Monday, 12 December 2011

Kreasi -sesat- Pasta

Salah satu tantangan yg tidah kalah besar dalam mengarungi hidup di negeri orang adalah makanan. meskipun pada awal kedatanganku di milan tidak masalah, namun lama kelamaan rindu masakan istri di Aceh akhirnya datang juga. Terbayang kuah leumak, asam keu eung, asam udeung, dll. Tapi apa boleh buat? andai SMS bisa juga dipakai untuk mengirim masakan, mungkin masalah ini tidak akan muncul.

Sebenarnya saya bisa memasak beberapa masakan Aceh. Hanya saja di sini hampir tidak ada bumbu yg bisa dipakai buat memasak makanan sperti di kampung, seperti buah belimbing, asam sunti, asam kuyuen, dll.

Jadi terpaksa berfikir bagaimana menyesuikan masakan italia dengan masakan aceh. Salah satu cara negosiasinya adalah memasak pasta italia dengan cara Aceh. hasilnya seperti gambar di atas. rasanya juga maknyus... seperti mie Aceh.


Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 21 August 2011

Iklan [penipu] di Wall Facebook

Saya sangat teganggu dengan iklan di Wall facebook yang di-tag oleh orang yang saya tidak kenal. Awalnya saya heran, bagaimana ia bisa men-tag saya padahal saya tidak merasa mengenal dan berteman dengannya. Tapi begitu saya periksa, ternyata saya berteman dengannya di facebook. Kok bisa? padahal saya merasa tidak pernah memintanya menjadi teman saya dan tidak pula pernah menconfirm permintaan pertemanan dari dia.

Tidak masalah jika iklan-iklan itu dilandasi pada kejujuran. Namun kita semua tahu, iklan laptop, blackbarry, smartphone, kamera digital yang dit-ag di wall itu semuanya mengaku black market, alias pasar gelap. Hanya ada nomor hp penjualnya, kadang-kadang beberapa foto “bukti penjualan dan pengiriman”, dan sebuah peringatan: “Ini pasar gelap, kami menjual dengan harga rendah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut hukum, kami tidak bisa memberikan alamat.”

Sudah sangat banyak yang tertipu, pasti. Entah karena lugu, entah karena ingin mendapatkan barang bagus dengan harga murah, atau mungkin tidak tahu harus bawa uang kemana, sehingga ketika ada yang “meminta” uang dengan jalan pura-pura menjual barangpun, ia segera memberi. Penipuan ini beberapa kali sudah terungkap, namun hingga kini masih banyak tag foto beredar. Bahkan tiap hari.

Dengan berlagak jadi detektif, saya mencoba mencari tahu bagaimana penjual itu berteman denga kita tanpa kita sadari. Dari pengalaman saya, nampaknya ada beberapa cara:

Pertama

Seseorang membuat account facebook mengatasnamakan tokoh daerah, tokoh nasional, artis atau tokoh apapun. Lalu ia mengirim permintaan pertemanan kepada beberapa orang. Ketika orang itu menconfirm, temannya akan lihat foto sang tokoh. Banyak orang merasa senang kalau ia berteman dengan si tokoh di facebook. Macam-macam alasan, bisa jadi untuk memuluskan urusannya ke depan. Tapi tidak banyak yang mencoba bertanya, apakah itu benar-benar account facebook si tokoh? Nah… di sini mulainya. Account si tokoh akan terisi dengan sangat cepat Dalam dalam waktu yang tidak lama, ia sudah memiliki lebih dari 4000 teman. Lalu…. BERUBAH…..!!! Ia mengganti nama accountnya dengan nama toko online, lalu mentag berbagai foto.

Kedua

Seseorang membuat account dengan nama perempuan. Biasanya namanya sedikit khas, baik khas daerah atau khas gaul. Tidak lupa memasang sebuah foto di profilnya. Foto cukup satu dan pasti perempuan muda, cantik. Biasanya sedikit seksi, atau punya mata yang indah, atau bibir yang merah, atau tatapan yang aduhai. Ia mengirim permintaan pertemanan kepada beberapa orang. Seperti proses di atas, banyak orang suka berteman dengannya dan memintanya menjadi teman. Dengan senang hati ia mengkonfirm, dan ia dengan cepat mengumpulkan banyak teman. Lalu…. BERUBAH…..!!! Ia mengganti nama accountnya dengan nama toko online, lalu mentag berbagai foto.

Ketiga

Lebih ekstrim lagi, seseorang membuat nama-nama nakal dan menggoda. Seperti “Puteri Malam”, “Gadis Manis”, “Cewek Cute”, dan lain sebagainya. Nama-nama seperti ini disusupi magnet foto-foto menawan yang dihimpun dari berbagai website. Seseorang yang berkunjung ke profilnya akan menemukan kumpulan foto tersebut dan merasa tertarik, lalu mengiriminya permintaan pertemanan. Dan seperti sebelumnya, ketika ia sudah punya cukup banyak teman dia berubah menjadi online shop penipuan.

Keempat

Sipenipu menghack account facebook tertentu yang sudah populer lalu memanfaatkan untuk menjual produknya. Saya menemukan beberapa nama toko online, tapi ketika memeriksa nama account (karena nama account tidak bisa diubah), ternyata nama seorang teman yang saya kenal. Dan ternyata sang teman mengaku, ia tidak bisa lagi membuka account facebooknya karena pasword yang bias digunakan salah. Tentu saja salah, karena si penipu sudah menggantikan. Dalam kasus ini, si penipu tidak terlalu sulit mengumpulkan teman. Ia tinggal mengganti nama, lalu mulai mengirim foto-foto penipuan.

Hati-hati, mulai sekarang!

Saran saya, jangan berteman dengan orang yang anda tidak benar-benar kenal dengannya. Atau setidaknya dengan orang yang sama sekali tidak memberikan data diri yang lumayan, atau foto yang dapat dikenali. Bagaimanapun, facebook adalah halaman maya di mana orang bisa berkamuflase ria di belakang layar. Kita sama sekali tidak bisa pastikan apa dan bagaimana keadaan orang yang ada di balik account yang ada di facebook-nya. Jadi hati-hatilah!

Saran saya [lagi], segera remove account yang mentag foto produk penipuan di wall anda. Anda bisa saja tidak terpengaruh, karena sadar itu penipuan. Namun tag foto kepada anda akan masuk juga ke most recent post yang bisa dibaca oleh semua teman anda. Siapa tahu beberapa diantara mereka terpengaruh lalu terperangkap pada penipuan itu. Sudah seharusnya kita menyelamatkan teman dari godaan penipu yang terkutuk.

Men-tag foto d wall hanyalah satu dari beribu modus penipuan di dunia maya. Oleh sebab itu waspdalah! waspadalah! Jangan pernah terpengaruh dengan barang harga murah yang tidak jelas. Apalagi merekomendasikan teman untuk menjadi konsumennya.

Semoga bermanfaat.

Monday, 15 August 2011

Lelaki Tua yang Menamatkan al-Qur'an Tiga Hari Sekali

Saat itu tahun 2006 akhir, persis masyarakat Aceh sedang disibukkan dengan pemilihan umum kepala daerah pertama setelah konflik dan tsunami. Saya berkunjung ke sebuah dayah di Simpang Mamplam, Bireun. Dayah itu tidak terlalu tua, namun ada banyak anak yatim yang ditampung di sana. Sebagian mereka adalah korban tsunami tahun 2004. Sebagian yang lain anak dari orang tua yang kurang mampu secara ekonomi. Di sana mereka tinggal sambil belajar agama Islam.

Tokoh sentral dalam dayah itu adalah seorang kakek tua yang dipanggil dengan sebutan "Abi". Beliau kakek berusia -saat itu- 87 tahun. Meskipun ia tidak lagi mengajar di dayah secara formal, namun nasehat-nasehat, petuah dan "ceramahnya" selalu dinantikan santri dayah. Menurut pengakuannya, ia kurang beruntung dalam hal ibadah. Sebab dalam usia yang sudah sangat tua ia baru memiliki kesempatan menunaikan haji. Yakni tahun 2003, saat usianya sudah 84 tahun. Itupun setelah sebuah proyek reklamasi pantai dilakukan pemerintah daerah dan ia mendapatkan mengganti rugi tanah dengan harga yang lumayan tinggi.

Jauh hari sebelum naik haji, ia sudah bernazar. Kalau nanti kesempatan naik haji datang dan ia bisa pulang ke Aceh dengan selamat, maka ia akan mengisi waktunya dengan membaca al-Qur'an. Setelah ia benar-benar mendapatkan kesempatan naik haji dan pulang dengan selamat, ia menunaikan nazarnya. Awalnya, ia menamatkan membaca al-Qur'an sekali sebulan. Namun lama-lama semakin meningkat. Saat saya datang ke sana, ia mengaku biasa menamatkan al-Qur'an sekali dalam tiga hari. Bahkan terkadang dalam dua hari!

Kemarin (11/08/2011) di Bandara Banda Aceh, saya tanpa sengaja berjumpa kembali dengan beliau, setelah lima tahun yang lalu. Ia ternyata hendak berangkat ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Umrah. "Ini tahun ketiga saya berangkat ke sana," katanya. Artinya, dalam tiga tahun terakhir ini, setiap puasa ia pergi ke Makkah untuk berumrah. "Apa Abi masih kuat?" tanya saya. "Alhamdulillah, saya bisa berjalan sendiri meskipun dengan tongkat", katanya.Memang terlihat, di bandarapun ia berjalan sendiri. Meskipun terkadang seorang cucunya yang masih remaja memapahnya, namun jelas nampak kalau tenaganya masih sangat kuat untuk lelaki seusianya.

