Monday, 17 November 2008

Gila

Dalam sebuah acara audisi penyanyi di televisi seorang artis –tepatnya calon artis- menyanyikan sebuah lagu di depan para juri dan penonton di studio. Ia menyanyikan dengan begitu bagus, mengalun, mungkin bagaikan sorang ibu di Aceh bersenandung untuk menidurkan buah hatinya. Suara yang bagus, iringan musik yang sempurna dan penguasaan lagu yang baik menyebabkan ia tampil dengan sempurna. Setelah selesai moderator mempersilakan juri menilainya. Juri pertama mengatakan bahwa ia sangat terkesan dan menyatakan bahwa sang calon –menurutnya- memamng layak jadi penyanyi profesional. Juri yang kedua juga memujinya namun sedikit mengkritik karena sang calon terlalu kaku memegang mikrofon. Sang calon mengucakan terima kasih pada keduanya. Juri yang ketiga begitu terkesan sampai-sampai ia tak mampu berkomentar panjang, lalu ia berkata singkat: “Ga tau deh, pokoknya menurut gue, lu gila, gila, gila!” “Terima kasih!” kata sang calon. “Dibilang “gila” kok terima kasih?” Celutuk teman saya serius menonton.

“Gila” menjadi kata yang ditakutkan, memalukan, merendahkan, namun juga ternyata disukai. Tidak disukai karena gila bisa menimbulkan masalah dalam keluarga, masyarakat dan sebuah komunitas tertentu. Sebuah keluarga akan malu jika mereka mempunyai kerabat atau famili yang gila. Orang sekampung akan mengatakan: “Memang begitu keturunan.” Ini menyebabkan mereka merasa tersisih, merasa tidak dihargai dan diremehkan oleh masyarakat. Maka di kampung-kampung, kalau ada orang gila ia akan dipasung, dibuat sebuah gubuk kecil seperti kandang kambing di tengah kebun. Kakinya dipasung (dimasukkan dalam batang kapas yang diberil lubang) agar ia tidak bisa lari. Setiap waktu makan tiba ia diantarkan makanan secara diam-diam oleh keluarganya agar tidak ada yang tahu kalau mereka punya keluarga yang gila. Mereka merasa hanya dengan begitu harga diri keluarga akan naik dan lebih bermartabat dalam pandangan masyarakat.
Di Darussalam Banda Aceh ada seorang laki-laki yang dicap gila, ia terkenal dengan nama Alu. Rambutnya pirang dan ketiting. Sebagian sudah menyatu dan keras hingga berbentuk bule jok. Ia berpakaian kumuh, badannya hanya ditutupi selembar kain (tikar mushalla yang entah dimana diambilnya) yang sudah sangat kumal karena sudah dipakai bertahun-tahun. Ia begitu bebas, tidur dimana ia suka, berkata apapun yang ia pikirkan, berteriak sekeras apapun ia mau, tidak ada yang peduli, tidak ada yang menghiraukannya. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ia berjalan kemana kaki melangkah. Kalau mau makan ia datangi warung nasi dan cukup berdiri di sana. Penjaual nasi mengerti kalau dia minta makan, maka segera dibungkus dan diberika padanya. Setelah mendapatkan makanan ia baru pergi.
Selain Sialu ada Nek Sioen. Dia disebut si oen karena kalau minta sedekah dia bilang: “Jok si oen!” (kasih saya selembar –uang). Ia mengenakan tarif untuk “sedekah” yang ia minta, yakni “si oen” (selembar uang). Dulu si oen sama dengan Rp.100.- Namun seiring dengan naiknya BBM dan sembako akibat pungli di jalan, sekarang si oen sama dengan Rp. 1000. Kalau anda jumpa lalu memberika uang recehan segenggam pasti ditolak, meskipun jumlahnya banyak. Ia butuh si oen, bukan segenggam. Demikian juga kalau anda kasih uang puluhan ribu, pasti ditolak, sebab dalam pandangannya si oen adalah Rp. 1000.-
Si Alu dan Nek Si on hanya dua diantara orang yang dicap gila. Ada banyak Alu dan Nek sion yang lain yang ada di dunia. “Ajaran” mereka umumnya sama, pertama meminta milik orang lain dengan “ancaman.” Kedua, Suka bicara asal-asalan dan tidak memandang apakah orang peduli dengan ucapannya atau tidak. Ketiga, tidak mengurus diri. Keempat, tidak peduli dengan keluarga dan tempat tinggal. Dan beberapa ciri lain yang mungkin bisa dilekatkan kepada mereka, tergantung masing-masing individu yang melihatnya.
Kita menganggap mereka gila karena dalam pandangan kita, kita adalah manusia normal. Disebut normal karena pikiran kita masih waras, kita mengatakan seuatu yang –lagi-lagi menurut kita- merupakan kebenaran, kita berfikir rasonal, menunjukkan pergaulan yang baik antar individu, menolong orang, mengurus sistem administrasi masyarakat agar mereka hidup aman tenteram dan terartur. Kita berpakaian bersih, berpenampilan sopan. Kalau makan kita bayar dengan harga yang setimpal, kalau meminta bayaran kita buat kuitansi. Kita rajin solat dan beribadah, kita taat hukum danm mematuhi semua aturan. Karena ini semua maka kita disebut manusia normal atau waras. Dan waras –menurut kita- lebih tinggi derajatnya daripada orang gila. Waras menjadikan kita terhormat dan diterima dalam masyarakat kita yang sama-sama menganggap dirinya waras.
Dalam pandangan medis, gila dan waras dibedakan berdasarkan kerja saraf dalam diri manusia. Jika sarafnya berjalan normal, maka ia disebut waras. Kalau sarafnya ada yang terputus atau tidak bekerja dengan baik maka seseorang tidak bisa berfikir sempurna, tingakahnya aneh, sikapnya asal-asalan, maka dia disebut gila. Dalam padangan psikologi seseorang disebut waras kalau ia menjalani hidup dengan “baik-baik saja”, seperti umumnya manusia biasa. Makan tiga kali, di piring yang bersih, cuci tangan, pakai tangan kanan, tidak sambil ngomong. Seseorang dikatakan gila kalau ia berbeda dengan manusia umunya, makan kapan suka, dimana saja (bisa di tanah, di tong sampah, di comberan), dengan tangan mana saja yang mungkin, dengan kondisi tangan bagaimanapun, bisa bersih, kotor berdebu, berlumpur atau bahkan berdarah karena ada beberapa kudis di jari.
Pembagian dan klasifikasi medis dan psikologi begini sebenarnya sangat tidak adail bagi orang yang kita anggap gila. Andai mereka mayoritas mungkin mereka akan demo dan mengusung spanduk, menuntut kita mengubah definisi gila. Lewat perwakilannya mereka akan memberikan butir-butir tuntutan. Pertama mencabut pembedaan natara orang gila dan waras. Kedua memberikan kebebasan kepada mereka untuk hidup bebas, tidak dipasung dalam gubuk, tidak dikurung dalam rumah sakit. Ketiga, mereka menuntut agar dicabut steriotip yang menyatakan mereka makhluk nomor dua dan berada selevel lebih rendah dari manusia lainnya (yang dianggap normal).
Tuntutan mereka tentunya tidak akan kita penuhi sebab kita menganggap mereka gila dan kita normal. Memenuhi tuntutan mereka hitam di atas putih berarti kita telah ikut jadi gila. Itu sangat memalukan. Apa kata dunia nantinya? Bagaimana orang akan melihatnya? Apa kata Amerika? “Idih..malu-maluin”.
Namun demikian sering kali kita tidak konsisten. Mengakui hitam di atas putih kita tidak mau, namun pada hakiktanya, sikap kita, hati kita, jiwa dan raga kita ingin –dan bahkan- mengikuti tuntutan itu dan melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebenarnya juga memiliki pola pikir dan pola sikap yang sama dengan mereka, namun kita malu mengakuinya karena takut dengan penilaian orang. Padahal kalau mau jujur jiwa si Alu dan jiwa Nek Sioen ada pada semua kita.
Di sebuah meja kantor berkas-berkas bertumpuk tidak diurus. Setiap pemiliknya datang dan menanyakan, sang pemilik meja mengatakan: “Tunggu Pak, minggu depan kembali lagi.” Namun setelah minggu depan pemilik surat datang, kembali kalimat yang sama terdengar lagi, dan demikian juga minggu-minggu selanjutnya. Solusinya sebenarnya gampang saja. Pembawa surat menyuguhkan sesuatu dalam amplop dari balik meja. Kalau sudah demikian, serta merta jawaban pemilik meja akan berubah: “Tunggu sebentar Pak, silakan duduk. Mau minum apa?” dan 15 menit kemudian urusan selesai, meskipun dalam berkas kita ada beberapa persyaratan yang tidak kita penuhi.
Di sebuah ruang nun jauh di sana seorang laki-laki paruh baya nampak sibuk menyusun strategi. Ia memperkirakan semua kemungkinan yang akan dihadapinya dengan seksama, baik secara matematis maupun mistis. Ia mebicarakan dengan bawahannya segala kemungkinan cara untuk menghadapi masalah. Ia lupa pulang ke rumah, tempat tidurnya sofa mobil, tempat mandinya toilet masjid, tempat makannya warung kopi. Ia punya ambisi untuk mendapatkan jabatan dan bekerja keras memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Rumah, anak dan istri tidak pernah dipedulikannya.
Di sebuah jalanan yang agak sepi seorang anak muda distop seseorang yang berseragam karena helmnya sedikit retak. Ia diinterogasi lalu di kenakan “sedekah” wajib. Tidak boleh kurang, minta kurang berarti membangkang, membangkang harus didenda, dan artinya “sedekahnya” akan dinaikkan lagi. Akhirnya sang pemuda terpaksa membayar. Orang yang berseragam ini dianggap telah menegakkan hukum dan menambah mambantu negara mendapatan pengasilannya.
Di sebuah gedung bertingkat orang-orang yang merasa dirinya mewakili rakyat bicara keras dan pedas. Dengan semangat mebara ia ngomong, dengan suara keras ia berteriak, dengan nada tegas ia menerima atau membantah sesuatu. Namun rakyat yang diwakilinya tak pernah mengetahui apa yang mereka bicarakan, rakyat tak mengerti apa yang mereka perjuangkan.
Dari realita-realita di atas, apa bedanya mereka dengan Sialu dan Nek Sioen? Penjual nasi dan pembawa proposal harus mengerti bahwa orang dihadapanya sama-sama membutuhkan “sesuatu”. Namun karena orang di kantor berpakaian bersih, punya badge nama, punya Nip, rambutnya disisir rapi, maka ia disebut normal. Sedangkan Si Alu yang kumuh dan jorok dianggap gila. Orang gila jabatan tak punya tempat tinggal, tidak merindukan istri dan anak, tidak menginginkan berkumpul dengan keluarga, sama saja dengan Si Mae, yang setiap hari nongkrong di trotoar, makan di tong sampah, mandi dalam guyuran hujan. Namun karena ia tidak pakai sepatu mengkilat dan baju batik maka ia disebut gila. Yang meminta sedekah wajib kepada siapapun yang ditemuinya di jalan sama aja dengan Nek Sioen. Namun yang di jalan raya tidak dianggap gila karena ia pakai seragam, pakai topi, pakai senjata yang diakui negara. Sementara Nek Sioen pakai pakaian kumal, senjatnya kayu lapuk, topinya kain kumuh. Yang berteriak di gedung sama saja dengan Si Man, bicara sendiri, blak-blakan, tidak konsisten. Mereka tidak ada yang menghiraukan, tidak ada yang peduli. Ia berteriak atau diam orang tepap saja begitu. Namun karena mereka pakai dasi, naik innova, pakai jas, pakai lencana hitam necis, sepatunya mengkilat, maka mereka disebut normal dan Si Man disebut gila.
Semakin hari jenis gila macam ini semakin banyak. Tanpa kita sadar mereka mulai menyusup ke segala lini kehidupan, bahkan masuk ke rumah tangga dan sekolah-sekolah. Ini menyebabkan hanya ada beda sedikit antara yang menganggap diri waras dengan mereka yang kita anggap gila. Dimana-mana ada orang gila, namun mereka berpenampilan waras dan normal. Demikian juga di mana-mana banyak orang normal, namun mereka bertindak gila. Sehingga gila atau waras tidak lagi ditentukan berdasarkan saraf, namun berdasarkan pakaian. Semakin bersih pakaian anda maka anda akan semakin waras, seberapapun kesalahan ke keabnormalan yang anda lakukan. Namun jika anda berpakaian jorok, kumuh maka anda akan dianggap gila, seberapapun benar anda melakukan sesuatu.
Mungkin, suatu saat penyakit ini akan terus menyebar dan kita benar-benar tidak bisa bedakan antara orang gila dan orang waras. Bahkan kita akan mulai bangga dengan kegilaan. Jika ada orang yang mengatakan “Lu gila!” maka dengan bangga dan senang kita berkata: “Terima kasih.” Na’uzubillah.


Saturday, 8 November 2008

Dekontruksi Sejarah dan Sastra Aceh Klasik

Kehidupan sebuah bangsa amat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakatnya memiliki kesadaran sejarah akan bangsanya. Bangsa yang besar adalah mereka yang mau belajar dari masa lalu, mengambil manfaat dari kesuksesan dan tidak mengulangi kesalahan. Dengan demikian sebuah bangsa akan berjalan ke arah yang lebih maju dan membangun peradaban semakin tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Melihat sejarahnya, Aceh merupakan sebuah bangsa dan memiliki kedaulatan dan kemandirian, mengurus rumah tangga sendiri dan mampu membangun kerja sama dan hubungan dengan bangsa lain. Inggris, Turki, Spanyol dan Belanda meruakan beberapa negara yang pernah menjalin kerja sama dengan Kesultanan Aceh masa lalu. Hubungan dengan bangsa lain bukan hanya dalam bidang ekonomi, namun juga dalam bidang politik, agama dan ilmu pengetahuan, persenjataan dan lainnya. Kekuasaan yang luas dan sistem pemerintahan yang sudah teratur semakin memungkinkan Aceh tumbuh dan berkembang menjadi sebuah bangsa.

Kemajuan Aceh dalam bidang politik juga diikuti dengan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama. Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili merupakan empat nama yang menjadi icon perkembangan pengetahuan agama di Aceh masa lalu. Berkat usaha Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani, maka bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan di Nusantara yang kini menjadi bahasa Nasional. Mereka menggunakan bahasa Melayu dalam karya puisi dan prosa yang mereka buat, sehingga sedikit demi sedikit bahasa tersebut berkembang di seluruh Indonesia. Peran yang sama juga dimainkan oleh Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili yang telah mewariskan pengetahuan agama untuk umat Islam dewasa ini. Bahkan banyak informasi sejarah Aceh kita ketahui dari “ensiklopedi” Bustan al-Salatin yang ditulis oleh Ar-Raniry.

Pudarnya Kesadaran
Dewasa ini banyak anggota masyarakat Aceh yang tidak mengenal dan merasa asing dengan sejarah yang benar mengani daerahnya sendiri. Demikian juga banyak kaum terpelajar Aceh lebih mengenal Syekh Siti Jenar daripada Hamzah Fansuri. Padahal kalau dilihat dari realitas sejarah, Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan tulisan sendiri dan tidak mendeskripsikan dengan jelas konsepsi-konsepsi beragamanya. Dilain pihak, Hamzah Fansuri, memiliki karya sendiri, terstruktur dalam prosa dan puisi, berperan dalam masyarakat dan Kesultanan Aceh, akan tetapi kurang dikenal oleh masyarakta Aceh sendiri. Ini terlihat dari minimnya sastrawan dan akademisi Aceh yang mengangkat kembali pemikiran dan ajaran-ajaran yang telah dikemukakan oleh Hamzah Fansuri dalam kehidupan beragama dan dunia sastra Aceh modern. Demikian juga halnya dengan kebesaran Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry dan Abdurrauf as-Singkili.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal masalah sejarah Aceh. Dilihat dari realitas keilmuan saat ini, kebanyakan sejarah Aceh ditulis oleh sarjana asing. Selain memiliki keunggulan metodologi, mereka juga memiliki akses yang mudah untuk mendapakan data dan manuskrip peninggalan sejarah Aceh masa lalu. Catatan dan bukti kebesaran Aceh masa lalu, kini tersimpan di Museum Negeri Belanda, Inggris, Rusia dan Malaisya. Hanya sedikit tersisa di Museum Negeri Aceh dan beberapa Museum dan Pustaka Pribadi di Aceh. Apalagi catatan mengenai sejarah Aceh juga dilakukan oleh sarjana dan penjelajah asing yang sempat singgah dan menyaksikan perkembangan Aceh masa lalu.
Dengan kenyataan ini studi terhadap Aceh dapat saja dilakukan meskipun tidak pergi ke Aceh.

