Thursday, 30 October 2008

Tawar Menawar di Laut Tawar

Syukur juga. Impian lama untuk mengunjungi kota dingin Takengon kesampaian juga. Meski hanya satu hari, tapi sudah cukup alasan mengatakan kalau aku sudha pernah ke Takengon. Mmm.... mungkin ini bukan pengalaman menarik bagi banyak orang, apalagi orang takengon. namun bagi seorang hamba dhaif seperti sehat Ihsan, kemana saja, daerah baru, selalu memiliki arti berbeda. Memberikan pelajaran berharga. Menjadikan pengalamn luar biasa. Sebab pada setiap situasi kita dapat belajar tentang hal berbeda pula.

Sebanarnya ini adalah perjalanan tugas, dan disiapkan tiba-tiba. andai bukan karena takengon ingin kukunjungi sejak lama, maka aku tidak akan pergi. masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. namun tawaran ke takengon tidak dapat dielakkan. andai malaikat maut hendak menjemputku dan memberiku sedikit kesempatan sebelum menemui ajal, mungkin aku akan berkata, antarkan aku ke takengon.

berangkat jam siang kami makansiang di Seulawah. di mana gunung mulai disunglap jadi arena wisata. ide kreatif juga. di beberapa tempat sudah berdiri cafe yang menyediakan banyak panganan. di mana-mana keripik singong dan tape ubi dijajakan murah, tidak sebanding dengan kerja keras di puncak gunung dekat hutan. dan itu... masih banyak orang menawar.
tiga bungkus lima ribu bu..
kok mahal kali?
memang ebgitu harganya bu...
lima lima ribu boleh?...
ga bisa bu....

suruh saja si ibu mencangkul ubi di kebun belakang dan menggorengnya sendiri.. Bagiamna mungkin hasil kerja keras peras keringat itu diminta ganti sebungkus seribu rupiah? wah... pasti ibu ini belum pernah menginjak cacing dikebun....

ketika matahari mulai condong ke bArat, kami mulai mendaki pengunungan. hanya 99 km anatara Bireun dan Takengon. Namun itu bukan perjalanan yang mudah. banyak tantangan yang harus dilewati.

aku sempat berfikir kalau danau laut tawar telah dipindahkan. sebab di sepanjang jalan berhamparan danau-danau kecil. membuat mobil berayun bagai... daun pisang diterpa angin. goyangs ana goyang sini. bikin pusing dua kelilaing. lumayan... PAdahal pulang kekampungku ke Aceh selatan juga melaewati pengunungan dan jalan yang duh.... kepada Pemda tidak cepat-cepat menyelesaikannya. padahal sudah empat tahun tahun tsunami berlalu, namun jalan masih berbatu. eh... kok malah sensi dengan pemda?

Kami singgah di Simpang Balek pas azan maghrib. Ya sudah, nanti saja kita jama' dengan Isya, kata bos. dan di sana, tidak ada bedanya maghrib dengan ashar bagi pedagang. yang jual mie masih buka, yang jual gorengan juga, jual sandal jepit, telos dan petasan. biasa saja. coba kalo mereka berani di Banda Aceh begitu, pasti WH banyak kerjaan.

Menjelang Isya kami masuk ke Takengon.... shaaaapppsss... udara sejuk mulai menusuk tulang. Sayangnya aku tidak bisa lihat danau. malam sudah mejadi tabir menutup keindahannya. namun hiruk pikuk kota tercium jelas. sama saja seperti kota lain. penjual jajanan di pinggir jalan, toko pakaian diserbu pembeli, dua anak muda bergantungan di belakang motor.

eh.. nanti kusambung. ada rapat!!!


Sunday, 26 October 2008

Tasawuf Ajaran Hindu?