Perjumpaan ini mengingatkan saya perjumpaan kami lima tahun yang lalu. Ia duduk di sebuah balai kayu di depan rumahnya. Sebuah al-Qur'an terbuka di depannya. Al-Qur'an itu terus terbuka sepanjang hari. Setiap ia memiliki waktu kosong ia mendekatinya, dan membaca ayat-ayat suci itu. Dengan cara ini ia menamatkan al-Qur'an tiga kali dalam sehari; "Sudah tiga tahun, sejak saya pulang dari haji", katanya.

Lalu saya memilihat pada diri sendiri sambil membela diri: "Beliau bisa karena beliau tidak punya kesibukan, cuma itu saja yang dipikirkannya" kata saya dalam hati. Lalu bagian hati yang lain menjawab: "Iya, kamu memang sibuk, sangat sibuk, tidak mungkin bisa membaca al-Qur'an sepeti beliau".

Monday, 18 July 2011

Pak Roosman; Mengekspor Kerajinan Tangan ke Mancanegara

Saya tidak tamat SD. Saudara saya banyak, bapak saya miskin, tidak sanggup menyekolahkan saya,” demikian pengakuan lelaki paruh baya ini. Karena itu sejak kecil ia terdidik menjadi seorang yang bekerja keras, selain untuk membantu keluarga, ia juga mau menyekolahkan adik-adiknya.

Sejak remaja ia sudah bekerja di sebuah home industri kerajinan kulit di desanya, desa Manding, Bantul, Yogyakarta. Tidak disangka, pekerjaan inilah yang mengantarkannya menjadi produser berbagai produk kerajinan kulit bertaraf Internasional yang diekspor ke mancanegara.

Namanya Pak Roosman. Saat saya datang ke tempatnya, ia besama istri dan lima karyawan sedang membuat beberapa dompet pesanan pelanggan. “Semua kerajinan kulit usaha kami dibuat manual dengan tangan, dipotong manual, dijahit juga dengan tangan, tidak pakai mesin,” kata lelaki dua putra ini.

Hal ini disebabkan permintaan pasar luar negeri yang menginginkan semua proses pembuatan kerajinan itu harus dengan tangan. “Jadi benar-benar murni kerajinan tangan,” katanya sedikit berpromosi. Dan ia konsisten dengan cara ini agar kualitas kerajinan buatannya benar-benar memiliki standar yang layak untuk pasar luar negeri.

Pak Roosman sudah punya pengalaman panjang dengan usaha kerajinan kulit. Ia memulainya dengan menjadi karyawan pada seorang warga Manding yang sekarang sudah meninggal dunia. “Beliau adalah pelopor kerajinan kulit kampung Manding” katanya. Sebagai karyawan ia bekerja di sana selama 20 tahun. Setelah majikannya meninggal dunia, ia mendirikan usaha sendiri, dan kini sudah berjalan selama 15 tahun.

Selama 15 tahun ini, ia sudah memiliki 43 karyawan. Setiap karyawan mendapatkan upah rata-rata Rp. 4 juta perminggu. Hal ini terkait dengan jumlah produksi si karyawan. Jumlah itu tidak sepenuhnya untuk dia, sebab si karyawan terkadang membawa pulang bahan-bahan yang siap dibuat lalu dikerjakan di rumah bersama pekerja lain, keluarganya atau tetangganya. Ia jua memiliki tiga sentra usaha, satu toko show room, satu show room dan produksi, dan satu tempat khusus produksi.

Bahan baku pembuatan kerajinan kulit diperolehnya dari Semarang. Baik kulit ular, sapi, domba, ikan pari, buaya, biawak dan kulit kambing. “Di Semarang ada kampung yang memproduksi kulit siap pakai. Jadi bukan saya sediakan sendiri,” katanya ketika saya tanya tentang asal kulit yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tas. Demikian juga beberapa bahan lain untuk membuat tas, seperti batik, kayu, karet, dan lainnya, semua dibeli dari unit produksi yang lain.

Sekarang ini Pak Roosman memproduksi segala macam bentuk kerajinan dari kulit, seperti berbagai macam tas, dompet, sepatu/sandal, jaket kulit, kursi, tali pinggang, dan lainnya. Ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Banyak pelanggan yang datang ke sana dengan membawa foto desain bentuk yang ia inginkan dan meminta Pak Roosman membikinkannya. Pun demikian, ia juga memproduksi beberapa kerajinan dari bahan non kulit, namun ini sekedar untuk memenuhi permintaan pasar.

Hasil kerajinan kulit Pak Roosman sudah 13 tahun belakangan ini diekspor ke Korea dan Jepang. Ke Jepang ia menjual 700 buah tas per tiga bulan. Bahkan setelah gempa Maret lalu, ia mendapatkan pesanan dua kali lipat dari biasa. Sementara untuk Korea ia menjual berapapun yang ia sanggup buat, setiap enam bulan sekali. “Mereka bayar cash, tidak ada utang-utang,” kata Pak Roosman tentang mitra usahanya. Menurut Pak Roosman, pengusaha tersebut datang langsung ke Jogja dan mengunjungi tempat produksinya.

Usaha Pak Roosman bukan tanpa hambatan. Pada masa krisis modeter tahun 90-an dulu permintaan menurun dan harga bahan baku sangat mahal. Banyak teman-temannya di Desa manding yang tutup usaha. Demikian halnya saat gempa besar melanda Bantul tahun 2006. Rumahnya hancur dan semua barang didalamnya tidak bisa digunakan lagi. Namun Pak Roosman tidak berputus asa, ia tetap merintis usahanya sehingga normal kembali seperti sekarang.

Yang menarik adalah, beberapa merek terkenal dari luar negeri dibuat oleh Pak Roosman. “Masalah merek itu gampang, saya bisa bikin juga,” katannya. Ia mengaku banyak pengusaha yang datang ke tempatnya untuk memesan tas dengan merek tertentu dalam jumlah banyak. Dan Pak Roosman membuatnya. “Kalau ada yang bilang ia memakai tas made in Korea, Jepang, Italia, atau dari manapun, itu bisa jadi benar, namun bisa jadi itu made in Roosman di desa Manding,” katanya sambil tertawa.

Pak Roosman adalah potret pekerja keras, tekun, pantang menyerah, berwawasan global, dan memberdayakan. Pengusaha Indonesia harus punya visi seperti Pak Roosman, selain bekerja untuk diri sendiri, juga meberdayakan orang lain. “Hidup kita harus saling membantu,” kata Pak Roosman mengakhiri perbincangan kami.

So,

Kalau anda pergi ke pesta
Jangan lupa memakai anting
Kalau anda pergi ke Jogja
jangan lupa mampir ke Manding

Sunday, 17 July 2011

Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!

Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.

Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.

Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.

Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.

Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.

Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.

Bi kupi pancong saboh!


Saturday, 16 July 2011

Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak

Seorang bayi tanpa pakaian telungkup di pangkuannya. Bayi itu nampaknya masih berusia empat bulan. Dua tangannya memegang pundak si bayi sambil memijat-mijat pelan. Sedikit demi sedikit turun ke punggung dan ke pantat. Kemudian ia memegang kedua belah kaki bayi, kedua tangannya, dan kepala. Dalam waktu 10-15 menit ia mengatakan dengan senyuman: “Sudah”. Lalu sepasang suami istri mengambil bayi itu dan mengenakan pakaiannya kembali.

Dia seorang nenek tua. Perawakannya kecil, kurus, kulitnya kehitaman dan sudah berkerut. Matanya dalam dan jauh dari sinar yang berbinar. Memang, ia sudah layak dengan perawakan itu. Usianya kini sudah 95 tahun. Ia lahir awal abad yang lalu, bersamaan dengan puncak kekuasaan Belanda di Jawa. Masyarakat memanggilnya Mbah Mul. Di adalah dukun “spesialis” pijat bayi di Yogyakarta.

Saya tahu tentang Mbah Mul saat membawa anak saya berobat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Di sana saya jumpa dengan seorang polisi yang juga membawa anaknya berobat. Kami saling menceritakan anak masing-masing. Sampai ia mengatakan kalau dulu bayinya sering dibawa kepada seorang dukun “spesialis bayi” untuk dipijat. Menurut sang polisi, dengan dipijat bayi kita akan lebih sehat. Bukan hanya demam, batuk, pilek, penyakit yang lain juga akan sembuh. Saya tertarik dan menanyakan alamat Mbah Mul.

Quota pijat dengan Mbah Mul hanya 15 orang perhari. “Dulu sampai 100 orang. Sekarang karena usianya sudah sepuh, ia tidak sanggup lagi memijat banyak orang”, kata seorang orang tua pasien. Nomor antrian harus diambil jam tiga sore hari sebelumnya. Banyak yang datang sebelum jam tiga, bahkan ada yang mulai antri sejak jam satu siang. Kalau yang antri sudah ada 15 orang, maka yang datang belakangan otomatis tidak mendapatkan nomor, meskipun “loket” pengambilan nomor baru dibuka jam tiga sore.

