Saturday, 5 June 2010

Masuk Longgar Keluar Ketat

Kemarin baru saja ngobrol dengan seorang teman yang sedang mengeluh. Katanya ia sedang kesal, sudah tiga kali mendaftar di program pascasarjana sebuah universitas tidak juga diterima. Padahal dari sisi segalanya ia sudah siap. Biaya pendidikan, keluarga, surat izin pendidikan, semua sudah oke dan ia benar-benar siap untuk -kembali- belajar di kampus. Namun apa daya, sudah tiga tahun mendaftar di perguruan tinggi kesukaannya, namun belum juga berhasil.

Ia mengeluh sambil tetap instrospeksi diri, meyakinkan diri bahwa ia bukan orang yang pantas untuk menjadi master. Namun setelah beberapa kali ikut tes, ia berbalik arah, mengatakan pendidikan kita terlalu formal dan prosedural. Orang sudah bersedia belajar, sudah siap biaya, sudah semangat, malah tidak diberikan kesempatan untuk belajar. Apa salahnya pihak perguruan tinggi memudahkan jalur masuk? Kalau nanti tujuannya mau jadikan lulusan yang berkualitas tinggal disetel di jalur keluar. Dengan demikian semua orang punya kesempatan untuk belajar di level yang lebih tinggi, dan punya kesempatan untuk “unjuk gigi” di kelas.

Seorang teman yang lain, minggu lalu mengeluh karena universitas tempat ia mau mendapftar S2 meminta terlalu banyak dokumen. Selain iajazah, transkrip nilai, SK pegawai negeri, izin pimpinan, rekomendasi atasan, rekomendasi mantan pembimbing dan macam-macam lagi. Semua dokumen itu menjadi bahan yang harus dimasukkan dalam sebuah map untuk kepentingan pendaftaran. Ia jadi mengeluh, pertama karena memang agak sulit mengurusnya. Kedua, untuk apa dokumen-dokumen tersebut? Apa pentingnya buat program pascasarjana? Setelah diberikan mereka pasti melemparkannya ke tong sampah. Padahal, menurut teman saya, cukup dengan dokumen penting saja, ijazah. Ini yang membuktikan ia sudah selesai S1/S2. Selebihnya bisa dengan curriculvitae (CV). Apakah ia akan berbohong? dalam tahun-tahun awal keberadaannya di kampus, semua kebohongan dan kejujurannya akan terbukti.

Saya jadi teringat pengalaman seorang teman yang mendaftar beasiswa ke luar negeri. Katanya banyak universitas di luar negeri tidak perlu tes untuk masuk ke program pascasarjananya. Kita hanya perlu submit beberapa dokumen, lalu selesai. Mereka akan menilai berdasarkan dokumen tersebut lalu memanggil kita. Namun kenapa kualitas pendidikannya bagus? Karena di dalam, saat mahasiswa kuliah, seseorang benar-benar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan ilmunya. Kalau lembaga pendidikan mendidik orang pintar lalu lembaga tersebut terkenal, itu hal biasa. Tapi kalau ia menerima “orang bodoh” lalu mendidiknya mejadi pintar, baru istimewa.

Saya sangat berharap akan lahir sebuah kebijakan yang memudahkan seroang uantuk melanjutkan pedidikannya, terutama untuk S2 dan S3, tanpa harus tes. Dengan melihat CV seseorang sebenarnya kita telah mampu memetakan kemampuannya dalam mengikuti kuliah. Mungkin tes masih perlu untuk S1 karena sangat banyak, sementara S2 dan S3 dengan jumlah peminatnya yang tida kterklalu banyak, mungkin bisa diterima tanpa tes. Jadi masukknya longgar, keluarnya ketat.



Motor Pemicu Diskriminasi Gender!

Tahun lalu, dalam perjalanan ke sebuah kabupaten dari Banda Aceh, saya menumpang L300, angkutan umum satu-satunya menuju ke sana. Saya duduk di depan di sisi sopir. Beberapa detik sebelum berangkat, seorang perempuan yang tidak terlalu muda diantar oleh sebuah becak mendekati sopir. Perempuan itu nampak sangat tidak rapi. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga kusut tidak karuan. Ia datang sambil menangis.

