Friday, 17 December 2010

Si Birah

Konon dulu, kata Lem Baka memulai kisah untuk anaknya yang akan tidur, di sebuah kampung ada seerkor ayam jago. Namanya Birah, Si Birah. Ia demikian jagonya, hingga tidak ada satupun ayam di kampung itu yang berani menantangnya. Ia punya pasukan yang kuat, punya peralatan perang yang lengkap, dan sangat canggih untuk ukuran masanya. Dengan itu semua ia menjadi sangat berkuasa. Apa yang diinginkannya akan dipenuhi oleh para pekerja, apa yang ia harapkan akan disedikan oleh budak-budak yang dimilikinya. Budaknya berasal dari bangsa bebek yang tidak banyak macam dan suka menurut.

Si Birah punya obsesi besar untuk menjadi raja di atas raja-raja lain yang ada di kampung tetangga. Apalagi konon di kampung tetangga rajanya bukan dari kalangan ayam jago. Sebagian dari bangsa burung, sebagian kambing, sebagian kerbau. Namun ia tidak peduli, ia yakin akan mengalahkan mereka semua. Karena itu ia menyiapkan berbagai perlengkapan perang untuk penyerangan kampung tetangga. Dengan kedigdayaan senjatanya, Si Birah dan pasukannya dapat menaklukkan satu persatu kampung-kampung itu. Hingga lama kelamaan ia benar-benar menjadi raja di atas raja-raja. Raja diraja.

Menjadi raja diraja membuat Si Birah merasa banyak musuh. Ia terus merasa berbagai bangsa, berbagai suku hendak menghancurkan dan merebut kekuasaannya. Ia menjadi sangat protektif menjaga kekuasaannya. Setiap orang yang dianggap melanggar hukum lantas disiksa dengan siksaan yang berat, apakah hukuman itu sesuai dengan aturan atau tidak, itu bukan masalah baginya. Ia, dengan kekuasaannya, dapat membuat hukum sendiri. Kalau ia keliru, para ulama, para cendikiawan, para cerdik pandai dan perangkat adat akan membenarkannya. Dan sejarah tentang Si Birah ditulis oleh mereka yang ada di sekitarnya.

Namun umur ayam tidaklah lama. Masa kegemilangan itu akhirnya hancur. Kekuasan Si Birah diwariskan pada anak cucunya. Namun mereka tidak sejago Si Birah. Apalagi, sebuah bangsa entah dari mana datang menyerang. Berbagai pasukan dikerahkan, berbagai senjata dikeluarkan, namun pasukan asing itu tetap tak terkalahkan. Meskipun pasukan asing itu tidak mampu menduduki kampung Si Birah, namun kekuasaan keturunan si Birah sudah hancur lebur. Mereka terpencar ke mana-mana. Hingga beberapa tahun kemudian sulit menentukan apakah Si Birah benar-benar punya keturunan atau tidak.

Pada suatu masa, kampung Si Birah dianggap terlalu lemah. Ia dianggap tidak pantas menjadi kampung dengan pemerintahan sendiri. Lantas entah ide siapa, kampung si Birah masukkan sebagai sebuah dusun kecil di dalam sebuah kecamatan yang lebih besar. Beberapa sisa pasukan Si Birah mencoba berontak. Mereka merasa di hina diturunkan derajat dari sebuah kampung menjadi sebuah dusun. Sayangnya, pasukan ini bukanlah pasukan si Birah. Lambat laun mereka takluk. Bukan takluk dalam perang, tapi menyerah di meja perundingan. Sesuatu yang jika Si Birah masih hidup pasti akan dikutuknya.Namun sayang Si Birah sudah tiada. Kini, orang-orang yang mengatasnamakan generasi penerusnya berselemak dengan jabatan, pangkat, dan kekuasaan yang diperoleh sebagai imbalan terima kasih dari bangsa lain.

Belakangan, entah dari mana mulainya, mereka bicara lagi tentang Si Birah. Konon katanya, meskipun kini bukan kampung lagi, namun perlu "Si Birah" baru. Si Birah baru tidak lagi punya kuasa untuk berperang, namun ia akan memimpin adat, mengawal budaya, menjadi panutan anak negeri. Mereka menggambarkan Si Birah demikian heroik, demikian besar, demikian agung, hingga hampir tidak ada cacat padanya. Si Birah yang dulu ayam jago biasa, sekarang terlahir dalam wujud ayam suci.

Namun nak, kata Lem Baka, ketahuilah itu hanya akal-akalan orang-orang yang hendak menjaga kekuasaannya semata.

Lem Baka bercerita dengan penuh emosi. Entah anaknya mengerti entah tidak, dia tidak peduli. Sebuah dagelan sejarah tentang Si Birah sedang berlangsung di depan mata.

Thursday, 2 December 2010

Konflik Aceh dan Kebijakan Jakarta


Michelle Ann Miller, seorang ilmuan politik dan penerima beasiswa Post-doktoral dari the Asia Research Institute, National University of Singapore telah mempublikasi riset yang luar biasa dan studi yang lengkap tentang gerakan separatis di Aceh dan bagaimana pemerintah pusat Indonesia menanggapi dan meyikapi masalah di Aceh. Tulisan ini, bagaimanapun adalah sebuah paparan yang sangat lenggkap tentang apa yang bisa dipelajari dari berbagai strategi penyelesaian konflik di Aceh.

Apa yang paling menarik dari buku ini adalah, kemampuan Miller untuk merekan perkembangan konflik Aceh berdasarkan pemerintahan presiden pasca Soeharto jatuh. Ia menunjukkan bagaimana setipa pemimpin Indonesia memiliki kebijakan yang berbeda dalam melihat dan menyelesaikan masalah Aceh. Terkadang bahkan bertentangan.

Download bukunya Di Sini!

Catatan: Kalau anda berkenan mohon berbagi kesan dan pengetahuan setelah membaca buku ini di kolom komentar. Terima kasih

Sunday, 24 October 2010

Sebesar Apa Anda di Tengah Alam Semesta?

Mungkin ini bukan info baru, sudah banyak diantara kita mengenalnya. Namun tidak salah untuk membaca merenungkan kembali demi kesadaran ilahiyah dan insaniyah kita menuju kehidupan yang lebih baik.

Ketika kita duduk di sebuah kursi, di sebuah kamar, dalam sebuah rumah, berapa besar kita dibandingkan rumah tersebut? Kita adalah bagian yang tidak penting dari besarnya sebuah rumah. Namun bisakah anda bayangkan, bagaimana posisi anda di tengah besarnya alam semesta? Bukan keseluruhan alam semesta yang diciptakan Tuhan, tapi hanya alam semesta yang sudah diketahui manusia melalui ilmu pengetahuan. Mari kita bandingkan!

Gambr di samping ini adalah posisi Indonesia di tengah keseluruhan bumi, di mana anda berada di salah satu daerahnya sebagai sebuah titik yang sama sekali tidak nampak. Bandingkan posisi anda dengan keseluruhan wilayah Indonesia. Anda hanyalah sebutir pasir di tengah bentangan pantai yang luas. Bumi memang masih lebih besar dibandingkan dengan beberapa planet di sekitarnya.

Namun Bumi bukan yang terbesar di jagad raya. Dibandingkan dengan beberapa planet yang lain, misalnya Neptunus apalagi Jupiter, bumi laksana sebuah kelereng di depan bola kaki. Di mana anda di antara planet-planet itu?


Padahal, Jupiter sendiri tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan besarnya matahari. Ia laksana seorang manusia di depan sebuah gedung tinggi. Atau sebuah bola tenis di tengah sebuah kamar tidur. Sama sekali tidak berarti. Dalam posisi ini, di mana anda? Anda semakin tenggelam dan hilang. Anda bukan siapa-siapa.



Pun sudah demikian, matahari bukanlah yang terbesar dibandingkan dengan Pollux apalagi dengan Arcturus. Ia hanya sebiji kelereng di tengah sebuah rumah besar, tidak ada apa-apanya. Ia akan hilang kalau sedikit saja tertutup. Lagi-lagi, di manakah kita diantara besarnya benda alam tersebut? Kita semakin jauh, bahkan hampir tak berwujud.



Besarnya Arcturus masih tidak seberapa dibandingkan dengan Antares. Ia hanya sebiji kacang di tengah sebuah kamar tidur. hilang ditelan mata. Di mana kita? Bahkan sebiji debu dalam kumpulan semua pasir yang ada di dunia masih cukup besar untuk membandingkan posisi kita di tengah jagat raya.



Tanyakan kembali, di manakah kita di tengah kedigdayaan alam semesta ini? Kita hanya debu-debu yang beterbangan.
Hanya kesadaran semesta dan pandangan terbuka kita akan menyadari kekerdilan diri.
Mari menggali kebesaran semesta untuk mengenal Ilahi dan menghormati sesama.
Karena Jagat raya bukan hanya milik sekelompok manusia saja.

Thursday, 21 October 2010

Berburu Buku di Taman Pintar

Satu tempat yang sama sekali tidak boleh dilewati kalau ke Jogja adalah Taman Pintar. Taman pintar sering juga disebut dengan Shoping. Letaknya tidak jauh dari Malioboro. Bisa jalan kaki kalau tidak terlalu lelah. Meskipun namanya Shoping, yang hanya suka Shopping tidak perlu ke Taman Pintar. Ini khusus buat mereka yang suka berburu buku murah. Anda tidak akan mendapatkan baju, sepatu, leptopn, HP terbaru, apalagi lipstik dan pakaian underwear. tidak ada. Yang ada adalah buku tentang itu semua. Taman Pintar adalah Mall buku.

Di Taman Pintar anda bisa dapatkan -mungkin- segala jenis buku yang pernah diterbitkan di republik ini. Sebab di sana ada puluhan toko buku yang ruangannya penuh dengan buku-buku. Dari buku ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, mistik, hingga buku terlarang juga ada di sana. Selain itu di Taman Pintar juga ada berbagai majalah bekas yang masih layak pakai dan nampak baru. Dan tidak ketinggalan, di sana juga ada kumpulan makalah dari berbagai kampus, ada catatan kuliah, ada kliping koran, ada pula buku impor dari berbagai negara. Beberapa toko juga menyediakan buku lama terbutan tahun 80an dan bahkan 60an.