Pada hari pertama membawa anak kepada Mbah Mul, saya berjumpa dengan beragam macam orang tua dengan keluhan yang bergam pula. Sebagian memang membawa anaknya untuk pijat biasa. Namun ternyata banyak yang membawa anak ke sana karena berbagai penyakit. Seorang bapak paruh baya mambawa putra bungsunya yang sudah berusia empat tahun namun belum bisa berjalan. “Saya sudah bawa sampai ke Singapura, tapi tidak bisa sembuh. Alhamdulillah sejat dipijat Mbah Mul, kaki anak saya sudah mulai bertenaga,” katanya. Seorang ibu muda mengaku anak perempuannya tidak bisa bicara padahal usianya sudah tiga tahun. Dan setelah dipijat Mbah Mul sekarang ia sudah mengeluarkan suara.

Tidak hanya itu, sepuluhan orang yang datang memijat anak pada hari itu memiliki kisah yang berbeda. Seorang bapak menceritakan kalau anaknya tidak bisa bicara karena kebanyakan minum obat. Sejak kecil anaknya terus sakit-sakitan dan dokter terus memberinya obat. Dokter tidak bisa mengobati anaknya untuk bisa bicara. Setelah dibawa kepada Mbah Mul, beliau mengatakan kalau si anak sudah diracuni oleh obat. Jadi Mbah Mul akan mengeluarkan sisa-sisa obat yang masih ada dalam tubuh si anak yang sudah menumpuk agar ia bisa bicara. Dan menurut orang tersebut, sekarang anaknya sudah bisa mengucapkan banyak kata.

Saya menemukan beragam kasus yang lain setelah beberapa kali memabwa anak saya kepada si Mbah. Secara pribadi saya sendiri juga merasakan anak saya lebih sehat setelah dipijat sama Mbah Mul. Antara lain tendangan kakinya sangat kuat, demikian juga genggaman jarinya. Banyak yang menyangka anak saya sudah berumur 5 atau 6 bulan. Sebab ia nampak lebih besar dari bayi seusianya. Apakah karena pijatan Mbah Mul? Wallahu’a'lam. Namun saya melihat anak saya tidur lebih nyenyak setelah dipijat, lebih ceria, lebih bertenaga. Dan sekarang saya membawanya kepada Mbah Mul setiap 10 hari atau dua minggu sekali.

Kembali kepada Mbah Mul. Apa benar dokter anak merekomendasikan Mbah Mul? Saya yakin tidak semuanya. Namun saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang mengaku abangnya adalah dokter anak di Yogyakarta. Anaknya terserang ….mmm… saya tidak tahu namanya, seorang bayi yang terjadi pembengkakan di kepala hingga kepalanya membesar. Si bapak stress berat, sebab anak pertamanya langsung terkena penyakit berat seperti itu. Tidak ada jalan lain kecuali dilakukan bedah kepala dan dipasang semacam selang untuk menyambung urat yang putus atau menyempit di dalam kepala. Sang kakak mengatakan sebaiknya pergi ke Mbah Mul. Dan ketika sampai kepada Mbah Mul, ternyata itu bukan kasus pertama yang ditanganinya. Sebelumnya sudah ada beberapa orang yang memiliki cerita yang sama. Dan kini, si anak sudah berusia 3,5 tahun. Ia nampak sehat dan gembira. Tidak nampak ada tanda-tanda ia menderita penyakit berat semasa bayi.

Sihir? Jampi-jampi? Sama sekali bukan. Itu sebuah keterampilan yang dipraktekkan Si Mbah sejak ia Muda. Pada masa mudanya dulu, ia merupakan tukang pijat Sultan Yogya. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, ia masih memijat orang dewasa. Terutama perempuan hamil dan menyusui. Namun karena sekarang usianya sudah sangat tua, ia hanya menerima memijat bayi. Dan sepanjang sejarah hidupnya, ia sudah memijat ribuan bayi. Dari bayi orang kaya hingga orang miskin. Ia tidak menentukan tarif. Cukup memberikan seiklasnya. Ia tidak menjual obat. Sebab pijat adalah obat satu-satunya. Secara pribadi, saya puas membawa bayi kepadanya.

Friday, 15 July 2011

Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu

Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.

Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.

Tapi lebih mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.


Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!

Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.

Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Siapa yang salah?

Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.

Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.

Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.

Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.

Saturday, 2 July 2011

Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan

Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.

Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.

Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.

Di Milan (dan Italia pada umumnya), minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).

Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:

Pertama, kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.

Kedua,
Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.

Ketiga, di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “kupi sareng” dan kopi kedua dengan “kupi tubroek”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.

Keempat, Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.

Kelima, Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.

Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe

Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!

Tuesday, 28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

Saturday, 25 June 2011

Tunda Naik Haji 5 Tahun!

Ruyati yang dihukum pancung beberapa hari yang lalu hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerja migran Indonesia yang mendapatkan kekerasan bahkan berujung pada kematian di Arab Saudi. Kita masih belum lupa peristiwa penyiksaan kepada Sumiati. Bahkan dalam daftar "tunggu" ada dua puluhan TKW lain yang akan mendapatkan perlakuan yang sama. Hukuman pancung! Apakah kita akan tetap diam dan membiarkan hukum yang zalim itu mempermalukan kita? Bayangkan kalau itu menimpa sanak kerabat anda sendiri.

Seharusnya sebagai bangsa, kita ahrus malu. Hingga saat ini tidak ada bangsa miskin manapun di dunia yang mengirimkan tenaga kerja sektor domestik ke Arab Saudi. Indonesia satu-satunya negara yang memeras perempuan berpendidikan rendah untuk mendapatkan devisa! Ini menjadi bahan ejekan dan cemoohan dari negara lain. Bagaimana mungkin sebuah negara besar menambang devisa dari darah dan keringat kaum perempuan. Apalagi itu dilakukan di Arab Saudi, negara yang terkenal di seluruh jagat tentang perilaku warganya kepada perempuan asing yang bekerja di rumahnya.

Sebagai respon atas apa yang dilakukan pemerintah Saudi terhadap warga Indonesia sudah seharusnya kita melayangkan protes besar-besaran. Menurut saya, kita harus menunda pelaksanakan ibadah haji hingga pemerintah Saudi menjamin tegaknya hukum yang berperikemanusiaan kepada pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di sana. Kalau ini dilakukan, maka warga saudi akan bersimpuh di lutut pemerintahnya untuk segera mengabulkan tuntutan Indonesia. Soalnya, mereka akan kehilangan masa panen yang terjadi pada musim haji. Apalagi jamaah haji asal Indonesia terkenal dengan budaya belanjanya.

Apakah ini mengganggu iman umat Islam? Menurut saya tidak juga. Haji adalah kewajiban personal yang harus dilakukan kalau mereka mampu. Mampu bukan hanya masalha biaya, kesehatan, dan anak yang ditinggalkan selama melaksanakan haji. Dalam konteks modern mampu juga terkait dengan masalah diplomasi politik. Bebeda dengan zaman dahulu di mana Makkah adalah milik bersama umat Islam, sekarang Makkah adalah salah satu wilayah administratif negara Saudi. Siapapun kalau mau masuk ke sana harus memenuhi persyaratan administrasi, pun untuk beribadah. Dengan berbagai kekerasan yang dilakukan Arab kepada Indonesia, sudah saatnya kita memprotesnya. Dan protes administrasi salah satu yang memiliki bergaining yang kuat.

Jadi, kalau mau orang Indonesia yang bekerja di Saudi mendapat perlakukan yang baik, kita bisa melakukanya dengan menunda haji sampai ada perjanjian untuk memberikan pelayanan yang lebih baik pada pekerja migran kita di sana. Saya yakin pemerintah Saudi akan melakukannya. Sebab mereka akan sangat rugi jika jamaah terbesar haji dan umrah menunda keberangkatannya. Dan mereka tidak akan mau kehilangan pendapatan hanya gara-gara ulang waraganya. Mungkin, seminggu setelah protes itu, pemerintah Saudi sudah mengeluarkan pernyataan akan melindungi TKW yang ada di sana.

Bagaimana, apa anda sepakat dengan saya?

Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!

Hampir di semua kota di Indonesia, pengemis menjadi salah satu peandangan yang tidak bisa dihindari. Di perempatan jalan yang ada lampu merah, di kafe-cafe, di pasar dan tempat lainnya. Dan dari sekian banyak pengemis itu masih berumur di bawah sepuluh tahun. Bahkan sepertinya ada yang masih berusia lima tahun ke bawah. Beberapa bayi bahkan digunakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan rasa iba dari masyarakat lantas memberikan bantuan, sedekah kepada mereka.

Rasa iba terkadang menjadi alasan bagi kita untuk menjulurkan tangan memberikan bantuan kepada mereka. Tidak tega juga melihat muka sedih memelas mereka. Meskipun kita terkadang terfikir kalau itu hanya pura-pura, namun terkadang tetap tidak tega. Oke kalau benar itu pura-pura, bagaimana kalau ia benar? Apa yang akan ditanyakan Tuhan kelak ketika kita melihat hamba-Nya yang kelaparan tapi kita tidak membantu. Mungkin itu alasan sehingga mereka merogoh kocek memberikan bantuan.

Saya salah seorang yang berfikir demikian dua tahun yang lalu. Saya merasa iba dengan kehidupan mereka. Dengan hanya memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000,- rasanya tidak akan mengurangi apa yang ada di kantong saya. Bahkan tidak terlalu berat kalau memberikan Rp. 500 beberapa kali dalam sehari. Namun itu dulu. Sejak tahun 2008 awal saya sudah memutuskan untuk tidak meberikan sedekah kepada pengemis cilik di pinggir sajalan atau yang datang ke rumah-rumah.