Ada yang menganggap tasawuf berasal dari unsur asing yang masuk ke dalam agama Islam. Bisa saja dari Kristen, setelah adanya asimilasi budaya dan peradaban antara Kristen dengan Islam setelah Nabi Muhammad wafat. Apalagi praktik kerahiban juga berkembang dalam tasawuf yang praktik itu jelas-jelas ada dalam ajaran Kristen dan dilarang dalam Islam. Boleh jadi tasawuf juga ajaran Hindu datu Budha. Konsep fana dan baqa yang berkembang dalam tasawuf bisa jadi berasa dari nirvana yang ada dalam ajaran Hindu/Budha. Demikian juga tadisi menyiksa diri untuk mendapatkan pengalaman spiritual, dan mengasingkan diri kehidupan sosial keyakinan akan adanya reingkarnasi pada jiwa-jiwa tertentu juga berkembang dalam dunia kaum sufi. Kenyataan ini diperburuk dengan tidak adanya istilah tasawuf dalam Al-Qur'an dan sepanjang kehidupan Nabi Muhammad saw. Nah, apakah ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak ada dalam Islam atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang benar?
Seandainya tasawuf dibatasi dalam makna sempit saja, maka benar kiranya ia tidak ada dalam ajaran dasar Islam. Demikian juga kalau tasawuf mau disama-samakan dengan apa yang ada dalam agama lain, maka ia akan sama. Sebab memang ada beberapa ajaran Islam, -bukan hanya tasawuf- ada juga dalam agama lain. Namun apakah ketika ia ada dalam agama lain itu bererti tasawuf berasal dari agama lain?

Tasawuf menekankan amal shalih dengan sepenuh hati, mendekatkan diri kepada Allah, mengelola nafsu, tidak terikat pada dunia materi, dan berbagai dasar ajaran lainnya. Ini semua sesungguhnya adalah ajaran Islam murni. Dalam Al-Qur'an selalu ditegaskan agar manusia mengamalakan ajaran Islam dengan sempurna. Tentu saja tidak sempurna namanya kalau pengamalan ajaran tidak termasuk dalam penghayatan amalan itu sendiri. Kalau shalat sekedar gerak dan membaca do’a, maka ia tidak lebih dari senam. Kalau puasa sekeder menahan diri dari makan dan minum, maka tidak lebih dari diet. Kalau haji hanya mengunjungi ka’bah di Makkah, maka tidak lebih dari melancong. Yang diperlukan dalam peribatan adalah subtansi, dan ini diperoleh dengan melakukan penghayatan dalam melaksanakan ibadah tersebut.

Penghayatan dalam ibadah tidak mungkin dilakuakn serta merta. Ia butuh latihan dan keseriusan dari kaum muslimin. Sedikit saja lengah, maka setan akan masuk dan mengganggu konsentrasi kita. Ia punya kepentingan untuk melencengkan niat, menumbuhkan keraguan, meimbulkan was-was, sehinga kita tidak dapat melaksanakan iabdah dengan khusyu’ seraya menghambakan diri kepada Allah. Namun dengan latihan dan bimbingan orang shalih, maka kekhusu’an dan rendah hati dalam beribadah kepada Allah akan terwujud.

Sekali lagi, ini semua adalah ajaran Islam dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Karenanya, ada atu tidak ada persamaan dengan agama lain, masuk atau tidak masuk pengaruh asing dalam Islam, tasawuf tetap akan timbul dalam Islam. Meskipun sistilah ini tidak ada pada masa nabi bukan berarti ajarannya tidak ada. Banyak istilah lain juga tidak ada pada masa Nabi namun ia menjadi autan kita sekarang dan bahkan sama-sama kita perjuangkan. Mislnya, formalisasi syariat Islam dan hukum negara, demokrasi, HAM dna lain sebagainya. Itu semua telah disemaikan benihnya oleh Nabi sehingga dengan pemikiran dan perkembangan modern kita sesuaikan untuk kehdiupan zaman kita kini. Dengan cara inilah agama akan terus hidup dan menjadi dasar dalam kehidupan umat Islam. Agama akan menjadi kebanggaan dan menjadi motivasi besar kepada kaum kuslimin dalam bekerja dan membantu manusia. Tidak ekslusif dan mengucilkan diri.


Saturday, 25 October 2008

Kenapa Salek Bisa Anarkis?

Sungguh mengiris hati berita Harian Aceh Independent (13/09) yang lalu tentang jamaah suluk yang berubah brutal. Ia menusuk beberapa temannya dengan benda tajam hingga meninggal dunia saat itu juga. Prosesi khidmat dan sakral tersebut di tangan Abdullah Daud (52), justru menjadi ladang pembantaian. Dan, tiga myawa sudah melayang. Kita sebagai orang beriman yang percaya pada takdir Allah tentang kematian hanya bisa mengatakan: “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” sembari berharap penegak hukum dapat mengusut kasus ini dengan tuntas dengan tetap memberikan rasa aman kepada pelaku.