Kepada sopir, dengan isak tangis yang tidak berhenti ia mengatakan sesuatu. Saya tidak bisa menangkap semua yang ia katakan, namun saya bisa paham kalau ia sedang dalam masalah dan memerlukan tumpangan. Sopirpun setuju, dan dia naik ke dalam mobil. Perempuan itu duduk di depan, diantara saya sebelah kirinya dan sopir di sebelah kanannyan.

Setelah setengah jam di jalan, ia mulai tenang. Saat itulah sopir mulai bertanya, apa yang terjadi. Isaknya kembali terdengar, namun tidak terlalu keras. “Suami saya membawa lari anak kami dengan istri mudanya” kata sang perempuan. Saya menjadi kaget, suami membawa lari anak? Bukankah itu anak mereka? Mungkin sang suami hanya ingin membawanya main-main.

Tidak, katanya. Suaminya sudah kawin dengan perempuan lain, orang Medan (Sumatera Utara) dan masih muda. Kemrian dia datang ke Banda Aceh mengambil anak saya yang masih berumur 1,5 tahun dan membawa pergi. Saya mau ke Langsa, rumahnya ibunya (ibu suami) di Langsa. Saya sangat takut anak itu dijual. Suami saya lelaki “kaplat” (bangsat). Ngak punya hati…huk…huk…huk…” ibu itu menangis lagi. Ia mengatakan sesuatu namun tidak jelas suaranya.

Ketika tangisnya reda kembali ia melanjutkan kisahnya. Suami saya jarang pulang ke rumah setelah saya melahirkan. Bahkan ia tidak mengirimkan saya uang biaya hidup. Pernah dia pulang, tapi bukannnya membawa kebahagiaan, tapi membaut saya sakit hati.

Setahun yang lalu saya membeli sebuah sepeda motor kredit. Dia tahu saya punya sepeda motor, makanya dia pulang. Pagi-pagi dia tiduran di rumah. Sore hari dia keluar dengan sepeda motor. Pertama saya tidak tahu ia pergi ke mana. Tapi karena kadang-kadang ia tidak pulang sampai malam, saya suruh keponakan saya memata-matainya. Ternyata ia pergi dengan perempuan lain, jalan-jalan ke Krueng Raya dan duduk berdua dipinggir pantai. Kita yang capek-capek bekerja mencari uang, dia hanya bersenang-senang dengan perempuan lain. Makanya, waktu ia pulang saya ambil sepeda motor, lalu saya jual.

Setelah tidak ada sepeda motor dia pergi lagi. Baru kemarin dia pulang, bersama seorang perempuan muda. Katanya itu istrinya dari Medan. Tadi siang dia ambil anak saya, tapi sudah sampai malam begini belum dibawa pulang juga. Saya telepon, katanya anak saya sudah dibawa bersama. Dia meu mengurus anak. Mana mungkin laki-laki bangsat itu mengurus anak. Dirinya sendiri saja tidak sanggup diurus. Saya takut anak saja dijual. Huk…huk…huk…. ibu itu menagis lagi.

Oke, cerita itu masih panjang. Tapi tidak ada kaitan langsung dengan sepeda motor.

Ada cerita lain.

Sebuah keluarga yang petani. Mereka hidup bersama sudah beberapa tahun yang lalu. Sangat sederhana. Untuk transportasi menuju ke sawah atau ladang mereka hanya naik sepeda ontel yang sudah tua. Dengan sepeda itu mereka nampak sangat mesra.

Setelah fasilitas kredit sepeda motor masuk sampai ke kampung-kampung, suami mengajak istrinya mengambil kredit untuk membeli sebuah sepeda motor. Istri setuju saja. Apalagi, ia berfikir, itu akan sangat memudahkan mereka dalam pergi ke sawah atau ke kebun. Setelah mengurus administrasi yang macam-macam, sepeda motorpun datang ke rumah.

Belakangan, setelah sepda motor ada di tangan mereka, sang istri baru tahu kalau itu membuat keluarga mereka retak. Suami asik dengan motor barunya, pergi kemana-mana tidak jelas. Katanya silaturahim ke saudara yang jauh. “Untuk apa sepeda motor kalau kita tidak mengunjungi saudara jauh” katanya ketika sang istri menanyakan. Istrinya menerima dengan berat, walaupun hatinya tidak yakin.