Bagaimana dengan harga? Nah…. ini menariknya Taman Pintar. Anda akan mendapakan potongan harga yang lumayan besar. Pastikan kantong anda cukup untuk memmbawa sekota buku kalau ke sana. Sebab saya menjamin tidak akan ada buku yang tidak jadi beli dengan alasan kemahalan. Setiap buku yang memikat mata dan hati, pasti bisa anda peroleh dengan harga yang pantas. Apalagi bisa tawar-menawar yang lumayan ekstrim. Saya pernah dapat buku sejarah Aceh yang harganya Rp. 70.000,- tapi saya bawa pulang dengan harga Rp. 25.000,- Buku baru, masih sangat baru. Demikian juga buku lain, sesuaikan saja. Anda bisa tawar sekenanya. Tapi tetap punya rasa kemanusiaan lho, hargai orang bekerja.

Dari pengalaman saya, belanja di Taman Pintar perlu punya sedikit skil. Beberapa buku terkadang ditawarkan agak mahal karena kita nampak terlalu berminat. Atau penjualnya tidak mau menurunkan harga karena kita menunjukkan ekspresi kalau kita sangat butuh. Jadi biasa saja. Anggap anda tidak terlalu membutuhkan buku itu walaupun sebenarnya, kalau buku itu tidak ada anda akan menyesal seumur hidup. Rahasia yang lain, jangan pernah biarkan penjual buku mencarikan buku yang anda cari ke toko lain. Terkadang kalau buku yang dicari tidak ada, ia bisa menawarkan untuk mencarinya ke toko lain. Nah, anda bisa katakan itu tidak perlu. Anda sendiri yang akan mencarinya. Sebab kalau ia yang cari maka tawar-menawarnya akan terbatas.

Oke, Selamat berburu!

Wednesday, 18 August 2010

Budaya Puasa, Apa Perlu?

Ada perbedaan yang sangat jelas antara puasa yang dianggap “ideal” dengan puasa yang dilaksanakan oleh kebanyakan kaum muslimin. Puasa ideal dipersepsikan sebagai puasa yang benar-benar menahan nafsu dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bahkan lebih jauh puasa ideal adalah puasa yang dapat menjadi “sekolah moral” di mana lulusannya akan menjadi “insan kamil” atau manusia paripurna di kemudian hari. Singkatnya, puasa ideal adalah puasa yang benar-benar spiritual dan moral yang dianggap sebagai “puasa pra Nabi”.


Namun yang terjadi justru sebaliknya, orang melakukan puasa tidaklah sebagai representasi spiritualitas semata. Banyak orang melakukannya karena konstruksi budaya pada bulan suci ini. Jadinya, puasa dilakukan sebagai aktifitas religius dalam kerangka budaya. Makanya, banyak hal yang tidak ada pada bulan-bulan lain timbul dan marak di bulan puasa. Banyak pekerjaan yang tidak ada di bulan lain, dilakukan di bulan puasa. Termasuk makanan-makanan khas yang memang hanya ada di bulan puasa. Dan banyak orang yang berpuasa menganggap ini sebagai bagian dari aktifitas ramadhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Apakah Budaya puasa tidak perlu? Lalu kenapa banyak orang melakukannya? Ini memangmenjadi dilema. Di satu sisi terkadang budaya puasa telah menjadi kontraproduktif dengan puasa itu sendiri. Puasa mengajak kita menahan diri, namun konstruksi budaya puasa justru mengajak kita memborong makanan sejak pagi hari. Puasa bertujuan menjaga hati, malah banyak orang memanfaatkan waktu luang berpuasa untuk melakukan perbuatan sia-sia. Belum lagi banyak orang yang menjadikan puasa sebagai kambing hitam menurunnya produktifitas kerja, pekerjaan yang tidak selesai, gerakan yang lambat, dan lain sebagainya.

Namun di balik berbagai kelemahan itu semua, terkadang budaya puasa juga memiliki mafaat. Antara lain manfaat sosial dan ekonomi. Secara sosial, buaya puasa membantuk sebuah kesempatan untuk bersilaturahim antar kelompok sosial dalam cara buka puasa bersama. Selain itu budaya puasa juga membangun hubungan tenggang rasa yang baik antar orang yang berpuasa dan tidak berpuasa (meskipun tidak semuanya). Manfaat lain yang tidak kelah pentingnya dari budaya puasa adalah banyak fikir miskin dan anak yatim yang tersantuni spanjang bulan suci ini.

Sementara secara ekonomi jelas, budaya puasa telah memberikan stimulus untuk munculnya kreatifitas pedagangan, baik di tingkat produk maupun dalam metode berdagang. Banyak orang yang menjadikan bulan puasa sebagai kesempatan mendapatkan lebih banyak rezeki dengan menyediakan “kebutuhan” orang yang berpuasa. Selain itu ada peningkatan produksi komoditas tertentu yang memungkinkan pekerja dapat penghasilan lebih banyak di bulan ini. Singakatnya, puasa bida menjadi pendorong bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan secara ekonomi.

Hanya saja, yan perlu diperhatikan adalah dimensi spiritualitas puasa harus diintegrasikan ke dalam aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan agar puasa tidak menjadi ladang yang kering bagi hati. Sebab puasa adalah persoalan hati yang memang menjadi dasar bagi sebuah aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan oleh manusia.

Saturday, 5 June 2010

Masuk Longgar Keluar Ketat

Kemarin baru saja ngobrol dengan seorang teman yang sedang mengeluh. Katanya ia sedang kesal, sudah tiga kali mendaftar di program pascasarjana sebuah universitas tidak juga diterima. Padahal dari sisi segalanya ia sudah siap. Biaya pendidikan, keluarga, surat izin pendidikan, semua sudah oke dan ia benar-benar siap untuk -kembali- belajar di kampus. Namun apa daya, sudah tiga tahun mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya, namun belum juga berhasil.

Ia mengeluh sambil tetap instrospeksi diri, meyakinkan diri bahwa ia bukan orang yang pantas untuk menjadi master. Namun setelah beberapa kali ikut tes, ia berbalik arah, mengatakan pendidikan kita terlalu formal dan prosedural. Orang sudah bersedia belajar, sudah siap biaya, sudah semangat, malah tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Apa salahnya pihak perguruan tinggi memudahkan jalur masuk? Kalau nanti tujuannya mau jadikan lulusan yang berkualitas tinggal disetel di jalur keluar. Dengan demikian semua orang punya kesempatan untuk belajar di level yang lebih tinggi, dan punya kesempatan untuk “unjuk gigi” di kelas.

Seorang teman yang lain, minggu lalu mengeluh karena universitas tempat ia mau mendapftar S2 meminta terlalu banyak dokumen. Selain iajazah, transkrip nilai, SK pegawai negeri, izin pimpinan, rekomendasi atasan, rekomendasi mantan pembimbing dan macam-macam lagi. Semua dokumen itu menjadi bahan yang harus dimasukkan dalam sebuah map untuk kepentingan pendaftaran. Ia jadi mengeluh, pertama karena memang agak sulit mengurusnya. Kedua, untuk apa dokumen-dokumen tersebut? Apa pentingnya buat program pascasarjana? Setelah diberikan mereka pasti melemparkannya ke tong sampah. Padahal, menurut teman saya, cukup dengan dokumen penting saja, ijazah. Ini yang membuktikan ia sudah selesai S1/S2. Selebihnya bisa dengan curriculvitae (CV). Apakah ia akan berbohong? dalam tahun-tahun awal keberadaannya di kampus, semua kebohongan dan kejujurannya akan terbukti.

Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang mendaftar beasiswa ke luar negeri. Katanya banyak universitas di luar negeri tidak perlu tes untuk masuk ke program pascasarjananya. Kita hanya perlu submit beberapa dokumen, lalu selesai. Mereka akan menilai berdasarkan dokumen tersebut lalu memanggil kita. Namun kenapa kualitas pendidikannya bagus? Karena di dalam, saat mahasiswa kuliah, seseorang benar-benar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan ilmunya. Kalau lembaga pendidikan mendidik orang pintar lalu lembaga tersebut terkenal, itu hal biasa. Tapi kalau ia menerima “orang bodoh” lalu mendidiknya mejadi pintar, baru istimewa.

Saya sangat berharap akan lahir sebuah kebijakan yang memudahkan seroang uantuk melanjutkan pedidikannya, terutama untuk S2 dan S3, tanpa harus tes. Dengan melihat CV seseorang sebenarnya kita telah mampu memetakan kemampuannya dalam mengikuti kuliah. Mungkin tes masih perlu untuk S1 karena sangat banyak, sementara S2 dan S3 dengan jumlah peminatnya yang tida kterklalu banyak, mungkin bisa diterima tanpa tes. Jadi masukknya longgar, keluarnya ketat.



Motor Pemicu Diskriminasi Gender!

Tahun lalu, dalam perjalanan ke sebuah kabupaten dari Banda Aceh, saya menumpang L300, angkutan umum satu-satunya menuju ke sana. Saya duduk di depan di sisi sopir. Beberapa detik sebelum berangkat, seorang perempuan yang tidak terlalu muda diantar oleh sebuah becak mendekati sopir. Perempuan itu nampak sangat tidak rapi. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga kusut tidak karuan. Ia datang sambil menangis.

Kepada sopir, dengan isak tangis yang tidak berhenti ia mengatakan sesuatu. Saya tidak bisa menangkap semua yang ia katakan, namun saya bisa paham kalau ia sedang dalam masalah dan memerlukan tumpangan. Sopirpun setuju, dan dia naik ke dalam mobil. Perempuan itu duduk di depan, diantara saya sebelah kirinya dan sopir di sebelah kanannyan.

Setelah setengah jam di jalan, ia mulai tenang. Saat itulah sopir mulai bertanya, apa yang terjadi. Isaknya kembali terdengar, namun tidak terlalu keras. “Suami saya membawa lari anak kami dengan istri mudanya” kata sang perempuan. Saya menjadi kaget, suami membawa lari anak? Bukankah itu anak mereka? Mungkin sang suami hanya ingin membawanya main-main.

