

Kisah ini diceritakan oleh seorang bapak kepada saya, minggu lalu. Peristiwa ini sendiri terjadi tahun lalu, pas bulan puasa.

Sudah biasa masjid kami melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu tiba. Saat matahari sudah menunjukkan waktu zuhur, seorang anak muda mengumandangkan azan menandakan shalat segera dimulai. Setelah azan, beberapa jamaah yang datang melaksanakan shalat sunat qabliah zuhur dua rakaat. Ini butuh waktu beberapa menit. Mereka melaksanakan di berbagian pojokan masjid. Sebagai di sisi dinding, ada di balik tiang, dan banyak pula di saf terdepan.

Seorang lelaki muda yang mengenakan serban berwarna putih bersih melaksanakan shalat persis di belakang tempat imam berdiri. Bajunya berwarna abu-abu mencapai lutut. Sementara celananya longgar dan hanya sampai ke mata kaki. Dengan pakaian demikian jelas, siapapun akan menduganya sebagai seorang yang terpelajar dalam agama. Sebab pakain demikian umumnya dipakai oleh orang yang baru tamat dari pesantren atau kiai atau kelompok oraganisasi islam tertentu yang banyak berkembang saat ini. Ia shalat sangat khusyuk. Bahkan muazin harus menunggu agak lama sebelum mengumandangkan iqamah karena ia belum menyelesaikan shalatya. Setelah selesai shalat ia berdoa dengan khusyuk pula, matanya sedikit terpejam dan kepala menengadah ke atas. Hingga tiba mu'azin mengumandangkan iaqamah, tanda shalat akan dimulai.

Melihat pakaian dan laku yang demikian, beberapa orang tua mempersilahkannya maju ke depan menjadi imam. Apalagi hari itu imam kampung tidak datang. Setelah melihat kiri dan kanan ia maju penuh percaya diri. Ia menghadap jamaah yang hanya satu saf dan dengan suara keras dan tegas mengatakan: Lurus, rapat dan rapikan saf, samakan tumit dengan garis hitam. Saf yang rapi adalah setengah dari pahala shalat. Lalu ia berbalik menghadap kiblat dan mengangkat takbir: Allaaaahu Akbar! Kami mengikutinya dari belakang.

Pada rakaat pertama setiap shalat sebenarnya tidak memerlukan waktu yang terlampau lama. Hanya membaca doa iftitah, al-fatihah dan sebuah surat pendek atau beberapa ayat dari al-Qur'an. Namun kali ini sudah berlangsung sedikit lama. Saya mendengar beberapa jamaah membatuk atau bedehem. Nampaknya mereka "mengingatkan imam" agar jangan terlalu lama. Tapi imam masih dalam posisinya semula. Satu...dua...empat... sudah lebih lima menit kami belum juga ruku'. Imam masih saja khusyuk dengan bacaannya. Bahkan sesekali ia terdengar berdesis melafalkan sesuatu.

Tiba-tiba, dari luar masjid terdengar suara gaduh. "Tadi dia di sini menghilangnya. Coba ke belakang masjid. Di kamar mandi. Tadi dia pakai serban putih....." entah apa lagi. Sepertinya ada banyak orang di luar sana yang sedang mencari orang tertentu.

"Nyopat lhon" (saya di sini) teriak sang imam tiba-tiba. Kami sangat kaget. Konsentrasi menjadi buyar. Apalagi tiba-tiba sang imam langsung berjalan ke luar masjid, menerobos saf di belakangnya. Ia terus berteriak. "Nyopat lhon...nyopat lhon...." Sebuah suara lain terdengar dari luar masjid. "Ooo.. ternyata kamu di sini. Cepat pulang ke Rumah Sakit. Pergi ngak permisi. Itu ada keluarga yang datang." Jamaah kamipun buyar lalu bubar. Kami tertawa cekikan bersama. Ternyata imam kami pasien rumah sakit jiwa. Kami terpaksa mengulang shalat dari pertama.

***

Jadi, jangan tertipu dengan pakaian. Kami mengangkatnya menjadi imam (pemimpin shalat) karena surban dan baju koko yang ia kenakan. Tapi pakaian tidak hanya kain tenunan yang dijahit rapi. Pakaian bisa berbentuk partai, suku, agama, daerah, kemampuan retorika. Pilihlah pemimpin karena kita benar-benar mengenalnya, bukan mengenal dia dari pakaiannya saja.

Sunday, 21 March 2010

Harga Sebuah Khilaf

Berapa harga yang harus dibayar buat sebuah ucapan yang tujuannya bercanda tapi membuat orang lain tersinggung?

Rp. 8,7 juta!

Kok bisa? dari mana datangnya?

Mari ikuti cerita ini.

Satu hari, saya bersama rekan-rekan yang lain sedang duduk istirahat di sebuah ruangan bersama di kantor. Satu diantara teman kami adalah bapak (katakanlah namanya Pak Budi) yang sudah berumur lebih dari 60 tahun. Beliau sedikit berbeda dengan normalnya kita. Kakinya pendek, sangat pendek. Badan beliau juga lebih pendek dari bisa. Sehingga kalau ditotalkan mungkin panjangnya hanya 90 cm. Namun beliau memiliki semangat hidup yang tinggi. Bahkan dua minggu yang lalu beliau baru saja menamatkan pendidikan master dalam bidang ilmu agama Islam.

Sepuluh tahun yang lalu beliau diserang penyakit pengeroposan tulang. Ini membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal lagi, seperti biasanya, dalam waktu lama. Beliau berusaha berobat ke mana-mana, bahkan ke luar negeri, namun tidak juga kunjung sembuh. Sampai suatu hari beliau bertemu dengan sebuah perusahaan Jepang yang menawarkan berbagai alat terapi kesehatan. Ternyata alat-alat terapi tersebut sangat sesuai untuknya. Hingga sejak beberapa tahun yang lalu beliau sudah bisa beraktifitas kembali. Tidak sembuh total memang, selain dari sisi usia beliau sudah tua, ada persoalan dengan fisiknya juga. Sekarang ia juga menjadi agen untuk alat terapi tersebut. Setiap ada kesempatan ia pasti menawarkan produk-produknya pada kami. Saya pernah membeli dua pasang kaos kaki untuk nenek saya yang rematik.

Saat saya dan rekan-rekan duduk santai tersebut, datang seorang rekan yang lebih senior (sebut saja namanya Pak Ahmad). Beliau bergabung dengan kami untuk sekedar melepaskan lelah dan bercanda. Pak Ahmad mendekati Pak Budi dan menyakan kabar serta basa basi yang lain. Setelah menjawab semua pertanyan itu, Pak Budi mulai melancarkan jurus pemasaran produk terapi kesehatan miliknya. Ia tahu Pak Ahmad sudah tua, bahkan lebih tua darinya. Ada kemungkinan Pak Ahmad mebutuhkan berbagai alat terapi kesehatan seperti dirinya juga. Ia menawarkan dari kaos kaki, celana dalam, gelang, kalung, bantal, baju, topi, obat-obatan dan lain sebagainya. Semuanya berfungsi untuk menjaga kesehatan. Alat ini akan melancarkan perdaran darah…. bla..bla. bla.. Pak Ahmad tidak berminat membeli ini semua. Ia menanyakan kepada Pak Budi:

“apakah semua ini sudah terbukti khasiatnya?”

“ia, banyak orang dari berbagai negara sudah sembuh dengan semua alat ini, di Jepang, di Singapura, di Malaysia, bahkan di Jakarta banyak orang pakai alat terapi ini”

“Kalau alat ini bagus kenapa bapak tidak pakai untuk diri sendiri saja supaya bapak bisa sembuh dan badan bapak lebih tinggi?”

