Sunday, 28 February 2010

Pasir Putih Yang Eksotis

Ini cerita perjalanan akhir Minggu. Kali ini saya mencoba jalan-jelan ke salah satu pantai wisata di Aceh Besar, Pasir Putih. Pantai ini terletak sekitar 30 km dari Kota Banda Aceh. Hanya perlu waktu 40 menit menuju ke sana. Jalan yang bagus dan luas menjadikan perjalanan sangat lancar. Hanya perlu sdikit hati-hati karena ada beberapa anak muda yang belum sadar betapa berharganya hidup suka kebut-kebutan. Sepanjang jalan perjalanan ke sana disuguhi pemandangan pantai dan perumahan masyarakat. Untuk menuju ke sana, kita juga melewati beberapa pantai lain yang banyak dikunjung warga, seperti Ujong Batee dan Ladong (mungkin suatu saat akan saya ceritakan).

Sesampai di pelabuhan Krueng Raya, ada beberapa tanjakan terjal perbukitan. Bukit ini dinamakan dengan Bukit Sueharto. Saya tidak tahu persis kenapa dinamakan demikian. Setelah mendaki tanjakan pertama, di sebelah kanan ada jalan masuk. Di ujung jalan ada sebuah benteng peninggalan masa lalu yag dikenal dengan Benteng Inong Balee. Benteng ini terbuat dari batu yang disusun tinggi dan menghadap lautan. Konon, dulunya dipakai oleh Laksanaman Malahayati untuk mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam dari serangan bangsa asing. “Inong Belee” berarti perempuan janda. Menurut sebuah cerita, Laksamana Malahayati (seorang perempuan dan janda) memimpin sebuah pasukan tempur yang terdiri dari perempuan janda dalam kerjaan Aceh Darussalam. Inilah yang menyebabkan benteng ini disebut benteng Inong Balee. Dari puncak bukit ini juga kita dapat saksikan hiruk pikuk pelabukan Krueng Raya.

Lanjutkan perjalanan beberapa menit. Untuk sampai ke Pasir Putih anda perlu masuk ke sebelah kiri sekitar 500 meter dan membayar tiket Rp. 4000,-. Ujung jalan akan langsung berbatasan dengan lautan Samuera Hindia yang maha luas. Seperti namanya, pasir di pantai ini memang putih adanya. Pepohonan tumbuh di pinggir pantai. Di ujung sebelah Barat banyak pohon tumbuh di dalam lautan. Ini mejadi pemandangan yang sangat indah. Beberapa orang duduk di atas pohon sambil memancing. Saya tidak tahu ikan apa yang banyak di sini. Namun dari salah seorang yang saya lihat mendapatkan ikan, ada seekor ikan warna warni khas ikan laut yang biasa dimasukkan dalam aquarium.

Menyenangkan bermain di pinggir pantai. Pasir yang lebut dan gelombang yang kecil menjadikan pantai ini sangat aman bagi anak-anak untuk mandi. Hanya saja perlu sedikit hati-hati karena di beberapa bagian ada karang batu yang tajam dan bisa melukai. Untuk mandi sangat aman mengunjungi sebelah Timur. Di sana lebih aman dari batu karang. Ada juga masyarakat yang menyediakan ban mobil yang bisa dipakai untuk pelampung. Hanya saja, di bagian timur sangat sedikit pepohonan sehingga terasa sangat panas dan susah mencari tempat berteduh dari sengatan matahari.

Sayangnya, hampir di sepanjang pantai banyak warga sekitar yang membuat gubuk-gubuk untuk berjualan. Kebanyakan mereka membuang sampah dagangan; kelapa muda, botol, plastik, kertas bungkusan, di lautan. Dan pasti saja lautan tidak menerima kotoran itu lalu mengembalikannya ke pantai. Sampah-sampah ini menjadikan pasir yang putih dan indah menjadi tertutup dengan sampah. Apalagi banyak masyarakat yang melepaskan sapinya di sana, sehingga di berbagai tempat ditemui banyak kotoran sapi. Ini menjadikan pandangan tidak nyaman.

Yang juga sedikit kurang menyenangkan adalah, gubuk jualan warga terlalu banyak. Kita hampir tidak punya tempat selain punya mereka. Padahal jika kita membawa keluarga, semua perbekalan makanan sudah tersedia. Namun kita tidak tahu harus menggelar tikar di mana, membakar ikan di mana, makan di mana kecuali di gubuk yang sudah disediakan warga. Dan ini tentu perlu biaya tambahan. Hanya ada beberapa lokasi di bagian Barat yang bisa dipakai untuk itu. Namun perlu tanaga ekstra karena tidak ada jalan yang bisa dilalui oleh kenderaan.

Tapi, bagaimanapun, pemandangan lautnya, pohonnya, pasirnya yang lembut, tetap menjadikan kunjungan ini menyenangkan. Apalagi pergi dengan orang-orang yang kita cintai. Saya sarankan anda (khususnya yang ada di Banda Aceh), untuk mencoba!