Kondisi lain yang memprihatinkan adalah kajian-kajian budaya yang transformatif dan minim sehingga budaya Aceh seolah tidak relevan untuk kontek perkembangan modern. Hal ini menyebabkan salah pandang mengenai masyarakat dan struktur budaya Aceh, dan salah pula dalam menafsirkan sistem sosial yang berkembang di Aceh. Salah satu contoh adalah masalah gender. Beberapa gerakan perempuan –termasuk organisasi perempaun di pemerintahan- tidak berusaha menggali konsep hubungan dan relasi gender yang mengakar dalam masyarakat Aceh. Kebanyakan konsep yang dibawa justru konsep impor yang kadang kala tidak sesuai dengan kultur keacehan. Konsepsi budaya yang mandiri dan berakar dalam masyarakat juga ada dalam masalah child protection. Konsepsi perlindungan berbasis kawoem dalam budaya Aceh sebenarnya menjadi dasar yang kuat bagi permasalahan sosial mengani pengemis dan anak terlantar.

Melihat kenyataan di atas, sungguh ironis jika selama ini pemerintah, akademisi, bdan dan pihak terkait di Aceh lainnya tidak memperhatikan masalah sejarah dan budaya Aceh. Meskipun kita sadar kalau setiap orang, darimana dan berbangsa apapun ia berhak menulis masalah Aceh, namun sudah sewajarnya dan seharusnya pula, sejarah Aceh juga ditulis oleh orang Aceh sendiri yang memiliki keterikatan budaya dan mewarisi prinsip-prinsip budaya yang tidak ditulis dalam catatan sejarah, namun dipraktekkan turun temurun dalam masyarakat. Dengan demikian tentunya catatan dan kajian yang akan dilakukan oleh orang Aceh akan lebih hidup dan sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat Aceh sendiri. Dan akhirnya akan lebih memberikan spirit untuk masyarakat Aceh dalam membangun kehidupan masa kininya.

Kontruksi sejarah dan Sastra Aceh klasik semakin nniscaya dilakuakn untuk Aceh kontemporer dengan beberapa pertimbangan. Pertama, keinginan masyarakat Aceh untuk mengulang kesuksesan masa lalu dalam pemerintahan kesultanan Aceh dalam konteks kehidupan modern. Hal ini hanya dapat diakukan dengan memiliki konstruksi yang jelas mengenai Aceh masa lalu. Dengan demikian akan ditemukan struktur dan pola yang dapat dipakai dan digunakan untuk konteks pemerintahan saat ini. Kedua, keinginan masyarakat untuk dapat menerapkan ajaran Islam sebagaimana dalam sejarah Aceh. Hal ini juga hanya dapat dilakukan dengan adanya sebuah paparan yang jelas mengenai sejarah agama dia ceh masa lalu yang tertulis dalam karya-karya sastra, prosa dan buku ilmiah agama yang dtulis oleh ulama Aceh.

Selama ini, banyak pihak –yang umumnya dari luar- sadar akan kondisi ini dan berusaha melakukan penyelematan naskah dan pengaturan sumber naskah sejarah Aceh. Sementara masyarakat Aceh dan tidak memberikan perhatian cukup dalam masalah ini. Hal ini terlihat kurungnya perhatian pemerintah untuk menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah yang ada di Aceh, dan perhatian yang kurang dalam uapya penyelamatan naskah klasik. Dikhawatirkan, kalau masalah ini tidak diperhatikan maka khazanah klasik Aceh tersebut akan hancur dan leyap, hilang ditelan zaman. Bhakan pasca Ali Hasjmy, Ibrahim Alfian, Isa Sulaiman, Talsya, Rusdi Sufi, Zakaria Ahmad, Amirul Hadi, maka tidak ada orang lain yang melakukan kajian serius mengenai sejarah dan budaya Aceh masa lalu sebagai bahan dalam pengembangan budaya Aceh masa depan. Sehingga cerita mengenai kebesaran Aceh masa lalu dalam bidang politik dan agama yang berkembang dalam dalam masyarakat Aceh saat ini akan lebih banyak bersifat fiktif dan dongeng daripada kenyataan sesungguhnya yang diambil dari kajian akademik yang serius. Kalau ini terjadi, maka bukannya manfaat yang dapat diperoleh, namun malah kehinaan dan rasa malu karena kita tidak mengerti dengan sejarah masa lalu kita sendiri.

Beberapa Usaha
Melihat realitass di atas, maka seharusnya Pemerintah Daerah Provinsi NAD, DPRA dan kalangan akademisi di Aceh untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka “penyelamatkan” manuskrip dan catatan sejarah Aceh masa lalu, melakukan penelitian dan penulisan ulang, menafsirkannya untuk konteks kehidupan modern, dengan beberapa upaya:

Selain itu diperlakukan pula untuk melakukan inventarisasi dan membuat duplikasi terhadap berbagai peninggalan sejarah Aceh, baik berupa manuskrip maupun bahan arkeologis yang ada di berbagai belahan dunia dan “membawa pulang” ke Aceh, sehingga memudahkan bagi sarja dan mahasiswa Aceh untuk mengkaji peninggalan sejarah mereka dalam usaha merekonstruksi sejarah Aceh masa lalu untuk pelajaran bagi pembangunan Aceh masa depan.

Pemerintah dan berbagai pihak yang berwewenang lainnya juga perlu melakukan usaha-usaha yang mendorong dan memotivasi masyarakat untuk mencintai dan mengerti sejarah Aceh dan menyari kebesarannya, sehingga memotivasi mereka untuk terus berkarya dan mendalami sejarah. Hal ini dapat dilakukan dengan, misalnya, melakukan peringatan dan pesta budaya yang merujuk pada sastrawan Aceh masa lalu, beasiswa studi sejarah Aceh, penerbitan manuskrip budaya dan sejarah, seminar dan diskusi sejarah dan sastra Aceh masa lalu.

Dan terakhir melakukan upaya inventarisasi dan pemugaran cagar budaya Aceh yang tersebar di berbagai wilayah Aceh yang selama ini terkesan diabaikan dan tidak diperhatikan. Beberapa cagar budaya tidak diperhatikan dan tidak diurus dengan benar, misalnya Benteng Inong Balee di Krueng Raya Aceh Besar, dan Kuburan-kuburan lama di Singkil dan Aceh Utara.

Thursday, 6 November 2008

Antara Caleg dan Salek

Ada dua kata yang hampir sama, caleg dan salek. Calek adalah akronim dari calon anggota legislatif. Mereka akan bertarung dalam pemilihan umum 2009 mendatang untuk dapat duduk di bangku perlemen, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. Sementara salek adalah bahasa Aceh untuk Salik, yakni seorang atau segolongan orang yang menempuh jalan sipiritualitas tasawuf baik melalui tarekat atau tidak. Meskipun kedua kata in hampir sama, namun sangat berbeda prinsip hidup dan aktifitas sehariannya.

Sekarang memnag zamannya calegholic, atau dalam bahasa Aceh disebut pungo caleg. Dari berbagai kelompok masyarakat ingin menjadi caleg. Pedagang, pegawai, pensiunan, kontraktor, bahkan petani kecil yang selama ini bekerja saban hari dan jarang melihat “dunia” berniat jadi caleg. Menterengnya kehidupan abu waki yang selama ini duduk di kursi empuk kantor dewan telah memancing hayalan banyak orang untuk memiliki pengalaman yang sama. Duduk, rapat sambil mendengkur, jalan-jalan difasilitasi, berleha-leha ke luar negeri dibiayai, meskipun rumah sudah ada bea sewa rumah tetap diberikan, fasilitas lengkap, keamanan terjamin dan sebagainya. Bagi orang kecil, tentu saja ini adalah potongan surga yang hadir ke bumi.

Berbeda dengan semangat menjadi caleg, menjadi salek bukan sebuah pilihan menggiurkan. Salek adalah orang yang memilih sebuah jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seorang salek selalu membayangkan kenikmatan abadi dalam perjumpaan dengan Allah. Kebahagaian di alam akhirat, pada hidup setelah mati. Biarkan di dunia tidak ada fasilitas, biarkan di dunia tidak ada bea sewa rumah mewah, tidak ada pengawas, tidak ada insentif-insentif khusus yang dapat menjadikan pundi-pundi rekening bank membengkak, sebab yang hakiki adalah apa yang diperoleh di akhirat kelak. Makanya, menjadi salek berarti siap menderita.

Hayalan menjadi anggota dewan, menjadikan caleg melakukan apa saja demi ambisinya. Seorang caleg rela mengeluarkan uang yang banyak, mejual harta benda, menggadaikan simpanan, demi kampanye dirinya. Seorang caleg yang ambisisus akan melakukan apa saja agar ia bisa menggapai citanya, duduk di kursi empuk sebagai anggota dewan. Ia berfikir bahwa uang yang dikeluarkannya untuk kampanye tidaklah seberapa dibandingkan dengan apa yang akan diperolehnya kelak. Demikian juga simpanan yang digadaikan akan terbayar berlipat-lipat andai nanti ia benar-benar menjadi anggota dewan.

Bagaimana tidak? Seorang anggoat dewan akan mendapatkan gaji yang besar, dan ini diatur oleh negara. Di luar gaji seorang anggota dewan akan mendapatkan berbagai biaya tambahan atas apa yang dilakukannya. Meskipun bulanan ia mendapatkan gaji, jika ia bersidang, pergi “menyerap” aspirasi, berdialog dan memabantu masyarakat, negara harus membayar lagi. Belum lagi fee dari proyek-proyek yang dimenangangkan, program yang di-gol-kan dari kantor dan lembaga. Sangat banyak sumber materi yang nanati pasti akan menggantikan apa yang telah dikeluarkannya kini. Jadi, kenapa takut dan ragu “menanam” modal?

Tentu saja perilaku demikian amat tercela dalam kacamata seorang salek. Sebab bagi salek, segala sesuatu dilakukan demi Allah. Manusia boleh berjihad, boleh berusaha sejauh ia masih dalam bingkai yang digariskan Allah. Harta yang ada padanya akan diberikan demi memperbaiki nasib orang lain dengan shadaqah dan zakat. Investasinya bukan untuk mendapatkan keuntungan besar di ujung perjalanannya, namun karena cintanya kepada Allah semata. Saat Allah mengatakan menafkahkan harta merupakan jalan keimanan, maka dengan tanpa memperhitungkan untung rugi, seorang salek akan menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan memberikan kepada orang yang membutuhkannya. Apakah ini akan menjadikannya terkenal? Seorang salek tidak akan peduli. Bahkan mereka berprinsip apa ynga disumbangkan oleh tangan kanan tidak akan diketahui oleh tangan kiri.

Ini semua dilakukan dengan iklas dan sungguh-sungguh. Infestasi dijalan Allah, jauh lebih berharga daripada menghamburkan uang untuk kampanye di media, mencetak sapanduk, mebayar space di koran, mensablon baju dan lainnya. Seorang salek akan menganggap ini semua pekerjaan sia-sia yang dilakukan karena riya dan kesombongan. Orang yang demikian pasti akan mendapatkan kerugian di kemudian hari. Bisa saja ia mendapatkan kembali apa yang ia peroleh sebelumnya di dunia, namun dari sisi spiritual ia telah menggadaikan nuraninya demi kepentingan nafsu setan yang telah menang dan bertahta di hatinya.

Seorang caleg, demi popularitasnya dan menarik simpati orang mau mengatakan apa saja demi pendengarnya senang dan memilihnya. Tidak ada persoalan baginya apakah apa yang ia sampaikan benar atau tidak. Tidak peduli apakah pembicaranaanya sesuai dengan fakta atau manipulasi semata, semunya dikatakan. Baginya yang penting orang mendengarkan, membuat orang berhayal, dan selalu teringat padanya. Ia menjanjikan keindahan, kesuksesan dan kemudahan bagi masyarakat. Pendidikan gratis, kesehatan murah, subsidi rumah dan lain sebagainya. Dia tahu bahwa itu tidak akan mampu dilakukannya. Namun apa boleh buat, itu adalah isue paling disukai oleh masyarakat. Karenanya, tanpa malu-malu itu pula yang ia sampaikan. Dan nanti, dalam sepuluh detik di saat dalam bilik pencepblosan, orang-orang akan mencoblos namanya. Itu amat sangat berarti baginya dibandingkan dengan uang dan kekayaan lain yang ia miliki.

Apa yang dilakukan caleg tidak lain adalah pengulangan dari apa yang dilakukan oleh anggota dewan yang ada saat ini pada masa lalu, saat mereka juga mejadi caleg. Dan terbukti, sekarang bapak wakil yang terhormat lebih suka melakukan hal-hal yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat malah menguntungkan pribadi, golongan, atau pihak yang sanggup memberikan mereka “sumbangan” agar aturan daerah memihak padanya. Tidak ada yang ingat dengan apa yang dulu pernah mereka katakan. Tidak ada yang peduli dengan cibiran dan sindiran orang. Ketika punggung sudah bersandar dikursi empuk, lelap, lalu lupa segala apa yang pernah disampaikan pada masa kampanye. Dan ini pula yang diwariskan pada caleg-caleg yang bermimpi menjadi anggota dewan pada masa yang lain.

Berbeda halnya dengan seorang salek. Mereka adalah orang yang ihsan, yakni yang merasa melihat Allah dalam hidupnya atau merasa dilihat oleh Allah. Karena selalu dalam pengawasan Allah, maka ia tidak akan mengatakan apa yang tidak mungkin dilakukannya. Seorang salek hanya mengatakan yang benar, yang bersumber dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Seorang salek hanya menyampaikan apa yang menjadikan orang akan selamat hidup di dunia dan selamat pula meniti hidup di akhirat. Seorang salek tidak akan berjanji jika ia tidak akan mempu menepatinya. Ia lebih suka diam daripada menyampaikan janji palsu. Sebab janji palsu akan menjadi belenggu dalam hatinya dan menutupi bening jiwanya. Ia akan terhalang dalam menyebut dan berhubungan dengan Allah.

Seorang salek menjaga lidah, sebab lidah adalah pedang. Salah-salah menggunakan ia akan melukai banyak orang dan melnghancurkan diri sendiri. Setiap kata dusta yang ia ungkapkan akan menjadi noda hitam dalam sanubarinya. Lama kelamaan hatinya akan penuh noda dan gelap. Ia tidak mampu lagi memancarkan cahaya cinta dan sinar kebenaran. Pada saat itu sama saja baginya dusta dan kebenaran. Sementara setiap kebenaran yang ia kemukakan akan menjadi pembersih hati. Lama-kelamaan hatinya menjadi benaing dan mengkilat. Dari sana terpancar cahaya yang menerangi manusia, menunjukkan pada jalan Tuhan dan keselamatan.