Tidak, katanya. Suaminya sudah kawin dengan perempuan lain, orang Medan (Sumatera Utara) dan masih muda. Kemrian dia datang ke Banda Aceh mengambil anak saya yang masih berumur 1,5 tahun dan membawa pergi. Saya mau ke Langsa, rumahnya ibunya (ibu suami) di Langsa. Saya sangat takut anak itu dijual. Suami saya lelaki “kaplat” (bangsat). Ngak punya hati…huk…huk…huk…” ibu itu menangis lagi. Ia mengatakan sesuatu namun tidak jelas suaranya.

Ketika tangisnya reda kembali ia melanjutkan kisahnya. Suami saya jarang pulang ke rumah setelah saya melahirkan. Bahkan ia tidak mengirimkan saya uang biaya hidup. Pernah dia pulang, tapi bukannnya membawa kebahagiaan, tapi membaut saya sakit hati.

Setahun yang lalu saya membeli sebuah sepeda motor kredit. Dia tahu saya punya sepeda motor, makanya dia pulang. Pagi-pagi dia tiduran di rumah. Sore hari dia keluar dengan sepeda motor. Pertama saya tidak tahu ia pergi ke mana. Tapi karena kadang-kadang ia tidak pulang sampai malam, saya suruh keponakan saya memata-matainya. Ternyata ia pergi dengan perempuan lain, jalan-jalan ke Krueng Raya dan duduk berdua dipinggir pantai. Kita yang capek-capek bekerja mencari uang, dia hanya bersenang-senang dengan perempuan lain. Makanya, waktu ia pulang saya ambil sepeda motor, lalu saya jual.

Setelah tidak ada sepeda motor dia pergi lagi. Baru kemarin dia pulang, bersama seorang perempuan muda. Katanya itu istrinya dari Medan. Tadi siang dia ambil anak saya, tapi sudah sampai malam begini belum dibawa pulang juga. Saya telepon, katanya anak saya sudah dibawa bersama. Dia meu mengurus anak. Mana mungkin laki-laki bangsat itu mengurus anak. Dirinya sendiri saja tidak sanggup diurus. Saya takut anak saja dijual. Huk…huk…huk…. ibu itu menagis lagi.

Oke, cerita itu masih panjang. Tapi tidak ada kaitan langsung dengan sepeda motor.

Ada cerita lain.

Sebuah keluarga yang petani. Mereka hidup bersama sudah beberapa tahun yang lalu. Sangat sederhana. Untuk transportasi menuju ke sawah atau ladang mereka hanya naik sepeda ontel yang sudah tua. Dengan sepeda itu mereka nampak sangat mesra.

Setelah fasilitas kredit sepeda motor masuk sampai ke kampung-kampung, suami mengajak istrinya mengambil kredit untuk membeli sebuah sepeda motor. Istri setuju saja. Apalagi, ia berfikir, itu akan sangat memudahkan mereka dalam pergi ke sawah atau ke kebun. Setelah mengurus administrasi yang macam-macam, sepeda motorpun datang ke rumah.

Belakangan, setelah sepda motor ada di tangan mereka, sang istri baru tahu kalau itu membuat keluarga mereka retak. Suami asik dengan motor barunya, pergi kemana-mana tidak jelas. Katanya silaturahim ke saudara yang jauh. “Untuk apa sepeda motor kalau kita tidak mengunjungi saudara jauh” katanya ketika sang istri menanyakan. Istrinya menerima dengan berat, walaupun hatinya tidak yakin.

Suami mulai keasyikan. Ia mulai jarang pergi ke sawah dan ladang. Semuanya mulai ditangani istrinya. Setiap pagi ia mengenakan pakaian terbaik dan berpenampilan sangat rapi. Mengambil sepeda motor lalu pergi entah ke mana. Siang hari ia pulang. Kalau istri belum masak ia marah-marah. Padahal istrinya pergi ke sawah dan ke kebun untuk bekerja. Sementara ia dengan sepeda motornya entah pergi kemana. Dari sebuah kabar burung, katanya, sang suami sudah menemui dermaga baru untuk melabuhkan cinta.

Semua gara-gara sepeda motor.

Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek

Nyontek memang sebuah kejahatan akademik. Namun tetap saja banyak mahasiswa yang menyontek waktu ujian. Memang dosen sudah memperingatkan kalau nyontek dia tidak akan lulus, kalau nyontek dapat nilai jelek, macam-macam sangsi lah. Tapi kenyataannya nyontek laksana penyakit yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa.

Tapi beberapa dosen punya kita khusus mendeteksi mahasiswa menyontek. Beberapa cara itu dilakukan dosen saya saat kuliah dulu.

Membca Koran

Ada dosen masuk kelas dengan membawa koran. Setelah membagikan soal ujian dan lembaran jawaban, ia duduk santai di depan kelas. Koran yang besar dibantangkan di depan mukanya sehingga mahasiswa tidak bisa melihatnya.

Melihat kondisi ini, kami mulai aksak-kusuk kanan kiri minta bantuan. pelan-pelan buka cataan. kopean yang sudah disediakan sejak di rumah juga mulai digunakan. sebagai mengambil dari sepatu, ada dari tali pinggang, ada di balik baju, macam-macam. bahkan ada yang menulisnya di tangan dan menutupinya dengan baju berlengan panjang.

Sang dosen seperti tetap asyik dengan bacaannya dan tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Kamipun semakin menggila, buka hanya melihat punya sendiri, tapi mulai berani menjenguk jawaban ujian teman.

Tiba-tiba, bapak dosen membuka korannya. Dan kami secepat kilat duduk dengan rapi dan seolah tidak terjadi apa-apa. secepat kilat pula semua catatan dimasukkan ke tempatnya yang paling aman.

Ternyata bapak dosen bukan hanya membuka koran di depannya, tapi langsung berdiri dan menuju ke meja kursi mahasiswa. Ia tahu persis di mana kopean diletakkan. Semua mahasiwa yang menyimpan catatan diambil dan dibawa ke depan.

Selidik punya selidik, ternyata koran yang dibacanya telah dilubangi di tengah dengan paku. Dari kejauhan mahasiswa tidak nampak lupang itu karena kecil-kecil. Namun karena koran sangat dekat dengannya, ia dapat melihat apa saja yang dilakukan mahasiswa. Pantas saja ia tahu di mana kopean disembunyikan.

Kacamata Hitam

Strategi yang lain adalah dengan memakai kacamata hitam. Seorang dosen duduk di depan mengenakan kacamata hitam. Mahasiswa tidak tahu ia melihat kemana. sebab mata sang dosen dibalik kacamata tidak nampak sama sekali. Ia bisa saja melihat ke luar ruangan, namun matanya melihat ke arah mahasiswa.

Beberapa teman yang nekat tidak mengerti dengan kondisi ini. Ketika bapak dosen melihat keluar, ia pikir benar-benar melihat ke luar. sehingga jurus buka kopeanpuan dimainkan. dan apa yang terjadi? beberapa saat kemudian pak dosen akan bangun dana mengambil kopean tersebut.

Akan tetapi menggunakan kacamata ini terkadang banyak masalah juga. Kadang-kadang dosen tertidur di balik akcamatanya. namun karena khawatir ia terjaga dan melihat ke arah mahasiswa, maka kami takut membuka kopean. sampai ujian selesai, ia tidak perlu mengawasi mahasiswa, kukup tidur dengan kacamata hitam saja.

Kejadian aneh

Ada kejadian aneh. seorang dosen membawa koran ke dalam ruangan dan membca dengan santai. Kami mengira ia benar-benar membaca koran karena duduk dengan sangat tenang. Tiba-tiba kami sadar kalau koran di bagian lauar yang mengarah ke kami terbalik. jadi koranya pasti terbalik dan si dosen bukan sedang memabca koran. Nah, ketika tangan si dosen jatuh ke pahanya, berarti ia tidak lagi memegang koran. Koran hanya tegak karena disandarkan di tas. Dan beliau sudah tertidur dengan pulas. Dengan sangat hati-hati kamipun memaikan aksi.

Kejadian lain katika sang dosen menggunakan kacamata hitam. Kami sangat takut karena khawatir beliau melihat dari balik kacamata. Tapi tiba-tiba kacamatanya jatuh sebelah. Tapi beliau tidak memperbaiki letaknya. Dan dengan jelas kami melihat matanya tertutup. berarti beliau tertidur. Dan kamipun mulai melakukan aksi nyontek.

hahaha… pengalaman masa-masa mahasiswa :-D

Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”

Tiba tiba teringat masa lalu, masa-masa jadi mahasiswa. Banyak kenangan yang tercipta, yang sedih, yang gembira, yang macam-macam lah. Semua masih terasa.

Ada beberapa kenangan berkaitan dengan nilai dari dosen. Begini ceritanya:

Nilai A Milik Tuhan
Ketika masih kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang lumayan rajin, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kalau ada tugas dari dosen saya benar-benar kerjakan dan selesaikan tepat waktu dan seerti yang diinginkan dosen. Demikian juga dalam kelas, saya tunjukkan keseriusan saya dalam belajar.

Pada akhir semester, semua mahasiswa mengikuti ujian. Ujian dilaksanakan secara tertulis di kelas. Dosen menulis soal di papan tulis, lalu kami menjawabnya. Saya melakukannya dengan baik dan menjawab soal dengan sempurna, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen pada masa kuliah.

Dua minggu kemudian nilai keluar. Setiap mahasiswa mendapatkan nilainya sendiri. Ketika melihat nilai yang ditempel di papan pengumuman dekat jurusan, saya terkejut melihat nilai saya B. Saya sangat tidak bisa menerima. Soalnya saya merasa hampir tidak ada “celah” untuk memberikan nilai demikian. Hampir semua aspek yang akan dinilai saya ikuti dan selesaikan dengan baik.

Saya mendatangi dosen yang mengasuh mata kuliah ini. Agak sulit juga karena beliau agak sibuk dengan kegiatan sosial di luar kampus. Namun pada saatu hari saya berhasil menemuinya. Setelah duduk memperkenalkan diri, saya menyampaikan maksud saya menjumpainya. Saya juga kemukakan alasan saya untuk mengajukan protes. Bahkan saya mengatakan kalau saya bersedia mengikuti ujian ulang, termasuk ujian lisan.