Peristiwa di atas tentukan bukan sebuah hal yang diharapkan. Masyarakat yang megiukuti suluk justru berharap akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman jiwa dalam beribadah kepada Allah. Di sana mereka bermunajat, berzikir, mengkondisikan batin agar selalu bersama Allah. Yang diharapkan tidak lain adalah sedikit-demi sedikit melangkahkan hati menuju posisi paling dekat dengan Allah sehingga Ia bisa curahkan rahmat dan kasihnya, memberikan cinta tak terhingga, mengampuni dosa, mebersihkan jiwa, sampai si salik merasa damai bersama rahmatnya.

Hakikat Suluk
Suluk berasal dari kata bahasa Arab; salaka, yasluku yang secara literal berarti ”melalui” atau menempuh jalan; atau juga berarti perangai atau perilaku. Suluk juga dikaitkan dengan aktivitas ruhaniah seseorang yang mengambil suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati dan jiwa, mengendalikan nafsu, bertaubat dari dosa-dosa. Seorang salik melatih diri agar selalu ingat kehidupan ukhrawi yang lebih panjang dan penting di atas kehidupan duniawi. Kehidupan dunia hanya persinggahan dimana bekal amal dikumpulkan dan ibadah disiapkan. Sebab hanya itu yang berguna dalam perjalanan abadi di akhirat kelak.

Berbeda dengan ibadah biasa yang dilakukan kaum muslimin, suluk adalah sebuah pola ibadah yang dijabarkan dalam tarekat. Dan seperti kita ketahui tarekat sendiri adalah bagian dari pelaksanaan tasawuf. Dalam tasawuf seseorang diajarkan untuk melakukan latihan dan usaha (riadah dan mujahadah) agar ia bersih dan dapat melakukan penyaksian (shafa wa musyahadah). Untuk itu diperlukan langkah-langkah tertentu (maqamat) dan kondisi hati (ahwal) yang selalu fokus pada Allah. Ini semua dilakukan sebagai proses yang selalu berjalan seiring dengan kehidupan sang sufi.

Seseorang sufi yang pernah melakukan usaha tersebut dan dianggap berhasil menggapai puncak tertinggi dalam tasawuf (ittihad, hulul, musyahadah, mukasyafah, dll) serta fana dan baqa di dalamnya mengajarkan jalan yang ditempuhnya kepada orang lain. Dari sini kemudian lahir tarekat. Tarekat pada dasarnya adalah jalan yang ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan mengajarkan jalan tersebut kepada orang lain agar orang lain juga menempuh jalan sebagaimana pernah ia lakukan sehingga mereka juga sampai kepada Allah.

Karena tarekat mulanya adalah pengalaman personal, maka bentuknya sangat beragam. Di Indonesia terkenal antara lain tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Haddiyah, Chistiyah, Maulawiyah dan lain sebagainya. Suluk sebagaimana dipraktekkan di dayah-dayah di Aceh merupakan sisi praktis dari sebuah tarekat Naqsabandiyah. Tarekat lain meliki model suluk yang lain pula, seperti debus/rapai pada tarekat Rifa’iyyah, Sama’ (tarian sufi) pada tarekat Maulawiyah, ziarah dalam tarekat Syattariyah dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu suluk dilakukan dengan bimbingan seorang mursyid atau khalifah. Seorang mursyid suluk adalah mereka yang telah pernah mengikuti suluk dan dinyatakan telah ”lulus” oleh gurunya. Tidak semua orang yang pernah mengikuti suluk dapat menjadi khalifah. Seorang guru hanya mewariskan ilmu ini pada beberapa orang muridnya yang dianggap memiliki pengetahuan dan ketaguhan hati yang kuat. Sementara yang lain tetap hanya menjadi seorang salik biasa dan tidak memiliki hak untuk mempimpin suluk. Seorang mursyid yang dimpilih oleh gurunya dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan spiritual lebih sempurna dari salik yang lain.

