Tuesday, 14 October 2008

Ayahku Semangatku

Sudah lama juga tidak mengisi blog ini. sejak bapak meninggal dunia sebagain semangatku juga ikut terkubur bersama jasadnya. berat rasanya berpisah, meskipun kusadar itu setu hal yang tidak meungkin dihindari. membangun kesadaran spiritual? pasti. tapi emosiku terlalu besar untuk kukontrol dengan semangat spiritualitasku yang masih lemah.

Hari raya tahun ini kami rayakan tanpa kehadirannya. aku ingat, bagaimana rasanya kalau ia ada. malam hari lebaran biasanya kami bercerita dan berdiskusi sampai larut. sebab sering kali kami tidak punya waktu lain yang tepat. aku yang selama ini sering di banda aceh, hanya pulang satu atau dua hari menjelang lebaran dan kembali ke banda beberapa hari setelahnya. karenanya, jika malam lebaran tiba, kami merasa punya waktu panjang untuk bercerita. banyak hal. politik desa sampai politik internasional.

Ayahku adalah mahaguru semangat hidupku.


Ia begitu bangga padaku. ketika aku menulis buku "Dialog Tasawuf dan Spiritual Quotient" aku mengirinya satu eks di kampung. empat bulan kemudian aku pulang. kulihat bukuku di mejanya. kumuh dan robek. beberapa halaman buku sudah copot. kondisi buku itu sangat tidak terjaga. kebetulan saat itu ayah dan mak duduk sanati di dapur kami yang menghadap bentangan sawah yang maha luas. "Kenapa buku ini bisa rusak begini?" protesku. Ayah diam saja. mungkin ia merasa bersalah. dan sejenak aku juga merasa bersalah menanayakan hal itu. Mak yang bicara. "Bagaimana tidak robek, bukan hanya ke sekolah, ke mesjidpun (untuk shalat jamaah)buku dibawa. enatah untuk apa?"

kulihat ayah tersenyum saja. namun bagiku ini sunggh mengharukan. seoleh seember air dingin melintasi dadaku. sejuk dan terharu. andai akau terbiasa dengan tangisan mungkin saat itu kran airmataku tak terbendung. namun menangis bukan tradisi ku, dan mungkin masyarakat kami. makanya aku hanya tersenyum saja menedengar semua itu.

aku yakin ia melakukan itu karena ia bangga padaku. ia akan menunjukkan kepada teman-temannya di sekolah (yang menurut ceritanya sering membanggakan anaknya yang menjadi dokter dan pengusaha) bahwa "Anakku telah menulis buku." Ini adalah wujud kebanggaannya kepadaku. bagi ayah, aku menjadi "taruhan" dari setiap pujian orang lain untuk anak mereka. mobil, pekerjaan, proyek, uang, selalu saja dikabarkan mereka di hadapan ayah. dan "buku" adalah jawaban mematkan. kartu "as" yang membuat teman-temannya tidak berkutik. sebab, seawam apapun orang di aceh. buku(kitab) jauh lebih berharga dari sgala yang lainnya.

aku tahu persis hal ini. satu waktu ia mengirimu SMS. katanya, kenapa tidak ada tulisan kamu bulan ini di koran? Aku tahu, pada saat itu ia pasti sedang jengkel dengan temannya yang membawa berita kehebatan anak-anak mereka. sifatnya yang lebih banyak mendengar cerita mereka menjadikan orang lain "kesetanan" memuji anaknya. lama-kelamanan mungkin ia jengkel juga, makanya ia memintaku menulis. dengan sebuha tulisanku terpampang di koran, maka ia akan membeli koran dan melenggang bangga ke sekolah. meletakkan koran di mejanya. dan semua temannya akan membaca, dan melihat namaku di sana. dan, tanpa harus komentar, mereka akan berhenti menceritakan kelebihan anaknya.

ah.. ayah...
andai kau masih ada. betapa banyak yang kini hendak kuceritakan padamu. petapa banyak masalah yang hendak kuungkapkan. betapa banyak keluh kesah yang hendak kutumpahkan. bagai samaudera luas, hatimu seolah tekpernah penuh menampung keluhan hidupku. kepalamu tak pernah pusing mendengar masalahku. padahal aku sendiri sungguh, hampir tidak mempu melawanya.

No comments:

Post a Comment