Inilah alasan saya!

Satu hari saya sedang shalat zuhur di sebuah masjid di kota saya. Saat itu pas bulan puasa. Di masjid itu sering berkumpul pengemis, tua muda dan anak-anak. Biasanya mereka berkumpul di gerbang depan, di mana jamaah keluar masuk menuju masjid/pulang. Di sana mereka menengadahkan tangan, atau meletakkan kemasan air mineral gelasan di depannya. Jamaah yang merasa mau membantu memasukkan uang ke dalamnya.

Seorang anak yang saya taksir berumur tujuh tahun berada di dalam masjid. Setelah shalat saya mendekatinya. Saya berniat akan mebelinya satu stelan baju untuk si anak untuk menyambut hari raya yang segera akan tiba. Saya melihatnya sedang menghitung uang recehan yang baru dikeluarkan dari tas kecil yang selalu dibawanya. Di sisi kanannya ada setumpuk uang seribuan yang sudah disusun rapi. Di depannya ada uang pecahan koin yang masih berhamburan belum dikelompok-kelompokkan.

Saya mendekatinya dan bertanya:

"Udah dapat berapa dek?"

"Yang ini Rp. 350.000," katanya sambil menunjukkan uang seribuan plus beberapa uang pecahan besar di sisinya. "Yang ini belum dihitung" katanya sambil menunjukkan uang receh di depannya.

"Wah.... dapat banyak hari ini?"

"Ngak bang. Biasanya, siang begini sudah Rp. 500 ribu. Sekarang mungkin Rp. 400 ribu saja."

Wah... si anak ini luar biasa. Rp. 500 ribu hanya sepagi. Bagimana kalau sepanjang hari.

"Memang biasanya sehari dapat berapa," saya coba tanya sama si anak.

"Ngak tentu bang. kalau puasa begini bisa sampai Rp. 1 juta."

"Kalau ngak puasa?"

"Sehari Rp.300 bang" jawabnya polos.

"Oooo... kamu sudah ada baju baru untuk lebaran?"

"Sudah"

"Berapa lembar?"

"Sembilan"

Saya tidak punya pertanyaan lagi. Niat membantu mebelikan selembar baju baru untuk si anak langsung hilang. Apalah artinya selembar baju baru untuk anak 7 tahunan di tengah sembilan baju baru yang sudah ia miliki plus penghasilan satu jutaan sehari.

Sejak saat itu saya tidak pernah memberikan uang lagi kepada pengamis cilik. Apalagi saya punya pengalaman memata-matai seorang perempuan paruh baya yang nampak sehat menggendong anaknya meminta sedekah, dari ia memulai aksinya di perempatan jalan sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Nanti akan saya ceritakan...

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

Tidak Perlu ke Arab! Harta TKI Ada di Bawah Ranjangnya

Salah satu novel paling berpengaruh di dunia adalah Alchemis yang ditulis oleh Paulo Coelho. Novel yang tidak terlalu tebal ini sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia. Meskipun kecil, novel ini diakui telah mempengaruhi visi banyak orang tentang hidup. Salah satu hal yang penting dalam novel ini adalah pandangan bahwa keinginan akan terwujud pada setiap orang yang benar-benar menginginkannya.

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari Santiago yang melakukan sebuah perjalanan mencari harta karun. Awalnya, pada suatu malam, saat ia tidur di atas dipannya pada sebuah gubuk tua, ia bermimpi bahwa di sebuah tempat di sisi piramida Mesir terkubur emas besar yang bisa menghidupinya hingga sepuluh keturunan mendatang. Karena mimpi ini datang berulang kali, ia yakin ini sebagai pesan dari tuhan. Lantas ia melakukan perjalanan menuju piramida Mesir.

Dalam perjalanan ini ia berjumpa dengan berbagai macam ras, pekerjaan, sifat manusia dan berbagai pandangan alam yang jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungannya selama ini. Dalam perjalanannya, ia juga erhadapan dengan sebuah suku yang masih suka berperang di gurun pasir. Di sana pula ia jatuh cinta pada Fatimah, seorang anggota suku yang hidup berpindah-pindah. Dan yang paling penting adalah, ia berjumpa dengan seorang ahli kimia yang mampu mengubah logam biasa menjadi emas murni. Kemampuan ini telah dibuktikan langsung di hadapan si anak. Pun demikian, si ahli kimia tetap meneguhkan hati si anak dalam mencapai impiannya, mendapatkan harta karun di sisi piramid mesir.

Si anak yang telah menempuh perjalanan jauh, keras dan penuh perjuangan, akhirnya sampai di sisi Piramida mesir. Ia mencocokkan ciri-ciri piramida yang hadir dalam mimpinya dengan piramida yang ada di hadapannya. Setelah memastikan bahwa ia sudah sampai di tempat yang tepat, ia mulai menggali pasir untuk mencapatkan emas yang dicarinya. Saat ia kelelahan melakukan penggalian, ia didatangi oleh sekelompok perampok dan merampoknya. Sebongkah emas yang dia miliki hasil pemberian dari ahli kimia turut dirampok. Perampok menanyakan apa yang ia lakukan. Setelah si anak menjelaskan, perampok itu tertawa terbahak dan mengatakan: "Tahun lalu juga ada yang mengatakan kepadaku kalau di sebuah gubuk tua di Spanyol, dekat sebuah pohon besar yang tua, terdapat harta karun berupa emas permata yang banyak." Si anak terkejut. Rumah yang dikatakan si perampok adalah gubuknya di Spanyol. Ia bergegas pulang, dan mendapatkan emas seperti yang dikatakan si perampok.

***

Cerita ini, menurut saya, relevan dengan apa yang terjadi dengan fenomena TKI saat ini. Para TKI pada dasarnya adalah "anak lelaki" yang bermimpi bahwa di luar negeri sana ada sebuah harta karun yang tertimbun dalam bentangan pasir. Mereka begitu yakin dengan "mimpi" ini setelah melihat beberapa tamannya pulang membawa harta tersebut. Dengan susah payah, mereka berusaha datang ke sana. Sebagian ke Malaysia, sebagian ke Saudi, ke Hongkong, Taiwan, Singapura dan lain sebagainya. Tujuannya sama saja, mewujudkan mimpi mendapatkan "harta karun" di luar negeri sana.

Untuk tujuan ini mereka berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, melintasi benua, dan yang paling berat menghadapi resiko mendapatkan kekerasan dari majikannya. Ruyati, buruh migran dari Indoensia yang dihukum pancung di Saudi beberapa waktu yang lalu adalah satu diantara mereka yang ingin menjemput mimpinya. Di sana ada ratusan dan bahkan ribuan Ruyati yang lain yang juga memiliki niat yang sama. Mereka meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung halaman orang lain. Bekerja, berusaha, berjuang, dan bahkan "berperang" mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan mimpi itu.

Pertanyaannya, apakah harta karun itu ada di luar negeri atau ada di bawah ranjangnya sendiri? Saya adalah orang yang percaya kalau harta karun ada di bawah ranjang sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Coelho dalam novel di atas. Namun harus kita akui pula bahwa harta karun itu tidak bisa diperoleh tanpa sebuah kompetensi, skil dan kemampuan melihat realitas yang ada. "Hartamu ada di mana hatimu ada" kata Coelho dalam novel itu. Dan untuk mendapatkannya harus ada sebuah keinginan kuat. "Jika kau benar-benar menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan bahu mambahu mewujudkan keinginanmu," katanya.

Mungkin, di sinilah peran pemerintah. Menunjukkan bahwa "di bawah ranjang" para TKI terdapat harta karun yang besar, yang bisa menghidupi mereka tujuh turunan. Untuk mendapatkan harta itu, pemerintah harus melatih, belajar, meningkatkan skil, kompetensi, dalam berbagai bidang. Sebab tanpa ini semua, harta karun itu akan diambil orang dan dimanfaatkan untuk kepentingannya. Bahkan bisa jadi harta itu tidak bermanfaat untuk ia sendiri meskipun berasal dari bawah ranjangnya. Pemerintah harus menunjukkan bagaimana harta itu biasa diambil, dan bagaimana harta itu dipelihara agar terus dapat menghidupinya.

Ekspresi "Puas" Gadis Jepang

Seminggu belakangan ini aku menonton sebuah stasion televisi nasional yang meyiarkan acara pertandingan ala Jepang. Awalnya aku tidak sengaja menontonya saat minum kopi sore di sebuah warung. Ternyata menarik juga, pertandingan itu dikemas secara menyenangkan dan penuh tantangan. Beberapa yang aku ingat antara lain adalah pertandingan memancing ikan tuna di lautan, pertandingan membikin kue mirip makanan tertentu, pertandingan membuat eskrim, dan tadi sore pertandingan membauat masakan untuk merayakan sesuatu.

Menurutku, ide pertandingan itu sangat menarik. Sederhana, tapi menyenangakan dan mendidik. Secara pribadi, dalam salah satu sesi, aku belajar cara membuat telor dadar yang variatif. Sudah kucoba, rasanya lezat! sangat lezat.