Seorang salik (Aceh: salek), harus mengikuti apa yang ditetapkan dan diarahkan oleh mursyidnya, baik dalam adab sikap harian maupun dalam bacaan. Pada kali peratama mengikuti suluk, diadakan sebuah acara tahkim sebagai pernytaan sang salik akan taat kepada gurunya sepanjang pelaksanaan suluk. Seorang Mursyid akan membimbing sang salik sebagaimana dokter mengobati pasien. Sang salik akan dibimbing berdasarkan ”penyakit hati” yang dideritanya. Dan dalam proses ini sang salik berjanji akan mengikuti apapun bentuk bimbingan, arahan, petunjuk guru. Kata Imam al-Ghazali, seorang murid harus seperti mayat yang dibandikan oleh gurunya. Seorang salik yang tidak memiliki guru dan mencoba-coba menjalani jalan tarekat tanpa guru inilah yang dikenal dengan salik buta (salek buta).

Fana Dalam Suluk
Seorang salik dibimbing oleh mursyidnya untuk melakukan perjalanan menuju hakikat tertinggi yakni berada sedekat mungkin dengan Allah. Untuk ini mereka harus melalui berbagai tahapan yang dikenal dengan maqam (jama’ maqamat) dan hal (jama’ ahwal). Maqam adalah stasion atau tingakatan yang dilalui oleh seorang salik. Tahapan ini biasanya dimulai dengan taubat nasuha. Taubat dapat dilakukan dengan mandi taubat dan shalat taubat. Baru kemudian melakukan serangkaian zikir kepada Allah sebagai pernyataan bahwa ia bertaubat. Taubat dianggap sebagai pernyataan akalu seorang salik telah bertekat akan menjadi hamba yang ”berbeda” yakni meningalkan perilaku, sikap hidup, cara pandang duniawi menuju sikap hidup spiritual yang berorientasi pada ukhrawi.

Dalam prosesi suluk semua tahapan yang akan dilalui oleh seorang sufi dilakukan dengan zikir. Zikir adalah kunci dalam suluk. Seorang sufi sedikit demi sedikit memfokuskan diri pada Allah dan melupakan hakikat dunia dan dirinya. Sang salik mencoba mengosongkan pikirannya dari pikiran yang berorientasi materi kepada pikiran yng berorientasi Tuhan. Zikirnya difokuskan sedemikian rupa dengan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Ini dilakukan dengan tiga level zikir yang disebut dengan zikir asma’, zikir sifat, dan zikir zat. Zikir asma yakni berzikir dengan ungkapan ”Allah.... Allah.... Allah.. ” Zikir sifat dilakukan dengan menyebutkan salah satu sifat Allah, misal: ”ya latif.... ya latif..” dan seterusnya. Dan pada tahapan akir seorang salik berzikir dengan zat Allah, ”hu... hu... hu...” dan seterusnya.

Proses ini butuh waktu lama. Tidak semua sufi bisa naik ”peringkat” dari zikir asma ke zikir sifat. Mursyid akan tersu mengontrol dan memperhatikan sang salik dalam usaha tersebut. Tidak jarang seorang salik yang sudah mengikuti suluk berkali-kali dan bahkan bertahun-tahun tetap tidak mampu berzikir dengan sifat karena hatinya yang tidak bisa diatur. Ia tidak mempu melepaskan diri dari pandangan dunia dan ketertarikan hatinya dengan materi. Mulut dan lidahnya menyebut nama Allah, namun hati dan pikirannya melayang memikirkan dunia. Ia tidak benar-benar membersihkan hati menuju sesuatu yang Maha Suci.

Kemungkinan Anarkis
Dalam usaha awal menetapkan hati mencapai fokus pada Allah (baik asma’, sifat maun zat) tersebut, maka hati seorang salik akan berada dalam kondisi labil. Bahkan ada saat-saat tertentu yang hatinya kosong. Hatinya baerada Dalam transisi menuju perubahan kepada fokus, ia dipengaruhi oleh aspek-aspek ego dan setan yang coba menghalangi dan mempengaruhi. Aspek ego dan nafsu memberikan ruang kepada setan untuk masuk dan mengacaukan konsentrasiya, membujuk agar hati tidak fokus kepada Allah dengan berbagai cara, seperti mendorong ujub, riya’, takabur, pamer dan lain sebagainya. Setan juga bisa mendorong seorang salik dengan ”seolah” mengabari kabar-kabar ghaib dari langit, ”membuka hijab ketuhanan” dan menampakkan kebesaran kekuasaan Allah.