Betapa terkejutnya saya ketika beliau menjawab:
“Nilai A itu untuk Tuhan. Nilai B untuk saya. Paling tinggi nilai mahasiswa adalah C. Kalau kamu dapat B berarti kamu sudah saya kasih hadiah besar.”

Setelah mengatakan ini iapun pergi. Saya jadi speakless. Tidak tahu harus berkata apa.

Dapat A karena Nekat

Pengalaman lain ikut ujian yang sangat mengesankan dalah dapat A karena berani, bukan karena pandai. Saya mengambil mata kuliah dengan seorang dosen yang sangat –kami katakan- killer. Dalam sejarah, ia hanya pernah mengeluarkan nilai A beberapa kali. Konon katanya, rektor yang ada saat saya kuliah adalah salah seorang yang pernah diberikan nilai A. Inilah yang membuat saya sangat rajin membaca buku-buku yang telah di tetapkan.

Ketika masa ujian tiba hati kami begetar. Siap-siap “dibunuh” oleh sang dosen. Ada sebuah prinsip yang sudah tertanam dalam hati kami. Belajar atau tidak belajar niali pasti C. paling-paling dapat nilai B, dan itu sangat jarang terjadi. Mungkin kebetulan saja.

Ujian akan dilangsungkan keesokan harinya. Saya sudah membaca buku yang dianjurkan dan bahan pelajaran yang lain. Dan sudah sangat membosankan mengulangnya lagi. Karenanya, malam hari saya mengajak beberapa teman main kartu. Kebetulan saya tinggal di satu kosan bersama teman-teman satu jurusan. Saya provokasi mereka dengan mengatakan tidak ada artinya belajar. Ternyata teman terprovokasi dan kami main kartu sampai azan subuh. Setelah shalat subuh kami tidur. Dan hanya satu jam kemudian kami harus bangun dan pergi ke kampus untuk mengikiuti ujian.

Dosen matakuliah masuk kelas. Dengan wajahnya yang garang ia menantang mahasiswa. “Siapa diantara kalian yang berani ujian lisan?” Semua terkejut mendengar tantangan ini. sebab biasanya ujian dilakukan dengan tulisan. Saya tunjukkan tangan. Beliau tanya lagi, apa ada yang lain mau ujian lisan. Melihat saya tunjuk tangan, dua teman yang semalam ikut main kartu juga tunjuk tangan. Saya tunjuk tangan karena sudah baca buku sehari sebelumnya. Sementara mereka tunjuk tangan karena melihat saya tunjuk tangan. Dan akhirnya kami dipisahkan ke ruang yang lain. Sementara teman-teman diberikan soal di dalam kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.

Sesaat kemudian Bapak dosen datang menjumpai kami. Teman-teman sudah saya jelaskan kalau saya sudah baca buku sebelumnya maka berani tunjuk tangan. Sementara mereka tidak ada bekal sama sekali. Ini membuat mereka sangat ketakutan. “Kalau aku tahu bagitu aku bakal ikut ujian saja tadi.” katanya.

Namun kami sangat terkejut ketiak Bapak Dosen bilang. Saya tahu kalian sudah membaca dan belajar di rumah. Kalau tidak mana mungkin berani tunjuk tangan. Iya kan? Teman saya yang jawab dengan penuh rasa percaya diri. “Iya Pak.” “Oke, kalau begitu kalian boleh pulang. Saya anggap sudah ikut ujian.”

Kami bersorak di dalam hati. Dan setelah jauh dari ruang dosan kami tertawa terbahak-bahak karena senang berhasil “menipu” dosen killer. Apalagi setelah ujian selesai kami bertiga dapat A atas keberanian itu.


Disangka Muallaf

Kalau ini sebenarnya pengalaman teman saya, anak medan. Namanya Rijal Pangabean. Dia kuliah jauh-jauh ke Aceh. Sebelumnya mondok di sebuah pesantren di medan. Bahsa Arabn dan inggrisnya lancar. Pengetahuan agamanya luas. Kebetulan kami ambil mata kuliah Fiqh Islam. Belajar tentang beberapa hukum dan aturan dasar beribadah dalam Islam. Sesuatu yang memang menjadi “makanan” sehari-hari saat ia di pesantren.

Saat ujian, dosen memberikan kami ujian lisan. Semula kami menolak, namun karena beliau tetap tegas dengan keputusannya, maka kami akhirnya tetap ujian lisan.

Satu-satu kami dipanggil ke depan. Setiap orang ditanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat berat. Saya diminta untuk membacakan dua rukun khutbah jum’at beserta dua menit ceramahnya. Ada teman saya yang disuruh membaca do’a-doa shalat jenazah. Sedikit agak berat.

Saat datang giliran si rizal, ia hanya diminta mengartikan kalimat basmallah. Maka dengan mudah ia bisa mengartikan. Apalagi basmallah bukan hanya diketahui artinya oleh orang Islam, ia juga memang ahli dalam bahasa Arab. Dia pun selesai. Dan ketika pengumuman nilai keluar, Rijal dapat nilai A, nilai ujiannya dapat penuh.

Usut-punya usut ternyata Bapak Dosen berfikir kalau Rijal Pangabean adalah muallaf, atau orang yang baru masuk Islam. Maknya ia memintanya menyebutkan arti basmallah saat ujian.


Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)




Saturday, 29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

Monday, 24 May 2010

4G Made In Aceh

Kalau teknologi Eropa atau China hanya mampu membuat 3G atau 3,5G, maka Aceh selama ini telah melahirkan 4G. Dan saya kira ini akan bertambah terus dalam waktu cepat. Apalagi partisipasi masyarakat Aceh dan peran pemerintah juga besar dalam membangunnya. Jadilah 4G di Aceh sangat berkembang dan terkenal.

“G” Pertama adalah Ganja
Baru saja saya nonton TV. Sebuah berita tentang “kesuksesan” aparat kepolisian menangkap dua pemuda di Jawa Barat yang membawa ganja. Dalam keterangan yang diberikan kepada polisi, mereka mengaku hanya sebagai kurir dan bukan pemakai, apalagi pedagang. Ganja tersebut dititpkan seseorang dan harus diberikan kepada seseorang lain yang telah ditunjuk. Untuk ini mereka akan mendapatkan imbalan yang lumayan. Sampai di sini masih tidak ada masalah dengan berita tersebut. Namun sebelum mengakhiri berita dikatakan: “Menurut polisi ganja itu berasal dari Aceh.”

Memang ganja memiliki cerita sendiri dalam masyarakat Aceh. Dulu, ketika saya masih anak-anak, orang kampung menanam ganja di pinggiran sumur yang terbuat dari tanah. Namun bukan untuk dihisap sebagai rokok atau dihisap asapnya seperti saat ini. Waktu itu ganja dibuat sebagai bumbu yang menjadikan masakan lebih nikmat dan neundang, gethoo!. Atau menjelang bulan puasa, daun ini dipakai untuk menjadikan daging lebih empuk saat di makan. Namun setelah terjadi pembangunan yang masuk ke kampung-kampung, informasi sudah sampai ke sana, ganja ternyata diharamkan dan dilarang negara. Jadinya, tanaman di pinggir sumur itupun lenyap.

Tapi yang justru kebijakan ini menjadikan tanaman ganja berkembang sangat banyak di hutan-hutan seluruh Aceh. Saya memang tidak punya bukti, namun itu menjadi sebuah rahasia umum. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menanam ganja, menjualnya atau terlibat dalam kurir. Namun jangan salah, tidak semua orang Aceh melakukan itu atau menyetujuinya. Banyak orang Aceh juga menjadi korban karena peredaran salah satu jenis narkotika tersebut.

“G” kedua adalah GAM

Berita mengani GAM pernah mewarnai media masa Indonesia selama beberapa tahun. Hal ini tidak lain karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memiliki sekelompok pasukan yang mampu berperang melawan pasukan pemerintah. Dalam berbagai kesempatan jelas dikatakan GAM menginginkan kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia. Indonesia dianggap telah berlaku tidak adil kepada masyarakat Aceh. Selain berlaku tidak adil dalam budaya, agama dan pendidikan, Indonesia dinilai tidak adil juga dalam mengelola sumber daya alam. Banyaknya hasilalam di Aceh tidak pernah dinikmati oleh orang Aceh sendiri.

Kondisi ini mendorong sekelompok masyarakat bergabung membentuk sebuah pasukan yang menamakan diri mereka dengan GAM. lebih lima tahun GAM melawan pemerintah Indonesia dan telah menyebabkan banyak cerita yang lahir. Kebanyakan ceritanya adalah cerita menyakitkan karena berhubungan dengan kematian, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembakaran, penistaan dan lain sebagainya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah GAM telah mewarnai perkembangan pemikiran politik di Indonesia, langsung atau tidak langsung.

Saat ini beberapa kabupaten di Aceh berada di bawah pimpinan mantan GAM. Sayangnya daerah Aceh sekarang defisit anggatran. Bukan hanya di tingkat provinsi, namun juga di kabupaten. Apakah ini karena pemerintahan GAM atau kesalahan persoanal pemimpin? wallahu’a'lam. Yang pasti beberapa daerah kabupaten di Aceh saat ini terancam bangkrut karena tidak mampu membayar gaji pegawai dan menyediakan dana untuk pembangunan.


“G” ketiga adalah Gempa


Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang lalu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan daerah Aceh. Betap[a tidak? Aceh yang selama konflik tertutup untuk diakses oleh mendia, dilihat oleh orang luasr dan orang asing, namun setelah Gempa aceh menjadi daerah yang sangat kosmopolit. Banyak orang dari berbagai bangsa di dunia datang untuk menyaksikan dan membantu korban tsunami di Aceh. Kesempatan ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan terlupakan.

Gempa dan tsunami sedemikian besar perannya dalam membentuk kehidupan masyarakat di Aceh. Salah satunya adalah perubahan budaya masyarakat, perubahan cara pandang, dan berbagai pembangunan fisik di kampung-kampung atau di daerah perkotaan. Ini juga sebagai awal bagi masyarakat Aceh untuk menciptakan dan mendidik generasi di masa yang akan datang yang lebih baik. Negara-negara yang pernah datang ke Aceh pada masa tsunami terukir pada prasasti yang dibuat di Balang Padang, Banda Aceh. Sekarang prasasti tersebut telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.


