Monday, 10 May 2010

Tidak Panik Pangkal Selamat

Kebetulan kemarin (09/05), saya dan keluarga besar Fakultas Ushuluddin IAIN Banda Aceh sedang melaksanakan acara di pinggiran sebuah pantai di Aceh Besar. Saat gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh kemarin persis saat saya sedang mengucapkan salam akhir shalat zuhur. Saya duduk sebentar berzikir meskipun gempa mulai mengguncang. Ada sedikit rasa khawatir kalau bangunan di mana saya shalat akan roboh. Apalagi mushalla tersebut adalah mushalla yang pernah dihantam tsunami enam tahun yang lalu. Namun kerena beberapa orang yang shalat di sana saya lihat tenang-tenang saja, hanya mengucapkan: “gempa”, dan berzikir, sayapun ikutan tenang.

Setelah shalat saya kembali ke tempat kami berkumpul, hanya sepuluh meter dari bibir pantai. Beberapa teman mengabarkan kalau info dari TV menyebutkan gempa yang terjadi barusan berpotensi terjadi tsunami. Info ini menyebabkan banyak yang panik. Bagaimana tidak? lebih setengah dari orang yang hadir dalam acara itu pernah merasakan dahsyatnya tsunami. Seorang guru besar sejarah yang kehilangan istri dan dua anaknya pada peristiwa tsunami tahun 2004 yang lalu saya lihat segera masuk mobil bersama istri dan dua anak beliau yang masih kecil-kecil (beliau menikah kembali setelah tsunami dan sudah dikaruniai dua orang anak). Saya yakin sekali kalau dalam benaknya masih menghantui peristiwa enam tahun yang lalu.

Namun Bapak Dekan Fakultas Ushuliddin mengingatkan, kalupun memilih untuk pulang maka tetap tenang dan jangan panik. Beliau sendiri memilih untuk tetap berada di pinggir pantai dan melanjutkan cara silaturahim yang sempat tertunda karena gempa. Pertimbangannya hanya satu, tanda-tanda tsunami bukan hanya gempa. Ada banyak tanda lain yang bisa kita pegang berdasarkan peristiwa enam tahun yang lalu, antara lain air laut surut, terjadi suara berdentum, keretakan tanah di pinggir pantai, burung yang terbang menjauh dari pantai dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, gempa tersebut, menurutnya tidak berpotensi tsunami, jadi tidak perlu panik. Saya dan banyak rekan yang lain percaya saja, dan ikut memeriahkan acara sampai selesai.

Sepulang dari acara tersebut saya mendengar cerita bahwa banyak orang yang menjadi korban karena melarikan diri setelah gempa terjadi. Di jalan menuju Ulee Kareeng Banda Aceh, lalu lintas sangat padat dan berdesakan. Beberapa kecelakan terjadi karena masing-masing orang hendak menyelamatkan diri dan mendahului orang lain. Seorang rekan yang bekerja di rumah sakit yang bertemu dengan saya semalam juga mengatakan mereka menangani beberapa orang yang menjadi korban karena kepanikan, umumnya kecelakaan lalu lintas. Padahal tsunami tidak terjadi.

Kepanikan ini wajar terjadi karena beberapa hal. Pertama karena masyarakat di Banda Aceh masih trauma dengan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Persitiwa itu pasti tidak akan lenyap dari pikiran mereka, saya juga. Ini menyebabkan setiap peristiwa gempa yang besar mengingatkan mereka pada peristiwa itu dan terdorong untuk melarikan diri dari pinggiran pantai. Kedua, adanya beberapa penjelasan dari pemerintah tentang fungsi alaram yang mendeteksi tsunami. Kemarin alaram early warning system berbunyi sangat keras di Meulaboh Aceh Barat. Ini menyebabkan masyarakat segera mengungsikan diri takut kalau-kalau tsunami terjadi. Ketiga, kepanikan warga terjadi karena aparat keamanan ikut panik juga menyikapi masalah. Beberapa aparat nampak mengarahkan masyarakat dengan sangat panik seolah ia juga tidak sabar mau menyelamatkan diri.

Mungkin masih ada penyebab yang lain. Namun saya ingin menagaskan bahwa “panik” menyebabkan kecelakaan dan berjatuhan korban yang sebenarnya tidak perlu. Apakah ini berarti kita tidak perlu khawatir dengan potensi tsunami? Tidak juga. Namun kekhawatiran pada potensi tsunami tidak harus dengan cara panik. Ada waktu jeda antara gempa dan tsunami lebih kurang 20 menit. Untuk konteks Banda Aceh itu adalah waktu yang cukup untuk mengungsi ke daerah aman. Apalagi beberapa desa telah dibangun bangunan penyelamat dari tsunami yang hanya berjarah beberapa puluh meter dari rumah mereka.

Belajar dari beberapa gampa yang menimbulkan kepanikan di Aceh belakangan ini, sudah sepantasnya ada sebuah usaha dari pemerintah dalam mengatasinya. Oke, selama ini ada sebuah pemberitahuan dari BMG mengenai gempa yang berpotensi tsunami, namun itu saja tidak cukup. Aparat pemerintah harus juga turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Misalnya dengan mengatur lalu lintas, memperingatkan agar jangan panik, mengatur jalur evakuasi agar tidak bertumpuk ke satu arah saja, dan usaha lainnya. Sungguh sangat disayangkan kalau gempa yang tidak menimbulkan korban apa-apa malah membuat orang jatuh pada saat berusaha menyelamatkan diri pasca gempa. Dan itu karena panik, bukan karena gempa itu sendiri. So, Tidak Panik adalah Pangkal Selamat.

No comments:

Post a Comment