Monday, 18 July 2011

Pak Roosman; Mengekspor Kerajinan Tangan ke Mancanegara

Saya tidak tamat SD. Saudara saya banyak, bapak saya miskin, tidak sanggup menyekolahkan saya,” demikian pengakuan lelaki paruh baya ini. Karena itu sejak kecil ia terdidik menjadi seorang yang bekerja keras, selain untuk membantu keluarga, ia juga mau menyekolahkan adik-adiknya.

Sejak remaja ia sudah bekerja di sebuah home industri kerajinan kulit di desanya, desa Manding, Bantul, Yogyakarta. Tidak disangka, pekerjaan inilah yang mengantarkannya menjadi produser berbagai produk kerajinan kulit bertaraf Internasional yang diekspor ke mancanegara.

Namanya Pak Roosman. Saat saya datang ke tempatnya, ia besama istri dan lima karyawan sedang membuat beberapa dompet pesanan pelanggan. “Semua kerajinan kulit usaha kami dibuat manual dengan tangan, dipotong manual, dijahit juga dengan tangan, tidak pakai mesin,” kata lelaki dua putra ini.

Hal ini disebabkan permintaan pasar luar negeri yang menginginkan semua proses pembuatan kerajinan itu harus dengan tangan. “Jadi benar-benar murni kerajinan tangan,” katanya sedikit berpromosi. Dan ia konsisten dengan cara ini agar kualitas kerajinan buatannya benar-benar memiliki standar yang layak untuk pasar luar negeri.

Pak Roosman sudah punya pengalaman panjang dengan usaha kerajinan kulit. Ia memulainya dengan menjadi karyawan pada seorang warga Manding yang sekarang sudah meninggal dunia. “Beliau adalah pelopor kerajinan kulit kampung Manding” katanya. Sebagai karyawan ia bekerja di sana selama 20 tahun. Setelah majikannya meninggal dunia, ia mendirikan usaha sendiri, dan kini sudah berjalan selama 15 tahun.

Selama 15 tahun ini, ia sudah memiliki 43 karyawan. Setiap karyawan mendapatkan upah rata-rata Rp. 4 juta perminggu. Hal ini terkait dengan jumlah produksi si karyawan. Jumlah itu tidak sepenuhnya untuk dia, sebab si karyawan terkadang membawa pulang bahan-bahan yang siap dibuat lalu dikerjakan di rumah bersama pekerja lain, keluarganya atau tetangganya. Ia jua memiliki tiga sentra usaha, satu toko show room, satu show room dan produksi, dan satu tempat khusus produksi.

Bahan baku pembuatan kerajinan kulit diperolehnya dari Semarang. Baik kulit ular, sapi, domba, ikan pari, buaya, biawak dan kulit kambing. “Di Semarang ada kampung yang memproduksi kulit siap pakai. Jadi bukan saya sediakan sendiri,” katanya ketika saya tanya tentang asal kulit yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tas. Demikian juga beberapa bahan lain untuk membuat tas, seperti batik, kayu, karet, dan lainnya, semua dibeli dari unit produksi yang lain.

Sekarang ini Pak Roosman memproduksi segala macam bentuk kerajinan dari kulit, seperti berbagai macam tas, dompet, sepatu/sandal, jaket kulit, kursi, tali pinggang, dan lainnya. Ia juga menerima pesanan khusus dari pelanggan. Banyak pelanggan yang datang ke sana dengan membawa foto desain bentuk yang ia inginkan dan meminta Pak Roosman membikinkannya. Pun demikian, ia juga memproduksi beberapa kerajinan dari bahan non kulit, namun ini sekedar untuk memenuhi permintaan pasar.

Hasil kerajinan kulit Pak Roosman sudah 13 tahun belakangan ini diekspor ke Korea dan Jepang. Ke Jepang ia menjual 700 buah tas per tiga bulan. Bahkan setelah gempa Maret lalu, ia mendapatkan pesanan dua kali lipat dari biasa. Sementara untuk Korea ia menjual berapapun yang ia sanggup buat, setiap enam bulan sekali. “Mereka bayar cash, tidak ada utang-utang,” kata Pak Roosman tentang mitra usahanya. Menurut Pak Roosman, pengusaha tersebut datang langsung ke Jogja dan mengunjungi tempat produksinya.