Yang amat merisaukan hati, seorang caleg beribadah karena ingin membangun persepsi bahwa ia adalah hamba Allah yang taat. Ia sahalat agar orang tahu bahwa ia adalah orang yang menjaga shalat. Ia berzakat agar orang tahu bahwa ia adalah hama yang iklas dan penuh perhatian pada sesama manusia. Demikian juga ibadah lainnya. Yang ia inginkan adalah masyarakat tahu bahwa ia adalah ahli ibadah (‘abid). Demikian dalam budalan Ramadahan, banyak caleg yang shalat tarawih keliling dari satu masjid ke masjid yang lain. Di satu sisi sangat bagus, ia sudah bertaubat dan dekat dengan Allah. Sayangnya banyak di antara mereka melaksanakannya demi kepentingan politik. Semakin banyak masjid dan meunasah yang dikunjungi, semakin banyak pula orang yang akan mengenalnya. Orang yang melihatnya mungkin akan menyampaikan kepada orang lain, mengabarkan ia sebagai seorang yang salih dan khusyu’ ibadahnya. Mungkin orang akan terpengaruh, dan akan memilihnya pada saat pemilihan umum nanti.

Nah, inilah perilaku yang amat dicela oleh seorang salek. Seharusnya beribadah karena Allah. Bertafakkur mengingatnya. Boleh saja berkeliling shalat tarawih, bukan ingin mempamerkan kesalihan namun untuk mendakwahkan kebenaran. Seorang salik bahkan menangis karena merasa ibadahnya yang kurang, zikirnya yang lalai, shadaqahnya yang sedikit, baktinya yang suput. Ia selalu beribadah karena cinta kepada Allah, mengharap belas kasih-Nya, memimpikan anugerah, rahmat dan kemuliaan dari-Nya.
Andai saja caleg adalah salek!


Tuesday, 4 November 2008

Belajar Semangat Dari Sejarah

Sungguh menyedihkan, sejarah dan budaya ‘Nanggroe’ kita ada di tangan orang lain. Sarjana-sarjana asing mendominasi penelitian masalah budaya Aceh. Mereka menulis hampir setiap jengkal sejarah Aceh, dalam berbagai bidang. Oleh sebab itu bukanlah suatu yang mengherankan kalau mau belajar nilai-ilai budaya Aceh masa lalu, kita harus ke Belanda, harus ke Perancis, ke Portugal, ke Inggris, ke Malaisya dan negara-negara asing lainnya. Padahal kita akan belajar tentang diri kita sendiri, belajar bagaimana budaya kita masa lampau telah membawa kemegahan dan kemajuan bagi masyarakat. Namun terpakasa kita ke luar negeri, sebab itu semua hanya dimiliki oleh orang lain, dikerjakan oleh orang asing. Kita mau mengetahui kerajaan Iskandar Muda, maka harus merujuk karya Denis Lombard. Ia dengan detail menjelaskan bagaimana kehidupan sosial dan kerajaan Aceh di Masa Iskandar Muda. Ia sampai kepada kesimpulan bahwa kerajaan Aceh masa Iskandar Muda bukanlah mitos dan hayalan yang dibesar-besarkan, namun fakta berbicara bahwa Iskandar Muda dengan kerajaan Aceh Darussalam benar-benar sebuah bangsa berdaulat diantara bangsa-bangsa lain di dunia. Demikian juga Antony Raid yang menjelaskan dengan cara yang amat apik mengenai sejarah konflik di Aceh. Mereka mengkaji masyarakat kita budaya kita, fenomena hidup kita yang kita lakoni sehari-hari.

Demikian halnya kalau kita mau belajar budaya Aceh masa lalu, maka kita mesti baca buku Snouck Hurgronje, The Achehnese. Dia yang mampu dengan menjelaskan detai dan mampu menggali akar budaya masyarakat Aceh. Ia menjelaskan Daboih bukan hanya dari fenomenanya, namun sampai pada sya’ie dan asal usulnya. Ia menjelaskan bagaimana Rapa’i begitu berkembang di Aceh sebagai sampai menjadi keseniah biasa padahal sebelumnya ia adalah berasal tarekat sufi. Kita juga hanya dapat menyaksikan bagaimana Drawes dan Brakel menjelaskan datail hidup dan sya’ir-sy’air Hamzah Fansuri, menghubungkannya dengan karya sastra sufi Persia dan Timur Tengah. Demikian juga Nieuwenhuijze mendata dan meneliti karya-karya Syamsuddin as-Sumatrani, hubungan dia dengan Hamzah Fansuri, posisi dia dalam kekuasaan Iskandar Muda dan pengaruh ajarannya pada rakyat Aceh. Semua itu ada di tangan sarjana luar. Mereka bahkan lebih tahu tentang masyarakat kita dari pada kita sendiri. Kita menjelaskan masyarakat kita dengan merujuk pada tulisan mereka. Sungguh ironis!!

Saya tidak memaksudkan bahwa kajian yang telah dilakukan oleh orang luar salah, keliru atau kurang bijaksana. Pusn saya tidak anti –apalagi menolak- hasil yang telah mereka kemukakan dari studi jujur yang merka lakukan. Namun dari sisi kemandirian bangsa, menurut saya, hal itu semua adalah suatu yang memalukan. Tuhan telah memberikan kita kapasitas isi kepala yang sama dengan orang luar. Tuhan telah menciptakan setiap insan memiliki jumlah sel dan potensi otak yang sama. Bahkan di tanah kita, Tuhan telah menumbuhkan tanaman yang baik, mengalirkan sungai yang banyak, memberikan gas, semen, minyak, emas agara kita dapat hidup dan berkembang menjadi sebuah bangsa yang maju. Kenapa kita tidak memanfaatkannya?

Sadar Sejarah
Saya kira, masyarakat Aceh harus kembali sadar akan kebesaran sejarahnya. Sadar dan mengerti sejarah bukan berarti harus mengambil dan mengikuti sejarah yang ada selama ini bulat-bulat tanpa pertimbangan. Sadar sejarah bukan pula ingin bernostalgia yang membuat kita terbuai dengan romantisme sejarah. Namun dalam setiap sejarah selalu ada pelajaran. Bukalah salah satu isi pokok al-Qur’an adalah sejarah? Dan berkali-kali Allah tegaskan bahwa sejarah adalah pelajaran bagi manusia. Fir’un dengan kesombongannya ia binasa. Namrut dengan keangkuhannya ia binasa. Kaum Nabi Nuh, dengan keingkarannya mereka punah, dan masih banyak cerita lain dalam al-Qur'an yang semuanya diharapkan menjadi I’tibar dalam hidupan.

Dalam kasus Aceh, maka sejarah Aceh masa lalu haruslah menjadi i’tibar bagi kita untuk kehidupan yang lebih baik. Namun berapa orang yang mengerti sejarah itu? Berapa orang yang faham akan nilai kebenaran sejarah? Dan yang lebih pahit, berapa orang yang mengerti dan mampu menjelaskan secara objektif sejarah Aceh kepada generasi berikutnya? Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari tangan. Ada yang mau mengerti namun tidak tersedia cara untuk mendapatkan kebenaran sejarah tersebut. Ada pula yang punya fasilitas untuk dapat mengetahui, namun ia tidak memanfaatkannya.

Maka tidak heran kalau saat ini, mungkin, generasi muda Aceh lebih faham Colombus menemukan benua Amerika daripada Islamisasi Pasai. Remaja Aceh lebih faham Cerita Elizabeth dan Pangeran William dari pada Iskandar Muda dan Putro Phang. Bahkan banyak mahasiswa yang saya temui mengerti dengan baik teologi Pembebasan Gustavo Guiterez dari Amerika Latin daripada Tasawuf Pembebasan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, padahal secara konseptual tidak jauh berbeda.
Kondisi ini sungguh riskan. Baru tiga abad berlalu kita mulai kehilangan jejak sejarah bangsa kita sendiri. Sedikit demi sedikit bukti sejarah musnah, nilai sejarah hilang, dokumentasi sejarah dibawa orang ke luar. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, kita akan berdiri di atas sebuah kerangka sejarah yang rapuh. Kita nampak hebat, namun yakinah bahwa itu akan bertahan dua atau tiga priode saja, lalu akan rubuh kembali. Dan kemudian kita akan kembali menjadi bangsa yang rendah.

Gerakan Intelektual
Saya pikir sekarang saatnya melakukan gerakan intelektual untuk sadar diri, sadar akan kebesaran bangsa, sadar akan kebesaran Islam dan Aceh masa lalu. Hal ini, seperti saya kemukakan di atas, bukan untuk menghayal dan terbuai, namun untuk memicu semangat bahwa kita adalah bangsa besar, bangsa hebat, bangsa yang pernah menjadi perhatian dunia karena kemajuan peradaban. Bukan malah sebaliknya seperti kini, kita dikenal karena mengemis, lemah, meminta-minta bantuan asing untuk memberdayakan diri. Kita menghiba, melaporkan berbagai kelemahan dan penderitaan kita kepada siapapun yang datang dengan maksud agar mereka iba, prihatin lalu mengulurkan tangan memberi bantuan.

Kita harus sadar diri dan berdikari. Kesadaran ini perlu dipupuk sejak dini dan dalam berbagai sektor. Di lingkungan mahasiswa misalnya, senior mahasiswa tidak perlu meng-ospek-i adik leting dengan peloncoan, dengan mepermalukan dan sok hebat sebagai senior. Demikian juga training organisasi, tidak perlu bentak-bentak, lari tunggang langgang, masuk hutan keluar hutan, masuk got, tidur di kamar mayat tanpa maksud edukasi dan hanya mengedepankan senioritas. Itu permainan klasik yang tidak berarti lagi sekarang. Sekarang saatnya membangun sebuah komunitas dengan nyali intelektualisme tinggi. Perkenalkan kepada mahasiswa baru bagaimana mengakses internet, bagaimana mendapatkan pelayanan dan memanfaatkan pustaka, bagaimana mengakses kerjasama antar lembaga, bagaimana membuat proposal penelitian, bagaimana membuat tulisan ilmiah, membuat tulisan di jurnal dan lain sebagainya. 

Jangan seperti selama ini, senior mahasiswa menunjukkan kegarangan dan kehebatan ototnya di hadapan mahasiswa baru. Ia menyembunyikan otaknya dibalik topi senior. (Undang-undang Senior, Pasal satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, kalau senior salah lihat pasal satu). Dan ini akhirnya menjadi lingkaran setan yang tiada henti, yang diikuti kembali oleh generasi berikutnya. Cukup IPDN!
Dunia akademik harus bangun dan mengambil jalan baru. Dosen-dosen meneliti dengan jujur dan penuh dedikasi. Bukan hanya melengkapkan syarat penelitian saja untuk mengambil uang di lembaga penelitian. Namanya penelitian lapangan, namun realisasinya duduk dibelakang meja, mendapatkan data di halaman koran, dan hayalan, mengolahnya dengan kalkulator hp. Namanya penelitian pustaka, namun rujukan tulisan populer, buku populer, “katanya”, “menurut cerita”, “kuat dugaan,” tanpa mencoba menelusuri berbagai kajian yang ada sebelumnya. Akhir priode serahkan laporan ke lembaga yang mendanai, ambil uang, selesai. Kemana hasil penelitian digunakan? Siapa yang memanfaatkannya? Paling cecak dan tikus dibalik lemari besi.
Demikian juga dengan lembanga-lembaga lain, jangan hanya assessment, lalu menggunakannya sebagai komoditi untuk mendapatkan uang. Kemiskinan didata bukan untuk perbaikan nasib si miskin, namun untuk mendapatkan simpati donor mencurahkan dana kepada lembaga yang kemudian dibagi-bagikan sebagai hadiah istimewa. Laporan akhir? “Ah…itu gampang…bisa diatur.” Lembaga harus benar-benar menjadi lembaga yang mengerti dan menjadi rujukan dalam mengambil kebijakan. Lembaga yang bergerak dalam bidang pertanian misalnya, harus memiliki data kongkrit mengenai petani, bukan untuk menjual mereka, namun untuk mendapatkan peta bagaimana meningkatkan taraf kehidupan petani. Demikian juga lembaya yang bergerak dalam bidang perempuan, anak dan gender. Bukan hanya megungkapkan bagaimana penderitaan perempuan sebagai cerita pilu, namun bagaimana sekali ungkap benar-benar efektif menjadikan mereka sebagai wanita yang terberdaya. Jangan jadikan cerita mereka sebagai novel lisan yang dijual di donor untuk mendapatkan uang hak cipta.

Penelitian dan Marwah
Ke depan, suatu saat, kita berharap, setiap orang yang mau meneliti tentang Aceh, maka sumber awalnya adalah studi yang telah diilakukan oleh orang Aceh sendiri. Tentu hal ini tidak mungkin terwujud tanpa metodologi riset yang kuat. Hasil penelitian ecek-ecek akan dibuang ke tong sampah atau dijadikan bungkus ikan asin di Pasar Aceh. Hanya penelitian yang baik, memeiliki kerangka konseptual yang jelas, sistematis, dan dari sisi metodologi memiliki dasar filosofis yang jelas saja yang akan menjadi referensi akademik dan dalam menentukan kebijakan pada dimensi yang lebih luas. Orang akan menjadikan itu sebagai sebuah kebenaran awal dan menjadi rujuakan akademik jika benar-benar mengikuti metodologi yang benar. Sementara penelitian yang gegabah, lemah, campur baur, akan dibuang dan tidak berguna.
Menurut hemat saya, penelitian yang dilakukan sendiri akan lebih kuat dibandingkan dengan penelitian orang luar disebabkan, pertama, kita adalah pelaku dan pemilik alam, budaya dan sejarah yang ada dalam komunitas kita. Dengan demikian kita akan lebih meresapi dan seolah sedang “menulis tentang diri kita sendiri”. Kita sedang menjelaskan keseharian kita baik secara individu maupun secara sosial. Dengan begini maka penelitian akan semakin hidup,akan semakin bermakna. Kedua, kita lebih dekat dengan sumber data primer, dengan sumber studi yang menjadi rujukan utama. Dengan demikian apapun yang kita teliti akan sangat mudah mendapatkannya karena ia ada di sekitar kita. Kita punya banyak waktu untuk melakukan pendekatan, untuk berusaha agar objek tersebut benar-benar dapat terlihat dari berbagai dimensi.

Menurut saya, penelitian-penelitian mengenai khazanah budaya Aceh akan mempu menjadikan Nanggroe ini terhormat. Sedikit demi sedikit kita maju dan bersaing dengan dunia internasioanl dalam bidang kajian keilmuan. Mungin hari ini kita hanya mampu mengaji dan menunjukkan kebesaran budaya kita saja, namun ke depan sedikit demi sedikit kita mulai merambah dunia luar dengan kajian-kajian yang mencengangkan. Kita mampu menulis pemikiran yang berbeda terhadap berbagai fenomena yang ada. Dan akhirnya, dengan demikian kiata berharap Aceh benar-benar seperti dulu kala, meceuhu ban sighom donya. Insyaallah.

Monday, 3 November 2008

SECANGKIR KOPI “KOK BISA?”

Bimbingan dengan Prof. Irwan Abdullah
Warong Kopi Cek Yuke, Banda Aceh, Minggu, 2 Oktober 2008. Jam. 07.00 s/d 09.00.

Ceudara, kemarin saya jumpa dengan Prof. Irawan Abdullah, pembimbing penelitian saya. Beliau adalah direktur Pasca Sarjana UGM dan guru besar dalam bidang Antropologi di UGM. Sudah lama saya mencari kesempatan untuk bertemu dan berkonsultasi mengenai penelitian yang sedang saya lakukan. sayangnya saya tidak mendapatkan kesempatan. Padahal saya merasa sangat perlu berkonsultasi dengannya. Sebab saya tahu kalau dia adalah salah satu prof yang memang ahli dalma menulis dan menyusun sistematika penulisan.

Nah, setelah beberapa kali gagal, kemarin di tengah kesibukannya, beliau mengajak saya sarapan pagi di Warung Kopi Cek Yuke pingir Krueng Aceh Banda Aceh. mulai jam 07.00 pagi. Hush…. Padahal hari minggu yang lain aku baru melihat mata hari dua atau tiga jam kemudian. Heheh.