Suami mulai keasyikan. Ia mulai jarang pergi ke sawah dan ladang. Semuanya mulai ditangani istrinya. Setiap pagi ia mengenakan pakaian terbaik dan berpenampilan sangat rapi. Mengambil sepeda motor lalu pergi entah ke mana. Siang hari ia pulang. Kalau istri belum masak ia marah-marah. Padahal istrinya pergi ke sawah dan ke kebun untuk bekerja. Sementara ia dengan sepeda motornya entah pergi kemana. Dari sebuah kabar burung, katanya, sang suami sudah menemui dermaga baru untuk melabuhkan cinta.

Semua gara-gara sepeda motor.

Cara Mengetahui Mahasiswa Nyontek

Nyontek memang sebuah kejahatan akademik. Namun tetap saja banyak mahasiswa yang menyontek waktu ujian. Memang dosen sudah memperingatkan kalau nyontek dia tidak akan lulus, kalau nyontek dapat nilai jelek, macam-macam sangsi lah. Tapi kenyataannya nyontek laksana penyakit yang sulit dihilangkan dikalangan mahasiswa.

Tapi beberapa dosen punya kita khusus mendeteksi mahasiswa menyontek. Beberapa cara itu dilakukan dosen saya saat kuliah dulu.

Membca Koran

Ada dosen masuk kelas dengan membawa koran. Setelah membagikan soal ujian dan lembaran jawaban, ia duduk santai di depan kelas. Koran yang besar dibantangkan di depan mukanya sehingga mahasiswa tidak bisa melihatnya.

Melihat kondisi ini, kami mulai aksak-kusuk kanan kiri minta bantuan. pelan-pelan buka cataan. kopean yang sudah disediakan sejak di rumah juga mulai digunakan. sebagai mengambil dari sepatu, ada dari tali pinggang, ada di balik baju, macam-macam. bahkan ada yang menulisnya di tangan dan menutupinya dengan baju berlengan panjang.

Sang dosen seperti tetap asyik dengan bacaannya dan tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Kamipun semakin menggila, buka hanya melihat punya sendiri, tapi mulai berani menjenguk jawaban ujian teman.

Tiba-tiba, bapak dosen membuka korannya. Dan kami secepat kilat duduk dengan rapi dan seolah tidak terjadi apa-apa. secepat kilat pula semua catatan dimasukkan ke tempatnya yang paling aman.

Ternyata bapak dosen bukan hanya membuka koran di depannya, tapi langsung berdiri dan menuju ke meja kursi mahasiswa. Ia tahu persis di mana kopean diletakkan. Semua mahasiwa yang menyimpan catatan diambil dan dibawa ke depan.

Selidik punya selidik, ternyata koran yang dibacanya telah dilubangi di tengah dengan paku. Dari kejauhan mahasiswa tidak nampak lupang itu karena kecil-kecil. Namun karena koran sangat dekat dengannya, ia dapat melihat apa saja yang dilakukan mahasiswa. Pantas saja ia tahu di mana kopean disembunyikan.

Kacamata Hitam

Strategi yang lain adalah dengan memakai kacamata hitam. Seorang dosen duduk di depan mengenakan kacamata hitam. Mahasiswa tidak tahu ia melihat kemana. sebab mata sang dosen dibalik kacamata tidak nampak sama sekali. Ia bisa saja melihat ke luar ruangan, namun matanya melihat ke arah mahasiswa.

Beberapa teman yang nekat tidak mengerti dengan kondisi ini. Ketika bapak dosen melihat keluar, ia pikir benar-benar melihat ke luar. sehingga jurus buka kopeanpuan dimainkan. dan apa yang terjadi? beberapa saat kemudian pak dosen akan bangun dana mengambil kopean tersebut.

Akan tetapi menggunakan kacamata ini terkadang banyak masalah juga. Kadang-kadang dosen tertidur di balik akcamatanya. namun karena khawatir ia terjaga dan melihat ke arah mahasiswa, maka kami takut membuka kopean. sampai ujian selesai, ia tidak perlu mengawasi mahasiswa, kukup tidur dengan kacamata hitam saja.

Kejadian aneh

Ada kejadian aneh. seorang dosen membawa koran ke dalam ruangan dan membca dengan santai. Kami mengira ia benar-benar membaca koran karena duduk dengan sangat tenang. Tiba-tiba kami sadar kalau koran di bagian lauar yang mengarah ke kami terbalik. jadi koranya pasti terbalik dan si dosen bukan sedang memabca koran. Nah, ketika tangan si dosen jatuh ke pahanya, berarti ia tidak lagi memegang koran. Koran hanya tegak karena disandarkan di tas. Dan beliau sudah tertidur dengan pulas. Dengan sangat hati-hati kamipun memaikan aksi.