Usaha Pak Roosman bukan tanpa hambatan. Pada masa krisis modeter tahun 90-an dulu permintaan menurun dan harga bahan baku sangat mahal. Banyak teman-temannya di Desa manding yang tutup usaha. Demikian halnya saat gempa besar melanda Bantul tahun 2006. Rumahnya hancur dan semua barang didalamnya tidak bisa digunakan lagi. Namun Pak Roosman tidak berputus asa, ia tetap merintis usahanya sehingga normal kembali seperti sekarang.

Yang menarik adalah, beberapa merek terkenal dari luar negeri dibuat oleh Pak Roosman. “Masalah merek itu gampang, saya bisa bikin juga,” katannya. Ia mengaku banyak pengusaha yang datang ke tempatnya untuk memesan tas dengan merek tertentu dalam jumlah banyak. Dan Pak Roosman membuatnya. “Kalau ada yang bilang ia memakai tas made in Korea, Jepang, Italia, atau dari manapun, itu bisa jadi benar, namun bisa jadi itu made in Roosman di desa Manding,” katanya sambil tertawa.

Pak Roosman adalah potret pekerja keras, tekun, pantang menyerah, berwawasan global, dan memberdayakan. Pengusaha Indonesia harus punya visi seperti Pak Roosman, selain bekerja untuk diri sendiri, juga meberdayakan orang lain. “Hidup kita harus saling membantu,” kata Pak Roosman mengakhiri perbincangan kami.

So,

Kalau anda pergi ke pesta
Jangan lupa memakai anting
Kalau anda pergi ke Jogja
jangan lupa mampir ke Manding

Sunday, 17 July 2011

Di Aceh, Setiap Hari Ada yang Dipancung!

Heboh pemancungan seorang TKW di Arab Saudi masih menyisakan pilu bagi banyak warga Indoensia, baik yang ada di Arab Saudi atau yang berada di Indonesia. Bahkan pemerintah dibuat repot dengan masalah ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menjawab pertanyaan, tudingan, keluhan banyak masyarakat. Tapi sebatas itu, mereka tetap tidak melakukan apapun untuk menyelematkan “Ruyati” lain yang akan ikut dipancung juga.

Beda dengan di Arab yang suka memancung manusia, di Aceh yang dipancung adalah kopi. Bukan batang kopi atau biji kopi, tapi takaran minum kopi. Di warung kopi, di mana-mana seluruh Aceh anda bisa pesan yang namanya kopi pancung. Semua orang tahu. Dalam bahasa Aceh disebut dengan “kupi pancong”, atau “kupi sikhan”.

Kupi pancong sama saja dengan kopi lainnya. Ia disebut “pancong” karena isinya yang tidak penuh satu gelas. Paling setengah gelas atau bahkan kurang. Rasa dan aromanya juga sama saja. Ia juga dibuat dari bubuk yang sama, diolah dengan cara yang sama dan disajikan dengan cara yang sama pula. Hanya karena isinya yang setengah, ia disebut kopi pancong.

Meskipun kupi pancong adalah hal yang lumrah dalam masyarakat, ada filosofi besar yang dikandungnya terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan. Kupi pancong dipesan karena seseorang biasanya tidak bisa (atau tidak dibolehkan) minum kopi terlalu banyak karena terkait dengan masalah penyakitnya. Yang lain merasa tidak mau minum kopi terlalu banyak hingga memesan setengahnya saja. Ada juga yang tidak memiliki cukup uang sehingga ia memesan kopi pancong agar harganya lebih murah dari kopi biasa.

Namun terkadang kopi pancong juga terkait dengan sikap malas dan budaya santai dalam masyarakat Aceh. Ada ungkapan, “kupi sikhan glah, peh bereukah lua nanggroe.” (minum kopi hanya setengah gelas, tapi omongannya hingga ke laur negeri). Biasanya orang seperti ini adalah laki-laki. Sebelum pergi bekerja mereka duduk dulu di warung kopi hingga menceritakan banyak hal. Bahkan ada yang akhirnya tidak jadi pergi bekerja karena keasyikan bercerita.