Catatan: beberapa foto lain mengenai Pasir Putih, lihat di
http://sehatihsan.blogspot.com/2009/11/pasir-putih-krueng-raya.html

Tulisan ini saya posting juga di www.sehatihsan.blogspot.com

Saturday, 27 February 2010

Catatan Lapangan Antropolog

Guru Antropologi Saya di UGM Jogja menasehati saya satu hal: Catatlah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan." Ia mengatakan ini saat kami hendak berangkat menuju lapangan untuk sebuah training penelitian. Semula, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa ini perlu dilakukan. Sebab tidak semua apa yang kita lihat di lapangan itu perlu. Lagi pula untuk sebuah studi yang telah dipilih topik dan masalahnya rasanya tidak mesti harus bersusah-susah menulis hal lain yang secara langsung memang kita tidak butuhkan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Namun sebagai murid, saya lakukan saja apa yang ia minta sambil tetap memendam pertanyaan itu dalam hati dan berniat akan menanyakan padanya kalau ada waktu yang tepat.

Dua minggu setelah itu, waktu itu tiba. Saya menumpang mobilnya saat pulang dari lapangan ke kampus. Saya duduk persis di belakangnya. Saya ajukan pertanyaan yang sudah dua minggu saya pendam. Kenapa harus mencatat semua yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan saat berada di lapangan. Ia mengatakan kalau itu memang dibutuhkan. Saya menimpali, dari catatan yang saya bikin jelas terlihat kalau ada bagian yang tidak perlu dalam penelitian saya. Saya menulis tentang selametan, lalu apa hubungannya dengan pembangkit listrik tenaga air di dusun lokasi penelitian saya? Ia mengatakan, itu mungkin memang tidak bermanfaat padamu kali ini. Namun saat kamu menulis tema lain, misalnya pengembangan wilayah, informasi ini akan menjadi catatan berharga. Lagi pula, siapa yang mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga air di dusun itu sepuluh tahun mendatang? Catatanmu akan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Ia akan menjelaskan kepadamu bagaimana kamu saat berada di sana pada tahun ini.

Saat ini, saya akui, ada banyak hal yang saya alami, saya saksikan, saya rasa, saya dapatkan bukti, lima tahun lalu. Namun hari ini saya tidak dapat berbuat banyak karena tidak ada catatan sama sekali. Mungkin saya ingat peristiwanya, namun saya tidak ingat detailnya. Mungkin saya ingat konteksnya, namun saya lupa kontennya. Padahal, lima tahun lalu, saat bekerja sebagai relawan tsunami, bekerja dengan Palang Merah Inggris, menjadi trainer dan lainnya, saya mendapatkan banyak "data" yang sangat penting. Tapi kini itu telah hilang seiring dengan perkembangan zaman. Peristiwa itu kini menjadi kisah yang kadang saya ceritakan dengan sedikit bumbu romantis. Saya benar-benar melupakan apa yang sudah saya dapatkan.

Kembali kepada Guru saya dari UGM. Ia mengatakan masih memiliki catatan lapangan mengani Kabupaten Pekalongan sejak 20 tahun yang lalu. Hampir setiap bulan dia menghabiskan satu buku untuk mencatat data-data yang diperlukan. Hingga saat ini, ia telah mengoleksi lebih dua ratus buku catatan lapangan. Catatan-catatan itu amat membantunya dalam menulis artikel. Beberapa artikel publikasi internasionalnya dibuat berdasarkan catatan lapangan tersebut. "Kalau untuk artikel jurnal kampus, tinggal ambil satu buku secara acak, sudah bisa membuat satu artikel" katanya. Catatan-catatan itu benar-benar mereka dengan detai apa yang terjadi di Pekalongan 20 tahun yang lalu.

Saya tahu ini sesuatu yang berat, meskipun saya juga tahu ini sesuatu yang perting. Hanya sebuah usaha sungguh-sungguh yang dapat meweujudkan ini semua. Keseriusan, kejelian, kewaspadaan akan membantu kita mendapatkan hal-hal sederhana yang bercerita. Dan ini semua, pada saatnya nanti akan menjadi saksi tidak terbantahkan tentang sebuah periode sejarah yang pernah berlangsung dan bagaimana kita memahaminya.

Jadi, catatlah apa yang ada di sekitarmu, suatu saat ia akan menjelaskan padamu siapa dirimu sebenarnya.


Tulisan ini saya muat juga di: www.sehatihsan.blogspot.com

Ambivalensi Pengamat

Alkisah, Lukmanul Hakim ingin mengajarkan anaknya tentang opini manusia tentang orang lain. Ia dan anaknya melkukan perjalanan ke luar kota dengan membawa seekor onta dewasa. Berdua dengan anaknya ia naik ke punggung onta dan meletakkan barang di bagian belakang mereka. Sepanjang jalan orang-orang mengatakan: betapa zalimnya mereka. Seekor onta dinaiki berdua dan ditambah barang di belakangnya. Apakah mereka tidak berfikir onta itu akan sakit dan menderita?

Lukman tahu apa yang dikatakan orang. Ia turun dan hanya membiarkan anaknya yang duduk di punggung onta. Ia sendiri memegang tali onta dan berjalan di depan. Orang-orang mengatakan, betapa anak itu durhaka. Ia membiarkan bapaknya menarik onta sementara ia sendiri duduk tenang di atasnya. Ia sungguh tidak menghargai orang tuanya yang sudah lemah. Kenapa ia melakukan ini semua? sungguh ini anak yang tidak tahu membalas budi.