“G” Keempat adalah Gaun


Masalah gaun atau pakaian perempuan juga tidak kalah pentingnya di Aceh. Salah-salah berpakaian anda tidak ada bisa mewujudkan rencana. Saya contohkan, kalau anda perempuan mau pergi ke rumah sakit di Meulaboh, Ibu Kota Aceh Barat, namun memakai celana jeans, maka dapat dipastikan anda tidak bsia menjumpai saudara anada yang sakit. Atau kalau anda mau jumpa direkturnya, anda juga tidak akan diberikan izin.

Ini terjadi karena bupati Aceh Barat menerapkan sebuah peraturan tentang keharusan masyaakat Meulaboh mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bupati bahkan menyediakan belasan ribu rok untuk menggantiakn celana ketat yang dipakai oleh perempuan dan dibagikan secara gratis. Namun jika pakaian ketat anda ditemukan di tempat razia, anda harus mengiklaskan pakaian tersbeut dimusnahkan. Ngeri? Tidak juga. Sebab juka anda sudah tahu, maka kota Meulaboh adaalh kota yang mana tenteram terkendali. :-D

Itulah empat G yang telah diciptakan di Aceh. Dalam waktu dekat mungkin Aceh akan melahirkan G kelima. Entah apa namanya.

Friday, 21 May 2010

Saya Pilih Deactivate Account FB Mulai Hari ini!

Sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang yang untuk membuat karikatur Nabi Muhammad di FB memunculkan beragam tanggapan dari facebooker. Bukan hanya facebooker muslim, namun banyak facebooker yang non muslim dan bahkan yang selama ini tidak meyakini satu agama tertentu. Beberapa teman saya yang non-muslim mengirimi saya pesan keprihatinan atas sebuah gerakan yang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat namun di sisi lain menghina kelompok beragama tertentu; dalam hal ini Islam. Sementara respon dari kalangan teman-teman yang muslim bisa dilihat dari status FB mereka, atau beberapa tulisan di blog, termasuk kompasiana.

Respon dari kalangan teman-teman muslim umumnya sama, tidak setuju dengan aksi tersebut dan memandang itu sebagai sebuah penistaan pada agama. Namun dalam responnya teman-teman muslim terbagi dua, menutup account facebook dan tetap melanjutkannya. Yang melanjutkan dan tetap menggunakan acconut facebook beranggapan bahwa di dunia maya apapun bisa terjadi. Termasuk penghinaan agama dengan karikatur Nabi. Namun itu semua tidak mengharuskan kita keluar dri facebook. Sebab ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari facebook. Selain silaturahim, bisnis, tegur sapa, dan tentu saja menambah jeringan dan keakraban pertemanan.

Namun bagi sebagain orang lain, memilih menutup account facebook. Alasannya sebagai bentuk protes terhadap kelompok orang yang melakukan sebuah tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bersama. Meskipun kelompok tersebut bukan dibuat oleh pengelola facebook, namun facebook tetap dianggap bertangguang jawab karena kelalaian dan respon yang lambat atas kejadian ini. Atas dasar ini maka sebagian muslim memilih untuk menonaktifkan account-nya. Apakah usaha itu berpengaruh pada kebesaran facebook secara keseluruhan? Dapat dipastikan sama sekali tidak. Apalagi jumlah yang mendaftar lebih banyak dari yang menonaktifkan.

Saya memilih menonaktifkan account facebook saya sejak hari ini. Alasan saya sebenarnya sangat pribadi. Bahwa saya merasa tidak nyaman dengan usaha-usaha demikian yang dilakukan oleh sekelompok orang. Bagi saya, lebih baik tidak memiliki acoount facebook dari pada harus menyaksikan sekelompok orang yang -menurut saya- tidak beradab dan tidak menghargai sensitifitas pemeluk agama. Dan saya sangat yakin, ini bukanlah gerakan terakhir yang akan terjadi melalui situs jejaring sosial ini. Dengan melihat respon besar yang ada, maka ke depan akan ada gerakan-gerakan lain yang tujuannya masa saja, memacing emosi dan menghina pemeluk agama.

Bagi saya, kehidupan di dunia tidak bisa dibangun dengan kebencian dan penghinaan pada golongan yang berbeda. Setiap kelompok yang memiliki kayakinan religius memiliki nilai sakral yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bukan hanya untuk Islam dan dilakukan oleh orang yang tidak senang pada Islam, namun juga -bisa jadi- dilakukan oleh sekelompok orang Islam pada kelompok lain. Dan praktik tersebut, bagi saya, sama tidak baiknya. Sebab kalau ada sekelompok orang telah merasa senang dengan menghina orang lain, itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam relasi kehidupan dunia ini.

Dan, dari pada saya menyaksikan gerakan seperti itu di kemudian hari, disuguhkan gambar-gambar yang melukai hati kaimanan saya, saya memilih menonaktifkan account facebook sejak hari ini. Saya sangat yakin, sisi positif facebook bisa saya dapatkan dengan media lain yang ada saat ini.

Banda Aceh 210510

Wednesday, 19 May 2010

Maaf, Asapmu Bukan Untukku

Sedikit kesal, saat ke kantor sebuah sepeda motor mendahuli saya dari sisi kiri. Setelah mengklakson bertubi-tubi motor yang dikedendarai -nampaknya seorang- mahasiswa ini melaju dengan cepat. Ia sempat menancapkan gas pas ketika posisinya dihadapan saya. Sangat bising dan mengganggu. Apalagi asap abu-abu keluar dari kenalpot motornya. Syukur bukan langsung mengenai muka. Namun asap tebal itu mau tidak mau tetap harus saya lewati karena persis berada di depan saya. Tapi apa hendak dikata, itulah kehidupan jalan raya kita.

Kenderaan yang bersap tebal secara umum dipahami dapat mengganggu udara, menyebabkan polusi, dan pada kerangka besarnya sebagai sumbangan untuk pemanasan global. Ini benar dan saya sepakat. Namun tidak kalah pentingnya adalah asap tebal sebuah kenderaan juga mengganggu kehidupan manusia di jalan raya. Seorang yang berjalan dengan baik, mengikuti aturan lalu lintas, menikmati perjalanan, tiba-tiba harus menghirup udara pengap yang berbau yang disebabkan oleh pemilik kenderaan lain yang mengeluarkana asap.

Saya belum pernah mendengar ada orang yang celaka gara-gara amsuk dalam asap mobil/motor. Namun saya sangat yakin itu mungkin terjadi. Dalam keadaan gelap karena asap, atau dalam keadaan mata terganggu, hidupng tersumbat, maka bukanlah mustahil akan mengganggu konsentrasi pengendara motor. Dan akibatnya ia bisa saja menabrak orang lain atau ia ditabrak orang karena salah jalur. Kalau ini terjadi maka pemilik kenderaan yang berasap pasti tidak mau tahu, bahkan ia mungkin tidak peduli kalau asapnya menimbulkan petaka.

Lebih jauh lagi adalah masalah penyakit. Asap kotor yang berdebu dan berminyak akan masuk ke dalam tubuh manusia lewat pernafasannya. Dan melalui sistim pernafasan maka asap itu pula yang akan masuk ke paru-paru. Kalau hanya sekali dua kali saja mungkin sistim dalam paru-paru akan sanggup menetralisir. Namun tatkala ini terjadi setiap pagi, siang, malam setiap kita berjalan di jelasn raya, maka jantung mana yang snaggup menetralisirnya? asap-asap itu menyumbangkan sumber penyakit pada manusia.

Lain asap motor/bus lain pula asap rokok. Meski sudah diperingatkan kalau merokok merugikan kesehatan dan mengeringkan isi dompet namun merokok masih menjadi aktifitas terlancar yang dilakukan manusia. Oke, tidak masalah kalau itu adalah pilihan sendiri, pilihan dari orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk kepunahannya sendiri, itu adalah hak semua orang. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, jangan ajak orang lain untuk menikmati penyakit dan kepunahan itu dengan menebarkan asapnya.

Jika anda merokok maka pastikan anda berada di tempat yang asapnya tidak terhirup orang lain, atau anda dapat menghisap semua asap rokok dan tidak membiarkan asap rokok anda terhisappada orang lain. Saat asap-asap yang anda keluarkan, dari mobil-motor, rokok itu terhisap pada orang lain dan menjadi penyakit baginya, maka itu juga akan menjadi dosa bagi anda sepanjang masa. Pada umat beragama dosa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penyebab kesedihan, keterasingan, depresi dan ketidakbagiaan.

Kita perlu melampuai langkah kecil yang penting untuk mewujudkan Masyarakat Tertib.

Tuesday, 18 May 2010

Berapa Kali anda Klakson Hari Ini?

Semua kenderaan bermotor pasti ada klaksonnya, keculai sudah rusak atau dicuri maling. Dan semua pengendara pasti pernah menggunakannya. Dalam satu hari, saya yakin, tidak ada orang yang mampu menghitung berapa kali ia menggunakan klakson. Sebab klakson seolah menjadi satu-satunya alat komunikasi saat berkenderaan. Kalau jumpa teman dijalan orang pakai klakson, minta jalan juga klakson, ada orang lewat tekan klakson, ada mobil yang berhenti seenaknya tekan klakson, berkali-kali lagi. Belakangan ada juga pendemo yang menekan klakson berulang-ulang tanda gerombolan mereka melintas di jalan raya.

Tidak cukup dengan klakson standar yang telah dibuat oleh pabrik mobil atau sepeda motor, belakangan juga muncul klakson istimewa. Ada yang menamakannya dengan klakson kebo. Klakson ini dijual bebas di pasar dan boleh dibeli oleh siapa saja. Jadinya, sebuah sepeda motor kecil yang hanya muat satu orang pun menggunakan klakson besar. Suaranya berat dan keras serak. Jika diklakson persis di belakang pengendara lain dijamin pengendara tersebut akan terkejut setengah mati. Atau bahkan bisa langsung mati jika ia jantungan atau ia diserempet oleh mobil di belakangnya.