Pada saat yang demikian, jika seorang salik lalai maka ia bisa salah. Di sinilah salik perlu selalu ingat pada Mursyidnya. Sebab sang mursyidlah yang akan menyatakan kepadanya apakah ia telah benar-benar telah ”sampai” pada hakikat, atau hanya sebuah fatamorgana spiritual yang dibawa setan. Kalau sang salik mangkir dan telah puas dengan apa yang disaksikannya tanpa bimbingan mursyid, maka sangat mungkin ia tertipu dan keluar sebagai seorang yang ”aneh.” Hal ini bisa kita lihat dari beberapa orang yang mengaku menjadi ”nabi” setelah ia berzikir 40 hari dan menerima ”wahyu” dari Allah. Ini tidak lain disebabkan ia merasa puas dengan kesan pertama yang mempesona, ia mengukuti kesan itu dan meninggalkan pembimbing spirituanya. Padahal apa yang ia alami adalah sebuah godaan dan tipu daya Setan yang justru menyeretnya pada kesesatan.

Dalam masa transisi tersebut di atas pula nampak berbagai dosa, kesalahan, kelemahan sang salik dalam hidupnya. Karenanya, jika ia tidak fokus dan tetap patuh pada aturan zikir yang telah diajarkan mursyidnya, seorang salik bisa pula bertindak ”berbeda” dari kebiasaannya sehari-hari. Ia bisa menunjukkan keberingasan, kekejaman, anarkisme dan lain sebagainya. Karena pada saat tersebut ia berada di ”posisi nol”. Penagruh bisikan dan sebuah bayangn dapat masuk ke dalam hatinya dan mendorongnya melakukan berbagai hal. Kekerasan bisa saja salah satu diantaranya. Ia mencoba mengapresiasikan diri dengan melakukan kekerasan dan mencederai orang lain. Mungkin dalam praktek tersebut ia mendapatkan kepuasan dan ketenangan berdasarkan bisikan yang didengarnya.

Apakah bapak Abdullah Daud yang mebunuh tiga rekannya yang sedang suluk mengalami hal ini? Wallahu’a’lam.

Syari'ah, Tariqah dan Ma'rifah

Imam Malik pernah ditanya mengenai hubungan fiqh dan tsawuf. Beliau berkata: “Barang siapa yang bertasawuf tanpa dilandasai pengetahuan fiqh, maka ia telah menjadi zindiq. Sebaliknya, barang siapa yang menjalani fiqh tanpa tasawuf, maka ia fasiq. Dan barang siapa yang mengamalkan keduanya, maka ia telah mendapatkan hakikat kebenran. Dalam ungkapan yang berbeda di kalangan sufi sendiri dikenal: Kullu syari’ah bila haqiqah ‘athilah wa kullu haqiqah bila syari’ah bathiniyah. (Syariat tanpa hakikat kosong, hakikat tanpa syari’at batal).


Para membuat tiga tahapan pemahaman agama, syari’ah, tariqah dan ma’rifah. Syari’ah mengacu pada aturan Islam mengenai aqidah, ibadah, akhlak, sosial ekonomi, pemerintahan dan aspek kehidupan yang lainnya. Dalam istilah lain disebutkan juga syari’at merupakan ajaran Islam yang bersifat lahiriah dalam bentuk legal formal. Dalam pengertian inilah syari’at disamakan dengan fiqh. Nah, karena syariat adalah aturan dasar formal Islam, maka seluruh muslim harus mena’ati aturan ini, suka-atau tidak, selama ia mengaku menjadi muslim. Karenanya dalam tahapan ini hampir tidak ada penghayatan. Seseorang merasa melakukan sesuatu hanya karena itu adalah kewajiban agama.
Tahap kedua adalah tarikat yang secara umum dimaknai dengan jalan atau cara seorang muslim melakukan ibadah dan usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penegrtian ini tarikat adalah pengamalan syari’at secara utuh dengan bimbingan dari guru yang faham tentang syari’at tersebut. Kita tidak bisa shalat dengan sempurna hanya dengan mambaca buku “pedoman shalat,” tetapi kita perlu guru, atau seseorang yang melihat kita shalat, membetulkan ruku’ sujudnya, mengajarkan zikir dan adabnya. Dengan demikian kita akan dapat melakukan shalat dengan sempurna.
Dalam pengertian lain tarikat adalah organisasi sufi yang melaksanakan zikir tertentu dengan bimbingan langsung dari guru (mursyid). Seorang guru merekapan mereka yang telah mewarisi dari guru sebelumnya (bersambung hingga Nabi Muhammad) praktik dan bacaan tertentu untuk membangkitkan makana ruhani ibadah. Dengan demikian kita akan merasakan makna batin ibadah yang kita lakukan. Penghayatan makna batin dari ibadah adalah ruh dari sebuah ibadah itu sendiri. Di sana seseorang mendapatkan kenikmatan dan hakikat hidup yang berdampak pada ketenangan jiwa dan kematangan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkat terakir yang dipahami sufi adalah ma’rifat yang dimaknai dengan pengetahuan akan hakikat Tuhan yang diperoleh setelah melewati jalan tarikat dengan serius dan sempurna. Ma’rifah adalah pengalaman kalbu yang diarahkan pada penyingkapan tabir ilmu Tuhan sehingga seorang sufi memperoleh isyarat-isyarat ghaib dari Tuhan. Karenanya ma’rifah dikenal juga dengan mukasyafah, yakni tersingkapnya hijab dan memancarnya pengetahuan dari nama-nama yang ia pernah dengar namun ia tidak mengerti. Pengetahuan itu datang dengan sendirinya setelah ia berada sangat dekat dengan Tuhan. Karenanya ilmu ini dikenal juga dengan ilmu hudhuri. Ia tidak dapat dipelajari dair buku, atau didengar dari orang lain. Ilmu ini mesti dirasakan sendiri. Seperti kita merasakan “manis”. Sebaik apapun penjelasan orang mengenai “manis” tetap saja kita tidak mengetahuinya tanpa merasakannya sendiri. Ma’rifah adalah usaha dan keberuntungan. Tidak semua orang akan mendapatkannya. Mereka yang memperolehnya hanyalah orang yang telah dipilih oleh Tuhan.