Lukman ganti posisi. Ia yang duduk di atas dan anaknya yang menarik onta. Orang tetap berkata, betapa orang tua yang tidak bertanggung jawab. Ia membiarkan anaknya menarik onta semntara ia sendiri duduk enak di atasnya. Sebagai seorang orang tua seharusnya ia yang menarik onta untuk anaknya, bukan justru mempekerjakan anak untuk kepentingannya. Dia telah melanggar Hak Azazi Anak.

LUkman turun dan berjalan berdua dengan anaknya sambil menarik onta. Onta berjalan tanpa beban karena mereka dan barang-barangnya telah diturunkan. Orang-orang berkata, betapa bodohnya mereka. Mereka memiliki onta tapi tidak dimanfaatkan. Hari pans terik bagini pasti akan lebih mudah jika mereka naik onta. Perjalanan akan lebih cepat sampai ke tujuan. Lalu untuk apa onta kalau tidak dipergunakan?
Lalu Lukman berkata pada anaknya: Nak, inilah Ambivalensi Pengamat.

Manusia memang penuh ambivalensi. Ketika jalan rusak dan berlubang mereka ramai-ramai protes agar pemerintah segera membangun jalan. Namun ketika jalan telah dibangun, sudah mulus dan keras, ramai-ramai pula membuat polisi tidur di depan rumahnya. Berkenderaan menjadi sangat tidak nyaman, perut sakit bergetar. Kenderaan menjadi cepat. Tidak hati-hati (misalnya tidak tahu di sana ada polisi tidur) bisa celaka. Ketika musim kemarau ramai-ramai minta hujan segera turun agar kekeringan bisa segera pulih. Tapi begitu hujan ramai-ramai susah karena takut benjir melanda kampung mereka. Begitulah manusia.

Opini yang lahir dari sikap ambivalen ini kerap diarahkan pada kita. Orang memandang kita dengan kesalahan yang menumpuk.Kenapa ia begini padahal ia begitu. Maunya ia begini saja. Dia sangat tidak layak mendaatkan itu. Ia dapat karena ia memiliki hubungan dengan bapak pulan. Celakanya banyak diantara kita terpengaruh. Jadilah kita hidup untuk memuaskan opini orang yang punya mulut besar itu, bahkan dengan berkorban dan menyakiti diri sendiri. Apakah kita harus hidup di bawah opini yang menuh dengan kecurigaan dan kecemburuan itu?

Tuhan menciptakan kita dengan potensi kemampuan untuk memilih, maka pergunakanlah potensi itu dengan baik.

Wallahu’a'lam.



Tulisan ini saya publikasikan juga di: http://sehatihsan.blogspot.com/

Friday, 26 February 2010

Maulid di Aceh

Dulu, saat masih kecil, satu hari saya meminta kakek menyembelih seekor ayam. Sudah lama rasanya tidak merasakan masakan ayam yang lezat. Sebagai cucu laki-laki yang paling rajin pergi sekolah, saya memang mendapatkan hak istimewa untuk urusan minta-meminta ini. Kakekpun memberi hak memilih langsung ayam di dalam kandangnya. Hanya ada satu pesan: “Nyan bek kacok yang agam mirah, manok molod” artinya kira-kira: Jangan ambil ayam jantan yang merah, itu dipersiapkan untuk maulid.

Aceh seperti halnya daerah lain di Indonesia memiliki tradisi melaksanakan maulid yang khas. Pada hari pertama, seperti hari ini, tradisi maulid belum nampak. Acara-acara maulid yang telah membudaya baru dimulai pertengahan bulan ini dan dua bulan kemudian. Hampir semua kampung di Aceh melaksanakannya. Pun demikian, setiap daerah di Aceh memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dengan daerah yang lain. Bahkan terkadang antara satu kampung dengan kampung lain juga memiliki cara yang berbeda merayakan maulid.

Kembali ke persoalan ayam tadi. Hampir semua keluarga di kampung-kampung mempersiapkan ayam khusus buat merayakan maulid. Sejak setelah lebaran puasa, beberapa ekor ayam jantan mulai diberikan pakan khusus agar tumbuh besar dan dagingnya padat. Di kapung-kampung, masyarakat tidak suka memakan ayam potong. Katanya, ayam potong kotor dan dagingnya hambar. Karenanya ayam kampung dipelihara secara khusus untuk kebutuhan maulid. Apa yang terjadi? Saat perayaan maulid dilakukan, sajian berupa ayam menjadi sajian umum. Segala jenis masakan ayam ada, tinggal pilih.

Perayaan maulid sendiri dilakukan di masjid. Di kampung saya, Aceh Selatan, memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan Aceh Besar dan Banda Aceh. Di sana, kami merayakan maulid sejak sore hari setelah Ashar sampai malam hari setelah Isya. Sore hari maulid dilakukan dengan membaca dalae (zikir maulid) oleh kelompok zikir dari kampung tetangga yang khusus diundang. Biasanya kami mengundang empat kampung terdekat dengand kampung kami. Setelah mereka membacakan zikirnya, mereka akan dihidangkan makanan yang telah disipakan.

