Tuesday, 23 March 2010

Bahasa SMS dan Status FB Masuk Kampus!

Semester lalu, saat memeriksa hasil ujian mahasiswa saya sedikit dibuat kesal. Sejak awal kuliah saya suah peringatkan bahwa tulisan yang mirip-mirip resep dokter tidak usah dikumpulkan sama saya, tapi dibawa ke apotek. Atau kalau memang mau saya nilai, tolong ketik dengan rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nyatanya, peringatan itu saja tidak mempan, yang terjadi adalah tugas kuliah dibuat dengan tulisan tangan yang sangat “artistik” hingga tidak bisa dibaca dan dipahami.

Apalagi jawaban soal ujian bertulis tangan yang dibuat buru-buru (mungkin sambil nyontek), sangat menjemukan untuk dibaca. Beberapa lembaran jawaban yang saya tidak bisa baca saya tinggalkan saja dan saya anggap dia (mahasiswa tersebut) tidak mengikuti ujian. Ada yang protes, namun saya tunjukkan jawaban ujiannya dan saya minta ia membaca jawaban itu. Ehh… ternyata ia juga tidak bisa membaca tulisannya sendiri. “Lalu kenapa kamu minta nilai bagus kalau kamu saja tidak bisa baca tulisan sendiri?” Aneh memang mahasiswa, persis seperti saya dulu :-)

Tapi itu tidak seberapa. Setidaknya mereka masih menggunakan bahasa Indonesia. Yang lebih parah adalah, beberapa mahasiswa menciptakan huruf sendiri dan bahkan kosa kata sendiri dari dunia entah berantah untuk membuat makalah di kampus. Anda mungkin pernah jumpa tUliSan BegNi, atau y4n6 8e61n1, bisa juga tulizn bgene, dan banyak ragam yang lain. Tulisan demikian ada di sms atas staus facebook. Sebuah status dari mahasiswa di FB seperti ini: “SaKiD MenGhadanG aqUH,,,, PeRGiLAh KAU DEMaM,,JANgAN gANggU AQuh pLiSzTtTTTT,” atau “GiLeee.. ne peRpUs pHa pasaR manuK?? bRisiK bneeR.. pasaR ngasEm pindaH kpeRpUs kmPuz q.. hkwakwak”

Saya tidak tahu kalau kalimat-kalimat seperti di atas masih bisa menjadi bahan komunikasi diantara mereka. Namun ketika kalimat tersebut masuk ke dalam tulisan makalah di kampus, itu sangat merusak. Kebebasan apapun yang kita anut, dalam aspek penulisan ilmiah dan akademik tetap harus memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar. Tidak semua orang mampu dan menguasa tata bahasa selengkapnya, namun harus ada usaha untuk terus belajar dan mengikuti tata cara penulisan yang baik. Setidaknya tidak mencampurkan bahasa-bahasa SMS dan status FB dengan bahasa dalam makalah dan tulisan di kampus.

Inilah yang saya dapat di kampus saya belakangan ini, terutama oleh beberapa mahasiswa semester baru. Beberapa kebiasaan mereka semasa SMA terbawa ke kampus dalam menulis. Nampaknya mereka sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan selama itu “asyik-asyik saja”. Padahal kelakuan itu sediit demi sedikit merusah bahasa mereka sendiri dan bahkan merusak penggunaan bahasa secara keseluruhan. Benar bahwa bahasa adalah budaya yang mungkin akan terus berubah, namun dalam tulisan-tulisan resmi bahasa bakulah yang harus kita pakai. Dan itu adalah salah satu tanda kita mencintai bahasa sendiri.

Saya yakin J.S. Badudu dan Dr. Gorys Keraf menangis melihat bahasa Indonesia ala status FB dan SMS yang dipraktekkan rakyat Indonesia selama ini.

No comments:

Post a Comment