Sunday, 8 April 2012

Inspirasi "Pantang Menyerah" dari Anak

Kini anakku sudah setahun. Saat aku pergi ke Italia, dia masih tujuh bulan. Sudah lima bulan lebih kami tidak bertemu. Jangan tanya bagaimana rasanya rindu.

Satu bulan yang lalu, lewat telpon ia sudah bisa memanggiku, “ayah…ayah…”. Itu kali pertama aku mendengar ia menyebut nama panggilan itu kepadaku. Aku yakin, beberapa hari ke depan ia pasti sudah punya kata baru: “ayah… wo… ayah… wo… ” (ayah, cepat pulang). Sungguh aku takkan sanggup mendengar kata itu.

Sekarang ia mulai bisa berjalan, meskipun belum lancar. Ia bisa berjalan pelan dan sudah lebih sepuluh langkah. Ia masih terus jatuh dan jatuh. Namun ia tidak pernah jera dengan jatuh. Anakku, seperti anak lainnya, dan seperti aku pada masa anak-anak, adalah orang yang menempatkan jatuh sebagai anak tangga menuju keberhasilan.

Kemarin istriku bercerita, kalau anak kami melihat iklan di televisi di mana ada anak-anak yang bergoyang, maka ia ikut bergoyang. Padahal kakinya belum terlalu kuat untuk begoyang. Hanya dua tiga kali bergerak saja, ia sudah jatuh. Namun, saat ia melihat iklan itu lagi dan melihat anak dalam televisi itu begoyang, ia kembali bergoyang.

Ia sudah lupa bahwa ia pernah jatuh karena meniru anak di dalam televisi. Sebab ia tahu semakin lama ia semakin dekat dengan kemampuan bergoyang, tanpa jatuh. Bandingkan beberapa minggu sebelumnya, bahkan ia belum bisa berdiri.

Anakku, anakmu, anak semua manusia, adalah mereka yang tidak mau peduli dengan kata “jatuh”. Jatuh adalah sebuah masalah, namun sukses adalah masalah lain. Jatuh adalah pasti, namun sukses adalah pilihan.

Semua orang akan jatuh dalam perjalanannya menggapai cita. Namun sebagian larut dalam jatuh dan tidak mau bangun dan mencoba lagi. Sebagain yang lain menjadikan jatuh agar ia semakin kuat meggapai impiannya.

Aku belajar banyak dari anakku.