Acara untuk masyarakat kampung kami sendiri dilakukan pada malam hari. Setelah Isya maulid mulai dimulai. Semua laki-laki di kampung, anak-anak sampai orang dewasa berdiri berjejer membentuk shaf melingkar dan berlapis. Di salah satu sisinya beberapa teungku (ulama) berdiri memegang kitab dalae yang akan dibacakan. Kitab tersebut dibaca dengan berirama khas syair. Setiap syair dibacakan, jamaah mengulangnya kembali. Banyak syair dibacakan dalam bahasa Aceh. Jamaah mengulang syair ini disertai dengan gerakan-gerakan tertentu. Kadang membungkuk ke depan-belakang, kiri kanan, menggeleng kepala, bahkan meloncat-loncat dalam barisan sambil mengelilingi seluruh bagian Masjid. Bagian ini biasanya dilakukan pada sesi terakhir dari zikir maulid. Sebab banyak orang yang kemudian pingsan karena kelelahan. Tapi masyarakat menyebut dengan: katroeh, atau sudah sampai. Maksudnya, dari zikir yang dilakukan, ia sudah sampai kepada Tuhan, fana dalam bahasa Sufi.

Hari ini proses itu sudah mulai dibicarakan. Saya yakin awal bulan depan berbagai kampung di Aceh mulai melakukan kauri molod. Hidangan-hidangan besar akan nampak di setiap masjid kampung. Undangan-undangan makan akan datang setiap minggu. “Perbaikan gizi” begitu kami istilahkan ketika masih kosan sebagai mahasiswa. Bahkan, untuk besok saya sudah mengantongi dua undangan. Ada yang mau ikut?

Saya yakin sekali, ini adalah cara masyarakat mengingat Nabi mereka. Pasti mereka melakukannya karena cinta. Rasio-rasio kadang sulit memahami kenapa mereka menghabiskan uang besar untuk “pesta” sesaat. Namun cinta terkadang memang gila. Apalagi cinta pada Rasulullah. Saya mengucapkan Selamat hari maulid Nabi Muhammad Saw. Jadikan pesan universalnya sebagai teladan dalam meniti hidup di dunia.



Wednesday, 24 February 2010

Sesendok Air di Kolam Madu

Alkisah, seorang raja di zaman dahulu meminta rakyatnya mengumpulkan madu. Sebagai raja yang bijak dan dituruti maka semua orang sepakat saja dengan apa yang diperintahkan raja. Apalagi madu merupakan penghasilan terbesar di negeri itu. Demi mensukseskan perhelatan tersebut raja menyiapkan sebuah kolam besar yang agak jauh dari kerajaan, dekat hutan belantara. Kolam itu akan ditinggalkan sendiri tanpa pengawalan. Pada sebuah malam yang telah ditentukan setiap keluarga harus membawa sesendok madu dan mengisinya ke dalam kolam.

Seorang laki-laki paruh baya dengan dua anak dan seorang Istri berfikir berbeda menanggapi perintah ini. “Untuk apa saya memberikan raja sesendok madu. Ia memiliki madu yang banyak. Lagi pula apalah untungnya aku membawa madu ke sana, yang ada maduku berkurang. Aku akan membawa sesendok air saja. Kolammnya jauh di hutan, tidak ada pengawalan, malampun gelap gulita. Siapa yang tahu kalau aku memasukkan sesendok air? Apalagi dalam sebuah kolam madu maka sesendok air pasti tidak akan berwujud apa-apa.” Demikian pikirnya. Dan demikian pula yang dilakukannya pada malam yang telah ditentukan.

Keesokan hari, setelah malam pengumpulan madu itu selesai, betapa terkejut masyarakat yang menyaksikannya. Sementara sang raja tersenyum saja penuh makna. Mereka semua menyaksikan, kolam yang disedikan untuk menampung madu, bukan madu yang terkumpul tapi sebuah kolam yang penuh air. Banyak masyarakat malu dan takut pada kenyataan ini. Bagaimana tidak? mereka telah mendapatkan layanan yang baik dari rajanya, namun saat diminta menyumbangkan madu yang diperoleh adalah sekolam air. Raja menanyakan beberapa warganya, kenapa ini bisa terjadi. Ternyata, semua orang berfikir seperti bapak paruh baya dengan dua orang anak. “Apalah artinya sesendok air dalam sebuah kolam madu.” Saat ini menjadi pikiran semua orang, maka yang terjadi adalah kolam air, bukan kolam madu.

Berbagai ketimpangan da masalah sosial yang ada dalam masyarakat kita saat ini berawal dari cara pandang yang sama dengan bapak di atas. Tadi pagi, saat berangkat ke kantor saya melihat sebuah sedan warna hitam dengan plat polisi berwarna merah bertulisan putih tiba-tiba membuka kaca mobilnya dan melemparkan sebuah botol air meneral yang sudah kosong ke jalan raya. Di tempat lain, seorang temanku, dosen, melemparkan putung rokoknya dari dalam ruang kantor ke pintu depan. Putung rokok itu jatuh persis di depan pintu. Seorang penjual nasi pagi saya lihat membuang air comberannya di tengah jalan besar agar langsung digilas roda dan kering. Seorang yang lain dengan pengalaman lain pula. Dan semua kita pasti pernah punya pengalamana yang sama. Atau bahkan kita sendiri adalah orang yang melakukan itu, sadar atau tidak.