Tulisan ini bukan hendak menceritakan tentang masakan itu. Tapi bagaimana orang Jepang mengekspresikan kegembiraan atau kesedihannya. Dari beberapa kali menonton itu aku simpulkan beberapa sikap orang jepang dalam mengekspresikan kepuasannya:

Tidak suka bicara banyak
Saat pembawa acara menanyakan kesuksesan atau kegagalannya, orang Jepang hanya menjawab satu atau dua kata; "iya, aku sedih", lalu ia meninggalkan pembawa acara. Atau kalau ia memenangkan perlombaan, paling hanya mengatakan: "Aku senang sekali". Tidak ada percakapan panjang lebar, tidak ada salah teknis, salah wasit, salah peralatan, dll. Ekspresi kekalahan atau kemenangan sama saja, singat dan tidak berlebihan.
Tidak suka jingkrak-jingkrak
Untuk merayakan kemenangannya, orang Jepang tidak melompat-lompat kegirangan, tidak berjingkrak-jingkrak kesetanan, cukup bertepuk tangan saja sambil membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Kalaupun berteriak senang, itu dilakukan sekali atau dua kali saja, tidak berlebih-lebihan.
Tidak ada peluk cium pada teman
Kalau pertandingan menggunakan tim, orang Jepang tidak cipika-cipiki saat mengekspresikan kemenangannya. Tidak ada peluk-pelukan sambil berteriak. Tidak ada juga lompat-lompat. Masing-masing anggota kelompok mengatakan terima kasih, lalu selesai.
Menghargai karya seseorang
Semua juri saat menilai masaan selalu mengatakan, "Wah... makanan ini lezat sekali, dia sangat pandai membuatnya". Walaupun kemudian nilai yang diberikan tidak banyak, tapi pujian itu membaut yang berkarya menjadi tersanjung dan merasa dihargai.


Aku teringat, beberapa bulan yang lalu di sebuah stasion televisi lainnya yang menyiarkan lomba masak ala Indonesia. Saat mencicipi hasil masakan pesarta, jurinya mengatakan, "Wah... masakan ini kurang garam, ikannya kurang matang" dll.

Saat pemenang diumumkan, pesarta yang menang berteriak kesetanan merayakan kemenangannya. Ia berteriak berjingkrak sambil memeluk teman-temannya.

Saat pembawa acara meminta tanggapannya atas kemenangan yang baru diperolah, peserta ini menceritakan perasaannya, kenapa ia bisa memang, prediksi-prediksi sebelumnya, kenapa orang lain bisa kalah, dll. Sangat banyak. Pembawa acara terpaksa mengatakan kalau ia sudah mengerti.

Begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Wednesday, 11 May 2011

Pang Leman

Pang Leman tidak mau ketinggalan. Naluri pengusahanya langsung hidup saat tahu kalau rincong itu diperlombakan. "Saya sudah dapatkan segalanya, saya sudah miliki semuanya, kenapa saya tidak bisa dapatkan sebuah rincong?" batinnya. Bagi Pang Leman, rincong adalah sebuah "cap" bagi pengakuan orang atas kesuksesannya. Kurang afdal kalau ia hanya punya uang, punya usaha, punya harta, punya pengaruh, tapi ia tidak punya nama. Sebab "nama" adalah identitas yang akan menguatkan apa yang ia sudah miliki. Dari nama ia akan mengekspresikan dirinya secara total. Dan nama yang paling tepat untuk mendapatkan itu adalah "pemilik rincong sakti". Pang Leman akan bertempur untuk mendapatkannya. Habis-habisan.

Langkah paling penting mencari kemenangan adalah membangun jaringan. Jaringan adalah kumpulan sekelompok orang yang secara sadar mau membantunya mendapatkan apa yang ia inginkan. Tentu saja tidak gratis. Pang Leman tahu ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membangun jaringan yang bagus. Ia sadar kalau kekuatan sebuah jaringan sangat terkait dengan berapa banyak uang yang digunakan untuk menggerakkannya.Orang bisa katakan yang lebih penting dari segalanya adalah ideologi. Namun apakah ada ideologi bisa hidup tanpa orang-orang yang hidup. Orang hidup dengan uang. dengan itu mereka mengasapi dapurnya. dan uang bukanlah masalah besar bagi Pang Leman. Ia punya pundi-pundi uang yang besar, yang bias membeli apa yang ia suka.

Pang Leman mulai menebar jala, pada penganggur-penganggur yang butuh pekerjaan. Sebagian mereka adalah pemalas yang punya gengsi besar. Sebagai lain orang cerdas yang tidak punya lapangan. Namun banyak pula dedengkot-dedengkot sampah yang bisa bersandiwara mengubah wajah dalam sekejap. Bekerja sebagai anggota tim sukses Pang Leman sedikit menaikkan gengsi mereka. Mereka merasa mendapatkan pekerjaan "terhormat". Tidak segan, tidak ragu. Para penganggur dan pemburu gengsi ini akan segera bergabung, bergabung sangat cepat. Bahkan terkadang tanpa diminta. Sinar sematan rincong di pinggang Pang Leman sudah mereka bayangkan. Bagaimana indahnya dunia jika itu terjadi.

Para penganggur ini mulai bekerja. Tidak bekerja iklas, namun sejauh mana mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pekerjaan itu. Pang Leman tidak peduli. Ia hanya memerintahkan dan melemparkan sejumlah uang. Ia hanya menginginkan menjadi pemilik rincong, meskipun rincong itu entah dimana dunianya. Uangnya benar-benar sihir. Orang-orang bekerja cepat untuknya, bahkan lebih cepat dari seorang ibu yang harus menyusui anaknya karena kegerahan. Pang Leman, dengan uangnya ia benar-benar berkuasa. ia bisa meminta orang melakukan apapun, dan mereka langsung melakukannya.

Pang Leman menyedikan kantor agar mereka bisa berkumpul. Ia membelikan mobil yang bertempel foto dirinya agar orang bisa melakukan pejalanan ke mana yang ia suka. Ia memberikan mereka baju, sepatu, jaket, tas, handphone, dan lainnya. apa saja yang mereka perlukan. Sebab mereka adalah bebatuan yang diinjak oleh Pang Leman agar ia bisa sampai pada posisi di mana rincong akan disematkan. Mereka adalah budak-budak yang seolah diajarkan tentang sebuah arti hidup, namun sesungguhnya robot-robot yang bekerja untuk kehendak Pang Leman. Pang Leman tahu ini, namun ia tidak memberitahukan kepada mereka. Sebab mereka hanya ingin hidup dengan gaji yang sederhana.

Apakah Pang Leman ingin membantu para pengangguran mendapatkan pekerjaan? Tidak! Ia menginginkan rincong sakti. Jika rincong itu tersemat di pinggangnya, ia akan lebih mudah mempengaruhi orang untuk bekerja kepadanya. Ia akan lebih mudah mendapatkan uang dari usahanya. Orang-orang akan lebih percaya padanya. Dan yang paling penting adalah, jika rincong itu tersemat di pinggangnya, tanah negeri ini seolah akan menjadi miliknya. Ia bisa menjual sesuka hatinya, ia bisa mengekploitasi kekayaannya, ia bisa memeras orangnya, ia bisa melakukan apapun baik pada apa yang ada di atasnya, maupun apa yang ada di dalamnya. Itu tentang alam.

Ada yang lebih penting, jika rincong itu tersemat pada pinggangnya. Ia seoalah memiliki apapun yang hidup di atas negeri itu. Ia bisa memilih perempuan yang ia sukai. Ia bisa mengambil istri orang atau anak gadisnya. ia bisa memenjarakan orang yang memusuhinya. ia bisa mengatur wartawan agar memberitakan hanya apa yang menyenangkan hatinya. Ia, bahkan bisa mengatur para ahli agama agar mengeluarkan fatwa-fatwa yang bisa mendukung rencana-rencananya. Kalau ini bisa ia dapatkan, kenapa ia tidak berani mengeluarkan modal lebih banyak lagi? dan ini terus ia lakukan, sampai waktunya tiba.

Pang Leman sungguh gila.

Lem Baka Mencari Rincong

Ini peluang besar," kata Lem Baka, begitu tahu kalau makhluk ghaib menyerahkan orang-orang menentukan sendiri siapa yang paling layak mendapatkan rincong sakti diantara mereka. " Aku takkan lepaskan kesempatan baik ini. Apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya." Lem Baka sangat berbirahi menggenggam rincong dan menyematkan dipinggangnya. Ia lalu berdiri di cermin kamarnya. Mulai meliat kopiahnya yang mulai pudar karena tidak pernah tercuci telungkup mereng ke kri di kepalanya. Beberapa uban mulai muncul di kepalanya. Ia melihat baju yang ia kenakan. merapikan sedikit di bagian leher dengan kedua tanagnnya. Berpindah ke perut. Sedikit berisi, mungkin seperti perempuan hamil 4 bulan. Lalu ia memegang sisi kanan pinggangnya, dan ternyenyum. Hayalnya mulai terbang, andai rincong itu tersemat di sini. "Aku harus mendapatknnya!"

Lem Baka punya segala yang diperlukan untuk mendapatkan rincong sakti itu, kecuali kejujuran. Ia adalah lelaki paruh baya yang bisa menikah kapan saja ia mau. Dalam diari pribadinya sudah tertera lima perempuan yang penrha ia nikahi di depan penghulu. Beberapa perempuan yang "dinikahi" secara khusus senagja tidak disebutkan di sana. Lem Baka punya semua apa yang diperlukan orang yang bersimpati padanya, kecuali keikhlasan. Ia bisa memberikan apapun yang dibutuhkan asal niatnya tercapai dan mimpinya terwujud. Ia akan berikan tiga kali lipat lebih banyak dari orang lain. Inilah yang membuat orang berlulut di kakinya.