Apa Itu Tasawuf?

Lebih dari seribu tahun yang lalu, seorang guru yang dipanggil Ali ibn Ahmad, yang datang dari kota Bushanji, timur laut Persia, mengeluh mengenai pembicaraan orang mengenai sufi. “Sekarang,” katanya, “sufisme adalah nama tanpa realitas, tapi ia pernah menjadi realitas tanpa nama.” Dulu orang mempraktikkan ajaran tasawuf tanpa perlu memberinya nama khusus, sebaliknya sekarang namanya begitu terkenal, namun orang cukup dengan nama itu saja. Sekarang banyak orang membicangkan tasawuf, buku tasawuf menjadi best seller, pengajiannya laris diikuti banyak orang, bahkan diadakan dari gubuk reot sampai hotel berbintang. Apa yang mereka cari? Apakah yang mereka mutasawwif (sufi sejati) atau mustawif (sufi gadungan)?

Tasawuf tidak dapat didefinisikan dengan pasti. Semua definisi yang diberikan selama ini hanyalah sekedar petunjuk awal saja menunju samudra sufisme yang sangat luas. Ia tidak terdefinisikan dengan pemikiran filsafat atau dengan penalaran. Seseorang yang hendak memahami maknanya, memerlukan sebuah kearifan hati, gnosis, yang didasari pada pengalaman rohani sendiri yang tidak bergantung pada metode dan pemikiran orang lain. Hanya dengan ini ia akan mendapatkan kemampuan menjangkau sesuatu di laur pandangan inderanya, dan diliputi cahaya Tuhan.

Para sufi menekankan pentingnya aspek ruhani manusia di atas aspek jasmani. Mereka percaya kalau aspek ruhani merupakan aspek hakikat manusia itu sendiri. Bahkan Tuhan yang dipercayai sebagai pencipta manusia juga bersifat spiritual, padahal jelas kalau Tuhan adalah “relitas sejati.” Karenanya, para sufi mengkonsentrasikan diri kepada-Nya. Ia yang menjadi awal, Ia pulang yang akir. Ia adalah asal segala sesuatu, Ia pula tempat kembali segala sesuatu.
Dalam kehidupan di dunia, “ruh” manusia “dititip” ke dalam jasad. Manusia rindu untuk menjadi dirinya kembali, yakni yang bersifat ruhani. Karena itu ia melakukan “perjalanan mistik” untuk membersihkan dirinya dari dari kotoran materi pada jasadnya. Makanya tasawuf dikatakan berasal dari kata “shafa” yang berarti kesucian. Para sufi berusaha menyucikan dirinya dari segala kotoran jasmani agar ia bisa bertemu dengan Zat yang Maha Suci. Hanya yang suci saja yang dapat menjumpai Ia yang Maha Suci, yakni Allah SWT.