Ketika ini semua menadi kebiasaan umum, maka lahirlah lautan sampah di mana-mana. Lahirlah lautan abu rokok seluas lantai. Lahirlah air comberan yang baunya menyengat di jalan raya. Lahirlah berbagai lautan dosa yang awalnya adalah dosa kecil yang kita anggap kecil dan tidak berpengaruh. Padahal dosa-dosa inilah yang kemudian membesar dan menjadi masalah yang harus kita selesaikan dengan uang banyak, tenaga berat dan waktu yang panjang. Padahal semua berawal dari pengabaian kita pada sebuah kesadaran kecil untuk mentaati aturan dan menjaga agar dosa-dosa kecil itu tidak kita lakukan. Padahal andai saja banyak orang yang menghindari dosa kecil, maka dosa sosial yang besar tidak adakan pernah ada. Namun kalau kita berfikir “apakah artinya sesendok air di dalam kolam madu” akan kolam kesalahan sosial akan bertumpuk di mana-mana.

Jadi, mulailah dari diri sendiri.

Tuesday, 23 February 2010

Menjadikan Artikel Akademik Layak Publish Internasional

Saya berfikir beberapa kali untuk judul tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan di atas mengena dengan isi yang akan saya bahas. Ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang menurut saya dapat menjadi pelajaran juga bagi banyak orang. Satu waktu, pertengahan tahun lalu, saya jumpa dengan seorang peneliti senior dari Sumatera Utara. Beliau lulusan Australian National University dan sudah melakukan beberapa penelitian berkaitan dengan perkebunan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia. Sekarang ia menjadi team leader untuk penelitian perubahan iklim dan kemiskinan di Aceh. Orangnya biasa saja, penampilannya juga sederhana, tidak terlalu istimewa menurut saya.

Sebentar saja berkenalan dengannya langsung terasa akrab. Kami mulai banyak bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ternyata pengalaman penelitiannya bukan hanya di Indonesia, namun di mancanegara. Ia sudah menulis beberapa buku. Yang paling mengagumkan saya adalah, ia sudah menghasilkan 86 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam jurnal dalam negeri dan luar negeri. Ia menunjukkan kepada saya jurnal dari Cina, Jepang, Malaysia, Australia, Amerika dan beberapa Jurnal ilmiah lainnya. Duh, ini adalah gambaran ideal saya di masa depan, saya membatin. Jujur, saya berharap dapat menjadi orang yang memberi kontribusi akademik bagi dunia internasional di satu masa. Apa yang saya pikirkan tentang hidup semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Saya mengatakan kalau saya akan belajar banyak dari beliau dan mulai berkonsultasi mengenai apa yang selama ini saya lakukan dan saya keluhkan di lapangan dalam penelitian yang saya lakukan. Dan, sebagai seorang senior, dan saya yakin ia memiliki apasitas itu, ia mulai memberikan beberapa saran untuk kebaikan penelitian saya. Peratama, saya mengeluhkan tetang rasionalisasi dalam menyususn sub-bab dalam sebuah artikel hasil penelitan ilmiah. Saya mendapatkan banyak data di lapangan, namun saya kesulitan menyusunnya menjadi sebuha artikel yang runtut dan logik. Ia menjelaskan kalau itu memang agak sulit bagi penelitian grounded yang tidak memiliki fokus yang kongkrit. Namun itu sedikit mudah bagi seorang peneliti yang sudah terlebih dahulu memiliki fokus dan menyusun sebuah rencana yang matang sebelum ke lapangan. Sebab ia hanya mencari data yang kemudian ia jadikan basis untuk apa yang ia sudah rancang. Memang kekurangan metode ini banyak, diantaranya kita berusaha “memperkosa data” memaksa data masuk ke dalam kerangka pikir yang sedang telah kita buat sebelumnya. Kalau penelitian etnografi yang sifatnya grounded, seperti yang sedang saya lakukan, maka yang diperlukan adalah mencari data sebanyaknya, lalu mengklasifikasikan data dan dari situ kemudian kita melahirkan sub bab. Sub bab inilah yang akan menyusun artikel kita. Perkuat dengan teori yang sudah ada sehingga ada hubungannya dengan dunia akademik yang lebih luas.

Kedua, saya mengeluhkan mengenai data lapangan yang terkadang tidak tahu harus dimasukkan ke mana. Ada bagian yang data lapangannya kuat, namun banyak pula yang tidak didukung oleh data lapangan yang ril dan kuat. Ini menjadikan tulisan terasa tidak mendalam dan tidak menjawab semua masalah yang sedang dibahas. Ia menyarankan saya memakai sebuah program komputer yang dapat meberikan masukan untuk merancang penlisan yang berbasis data. Ia memilikinya dan ia berjanji akan memberikan kepada saya masternya dan akan mengajarkan saya pemakaiannya. Mmmm... ini adalah rizki yang datang tiba-tiba. Dan saya berjanji akan belajar banyak dengan apa yang ia berikan.

