Saturday, 25 June 2011

Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!

Hampir di semua kota di Indonesia, pengemis menjadi salah satu peandangan yang tidak bisa dihindari. Di perempatan jalan yang ada lampu merah, di kafe-cafe, di pasar dan tempat lainnya. Dan dari sekian banyak pengemis itu masih berumur di bawah sepuluh tahun. Bahkan sepertinya ada yang masih berusia lima tahun ke bawah. Beberapa bayi bahkan digunakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan rasa iba dari masyarakat lantas memberikan bantuan, sedekah kepada mereka.

Rasa iba terkadang menjadi alasan bagi kita untuk menjulurkan tangan memberikan bantuan kepada mereka. Tidak tega juga melihat muka sedih memelas mereka. Meskipun kita terkadang terfikir kalau itu hanya pura-pura, namun terkadang tetap tidak tega. Oke kalau benar itu pura-pura, bagaimana kalau ia benar? Apa yang akan ditanyakan Tuhan kelak ketika kita melihat hamba-Nya yang kelaparan tapi kita tidak membantu. Mungkin itu alasan sehingga mereka merogoh kocek memberikan bantuan.

Saya salah seorang yang berfikir demikian dua tahun yang lalu. Saya merasa iba dengan kehidupan mereka. Dengan hanya memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000,- rasanya tidak akan mengurangi apa yang ada di kantong saya. Bahkan tidak terlalu berat kalau memberikan Rp. 500 beberapa kali dalam sehari. Namun itu dulu. Sejak tahun 2008 awal saya sudah memutuskan untuk tidak meberikan sedekah kepada pengemis cilik di pinggir sajalan atau yang datang ke rumah-rumah.

Inilah alasan saya!

Satu hari saya sedang shalat zuhur di sebuah masjid di kota saya. Saat itu pas bulan puasa. Di masjid itu sering berkumpul pengemis, tua muda dan anak-anak. Biasanya mereka berkumpul di gerbang depan, di mana jamaah keluar masuk menuju masjid/pulang. Di sana mereka menengadahkan tangan, atau meletakkan kemasan air mineral gelasan di depannya. Jamaah yang merasa mau membantu memasukkan uang ke dalamnya.

Seorang anak yang saya taksir berumur tujuh tahun berada di dalam masjid. Setelah shalat saya mendekatinya. Saya berniat akan mebelinya satu stelan baju untuk si anak untuk menyambut hari raya yang segera akan tiba. Saya melihatnya sedang menghitung uang recehan yang baru dikeluarkan dari tas kecil yang selalu dibawanya. Di sisi kanannya ada setumpuk uang seribuan yang sudah disusun rapi. Di depannya ada uang pecahan koin yang masih berhamburan belum dikelompok-kelompokkan.

Saya mendekatinya dan bertanya:

"Udah dapat berapa dek?"

"Yang ini Rp. 350.000," katanya sambil menunjukkan uang seribuan plus beberapa uang pecahan besar di sisinya. "Yang ini belum dihitung" katanya sambil menunjukkan uang receh di depannya.

"Wah.... dapat banyak hari ini?"

"Ngak bang. Biasanya, siang begini sudah Rp. 500 ribu. Sekarang mungkin Rp. 400 ribu saja."

Wah... si anak ini luar biasa. Rp. 500 ribu hanya sepagi. Bagimana kalau sepanjang hari.

"Memang biasanya sehari dapat berapa," saya coba tanya sama si anak.

"Ngak tentu bang. kalau puasa begini bisa sampai Rp. 1 juta."

"Kalau ngak puasa?"

"Sehari Rp.300 bang" jawabnya polos.

"Oooo... kamu sudah ada baju baru untuk lebaran?"

"Sudah"

"Berapa lembar?"

"Sembilan"

Saya tidak punya pertanyaan lagi. Niat membantu mebelikan selembar baju baru untuk si anak langsung hilang. Apalah artinya selembar baju baru untuk anak 7 tahunan di tengah sembilan baju baru yang sudah ia miliki plus penghasilan satu jutaan sehari.

Sejak saat itu saya tidak pernah memberikan uang lagi kepada pengamis cilik. Apalagi saya punya pengalaman memata-matai seorang perempuan paruh baya yang nampak sehat menggendong anaknya meminta sedekah, dari ia memulai aksinya di perempatan jalan sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Nanti akan saya ceritakan...

3 comments:

  1. Waaaa.... Saya jg pernh liat ada yg pakai hape bagus Pak... Canggih... Saya jg pernah liat mereka naik kereta...

    ReplyDelete
  2. Waduuhh..... trus pengemis yg benar - benar asli msh ada gak ya?? hanya Allah yang maha tahu,

    ReplyDelete
  3. luar biasa, mgkn penghasilan si pengemis cilik itu melebihi penghasilan seorang sarjana..

    ReplyDelete