Dengan modal inilah, Lem Baka memanggil empat anak buah terbaiknya. "Aku mau rincong sakti itu menjadi milikku." Keempat temannya segera sadar, itu bukan sebuah keluhan, curhat, pemberitahuan, atau mimpi di siang bolong. Itu adalah perintah!! Ya, perintah. Lima thau sudah mereka mendampingi Lem Baka. Mereka tahu passti mana yang perintah, maka larangan, mana ajakan, maka cemoohan, dan mana kesih sayang (yang terakhir ini baru dua kali terjadi dalam lima tahun terakhir). Mereka sudah sangat hafal, bahkan mereka juga hafal arti sorotan mata Lem Baka, arti lidah yang dijulurkan ke luar, dan arti dengusan hidungnya. sebab mereka dibayar oleh Lem Baka untukmelakukan itu.

Tapi ini sesuatu yang berat. bahkan nyaris tidak mungkin. Mereka sangat kenal dengan Lem Baka. Meraka tahu seperti apa perangainya, setinggi apa nafsunya, sebulus apa strateginya, seburuk apa niatnya. Merea tahu persis. Namun mereka juga tahu kekejaman Lem Baka. Tidak mungkin mengatakn niatnya mendapatkan rincong suatu hal yang buruk dan absurd, apalagi mengajaknya memabatlkan niat itu. Bisa jadi dapur mereka berhenti mengobarkan asap. Bagaimana istri dan anak mereka dapat makan? Tapi ini benar-benar sulit.

Lem Baka tahu apa yang mereka pikirkan.Sebab iapun sadar "siapa" dirinya selama ini dan apa yang sudah dilakukan. Namun sematan rincong di pinggang kanan sungguh sangat ia dambakan. Dan ia akan melakukan apapun agar keinginan itu terwujud. Dan ia akan menghancurkan siapapun yang menghalangi keinginannya. Namun ia juga sadar, ia tidak sepenuhnya bisa mewujudkan mimpinya. Ada hal lain yang lebih menentukan yaitu semua orang harus merasa ia memang patas mendapatkanya. Jadi satu-satuya cara unutk itu adalah membangun citra diri, menunjukkan ia seorang yang peduli, mengatakan ia adalah teladan yang patut diikuti. Dan ia hanya punya waktu satu bulan unutk melakukannya.

Minggu lalu misi ini mulai dilaksanakan. Ia memimpin ritual di rumah ibadah yang ia tidak pernah berkunjung ke sana selama ini. Ia mengkampanyekan iman mayoritas dan melarang interpretasi berbeda tentang keyakinan dengan berbeda dengan mayoritas. ia mulai berkunjung kepada kelompok-kelompok pemegang otoritas agama. Ia mulai peduli pada mereka yang membutuhkan. Ia mulai mudah membuka dompetnya dan memberikan uang kepada siapa yang meminta. Tidak lupa, ia meminta seorang wartawan menuliskan apa yang dia lakukan di koran. Wartawan itu adalh temannya. Tidak ada hal buruk yang keluat dari penanya. Ia selalu menunjukkan, Lem Baka adalah dewa yang bijak. dan diantara pembaca ada yang percaya.

Tapi apakah cara ini akan membawa rincong ke pinggangnya?

Seorang yang lain, Pang Leman melakukan hal yanglebih gila

Friday, 29 April 2011

Rincong Sakti

Sebuah rincong warisan nenek monyang kini kehilangan pemiliknya.Dua hari yang lalu, sang pemilik meninggal dunia dengan tenang. Pada hembusan nafasnya yang terakhir, terucap sebuah pesan, rincong yang kini terselip di pinggangnya akan menghilang seiring nafasnya berhenti. Sesosok makhluk ghaib akan datang mengambil rincong dan menyelamatkannya. Pada satu waktu rincong itu akan dikembalikan ke dunia, jika ada seorang anak manusia yang memenuhi syarat menerimanya. Dan hanya mereka yang sabar dalam kekayaan, rendah hati dalam kekuasaan, ramah dalam kejayaan, punya cinta dalam kemegahan, yang akan mewarisinya.

Rincong itu sebuah rincong sakti yang diwariskan dari indatu sejak zaman batu. Berbeda dengan emas dan perak, rincong berhias zamrut mutiara intan berlian ini diwariskan bukan kepada anak, tidak pada kemenakan, apalagi pada teman dan kerabat. Ia diwariskan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Tidak peduli apakah ia seorang petani, seorang pelayan, seorang tukang batu, abang becak, saudagar kain, ustaz, aktivis, ma blien, atau siapa saja. Selama ia memiliki syarat yang cukup, sosok bayangan yang datang dari alam ghaib akan mengantarkan rincong kepadanya.

Setelah pewaris terakhirnya meninggal dunia, masyarakat mulai membicarakan perihal rincong.Siapakah yang akan mewarisinya kelak? Siapakah yang berhak mendapatkannya? Siapa gerangan orang yang dipilih si makhluk ghaib untuk diselipkan rincong di pinggangnya?

Banyak orang mengharapkan rincong jadi miliknya. Namun semakin kuat ia berharap, semakin jauh rincong darinya. Semakin nampak ia berambisi, semakin menghilang bayangan rincong dari benaknya. Sebab rincong hanya memilih mereka yang tidak berkepentingan dengannya sebagai rincong, namun punya komitmen dan tanggung jawab menjaganya, menyelamatkannya, memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan besar yang bermanfaat untuk orang banyak.

Sebagian orang tidak sabar. Ia berharap rincong ia dapatkan, namun tidak mau memahami untuk apa rincong akan digunakan dan bagaimana mendapatkannya. Ia merasa bangga andai sebilah rincong terselip di pinggangnya. Apalagi jika itu adalah rincong warisan dari alam ghaib yang hanya ada satu-satunya di negeri itu. Ia berhayal dengan rincong di pinggangnya, ia bisa dapatkan apa yang ia mau, ia boleh pergi kemana ia suka, ia mampu penuhi semua hasrat. Dan hidup adalah surga dunia. Namun mimpi ini pula yang menyebabkan rincong semakin jauh darinya. Jangankan melirik, si makhluk ghaib sama sekali tidak teringat padanya.

Sayangnya, saat ini, tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan rincong. Si makhluk ghaib sudah kepanasan menggenggam rincong. Tahun ini ia harus sudah menyelipkan rincong itu ke pinggang seseorang. Bagaimana kalau tidak ada yang memenuhi syarat? Harus ada, batinnya. Sebab ia bukanlah makhluk yang tepat untuk menggenggam rincong. Ia adalah perantara yang membawa rincong dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan waktu itu semakin dekat, sementara seseorang belum ia dapat. Pada sebuah malam setelah maghrib sekonyong-konyong terdengar suara dibawa angin. "Sudah saatnya rincong aku sematkan, tapi tidak ada orang yang pantas dapatkan. Mungkin penglihatanku mulai rabun, telingaku mulai uzur. Sampaikanlah kepadaku wahai manusia, siapa gerangan yang layak mendapatkan rincong dari bangsamu. Antarkan namanya ke bukit anu. Saya menungu hingga mata hari tenggelam pada hari ini di bulan depan."

Negeri itu menjadi gempar. Semua orang hendak mendapatkan rincong. Semua merasa berhak. Semua merasa mampu. Yang dulu pencopet kini jadi penceramah. Yang dulu pembunuh kini jadi pencinta. Yang dulu pendusta kini jadi alim. Yang dilu menipu sekarang jadi amanah. Bukan hanya itu, yang dulu menyimpan hartanya di lemari besi berkunci nuga, kini menghamburkan emas ke jalan-jalan. Yang dulu berlumpur dalam dosa dan kekejian, sekarang berbalut sorban mengharap simpati.Dan simpati mulai datang. Nama-nama mulai diunggulkan. Dan pemilik nama mulai bertengkar. Masing-masing mengatakan dialah yang paling pantas, dialah yang paling unggul, dialah yang paling berhak. Tidak ada yang rendah hati, tidak ada yang sabar, tidak ada yang bicara dengan cinta.Mereka bicara tentang dirinya, bukan tentang siapa yang telah mempercayakan rincong kepadanya.

Makhluk ghaib dari persemayamannya menyaksikan. Semakin bingung dengan keadaan. "Mereka tahu rincong ini untuk seorang yang tabah, seorang yang ramah, seorang yang adil,yang penuh cinta. Tapi kenapa mereka memperebutkannya dengan kekerasan, kesombongan, kekejian, salaing hasut dan fitnah?"

Saturday, 9 April 2011

Milan Seminggu Pandangn

Sebenarnya saya sedikit malu menceritakan pengalaman ini karena khawatir dinilai menderita shock culture. Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Eropa yang selama ini dianggap salah satu kiblat kemajuan peradaban dan perkembangan teknologi. Namun di sisi lain saya juga ingin berbagi pengalaman, khususnya dengan teman-teman yang belum pernah ke sana, siapa tahu bisa tertarik dan menjadi inspirasi dan pelajaran jika satu saat punya kesempatan terbang ke sana, atau menjadi inspirasi untuk melakukan sesuatu di sini, dalam konteks kehidupan pribadi atau sosial kita. Mudah-mudahan cerita sederhana ini ada manfaatnya.