Klakson sebenarnya memiliki fungsi yang penting, terutama untuk menyatakan bahaya; persis seperti sirene ambulance atau sirene peringatan gempa. Di kota-kota besar di luar negeri hampir tidak terdengar suara klakson sebebas yang ada di Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, di Kuala Lumpur saja, suara klakson nyaris tidak pernah terdengar. Padahal jumlah bus dan kenderaan hmpir sama sja dengan kota-kota di Indonesia. Pengendara yang tertib dan peraturan lalu-lintas yang dipatuhi membuat fungsi klakson di sana sedikit berkurang. Klakson hanya dibunyikan dalam keadaan darurat, ada orang yang melanggar lalu lintas dan mengganggu orang lain, atau situasi khusus yang mengharuskan membunyikan klakson. Selebihnya klakson dimuseumkan saja, tidak ada yang menggunakannya.

Nah, bagaimana dengan kita? realitas di lingkungan dan masyarakat kita? Sepertinya bunyi klakson menjadi ciri khas jalan raya di Indonesia. Di mana-mana di seluruh kota Indonesia, klakson bermunyi di sepanjang jalan. Kenderaan bermotor, roda dua, roda tiga, roda empat, enam, delapan, sepuluh dan bahkan lebih banyak lagi menggunakan klakson di sepanjang perjalannya. Munculnya berbagai jenis klakson tambahan membaut kita hampir tidak dapat membedakan apakah sebuah klakson berasal dari motor atau mobil, mobil kecil atau mobil besar. Orang bisa saja menggunakan sebuah klakson yang seharusnya dipakai di truck pelabubuhan yang besar pada motornya.

Tragisnya lagi, bunyi klakson tidak mengenal waktu dan tempat. Seorang yang berpapasan di jalan raya yang saling kenal menggunakan klakson untuk menyapa temannya. Ada seorang nenak tua yang sedang lewat memotong jalan raya juga ditekan klakson besar-besar memintanya berlari cepat. Meminta jalan dari kenderaan di depan juga menekan klakson. Bahkan berkali-kali, seolah yang ada di depannya tidak memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Apalagi kalau ada kenderaan, angkot, bus, truck atau kenderaan apapun yang ,elanggar lalu lintas, pasti diklaksn berulang-ulang dan rame-rame. Belakangan ini, ada pula tradisi klakson saat lampu hijau di perempatan menyala untuk memberitahukan pada pengendara lain kalau lampu sudah hijau. Ada-ada saja.

Padahal jujur, kalau ditanyai semua orang, suara klakson itu menjengkelkan. Bukan hanya bagi orang yang berada di kantor atau di rumah yang kebetulan ada di dekat jalan raya, namun bagi pengendara sendiri klakson sebenarnya sangat mengganggu. Hanya mereka yang sudah sangat menikmati kebisingan saja dapat menikmati klakson berlebihan. Dan mereka pula yang menekan klakson berkali-kali di sepanjang jalan. Seolah klakson besar, keras, dan berulang itu menimbulkan sebuah kesenangan dalam berkenderaan.

Klakson berlebihan ini sebanrnya bukan hanya menimbulkan kebisingan, namun juga dapat menyebabkan kecelakaan. Saya pernah lihat sebuah kenderaan yang memanting stir ke iri tiba-tiba karena ada sebuah sepeda motor yang menekaln klakson besar di belakangnya. Di sisi kiri ia disambut dengan sebuah mobil pribadi yang sedang melaju kencang. Dan tabrakan tidak dapat dihindari. Saya tidak tahu nasib pengendara yang tertabrak itu. Namun saya tahu sepeda motor yang mengklaksonnya, ia lansung pergi dan tidak peduli dengan petaka yang telah dibuatnya. Kasus lain adalah timbulnya keraguan pada pejalan kaki kalau diklakson berulang-ulang. Klakson akan mempengaruhinya mengambil kesimpulan dalam berjalan. Ini juga sebuah potensi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi. Saya yakin semua kita punya pengalaman dengan klakson.

Untuk membangun Masyarakat Tertib, maka kurangi penggunaan klakson di jalan raya. Anda bisa beralasan bahwa klakson diperlukan untuk menegur orang yang sewenang-wenang atau mencaci-maki angkot yang berhenti seenaknya. Namun yakinlah, klakson untuk mereka tidak banyak membantu. Kesabaran dan kearifan, dengan ketenangan, anda tetap akan dapat jalan dan meneruskan perjalanan. Atau boleh saja tekan klakson, namun pastikan suaranya hanya didengar oleh orang yang anda maksudkan, bukan oleh orang lain. Sebab kasihan mereka yang tidak ada urusan dengan perjalanan anda menjadi terganggu.

Kita harus melampaui langkah kecil yang penting untuk membangun Masyarakat yang Tertib. Semoga bisa terwujud di suatu masa.

Monday, 17 May 2010

Masyarakat Tertib, Kapan Ya?

Di jalan raya,
Kita berhadapan dengan suara motor dan mobil yang memekakkan telinga. Beberapa motor dengan snegaja memasang knalpot yang mengeluarkan suara besar. Suara besar yang keluar dari knalpot menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi pemiliknya. Dengan bangga pula ia mengenderainya dengan capat. Apa yang ia cari? popularitas? kepuasan? Inilah sebuah keanehan hidup, mendapatkan kepuasan dengan cara mengganngu kenyamanan.

Suara kenalpot besar belum cukup, masih ada suara klakson besar. Mobil kecil memasang klakson yang lebih besar dari kenderaannya. Bahkan ada motor yang memakai klakson truck gandengan yang memekakkan telinga. Anehnya, pemiliknya tersenyum senang ketika melihat orang lain terkejut, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Ia merasa bangga dengan kelakukannya yang sangat mengganggu kenyamanan.

Masih ada yang lebih buruk. Sebuah kenderaan yang megeluarkan asap hitam pekat di belakangnya. Dengan senagat bangga ia memacu mobil/motornya dengan cepat dan menjadikan jalan di belakangnya gelap gulita. Ia merasa enjoy saja dengan keadaan tersebut dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Terkadang ada yang ashma, ada yang jantungan, ada yang batuk dengan asap tersebut. Namun itulah keasyikan, merasa senang membuat orang susah.

Pelayanan Publik
Saat mebuat NPWP untuk saudara saya, sekelomok manusia berebutan mendapatkan nomor antrian. Pegawai pajak memberikan nomor antrian bukan berdasarkan orang yang datang, namun berdasarkan waktu. Saya yang datang jam 13.45 tidak mendapatkan nomor antrian satu, meskipun di sana hanya ada saya satu-satunya. Alasannya counter belum dibuka. Saat dibuka, sudah ada puluhan orang berada di sana. Dan mereka berebutan mendapatkan omor antrian. Saya mengundurkan diri dan tidak jadi membuat NPWP karena tidak mendapatkan nomor antrian, meskipun sudah datang duluan.

Salings serobot juga di loket bus dan kereta api. Yang mendapatkan pelayanan bagus adalah yang besar dan uat fisik dan besar suara. Berteriak, membentak, mengahrdik siapa saja. Ia segera mendapatkan apa yang ia mau. Orang yang mengikuti aturan, berdiri di garis antrian, harus berdiri saja melihat pemandangan itu. Dan tidak jarang harus menunggu berjam-jem baru mendapatkan pelayanan.

Fasilitas Umum
Apakah ada WC yang bersih di tempat umum? Mungkin di bandara internasional dan beberapa tempat lainnya. Namun banyak WC yang jorok dan kotor, menjadikan kita yang sudah keelet sekalipun harus mengurungkan niat menggunakannya. Di Mall dan pusat hiburan, juga tidak ada mushalla yang represenatif yang meengakomodir kebutuhan banyak pelanggan muslim. Di sebuah mall di Jogja, ruang shalat diletakkan di tempat parkir, remang-remang, sempit dan berbau asap. Padahal, banyak pelanggan mereka adalah muslim, membutuhkan tempat nyaman untuk beribadah.

Bukan hanya di mall dan tempat hiburan saja, di kantor pemerintahan, perusahaan dan yang sering juga terjadi di kampus-kampus, berbagai fasilitas mendasar manusia tidak tersedia dengan baik. Bahkan, lebih buruk lagi, di masjid-masid yang ada di hampir seluruh Indoensia, banyak fasilitas toilet yang kumuh dan tidak layak pakai. PAdahal untuk shalat yang sempurna jelas harus bersih dan suci.

Ketertiban Pasar

Di Banda Aceh ada pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan. Saat ada penertiban yang dilakukan Satpol PP beberapa ktivis mengatakan pemerintah tidak punya menghargai kemanusiaan, tidak menghormati masyarakatnya. Ada benarnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk menjadikan masyarakat mendapatkan pekerjaan. Namun masyarakat juga “bertanggung jawab” menjaga ketertiban. Tidak berjualan di badan jalan, di lorong-lorong di pasar, membuat kios kecil di depan pertokoan orang, membuat tenda di pinggir jalan, dll.

Pasar yang menjadi tempat di mana banyak orang berkunjung untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, seharunya nyaman dan menyenangkan. Sebab ini dikunjungi hampir setiap hari. Namun ulah dari sebagai orang yang tidak mau menjaga ketertiban, pasar menjadi sangat sumpek dan padat. Pergi ke pasar harus dengan nawitu yang kuat dan tidak bisa “sambilan” saja. Kita harus “bertempur” dengan hukum kesemrautan pasar.

Kapan Bisa Tertib?
Tertib adalah sunnatullah, fitrah kemanusiaan. Pada dasarnya manusia ingin tertib dan hidup teratur. Manusia mencintai kebersihan dan kenyamanan. Namun terkadang keinginan berlebihan dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dari orang lain menjadikan mereka tida tertib dan tidak menjadi kaidah dan norma bersama. Yang muncul adalah egoisme dan kesombongan. Merasa dirinya paling benar lalu melakukan apa saja demi “kebenran” tersebut.

Kaban bisa tertib? Ini adalah persoalan budaya. Hukum, seperti apapaun dibuat, jika budaya tertib tidak ada dalam masyarakat, maka ia akan tetap semraut, seenaknya, suka-suka saya, yang penting saya sukses, dan berbagai prinsip yang lain. Budaya tertib mesti dibangun dengan pendidikan karakter dan keteladanan. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada anak yang yang orang tuanya saja menerobos lampu merah. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada murid yang gurunya saja merokok di dalam ruangan kelas. Sangat msutahil menjadikan masyarakat tertib jika pomimpinnya saja sering tidak disiplin.