Pak Budi terdiam. Dia mungkin sangat tersinggung sebab perkataan tadi adalah untuk dirinya sendiri. Ia memang bertubuh pendek dan sakit-sakitan. Sementara Pak Ahmad melihat perubahan di wajah Pak Budi. Ia meliaht air mukanya yang tiba-tiba berubah total. Ada kesedihan pada wajah tua itu saat mendengar pertanyaannya yang terakhir. Saya dan teman-teman yang lain juga menyaksikan perubahan pada muka Pak Budi. Bahkan beliau langsung mengambil HP dan menelpon anaknya karena ia mau diantar pulang. Saya yakin ia tersinggung. Dan setelah ia pulang, Pak Ahmad nampak sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Tidak lama kemudian, kami bubar karena sudah siang.

Beberapa hari setelah itu, saya berjumpa dengan Pak Ahmad di depan pintu yang sedang mengangkut beberapa kotak ke dalam mobilnya. Saya tanyakan kotak apa yang sedang diangkutnya? Sambil saya lihat ke dalam ruangan. Di sana ada Pak Budi yang sedang menghitung uang. Saya ngomong ke Pak Budi.

“Wah…banyak laku hari ini pak?”

“Iya, Pak Ahmad yang belanja. Delapan Juta Tujuh ratus.” Pak Budi menjawab dengan sengat senang dan bahagia. Ai mukanya nampak ceria karena pada pagi itu dagangannya laku dalam jumlah besar.

Pak Ahmad setengah berbisik mengatakan pada saya, “Belanja minta maaf”.

Saya hanya tersenyum. Akibat salah ucap yang menyinggung perasaan orang lain, ia harus belanja barang yang ia tidak perlukan dalam jumlah besar.

Jadi, Jagalah lidah!

Saturday, 20 March 2010

Ngopi; dari TV, LD, CD ke Wifi

Semua masyarakat di dunia memiliki budaya sendiri. Sebagian berasal dari warisan genarasi masa lalu mereka. Namun tidak sedikit yang terbangun karena perubahan zaman dan penyesuaian antara lokalitas dengan kehidupan modern yang dibawa televisi dan media lainnya. Salah satu budaya baru itu adalah apa yang belakangan marak berkembang di Aceh, budaya minum kopi.

Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.

Di Aceh, kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial masyarakat. Tahun 2008 yang lalu saya melakukan penelitian di Kluet, sebuah suku kecil di Aceh Selatan. Di sana, setiap kehadiran kita di sebuah rumah masyarakat langsung dihidangkan kopi tanpa minta persetujuan dulu. Padahal saat itu saya sudah meninggalkan kopi selam tiga bulan. Namun karena saya sedang melakukan penelitian sangat tidak enak kalau menolak pemberian tersebut. Jadinya, saya ketagihan minum kopi lagi. Hal yang sama saya temukan dalam masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Sama halnya dengan di Kluet, setiap kita datang bertamu ke rumah seorang warga langsung disuguhkan kopi. Jadinya saya harus minum kopi minimal tiga kali sehari. Istimewanya, masyarakat Gayo adalah penghasil kopi. Bahkan kebanyakan kopi yang ada di Aceh berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi Gayo juga diekspor ke luar negeri. Sebuah perusahaan Belanda berdiri di sana untuk keperluan ekspor tersebut.

Budaya minum kopi bukan hanya dalam rumah tangga, tapi lebih “heboh” lagi dalam pergaulan sosial. Warung kopi tumbuh sangat banyak di Aceh. Saya yang tinggal di kota Banda Aceh menjadi saksi pertumbuhan warung kopi yang sangat pesat tersebut, terutama pasca tsunami di Aceh. Untuk menarik peminat beragam cara pula dilakukan oleh pemiliknya. Tidak hanya dalam desain dan penempatan bangunan, namun juga fasilitas hiburan.

Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.

Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Namun demikian, beberapa warung kopi di aceh masih bertahan dengan “Keasliannya”. Mereka tidak menyediakan fasilitas apapun selain kopi. Daya tariknya adalah kelezatan kopi dan aromanya yang khas. Warung kopi seperti ini biasanya dikunjungi oleh pecandu kopi yang memang tidak berkepentingan dengan wifi. Dan inipun tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pecandu kopi. Sebuah warung kopi yang menjadi langganan saya adalah warung kopi tradisional yang khas. Pemiliknya seorang Kepala Desa yang membangkang pada Soeharto di zaman Oede Baru. Beliau membuka warung kopi sejak tahun 1969 hingga sekarang. Karena usianya sudah sangat tua, ia hanya membuka warung kopi selama tiga jam, setelah shalat subuh di masjid hingga jam delapan pagi. Jadinya warung itu penuh setiap pagi buta meskipun tanpa fasilitas apa-apa dan lampu yang remang-remang. Yang duduk di sana umumnya orang tua. Saya mungkin yang termuda menjadi pelanggannya.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.

Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.

Friday, 19 March 2010

Sufi dan Seks

Kenapa banyak kiai poligami? Saya tidak tahu dengan pasti sampai seorang teman menceritakan sebuah kisah.

Katanya, seorang kiai adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ia menghabiskan hidupnya dalam jalan Tuhan. Sementara menikah, dan melakukan hubungan seksual adalah bagian dari ibadah. Sang kiai pasti dengan senang hati akan melakukannya, selalu! Apalagi saat melakukan hubungan seksual yang bernilai ibadah tersebut ada momentum di mana ia mungkin bisa sangat dekat kepada Tuhan. Setidaknya, ia akan menemukan beberapa biji tasbih. Ia juga akan menemukan puncak-puncak pendakian menuju Tuhan. Apalagi di sana juga ia akan mendapatkan lorong-lorong gelap yang sunyi, di mana ia bisa mengulang-ulang zikirnya dan melafalnya dengan cepat. Perjalan itu akan berakhir pada ekstase, saat ia melepaskan segala-galanya kecuali dia sendiri.

Cerita ini dianalogikan sebagai sebuah pendakian spiritual oleh sang teman yang sedang berusaha menjadi sufi. Katanya, seorang sufi yang bermujahadah menuju Tuhan dan seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual hampir sama. Sang lelaki akan mendapatkan kepuasan setelah ia berlama-lama bermain di taman birahi. Saat organsme ia akan terputus dengan dunia di sekitarnya. “Apakah orang organsme sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya? pasti tidak” katanya. Demikian halnya dengan seorang yang ekstase di jalan Tuhan. Ia akan penuhi jiwanya dengan Tuhan. Ia akan isi batinnya dengan Tuhan. Apa yang dilihatnya adalah Tuhan. Apa yang dirasakannya adalah kehadiran Tuhan. Pada saat demikian ia akan terlepas dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebab ia telah menyatu dengan Tuhan. Mmmm… menaik… menarik, ujar saya.

Saya jadi teringat dengan beberapa buku Paulo Coelho. Dalam beberapa novelnya menggambarkan bagaimana cinta dan hubungan seksual yang dilakukan manusia bukan hanya sebagai cara memuaskan nafsu birahi, namun juga jalan menuju pada Tuhan. Seingat saya ada satu bagian dalam Davinci Code, novel bestseller karya Dan Brown yang juga menceritakan hal yang sama. Pada satu waktu Sophie melihat kakeknya, Suniere melakukan hubungan seksual yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah upacara spiritual. Penggambaran ini adalah dua diantara beberapa penjelasan lain yang menghubungkan antara seks dengan pendakian spiritual yang dilakukan manusia.