Perjalanan ke Milan

Pergi ke Milan, tentu saja membutuhkan syarat administrasi yang sedikit merepotkan. Karena saya pergi dengan tujuan pendidikan,maka saya membutuhkan visa studi dari kedutaan Italia. Visa studi bisa diperoleh secara gratis (kalau visa lainnya membutuhkan biaya di atas Rp. 500 rb) dengan melengkapi syarat-syaratnya. Kalau telah mengantongi visa, berarti kita sudah memiliki izin masuk ke Italia. Namun karena Italia adalah salah satu dari negara Eropa anggota Schengen, maka kalau bisa masuk ke Italia, berarti bisa juga masuk ke negara-negara Eropa yang tergabung dalam Schengen lainnya, seperti Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, dan lainnya. Tidak termasuk Inggris dan Polandia dan kebanyakan negara di Eropa Barat.

Saya menempuh perjalanan ke Milan dengan menumpang pesawat Emirates, pesawat yang berpusat di Dubai yang usianya jauh lebih muda dari Garuda Indonesia. Namun sekarang maskapai ini telah mengantongi lebih dari 200 penghargaan Internasional dan melayani penerbangan lebih dari 100 tujuan di berbagai belahan dunia. Emirates terbang dua kali dari Jakarta ke Dubai setiap hari, jam enam sore dan jam sebelas malam. Emirates juga banyak ditumpangi oleh TKI yang akan pergi ke Timur Tengah untuk mencari kerja. Bahkan, saat saya berangkat, lebih dari setengah penupangnya adalah TKW yang selalu berkelompok-kelompok dan diaorganisir perjalanannya oleh perusahaan tertentu.

Emirates, dan saya kira maskapai penerbangan internasional yang lain, memberikan fasilitas yang membuat kejenuhan duduk di pesawat selama tujuh jam sedikit berkurang. Selain ada menu istimewa yang disajikan, teh dan kopi kapan saja diinginkan, mie instan, ada juga layar kecil di depan setiap bangku yang memungkinkan semua penumpang untuk menonton, mendengarkan musik atau bermain game sepanjang perjalanan. Bahkan kalau anda punya kartu kredit dan -tentu saja uang yang cukup- anda bisa menggunakan telepon yang disedikan di pesawat. Dari sana anda bisa menelpon siapa saya sepanjang penerbangan. Untuk yang satu ini saya tidak pernah mencoba dan saya tidak tahu bagaimana rasanya. Namun adalah pemandangan yang lumrah melihat orang menggunakan telepon di dalam pesawat selama penerbangan.

Setelah tujuh jam tafakkur di pesawat, kita mendarat di Dubai. Sayangnya saya mendarat malam hari sehingga bangunan-bangunan gedung megah yang selama ini saya bayangkan sebagai maskot kota Dubai tidak nampak. Namun saya sempat menikmatinya saat melanjutkan penerbangan ke Milan dan saat pulang dari Milan. Yang jelas sempat saya nikmati adalah kebesaran bandara Internasional Dubai. Meskipun saya sampai jam 02.00 dini hari, namun keramaian dan kesemarakan bandara masih sangat terasa. Pertokoan yang selalu buka, restoran yang siap menyajikan makanan, toko buku, perhiasan, oleh-oleh, toko handphone dan laptop, dan tentu saja, money changer yang ada di mana-mana. Kalau mau berbelanja jelas anda harus menukarkan uang ke dalam Dirham Uni Emirat Arabyang nilainya sekitar Rp. 2.400,- Atau bisa juga berbelanja dengan Dolar dan Euro di beberapa toko. Tapi kalau mau tidur, di bandara Dubai juga tersedia kursi lesehan yang pas digunakan untuk tidur. Tentu saja jumlahnya terbatas, namun kalau sigap, pasti bisa dapat tempat tidur sambil menunggu jam penerbangan berikutnya. Saya sendiri memilih tidur di di Mushalla yang nyaman bersama peumpang dari Asia Timur yang juga transit di sana. Setelah transit 10 jam, saya melanjutkan penerbangan ke Milan. Dubai - Milan ditempuh dalam waktu lebih kurang enam jam.

Saat memasuki wilyah Italia, dari pesawat yang terlihat adalah pergunungan batu yang menjulang. Namun di bagian selatan nampaknya adalah lahan subur yang hijau. Di sela-sela bebatuan itu ada kota dan jalan yang nampak sangat rapi. Bahkan tidak jarang terlihat ladang gandum yang siap tanam baru saja dikerjakan. Yang pasti, sejauh perjalanan saya di Indonesia dan Malaysia, potret seperti ini tidak pernah terlihat. Indonesia dan Malaysia yang berada di atas garis katulistiwa menyajikan pemandangan hijau dedaunan dan sungai yang berliku. Namun bukan mana yang lebih baik yang penting saya kemukakan, tetapi perbedaan itu adalah keindahan yang menimbulkan kesan tersendiri bagi saya.

Saya mendarat di Malpensa, satu diantara tiga bandara Internasional di Milan. Saat saya mendarat, tidak banyak pesawat di sana terutama dibandingkan dengan Jakarta dan Dubai. Ada sebuah pesawat Thai dan Egyp yang sedang parkir, dan beberapa pesawat kargo. Di Malpensa saya berjumpa dengan seorang perempuan beserta ibu dan bapaknya. Sang perempuan mengatakan ia hendak mengikuti kursus pembuatan sepatu di Milan. Saya tanya, kenapa tidak di Cibaduyut saja? Sambil tertawa, ia mengatakan kalau di Milan ia juga ingin belajar model dan desain modern sepatu untuk membuka usaha di Surabaya nantinya. Sewaktu saya mengurus visa di Jakarta, saya juga berjumpa dengan seorang perempuan yang hendak ke Florence, Italia, untuk belajar teknologi kulit untuk membuat tas, sepatu dan lainnya. Ternyata memang banyak orang Indonesia yang datang ke Italia untuk belajar hal-hal seperti ini. Sayangnya, saya tidak bertemu orang yang mau ke Universitas Milano-Bicocca mengambil Antropologi seperti saya.

Selamat datang Milan

Tidak ada yang terlalu istimewa saat pertama kali tiba di Milan. Sebab pemandangan di sekitar bandara hampir sama saja dengan bandara-bandara lain di Indonesia. Hanya saja, pepohonannya sedang tidak berdaun setelah musim gugur beberapa waktu yang lalu. Saat saya tiba di sana, Milan juga masih lumayan dingin meskipun matahari bersinar terang. Tapi sebuah sweater yang biasa dipakai di Indoensia sudah cukup nyaman dengan kondisi cuaca ini. Oiya, dari bandara Malpensa saya menuju kota Milan dengan menumpang bus Bandara Shuttle Bus yang langsung membawa kita ke terminal sentral di kota Milan (dari terminal ini ada semua pilihan transportasi yang siap mengantarkan anda ke tempat tujuan). Bayarannya "hanya" 7,5 euro (mungkin 90-an ribu rupiah). Bus ini cukup nyaman, dan melaju dengan lancar. Tidak dijebak macet, tidak banyak klakson, dan tidak ada pengamen di dalamnya, hahaha. Saya ditunggu oleh seorang kawan di terminal ini sehingga perjalanan selanjutnya menjadi lebih mudah.

Pada hari setelah menyelesaikan urusan di kampus, saya memanfaatkan waktu unutk melihat-lihat kota Milan. Salah satu yang saya kunjungi pertama kali adalah Duomo, gereja Katolik yang telah berusia lebih dari 1000 tahun. Duomo terletak di tengah kota Milan dan bisa disebut sebagai maskotnya kota Milan. Duomo sendiri bukan satu-satunya bangunan tua di sana, ia dikelilingi oleh bangunan lain yang tidak kalah kalsiknya. Dan di bangunan tua itulah hadir toko-toko pakaian terkenal hingga ke Indonesia. Banyak gadis dan ibu-ibu yang keluar dari toko itu dengan menenteng tas yang berisi belanjaan. Bukan hanya orang Italia, dari face mereka jelas mereka berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dan tentunya, di sini juga kita bisa menikmati kopi khas Italia sambil bermandikan sinar matahari sore yang tepat menyinari Duomo.

Enaknya, Milan memiliki sistim transportasi yang sangat baik. Selain tram, kereta api yang mengikuti jalan raya, ada juga bus, dan Metro, kereta api bawah tanah. Mau kemana saja akan sangat mudah dengan kenderaan ini. Kuncinya pegang saja peta transportasi sehingga bisa melihat kenderaan yang lebih mudah menuju ke tempat tujuan. Untuk tiketnya, bisa di beli di kedai koran yang banyak terdapat di pinggir jalan. Selembar tiket "hanya" (lagi-lagi dalam tanda petik) 1 euro yang bisa dipakai untuk sekali jalan. Jangan lupa gesek tiket ke box elektronik di tram atau masukkan ke dalam bok di pintu masuk terminal Metro. Kalau anda pernah ke Malaysia, model seperti ini pasti tidak asing lagi. Selama saya di Milan memang tidak ada pemeriksaan tiket di dalam tram. Artinya, tanpa tiket sebenarnya kita juga bisa menumpang. Namun kalau ada pemeriksaan dan anda kedapatan tidak memiliki tiket (atau punya tiket namun tidak digesek) anda akan dikenakan bayaran dua kali lipat harga tiket.