Kejadian lain katika sang dosen menggunakan kacamata hitam. Kami sangat takut karena khawatir beliau melihat dari balik kacamata. Tapi tiba-tiba kacamatanya jatuh sebelah. Tapi beliau tidak memperbaiki letaknya. Dan dengan jelas kami melihat matanya tertutup. berarti beliau tertidur. Dan kamipun mulai melakukan aksi nyontek.

hahaha… pengalaman masa-masa mahasiswa :-D

Kata Dosenku: “Nilai A Milik Tuhan”

Tiba tiba teringat masa lalu, masa-masa jadi mahasiswa. Banyak kenangan yang tercipta, yang sedih, yang gembira, yang macam-macam lah. Semua masih terasa.

Ada beberapa kenangan berkaitan dengan nilai dari dosen. Begini ceritanya:

Nilai A Milik Tuhan
Ketika masih kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang lumayan rajin, setidaknya dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Kalau ada tugas dari dosen saya benar-benar kerjakan dan selesaikan tepat waktu dan seerti yang diinginkan dosen. Demikian juga dalam kelas, saya tunjukkan keseriusan saya dalam belajar.

Pada akhir semester, semua mahasiswa mengikuti ujian. Ujian dilaksanakan secara tertulis di kelas. Dosen menulis soal di papan tulis, lalu kami menjawabnya. Saya melakukannya dengan baik dan menjawab soal dengan sempurna, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh dosen pada masa kuliah.

Dua minggu kemudian nilai keluar. Setiap mahasiswa mendapatkan nilainya sendiri. Ketika melihat nilai yang ditempel di papan pengumuman dekat jurusan, saya terkejut melihat nilai saya B. Saya sangat tidak bisa menerima. Soalnya saya merasa hampir tidak ada “celah” untuk memberikan nilai demikian. Hampir semua aspek yang akan dinilai saya ikuti dan selesaikan dengan baik.

Saya mendatangi dosen yang mengasuh mata kuliah ini. Agak sulit juga karena beliau agak sibuk dengan kegiatan sosial di luar kampus. Namun pada saatu hari saya berhasil menemuinya. Setelah duduk memperkenalkan diri, saya menyampaikan maksud saya menjumpainya. Saya juga kemukakan alasan saya untuk mengajukan protes. Bahkan saya mengatakan kalau saya bersedia mengikuti ujian ulang, termasuk ujian lisan.

Betapa terkejutnya saya ketika beliau menjawab:
“Nilai A itu untuk Tuhan. Nilai B untuk saya. Paling tinggi nilai mahasiswa adalah C. Kalau kamu dapat B berarti kamu sudah saya kasih hadiah besar.”

Setelah mengatakan ini iapun pergi. Saya jadi speakless. Tidak tahu harus berkata apa.

Dapat A karena Nekat

Pengalaman lain ikut ujian yang sangat mengesankan dalah dapat A karena berani, bukan karena pandai. Saya mengambil mata kuliah dengan seorang dosen yang sangat –kami katakan- killer. Dalam sejarah, ia hanya pernah mengeluarkan nilai A beberapa kali. Konon katanya, rektor yang ada saat saya kuliah adalah salah seorang yang pernah diberikan nilai A. Inilah yang membuat saya sangat rajin membaca buku-buku yang telah di tetapkan.

Ketika masa ujian tiba hati kami begetar. Siap-siap “dibunuh” oleh sang dosen. Ada sebuah prinsip yang sudah tertanam dalam hati kami. Belajar atau tidak belajar niali pasti C. paling-paling dapat nilai B, dan itu sangat jarang terjadi. Mungkin kebetulan saja.

Ujian akan dilangsungkan keesokan harinya. Saya sudah membaca buku yang dianjurkan dan bahan pelajaran yang lain. Dan sudah sangat membosankan mengulangnya lagi. Karenanya, malam hari saya mengajak beberapa teman main kartu. Kebetulan saya tinggal di satu kosan bersama teman-teman satu jurusan. Saya provokasi mereka dengan mengatakan tidak ada artinya belajar. Ternyata teman terprovokasi dan kami main kartu sampai azan subuh. Setelah shalat subuh kami tidur. Dan hanya satu jam kemudian kami harus bangun dan pergi ke kampus untuk mengikiuti ujian.