Tentu sangat berbeda antara apa yang diceritakan Paulo Coelho dan Dan Brown dengan cerita teman saya di atas. Ia hanya menjadikan hubungan seksual sebagai media pemahaman tentang bagaimana seorang sufi menemukan Tuhan. Sementara dalam novel-novel tersebut justru menjadikan hubungan seksual sebagai media menemukan Tuhan. Meskipun itu bukan hal yang tidak mungkin, namun itu bukan konteks yang ingin saya kemukakan di sini.

Jadi, kembali kepada cerita teman saya, salah satu cara mengerti jalan sufisme, pahamilah jalan hubungan seksual. Dan untuk mengerti bagaimana hubungan seksual maka lakukanlah! bagi yang sudah menikah tentunya.

Tarekat Shiddiqiyah Dalam Masyarakat Jawa Pedesaan

Oleh: Sehat Ihsan Shadiqin

ABSTRAK

Artikel ini akan menjelaskan tentang perkembangan dan pengaruh tarekat dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa pedesaan. Beberapa peneliti tarekat modern di Indonesia, seperti Bruinessen dan Howel, menyatakan bahwa tarekat mulai bergeser kepada masyarakat perkotaan yang disebut urban sufism. Dalam urban sufism sistim hubungan guru murid yang menjadi kekhasan dalam tarekat ditinggalkan sama sekali dan diganti dengan kemampuan retorika dan menghubungkan ajaran agama dengan konteks hidup masyarakat modern dengan pendekatan spiritual. Hal ini tidak sepenuhnya benar, khususnya dalam masyarakat pedesaan Jawa. Tarekat tidak terpengaruh dengan perkembangan modern dalam hal komunikasi dan telekomunikasi. Tarekat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan mereka dan dalam relasi sosial dalam masyarakat. Saya melakukan studi lapangan di sebuah dusun pedalaman Pekalongan, Jwa Tengah ada bulan januari 2010, mengikuti berbagai kagiatan yang dilakukan oleh anggota tarekat Shiddiqiyah dan mewawancarai beberapa anggota tarekat tersebut. Dari sana saya berkesimpulan bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa yang singkretik dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat.

Kata Kunci: shiddiqiyah, masyarakat pedesaan, wonodadi, pekalongan

Pendahuluan
Tarekat merupakan aspek kehidupan beragama yang populer dalam masyarakat pedesaan Jawa. Hal ini terjadi sejak kedatangan Islam di Jawa, di mana para sufi memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam (Dhofier, 1985:40). Sehingga tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia pada awalnya adalah Islam Tasawuf (Steenbrink 1984: 173, Shihab 2001: 274). Namun demikian pengaruh tasawuf dalam bentuk tarekat di pedesaan Jawa saat ini dianggap mulai memudar seiring dengan masuknya berbagai pengaruh teknologi komunikasi dan transportasi modern. Atau setidaknya jaringan tarekat mulai digunakan bukan hanya sebagai media religiusitas, namun juga jaringan sosial dengan kepentingan ekonomi (Bruinessen 1994a). Kondisi ini melahirkan sebuah model baru dalam perkembangan tasawuf di Indonesia yang dikenal dengan urban sufism. Howel (2001) yang mengemukakan istilah ini pertama kali mengartikan urban sufism sebagai tradisi tasawuf yang tidak terikat dengan pola tarekat yang pernah berkembang di Indonesia selama ini.

Dalam amatan saya di Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Pekalongan Jawa Tengah, indikasi yang ditunjukkan Bruinessen dan Howel di atas tidak sepenuhnya tepat, meskipun beberapa hal dapat diterima. Di sana yang terjadi justru seperti apa yang disebutkan Mufid (2006: 274) dan Beatty (2009: 151) bahwa tarekat telah mewarnai perkembangan budaya Jawa Islam. Dalam masyarakat pedesaan Jawa, tradisi tarekat masih tetap hidup sebagai bagian dari religiusitas mereka dalam beragama. Pola tarekat yang didasari pada hubungan guru-murid yang dekat dan pelafalan silsilah keguruan yang bersambung sampai pada Nabi Muhammad masih dilakukan oleh masyarakat. Demikian juga komunikasi antara warga penganut tarekat dan kerja sama sebagai sebuah komunitas masih dipertahankan. Oleh sebab itu saya berargumen bahwa perkembangan modern dalam bidang komunikasi dan transportasi tidak serta-merta menjadikan perkembangan tarekat berubah di daerah pedesaan Jawa. Kedekatan budaya Jawa dengan tarekat menjadikan tarekat tetap berkembang dalam masyarakat. Selain itu berkembangnya tradisi urban sufism di perkotaan tidak menjadikan perkembangan tarekat di pedesaan surut dan musnah.

Artikel ini saya tulis sebagai hasil observasi lapangan di dusun Wonodadi di Jawa Tengah tahun 2010. Dusun ini terletak di daerah pegunungan kecamatan Petung Kriyono. Di sana berkembang sebuah tarekat yang dikenal dengan tarekat Shiddiqiyah. Tarekat ini berasal dari Jombang Jawa Timur yang dipopulerkan oleh Syaikh Muhammad Muhtar bin Abdul Mu'thi. Sekitar tahun 1998 tarekat ini dibawa ke Wonodadi oleh seorang Guru Sekolah Dasar yang berasal dari Pekalongan. Hingga saat ini Shiddiqiyah telah diikuti oleh lebih dari 50 orang warga Wonodadi. Selama berada di lapangan saya mengikuti kegiatan tarekat serta mewawancarai anggota tarekat Shiddiqiyah yang ada di dusun tersebut. Saya menyamarkan semua nama narasumber dalam penulisan artikel ini untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan bagi mereka.

Tulisan ini saya bagi dalam lima bagian. Bagian pendahuluan akan menjelaskan konteks artikel ini. Saya melanjutkan dengan sedikit gambaran mengenai perkembangan tarekat dalam masyarakat Jawa. Kemudian saya akan menjelaskan masuk dan berkembangnya tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi di mana saya melakukan studi lapangan. Berikutnya saya akan menjelaskan mengenai aktifitas jamaah tarekat di sana baik untuk kalangan mereka sendiri maupun yang berhubungan dengan masyarakat secara umum. Beberapa penolakan yang terjadi dari kalangan masyarakat di mana tarekat ini dikembangkan juga akan saya bahas dalam bagian ini beserta dengan penyelesaian yang telah dilakukan. Tulisan ini saya tutup dengan kesimpulan di mana argumen pokok akan saya tegaskan kembali.

Tarekat dan Penyebarannya di Indonesia

Tarekat berasal dari kata berbahasa Arab; thariqah, yang berarti ‘jalan’, dalam hal ini jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang penganut tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang penganut tariqah semestinya adalah seorang yang mendalami aspek spiritualitas Islam. Sebab Islam sebagai sebuah agama memiliki dia aspek ajaran, yaitu aspek esoterik dan eksoterik. Aspek esoterik adalah aspek lahiriah ajaran agama yang sering kali didasari pada logika formal dan bukti empirik. Dalam konteks ini maka ajaran agama yang dipersepsikan adalah hukum-hukum formal dan ritual-ritual tertata yang dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan. Sementara aspek eksoterik Islam adalah dimensi batin yang didasari pada musyahadah (penyaksian) dan diperoleh dari mujahadah (usaha yang sungguh-sungguh) oleh seorang manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pada mulanya, tarekat dikembangkan oleh seorang individu yang merasa telah mencapai posisi paling dekat dengan Tuhan. Ia telah melakukan serangkaian usaha (mujahadah) yang menjadikannya menempati posisi sangat dekat dengan Tuhan. Pengalaman batin ini diceritakan kepada orang lain yang kemudian menempuh jalan yang sama dengan apa yang dilakukannya. Dari sinilah kemudian berkembang secara turun-temurun ajaran tarekat hingga saat ini. Pluralitas aliran ini disebabkan banyaknya orang yang memiliki pengalaman spiritual dan mengajarkannya kepada orang lain (Simuh, 2002:41). Sehingga banyak nama tarekat dinisbahkan kepada pendirinya. Misalnya tarekat Qadiriyah, dinisbahkan kepada Abdul Qadir al-Jailani.