Ia juga menjelaskan beberapa trik mencari dana penelitian. Katanya, Indonesia ini adalah ladang bagi penelitian. Dari sini lahir berbagai teori mengenai masyarakat dunia, terutama Asia dan negara berkembang. Teori itulah yang kemudian digunakan untuk pembangunan. Karena itu banyak lembaga yang mau dan bersedia memberikan banyak uang untuk melakukan penelitian di Indonesia, apa saja. “Yang penting kita memiliki pengalaman penelitian yang baik dan hasil karya kita akan dibaca. Makanya kalau peneltian itu ajngan main-main,” katanya. Sebab itu akan menjadi sebuah pencitraan diri kita. Orang akan melihat kita dari apa yang kita tulis. Mungkin kita tidak pandai ceramah, tidak bisa khutbah,, namun kalau kita bisa menulis dengan baik maka kita bisa tunjukkan apa yang telah kita tulis dan orang akan tahu apa yang kita sampaikan.

Yang paling menyenangkan ia menjelaskan mengani karakter tulisan akademik yang sangat disukai oleh jurnal-jurnal internasional, ringkas, padat dan tidak bertele. Sebuah paragraf itu hanya memuat satu atau dua ide. Kalimat berikutnya adalah supporting idea. Semua paragraf yang ada dalam sebuah sub bab adalah supporting terhadap mainidea yang ada dalam awal pargaraf sub bab itu. Dan semua sub bab adalah supporting idea dalam sebuah tulisan. Kompilasi dari ini semua kita sebuat dengan artikel akademik. Dan model inilah yang diterima oleh jurnal-jurnal Internasional. Lalu ia berharap (entah berdoa) semoga saya menjadi seorang penulis yang dapat mempublikasi karya di level Internasional. Amin.... kabulkanlah ya Allah.


Tulisan ini juga dimuat di Blog Pribadi saya: http://www.sehatihsan.blogspot.com/

Sekolah dan Bimbel: Jagoan Mana?

Ia seorang laki-laki. Badannya kecil dan pendek, mungkin hanya 125 cm. Namun ia sudah SMU kelas dua. Setiap hari ia berangkat dari rumah dengan memanggul sebuah tas ransel besar di belakangnya. Pertama kali melihatnya saya tidak tahu apa isi tas tersebut. Pasti buku. Tapi buku apa? kenapa begitu banyak? kan bisa saja ia membawa buku yang akan digunakan di sekolah pada hari itu. Kenapa harus membawa buku sebanyak itu? Saya belum tahu jawabannya sampai satu kesempatan saya bisa berbincang-bincang dengannya.

Saat yang berharga itu adalah ketika ia datang untuk silaturahim ke rumah pada satu hari kami membuat sebuah acara syukuran. Sambil duduk mencicipi makanan saya menanyai masalah sekolahnya, dan tentang isi tasnya. Katanya, ia sekrang sudah duduk di kelas dua dan mulai sibuk dengan pelajaran-pelajarannya. Ia menyukai pelajaran eksat dan Bahasa Inggris. Apalagi ke depan ia sangat ingin kuliah di luar negeri. Oleh sebab itu, katanya, ia harus serisu belajar dari sekarang. Selain belajar di sekolah sejak jam 07.45 sampai 14.00, ia juga mengikuti les yang dibuat di sekolah mulai jam 15.00 sampai 16.30. Pada jam 17.00 ia mengambil les lagi di lembaga Bimbingan Belajar yang tidak jauh dari sekolahnya. Maknya tasnya diisi dengan semu buku yang akan dipelajari sepanjang hari itu, buku sekolah, les di sekolah dan les di Bimbel.

Saya tanya, kenapa harus ambil Bimbel lagi kalau di sekolah sudah ada les, dan pelajaran yang sama juga diajarkan di sekolah? Jawabannya mengejutkan saya: "Sekolah mana bisa dipercaya bang?" Saya heran dan menanyakan apa maksudnya. Soalnya kalau itu didengar sama kepala sekolah atau ibu gurunya, atau menteri pendidikan pasti ia akan dikeluarkan dari sekolah kerena menghina lembaga suci pendidikan. hahaha. Ia menjelaskan bahwa di sekolah gurunya tidak enak (?) dan pengajarannya tidak mendalam. "Satu jam setengah belajar di Bimbel sama dengan empat kali masuk di sekolah. Padahal di sekolah sekali masuk sama juga lamanya dengan di Bimbel." Kok bisa begitu? bukankah di sekolah yang mengajar guru yang sudah sarjana, sudah banyak pengalaman, sudah sering baca buku, dibekali dengan training acam-macam sampai sertifikasi segala. Sementara di Bimbel diajarkan oleh teman-teman mahasiswa yang masih kuliah atau baru tamat kuliah. Lagian bimbel hanya menjawab memecahkan soal-soal uan dan soal masuk perguruan tinggi saja. kenapa Bimbel lebih baik?

