Saturday, 25 June 2011

Tidak Perlu ke Arab! Harta TKI Ada di Bawah Ranjangnya

Salah satu novel paling berpengaruh di dunia adalah Alchemis yang ditulis oleh Paulo Coelho. Novel yang tidak terlalu tebal ini sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia. Meskipun kecil, novel ini diakui telah mempengaruhi visi banyak orang tentang hidup. Salah satu hal yang penting dalam novel ini adalah pandangan bahwa keinginan akan terwujud pada setiap orang yang benar-benar menginginkannya.

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari Santiago yang melakukan sebuah perjalanan mencari harta karun. Awalnya, pada suatu malam, saat ia tidur di atas dipannya pada sebuah gubuk tua, ia bermimpi bahwa di sebuah tempat di sisi piramida Mesir terkubur emas besar yang bisa menghidupinya hingga sepuluh keturunan mendatang. Karena mimpi ini datang berulang kali, ia yakin ini sebagai pesan dari tuhan. Lantas ia melakukan perjalanan menuju piramida Mesir.

Dalam perjalanan ini ia berjumpa dengan berbagai macam ras, pekerjaan, sifat manusia dan berbagai pandangan alam yang jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungannya selama ini. Dalam perjalanannya, ia juga erhadapan dengan sebuah suku yang masih suka berperang di gurun pasir. Di sana pula ia jatuh cinta pada Fatimah, seorang anggota suku yang hidup berpindah-pindah. Dan yang paling penting adalah, ia berjumpa dengan seorang ahli kimia yang mampu mengubah logam biasa menjadi emas murni. Kemampuan ini telah dibuktikan langsung di hadapan si anak. Pun demikian, si ahli kimia tetap meneguhkan hati si anak dalam mencapai impiannya, mendapatkan harta karun di sisi piramid mesir.

Si anak yang telah menempuh perjalanan jauh, keras dan penuh perjuangan, akhirnya sampai di sisi Piramida mesir. Ia mencocokkan ciri-ciri piramida yang hadir dalam mimpinya dengan piramida yang ada di hadapannya. Setelah memastikan bahwa ia sudah sampai di tempat yang tepat, ia mulai menggali pasir untuk mencapatkan emas yang dicarinya. Saat ia kelelahan melakukan penggalian, ia didatangi oleh sekelompok perampok dan merampoknya. Sebongkah emas yang dia miliki hasil pemberian dari ahli kimia turut dirampok. Perampok menanyakan apa yang ia lakukan. Setelah si anak menjelaskan, perampok itu tertawa terbahak dan mengatakan: "Tahun lalu juga ada yang mengatakan kepadaku kalau di sebuah gubuk tua di Spanyol, dekat sebuah pohon besar yang tua, terdapat harta karun berupa emas permata yang banyak." Si anak terkejut. Rumah yang dikatakan si perampok adalah gubuknya di Spanyol. Ia bergegas pulang, dan mendapatkan emas seperti yang dikatakan si perampok.

***

Cerita ini, menurut saya, relevan dengan apa yang terjadi dengan fenomena TKI saat ini. Para TKI pada dasarnya adalah "anak lelaki" yang bermimpi bahwa di luar negeri sana ada sebuah harta karun yang tertimbun dalam bentangan pasir. Mereka begitu yakin dengan "mimpi" ini setelah melihat beberapa tamannya pulang membawa harta tersebut. Dengan susah payah, mereka berusaha datang ke sana. Sebagian ke Malaysia, sebagian ke Saudi, ke Hongkong, Taiwan, Singapura dan lain sebagainya. Tujuannya sama saja, mewujudkan mimpi mendapatkan "harta karun" di luar negeri sana.

Untuk tujuan ini mereka berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, melintasi benua, dan yang paling berat menghadapi resiko mendapatkan kekerasan dari majikannya. Ruyati, buruh migran dari Indoensia yang dihukum pancung di Saudi beberapa waktu yang lalu adalah satu diantara mereka yang ingin menjemput mimpinya. Di sana ada ratusan dan bahkan ribuan Ruyati yang lain yang juga memiliki niat yang sama. Mereka meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung halaman orang lain. Bekerja, berusaha, berjuang, dan bahkan "berperang" mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan mimpi itu.

Pertanyaannya, apakah harta karun itu ada di luar negeri atau ada di bawah ranjangnya sendiri? Saya adalah orang yang percaya kalau harta karun ada di bawah ranjang sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Coelho dalam novel di atas. Namun harus kita akui pula bahwa harta karun itu tidak bisa diperoleh tanpa sebuah kompetensi, skil dan kemampuan melihat realitas yang ada. "Hartamu ada di mana hatimu ada" kata Coelho dalam novel itu. Dan untuk mendapatkannya harus ada sebuah keinginan kuat. "Jika kau benar-benar menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan bahu mambahu mewujudkan keinginanmu," katanya.

Mungkin, di sinilah peran pemerintah. Menunjukkan bahwa "di bawah ranjang" para TKI terdapat harta karun yang besar, yang bisa menghidupi mereka tujuh turunan. Untuk mendapatkan harta itu, pemerintah harus melatih, belajar, meningkatkan skil, kompetensi, dalam berbagai bidang. Sebab tanpa ini semua, harta karun itu akan diambil orang dan dimanfaatkan untuk kepentingannya. Bahkan bisa jadi harta itu tidak bermanfaat untuk ia sendiri meskipun berasal dari bawah ranjangnya. Pemerintah harus menunjukkan bagaimana harta itu biasa diambil, dan bagaimana harta itu dipelihara agar terus dapat menghidupinya.

No comments:

Post a Comment