Sangat menarik karena beliau membimbing saya samabil menulis dibuku saya. So, tidak perlu rekaman dan cukup mendengar, sebab beliau yang menulis. Pelan dan sistematis. Nah… menurut saya ilu seperti ini penting juga bagi rekan-rekan. Soalnya banyak diantara kita yang kesulitan menyusun laporan dan membuat sistematika tulisan. Apalagi tulisan untuk jurnal Internasional. Makanya saya coba tulisa ulang dan share di sini. Ini semua tidak sama persis dengan apa yang disampaikan Prof. Irwan. Namun arahnya kira-kira ya begini. Semoga bermanfaat.

Dasar Penelitian
Awal dari penelitian sosial itu sebenarnya ada dua hal, fenomena dan realitas. Fenomena adalah sesuatu yang terjadi dalam masyarakat, yang dilakukan berulang-ulang, dikerjakan terus menerus, sama di berbagai tempat dan waktu. Misalnya kenduri yang dilaksanakan dalam berbagai peristiwa, kesempatan, kehidupan sosial masyarakat Aceh. Dari fenomena ini diperoleh fakta-fakta. Sebagai contoh, fakta mengenai kenduri yang dilakukan pada masa tertentu, tahapan kenduri, benda upacara yang digunakan dan lain sebagainya. Kedua, Realitas. Upacara saja bukanlah sebuah realitas. Realitas justru berada di balik upacara tersebut, yakni apa yang dikandung di balik apa yang nampak. Reaitas inilah yang harus ditemukan melaui sebuah penelitian. Penelitian dnegan metode tertentu pada hakikatnya adalah keinginan mengungkapkan realitas di balik fenomena yang ada dan terlihat.

Selama ini banyak penelitian yang telah dilakukan namun tidak dipublikasikan lewat tulisan. Ini tentu saja tidak bagus bahkan sisa-sia. Sebuah penelitan akan bermakna jika ia ditulis dan dipublikasikan. Dengan demikian manfaatnya akan diperoleh oleh banyak orang yang membacanya.

Untuk menjadikan penelitian mudah ditulis, melahirkan karya tulis ilmiah, maka penelitian harus didasari pada kegelisahan intelektual. Kegelisahan ini akan menimbulkan masalah dan melahirkan pertanyaan penelitian. Saya misalkan, saya mau meneliti “minum kopi di Ulhe Kareng.” Ini bukanlah sebuah masalah sebab di sana tidak terkandung “kegelisahan yang menuntut adanya jawaban. Pernyataan ini akan menjadi masalah jika ditanyakan: “Kenapa orang Aceh sangat suka minum kopi? Apakah mereka minumkopi karena mau menikmati rasa kopi? Atau karena tempatnya? Atau justru karena “ending” dari minum kopi itu sendiri? Misal, dengan minum kopi seseorang akan memiliki teman baru, rekan kerja baru, patner bisnis, negosiasi proyek, dan lain sebagainya. “Kegelisahan” ini kemudian menimbulkan pertanyaan “kok bisa?”

Jadi kunci dari mendapatkan masalah penelitian adalah pertanyaan: “KOK BISA YA?” Kok bisa kenduri yang butuh banyak uang dipertahankan dalam masyarakat? Padahal saat ini sedang terjadi krisis BBM, harga bahan sangat mahal, transportasi susah. Sementara itu pendapatan masyarakat sendiri kecil, komoditas pertanian yang dihasilkan di lahan-lahan mereka dihargai rendah, pemeasran juga sulit. Belum lagi musibah konflik, tsunami yang melanda masyarakat bertahuan-tahun menjadikan kehidupan ekonomi mereka sangat sulit.

Kalau pertanyaan “KOK BISA” sudah dapat dibuat reasoneble, maka saya kira sudah mudah menyusun masalah penelitian dan membuat tulisan sebagai bahan publikasinya.

Merumusan Masalah Penelitian
Rumusan sebuah penelitan bisa dilakukan dengan pernyataan yang disusul dengan pertanyaan. Selama ini pertanyaan penelitian dapat diklasifikasi menurut kata tanya-nya. Pertanyaan dengan “Apa” biasanya pertanyaan yang digunakan untuk strata satu di kampus. Pertanyaan ini hanya untuk mendeskripsikan fenomena dan tidak terlalu mendalam. Kemudian pertayaan “Bagaimana” biasanya digunakan untuk penelitian strata dua. Dalam pertanyaan ini terkandung keinginan untuk mencari proses yang lebih mendalam dari sebuah fenomena. Sementara pertanyaan “Kenapa” dipakai untuk penelitian-penelitian doktoral. Pertanyaan ini akan mencoba menelusuri makna yang lebih mendalam dari persitiwa sehingga sampai pada analisis dan membangun sebuah teori baru.

Namun ini tidak ketat. Setiap starta boleh saja mengambil kata tanya tertentu dan menggunakannya untuk penelitian. Program doktoral sekalipun bisa menggunakan kata tanya “apa”, misalnya untuk kasus sesuatu yang belum diinfomrmasikan sama sekali, sebuah fenomena, kejadian, konsep yang belum dikenal di dunia akademik. Ia merasa apa yang hendak ditulis adalah sebuah hal yang eprlu diinformasikan kepada masyarakat secara luas. Namun penelitian seperti ini tentu saja memiliki nilai lebih rendah dari sebuah penelitian akademik murni. Ini akan banyak dimanfaatkan untuk dokumentasi yang akan bermanfaat untuk pengambilan kebijakan lainnya.

Dalam konteks penelitian “Kenduri Kematian dalam Budaya Kluet” mungkin kita bisa rumuskan msaalah penelitiannya dengan: “Mengapa kenduri kematian dalam masyarakat Kluet dapat bertahan di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi dalam masyarakat?” Jadi dari masalah ini kita dapat menekankan masalah pada: perubahan-perubahan masyarakat yang terjadi dalam berbagai aspek tetap berlangsung dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan segala simbol yang mendukungnya masih dipertahankan (menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kluet)


Dengan menulis masalah penelitian dengan baik, maka kita akan merumuskan pertanyaan penelitian dengan baik pula. Kalau kita sanggup merumuskan masalah dengan tiga pertanyaan enelitian, maka itu artinya telah selesai setengah dari penelitian. Sebab dengan perumusan masalah penelitian dan merumuskan pertanyaan dengan baik, maka kita akan dituntun untuk sedikit demi sedikit menulis penelitian berdasarkan data yang diperoleh.

Jadi dalam kasus “Kenduri Kematian Dalam mAsyarakat Kluet” ini maka pertanyaan yang dapat dibaut adalah:

  1. Bagaimana upacara / kenduri kematian yang berlangsung dalam masyarakat Kluet?
  2. Apa makna upacara kenduri tersebut bagi kehidupan masyarakat Kluet?
  3. Bagaimana startegi masyarakat Kluet dalam mempertahankan eksistensi kenduri kematian tersbut?
Penelitian pada umunya hanya memiliki diga dimesi, Faktor, Proses dan Impac. Kalau seorang peneliti mengatakan penelitiannya ingin mengkaji sebab-sebab, latar belakang, maka itu berarti penelitiannya dalam tataran faktor. Jika seorang peneliti mengatakan melakukan penelitian aktifitas sosial dalam masyarakat, maka itu adalah penelitian proses. Dan jika yang diteliti adalah kegiunaan dan pengaruh, maka itu adalah impac. Masing-masaing dimensi ini akan melahirkan teori yang berbeda. Penelitian dalma dimensi faktor didasari pada teori sebab akibat. Penelitian dalam dimensi Proses akan menggunakan teori fungsi, struktural fungsional, dan sebagainya. Penelitian dalam dimesni impac akan menggunakan teori struktural, simbol dan sebagainya. dalam dimensi terakhir ini bisa menjawab pertanyaan “apa makna?”

Pertaanyaan peneltian harus diturunkan dari rumusan masalah penelitian. Kalau ia berbeda dari masalah maka itu anamanya anak Haram! Dengan melakukan ini akan memudahkan kita membuat struktur dalam penulisan laporan nantinya.


Masalah

  Pertanyaan 1                 Pertanyaan 2                Pertanyaan 3

Supaya sebuah pertanyaannya penelitian itu kuat, maka setiap pertanyaan penelitian harus dicari landasan teoritisnya. Landasan teori akan sangat berfungsi dalam analisis data dalam peneulisan nantinya. Tanpa analisis maka penelitian kita tidak ubahnya dengan reportase jurnalistik yang dilakukan wartawan. Reportase, selain tidak mendalam juga tidak sesui dengan kaidah akademik yang berkembang selama ini.

Jadi dalam penelitian di atas, maka kita bisa tawarkan beberapa teori berikut:

  1. Untuk pertanyaan pertama (tentang bagaimana kenduri kematian dilaksanakn dalam masyarakat Kluet) dapat dipakai Teori kontruksi dan teori proses.
  2. Untuk pertanyaan nomor dua, yakni pertanyaan pemaknaan, dapat dunakan Teori Simbol yang dikemukakan oleh Gertz, Sorotsky, Loiy, Vanball, dan Raimon.
  3. Untuk pertanyaan strataegi masyarakat dalam mempertahankan budaya kenduri dapat dipakai Teori reproduksi sosial, yaitu Kontruksi dan reproduksi kebudyaan. (Untuk terori ini silakan merujuk buku pak Irwan Abdullah Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan).
Apakah kita tidak dibenarkan menggunakan satu teosi saja dalam analisis hasil penelitian? Boleh saja. Namun sebelum menggunakan sebuah teori, pastikan penelitian yang kita lakukan sama persis dengan sebuah studi yang telah dilakukan orang lain. Hanya saja kita menggunakannya di tempat dan komunitas yang berbeda. Jadi kalau sudah pernah ada yang melakukan penenlitian masalah kenduri kematian dalam sebuah masyarakat adat tertentu, maka itu bisa digunakan sebagai landasan teori untuk keseluruhan pertanyaan penelitian yang akan dijawab tanpa menggunkaan beberapa teosi sebagaimana dijelaskan tadi.

Di mana teori berfungsi?
Teori dalam penelitian tidak dibuat dalam sub khusus, namun ia inklut dalam pembahasan terutama dalam analisis data. Yang kita sebut dengan hasil pnelitian adalah dari Pendahulan sampai penutup. Semuanya hasil penelitian. Kalau teori, gambaran lokasi dan hasil penelitian ditulis dalam bentuk terpisah, maka orang hanya akan membaca hasil saja dan meninggalkan yang lainnya. Yang diperlukan adalah hasil penelitian yang mengalir dan semua bagian dirasakan perlu/penting.

Demikian halnya ketika kita memasukkan teori ke dalam analisis data. Misalkan kita mendapatkan sebuah teori yang dibagi dalam beberapa bagian. Maka kita tidak mesti membuatnya dalam bentuk numerik (a., b., dst) namun ia masuk dalam pembahasan secara umum dan menyeluruh.
Khusus untuk artikel peneliatan kenduri kematain dalam Kluet bisa dirancang seperti berikut ini:

  1. Pendahuluan (dalam 2 halaman)
  2. Kluet Sebuah Suku Yang Sedang Berubah (dalam 3 halaman)Dalam bagian ini dijelaskan berbagai kondisi sosial dan daerah Kluet (lokasi penelitian) dan sifat yang sedang berlaku pada daerah tersebut saat ini. berdasarkan seting lokasi inilah kemudian ditentukan judul untuk bagian kedua ini. Bagian ini sanagt diperlukan untuk sebuah jurnal internasional. Sebab banyak orang yang tidak mengetahui di mana Kluet? Ada apa di sana? Kenapa kok penulis tertarik menulis mengani Kluet?
  3. Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet. Bagian ini berasal dari Pertanyaan pertama dalam pertanyaan penelitian yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan pertanyaan yang ada, maka dalam bagian ini mensyaraktkan kita menceritakan proses kenduri kematian dalam masyarakt Kluet. Penjelasan ini akan dibagi dalam beberapa bagian. Berdasarkan teori…… maka penjelasan akan dilakukan dalam bagian berikut:
    a. Prosesi: Menjelasakan dari awal sampai akir
    b. Aktor: Menyebutkan siapa saja yang berperan
    c. Pastisipasi: Menjelasakan keikutsertaan masyarakat dalam prosesi itu
    d. Motif/Alasan: Menggali alasan masyarakat melaksanakan kenduri. Misalnya karena manusia hidup di dunia dan akirat, maka ketika seseiorang menigal dunia, maka ia pelru dimuliakan dengan dihantar bersama.
    e. Emosi Publik atas upacara: Menjelasakan dampak dari proses kendiri yang telah dilakukan.
  4. Makna Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet (teori makna, 4 hal
    a. Rasa/psikologi (hana mangat)
    b. Fungsi (income dari paerkir, tenda, dll
    c. Guna (Gara2 perkawinan sudah ada reuni, ketika memberikan uang pada sahabat, bukan uangnya, tapi meneguhkan persahabatan) 
  5. Strategi Pelestarian Kenduri Kematian Dalam Komunitas Kluet (4 hal)
  6. Antara Tradisi dan Modernisasi (berasal dari masalah) 3
    Bagian ini diambil dari masalah penelitian. (Saya berharap bagian ini diberikan poin-poinnya oleh Prof. Irwan. Namun katanya, kalau bagian ini diberikan itu namanya penelitian dia bukan penelitian saya. heheh. Sebab inti dari sebuah penelitian ada di sini).
  7. Penutup (concluding remarks) 1 hal

Berapa halaman idealnya tulisan untuk jurnal internasional?
Kalau tulisan / artikel dibuat dalam satu spasi, maka untuk tulisan di sebuah jurnal Internasional kita perlu sebanyak 21- 30 halaman. Jumlah ini seolah terlalu besar dan berat. Namun ini bisa disiasati dengan merancang kerangka tulisan yang lebih sederhana dan menysuusn sistemati sehingga memudahkan dalam proses penulisan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
  1. Dari sub bab yang telah dirancang, coba berikan perkiraan halaman sehingga jumlah keseluruhan bisa mencapai jumlah halaman yang diinginkan. Misal: Subbab Antara Tradisi dan Modernisasi, akan ditulis dalam tiga halaman. Subab lain akan ditulis dalam empat atau lima halaman, dst.
  2. Kemudian setiap subbab bagilah (secara imaginer) dalam jumlah halaman yang diinginkan. Misalanya subbab “Makna Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet” telah dirancang dalam 4 halaman. Maka sub bab ini dibagi dalam empat anak sub bab (lagi-lagi secara imaginer) dan satu anak subabab akan ditulis dalam satu halaman.
  3. Setelah pembagian ini, maka anda hanya memfokuskan diri menulis satu halaman saja. Satu halaman biasanya ada tiga paragraf atau 45 baris. Jadi satu alienia terdiri dari lebih kurang lima belas baris.
  4. Jadi fokus kita akirnya adalah pada paragraf. Untuk menyelesaikan sebuah paragraf, maka bagilah sebuah paragraf dalam beberapa kelompok berikut:
    a. Mulai dengan definisi.
        Hubungan sosial, menyangkut ketetanggaan, bukan hanya proses upacara tapi juga
        sejarah.
    b. Format/bentuk/tipe
        Ada hubungan sosial karna darah, perkawinan, tetangga, persaudaraan
    c. Mekanisme / Proses Hubungan
        Tolong2 untuk membina hubungan sosial, Ada peristiwa2, Berfungsi ketika terjaid krisis
    d. Faktor; Kondisi yang menyebabkan terjadi.berlangsung
    e. Akibat/danmpak mislanya apa akibat dari hubungan sosial.
  5. Kalau kelompok di atas kita bisa kita masukkan satu-satu dalam kalimat, maka akan membuatuhkan lima kalimat. Dan lima kalimat sudah cukup untuk membangun sebuah paragraf.
Makanya jangan berfikirlah satu artikel, satu halaman! Jadi menulis itu bukan 30 halaman, tapi hanya satu paragraf. So gampang!!