Tapi demikianlah jawabnya. Ia seorang anak laki-laki bertubuh kecil yang percaya bahwa kesuksesan masa depannya tidak bisa dipercayai pada sekolah semata. Sekolah tidak mampu memenuhi kebutuhan tantangan di masa depan, sekolah tidak sadar dengan perkembangan dunia yang sangat cepat. Sekolah menutup diri pada kebutuhan yang lebih besar untuk ilmu pengetahuan. Mereka merasa cukup dengan apa yang ada sekarang ini. Orang tua tahu itu, dan itulah sebabnya mereka mengirimkan anaknyake lembaga bimbingan belajar. Namun mereka juga harus menempatkan anaknya di sekolah karena mereka butuh ijazah. Tapi mereka sadar kalau sekolah saja tidak bisa menjadikan anak mereka lebih baik di masa depan.

Mungkin orang yang terlibat dalam sekolah saat ini juga harus terus belajar. Dan kita memang seorang yang selalu harus belajar.

Monday, 22 February 2010

Asap Rokok Bapak Dokter

Seorang dokter paruh baya, tetangga saya beberapa tahun yang lalu mengadakan syukuran di rumahnya. Salah seorang putranya lulus menjadi sarjana teknik arsitektur di sebuah universtas di Jerman dan akan segera melanjutkan S2, juga di Jerman. Sebagai tetangga, saya dengan seorang teman datang lebih cepat dari undangan lain untuk bantu-bantu mempersiapkan segala sesuatu buat acara syukuran yang akan diadakan setelah shalat Isya. Saat pertama datang saya dipersilahkan duduk di runag tamu. Di meja atas meja tamunya yang cantik terletak sebuah asbak keramik berbentuk binatang yang punggungnya berlobang. Di sanalah abu rokok dimasukkan. Sebatang rokok yang tidak habis dihisap diletakkan di pinggir asbak, pada sebuah lobang kecil yang dibuat pas untuk sebatang rokok.

Ia memang perokok, demikian juga teman saya yang datang bersama. Namunn saat saya datang keduanya sedang tidak merokok. Karenanya kepulan asap rokok juga tidak mengganggu. Sayangnya, tumpukan abu rokok di dalam asbak cantik di meja ukir yang cantik itu menimbulkan aroma rokok yang tidak kalah pahit menusuk hidung dibandingkan dengan asap rokok biasa. Apalagi beberapa puting rokok yang sudah lama bersemayam dalam asbak tersebut, menjadikan asbak sebagai sebuah sumber aroma rokok yang menusuk sampai ke jantung.

Dokter kok perokok, batin saya. Dokter adalah mereka yang berkerja untuk menyembuhkan orang sakit, termasuk menasehati mereka untuk menghindari perilaku tertentu agar tidak sakit. Antara lain menghindari rokok. Namun di rumah dokter pula sebuah asbak rokok mengeluarkan aroma yang jauh lebih panjang dari aroma sebatang rokok. Asbak yang penuh dengan asap dan puting rokok yang lembab menyebabkan aromanya keluar sepanjang waktu. Aroma ini lama-kelamaan juga menempel di gorden, gantungan baju, bahkan di dinding. Inilah yang kemudian masuk dalam paru-paru orang yang ada di sana, termasuk sang dokter dan keluarganya.

Saya yakin ia tahu merokok berbahaya, dan itu pula yang dinasehatinya pada orang lain. Namun kenapa ia tetap merokok dan menjadikan rokok sebagai bagian dari hidupnya? Jawabnya, ia tidak memiliki integritas.
Integritas!

Kalau kita menelusuri dari asal katanya, integritas berasal dari bahasa Latin “integrate” yang artinya sempurna. Seorang yang sempurna adalah orang yang memiliki completeness, wholeness, unified, dan entirety, dan kata lain yang merujuk pada keutuhan seseorang. Integritas seseorang akan terpancar pada semua perbuatan dan pemikirannya. Ciri utama orang yang memiliki integritas adalah kesamaan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Ia menjadi contoh tepat atas apa yang dia katakan. Seorang dokter yang menasehati pasien akan bahaya rokok, si dokter sendiri bukanlah perokok. Seorang guru yang menasehati anak-anaknya untuk rajin belajar, dia sendiri adalah orang yang banyak membaca. Seorang politisi yang mengatakan akan manjadi orang yang menyuarakan kepentingan rakyat, dia sendiri adalah orang yang sederhana dan jujur, bukan mengambil kesempatan saat menjadi wakil rakyat dengan memperkaya diri. Demikian halnya dengan seorang ulama yang mengajak umat untuk kebajikan, ia sendiri adalah teladan untuk ajakan yang dia suarakan.

Inilah yang sulit kita peroleh saat ini. Kebanyakannya, orang hanya bisa menyuarakan namun ia sendiri bukan contoh yang tepat untuk kata yang diucapkannya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, melihat tingkah dan pekerjaanya, ia justru orang yang sama sekali ikut dan menjadi bagian dari apa yang ditentangnya. Kasus yang paling mudah terlihat dalam perilaku banyak pejabat kita di Indonesia; baik pejabat karir maupun politisi. Sebelum menjadi pejabat atau di atas panggung ia adalah orang yang kamil, sempurna, seolah tidak ada cacat apapun. Namun kalau kita lihat ke belakang, pekerjaan, keluarga, aktifitasnya, ia adalah pemimpin bagi perbuatan yang selalu dikutuknya dari atas mimbar.