Dosen matakuliah masuk kelas. Dengan wajahnya yang garang ia menantang mahasiswa. “Siapa diantara kalian yang berani ujian lisan?” Semua terkejut mendengar tantangan ini. sebab biasanya ujian dilakukan dengan tulisan. Saya tunjukkan tangan. Beliau tanya lagi, apa ada yang lain mau ujian lisan. Melihat saya tunjuk tangan, dua teman yang semalam ikut main kartu juga tunjuk tangan. Saya tunjuk tangan karena sudah baca buku sehari sebelumnya. Sementara mereka tunjuk tangan karena melihat saya tunjuk tangan. Dan akhirnya kami dipisahkan ke ruang yang lain. Sementara teman-teman diberikan soal di dalam kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.

Sesaat kemudian Bapak dosen datang menjumpai kami. Teman-teman sudah saya jelaskan kalau saya sudah baca buku sebelumnya maka berani tunjuk tangan. Sementara mereka tidak ada bekal sama sekali. Ini membuat mereka sangat ketakutan. “Kalau aku tahu bagitu aku bakal ikut ujian saja tadi.” katanya.

Namun kami sangat terkejut ketiak Bapak Dosen bilang. Saya tahu kalian sudah membaca dan belajar di rumah. Kalau tidak mana mungkin berani tunjuk tangan. Iya kan? Teman saya yang jawab dengan penuh rasa percaya diri. “Iya Pak.” “Oke, kalau begitu kalian boleh pulang. Saya anggap sudah ikut ujian.”

Kami bersorak di dalam hati. Dan setelah jauh dari ruang dosan kami tertawa terbahak-bahak karena senang berhasil “menipu” dosen killer. Apalagi setelah ujian selesai kami bertiga dapat A atas keberanian itu.


Disangka Muallaf

Kalau ini sebenarnya pengalaman teman saya, anak medan. Namanya Rijal Pangabean. Dia kuliah jauh-jauh ke Aceh. Sebelumnya mondok di sebuah pesantren di medan. Bahsa Arabn dan inggrisnya lancar. Pengetahuan agamanya luas. Kebetulan kami ambil mata kuliah Fiqh Islam. Belajar tentang beberapa hukum dan aturan dasar beribadah dalam Islam. Sesuatu yang memang menjadi “makanan” sehari-hari saat ia di pesantren.

Saat ujian, dosen memberikan kami ujian lisan. Semula kami menolak, namun karena beliau tetap tegas dengan keputusannya, maka kami akhirnya tetap ujian lisan.

Satu-satu kami dipanggil ke depan. Setiap orang ditanya beberapa pertanyaan yang sebenarnya sangat berat. Saya diminta untuk membacakan dua rukun khutbah jum’at beserta dua menit ceramahnya. Ada teman saya yang disuruh membaca do’a-doa shalat jenazah. Sedikit agak berat.

Saat datang giliran si rizal, ia hanya diminta mengartikan kalimat basmallah. Maka dengan mudah ia bisa mengartikan. Apalagi basmallah bukan hanya diketahui artinya oleh orang Islam, ia juga memang ahli dalam bahasa Arab. Dia pun selesai. Dan ketika pengumuman nilai keluar, Rijal dapat nilai A, nilai ujiannya dapat penuh.

Usut-punya usut ternyata Bapak Dosen berfikir kalau Rijal Pangabean adalah muallaf, atau orang yang baru masuk Islam. Maknya ia memintanya menyebutkan arti basmallah saat ujian.


Guru Harus Mendidik, Bukan Mengajar!

Semula saya akan memberikan komentar pada tulisan Bang Ali: Mahalnya Ongkos Sekolah. Tapi sudah kepanjangan. Ya sudah, saya “sempurnakan” sedikit lalu saya posting menjadi tulisan sendiri, lagi pula pagi ini saya belum dapat ide bagus untuk ditulis. Hehehe :-)

Ada beberapa kata yang sangat berhubungan dengan pendidikan, antara lain adalah Sekolah, belajar/mengajar dan mendidik. Pemahaman yang keliru dalam istilah ini menjadikan kita salah dalam menilai dunia keilmuan dan dunia moral dalam kehidupan bersama. Kesalahannya adalah, kita sering menjadikan sekolah/guru sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Menurut saya ada perbedaan besar antara Sekolah, belajar dan pendidikan. Sekolah hanyalah sebuah lembaga yang di sana bisa saja berlangsung sebuah proses belajar atau pendidikan. Umumnya sekolah dikelola negara. Meskipun bangunan dan fasilitasnya disediakan oleh swasta, namun dari sisi kerikulum, proses dan evaluasi selalu berhubungan dengan negara. Negara membuat sebuah standar khusus untuk sekolah yang harus diikuti oleh semua penyelenggara sekolah di Indoensia.