Di Indonesia tarekat mulai berkembang sejak berkembangnya agama Islam. Sufi pertama yang teridentifikasi dalam sejarah tasawuf Nusantara, Hamzah Fansuri (w. + 1610) sufi asal Aceh, merupakan penganut tarekat Qadiriyah (Shadiqin, 2008: 57). Meskipun memiliki perbedaan dengan Qadiriyah yang berkembang dewasa ini (Mufid, 2006: 62) namun ini menunjukkan adanya aktifitas ketarekatan pada masa itu. Dari Aceh pada masa selanjutnya tarekat semakin berkembang. Tarekat semakin berkembang setelah Abdurrrauf As-Singkili (w. 1693) membawa pulang terekat Syattariyah ke Aceh dan Yusuf al-Maqassari mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Sulawesi, Kaimantan dan Jawa. Ajaran tarekat semakin berkembang di Indonesia melalui murid-murid mereka yang tersebar di Nusantara. Misalnya, Abdurrauf as- Singkili memiliki murid Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Abdul Muhyi Paminjahan di Jawa Barat. Dari sana bermunculan lagi murid yang kemudian jadi guru hingga saat sekarang ini.

Sejak masa masuk dan berkembangnya di Indonesia tarekat menjadi sebuah topik yang memicu kontroversi di kalangan ulama Islam sendiri. Bibit dari kontroversi ini memang sudah dimulai sejak kemunculan tasawuf itu sendiri pada abad pertama masehi (Shadiqin, 2009). Bahkan dalam abad pertengahan, di Aceh terjadi pembakaran terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri yang dilakukan oleh Nuruddin ar-Raniry (Shadiqin, 2008: 105). Selanjutnya, dalam abad XIX kritik bukan hanya diarahkan kepada tarikat, namun juga kepada ulama sufi yang membawa tarekat tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Sayyid Usman kepada Sulaiman Zuhdi, di mana Sayyid menganggap Sulaiman telah mengajarkan hal-hal yang jauh dari kebenaran agama kepada masyarakat di mana masyarakat mempercayai kebohongan tersebut (Nasuhi, 2003: 75).

Dalam konteks pulau Jawa penyebaran tarekat dilakukan pasca berkembangnya di Aceh. Sebagian peneliti mensinyalir bahwa Wali Songo menganut tarekat Qadiriyyah (Bruinessen, 1988: 70). Namun bukti untuk hal ini hanya ada satu kalimat dalam Babat Tanah Jawi yang mengatakan Sunan Kali Jaga mengajarkan Ilmu Syekh Qadir (Mufid, 2006: 63). Dalam masa-masa selanjutnya perkembangan tarekat dilakukan melalui pesantren-pesantren di seluruh Jawa. Pada abad XIX, perkembangan tarekat sempat dodominasi oleh Naqsabandiyah yang dibawa oleh pada ulama yang pulang dari tanah suci Makkah. Hal ini terjadi karena Naqsabandiyah dianggap lebih berorientasi Syariat dbandingkan dengan tarekat lainnya. Namun saat ini berbagai tarekat, selaian Naqsabandiyah, juga berkembang pesat di Indonesia. Bahkan beberapa diantaranya adalah, apa yang disistilahkan Brunessen sebagai, tarekat lokal, yakni tarekat yang sanadnya tidak bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Munculnya Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Tarekat Shiddiqiyah merupakan salah satu tarekat yang berkembang di Indonesia. Tarekat ini diperkenalkan pertama kali oleh Kiai Muhammad Mukhtar Luthfi dari Jombang, Jawa Timur. Tim penulis buku Tarekat Muktabarah di Indonesia tidak memasukkan tarekat ini sebagai bagian dari tarekat yang “muktabarah” (diterima) sebab dianggap tidak memiliki silsilah yang bersambung pada Rasulullah (Mulyati, 2004). Namun tarekat ini tetap mampu bertahan hingga kini berkat kesolidan dan usaha anggotanya. Beberapa bangunan yang melambangkan kebesaran tarekat telah dibangun dari hasil usaha anggotanya, baik di Jombang maupun di beberapa daerah lain di pulau Jawa (Syakur, 2008). Namun demikian Bruinessen (1994) menganggap tarekat ini sebagai local tarekat dan tidak memiliki silsilah yang sampai pada Nabi Muhammad.

Shiddiqiyah masuk ke Wonodadi pada tahun 1997 yang dibawa oleh Bapak Guru Ambari, yang berasal dari Sragi, Pekalongan. Ia merupakan seorang guru Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan di Sekolah Dasar Wonodadi. Selain sebagai guru ia juga aktif dalam memimpin berbagai upacara keagamaan di Wonodadi. Sebagai jamaah tarekat Shiddiqiah ia memperkenalkan tarekat ini kepada masyarakat di sana. Sejak ia masuk hingga kini tetap tidak semua warga menjadi anggota tarekat. Dari 55 KK yang ada di Wonodadi hanya 23 KK yang menjadi anggota tarekat, dan itupun tidak seluruh anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut. Dalam satu keluarga bisa saja beberapa anggotanya menjadi anggota tarekat, namun yang lainnya tidak. Hingga saat saya berada di lapangan, pengikut tarekat ini berjumlah 45 orang.

Menjadi Anggota Tarekat dan Alasannya
Untuk menjadi anggota tarekat maka seseorang harus mendapatkan bai’at (disumpah) di pusat pengembangan tarekat Shiddiqiyah, yaitu Jombang, Jawa Timur. Di sana ia akan mendapatkan bimbingan khusus mengenai tarekat dan penjelasan mengenai tata cara zikir, maksud dan tujuan bertarekat dan lain sebagainya. Sementara untuk penguatan pemahaman anggota tarekat yang telah terdaftar, secara periodik beberapa orang yang berasal dari Jombang atau Pekalongan datang ke Wonodadi untuk memberikan penjelasan mengenai hakikat bertarekat sambil melakukan zikir bersama (Kausaran). Sampai saat saya berada di lapangan, baru dua kali Wonodadi didatangi oleh tokoh tarekat dari Jombang untuk melaksanakan Kausaran. Selebihnya, hampir setiap tahun tokoh tarekat datang dari Kabupaten Pekalongan terutama pada tanggal 17 Ramadhan untuk melaksanakan Kausaran khusus yang disertai dengan pengajian.

Beberapa orang yang saya jumpai mengemukakan alasan yang berbeda menjadi anggota tarekat. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa di dalam tarekat mereka merasakan telah menemukan apa yang selama ini mereka cari dalam beragama. Dari sisi spiritual, setelah masuk dalam tarekat mereka merasa melihat jalan beragama menjadi lebih baik dan sempurna. Dengan bertarekat mereka dapat memperoleh ridha Allah dalam menjalani kehidupan di dunia.