Bagi anda yang Muslim, memang sedikit terkendala dengan makanan. Karena saya hanya sebentar di Milan, saya hanya menemukan beberapa restoran yang menyedikan makanan muslim, seperti kebab turki dan makanan Arab. Namun makanan lain yang tidak megandung unsur babi bisa diperoleh di restoran Italia sekalipun. Bahkan ada jenis pizza yang tidak ada unsur babinya, yang diganti dengan terong. Demikian juga ada pasta yang dicampur dengan buah labu yang kelezatannya tidak berkurang, namun tetap bisa dinikmati dengan nyaman. Alternatif lain adalah roti dan buah yang tersedia di toko-toko. Memang sedikit agak sulit kalau terlalu fanatik pada nasi dengan ikan goreng dan kuah lemak ala masakan Padang. Sebab itu perlu masak sendiri. Saya sendiri tidak tahu di mana bisa membeli bahan-bahan masakan khas seperti di negeri kita. Namun saya pernah dengar, di mana-mana di seluruh dunia tidaklah sulit mendapatkan bahan untuk membuat masakan seperti masakan di Indoensia.

Yang khas lainnya di Milan adalah tradisi minum kopi dan bir. Saya kira ini adalah minuman sehari-hari orang Milan (mungkin Italia), apalagi di musim dingin. Warung kopi bisa ditemukan di mana-mana di Milan, di sepanjang jalan. Mereka menyebutnya dengan Bar. Bar bukanlah restoran dengan pesta dansa pada malam hari, di Milan, Bar adalah warung kopi (dan bir) di mana kita bisa menemukan minuman instan. Bagi yang tidak boleh minum bir di sana bisa juga tersedia minum jus jeruk, capucino, dan minuman coca cola, sprite dan lainnya. Dari sisi harga jelas Milan punya standar yang lebih tinggi di bandingkan di Indonesia. Coca cola dalam botol plastik yang di Indonesia bisa kita dapatkan dengan harga Rp.6.000,-. di Milan kita harus bayar 2,5 euro (Sekitar 30 ribu rupiah). Harga ini juga berlaku untuk makanan dan minuman lain.

Sebagai orang Aceh yang memiliki tradisi minum kopi yang sangat kuat, saya menyukai kopi ekspreso ala Italia di Milan. Kopi ekspreso adalah kopi kental pekat yang di isi ke dalam gelas kecil. Itupun tidak penuh, hanya setengah saja. Kita bisa mengisinya dengan gula sesuai dengan selera. Tapi orang italia lebih suka kopi pahit. Ekspreso memiliki aroma kopi yang menusuk dan menggiurkan. Dalam budaya Milan, orang meminum ekspreso (dan juga minuman lainnya) sambil berdiri. Berdiri bisa langsung di meja yang membatasi konsumen dengan menjual, atau di meja tinggi tanpa kursi. Di meja itulah kita bisa berbincang-bincang sambil menikmati kopi sambil tetap berdiri. Beberapa Bar menyedikan kursi di depan tokonya. Orang duduk di sana di bawah matahari yang panas. Dalam kondisi sedikit dingin, berada di panas matahari ini memang disukai banyak orang Milan.

Saya bertanya pada seorang teman dari mana asal kopi yang dikonsumsi di Milan. Menurut sang teman, Italia bukanlah negara dengan produksi kopi yang tinggi. Produksi di Italia hanya bisa mencukupi sebagain kecil kebutuhan mereka. Kebanyakan kopi diimpor dari berbagai negara lain baik di Eropa mampun dari negara lain. Salah satu negara yang mengekspor kopi ke Italia adalah Belanda. Saya jadi ingat ada perusahaan kopi yang sangat besar milik Belanda yang beroperasi di Bener Meriah, Aceh. Perusahaan ini membawa kopi ke Eropa ber ton-ton. Tidak tertutup kemungkinan kopi Gayo inilah yang dikonsumsi di Milan, siapa tahu?

Sehari di Pavia

Saya mendapatkan kesempatan pergi ke Pavia, salah satu provinsi yang bersama Milan masih berada di bawah wilayah Lombardi, dan tinggal di sana bersama sebuah keluarga kecil yang kebetulan kakak leting saya di universitas. Pavia adalah kota dengan pemandangan klasik yang sangat berkesan. Teman saya di Milan pernah berkata kalau Milan adalah kota paling buruk dan semraut di Italia. Jadi jangan pernah mengatakan sudah sampai di Italia kalau hanya mengunjungi Milan. Dan benar saja, sesampai di Pavia (yang hanya 30 menit dengan kereta api) kesan klasik sudah mulai terasa. Pavia dipenuhi dengan bangunan lama era Romawi yang masih dipertahankan. Bangunan-bangunan inilah yang menjadi pemandangan Pavia kemana saja kita pergi. Apalagi saya diajak makan siang di rumah serang temannya yang berada di pedesaan. Rumah itu terletak di tengah perkebunan handum yang siap tanam, sebuah bangunan klasik abad pertengahan. Saya sangat menikmati makan bersama sebuah keluarga Italia pedesaan. Apalgi kebetulan mereka bisa sedikit-sedikit (seperti saya juga) Bahasa Inggris, sehingga komunikasi bisa dilakukan.

Kakak leting saya mengajak saya keliling kota Pavia dengan berjalan kaki. (Anda bisa bayangkan berapa luas kota yang bisa dikelilingi dengan berjalan kaki sore-sore). saya benar-benar tertegun dengan kondisi kota ini. Bangunan lama yang masih dipertahankan saat ini dihuni oleh keluarga-keluarga Italia seperti sebuah apartemen. Jelas orang tinggal di sini orang berada. Sebab tidak mungkin memiliki apartemen klasik ini dengan uang segepok. Harus ada sebuah bundelan tebal untuk menikmati tempat eksotik ini. Dan ini jelas terlihat dari mobil yang diparkir di sepanjang jalan di sekitar bangunan lama ini. Menurut kakak leting saya (yang juga memiliki rumah di kawasan ini), rumah-rumah ini dihuni oleh orang yang hanya tinggal di Pavia, namun bekerja di Milan. Mereka menganggap Pavia sebagai "asrama" sementara aktifitas sesungguhnya ada di Milan.

Diantara bangunan yang paling berkesan bagi saya adalah Univesitas Pavia yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 650. Artinya universitas ini sudah berdiri pada abad ke empat belas masehi. Universitas Pavia adalah salah satu universitas tertua di Italia. Selain Pavia ada Universitas Roma dan Bologna. Yang paling menarik adalah, mereka masih mempertahankan keklasikan bangunannya, desainnya, dan tata ruang di dalamnya. Rasanya begitu memasuki gerbang kampus, suasanya eropa abad pertengahan langsung terasa. Dan saya berdoa agar suatu waktu bisa datang legi ke Universitas ini sebagai tamu akademis, apakah sebagai mahasiswa, sebagai peneliti, atau mempresentasikan makalah dalam sebuah komferensi.

Bangunan lain adalah gereja dan benteng yang dibangun pada abad pertengahan. Sebuah gereja yang merupakan salah satu dari tiga gereja tertua di Italia berdiri di sini. Ia terbangan dari batu bata yang disusun rapi dan batu pualam yang berseri. Ada juga sebuah benteng perang yang masih berdiri utuh. Benteng ini masih dipertahankan bentuk aslinya hingga kini. Banyak orang datang ke sana untuk melihat-lihat benteng. Kebanyakan memang orang Eropa sendiri, dan sebagain orang Cina. Di benteng ini pula kita bisa masuk ke dalam dua buah museum lukisan klasik yang pernah dihasilkan di Pavia. Lukisan-lukisan luar biasa itu ada yang berusia ratusan tahun. Sayangnya saya tidak diperkenankan mengabadikannya dengan kamera.

Malam hari saya diajak keliling di sekitar perumahan klasik itu, bertemu dengan beberapa teman kakak leting saya di Bar, minum kopi dan makan kebab. Ada kebakraban di bar. Saya jadi teringat suasana warung kopi di Aceh. Bedanya, di Pavia orang-orang minum bir dan kopi sambil berdiri atau duduk di jalan dan di lantai. Di Aceh tersedia kursi yang banyak di mana orang-orang bisa duduk ber jam-jam menghabiskan waktu. Saya dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas, harus memaksanakan diri untuk terus berbicara dengan bahasa Inggris mereka yang juga terbatas. Namun karena terpaksa dan dalam suasana yang bersahabat, kendala bahasa seolah tidak ada (saya jadi teringat pengalaman di pedalaman Jawa tengah saat saya menghabiskan waktu tiga jam berbicara dengan seorang orang yang sudah sangat tua. Saat itu beliau bicara bahasa Jawa, saya bahasa Indonesia, sama-sama tidak mengerti, namun saling memahami). Yang ada hanyalah keakraban dan senyum tawa dengan keceriaan masing-masing. Setelah kembali ke Milan keesokan harinya, saya menceritakan pengalaman menakjubkan di Pavia ini pada seorang teman dan berharap ia akan mengatakan kalau saya benar-benar "sudah sampai" di Italia. Namun saya kecewa saat ia mengatakan, "Belum, itu hanya sedikit dari Italia. Kamu harus mengunjungi Padova, Florence, Roma, Bologna dan kota lain untuk mengatakan kamu sudah sampai di Italia. Di sana kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dan luar biasa."

Wah..... Mudah-mudahan saya bisa mengunjungi semuanya, termasuk negara Eropa lainnya. Saya kembali ke Indonesia keesokan harinya dengan pesawat dan jalur yang sama saat pergi, dan Insyaallah akan kembali ke Milan bulan September 2011 mendatang.