Jadi bagi yang hobbi kopi, jagan sungkan-sungkan pesan kalo ke Aceh.

Bi kupi pancong saboh!


Saturday, 16 July 2011

Mbah Mul: Dukun Spesialis Pijat Bayi yang Direkom Dokter Anak

Seorang bayi tanpa pakaian telungkup di pangkuannya. Bayi itu nampaknya masih berusia empat bulan. Dua tangannya memegang pundak si bayi sambil memijat-mijat pelan. Sedikit demi sedikit turun ke punggung dan ke pantat. Kemudian ia memegang kedua belah kaki bayi, kedua tangannya, dan kepala. Dalam waktu 10-15 menit ia mengatakan dengan senyuman: “Sudah”. Lalu sepasang suami istri mengambil bayi itu dan mengenakan pakaiannya kembali.

Dia seorang nenek tua. Perawakannya kecil, kurus, kulitnya kehitaman dan sudah berkerut. Matanya dalam dan jauh dari sinar yang berbinar. Memang, ia sudah layak dengan perawakan itu. Usianya kini sudah 95 tahun. Ia lahir awal abad yang lalu, bersamaan dengan puncak kekuasaan Belanda di Jawa. Masyarakat memanggilnya Mbah Mul. Di adalah dukun “spesialis” pijat bayi di Yogyakarta.

Saya tahu tentang Mbah Mul saat membawa anak saya berobat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Di sana saya jumpa dengan seorang polisi yang juga membawa anaknya berobat. Kami saling menceritakan anak masing-masing. Sampai ia mengatakan kalau dulu bayinya sering dibawa kepada seorang dukun “spesialis bayi” untuk dipijat. Menurut sang polisi, dengan dipijat bayi kita akan lebih sehat. Bukan hanya demam, batuk, pilek, penyakit yang lain juga akan sembuh. Saya tertarik dan menanyakan alamat Mbah Mul.

Quota pijat dengan Mbah Mul hanya 15 orang perhari. “Dulu sampai 100 orang. Sekarang karena usianya sudah sepuh, ia tidak sanggup lagi memijat banyak orang”, kata seorang orang tua pasien. Nomor antrian harus diambil jam tiga sore hari sebelumnya. Banyak yang datang sebelum jam tiga, bahkan ada yang mulai antri sejak jam satu siang. Kalau yang antri sudah ada 15 orang, maka yang datang belakangan otomatis tidak mendapatkan nomor, meskipun “loket” pengambilan nomor baru dibuka jam tiga sore.

Pada hari pertama membawa anak kepada Mbah Mul, saya berjumpa dengan beragam macam orang tua dengan keluhan yang bergam pula. Sebagian memang membawa anaknya untuk pijat biasa. Namun ternyata banyak yang membawa anak ke sana karena berbagai penyakit. Seorang bapak paruh baya mambawa putra bungsunya yang sudah berusia empat tahun namun belum bisa berjalan. “Saya sudah bawa sampai ke Singapura, tapi tidak bisa sembuh. Alhamdulillah sejat dipijat Mbah Mul, kaki anak saya sudah mulai bertenaga,” katanya. Seorang ibu muda mengaku anak perempuannya tidak bisa bicara padahal usianya sudah tiga tahun. Dan setelah dipijat Mbah Mul sekarang ia sudah mengeluarkan suara.

Tidak hanya itu, sepuluhan orang yang datang memijat anak pada hari itu memiliki kisah yang berbeda. Seorang bapak menceritakan kalau anaknya tidak bisa bicara karena kebanyakan minum obat. Sejak kecil anaknya terus sakit-sakitan dan dokter terus memberinya obat. Dokter tidak bisa mengobati anaknya untuk bisa bicara. Setelah dibawa kepada Mbah Mul, beliau mengatakan kalau si anak sudah diracuni oleh obat. Jadi Mbah Mul akan mengeluarkan sisa-sisa obat yang masih ada dalam tubuh si anak yang sudah menumpuk agar ia bisa bicara. Dan menurut orang tersebut, sekarang anaknya sudah bisa mengucapkan banyak kata.