Ibu Santi yang menjadi anggota sejak dua tahun yang lalu mengatakan ia menemukan penjelasan mengenai berbagai aspek agama secara lebih mendalam dari apa yang ditemukannya selama ini. Karenanya ia rajin mengikuti kausaran setiap senin dan rabu malam yang diadakan di Wonodadi. Namun ia mengaku belum penah pergi ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Ia dibai’at di dusunnya oleh seorang khalifah yang datang dari Pekalongan. Sejak saat itulah ia menjadi anggota terekat dan mengikuti semua kegiatan yang diadakan di dusunnya.

Pak Nurman juga seorang anggota tarekat Shiddiqiyah. Ia mengenal tarekat ini sebelum tarekat masuk ke dusun mereka, tepatnya ketika ia bekerja sebagai buruh bangunan di Pekalongan tahun 1996. Di sana ia berkenalan dengan beberapa orang yang berasal dari Jawa Timur dan menganut tarekat Shiddiqiyah. Dari perkenalan inilah ia menjadi tertarik dan mejadi pengikut Siddiqiyah. Dalam pandangannya Shiddiqiyah lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dan lebih menenangkan hati. Dengan zikir-zikir yang diberikan selama ini ia merasa lebih bisa memendam amarah dan keinginan berbuat jahat tidak ada lagi.

Seorang anggota tarekat lain yang saya wawancarai adalah Budi. Secara individu Budi mengaku menjadi seorang anggota tarekat sebagai kelanjutan dari peran bapaknya. Bapaknya yang saat ini sudah meninggal dunia adalah generasi awal yang bergabung dengan tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi. Bahkan beliau merupakan orang pertama yang masuk menjadi anggoat tarekat tersebut. Setelah bapaknya meninggal dunia ia mulai belajar tarekat Shiddiqiyah dan pergi ke Jombang. Di sana ia melihat jamaah yang mengikuti pengajian tidak terbatas pada orang biasa saja. Banyak pejabat dan polisi yang juga menjadi pengikut tarekat. Ini menurut Budi menjadi salah satu bukti bahwa Shiddiqiyah bukanlah ajaran terlarang dan sesat. Sebab kalau saja ia sesat maka sangat tidak mungkin ia bisa berkembang di kota seperti Jombang dan diikuti oleh masyarakat secara umum.

Identitas Jamaah Tarekat

Saat saya datang ke rumah seorang anggota tarekat, saya menemukan sebuah foto besar yang dibawahnya bertuliskan Kiai Muchtar Luthfi, Musyid Tarekat Shiddiqiyah. Saya mendekati foto itu dan menanyakan siapa beliau. Si empunya rumah menjelaskan bahwa itu adalah pimpinan pusat sekaligus pendiri tarekat Shidiiqiyah dari Jombang Jawa Timur. Di sisi foto tersebut ada foto lain, sekelompok orang berpakaian putih-putih bersorban juga putih berdiri berjejer. Di depan mereka duduk di kursi seorang yang sudah tua. Ia menjelaskan kalau itu ada fotonya bersama dengan sang Kiai saat ia pergi ke Jombang dan belajar terakat di sana. Di Wonodadi hanya ia yang pernah datang ke sana dalam waktu lama (6 bulan) sehingga sampai saat ini hanya ia yang bisa memimpin zikir kausaran yang diadakan di Wonodadi.

Dari sisi penampilan luar, antara jamaah tarekat dengan bukan jamaah tarekat hampir tidak ada bedanya. Mereka sama-sama melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Identitas ketarekatan mereka kita peroleh saat masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah jamaah umumnya ada sebuah foto Kiai Mukhtar Lutfi yang dibingkai dan digantungkan di dinding. Beberapa rumah ada foto kenangan bersama sang Kiai saat mereka pergi berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian di sana. Setiap rumah yang dipasangi foto ini menunjukkan mereka sebagai bagian dari jamaah aterakt tersebut.

Identitas lain adalah sebuah kaligrafi doa yang dibingkai digantung di pintu masuk rumah bagian dalam. Saat saya masuk ke sebuah rumah di sana saya mencoba memfoto doa yang berbingkai tersebut, namun empunya rumah melarangnya. Doa tersebut adalah identitas anggota yang sangat personal karena di dalamnya juga tercantum nomor keanggotaan rumah tersebut. Indentitas lainnya adalah sebuah kartu anggota berwarna kuning yang lengkap dengan foto dan keterangan laiknya sebuah kartu tanda penduduk. Kartu ini hanya berguna untuk pendataan anggota tarekat saja dan tidak dipakai untuk keperluan yang lain, seperti surat menyurat resmi dalam lain sebagainya.

Dalam beberapa rumah anggota tarekat juga ada sebuah logo tarekat yang dibingkai dengan rapi. Gambar logo tarekat Shiddiqiyah dasarnya berwarna kuning dengan beberapa tulisan arab di bagian atasnya. Gambar utama adalah sebuah pohon besar yang berbuah anggur yang tumbuh di antara dua warna lautan. Ini diartikan sebagai hakikat hidup anggota tarkat yang tumbuh dari “dua lautan” yakni Syariat dan Shiddiqiyah. Mereka mengibaratkan diri sebagai sebuah pohon yang berbuah manis (dalam gambar dibuat buat anggur) yang berarti jamaah tarekat mesti menjadi orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang baik untuk masyarakat dan menghidupi masyarakat untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Tuhan. Di bagian bawah ada dua angka yang digandengkan yakni 1 (satu) dan 0 (nol). Kedua angka ini menunjukkan kesempurnaan, bahwa pada hakikatnya segala sesuatu adalah satu jua yakni Tuhan. Realitas yang ada saat ini adalah kosong belaka yang dilambangkan dengan nol. Ini adalah dasar pandang dunia jamaah shiddiqiyah yang juga biasanya menjadi dasar pandang beberapa kelompok tarekat yang lain yang hidup saat ini, baik di Indonesia maupun di bagian dunia yang lain.



Gambar 1: Logo tarekat Shiddiqiyah yang digantung di dinding rumah anggotanya sebagai identitas keanggotaan

Aktifitas dan Ajaran Tarekat Shiddiqiyah
Secara umum saya membagi dua jenis aktifitas yang dilakukan oleh jamaah tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi; privat dan publik. Aktifitas privat adalah aktifitas yang menyangkut dengan kegiatan internal jamaah yang tidak diikuti oleh masyarakat umum. Kegiatan ini umumnya berhubungan dengan zikir pribadi dan kelompok, dan khalwat (mengasingkan diri untuk berzikir dan berdoa). Sementara yang publik adalah kegiatan yang dapat diikuti oleh semua masyarakat meskipun yang mengadakannya adalah jamaah tarekat. Dalam hal ini saya mencontohkan aktifitas mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam, bergotong-royong membangun gedung sekolah, membangun jalan dan rumah ibadah, dan lain sebagainya.

Gubuk Zikir
Aktifitas berupa zikir dilakukan dalam sebuah gubuk yang terletak di pertengahan perkebunan warga. Suatu pagi, saat saya datang pertama kali ke lokasi penelitian, saya melewati gubuk kecil tersebut. Di bagian pintu terlutis “Gubuk Zikir Shiddiqiyah.” Bangunan itu tinggi tigaa meter, berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih tiga meter. Di tengahnya ada seperti kamar berbentuk empat persegi. Di tiga sisinya ada jendela besar tanpa penutup. Di sisi bagain timur kamar dibuat sebuah pintu. Seluruh bangunan terbuat dari bambu dan diikat dengan tali rotan dan tali ijuk. Di bagian pinggirnya dipagari dinding setinggi 60 cm. Hanya ada empat tiang dasar yang dibuat dari semen di bawahnya. Selebihnya semuanya dari bambu dan beberapa kayu. Bangunan ini tidak dicat atau diwarnai dengan warna apapun, semuanya dibiarkan dalam warna aslinya. Di bagian dalam tengah ruangan tergantung sebuah bola lampu listrik pijar 25 watt. Selain itu ada juga beberapa lembar tikar yang dilipat. Bangunan ini adalah gubuk yang dipakai oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah untuk melakukan zikir bersama.