Thursday, 30 October 2008

Tawar Menawar di Laut Tawar

Syukur juga. Impian lama untuk mengunjungi kota dingin Takengon kesampaian juga. Meski hanya satu hari, tapi sudah cukup alasan mengatakan kalau aku sudha pernah ke Takengon. Mmm.... mungkin ini bukan pengalaman menarik bagi banyak orang, apalagi orang takengon. namun bagi seorang hamba dhaif seperti sehat Ihsan, kemana saja, daerah baru, selalu memiliki arti berbeda. Memberikan pelajaran berharga. Menjadikan pengalamn luar biasa. Sebab pada setiap situasi kita dapat belajar tentang hal berbeda pula.

Sebanarnya ini adalah perjalanan tugas, dan disiapkan tiba-tiba. andai bukan karena takengon ingin kukunjungi sejak lama, maka aku tidak akan pergi. masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. namun tawaran ke takengon tidak dapat dielakkan. andai malaikat maut hendak menjemputku dan memberiku sedikit kesempatan sebelum menemui ajal, mungkin aku akan berkata, antarkan aku ke takengon.

berangkat jam siang kami makansiang di Seulawah. di mana gunung mulai disunglap jadi arena wisata. ide kreatif juga. di beberapa tempat sudah berdiri cafe yang menyediakan banyak panganan. di mana-mana keripik singong dan tape ubi dijajakan murah, tidak sebanding dengan kerja keras di puncak gunung dekat hutan. dan itu... masih banyak orang menawar.
tiga bungkus lima ribu bu..
kok mahal kali?
memang ebgitu harganya bu...
lima lima ribu boleh?...
ga bisa bu....

suruh saja si ibu mencangkul ubi di kebun belakang dan menggorengnya sendiri.. Bagiamna mungkin hasil kerja keras peras keringat itu diminta ganti sebungkus seribu rupiah? wah... pasti ibu ini belum pernah menginjak cacing dikebun....

ketika matahari mulai condong ke bArat, kami mulai mendaki pengunungan. hanya 99 km anatara Bireun dan Takengon. Namun itu bukan perjalanan yang mudah. banyak tantangan yang harus dilewati.

aku sempat berfikir kalau danau laut tawar telah dipindahkan. sebab di sepanjang jalan berhamparan danau-danau kecil. membuat mobil berayun bagai... daun pisang diterpa angin. goyangs ana goyang sini. bikin pusing dua kelilaing. lumayan... PAdahal pulang kekampungku ke Aceh selatan juga melaewati pengunungan dan jalan yang duh.... kepada Pemda tidak cepat-cepat menyelesaikannya. padahal sudah empat tahun tahun tsunami berlalu, namun jalan masih berbatu. eh... kok malah sensi dengan pemda?

Kami singgah di Simpang Balek pas azan maghrib. Ya sudah, nanti saja kita jama' dengan Isya, kata bos. dan di sana, tidak ada bedanya maghrib dengan ashar bagi pedagang. yang jual mie masih buka, yang jual gorengan juga, jual sandal jepit, telos dan petasan. biasa saja. coba kalo mereka berani di Banda Aceh begitu, pasti WH banyak kerjaan.

Menjelang Isya kami masuk ke Takengon.... shaaaapppsss... udara sejuk mulai menusuk tulang. Sayangnya aku tidak bisa lihat danau. malam sudah mejadi tabir menutup keindahannya. namun hiruk pikuk kota tercium jelas. sama saja seperti kota lain. penjual jajanan di pinggir jalan, toko pakaian diserbu pembeli, dua anak muda bergantungan di belakang motor.

eh.. nanti kusambung. ada rapat!!!


Sunday, 26 October 2008

Tasawuf Ajaran Hindu?

Ada yang menganggap tasawuf berasal dari unsur asing yang masuk ke dalam agama Islam. Bisa saja dari Kristen, setelah adanya asimilasi budaya dan peradaban antara Kristen dengan Islam setelah Nabi Muhammad wafat. Apalagi praktik kerahiban juga berkembang dalam tasawuf yang praktik itu jelas-jelas ada dalam ajaran Kristen dan dilarang dalam Islam. Boleh jadi tasawuf juga ajaran Hindu datu Budha. Konsep fana dan baqa yang berkembang dalam tasawuf bisa jadi berasa dari nirvana yang ada dalam ajaran Hindu/Budha. Demikian juga tadisi menyiksa diri untuk mendapatkan pengalaman spiritual, dan mengasingkan diri kehidupan sosial keyakinan akan adanya reingkarnasi pada jiwa-jiwa tertentu juga berkembang dalam dunia kaum sufi. Kenyataan ini diperburuk dengan tidak adanya istilah tasawuf dalam Al-Qur'an dan sepanjang kehidupan Nabi Muhammad saw. Nah, apakah ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak ada dalam Islam atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang benar?
Seandainya tasawuf dibatasi dalam makna sempit saja, maka benar kiranya ia tidak ada dalam ajaran dasar Islam. Demikian juga kalau tasawuf mau disama-samakan dengan apa yang ada dalam agama lain, maka ia akan sama. Sebab memang ada beberapa ajaran Islam, -bukan hanya tasawuf- ada juga dalam agama lain. Namun apakah ketika ia ada dalam agama lain itu bererti tasawuf berasal dari agama lain?

Tasawuf menekankan amal shalih dengan sepenuh hati, mendekatkan diri kepada Allah, mengelola nafsu, tidak terikat pada dunia materi, dan berbagai dasar ajaran lainnya. Ini semua sesungguhnya adalah ajaran Islam murni. Dalam Al-Qur'an selalu ditegaskan agar manusia mengamalakan ajaran Islam dengan sempurna. Tentu saja tidak sempurna namanya kalau pengamalan ajaran tidak termasuk dalam penghayatan amalan itu sendiri. Kalau shalat sekedar gerak dan membaca do’a, maka ia tidak lebih dari senam. Kalau puasa sekeder menahan diri dari makan dan minum, maka tidak lebih dari diet. Kalau haji hanya mengunjungi ka’bah di Makkah, maka tidak lebih dari melancong. Yang diperlukan dalam peribatan adalah subtansi, dan ini diperoleh dengan melakukan penghayatan dalam melaksanakan ibadah tersebut.

Penghayatan dalam ibadah tidak mungkin dilakuakn serta merta. Ia butuh latihan dan keseriusan dari kaum muslimin. Sedikit saja lengah, maka setan akan masuk dan mengganggu konsentrasi kita. Ia punya kepentingan untuk melencengkan niat, menumbuhkan keraguan, meimbulkan was-was, sehinga kita tidak dapat melaksanakan iabdah dengan khusyu’ seraya menghambakan diri kepada Allah. Namun dengan latihan dan bimbingan orang shalih, maka kekhusu’an dan rendah hati dalam beribadah kepada Allah akan terwujud.

Sekali lagi, ini semua adalah ajaran Islam dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Karenanya, ada atu tidak ada persamaan dengan agama lain, masuk atau tidak masuk pengaruh asing dalam Islam, tasawuf tetap akan timbul dalam Islam. Meskipun sistilah ini tidak ada pada masa nabi bukan berarti ajarannya tidak ada. Banyak istilah lain juga tidak ada pada masa Nabi namun ia menjadi autan kita sekarang dan bahkan sama-sama kita perjuangkan. Mislnya, formalisasi syariat Islam dan hukum negara, demokrasi, HAM dna lain sebagainya. Itu semua telah disemaikan benihnya oleh Nabi sehingga dengan pemikiran dan perkembangan modern kita sesuaikan untuk kehdiupan zaman kita kini. Dengan cara inilah agama akan terus hidup dan menjadi dasar dalam kehidupan umat Islam. Agama akan menjadi kebanggaan dan menjadi motivasi besar kepada kaum kuslimin dalam bekerja dan membantu manusia. Tidak ekslusif dan mengucilkan diri.


Saturday, 25 October 2008

Kenapa Salek Bisa Anarkis?

Sungguh mengiris hati berita Harian Aceh Independent (13/09) yang lalu tentang jamaah suluk yang berubah brutal. Ia menusuk beberapa temannya dengan benda tajam hingga meninggal dunia saat itu juga. Prosesi khidmat dan sakral tersebut di tangan Abdullah Daud (52), justru menjadi ladang pembantaian. Dan, tiga myawa sudah melayang. Kita sebagai orang beriman yang percaya pada takdir Allah tentang kematian hanya bisa mengatakan: “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” sembari berharap penegak hukum dapat mengusut kasus ini dengan tuntas dengan tetap memberikan rasa aman kepada pelaku.


Peristiwa di atas tentukan bukan sebuah hal yang diharapkan. Masyarakat yang megiukuti suluk justru berharap akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman jiwa dalam beribadah kepada Allah. Di sana mereka bermunajat, berzikir, mengkondisikan batin agar selalu bersama Allah. Yang diharapkan tidak lain adalah sedikit-demi sedikit melangkahkan hati menuju posisi paling dekat dengan Allah sehingga Ia bisa curahkan rahmat dan kasihnya, memberikan cinta tak terhingga, mengampuni dosa, mebersihkan jiwa, sampai si salik merasa damai bersama rahmatnya.

Hakikat Suluk
Suluk berasal dari kata bahasa Arab; salaka, yasluku yang secara literal berarti ”melalui” atau menempuh jalan; atau juga berarti perangai atau perilaku. Suluk juga dikaitkan dengan aktivitas ruhaniah seseorang yang mengambil suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati dan jiwa, mengendalikan nafsu, bertaubat dari dosa-dosa. Seorang salik melatih diri agar selalu ingat kehidupan ukhrawi yang lebih panjang dan penting di atas kehidupan duniawi. Kehidupan dunia hanya persinggahan dimana bekal amal dikumpulkan dan ibadah disiapkan. Sebab hanya itu yang berguna dalam perjalanan abadi di akhirat kelak.

Berbeda dengan ibadah biasa yang dilakukan kaum muslimin, suluk adalah sebuah pola ibadah yang dijabarkan dalam tarekat. Dan seperti kita ketahui tarekat sendiri adalah bagian dari pelaksanaan tasawuf. Dalam tasawuf seseorang diajarkan untuk melakukan latihan dan usaha (riadah dan mujahadah) agar ia bersih dan dapat melakukan penyaksian (shafa wa musyahadah). Untuk itu diperlukan langkah-langkah tertentu (maqamat) dan kondisi hati (ahwal) yang selalu fokus pada Allah. Ini semua dilakukan sebagai proses yang selalu berjalan seiring dengan kehidupan sang sufi.

Seseorang sufi yang pernah melakukan usaha tersebut dan dianggap berhasil menggapai puncak tertinggi dalam tasawuf (ittihad, hulul, musyahadah, mukasyafah, dll) serta fana dan baqa di dalamnya mengajarkan jalan yang ditempuhnya kepada orang lain. Dari sini kemudian lahir tarekat. Tarekat pada dasarnya adalah jalan yang ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan mengajarkan jalan tersebut kepada orang lain agar orang lain juga menempuh jalan sebagaimana pernah ia lakukan sehingga mereka juga sampai kepada Allah.

Karena tarekat mulanya adalah pengalaman personal, maka bentuknya sangat beragam. Di Indonesia terkenal antara lain tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Haddiyah, Chistiyah, Maulawiyah dan lain sebagainya. Suluk sebagaimana dipraktekkan di dayah-dayah di Aceh merupakan sisi praktis dari sebuah tarekat Naqsabandiyah. Tarekat lain meliki model suluk yang lain pula, seperti debus/rapai pada tarekat Rifa’iyyah, Sama’ (tarian sufi) pada tarekat Maulawiyah, ziarah dalam tarekat Syattariyah dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu suluk dilakukan dengan bimbingan seorang mursyid atau khalifah. Seorang mursyid suluk adalah mereka yang telah pernah mengikuti suluk dan dinyatakan telah ”lulus” oleh gurunya. Tidak semua orang yang pernah mengikuti suluk dapat menjadi khalifah. Seorang guru hanya mewariskan ilmu ini pada beberapa orang muridnya yang dianggap memiliki pengetahuan dan ketaguhan hati yang kuat. Sementara yang lain tetap hanya menjadi seorang salik biasa dan tidak memiliki hak untuk mempimpin suluk. Seorang mursyid yang dimpilih oleh gurunya dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan spiritual lebih sempurna dari salik yang lain.

Seorang salik (Aceh: salek), harus mengikuti apa yang ditetapkan dan diarahkan oleh mursyidnya, baik dalam adab sikap harian maupun dalam bacaan. Pada kali peratama mengikuti suluk, diadakan sebuah acara tahkim sebagai pernytaan sang salik akan taat kepada gurunya sepanjang pelaksanaan suluk. Seorang Mursyid akan membimbing sang salik sebagaimana dokter mengobati pasien. Sang salik akan dibimbing berdasarkan ”penyakit hati” yang dideritanya. Dan dalam proses ini sang salik berjanji akan mengikuti apapun bentuk bimbingan, arahan, petunjuk guru. Kata Imam al-Ghazali, seorang murid harus seperti mayat yang dibandikan oleh gurunya. Seorang salik yang tidak memiliki guru dan mencoba-coba menjalani jalan tarekat tanpa guru inilah yang dikenal dengan salik buta (salek buta).

Fana Dalam Suluk
Seorang salik dibimbing oleh mursyidnya untuk melakukan perjalanan menuju hakikat tertinggi yakni berada sedekat mungkin dengan Allah. Untuk ini mereka harus melalui berbagai tahapan yang dikenal dengan maqam (jama’ maqamat) dan hal (jama’ ahwal). Maqam adalah stasion atau tingakatan yang dilalui oleh seorang salik. Tahapan ini biasanya dimulai dengan taubat nasuha. Taubat dapat dilakukan dengan mandi taubat dan shalat taubat. Baru kemudian melakukan serangkaian zikir kepada Allah sebagai pernyataan bahwa ia bertaubat. Taubat dianggap sebagai pernyataan akalu seorang salik telah bertekat akan menjadi hamba yang ”berbeda” yakni meningalkan perilaku, sikap hidup, cara pandang duniawi menuju sikap hidup spiritual yang berorientasi pada ukhrawi.

Dalam prosesi suluk semua tahapan yang akan dilalui oleh seorang sufi dilakukan dengan zikir. Zikir adalah kunci dalam suluk. Seorang sufi sedikit demi sedikit memfokuskan diri pada Allah dan melupakan hakikat dunia dan dirinya. Sang salik mencoba mengosongkan pikirannya dari pikiran yang berorientasi materi kepada pikiran yng berorientasi Tuhan. Zikirnya difokuskan sedemikian rupa dengan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Ini dilakukan dengan tiga level zikir yang disebut dengan zikir asma’, zikir sifat, dan zikir zat. Zikir asma yakni berzikir dengan ungkapan ”Allah.... Allah.... Allah.. ” Zikir sifat dilakukan dengan menyebutkan salah satu sifat Allah, misal: ”ya latif.... ya latif..” dan seterusnya. Dan pada tahapan akir seorang salik berzikir dengan zat Allah, ”hu... hu... hu...” dan seterusnya.

Proses ini butuh waktu lama. Tidak semua sufi bisa naik ”peringkat” dari zikir asma ke zikir sifat. Mursyid akan tersu mengontrol dan memperhatikan sang salik dalam usaha tersebut. Tidak jarang seorang salik yang sudah mengikuti suluk berkali-kali dan bahkan bertahun-tahun tetap tidak mampu berzikir dengan sifat karena hatinya yang tidak bisa diatur. Ia tidak mempu melepaskan diri dari pandangan dunia dan ketertarikan hatinya dengan materi. Mulut dan lidahnya menyebut nama Allah, namun hati dan pikirannya melayang memikirkan dunia. Ia tidak benar-benar membersihkan hati menuju sesuatu yang Maha Suci.