Saya menemukan beragam kasus yang lain setelah beberapa kali memabwa anak saya kepada si Mbah. Secara pribadi saya sendiri juga merasakan anak saya lebih sehat setelah dipijat sama Mbah Mul. Antara lain tendangan kakinya sangat kuat, demikian juga genggaman jarinya. Banyak yang menyangka anak saya sudah berumur 5 atau 6 bulan. Sebab ia nampak lebih besar dari bayi seusianya. Apakah karena pijatan Mbah Mul? Wallahu’a'lam. Namun saya melihat anak saya tidur lebih nyenyak setelah dipijat, lebih ceria, lebih bertenaga. Dan sekarang saya membawanya kepada Mbah Mul setiap 10 hari atau dua minggu sekali.

Kembali kepada Mbah Mul. Apa benar dokter anak merekomendasikan Mbah Mul? Saya yakin tidak semuanya. Namun saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang mengaku abangnya adalah dokter anak di Yogyakarta. Anaknya terserang ….mmm… saya tidak tahu namanya, seorang bayi yang terjadi pembengkakan di kepala hingga kepalanya membesar. Si bapak stress berat, sebab anak pertamanya langsung terkena penyakit berat seperti itu. Tidak ada jalan lain kecuali dilakukan bedah kepala dan dipasang semacam selang untuk menyambung urat yang putus atau menyempit di dalam kepala. Sang kakak mengatakan sebaiknya pergi ke Mbah Mul. Dan ketika sampai kepada Mbah Mul, ternyata itu bukan kasus pertama yang ditanganinya. Sebelumnya sudah ada beberapa orang yang memiliki cerita yang sama. Dan kini, si anak sudah berusia 3,5 tahun. Ia nampak sehat dan gembira. Tidak nampak ada tanda-tanda ia menderita penyakit berat semasa bayi.

Sihir? Jampi-jampi? Sama sekali bukan. Itu sebuah keterampilan yang dipraktekkan Si Mbah sejak ia Muda. Pada masa mudanya dulu, ia merupakan tukang pijat Sultan Yogya. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, ia masih memijat orang dewasa. Terutama perempuan hamil dan menyusui. Namun karena sekarang usianya sudah sangat tua, ia hanya menerima memijat bayi. Dan sepanjang sejarah hidupnya, ia sudah memijat ribuan bayi. Dari bayi orang kaya hingga orang miskin. Ia tidak menentukan tarif. Cukup memberikan seiklasnya. Ia tidak menjual obat. Sebab pijat adalah obat satu-satunya. Secara pribadi, saya puas membawa bayi kepadanya.

Friday, 15 July 2011

Baru 32 Tahun Sudah Punya Dua Cucu

Tetangga rumoh kontrakan saya di Jogja adalah keluarga kecil dengan dua orang anak. Yang sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Si kakak baru berusia 18 bulan dan adiknya masih 2 bulan. Bapaknya bekerja serabutan. Keluar pagi pulang petang. Si ibu tidak ada pekerjaan sama sekali. Ia nampak masih sangat muda. Bahkan, masih kekanak-kanakan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu kalau usianya kini baru 16 tahun. Ia menikah saat masih kelas dua SMP dengan kakak kelasnya di SMP yang kini jadi suaminya.

Baru 16 tahun sudah punya dua anak, itu sungguh mengejutkan.

Tapi lebih mengejutkan saya, ternyata ibunya si perempuan baru berusia 32 tahun! dan baru dua minggu yang lalu melahirkan anaknya yang keempat.