Gambar 2: Gubuk Tarekat Shiddiqiyah di Wonodadi
Dalam gubuk tersebut jamaah Shiddiqiyah kausaran, yaitu zikir rutin anggota tarekat yang dilaksanakan pada setiap rabu malam. Jamaah datang ke sana bersama-sama dengan membawa obor setelah shalat Isya di Masjid. Lokasi yang jauh dari perkampungan dan berada di tengah hutan dimaksudkan untuk menjaga ketentraman bersama. Zikir tarekat Shiddiqiyah yang panjang dan bersuara besar-besar dikhawatirkan dapat menganggu warga lain yang akan istirahat di malam hari. Ketika bersikir, pimpinan zikir duduk di tengah ruangan bersama beberapa orang “senior” lainnya. Sementara jamaah duduk di sekelilingnya dan mengikuti zikir yang dipimpin oleh pimpinan zikirnya.

Pada awal kedatangannya, kausaran direncanakan pada setiap malam Jum’at. Namun karena malam Jum’at ada Jamiahan yaitu tahlilan umum yang dilakukan bergiliran di rumah warga, maka Kausaran dipindah menjadi malam Senin dan Malam Kamis. Namun kalau lagi “malas” –saya tidak tahu apa arti kata ini- Kausaran dilaksanakan satu kali saja dalam satu minggu, yaitu Rabu malam. Dan itu dilaksanakan pada rumah salah seorang anggota jamaah secara bergiliran.

Dalam pelaksanaannya, tarekat ini jamaah membaca beberapa Surat dalam al-Qur'an, dengan urutan al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, Alam Nasyrah, Inna Anzalna, al-Kautsar, Izaja’a, Al-‘Asr masing-masing tujuh kali. Kemudian dilanjutkan dengan shalawat masing-masing 30 kali atau 21 kali. Kemudian membaca tasbih (subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar) masing-masing 15 kali. Kemudian melakukan zikir (La Ilaha Illallah) sebanyak 120 kali atau 1000 kali jika mampu. Zikir ini ditutup dengan do’a dan selesai. Umumnya zikir dilaksanakan selama dua jam dan dilakukan dengan suara keras.

Pelaksanaan kausaran

Saat berada di lapangan saya mengikuti pelaksanaan Kausaran yang diadakan oleh Jamaah Tarekat Shiddiqiyah. Saat saya berada di lapangan Wonodadi sedang musim hujan. Karenanya zikir dilakukan di rumah anggotanya, bukan di gubuk zikir seperti biasanya. Saya diundang oleh pimpinan terekat yang ada di wonodadi, Pak Andi pada suatu malam setelah shalat Isya berjamaah di masjid. Malam itu kausaran dilaksanakan di rumah Pak Slamet. Rumah in terletak persis di belakang masjid. Saat saya datang, sudah ada beberapa orang di sana. Setidaknya ada 20 orang laki laki dan 10 orang permpuan. Mereka duduk melingkar di ruangan tamu. Beberapa orang duduk berlapis karena ruangan yang kecil. Beberapa anak muda memegang buah tasbih dan terus mengihitungnya. Tidak jelas zikir apa yang mereka ucapkan, namun nampaknya mereka sedang melafazkan sesuatu dalam hati.

Zikir umum dipimpin oleh Budi yang nampak masih sangat muda. Ia membaca sebuah pengumuman yang dikirim oleh pimpinan Majlis Siddiqiyah dari Pekalongan. Sekilas isi dari surat itu adalah dalam waktu dekat akan dilaksanakan pertemuan di Pekalongan sekaligus penyambut mursyid tarekat dari Jombang. Untuk keperluan ini panitia membutuhkan uang Rp. 12 juta. Kepada jamaah yang hendak membantu dapat memberikan kepada pengurus Shiddiqiyah yang ada di Wonodadi. Setelah selesai dengan pengumumannya, Budi mempersilahkan seorang jamaah senior, Pak Tahir memberikan tausiah singkat.

Pak Tahir menjelaskan mengenai hakikat Tarekat Shiddiqiah. Tujuan utama dari Shiddiqiyah adalah mendapatkan keamanan dan ketentraman dalam kehidupan. Mula-mula kehidupan pribadi, keluarga, dan kehidupan masyarakat secara lebih besar yakni kehidupan bernegara. Untuk itu mereka menekankan pentingnya kehidupan yang aman ini. Shiddiqiyah akan siap membela negara jika diperlukan. Sebab kecintaan mereka pada perdamaian dan keamaan mendorong mereka melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Untuk ini mereka membangun solidaritas antar jamaah dan umat Islam semuanya. Atas dasar alasan ini pula pada saat gelombang Tsunami menghancurkan Aceh tahun 2004, mereka memberikan doa 40 malam untuk keselamatan dan ketabahan bagi korban tsunami di Aceh. Hal yang sama juga mereka lakukan waktu gempa di Padang dan Yogyakarta.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa pada dasarnya semua aliran dalam bergama adalah sama saja, yakni sama-sama mengajak kepada kebajikan. Bahkan semua agama yang ada di dunia mengajak kepada kebajikan. Setiap orang yang baik adalah mereka yang menjalankan ajaran agama dengan baik. Jadi apapun agama dan alirannya selama ia menjalankan dengan baik dan ikhlas, maka ia telah menjadikannya sebagai dasar untuk menyabarkan kebaikan. Sebab kabajikan pada akhirnya akan dinilai oleh Allah, bukan oleh manusia.

Pak Tahir menegaskan bahwa mereka, penganut Siddiqiyah “memegang dua lautan” yaitu Syariat dan Shiddiqiyah. Syariat adalah dasar agama yang harus diikuti oleh semua orang yang telah mengaku sebagai Islam. Ini semua sama, di Aceh, di Jawa, di Sulawesi, sama saja. Selama seseorang berpagang pada syariat maka ia akan menjalankan ajaran agama dengan baik pula. Sementara tarekat adalah ajaran yang mengedepankan kedamaian dan cinta sesama. Dengan tarekat mereka ingin kehidupan yang aman dan damai bagi sesama dalam lingkungan dan alam sekitarnya.

Setelah memberikan penjelasan ini maka mulailah dilaksanakan zikir yang dipimpin oleh Budi. Zikir diawali dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang dilafalkan bersamaan antara Budi dan jamaah semuanya dengan suara besar. Bacaannya persis seperti apa yang telah saya jelaskan di atas, yaitu salawat, surat-surat dalam al-Qur’an dan do’a. Mereka nampak khusyuk dalam melafalkan zikir tersebut dan larut dalam bacaannya. Sejak dimulai sampai akhir mereka menghabiskan waktu selama satu jam sepuluh menit.