Usaha pembersihan diri ini dikenal dengan tazkiyat al-nafs. Usaha ini dilakukan dengan mengelola hawa nafsu, syahwat, amarah dan berbagai sifat tercela lainnya. Mereka melakukan berbagai latihan (riyadhah al-nafs), seperti puasa, uzlah (bertapa), menyendiri bersama Tuhan (tahannuts), mendirikan shalat malam (qiyam al-lail), dan berbagai bentuk latihan lainnya. Dari sinilah para sufi memiliki hubungan intim dan personal dengan Tuhan sehingga mereka mendapatkan pengetahun mistik yang datang dengan sendirinya tanpa dipelajari (laduni).
Dasar dari apa yang dilakuakan sufi adalah cinta. Karena cinta kepada Zat Yang Maha Mutlak itu, ia mampu menyandang, bahkan meikmati segala sakit dan penderitaan yang dideritanya. Karena ia yakin segalanya berasal dari Tuhan. Apa yang ia dapatkan adalah ujian dari Tuhan untuk mengetahu tingkat cintanya. Apakah ia akan muncur atau ia semakin teguh dengan jalannya hingga ia sampai ke Hadirat Ilahi. Inilah cita tertinggi ahli sufi.


Saturday, 18 October 2008

Guru Besar Atau Menara Gading?

Hari ini, 16 Orang Guru Besar di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dikukuhkan. Ke-16-an Guru Besar tersebut berasal dari berbagai jurusan dan bidang keahlian; Fiqh, pemikiran Islam, Tafsir, Sejarah dan ilmu pendidikan. Ini adalah pengkuhan guru besar terbanyak di IAIN Ar-Raniry. Biasanya pengukuhan guru besar hanya diikuti oleh satu orang saja. Karenanya, ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi IAIN Ar-Raniry.

Bagiku ini lebih dari sekedar pengukuhan. Peristiwa ini menggambarkan latar yang ada di balik panggung. pengukuhan 16 guru besar menimbulkan tanda tanya, kenapa bisa 16 orang seklaigus? kenapa setiap orang tidak merancang pengukuhannya sendiri? selain tentu saja, effek apa yang diinginkan dari peristiwa ini?

tidak ingin menduga-duga. namun ada beberapa hal menarik dari peristiwa ini.
pertama, tidak semua guru besar memili karya fenomenal. beberapa guru besar hanya memiliki beberapa buku yang beredar di aceh, dan itupun dalam kalangan terbatas. buku tersebut juga dibuat "asal jadi" dengan kualitas layout dan setting yang jauh dari sebuah buku berkualitas. ini menunjukkan lahirnya guru besar buakn karena prestasi akademik yang tinggi namun lebih karena "rajin" dalam memngumpulkan KUM dengan membuat tulisan "kacangan" di jurnal-jurnal kampus.
kedua, rendahnya minat civitas akademika IAIN dalam mengikuti acara ini. coz.. siang hari setelah makan siang, yang hadir hanya beberapa dosen dan kelauarga dari para guru besar. sungguh ironis. ini adalah peristiwa penting di mana para guru besar akan menyampaikan hasil keilmuannya yang paling besar dan berkualitas. sayangnya tidak ada yang tertarik untuk mengikutinya. entah... mungkin mereka sudah "menjengkal" kulatisa sang guru.

namun ada yang manarik, dan menurutku mengharukan. aku yakin ini membaut smeua orang yang tidak datang akan merasa sangat rugi. yang saya maksudkan adalah, ceriat pilu di balik kesuksesan sang guru besar. ternyata, dibalik titel dan kebesarannya tersimpan peristiwa yang sungguh pedih dan sedih. mungkin "Laskar pelangi" sudha menjelaskannya. namun ini lebih targis karena berada dalam peristiwa sejarah yang bebrda dengan Babel. Ini Aceh, yang sepanjang sejarahnya adalah darah. perjuangan mereka hingga menjadi Guru Besar sungguh merupakan sebuah episode hidup yang luasr biasa.

aku salut! suatu saat aku berharap bisa berdisi di sana an menyampaikan tesisku, hasil studi sepanjang hisupku. kuingan katakan, duhai manusia, pra gur besar, menulislah! kau tidak ingin mendengat ocehanmu, aku lebih suka membaca pemikiranmu.


wah.,... banyak salah ketik. nanti kuperbaiki yach...