Kemungkinan Anarkis
Dalam usaha awal menetapkan hati mencapai fokus pada Allah (baik asma’, sifat maun zat) tersebut, maka hati seorang salik akan berada dalam kondisi labil. Bahkan ada saat-saat tertentu yang hatinya kosong. Hatinya baerada Dalam transisi menuju perubahan kepada fokus, ia dipengaruhi oleh aspek-aspek ego dan setan yang coba menghalangi dan mempengaruhi. Aspek ego dan nafsu memberikan ruang kepada setan untuk masuk dan mengacaukan konsentrasiya, membujuk agar hati tidak fokus kepada Allah dengan berbagai cara, seperti mendorong ujub, riya’, takabur, pamer dan lain sebagainya. Setan juga bisa mendorong seorang salik dengan ”seolah” mengabari kabar-kabar ghaib dari langit, ”membuka hijab ketuhanan” dan menampakkan kebesaran kekuasaan Allah.

Pada saat yang demikian, jika seorang salik lalai maka ia bisa salah. Di sinilah salik perlu selalu ingat pada Mursyidnya. Sebab sang mursyidlah yang akan menyatakan kepadanya apakah ia telah benar-benar telah ”sampai” pada hakikat, atau hanya sebuah fatamorgana spiritual yang dibawa setan. Kalau sang salik mangkir dan telah puas dengan apa yang disaksikannya tanpa bimbingan mursyid, maka sangat mungkin ia tertipu dan keluar sebagai seorang yang ”aneh.” Hal ini bisa kita lihat dari beberapa orang yang mengaku menjadi ”nabi” setelah ia berzikir 40 hari dan menerima ”wahyu” dari Allah. Ini tidak lain disebabkan ia merasa puas dengan kesan pertama yang mempesona, ia mengukuti kesan itu dan meninggalkan pembimbing spirituanya. Padahal apa yang ia alami adalah sebuah godaan dan tipu daya Setan yang justru menyeretnya pada kesesatan.

Dalam masa transisi tersebut di atas pula nampak berbagai dosa, kesalahan, kelemahan sang salik dalam hidupnya. Karenanya, jika ia tidak fokus dan tetap patuh pada aturan zikir yang telah diajarkan mursyidnya, seorang salik bisa pula bertindak ”berbeda” dari kebiasaannya sehari-hari. Ia bisa menunjukkan keberingasan, kekejaman, anarkisme dan lain sebagainya. Karena pada saat tersebut ia berada di ”posisi nol”. Penagruh bisikan dan sebuah bayangn dapat masuk ke dalam hatinya dan mendorongnya melakukan berbagai hal. Kekerasan bisa saja salah satu diantaranya. Ia mencoba mengapresiasikan diri dengan melakukan kekerasan dan mencederai orang lain. Mungkin dalam praktek tersebut ia mendapatkan kepuasan dan ketenangan berdasarkan bisikan yang didengarnya.

Apakah bapak Abdullah Daud yang mebunuh tiga rekannya yang sedang suluk mengalami hal ini? Wallahu’a’lam.

Syari'ah, Tariqah dan Ma'rifah

Imam Malik pernah ditanya mengenai hubungan fiqh dan tsawuf. Beliau berkata: “Barang siapa yang bertasawuf tanpa dilandasai pengetahuan fiqh, maka ia telah menjadi zindiq. Sebaliknya, barang siapa yang menjalani fiqh tanpa tasawuf, maka ia fasiq. Dan barang siapa yang mengamalkan keduanya, maka ia telah mendapatkan hakikat kebenran. Dalam ungkapan yang berbeda di kalangan sufi sendiri dikenal: Kullu syari’ah bila haqiqah ‘athilah wa kullu haqiqah bila syari’ah bathiniyah. (Syariat tanpa hakikat kosong, hakikat tanpa syari’at batal).


Para membuat tiga tahapan pemahaman agama, syari’ah, tariqah dan ma’rifah. Syari’ah mengacu pada aturan Islam mengenai aqidah, ibadah, akhlak, sosial ekonomi, pemerintahan dan aspek kehidupan yang lainnya. Dalam istilah lain disebutkan juga syari’at merupakan ajaran Islam yang bersifat lahiriah dalam bentuk legal formal. Dalam pengertian inilah syari’at disamakan dengan fiqh. Nah, karena syariat adalah aturan dasar formal Islam, maka seluruh muslim harus mena’ati aturan ini, suka-atau tidak, selama ia mengaku menjadi muslim. Karenanya dalam tahapan ini hampir tidak ada penghayatan. Seseorang merasa melakukan sesuatu hanya karena itu adalah kewajiban agama.
Tahap kedua adalah tarikat yang secara umum dimaknai dengan jalan atau cara seorang muslim melakukan ibadah dan usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penegrtian ini tarikat adalah pengamalan syari’at secara utuh dengan bimbingan dari guru yang faham tentang syari’at tersebut. Kita tidak bisa shalat dengan sempurna hanya dengan mambaca buku “pedoman shalat,” tetapi kita perlu guru, atau seseorang yang melihat kita shalat, membetulkan ruku’ sujudnya, mengajarkan zikir dan adabnya. Dengan demikian kita akan dapat melakukan shalat dengan sempurna.
Dalam pengertian lain tarikat adalah organisasi sufi yang melaksanakan zikir tertentu dengan bimbingan langsung dari guru (mursyid). Seorang guru merekapan mereka yang telah mewarisi dari guru sebelumnya (bersambung hingga Nabi Muhammad) praktik dan bacaan tertentu untuk membangkitkan makana ruhani ibadah. Dengan demikian kita akan merasakan makna batin ibadah yang kita lakukan. Penghayatan makna batin dari ibadah adalah ruh dari sebuah ibadah itu sendiri. Di sana seseorang mendapatkan kenikmatan dan hakikat hidup yang berdampak pada ketenangan jiwa dan kematangan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkat terakir yang dipahami sufi adalah ma’rifat yang dimaknai dengan pengetahuan akan hakikat Tuhan yang diperoleh setelah melewati jalan tarikat dengan serius dan sempurna. Ma’rifah adalah pengalaman kalbu yang diarahkan pada penyingkapan tabir ilmu Tuhan sehingga seorang sufi memperoleh isyarat-isyarat ghaib dari Tuhan. Karenanya ma’rifah dikenal juga dengan mukasyafah, yakni tersingkapnya hijab dan memancarnya pengetahuan dari nama-nama yang ia pernah dengar namun ia tidak mengerti. Pengetahuan itu datang dengan sendirinya setelah ia berada sangat dekat dengan Tuhan. Karenanya ilmu ini dikenal juga dengan ilmu hudhuri. Ia tidak dapat dipelajari dair buku, atau didengar dari orang lain. Ilmu ini mesti dirasakan sendiri. Seperti kita merasakan “manis”. Sebaik apapun penjelasan orang mengenai “manis” tetap saja kita tidak mengetahuinya tanpa merasakannya sendiri. Ma’rifah adalah usaha dan keberuntungan. Tidak semua orang akan mendapatkannya. Mereka yang memperolehnya hanyalah orang yang telah dipilih oleh Tuhan.


Apa Itu Tasawuf?

Lebih dari seribu tahun yang lalu, seorang guru yang dipanggil Ali ibn Ahmad, yang datang dari kota Bushanji, timur laut Persia, mengeluh mengenai pembicaraan orang mengenai sufi. “Sekarang,” katanya, “sufisme adalah nama tanpa realitas, tapi ia pernah menjadi realitas tanpa nama.” Dulu orang mempraktikkan ajaran tasawuf tanpa perlu memberinya nama khusus, sebaliknya sekarang namanya begitu terkenal, namun orang cukup dengan nama itu saja. Sekarang banyak orang membicangkan tasawuf, buku tasawuf menjadi best seller, pengajiannya laris diikuti banyak orang, bahkan diadakan dari gubuk reot sampai hotel berbintang. Apa yang mereka cari? Apakah yang mereka mutasawwif (sufi sejati) atau mustawif (sufi gadungan)?

Tasawuf tidak dapat didefinisikan dengan pasti. Semua definisi yang diberikan selama ini hanyalah sekedar petunjuk awal saja menunju samudra sufisme yang sangat luas. Ia tidak terdefinisikan dengan pemikiran filsafat atau dengan penalaran. Seseorang yang hendak memahami maknanya, memerlukan sebuah kearifan hati, gnosis, yang didasari pada pengalaman rohani sendiri yang tidak bergantung pada metode dan pemikiran orang lain. Hanya dengan ini ia akan mendapatkan kemampuan menjangkau sesuatu di laur pandangan inderanya, dan diliputi cahaya Tuhan.

Para sufi menekankan pentingnya aspek ruhani manusia di atas aspek jasmani. Mereka percaya kalau aspek ruhani merupakan aspek hakikat manusia itu sendiri. Bahkan Tuhan yang dipercayai sebagai pencipta manusia juga bersifat spiritual, padahal jelas kalau Tuhan adalah “relitas sejati.” Karenanya, para sufi mengkonsentrasikan diri kepada-Nya. Ia yang menjadi awal, Ia pulang yang akir. Ia adalah asal segala sesuatu, Ia pula tempat kembali segala sesuatu.
Dalam kehidupan di dunia, “ruh” manusia “dititip” ke dalam jasad. Manusia rindu untuk menjadi dirinya kembali, yakni yang bersifat ruhani. Karena itu ia melakukan “perjalanan mistik” untuk membersihkan dirinya dari dari kotoran materi pada jasadnya. Makanya tasawuf dikatakan berasal dari kata “shafa” yang berarti kesucian. Para sufi berusaha menyucikan dirinya dari segala kotoran jasmani agar ia bisa bertemu dengan Zat yang Maha Suci. Hanya yang suci saja yang dapat menjumpai Ia yang Maha Suci, yakni Allah SWT.

Usaha pembersihan diri ini dikenal dengan tazkiyat al-nafs. Usaha ini dilakukan dengan mengelola hawa nafsu, syahwat, amarah dan berbagai sifat tercela lainnya. Mereka melakukan berbagai latihan (riyadhah al-nafs), seperti puasa, uzlah (bertapa), menyendiri bersama Tuhan (tahannuts), mendirikan shalat malam (qiyam al-lail), dan berbagai bentuk latihan lainnya. Dari sinilah para sufi memiliki hubungan intim dan personal dengan Tuhan sehingga mereka mendapatkan pengetahun mistik yang datang dengan sendirinya tanpa dipelajari (laduni).
Dasar dari apa yang dilakuakan sufi adalah cinta. Karena cinta kepada Zat Yang Maha Mutlak itu, ia mampu menyandang, bahkan meikmati segala sakit dan penderitaan yang dideritanya. Karena ia yakin segalanya berasal dari Tuhan. Apa yang ia dapatkan adalah ujian dari Tuhan untuk mengetahu tingkat cintanya. Apakah ia akan muncur atau ia semakin teguh dengan jalannya hingga ia sampai ke Hadirat Ilahi. Inilah cita tertinggi ahli sufi.


Saturday, 18 October 2008

Guru Besar Atau Menara Gading?

Hari ini, 16 Orang Guru Besar di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dikukuhkan. Ke-16-an Guru Besar tersebut berasal dari berbagai jurusan dan bidang keahlian; Fiqh, pemikiran Islam, Tafsir, Sejarah dan ilmu pendidikan. Ini adalah pengkuhan guru besar terbanyak di IAIN Ar-Raniry. Biasanya pengukuhan guru besar hanya diikuti oleh satu orang saja. Karenanya, ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi IAIN Ar-Raniry.

Bagiku ini lebih dari sekedar pengukuhan. Peristiwa ini menggambarkan latar yang ada di balik panggung. pengukuhan 16 guru besar menimbulkan tanda tanya, kenapa bisa 16 orang seklaigus? kenapa setiap orang tidak merancang pengukuhannya sendiri? selain tentu saja, effek apa yang diinginkan dari peristiwa ini?

tidak ingin menduga-duga. namun ada beberapa hal menarik dari peristiwa ini.
pertama, tidak semua guru besar memili karya fenomenal. beberapa guru besar hanya memiliki beberapa buku yang beredar di aceh, dan itupun dalam kalangan terbatas. buku tersebut juga dibuat "asal jadi" dengan kualitas layout dan setting yang jauh dari sebuah buku berkualitas. ini menunjukkan lahirnya guru besar buakn karena prestasi akademik yang tinggi namun lebih karena "rajin" dalam memngumpulkan KUM dengan membuat tulisan "kacangan" di jurnal-jurnal kampus.
kedua, rendahnya minat civitas akademika IAIN dalam mengikuti acara ini. coz.. siang hari setelah makan siang, yang hadir hanya beberapa dosen dan kelauarga dari para guru besar. sungguh ironis. ini adalah peristiwa penting di mana para guru besar akan menyampaikan hasil keilmuannya yang paling besar dan berkualitas. sayangnya tidak ada yang tertarik untuk mengikutinya. entah... mungkin mereka sudah "menjengkal" kulatisa sang guru.

namun ada yang manarik, dan menurutku mengharukan. aku yakin ini membaut smeua orang yang tidak datang akan merasa sangat rugi. yang saya maksudkan adalah, ceriat pilu di balik kesuksesan sang guru besar. ternyata, dibalik titel dan kebesarannya tersimpan peristiwa yang sungguh pedih dan sedih. mungkin "Laskar pelangi" sudha menjelaskannya. namun ini lebih targis karena berada dalam peristiwa sejarah yang bebrda dengan Babel. Ini Aceh, yang sepanjang sejarahnya adalah darah. perjuangan mereka hingga menjadi Guru Besar sungguh merupakan sebuah episode hidup yang luasr biasa.

aku salut! suatu saat aku berharap bisa berdisi di sana an menyampaikan tesisku, hasil studi sepanjang hisupku. kuingan katakan, duhai manusia, pra gur besar, menulislah! kau tidak ingin mendengat ocehanmu, aku lebih suka membaca pemikiranmu.


wah.,... banyak salah ketik. nanti kuperbaiki yach...

Tuesday, 14 October 2008

Ayahku Semangatku

Sudah lama juga tidak mengisi blog ini. sejak bapak meninggal dunia sebagain semangatku juga ikut terkubur bersama jasadnya. berat rasanya berpisah, meskipun kusadar itu setu hal yang tidak meungkin dihindari. membangun kesadaran spiritual? pasti. tapi emosiku terlalu besar untuk kukontrol dengan semangat spiritualitasku yang masih lemah.

Hari raya tahun ini kami rayakan tanpa kehadirannya. aku ingat, bagaimana rasanya kalau ia ada. malam hari lebaran biasanya kami bercerita dan berdiskusi sampai larut. sebab sering kali kami tidak punya waktu lain yang tepat. aku yang selama ini sering di banda aceh, hanya pulang satu atau dua hari menjelang lebaran dan kembali ke banda beberapa hari setelahnya. karenanya, jika malam lebaran tiba, kami merasa punya waktu panjang untuk bercerita. banyak hal. politik desa sampai politik internasional.

Ayahku adalah mahaguru semangat hidupku.