Selain sekolah ada juga pesantren (Aceh: Dayah). Berbeda dengan sekolah pesantren memfokuskan diri pada pengajaran ilmu agama Islam semata. Selain belajar ilmu agama Islam, dalam pesantren juga dilakukan praktik-praktik religius tertentu sebagai bagianda ri peribadatan. Misalnya ada praktik shalat malam bersama, pengajian, suluk, zikir bersama, dan lain sebagainya. Kalaupun ada pelajaran lain yang lebih umum, itu hanyalah keterampilan atau skill sederhan yang digunakan untuk bekal kerja setelah ia tamat di pesantren.

Belajar/mengajar adalah sebuaha transfer of knowledge. Anak didik dianggap sebagai sebuah gelas kosong yang tidak ada airnya. Sementara guru bagaikan sebuah ceret penuh air yang kemudian menuangkan air ke dalam gelas (anak). Maka dalam proses ini hampir tidak ada proses penjelasan; air apa yang dituangkan, untuk apa, mau dibawa kemana, berapa banyak yang diperlukan, dll. Si anak menerima si guru memberikan, bahkan terkadang dengan paksaan.

Di sisi lain, pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan seorang anak oleh orang lain. Orang lain di sini bisa saja dilakukan oleh guru atau orang tua, atau –dan ini sangat penting- lingkungan di mana si anak hidup. Oleh sebab itu pendewasaan bukan hanya dalam ilmu-ilmu teoritis saja dengan mengkaji buku-buku yang ada, namun juga “ilmu kehidupan” yang kebanyakannya tidak tertulis. Ia ada di alam dan kita perolah melalui cerita pengalaman orang atau perenungan sendiri. Karenanya pendidikan bukan hanya di sekolah, namun lebih banyak di rumah dan dalam kehidupan sosial.

Yang terjadi selama ini, menurut saya, sekolah hanya mengajarkan anak, namun tidak mendidik. Padahal yang lebih banyak ditangkap oleh anak dalam proses ini adalah “pendidikan” bukan “pengajaran. Contohnya, guru mengajarkan siswa jujur, baik, perhatian, dll. Dalam ujian ia akan ditanya apa yang dimaksud dengan jujur. Anak-anak yang rajin belajar akan tahu pengertian jujur.

Pada saat ujian akhir, takut siswanya tidak lululs, guru memberikan jawaban ujian yang berarti ia sudah mempraktekkan ketidakjujuran. Praktek ini akan terekam dalam jiwa anak-anak, dan inilah yang paling berkesan dalam hidupnya. Sementara penegertian jujur yang telah dipalajari sebelumnya akan hilang dan ditinggalkan setelah ujian selesai.

Seharusnya sekolah bukan hanya lembaga transfer of knowledge, tapi juga sebuah lembaga yang mendidik. Dalam kondisi ini juga guru hendaknya seorang pendidik bukan pengajar. Selain itu orang tua di rumah dan lingkungan di mana seorang anak hidup juga mesti berfungsi sebagai guru yang mendidiknya mejadi lebih baik.

Biaya yang tinggi yang digunakan untuk menjadikan “anak cerdas” melalui lembaga pendidikan tidak serta merta menjadikan ia sebagai “anak yang terdidik” meskipun ia cerdasa dalam ilmu pengetahuan. Namun, sebaliknya, kelas jauh di pedalaman yang tidak ada fasilitas bisa saja melahirkan seorang anak yang “terdidik” dan cerdas dalam ilmu kehidupan. Dan idealnya adalah adanya sebuah perpaduan antara pengajaran dan pendidikan. Semoga.