Setelah selesai tuan rumah menghidangkan teh kepada jamaah yang hadir. Teh yang telah dimasukkan dalam gelas dibagikan kepada jmaah satu persatu. Kemudian diberikan beberapa ember plastik yang berisi kerupuk. Kerupuk yang berjalin ini adalah kerupuk yang biasa dijual di warung. Selain itu dihidangkan nasi putih dalam beberapa piring. Nasi itu untuk dimakan bersama kerupuk yang telah disediakan sebelumnya. Menurut seorang yang duduk di sampaing saya, makanan yang dihidangkan setelah selesai zikir itu dibebankan kepada tuan rumah. Tidak ada ketetapan mengenai apa makanan dan minuman tersebut, semuanya terserah tuan rumah.

Ajaran Pokok Tarekat Shiddiqiyah
Saya mendapatkan informasi mengenai ajaran pokok tarekat Shiddiqiyah dari beberapa orang yang ada di tempat penelitian saya dan menambah beberapa informasi tersebut dengan data yang saya dapatkan dari situs internet yang dikelola oleh kantor pusat tarekat Shiddiqiyah di jombang Jawa Timur. Ada beberapa aspek ajaran tarqat yang diyakini oleh jamaah Shiddiqiyah, yaitu:

1. Bersyukur atas apa yang ada
Ajaran pertama tarekat Shiddiqiyah adalah bersyukur atas apa yang ada, apa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kalau saat ini seseorang masih miskin dari sisi harta benda, maka itu berarti memang Tuhan menghendakinya miskin dan menganggap ia belum pantas untuk mendapatkan kekayaan. Tuhanlah yang mengatur kehiudpan manusia. Kalau manusia menggugat apa yang ia peroleh dari pemberian Tuhan, maka ia berarti menggugat Tuhan. Mana mungkin manusia menggugat Tuhan padahal Tuhan jauh lebih tinggi dari manusia itu sendiri. Ini adalah aspek yang berat. Sebab manusia cenderung ingin mendapatkan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang diutuhkannya bahkan ia memiliki kehendak lebih tinggi dari apa yang ia mampu lakukan.

2. Kesetiaan
Penganut tarekat juga meyakini bahwa dunia sudah “tenggelam dalam lautan api”. Hal ini terlihat dalam berbagai praktek korupsi, kolusi, dan berbagai bentuk praktek keji lainnya. Hal ini semua menunjukkan kalau manusia sudah jauh tenggelam dalam lautan tersebut. Memperbaikinya adalah dengan memperbaiki akhlak dan mempertahankan hati dari berbagai godaan duniawi. Shiddiqiyah membangun kesetiaan yaitu kesetiaan hati, kesetiaan kepada saudara kandung, kesetiaan kepada tetangga terdekat, lingkungan, dengan perangkat dusun, desa dan kesetiaan pada negara. Hal ini merupakan dasar bimbingan bagi ajaran tarekat Shiddiqiyah yaitu cinta tanah air.

Kesetiaan pada tanah air ini diwujudkan pula dalam keterbukaan dalam cara pandang. Jamaah Shiddiqiyah memandang bahwa agama pada dasarnya baik semuanya. Demikian juga dengan berbagai aliran yang ada dalam sebuah agama. Yang salah dan berdosa itu adalah orang yang ada dalam agama tersebut. Shiddiqiyah tidak melepaskan diri dai kalimat lailahaillallah, dan memasukkan kalimat ini dalam hati. Usaha ini dilakukan dengan berusaha merubah diri dan akhlak menjadi lebih terpuji. Hal ini bisa dilakukan dengan melaksanakan puasa selama 4 atau 7 hari sehingga kalimah lailahaillallah bisa masuk dalam hati. Proses ini adalah proses paling awal dalam tarekat Shiddiqiyah yang dikenal dengan Jahar. Proses ini akan semakin berlanjut dan bertingkat sampai pada tingkatan 40. Seorang narasumber saya mengatakan ia tidak tahu bagaimana rasanya sampai pada tingkat 40 itu. Bahkan di Wonodadi belum ada orang yang sampai ke tingkat itu. “Kalau di Lebakbarang sudah ada,” katanya.

3. Zikir untuk kedamaian hati
Zikir yang selalu dilakukan akan menjadikan kehiduapn sehari-hari lebih tenang dan damai. Zikir juga menjadikan hubungan antar sesama anggota tarekat dan hubungan dengan orang lain menjadi leih baik. Seseorang yang mengikuti zikir akan merasa lebih tenang dan damai dalam hatinya dan akan damai pula dalam kehidupan pribadinya sehari-hari. Zikir bisa dilakukan bersama-sama setelah selesai shalat dan melakukan kausaran pada malam yang telah disepakati bersama. Namun yang paling baik adalah zikir yang dilakukan sendiri baik setelah selesai shalat maupun saat melakukan aktifitas sehari-hari. Sebab zikir dalam hati bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa harus menyediakan waktu khusus dan tempat khusus pula.

4. Ukhwah antar Jamaah
Ajaran lain yang penting dalam Shiddiqiyah adalah kekompakan dalam membangun fasilitas bersama. Jamaah dari Wonodadi pernah datang ke Magelang untuk membantu cor pembangunan Pusat tarekat Shiddiqiyah Jami’atul Muzakkkirin. Mereka datang ke sana dengan menumpang sebuah “doplak” yaitu mobil L300 pickup. Pergi jam enam petang sampai di sana jam enam pagi. Siang harinya bekerja dan sore harinya pulang kembali ke Wonodadi dengan doplak yang sama. Ini semua dilakukan sebagai wujud solidaritas untuk pembangunan fasilitas bersama yang dapat digunakan untuk kepentingan umat Islam.

Selain itu jamaah Shiddiqiyah idealnya harus memiliki banyak santunan. Santunan bisa saja dalam bentuk uang dan materi, bisa pula dalam wujud dukungan spiritual dan semangat. Ketika terjadi gempa besar di Aceh, Padang, Yogyakarta, jamaah Shiddiqiyah di Wonodadi berdoa selama 40 hari berturut-turut untuk korban bencana alam tersebut. Doa ini bertujuan untuk meminta kepada Allah agar orang yang meninggal dunia dalam gempa tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah, sementara orang yang masih selamat mendapatkan semangat dan kebaikan dalam hidupnya.

Ajaran-ajaran tarekat itu terimplikasi dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana ajaran agama yang lain. Oleh sebab itu seseorang yang melakukan korupsi dianggap tidak beragama. Sebab seseorang yang beragama tidak mungkin melakukan praktek korupsi. Dalam hatinya ada iman dan kepercayaan bahwa Allah menyaksikan apa yang dia lakukan. Kalau ia melakukan korupsi sebagai seubah perilaku tercela dan merugikan banyak orang, berarti ia telah melupakan bahwa Allah menyaksikanya. Kalau ia telah melupakan Allah, maka berarti ia tidak lagi memiliki Tuhan dan ini berarti ia tidak beragama.

Tuduhan Aliran Sesat
Sebagai sebuah kelompok baru dan berbeda dengan kebanyakan orang beragama yang lain, maka kelompok tarekat Shiddiqiyah ini pernah dituduh sebagai aliran sesat oleh sebagai warga Wonodadi yang lainnya. Meskipun secara jelas tidak diketahui siapa yang menuduhnya sesat, namun berita tentang kesesatan itu sering didengar. Demikian pula yang sering dikemukakan oleh beberapa kiai yang datang ke Wonodadi untuk memberikan ceramah dan pemahaman agama, ia menjelaskan bahwa tarekat itu tidak ada dalam Islam sehingga ia bid’ah dan tidak boleh diikuti.