Tuesday, 14 October 2008

Ayahku Semangatku

Sudah lama juga tidak mengisi blog ini. sejak bapak meninggal dunia sebagain semangatku juga ikut terkubur bersama jasadnya. berat rasanya berpisah, meskipun kusadar itu setu hal yang tidak meungkin dihindari. membangun kesadaran spiritual? pasti. tapi emosiku terlalu besar untuk kukontrol dengan semangat spiritualitasku yang masih lemah.

Hari raya tahun ini kami rayakan tanpa kehadirannya. aku ingat, bagaimana rasanya kalau ia ada. malam hari lebaran biasanya kami bercerita dan berdiskusi sampai larut. sebab sering kali kami tidak punya waktu lain yang tepat. aku yang selama ini sering di banda aceh, hanya pulang satu atau dua hari menjelang lebaran dan kembali ke banda beberapa hari setelahnya. karenanya, jika malam lebaran tiba, kami merasa punya waktu panjang untuk bercerita. banyak hal. politik desa sampai politik internasional.

Ayahku adalah mahaguru semangat hidupku.


Ia begitu bangga padaku. ketika aku menulis buku "Dialog Tasawuf dan Spiritual Quotient" aku mengirinya satu eks di kampung. empat bulan kemudian aku pulang. kulihat bukuku di mejanya. kumuh dan robek. beberapa halaman buku sudah copot. kondisi buku itu sangat tidak terjaga. kebetulan saat itu ayah dan mak duduk sanati di dapur kami yang menghadap bentangan sawah yang maha luas. "Kenapa buku ini bisa rusak begini?" protesku. Ayah diam saja. mungkin ia merasa bersalah. dan sejenak aku juga merasa bersalah menanayakan hal itu. Mak yang bicara. "Bagaimana tidak robek, bukan hanya ke sekolah, ke mesjidpun (untuk shalat jamaah)buku dibawa. enatah untuk apa?"

kulihat ayah tersenyum saja. namun bagiku ini sunggh mengharukan. seoleh seember air dingin melintasi dadaku. sejuk dan terharu. andai akau terbiasa dengan tangisan mungkin saat itu kran airmataku tak terbendung. namun menangis bukan tradisi ku, dan mungkin masyarakat kami. makanya aku hanya tersenyum saja menedengar semua itu.

aku yakin ia melakukan itu karena ia bangga padaku. ia akan menunjukkan kepada teman-temannya di sekolah (yang menurut ceritanya sering membanggakan anaknya yang menjadi dokter dan pengusaha) bahwa "Anakku telah menulis buku." Ini adalah wujud kebanggaannya kepadaku. bagi ayah, aku menjadi "taruhan" dari setiap pujian orang lain untuk anak mereka. mobil, pekerjaan, proyek, uang, selalu saja dikabarkan mereka di hadapan ayah. dan "buku" adalah jawaban mematkan. kartu "as" yang membuat teman-temannya tidak berkutik. sebab, seawam apapun orang di aceh. buku(kitab) jauh lebih berharga dari sgala yang lainnya.

aku tahu persis hal ini. satu waktu ia mengirimu SMS. katanya, kenapa tidak ada tulisan kamu bulan ini di koran? Aku tahu, pada saat itu ia pasti sedang jengkel dengan temannya yang membawa berita kehebatan anak-anak mereka. sifatnya yang lebih banyak mendengar cerita mereka menjadikan orang lain "kesetanan" memuji anaknya. lama-kelamanan mungkin ia jengkel juga, makanya ia memintaku menulis. dengan sebuha tulisanku terpampang di koran, maka ia akan membeli koran dan melenggang bangga ke sekolah. meletakkan koran di mejanya. dan semua temannya akan membaca, dan melihat namaku di sana. dan, tanpa harus komentar, mereka akan berhenti menceritakan kelebihan anaknya.

ah.. ayah...
andai kau masih ada. betapa banyak yang kini hendak kuceritakan padamu. petapa banyak masalah yang hendak kuungkapkan. betapa banyak keluh kesah yang hendak kutumpahkan. bagai samaudera luas, hatimu seolah tekpernah penuh menampung keluhan hidupku. kepalamu tak pernah pusing mendengar masalahku. padahal aku sendiri sungguh, hampir tidak mempu melawanya.