Tsunami dan Aceh Yang Berubah

“Buku ini memberikan harapan kepada masyarakat bahwa dunia akademis di Aceh sesudah tsunami masih mempunyai potensi yang kuat untuk menghasilkan sarjana yang berbobot”

Profesor Emeritus Harold Crouch
ANU-Australia

Apa yang berubah di Aceh pasca tsunami? Bagi seorang yang hanya melihat Aceh dalam 4G, maka perubahan yang terjadi hanya dalam bentuk fisik belaka. Saat ini tidak ada lagi para tentara yang melakukan patroli sepanjang jalan umum. Tidak ada lagi kontak senjata sepanjang malam yang bahkan menjadi dongeng pengantar tidur. Yang lainnya, kita bisa pergi ke mana-mana seluruh Aceh tanpa khawatir akan ditembak, diculik atau kemungkinan lain yang lebih buruk seperti pada masa konflik. Karena Aceh sudah damai. Perubahan lain adalah tumbuhnya bangunan baru yang menggantikan bangunan lama yang roboh dan hancur diterjang tsunami. Rumah warga yang dulunya rata dengan tanah sekarang sudah dibangun kembali oleh pemerintah dan NGO asing yang datang membantu. Berbagai fasilitas umum yang juga hilang disapu air bah kini sudah menjadi baru kembali. Bahkan banyak yang sebelum tsunami tidak ada, sekarang telah terwujudkan lagi. Perubahan lain adalah beberapa kebijakan politik Syariat Islam yang menjadikan kehidupan sosial juga sedikit berubah. Setidaknya ini terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh kaum muslim yang ada di Aceh saat ini.

Itu saja yang berubah? Ternyata tidak. Perubahan yang terjadi di Aceh bukan hanya dalam tataran fisik seperti yang umumnya kita saksikan saat ini. Ada perubahan yang lebih fundamental dan mendasar lainnya yang sesuangguhnya tidak kalah penting. Dan hal ini nampakanya terjadi justru setelah tsunami melanda Aceh. Apakah perubahan itu memang sebagai sebuah rotasi kehidupan sosial di Aceh atau sebuah keniscayaan yang muncul karena “kosmopolitanisme” Aceh pasca tsunami? Apasaja dan bagaimana perubahan tersebut terjadi?

Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi fokos yang paparkan dalam buku tentang Aceh terbitan terbaru: Serambi Mekkah yang Berubah; views from within. Buku ini pada dasarnya kumpulan hasil penelitian dari peneliti yang tergabung dalam Aceh Research Training Institute (ARTI) Banda Aceh. Beberapa anak muda yang masih haus dengan pengetahuan diseleksi untuk ditraining menjadi peneliti. Setelah melewati beberapa tahapan bimbingan dan kerja lapangan, tinggallah delapan peneliti yang hasil penelitiannya dibukukan dalam buku ini. Oleh sebab itu tema-tema yang disajikan merangkum hampir keseluruhan aspek dan topik yang sedang hangat berkembang di Aceh pasca tsunami. Maka tidak berlebihan kalau Harold Crouch, Profesor Politik Indonesia di Australian National University mengungkapkan bahwa buku ini menjadi sebuah jendela untuk melihat Aceh secara keseluruhan.

Harold tidak berlebihan dengan pandangan tersebut. Dari delapan tulisan yang ada dapat dibagi dalam tiga tema pokok; Syariat dan Institusi, Aktor dan Persepsi serta praktek keagamaan. Dalam bagian pertama pembahasan diarahkan untuk mendalami isue-isue penerapan syariat Islam di Aceh yang belakangan menghangat seiring dengan diberikan kewenangan kepada Aceh untuk melakukan formaslisasi fiqh Islam menjadi peraturan daerah. Kenyataan ini menimbulkan banyak masalah, baik dari sisi latar belakang kemunculan peraturan, dari sisi legislasi itu sendiri atau dari sisi pemehaman masyarakat mengenai Syariat Islam.

Bagian kedua mencoba menjelaskan aspek keterlibatan dan peran aktor-aktor dalam perubahan persepsi dan cara pandang dalam masyarakat Aceh pasca tsunami. Salah satu penulis, Nanda Amalia yang mengetengahkan pembahasan mengani persepsi jaksa di Aceh Utara dalam memahami kebijakan yang berperspektif gender dan implementasinya di lapangan kita bisa lihat bagaimana kehadiran bangsa asing dan berbagai program yang mereka lakukan mampu membuka arah baru dalam memandang perempuan oleh stake holder yang selama ini tidak memiliki perspektif gender sama sekali. Hal ini tentu saja sebuah kemajuan yang akan meminimalisir ketidakadilan pada perempuan karena aparatur hukumnya tidak mengerti masalah keadilan gender.