Saya jadi teringat dua pengalaman sebelumnya. Pertama di Aceh Jaya, tahun 2006 saat saya bekerja sebagai relawan di Palang Merah Inggris dalam pembangunan rumah korban sunami. Salah satu penerima manfaat kami adalah seorang ibu dengan sua orang anak. Si ibu tidak memiliki suami, bukan tidak punya, tapi suaminya sudah merantau ke Malaysia saat konflik dan tidak pernah mengirimkan berita apapun selama ia pergi. Selama itu pula si ibu harus menghidupi dua anaknya. Yang tua, saat itu sudah berumur tujuh tahun. adinya lima tahun. Mau tahu berapa usia si ibu? 19 tahun!!

Di sebuah dusun pedalaman di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah tempat saya pernah melakukan penelitian saya mendapatkan fenomena yang serupa. Selama penelitian saya tinggal di rumah kepala dusun. Anak laki-laki kadus adalah seorang kakek tiga cucu. Usia si “kakek” baru 38 tahun. Sementara istrinya, saat saya di sana masih berusia 32 tahun. Dan cucu tertuanya berusia 5 tahun. Artinya, ia berusia sekitar 27 tahun saat pertama kali menimbang cucu. Anda bisa bayangkan usia berapa ia menikah dan usia berapa ia melahirkan. Kalikan juga, usia berapa anaknya menikah hingga kini ia memiliki cucu.

Ini sungguh fenomena memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan masa bermain tiba-tiba harus menerima kenyataan hidup yang berat. Jangan tanya soal pendidikan. Itu jelas sama sekali tidak pernah dipikirkan lagi. Apalagi masalah kesehatan. Dukun dan tabib adalah pilihannya. Lebih menyedihkan adalah biaya hidup sehari-hati. Suaminya masih tergolong anak-anak yang jika belum menikah ia masih ditanggung oleh orang tuanya. Sekarang ia dibebani tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Siapa yang salah?

Tidak ada yang mau di salahkan. Namun hampir semua pihak menyumbangkan sedikit kesalahan yang berujung pada munculnya masalah ini. Pemerintah jelas tidak sukses menjelaskan amsalah KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Bukan hanya masyarakat pedesaan yang kadang jauh dari jangkauan informasi, di perkotaan sekalipun masih banyak kita temukan anak yang sudah memiliki anak.

Kedua, ini pengaruh media yang menyiarkan gaya hidup hedonis dan pergaulan dengan kecenderungan pada relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, berita tentang pacaran dan pasangan berevolusi dengan sangat. Isue utama yang ditekankan adalah pasangan muda yang mengedepankan hubungan laiknya suami istri. Semakin jauh melangkah dalam relasi seksual tanpa nikah dianggap semakain modern dan semakin cinta.

Tokoh agama juga menyumbangkan masalah. Doktrin agama yang tidak dipahami dalam konteks perkembangan zaman dan perubahan budaya menyebabkan banyak perempuan yang harus menerima kenyataan nikah muda, baik karena dipaksa oleh orang tuanya, juga karena merasa ia “hanya seorang perempuan” yang tidak diizinkan oleh agama memilih hidup yang lebih baik. Bahkan tidak jarang tokoh agama pula yang mengambil kesempatan ini dengan menikahi gadis belia dan mengorbankan masa depannya.

Yang paling bertanggung jawab sesuangguhnya adalah masyarakat itu sendiri. bagaimanapun sebuah kontruksi masyarakat yang bagus dan sadar akan pendidikan dan kesehatan bisa mencegah lahirnya “nenek-nenek” muda di masa depan. Sebab “nenek muda” ini jelas bukan sebuah prestasi, malainkan sebuah masalah sosial yang semakin membuat masalah sosial lainnya bermunculan. Seperti pengangguran, gelandangan, pengemis, dan lainnya.

Saturday, 2 July 2011

Budaya Ngopi; antara Aceh dan Milan

Siapa yang tidak kenal kopi? Mau tidak mau, suka tidak suka, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, sebagian yang lain teman biasa, dan tidak jarang pula menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun, kopi tetap dikenal.

Di Indonesia, kopi menjadi minuman paforit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang sangat menyukai kopi.

Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Di Banda Aceh misalnya, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar. Dari pinggiran hingga pusat kota. Tersebar merata.