Tertibkanlah dirimu sendiri lalu tunjukkan itu pada orang lain. Dan satu saat bangsa kita akan tumbuh menjadi bangsa yang tertib. Itulah kehidupan yang mulia.

Tuesday, 11 May 2010

Kenapa Mereka Memilih Dukun?

Rumah itu tidak dapat dikatakan mewah. Namun untuk konteks perumahan masyarakat di desa, rumah itu bisa disebut lebih dari sederhana. Halamannya nampak tidak ada bunga dan tanaman. Di sisi kanan rumah ada sebuah toko kelontong yang lumayan penuh dengan barang dagangan. Sementara di sisi kirinya ada sebuah garasi yang tidak ada mobilnya. Dan, di dalam garasi itulah penuh dengan orang keluar masuk. Di depan garasi pula banyak orang duduk santai, merokok, ngobrol, bercerita macam-macam, laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak.

Ternyata di dalam garasi sedang berlangsung pengobatan.

Rumah itu adalah rumah seorang tabib yang lumayan terkenal di Aceh Besar. Saya mendengar namanya sudah dua tahun yang lalu. Dari berita mulut ke mulut, katanya, sang tabib mampu mengobati banyak penyakit. Banyak orang yang sudah sembuh berkat usahanya. Ada yang lumpuh sudah bisa berjalan kembali, ada yang sembuh total dari penyakit hernia, darah tinggi, TBC, dan berbagai penyakit lainnya. Saya kira ini sebuah pekerjaan luar biasa. Dan karenanya saya berniat mengunjunginya kalau ada waktu. Dan baru kemarin saya berkesempatan merealisasikan niat saya menyaksikan prosesi pengobatan yang beliau lakukan.

Di dalam garasi yang tidak terlalu besar itu penuh dengan orang-orang yang menunggu giliran berobat. Kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sang tabib duduk di tengah ruangan, dikerumuni oleh orang-orang yang akan berobat. Ia memanggil satu persatu berdasarkan urutan air mineral yang sudah diantarkan oleh calon pasien pada pagi hari sebelum pengobatan. Setiap pasien yang dipanggil diminta duduk di depannya. Kemudian ditanyakan keluhan penyakitnya. Sang tabib mengambil air, merajahnya, membuka tutup botol air, mencelupkan sebuah keris, menutup kembali dan menyerahkan kepada pasien. Beberapa pesien disebutkan obat-obatan yang harus diminum atau dimakan yang tersedia di toko samping rumahnya. Namun banyak pasien yang tidak perlu obat-obatan. Cukup dengan air itu saja. Pasien mambayar biaya pengobatan seiklas hati.

Proses pengobatan yang terbuka dan sederhana ini, bagi saya sangat tidak rasional untuk menyembuhkan penyakit. Namun kenyataannya banyak orang percaya dan yakin itu bisa menyembuhkan. Saya duduk di depan garasi dan berbicang dengan beberapa orang yang sedang menunggu giliuran berobat. Seorang bapak paruh baya menyebutkan, ia menderita batuk yang menahun. Badannya sudah kurus dan kering. Ia sudah membawa kepada dokter berkali-kali, namun tidak juga sembuh. Dan sudah dua bulan belakangan, ia rajin datang ke tabib ini. Dan ia merasakan perubahan, katanya sudah lumayan berkurang.

Seorang ibu yang saya ajak bicara terlihat jelas kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Katanya itu sudah berlangsung lama. Ia sudah membawanya sampai ke Penang, Malaysia, namun belum juga sembuh. Bahkan dokter tidak konsisten mengatakan penyakitnya. Lain dokter lain pula “fatwa” mengenai penyakit tersebut. Jadinya, ia datang ke sang tabib. Dan, -lagi-lagi menurut si ibu- ia sudah merasa baikan. Bahkan di bagian perut sudah nampak tumbuh kulit baru. Saya tanyakan, apa yang dilakukan sang tabib? ternyata tidak ada yang spesial, sama saja dengan apa yang dilakukan pada orang lain. Ia hanya minum air putih yang telah dirajah dan memakai obat gosok.

Dari kenderaan yang ada di depan rumah sang tabib jelas yang datang ke sana bukan hanya mereka dari golongan ekonomi lemah. Banyak mobil mewah dan motor berjejer di sana. Kita juga bisa lihat dari pakaian yang dikenakan calon pasien, nampaknya mereka bukan orang yang sama sekali tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit. Namun, kata salah seorang yang saya ajak bicara, umumnya yang datang ke sana adalah mereka yang kecewa dengan apa yang diperolehnya di rumah sakit. Kecewa karena mereka tidak ada jaminan sembuh, bahkan ada yang kecewa karena penyakitnya justru tambah parah.

Saya teringat Ponari, beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah batu “ajaib” ia menyembuhkan banyak orang. Entah benar-benar sembuh atau tidak, orang tersebut saja yang tahu. Namun saat itu banyak orang yang datang ke tempatnya berharap ada sentuhan batu ponari ke dalam air yang mereka bawa. Dan air itu dianggap sebagai obat yang akan mengusir penyakitnya. Praktek Ponari berakhir dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah setempat, dan pengakuan Ponari sendiri bahwa ia sudah tidak mampu mengobati lagi.

Pasti praktek seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebuah catatan yang penting dari kasus ini yaitu keyakinan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang masih sangat kuat. Keyakinan ini semakin kuat karena pelayanan dan tingkat kesembuhan yang sangat rendah di rumah sakit pemerintah dan biaya yang sangat mahal di rumah sakit swasta. Apalagi ada sebuah hukum tidak tertulis yang diyakini selama ini, “orang miskin dilarang sakit” yang menyebabkan praktek pengobatan ini menjadi pilihan warga.

Lagu Iwan Tidak Islami?

Lagu Iwan Kok Islami! kata seorang teman saya. Dia tidak menyebut-nyebut Islam. Ia cuma cerita anak jalanan, hutan, perang, korupsi, tikus, omar bakri, dan lain-lain. Mana Islamnya?

Ini terjadi di kantor. Saat seorang teman meminta saya memutar lagu mengiringi kami kerja. Saya tanyai dia, lagu apa yang ia sukai. Katanya ia suka lagu Islami. Lalu saya putar lagu Iwan Fals. Ia protes, katanya lagu Iwan tidak Islami. Yang ia maksud dengan lagu Islami adalah lagu-lagu qasidah Ida laila, Asnidar Darwis, dll. Atau nasyid modern yang pernah hit dan masih hit sampai sekarang dalam komunitas tertentu. Atau, paling tidak katanya, lagus Islami adalah lagu “religius” yang dinyanyikan GIGI atau Ungu, atau grup band lain yang bikin album khusus menjelang puasa.

Sebagai sebuah kebebasan memilih lagu, maka itu adalah hak semua orang. Artinya, setiap orang memiliki hak yang sama dalam memilih lagu kesukaan, penyanyi kebanggaan, materi dan syair yang ia sukai. Namun tatkala melabelkan islami atau tidak sebuah lagu, maka itu mejadi lahan yang layak untuk didiskusikan. Pertanyaan pentingnya adalah, apa perlunya lagu islami atau tidak? kedua, apakah lagu “islami” hanya yang menceritakan menganai pakaian, sikap sehari-hari, menyanyikan ayat al-Qur’an atau hadits Nabi saja? Dan itu yang kemudian kami diskusikan.

Bagi saya sendiri, tidaklah menjadi hal terlalu penting mendiskusikan apakah sebuah lagu islami atau tidak. Sebab -lagi-lagi bagi saya- lagu hanya untuk dinikmati, bukan dihayati sebagai sebuah pesan spiritual dan moral. saya lebih senang mendengar lagu karena irama dan musiknya, bukan karena substansi pesan yang disampaikan dalam syair lagunya. Ini pula yang menyebabkan musik-musik instrumen menjadi pengiring favorit saya dalam bekerja. Pun demikian saya tidak menafikan, beberapa syair lagu menarik hati dan menimbulkan kesan yang mendalam. Selain karena berkaitan dengan rasa dalam pengalaman saya sendiri, lagu tertentu juga mewakili cara pandang saya. Dan Iwan Fals, sejauh ini adalah penyanyi yang paling mewakili pandangan itu.

Kalu mau dihubungakan dengan agama, maka lagu-lagu Iwan Fals juga memiliki makna religiusitas yang mendalam. katakanlah lagunya menganai anak-anak terlantar. Bukankah dalam agama juga bicara mengani anak yatim yang terlantar. Surah al-Ma’un dalam Juz 30 jelas mencela orang yang menelantarkan anak-anak dan menyebutnya sebagai pendusta agama. Iwan juga meneriakkan menjaga alam, dan dalam al-qur’an juga banyak ayat yang berbicara mengenai keseimbangan alam. Apalagi masalah korupsi, keadilan, pemerintahan yang bersih, amanah, dan lain sebagainya.

Jadi, menikmati lagu Iwan sesungguhnya, menurut saya, adalah menikmati lagu Islami. syair-syairnya penuh dengan pesan yang perlu diimplementasi dalam kehidupan nyata untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik, lebih adil, lebik berharga.

Monday, 10 May 2010

Tidak Panik Pangkal Selamat

Kebetulan kemarin (09/05), saya dan keluarga besar Fakultas Ushuluddin IAIN Banda Aceh sedang melaksanakan acara di pinggiran sebuah pantai di Aceh Besar. Saat gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh kemarin persis saat saya sedang mengucapkan salam akhir shalat zuhur. Saya duduk sebentar berzikir meskipun gempa mulai mengguncang. Ada sedikit rasa khawatir kalau bangunan di mana saya shalat akan roboh. Apalagi mushalla tersebut adalah mushalla yang pernah dihantam tsunami enam tahun yang lalu. Namun kerena beberapa orang yang shalat di sana saya lihat tenang-tenang saja, hanya mengucapkan: “gempa”, dan berzikir, sayapun ikutan tenang.