Bagi jamaah Shiddiqiyah, tuduhan sesat kepada jamaah tarekat itu laksana orang masuk ke dalam rumah gelap gulita. Seorang pemilik rumah yang sudah tinggal di sana dalam waktu lama sudah tahu bagaimana dan di mana posisi apapun dalam rumah itu. Meskipun gelap ia tahu di mana pintu untuk keluar, dapur, kamar mandi dan lain sebagainya. Hal ini bebeda dengan orang yang belum pernah masuk ke rumah tersebut. Meskipun ia adalah seorang ahli bangunan dan memahami seluk-beluk sebuah rumah, ia tetap tidak bisa menguasai rumah itu. Ia tidak tahu jalan keluar dan berbagai peralatan yang ada di dalam rumah. Orang inilah yang mengatakan kalau rumah itu tidak bagus, atau tidak sesuai dan berbagai hal yang lain. Padahal ia tidak mengenal rumah yang dimaksud dan baru pertama kali masuk ke sana.

Infiltrasi Tarekat dalam aktifitas keagamaan yang lain
Seperti saya jelaskan di atas bahwa tidak semua masyarakat Wonodadi menjadi bagian dari jamaah tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di sana. Beberapa orang diantara warga menolak kehadiran jamaah ini karena beberapa alasan. Saya menjumpai salah seorang warga yang tidak setuju dengan perkembangan tarekat yang ada di dusunnya. Nama beliau Pak Kumis yang membangun rumah di bagian paling utara dusun Wonodadi. Seperti warga lainnya, ia seorang patani dan memelihara beberapa ekor ternak sapi. Pada pagi dan sore hari ia mengambil air aren untuk di masak menjadi gula Jawa dan dijual pada pedagang yang datang ke sana setiap minggu.

Bagi Pak Kumis, keberadaan jamaah Shiddiqiyah di dusun Wonodadi dipandang sebagai sebuah agama baru yang dianut oleh masyarakat. Padahal menurutnya, agama masyarakat di sana hanyalah Islam dan tidak ada yang namanya Shiddiqiyah. Kalau ada yang lain yang masuk ke dusun tersebut maka itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sudah berkembang sebelumnya dan tidak benar. Menurutnya banyak orang yang ikut dalam jamaah Shiddiqiyah pada dasarnya mereka yang tidak paham dengan apa yang mereka ikuti. Mereka ikut-ikutan saja tanpa paham apa yang mereka kerjakan. Pak Kumis sendiri melihat apa yang dilakukan Shiddiqiyah tidak sesuai dengan Islam. Misalnya dalam ajaran Shiddiqiyah dikatakan kalau melakukan puasa empat hari maka akan langsung masuk surga. Ajaran lain, kalau mau masuk Shiddiqiyah juga harus puasa empat hari atau tujuh hari. Ini bukanlah ajaran Islam dan tidak ada ajaran Islam yang demikian, kata Pak Kumis. Pun demikian ia sendiri mendiamkan saja masalah ini. Karena baginya persoalan agama adalah pilihan masing-masing orang. Orang tersebut akan mempertanggungjawabkan pilihannya kepada Allah di akhirat kelak.

Pak Kumis dan beberapa orang lain yang menolak tarekat Shiddiqiyah yang berkembang di Wonodadi tetap juga mengikuti aktifitas keagamaan yang di dalamnya dibacakan zikir tarekat. Hal ini terlihat dalam tradisi jamiahan yang dilakukan masyarakat. Jamiahan adalah tahlilan bersama yang dilakukan setiap malam Jum’at yang diikuti oleh warga Wonodadi. Zikir ini dipimpin oleh Pak Andi yang tidak lain adalah pimpinan tarekat di dusun yang sama. Saya mendengar zikir untuk tahlilan yang digunakan oleh Pak Andi juga digunakan untuk acara Kausaran dengan beberapa perubahan dan penyesuaian. Namun demikian secara substansi, zikir yang dibacakan tidak jauh berbeda dengan zikir tarekat. Padahal jamaah yang mengikuti Jamiahan bukanlah jamaah tarekat, tetapi masyarakat umum yang ada di sana. Jadi meskipun beberapa warga menolak kehadiran tarekat di dusun mereka, namun mereka tetap mengikuti aktifitas keagamaan yang dipimpin oleh jamaah tarekat dan mengikuti pula zikir yang dilakukannya.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat Shiddiqiyah yang hidup dalam masyarakat Wonodadi sebagai bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial mereka. Berbagai pengaruh modernitas yang disiarkan televisi tidak serta merta dapat menggeser peran tarekat dalam kehidupan masyarakat Jawa Pedesaan. Tarekat justru menjadi tempat di mana mereka mendapatkan ketengangan batin dan semangat untuk berusaha dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh, dalam masyarakat Jawa pedesaan, tarekat menjadi media pemersatu dan pembina hubungan sosial diantara mereka untuk kehidupan bersama yang lebih baik.


Daftar Pustaka


Beatty, Andrew. 2009. A Shadow Falls in The Hearth of Java, London: Faber and Faber.

Bruinessen, 1989. “Tarekat Qadiriyah dan Ilmi Syeikh Abdul Qadir Jeilani di India, Kurdistan dan Indonesia,” dalam Ulumul Qur’an vol. 2 No. 2. Jakarta: LSAF.

Bruinessen, Martin van, 1994a. "Origins and development of the Sufi orders (tarekat) in Southeast Asia", Studia Islamika, Jakarta, vol. I, no.1, 1994.

Bruinessen, Martin van, 1994b. "Pesantren and kitab kuning: maintenance and continuation of a tradition of religious learning", in: Wolfgang Marschall (ed.), Texts from the islands. Oral and written traditions of Indonesia and the Malay world [Ethnologica Bernica, 4]. Berne: University of Berne, 1994.

Dhofier, Zamakhsyari, 1985. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3S.

Hasan, Sudirman, dalam http://sudirmansetiono.blogspot.com/2009/05/origin-of-tarekat-sidiqiyya.html

Howell, Julia Day, 2001. Sufism and the Indonesian Islamic Revival, The Journal of Asian Studies 60, no. 3, August 2001.

Mufid, Ahmad Syafi’i, 2006. Tangklukan, Abangan, dan Tarekat, Jakarta: Yayasan Obor.

Mulyati, Sri. ed. 2004, Mengenal & memahami tarekat-tarekat muktabarah di Indonesia, Kencana, Jakarta.

Nasuhi, Hamid. 2003. Tasawuf dan Gerakan Tarekat di Indonesia Abad 19, dalam, Bakhtiar, Amsal, Tasawuf dan Gerakan Tarekat, Bandung: Angkasa.


Shadiqin, Sehat Ihsan. 2008. Tasawuf Aceh, Banda Aceh: Bandar Publishing.

Shadiqin, Sehat Ihsan. 2009. “Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog,” Harian Serambi Indonesia, 3 Desember 2009.

Shihab, Alwi. 2001, Islam Sufistik, Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, Bandung: Mizan.

Simuh, 2002. Tasawuf dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press.
Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke -19, Jakarta: Bulan Bintang.

Syakur, Abd. 2008. Disertasi, “Gerakan Kebangsaan Kaum Tarekat: Studi Kasus Tarekat Shiddiqiyah Pusat Losari, Ploso, Jombang Tahun197-2006, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Turmudi, Endang, 2006. Struggling for the Umma Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java, Australia: ANU E Press,.

Catatan Tambahan:
1. Artikel ini dipublikasi sebagai contoh untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Tarekat di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
2. Artikel ini belum dipublikasi dala jurnal atau buku. untuk pengutipan boleh pakai link berikut ini:
Sehat ihsan shadiqin (2010), http://sehatihsan.blogspot.com/2010/03/tarekat-shiddiqiyah-dalam-masyarakat.html