Di Milan (dan Italia pada umumnya), minum kopi juga menjadi sebuah budaya yang tidak teprisahkan dari kultur masyarakatnya. Sama seperti di Aceh warung kopi dengan mudah bisa diperoleh di Milan. Di mana-mada ada Bar atau cafe yang menyedikan kopi. Kopi menjadi minuman paforit juga di kantin kampus, di terminal, di stasion kereta api, dan lainnya. Singkatnya, kopi adalah minuman yang sangat populer di Milan (juga Italia).

Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Milan memiliki budaya minum kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:

Pertama, kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas sedang yang diisi dengan kopi encer ditambah gula. Meskipun ada beberapa orang yang suka minum kopi pahit, namun itu bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis. Bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi jadi hilang. Sedangkan di Milan, orang sangat suka minum espresso, kopi pahit yang kental yang diisi dalam gelas kecil, sebesar jempol kaki. Itupun tidak penuh, mungkin hanya setengah. Beberapa orang memang menambahkan gula ke dalamnya, namun yang lebih umum, orang Milan meminum kopi itu apa adanya. Pahitnya menusuk jantung dan kepala. Tapi sedapnya menyebar ke seluruh tubuh.

Kedua,
Orang Aceh memiliki warung kopi yang banyak, besar dan rame. Kalau anda masuk ke warung kopi, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, seperti menjerit. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya. Kecuali pada waktu tidak banyak orang, atau di warung kopi yang tidak populer. Nah, ini sangat berbeda dengan di Milan. Banyak warung kopi tidak menyediakan tempat duduk. Kalau mau ngopi, anda masuk ke dalam, memesan kopi yang anda inginkan, dan minum sambil berdiri. Kadang ada satu set meja kursi, namun itu jarang dipakai. Orang lebih suka minum kopi sambil berdiri, bahkan kalau mereka berdua atau bertiga.

Ketiga, di Aceh, kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten lain, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum di dalam gelas akan tersisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan “kupi sareng” dan kopi kedua dengan “kupi tubroek”. Di Milan, pada umumnya kopi disajikan dengan menggunakan mesin modern. Bubuk kopi hanya dimasukkan dalam sebuah alat pengolahan. Ketika ada yang memesan, penjual akan mengeluarkan perasan kopi dari alat tersebut. Ini membuat kopi yang keluar adalah ekstrak kopi yang sangat kental dan rasanya juga sangat nikmat. Sebab ia adalah “uap kopi” yang memiliki aroma menusuk hidung.

Keempat, Di Aceh pada umumnya hanya ada kopi hitam saja dan tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, paling kita bisa memesan kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun kopi hitam sangat pupuler dan yang lainnya hanya insidentil dan disukai oleh orang tertentu saja. Di Milan, ada banyak olahan kopi dan sangat variatif. Dua kopi yang sangat terkenal adalah espresso dan capucino. Kalau espresso adalah kopi hitam pekat, capucino adalah kopi campur susu yang lumayan “terang”. Dua-duanya populer dan dua-duanya memiliki kenikmatan tersendiri yang masyaallah.

Kelima, Di Aceh kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh orang Aceh. Memang, kebanyakan berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi yang maha luas. Ada juga kopi yang di datangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun masyarakat Aceh pada umumnya memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri mereka, terutama masyarakat pedesaan Aceh. Lantas dari mana kopi yang ada di Milan? Seorang teman yang saya temui mengatakan kalau kopi di Milan diimpor dari luar. Di Italia sendiri tidak banyak tumbuh kopi, mereka mendatangkannya dari negara lain. Salah satu negara pemasok kopi ke Milan adalah Belanda.

Belanda? saya jadi ingat sebuah perusahan kopi asal Belanda yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka menampung kopi masyarakat dan mengirimkannya langsung ke Belanda. Apakah perusahaan ini yang memasok kopi ke Milan? Boleh jadi. Kalu benar, berarti saya sudah minum kopi Aceh di Milan. Hehehehe

Btw, bagaimana budaya minum kopi di tempat anda? Saya yakin pasti menarik!