Ia begitu bangga padaku. ketika aku menulis buku "Dialog Tasawuf dan Spiritual Quotient" aku mengirinya satu eks di kampung. empat bulan kemudian aku pulang. kulihat bukuku di mejanya. kumuh dan robek. beberapa halaman buku sudah copot. kondisi buku itu sangat tidak terjaga. kebetulan saat itu ayah dan mak duduk sanati di dapur kami yang menghadap bentangan sawah yang maha luas. "Kenapa buku ini bisa rusak begini?" protesku. Ayah diam saja. mungkin ia merasa bersalah. dan sejenak aku juga merasa bersalah menanayakan hal itu. Mak yang bicara. "Bagaimana tidak robek, bukan hanya ke sekolah, ke mesjidpun (untuk shalat jamaah)buku dibawa. enatah untuk apa?"

kulihat ayah tersenyum saja. namun bagiku ini sunggh mengharukan. seoleh seember air dingin melintasi dadaku. sejuk dan terharu. andai akau terbiasa dengan tangisan mungkin saat itu kran airmataku tak terbendung. namun menangis bukan tradisi ku, dan mungkin masyarakat kami. makanya aku hanya tersenyum saja menedengar semua itu.

aku yakin ia melakukan itu karena ia bangga padaku. ia akan menunjukkan kepada teman-temannya di sekolah (yang menurut ceritanya sering membanggakan anaknya yang menjadi dokter dan pengusaha) bahwa "Anakku telah menulis buku." Ini adalah wujud kebanggaannya kepadaku. bagi ayah, aku menjadi "taruhan" dari setiap pujian orang lain untuk anak mereka. mobil, pekerjaan, proyek, uang, selalu saja dikabarkan mereka di hadapan ayah. dan "buku" adalah jawaban mematkan. kartu "as" yang membuat teman-temannya tidak berkutik. sebab, seawam apapun orang di aceh. buku(kitab) jauh lebih berharga dari sgala yang lainnya.

aku tahu persis hal ini. satu waktu ia mengirimu SMS. katanya, kenapa tidak ada tulisan kamu bulan ini di koran? Aku tahu, pada saat itu ia pasti sedang jengkel dengan temannya yang membawa berita kehebatan anak-anak mereka. sifatnya yang lebih banyak mendengar cerita mereka menjadikan orang lain "kesetanan" memuji anaknya. lama-kelamanan mungkin ia jengkel juga, makanya ia memintaku menulis. dengan sebuha tulisanku terpampang di koran, maka ia akan membeli koran dan melenggang bangga ke sekolah. meletakkan koran di mejanya. dan semua temannya akan membaca, dan melihat namaku di sana. dan, tanpa harus komentar, mereka akan berhenti menceritakan kelebihan anaknya.

ah.. ayah...
andai kau masih ada. betapa banyak yang kini hendak kuceritakan padamu. petapa banyak masalah yang hendak kuungkapkan. betapa banyak keluh kesah yang hendak kutumpahkan. bagai samaudera luas, hatimu seolah tekpernah penuh menampung keluhan hidupku. kepalamu tak pernah pusing mendengar masalahku. padahal aku sendiri sungguh, hampir tidak mempu melawanya.

Tuesday, 26 August 2008

Selamat Jalan Ayah


I
Dan ketika takdir itu datang
tidak ada kuasa mengubahnya
dan ketika masa itu tiba
tak ada yang mampu mengelakkan
ia datang begitu cepat kataku
tanpa aba-aba
aoakah Dia tidak menunjukkannanya?
atau aku yang alpa?

dan ketika ia datang
aku tak kuasa mengelaknya
selamat jalan Ayah....
melangkah lah dengan tenang
bekalmu cukup banyak untuk menempuh jalan panjang keabadian


II
selamat jalan bapak
selamat jalan guruku
selamat jalan pembimbingku

kau adalah pelita
yang menerangi gulita malamku
kau adalah bara
yang membakar ego-egoku
kenapa aku lupa bersandar dibahumu?
padahal di sana ada sejuta keindahan dan harapan

selamat jalan ayah
selamat jalan

Allahummaghfirlahu
warhamhu
wa'afihi
wa'fu'anhu
waakrim nuzulahu
wawassi' madkhalahu
waghsilhu bil ma-i
was salji
walbaradi
kama yunakhas saubal abyadhu
minad danasi

allahmmaghfirli
waliwalidayya
warham huma
kama rabbayani
saghira


III
ada semangat yang hilang ketika kau pergi. aku merasakan betapa ruhku ikut pudar. ada sejuta kisah yang belum kau ceritakan padaku. ada sejuta petua yang kau belum ngkapkan. aku masih balita dalam ilmu kehidupan. hanya sedikit dari ilmumu yang kau turunkan. kurasa ini belum cukup. aku masih miskin dengan kesabaran. aku masih kurang dalam ketabahan. aku masih lemah dalam semangat.

ku tahu kau telah berikan. tapi aku yang almu melakukan
aku lalai melaksanakan
aku meninggalkan kebenaran yang kau sisakan.

IV
tak habis kata ingin kutuliskan untukmu
atas semua apa yang kau telah lakukan demiku
atas semua pengorbanan hidupmu
kau bapakku
kau guruku
kau penunjuk jalanku
padamu do'aku selalu.

V
bapakku meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2008 yang lalu. kepergian yang tiba-tiba menurutku. tanpa tanda yang aku dapat fahami. beliau masih menghadiri upacara pernikahan saudara sepupuku. sampai seore hari. dan saat mau pulang ketika matahari mulai senja ia merasa lemah. lemah dan lalu meninggalkan dunia.
inna lillahi wa inna ilaii raji'un.
selamat jalan Bapakku

VI
bagiku bapak adalah teladan, adalah semangat.




Wednesday, 6 August 2008

Aliran Modern Dalam Islam

Islam yang datang pada awal abad ke 6 Masehi memiliki sebuah semangat pembaharuan di kalangan masyarakat Jahiliah. Banyak budaya Arab lama yang tidak memiliki nilai-nilai universal dan kemanudiaan diubah oleh Nabi Muhammad. Setelah lebih dari dua puluh tahun kenabian, maka Masyarakat Arab menjadi masyarakat yang beradab dan memiliki nilai-nilai hidup yang mulia berdasarkan Ajaran Islam yang dibawa Nabi.
sayangnya, peradaban yang berlandaskan ajaran Islam di dunia Aran ini tidak bertahan lama. setelah Nabi wafat budaya Aran dan buaya asing yang ada di sekitar masyarakat Arab kembali menyusup ke dalam ajaran murni Islam. Bukan hanya dalam budaya masyarakat, namuan juga dalam sistem pemikiran sehingga berpengaruh pula dalam interpretasi teks-teks keislaman. Teksi ini kemudian menjadi pedoman utama dalam masyarat Islam selanjutnya dalam menjalankan agama. akibatnya, dalam masyarakat muslim tidak hanya berkembang ajaran islam murni, namun berkembang pula islam hasl interpretasi yang dipengaruhi oleh budaya asing tersbut.

Dalam dunia islam modern, banyak cendikiawan hadir untuk memberikan interpretasi murni terhadap ajaran islam, tujuannya agar islam kembali kedasarnya, yakni islam sebagaimana difahami oleh Rasulullah. ....


Monday, 4 August 2008

NostalGILA Menulis

Aku buat beberapa link tulisan masalaluku di serambi indonesia. Sebuah pembelajaran yang tidak akan mungkin kulupakan. Dulu, aku menulis banyak, yan terkadang akusendiri tidak tahu artinya apa, masalahnya bagaimana. niatku hanya menulis dan menulis. dan kini, aku mengenang kembali.
heheh
nostalGila Menulis

1. Islam Mazhab al-Yateh
2. Dekonstruksi Sejara dan Sastra Aceh
3. Tasawuf, Pisau Bedah Problema Sosial
4. Nasib Islam Pasca Kuningan
5. Membela Islam
6. Ideologi Abu Waki
7. Pemimpin Yang Melayani
8. Tasawuf Dan Formalilasi Syariat
9. Hamzah Fansuri Sudahlah Karam
10. Berkorban Demi Siapa?
11. Pecinta Bola dan Kaum Sufi






Sunday, 3 August 2008

Tasawuf di Aceh: Sebuah Peta Kronologis


Tasawuf dan Islam di Aceh tidak dapat dipisahkan. Masuk dan berkembangnya Islam di Aceh tidak terlepas dari peran aktif para sufi pengembara yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, baik di dari Timur Tengah maupun Asia Selatan. Perkembangan tasawuf di di Aceh dapat dibagi dalam dua priode, yakni priode kalsik dan priode modern. Dalam periode klasik masih pengaruh pemikiran tasawuf falsafi dari Baghdat dan Persia masih mendominasi. Hal ini terlihat dalam konsep-konsep falsafi dalam mistisisme Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani dan lainnya. Sementara dalam perkembagan modern tasawuf di Aceh tidak dapat dipisahkan dengan gerakan perkembangan pemikiran modern dalam tasawuf di dunia Islam.



Perkembangan tasawuf di Indonesia dapat dipetakan dalam dua tipologi, yaitu Falsafi dan Sunni. Tasawuf falsafi merujuk pada konsep tasawuf yang dihubungkan dengan mistisisme phanteistik Ibnu Arabi. Sedangkan Sunni dihubungkan dengan model Al-Ghazali. Kedua tradisi tasawuf tersebut sama-sama memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam di Nusantara. Tasawuf falsafi pernah memperoleh masa kejayaannya di Aceh pada masa Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan Syekh Syaifurrizal. Di Pulau Jawa, tasawuf falsafi dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar beserta murid-muridnya, seperti Ki Ageng Pengging dan Jaka Tingkir.
Pada zaman modern, para cendikiawan melakukan reinterpretasi pada tasawuf dalam sebuah terma yang disebut neo sufisme. Tasawuf modern bermakna juga tasawuf yang diperbaharui atau Tasawuf Modern. Dalam Tasawuf Modern mencoba memaknai kembali tasawuf dan memposisikannya dalam kehidupan manusia zaman ini. Dengan ini tasawuf menjadi bagian yang tidak asing dan terpisah dari kehidupan manusia dan mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban manusia modern.
Perkembangan pemikiran tasawuf modern tidak hanya terjadi dalam level internasional, dalam konteks keindonesiaan, pemikiran tasawuf ini juga mendapatkan penafsiran yang baru. Hamka mengawalinya dengan mengarang buku Tasawuf Modern, yang menjelaskan berbagai tafsiran baru tentang tasawuf. Konsepsi Hamka tentang tasawuf menekankan pentingnya aspek akhlak dalam kehidupan, dan inti sesungguhnya dari tasawuf adalah akhlak itu sendiri. Ia juga mengkritik berbagai praktek tasawuf yang menyimpang, seperti pemujaan kuburan “orang suci”, wasilah dalam bero’a dalan lainnya. Pemikiran Hamka diikuti oleh pemikir-pemikir muslim lainnya di Indonersia sekarang ini.
Tulisan ini berupaya melihat perkembangan tasawuf di Aceh. Aceh yang pada masa lalu menjadi pusat awal perkembangan Islam dan tasawuf memiliki sejarah tasawuf yang tidak ada habisnya, termasuk sekarang. Beberapa praktek dan gerakan keagamaan di Aceh jelas memiliki dimensi tasawuf. Upaya ini dinilai penting dengan alasan; pertama, sebagai upaya mengkomparasikan pemikiran dan aksi tasawuf di Aceh zaman dulu dan zaman sekarang. Kedua, menjelaskan aspek-aspek modernisme dalam tasawuf yang ada di zaman modern di Aceh, baik dari pemikiran atau dari sisi aksinya.

Tasawuf Aceh Klasik
Banyak teori yang ada mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara dan khususnya Aceh. Namun dari setiap teori yang dikemukakan oleh para ahli, lahir pula kelemahan dan kritiknya. Sehingga tidak ada teori yang benar-benar lengkap dan dapat memberikan gambaran komprehensif bagi kita tentang bagaimana dan dari mana islam datang ke Nusantara meskipun para sarjana yang meneliti masalah itu sedemikian banyak. Kebuntuan ini sedikit “terobati” setelah A.H. Johns mengemukakan “teori SufI” tentang penyebaran Islam di Nusantara. Teori ini menyimpulakn bahwa yang mebawa Islam ke Nusantara daah para sufi. Hal ini dikemukanakan oleh John untuk menandingi anggapa mayoritas sarjana yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara hanya disebarkan oleh pedagang yang berkeluarga dengan peduduk setempat dan akulturasi budaya.
Para sufi memiliki kelebihan dibandingkan dengan saudagar (meskipun ada sufi yang datang sebagai saudagar). Mereka mampu menyajikan Islam dalam kemasan atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas, ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. Dengan menggunakan tasawuf sebagai sebuah kategori dalam sejarah Melayu-Indonesia, John memerikas sejarah lokal Nusantara untuk memperkuat pendapatnya. Hasil dari apa yang dilakukan para sufi ini terlihat dari konversi agama yang terjadi pada abad 13 tersebut di seluruh Nusantara. Masyarakat akan menjadi muslim setelah mereka berjumpa dengan sufi.
Bangkitnya peradaban Islam di Aceh yang bercorak sufistik juga ditandai dengan lahirnya karya tulisa sastra dan nonsastra dari tangan para sufi. Hamzah Fansuri yang menjadi icon mengarang puluhan kitab yang menjelaskan berbagai dimensi ajaran agama Islam. Ia mencoba memaparkan konsepsi tasawuf dengan pendekatan “Melayu” di mana ia menjelaskan berbagai posisi manusia dalam upaya pendekatan dirinya dengan Allah. Hamzah yang sufi ini kemudian menjadi soko guru bagi sarjana-sarjana Islam lainnya di Nusantara, terutama yang belajar pada murid-muridnya di kemudian hari.
Bersamaan dengan Hamzah hidup juga Syamsuddin Pase, atau dikenal juga dengan Syamsuddin al-Sumatrani. Ia adalah teman sekaligus murid Hamzah. Setelah Hamzah meninggal dunia, ia mencoba menerjemahkan pemikiran Hamzah dalam beberapa karya, diantaranya dalam bentukfaham martabat tujuh. Pemikiran ini dikembangan Syamsuddin dengan tambahan pengetahuan yang diperoleh dari Tuhfah al-Mursalah ila Ruhi al-Nabi karya Muahmmad Ibn Fadhillah, seorang ulama Sufi dari Gujarat India. Ia mencoba menjelaskan faham ini dalam pandangan yang penteistik dan menyebarkannya. Faham ini kemudian menjalar sampai ke seluruh Nusantara. Pengaruhnya di Jawa terlihat dalam kitab Centini, Wirid Hidayat Nabi, kitab Martabat alam tujuhnya Kyai Hasan Mustafa dan lain sebagainya.
Pasca Syamsuddin al-Sumatrani, Ar-Raniry mencoba menghapus ajaran Hamzah dan Syamsuddin yang dianggapnya bertentangan dengan syri’at dan tasawuf yang benar. Ia melaukan berbagai upaya untuk membuat pengikut Hamzah dan Syamsuddin bertaubat, kembali pada keimanan yang benar. Ini dapat dilakukan oleh Ar-Raniry karena ia memiliki kedudukan sebagai Syaikh al-Islam dalam kesultanan Aceh yang saat itu di bawah pimpinan Iskandar Tsani. Di satu sisi Ar-Raniry mampu “memaksa” pengikut Hamzah dan Syamsuddin bertaubat, namun di sisi lain sesungghnya ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pemahaman tasawuf seperti yang diajarkan Hamzah semakin kuat. Apalagi setelah tujuh athun menjadi syaikh al-Islam di Aceh Ar-Raniry kembali ke Ranir, India, maka tasawuf bercorak panteistik tersebutkembali muncul, walaupun tidak berkembang sebagaimana awalnya.
Pada masa As-Sinkili, tasawuf bercorak falsafi tidak begitu terkenal dan populer dalam masyarakat. Meskipun dari beberapa karangannya terlihat as-Sinkili tidak setuju dengan faham tasawuf Hamzah, namun ia tidak pernah menyatakan secara eksplisit dalam tulisan-tulisannya. Ia sendiri menganut tarekat Syaththariyah, meskipun ia juga mengantongi ijazah tareqat Naqsabandiyah. Ia memilih tarekai ini karena menganggap tarekat ini lebih mudah dan lebih tinggi, dasar amalannya dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah dan dikerjakan oleh sekalian sahabat. Di Nusantara ia menjadi guru utama tareqat ini, dan ia masuk dalam silsilah tarekat yang dibacakan penganut tarekat Syattariyah sampai saat ini.
Abdurrauf memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Nurantara. Ia memiliki murid dari berbagai daerah. Di Sumatera Barat ajaran-ajaran tasauf As-Sinkili dibawa oleh muridnya Syaikh Burhanuddin Ulakan. Berkat muridnya ia Tarekat Syattariyah menjadi tarekat yang sangat berpengaruh di sekitaran daerah Pariaman. Sementara di Sulawesi ajaran-ajaran tasawuf as-Sinkili dibawa olehSyaikh Yusuf Tajul Khalwati Makssar. Di kepulauan Jawa Syattariyah disebarkan oleh muridnya Syaeh Abdul Muhyi. Ia belajar kepada as-Sinkili pada saat singgah di Aceh dalam pejalanannya ke Makkah utuk menunaikan ibadah haji. Tarekat ini juga berkembang hingga ke Tanah Melayu yang dibawa oleh muridnya, Abdul Malik bin Abdullah.
Melihat banyaknya murid As-Sinkili dari berbagai daerah di Nusantara tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tasawuf memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam di Nusantara pasca melemahnya kerajaan Aceh Darussalam. Sebab pada masa itu, murid menjadi ujung tobak dalam penyebaran Islam. Saat ia telah “tamat” belajar pada guru tertentu, ia akan mencari guru lain atau pulang ke daerahnya dan menyebarkan ilmu keislaman di sana. Ini juga yang terjadi pada murid-murid as-Sinkili. Dengan jalan inilah pengaruh tasawuf yang diajarkan as-Sinkili menjlaar ke seluruh Nusantara.