Yang tidak kalah menarik adalah dua pembahasan yang diberikan di bagian betiga buku ini. Sehat Ihsan Shadiqin yang mencoba mengeksplorasi pemaknaan kenduri kematian dalam masyarakat Kluet di Aceh Selatan mendapatkan, pasca tsunami kehidupan keagamaan dalam tataran ritual ini banyak perubahan yang terjadi. Kenduri kematian yang dulu dianggap sebagai prosesi yang sakral dan penuh dengan magic, saat ini mulai dianggap sebagai sebuah kekerabatan dan jaringan sosial untuk keutuhan masyarakat. Perubahan paling mendasar adalah meleburnya pihak yang pro kenduri kematian dengan yang menganggapnya tidak boleh/tidak benar. Peleburan ini jelas terjadi karena kesepahaman bahwa kenduri kemaian adaalh perekat dan jembatan membina kekerabatan di kalangan masyarakt.

Akhirnya, seperi yang dikatakan J. R. Bowen -antropolog Amerika yang menulis lima buku tentang Aceh- buku ini telah berhasil menjelaskan perubahan paling mutakhir di Aceh saat ini. Dengan disertai analisis yang kaya dan fakta menarik dan penting menjadikan buku ini layak mengisi rak buku pribadi Anda.




Kenapa Membaca Biografi?

Semua orang akan menjalani hidup seperti adanya. Semua orang punya jalannya sendiri. Anda tidak mungkin berjalan di rel orang lain meskipun mereka dengan rel itu telah sampai pada tujuannya. Tuhan Maha Kaya dan Dia menciptakan semua manusia sebuah rel.

Lalu kenapa perlu membaca biografi orang lain? Pertanyaan ini muncul suatu ketika saat kami mulai mendiskusikan beberapa tokoh sufi terkemuka pada awal-awal kebangkitan Islam. Kalau para sufi sukses itu adalah jalannya sendiri yang sama sekali tidak ada kesamaan dengan jalan sufi lainnya. Dan mereka membentuk jalannya sendiri tanpa mencontoh jalan spiritual yang dibangun oleh orang lain. Lalu untuk apa kita tahu hidupnya? Bukankah kita juga memiliki jalan spiritual sendiri?

Biografi adalah penjelasan dari sebuah potret kehidupan yang pernah dijalani oleh seseorang dalam mendapatkan suatu tujuan. Selama ini biografi identik dengan kehidupan orang sukses dan mendapatkan posisi “terhormat” dalam kehidupan masyarakat. Sebab kesukksesan dalah keinginan semua orang. Sehingga mereka cenderung ingin mengetahui apa dan bagaimana seorang telah melakukan sesuatu sehingga ia menjadi sukses.

Ada seribu alasan untuk mengatakan kenapa sebuah biografi itu perlu. Diantaranya adalah membaca biografi akan membuka mata kita pada jalan alternatif dalam menghadapi persoalan hidup. Tidak ada masalah yang sama di dunia ini, yang ada hanyalah kemiripan. Terkadang kita stres tidak mendapatkan jalan yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Nah, dengan membaca biografi mungkin kita mendapatakn alternatif pemecahan dan solusi berdasarkan pengalaman orang lain.

Kedua, membaca biografi akan memberikan kita penjelasan lebih beragam mengenai kehidupan. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, punya pemikiran yang berbeda pada satu hal yang sama. Dengan membaca biografi kita akan tahu kalau di sana ada banyak cara orang menafsirkan suatu hal dan suatau persoalan. Dan ini bisa menjadi sebuah pengayaan wawasan kita dan menjadi suatu masukan untuk menyempurnakan konstruksi pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ketiga, membaca biografi kita akan menyelami sebuah samudera kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani. Hidup orang pasti sebuah perjalanan beriku yang tidak selamanya mulus. Dalam tulisan biografi akan dibahas bagaimana mereka melikuk menelikung menghadapi hidup dan bagaimana mereka bertahan terhadap berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, maka kehidupan akan berjalan lebih indah.

Ada yang mau mendambahkan?

Kesimpulan: Membaca biografi memperkaya jiwa :-D

menulis biografi apalagi, meperkaya jiwa, dan memperkaya diri (baca: mendapatkan komisi hasil penjualan, heheheh)