Setelah shalat saya kembali ke tempat kami berkumpul, hanya sepuluh meter dari bibir pantai. Beberapa teman mengabarkan kalau info dari TV menyebutkan gempa yang terjadi barusan berpotensi terjadi tsunami. Info ini menyebabkan banyak yang panik. Bagaimana tidak? lebih setengah dari orang yang hadir dalam acara itu pernah merasakan dahsyatnya tsunami. Seorang guru besar sejarah yang kehilangan istri dan dua anaknya pada peristiwa tsunami tahun 2004 yang lalu saya lihat segera masuk mobil bersama istri dan dua anak beliau yang masih kecil-kecil (beliau menikah kembali setelah tsunami dan sudah dikaruniai dua orang anak). Saya yakin sekali kalau dalam benaknya masih menghantui peristiwa enam tahun yang lalu.

Namun Bapak Dekan Fakultas Ushuliddin mengingatkan, kalupun memilih untuk pulang maka tetap tenang dan jangan panik. Beliau sendiri memilih untuk tetap berada di pinggir pantai dan melanjutkan cara silaturahim yang sempat tertunda karena gempa. Pertimbangannya hanya satu, tanda-tanda tsunami bukan hanya gempa. Ada banyak tanda lain yang bisa kita pegang berdasarkan peristiwa enam tahun yang lalu, antara lain air laut surut, terjadi suara berdentum, keretakan tanah di pinggir pantai, burung yang terbang menjauh dari pantai dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, gempa tersebut, menurutnya tidak berpotensi tsunami, jadi tidak perlu panik. Saya dan banyak rekan yang lain percaya saja, dan ikut memeriahkan acara sampai selesai.

Sepulang dari acara tersebut saya mendengar cerita bahwa banyak orang yang menjadi korban karena melarikan diri setelah gempa terjadi. Di jalan menuju Ulee Kareeng Banda Aceh, lalu lintas sangat padat dan berdesakan. Beberapa kecelakan terjadi karena masing-masing orang hendak menyelamatkan diri dan mendahului orang lain. Seorang rekan yang bekerja di rumah sakit yang bertemu dengan saya semalam juga mengatakan mereka menangani beberapa orang yang menjadi korban karena kepanikan, umumnya kecelakaan lalu lintas. Padahal tsunami tidak terjadi.

Kepanikan ini wajar terjadi karena beberapa hal. Pertama karena masyarakat di Banda Aceh masih trauma dengan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Persitiwa itu pasti tidak akan lenyap dari pikiran mereka, saya juga. Ini menyebabkan setiap peristiwa gempa yang besar mengingatkan mereka pada peristiwa itu dan terdorong untuk melarikan diri dari pinggiran pantai. Kedua, adanya beberapa penjelasan dari pemerintah tentang fungsi alaram yang mendeteksi tsunami. Kemarin alaram early warning system berbunyi sangat keras di Meulaboh Aceh Barat. Ini menyebabkan masyarakat segera mengungsikan diri takut kalau-kalau tsunami terjadi. Ketiga, kepanikan warga terjadi karena aparat keamanan ikut panik juga menyikapi masalah. Beberapa aparat nampak mengarahkan masyarakat dengan sangat panik seolah ia juga tidak sabar mau menyelamatkan diri.

Mungkin masih ada penyebab yang lain. Namun saya ingin menagaskan bahwa “panik” menyebabkan kecelakaan dan berjatuhan korban yang sebenarnya tidak perlu. Apakah ini berarti kita tidak perlu khawatir dengan potensi tsunami? Tidak juga. Namun kekhawatiran pada potensi tsunami tidak harus dengan cara panik. Ada waktu jeda antara gempa dan tsunami lebih kurang 20 menit. Untuk konteks Banda Aceh itu adalah waktu yang cukup untuk mengungsi ke daerah aman. Apalagi beberapa desa telah dibangun bangunan penyelamat dari tsunami yang hanya berjarah beberapa puluh meter dari rumah mereka.

Belajar dari beberapa gampa yang menimbulkan kepanikan di Aceh belakangan ini, sudah sepantasnya ada sebuah usaha dari pemerintah dalam mengatasinya. Oke, selama ini ada sebuah pemberitahuan dari BMG mengenai gempa yang berpotensi tsunami, namun itu saja tidak cukup. Aparat pemerintah harus juga turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Misalnya dengan mengatur lalu lintas, memperingatkan agar jangan panik, mengatur jalur evakuasi agar tidak bertumpuk ke satu arah saja, dan usaha lainnya. Sungguh sangat disayangkan kalau gempa yang tidak menimbulkan korban apa-apa malah membuat orang jatuh pada saat berusaha menyelamatkan diri pasca gempa. Dan itu karena panik, bukan karena gempa itu sendiri. So, Tidak Panik adalah Pangkal Selamat.

Tuesday, 27 April 2010

Salah Angkat

Saya melakukan kesalahan fatal minggu lalu di pasar. Padahal niat saya baik, membantu orang tua yang sedang kesusahan mengangkat barang dagangannya. Namun karena tidak ada koordinasi dan klarifikasi, niat baik saya malah membuat saya malu hati. Untung saja saya tidak sempat mendengar ceramah singkat sang nenek.

Saat itu saya pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk berbelanja. Pasar Peunayong, Banda Aceh. Pasar ini adalah pasar tradisional di mana barang-barang kebutuhan rumah tangga dijual, khususnya kebutuhan konsumsi, seperti sayuran, ikan, buah, peralatan dapur, dan lain sebagainya. Banyak yang jualan di sana nenek-nenek yang berasal dari kampung di sekitar Banda Aceh. Usia mereka tidak tergolong muda lagi. Dari keriput di wajahnya, kelelahan dari mukanya, kita bisa prediksi pasti mereka sudah berusia di atas 60 tahun. Namun karena masalah ekonomi mungkin, mereka harus tetap melakukan aktifitas perdagangan dan mencari uang untuk ia dan keluarganya.

Namun pasar ini juga berfingsi sebagai pasar grosir, di mana barang-barang yang dijual di sana dibeli oleh pedagang yang akan menjualnya kembali secara eceran di toko, kedai atau warung mereka. Namun baik pembeli biasa, mampun pembeli untuk menjual kembali menyatu dalam hiruk pikuk pasar. Akibatnya tidak bisa dibedakan lagi.

Saya datang ke sana pagi-pagi sebelum pergi ke kantor utuk mebeli keperluan di rumah. Biasanaya di sini hanya mebeli barang yang akan dikonsumsi satu hari ini saja. Sebab pagi-pagi pertokoan tidak buka sehingga barang kebutuhan lain yang biasanya dijual ditoko tidak dapat diperoleh. Jadinya hanya beli keperluan dapur untuk hari itu saja.

Sesaat ketika hendak pulang, saya melihat seorang nenek yang sedang keleahan berdiri di dekat tumpukan barang-barangnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan seolah mencari orang yang hendak dimintai bantuan mengangkat barang tersebut. Mobil pick up berdiri tidak jauh dari si nenek. Tidak ada orang di sana. Di bagian depan, di mana biasanya sopir duduk juga tidak ada orang. Si nenek sesekali melihat ke dalam mobil dan sesekali melihat kepada beberapa barang yang ada di depannya.

Saya dan nenek itu berpandangan beberapa detik dari seberang jalan. Seolah nenek itu meminta saya membantunya. Saya sedikit tersenyum dan segera datang kepadanya. Saya menunjukkan barang yang ada di depannya dan ia tersenyum. Saya mengambil barang itu dan mengangkat ke dalam mobil pick up yang berdiri tidak jauh darinya. Saya tidak tahu juga apa isi bungkusan yang saya angkat. Bungkusan dari kain itu memang agak besar, mungkin sedikit lebih besar dari plastik kresek hitam besar.

Saya mengangkat dengan susah payah dan meletakkan ke dalam mobil. Setelah sampai di mobil saya segera meletakkannya pada posisi yang pas. Lalu saya kembali mengambil sebuah bungkusan lainnya yang ada di depan si nenek. Saya tidak melihat kepadanya. Namun sepertinya ia berbicara kepada saya, namun suaranya tidak terdengar. Saya langsung mengambil barang itu yang ternyata lebih berat dari barang sebelumnya. Dengan susah payah saya kembali mengangkat barang itu dan membawa ke mobil. Saya harus memanggul ke bahu karena tidak sanggup menentengnya. Sangat berat memang. Mungkin 35 kg.Lumayan juga olah raga pagi, saya pikir begitu.

Setelah selesai, saya lihat pada si nenek. Saya katakan kalau saya sudah selesai membantunya mengangkat barang ke dalam mobil. Tanpa mendekatinya lagi, saya kembali ke seberang jalan dan hendak mengambil sepeda motor. Nenek itu melambai-lambaikan tangannya. Saya balas lambaian tangannya. Saya kira ia tidak bisa bicara dan hendak mengucapkan terima kasih. Saya tersenyum saja dan saya senang telah membantunya mengangkat barang yang berat itu.

Dari belakang si nenek tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan pakaian kerja di pasar, di bagian depannnya sudah kotor, hitam. Mungkin terkena getah pisang atau air kelapa. Ia mendekati si nenek dan nampaknya membicarakan sesuatu. Si nenek menunjukkan tangannya pada mobil, kemudian menunjukkan ke arah saya. Mungkin ia hendak mengatakan kalau saya sudah membantunya mengangat barangnya ke dalam mobil. Saya yang sudah siap hendah pulang hanya tersenyum, menghidupkan motor, dan siap berangkat.

Tapi sekilas saya melihat raut wajah kesal dan marah dari si laki-laki tersebut. Sepertinya ia mengucapkan sesuatu yang saya tidak tahu karena jauh dan diiringi oleh berbagai suara kenderaan di pasar. Namun saya sempat melihat ia bergegas pergi mendekati mobil dan mengambil kembali barang yang sudah saya angkat ke sana, mengangkatnya dan mebawa ke dekat si nenek. Ia mengambil kedua barang si nenek yang sudah saya masukkan ke mmobil. Bahkan ia kembali lagi ke mobil mengambil satu barang lainnya dan membawa ke dekat si nenek.

Saya baru sadar, ternyata si nenek tadi bukan hendak menaikkan barang-barangnya ke dalam mobil, namun malah sebaliknya, ia hendak membawa barang itu turun. Saya salah duga, malah membawa naik barang-barang yang sudah diturunkannya dengan susah payah. Memalukan!

Begitulah, terkadang niat baik saja tanpa pengetahuan dan pemahaman situasi mejadikan masalah lebih buruk, bukan menyelesaikannya.