Perkembangan Pasca Abdurra’uf
Abdurra’uf yang telah menyemai bibit-bibit tarekat sebagai jalan pengamalan tasawuf, mulai tumbuh dan berkembang pada masa-masa selanjutnya. Masyarakat Aceh yang memiliki tradisi mistis lebih kuat dibandingkan tradisi fiqh dalam pengamalan agama menjadi lahan yang subur dalam pengambangan tasawuf bercorak tarekat ini. Ulama-ulama yang datang kemudian menjadikan tareakt sebagai dasar dalam pengambangan syi’ar Islam. Mereka membuka kelompok-kelompok tasawuf di dayah-dayah yang diikuti oleh kelompok masyarakat. Ini menjadi awal bagi organisasi sosial masyarakat dalam gerakan sosial yang bersifat filantropy atau juga gerakan sosial dalam menantang penjajahan.
Perkembangan tasaawuf ke arah pelaksanaan tarekat mulai marak pada akhir abad XIX. Salah seorang ulama yang mengembangkan tarekat adalah Hasan Krueng Kalee (L. 1886). Orang tua Hasan bernama Teungku Muhammad Hanafiah, yang berasal dari Aceh Besar. Ia adalah sahabat dekat Teungku Syeikh Muhammad Saman Tiro (teungku Chik Di Tiro). Kakeknya juga seorang ulama besar yang bernama Teungku Syekh Abbas, putra dari seorang ulama bernama Teungku Syeikh Muhammad Fadlil. Menurut catatan sejarah keluarga, Teungku Syeikh Muhammad Fadlil juga anak dari ulama besar dan bapaknya juga anak dari ulama besar yang lain. Demikian hingga Teungku Hasan Krueng Kalee dapat dikatakan keturunan ulama tujuh turunan.
Hasan pernah menetap di Makkah selama tujuh tahun. Setelah mengajar di beberapa dayah almamaternya, pada tahun 1916 ia memimpin dayah Krueng Kalee peninggalan almarhum Bapaknya yang hampir tidak terurus lagi. Selama di Makkah mempelajari Tarekat Haddaiyah. Tarekat Haddadiyah adalah sebutan lain dari tarekat Alawiyyah. Tarekat ini lahir di Hadralmaut yang dibawa oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad). Ia adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW.
Tarekat Haddiyah merupakan tarekat yang sangat sederhana, menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan. Dengan demikian wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah diamalkan dan dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid utama yang diajarkan dalam tarekat Haddiyah, yakni, Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].
Di Aceh, Hasan Krueng Kalee merupakan orang petama yang mengemabangkan tareat Haddadiyah. Untuk memudahkan penyebaran dan pengambangan tarekat ini ia mnullis sebuah kitab yakni “Risalah Latifah”. Dalam kitab ini ia menjelaskan tatacara dan zikir yang diucapkan oleh salik. Kitab “tuntunan” yang dikarang Krueng Kalee menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan taswuf akhlaqi di Aceh pada awal abad XX.
Ulama lain yang mengembangkan tarekat di Aceh Teungku Muda Wali al-Khalidi. Ia pernah mengunjungi dayah Hasan Krueng Kalee, namun tidak menetap lama di sana. Ia merupakan pengembang Tarekat Naqsabandiyah di Aceh. Dayah yang dibangun di Blang Poroh Labuhan Haji Aceh selatan sampai saat ini masih menjadi pusat pendidikan agama dan pengajaran Suluk (tarekat) di Aceh. Setiap tahun didatangi ribuan salik yang akan melaksanakan suluk di dayah tersebut.
Saat ini terekat Nagqsabandiyah merupakan tarekat terbanyak diamalkan dan diikuti oleh masyarakat Aceh. Umumnya tarekat ini berkembang di dayah-dayah salafiyah baik di pedesaan maupun di kota-kota. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh Muda Wali yang tersebar melalui murid-muridnya. Dayah-dayah besar di Aceh saat ini memiliki keterkaitan batin dengan Muda Wali. Ia menjadi salah satu syaikh yang dimasukkan dalam zikir-zikir para penganut tarekat Naqsabandiyah. Demikian juga ia menjadi “desainer” model pelaksanaan suluk di Aceh yang sampai saat ini masih dilaksanakan di dayah-dayah.
Selaian Muda Wali, di Pidie, tepatnya di Lueng Putu Pidie, pada akhir abad XVIII, lahir seorang ulama yang mencoba mensinergiskan tasawuf dengan syari’at. Ia dikenal dengan nama Teungku Disimpang. Ia pasti memiliki nama asli nama asli, namun kemuliaannya di mata masyarakat menyebabkan ia tidak dikenal dengan nama aslinya, namun lebih dikenal dengan nama laqab-nya.
Tgk. Disimpang menulis sebuah artikel panjang dengan judul Dawa’ al-Qulub min al-‘Uyub. Artikel ini dicetak dan disebarkan dengan beberapa artikel lain mengenai ibadah, fiqh, tasawuf dan lain sebagainya dalam Kitab Jam’ Jawami’ al-Mushhannafat, atau di Aceh di kenal dengan sebutan Kitab Lapan (Kitab delapan). Disebut delapan karena di dalamnya terdapat delapan artikel mengenai berbagai aspek keislaman.
Apa yang ditulis Tgk. Disimpang menunjukkan ia mencoba memposisikan tasawuf lebih “dekat” dengan kehidupan manusia modern. Ia menakankan pentingnya menghadirkan hati dalam setiap amal yang dilakukan manusia. Selain itu ia juga memberikan berbagai “obat hati” dalam menyelesaikan masalah kehidupan, tertama hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan dosa yang dilakukan manusia.
Dalam pemaparan yang diberikannya, terlihat Tgk. Disimpang amat dipengaruhi oleh pemikiran tasawuf al-Ghazali hampir seribuan tahun sebelumnya. Namun jels pemikiran tersebut masih relevan untuk kehidupan masyarakat modern di Aceh.
Selain perkembangan tarekat dan pemikiran tasawuf seperti di atas, ada juga sebuah usaha pemurnian tasawuf dari praktik yang tidak sesuai dengan kaidah syari’at Islam. Hal ini dilakukan oleh Abdullah Ujong Rimba, dengan mencoba menghapus praktik salek buta dalam masyarakat. Salik buta (saleek buta atau eleumee salek) yang berkembang di Aceh memiliki hubungan langsung dengan praktek tasawuf wujudiyah yang berkembang di masa pemerintahan Iskandar Muda dan seterusnya. Hamzah Fansuri yang menjadi tokoh utama perkembangan tasawuf di Aceh telah menyebarkan pemahaman dan praktek tasawuf dalam masyarakat.
Ujoeng Rimba menganggap praktek salik buta di Aceh berkembang di Aceh bertentangan dengan ajaran syari’at. Oleh sebab itu ia berusaha memberikan penjelasan kepada masyarakat mengani masalah ini. Bahkan untuk itu ia mengarang sebuah kitab dengan judul Pedoman Menolak Salib Buta. Dalam buku ini ia menjelasskan sejarah salek buta dan “kesesatannya”. Ia kemudian memberikan berbagai angkah untuk menolak dan memposisikan kaum salik buta tersebut.
Perkembangan tasawuf saat ini juga terlihat dari banyaknya jamaah muslim yang menekankan aspek tasawuf dalam gerakannya, diantaranta adalah Majelis Zikir al-Waliyah. Majelis ini dipimpin oleh Abuya Muhibbudin Wali. Ia adalah anak tertua dari Muda Wali al-Khalidi yang membawa dan mengembangkan tarekat Naqsabandiyah di Aceh. Majelis Zikir ini berupa sebuah kelompok Muslim yang mempraktekkan zikir tertentu dengan dipimpin oleh Abuya Muhibbuddin Wali sendiri. Bukan hanya di Banda Aceh, majelis ini juag ada di daerah-daerah yang berbasis dayah/pesantren.
Gerakan lain dalam hal tasawuf adalah Majelis Tauhid Tasawuf yang dibawa oleh Abuya Amran Wali. Ia juga anak dari Muda Wali. Tauhid tasawuf berupaya memurnikan tauhid kaum muslimin dengan pendekatakan tasawuf. Sebab dengan pendekatan ini maka seseorang akan memperoleh dua manfaat sekaligus, kedekatan dengan Tuhan dan kemurnian aqidah. Mejelis ini mengadakan pengajian bulanan di Dayah Talibul Huda Aceh Besar dan beberapa masjid lainnya. Gerakan ini berpusat di Aceh Selatan, di dayah Darul Ihsan, pimpinan Abuya Amran Wali sendiri.
Praktek tasawuf yang sangan nampak ada di dayah-dayah tradisional di seluruh Aceh. Selain sebagai subjek ajar, tasawuf juga menjadi salah satu kekhasan dalam dayah dengan pengadaaan Suluk dan Tawajuh. Suluk (Arab: salaka, yasluku) secara literal berarti melalui atau menempuh jalan; atau juga berarti perangai atau perilaku. Suluk selalu dikaitkan dengan aktivitas ruhaniah seseorang yang mengambil jalan tasawuf untuk menedekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, suluk adalah tasawuf yang diterjemahkan dalam praktek. Berbagai langkah dan metode teoritis yang dijelaskan dalam tasawuf dicapai dengan sebuah latihan yang berat dan disiplin tinggi. Dan suluk merupakan wujud dari latihan tersebut.
Dalam pelaksanaan suluk, para salik melaksanakan amalan suluk sesuai dengan mazhab tariqat yang dianutnya. Mereka dipimpin oleh seorang mursyid atau sering juga disebut dengan khalifah. Khalifahlah yang membimbig para salik agar mereka tetap pada jalan atau adab suluk yang telah ditetapkan sehiangga suluk yang mereka jalankan akan dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Gerakan lain di Aceh yang memiliki ruh tasawuf adalah Jama’ah Tabligh di Aceh Besar. Jama’ah Tabligh merupakan salah satu gerakan dakwah Islam yang berkembang di Aceh modern. Pada mulanya gerakan dakwah ini dikembangkan di India oleh Maulana Muhammad Ilyas (1885-1944). Aktifitas kemisian Jama’ah Tabligh dimulai pada 1926, ditandai dengan pergerakan dakwah dari pintu ke pintu yang dilakukan oleh Maulana Ilyas. Ia membawa sebuah pesan: “Ai Musalmano Musalman Bano” (Wahai kaum muslimin, jadilah muslim yang baik!). Ia menyentuh orang dengan pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah dan menjadikannya di atas segalanya. Dengan kegigihan, semangat, pantang menyerah, tidak kenal lelah ia mengabdikan seluruh hidup dan hatinya untuk menyampaikan apa yang dia sebut dengan misi para nabi, yakni membawa umat Islam denkat dengan Islam itu sendiri.
Di Aceh, Jama’ah Tabligh juga ikut berkembang. Saat ini hampir di sluruh Aceh terdapat Jama’ah Tabligh. Untuk saat ini (Agustus 2007) pusat dakwah Majelis Tabligh adalah di Desa Cot Goh, Montasik, Aceh Besar. Di sana sistem koordinasi dijalankan untuk seluruh jama’ah Jama’ah Tabligh di seluruh Aceh. Pada setiap kamis malam diadakan pertemuan yang dihadiri oleh semua jamaah yang mungkin menghadirinya (wilayah Kutaraja). Pertemnuan itu dikenal dengan uzlah, yakni pengasingan diri untuk beribadah kepada Allah dan belajar berbagai materi pelajaran agama.
Jama’ah Tabligh mimiliki misi dasar untuk mengajak umat Islam untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam segenap aspek kehidupan. Pelaksanaan ajaran agama, terutama dalam hal ibadah, sangat ditekankan kepada jamaahnya. Jama’ah diharapkan melaksanakan ibadah-ibadah kepada Allah, bukan hanya ibadah wajib, namun juga ibadah sunat sebanyak mungkin. Jama’ah Tabligh percaya bahwa dengan ibadah inilah mereka akan dekat dengan Allah dan Allah akan memberikan segalanya kepada hamba tersebut.
Salah satu aktifitas dakwah yang dilakukan oleh jamah adalah khuruj. khuruj merupakan aktifitas jamaah yang dilakukan di luar lingkungan aslinya untuk berdakwah dan menebarkan ajaran Islam sebagaimana yang mereka yakini. Khuruj dibagi tiga, berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan. Khuruj tiga hari, dilakukan selama tiga hari di mushalla di luar mushalla asalnya. Jamaah dari musalla yang satu datang ke mushalla lain untuk menjadi da’I dan menyampaikan misi dakwah di lingkungan mushalla tersebut. Khusruj 40 hari dilakukan selama 40 hari. Khuruj ini dapat dilakukan di luar kabupaten, atau provinsi.

Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah bahwa perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu menekankan tasawuf yang berbasis filsafat dan pendekatan diri dengan Tuhan dalam dimensi asketik murni. Faham ini dianut secara menyeluruh oleh masyarakat kerjaan Aceh pada masa Iskandar Muda, bahkan Iskandar Muda sendiri adalah salah seorang peganut tasawuf yang dikembangkan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani tersebut. Selain itu pada masa ini para ulama “memprodukdi” ilmu, atau memiliki akses yang besar dengan dunia keilmuan Islam di Arabiya. Dengan demikian mereka melahirkan karya-karya besar dan mampu menjadi guru dalam sajarah tasawuf di Nusantara.
Namun dalam perkembangan modern di Aceh hal ini tidak ada lagi. Para ulama modern kebanyakan menjadi pelaksanana atau pengikut dari gerakan tasawuf yang sudah ada. Dalam berbagai praktek ajaran tasawuf yang ada di Aceh modern, hanya Jama’ah Tabligh saja yang menunjukkan sebuah gerakan kesufian dalam dunia modern. Namun sayangnya gerakan ini bukan sebagai sebuah konsekwensi perkembangan pemikiran tasawuf klasik di Aceh, namun merupakan unsur luar yang masuk ke Aceh dan memiliki pengikutnya di sini.
Dalam pendnagan penulis ini semua terjadi karena pengaruh modernisasi dengan dimensi materialistik dan konsumeristik yang mulai masuk dalam pemahaman agama masyarakat. Bukan hanya kehidupan sosial saja yang dinilai dengan uang, praktik ritual agamapun sering diukur dengan keuntungan-keuntungan finansial. Ini mengakibatkan cara pandang yang keliru menganai praktik agama, sehingga melahirkan politisasi agama demi kepentingan sesaat dan ragawi.
Pengaruhnya tentu saja pada stagnasi pemikiran dan rendahnya motivasi belajar dalam ilmu-ilmu keislaman “melangit,” sebagaimana dilakukan oleh ulama klasik. Masyarakat cenderung belajar dan mengirim anaknya untuk pendidikan yang menjanjikan pekerjaan dan “jaminan masa depan.” Dengan demikian lambat laun ahli dalma bidang agama teoritis mulai langka dan akhirnya menghilang sama sekali, sebagaimana kita saksikan saat ini.