Saya jadi teringat sebuah pepatah yang sangat dikenal dalam masyarakat Aceh, namun tidak diamalkan. “Tajak bak laku linggang, meupinggang bak laku ija, tangui balaku tuboeh, tapajoeh balaku yang na,” yang artinya mengajak kita untuk jujur pada kenyataan kita sendiri dengan melakukan apa yang sesuai dengan kemampuan. Kalau tidak demikian maka yang terjadi adalah omong kosong yang sama sekali tidak adakan menjadikan negeri dan kehidupan ini menjadi lebih baik. Jadikan diri kita adalah wujud nyata dari kata-kata dan ucapan kita sendiri.




Sunday, 21 February 2010

Semua Mau Jadi Mata Kuliah

Suatu waktu, tahun 2008, saya mengikuti sebuah workshop Mainstreaming Gender di sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur. Ini bukanlah interaksi pertama saya dengan issue gender. Sebelumnya saya sudah mengikuti forum sejenis di Aceh dengan nama yang berbeda. Intinya sama saja, bahwa masalah gender adalah masalah besar yang terjadi di Indonesia. Berbagai kekerasan rumah tangga, kekerasan pada perempuan, pelecehan, pelabelan dan budaya yang timpang gender menjadi pemandangan yang terjadi sepanjang kehidupan masyarakat Indonesia. Masalah ini ada dalam semua level masyarakat, di kampung dan di kota, masyarakat bawah dan atas, awam dan terpelajar. Masalah ini perlu penyelesaian segera, segera, segara! Dari semangat kawan-kawan yang sama-sama menjadi peserta terasa seolah masalah itu harus selesai besok! Salah satunya dengan menjadikan isue gender sebagai mata kuliah di perguruan tinggi.

Di waktu yang lain, tahun 2009 yang lalu saya mengikuti workshop manajemen bencana di sebuah pergurun Tinggi di Yogyakarta. Indonesia memiliki “tradisi” bencana karena letak geografisnya yang memang membuatnya mungkin untuk selalu berhadapan dengan bencana. Oleh sebab itu banjir, gempa, longsor, tsunami, lumpur, gas beracun dan berbagai bencana karena ulah tangan manusia, menjadi bagian kehidupan sehari-hari di Indonesia. Celakanya, kesadaran masyarakatnya mengani fenomena ini sama sekali nol. Sudah tahu lereng gunungnya terjal dan pohonnya gundul, banyak masyarakat yang membangun rumah di daerah pegunungan. Sudah tahu banjir akan melanda jika gunung ditebang, suara mesin pemotong kayu tidak henti-hentinya terdengar sepanjang hari-hari. Sudah tahu sampah yang menumpuk akan membuat saluran tertutup dan bisa menyebabkan banjir genangan bahkan banjir besar di pemukiman, got-got dan kali-kali selokan di perkotaan penuh dengan sampah.

Kondisi di atas adalah sebuah gambaran bagaimana masyarakat Indonesia tidak peduli dengan bencana yang mengancamnya. Akibatnya ketika bencana datang korban yang jatuh sangat banyak, bahkan kebanyakan adalah korban yang seharusnya tidak perlu. Masalah lagi, respon yang diberikan pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab juga reaktif. Saat bencana datang baru mereka memberikan tindakan. Jadinya, pertolongan dan solusi yang diberikan tidak mampu menghindari korban yang telah berjatuhan. Kondisi inilah yang menyebabkan teman-teman sampai pada kesimpulan bahwa manajemen bencana mesti menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, setidaknya menjadi sebuah mata kuliah dasar umum yang waji diambil oleh semua mahasiswa.

Mainstreaming gender dan manajemen bencana bukanlah dua isue yang menghendaki adanya sebuah mata kuliah di perguruan tinggi. Tahun 2009 yang lalu saya juga mengikuti workshop lingkungan hidup berkaitan dengan pemanasan global. Saya juga ikut beberapa diskusi tentang anti korupsi, narkoba, ketahanan dan keamanan nasional, dan terakhir resolusi konflik dan perdamaian. Semua tema ini mengarah pada keinginan untuk menjadikannya sebagai sebuah mata kuliah di perguruan tinggi, yang akan dipelajari oleh semua mahasiswa pada awal-awal kehadirannya di kampus. Beberapa kalangan yang menggerakkan issue tersebut telah pula merancang kurikulum yang bisa digunakan untuk mengaplikasikannya di lapangan.

Saya jadi bertanya, kalau semuanya jadi mata kuliah dasar umum di kampus, bagaimana matakuliah yang sudah ada saat ini? apa mahassiswa tidak dibebani dengan mata kuliah yang terlau banyak? Kapan mereka mau belajar dan mendalami jurusan yang ia pilih? Meskipun saat ini mata kuliah itu belum benar-benar di laksanakan di kampus (kampus saya khususnya), namun membayangkan keseluruhan isue tersebut menjadi mata kuliah sungguh menggelikan. Selain Sumber Daya Manusia yang akan mengampu matakuliah juga sangat terbatas (yang menyebabkan mereka mengajar sekedar menyelesaikan tugas SKS saja), juga beberapa mata kuliah yang sudah ada sebelumnya kemungkinan harus digusur karena sudah terlalu banyak.

Cara pandangan yang reaktif terhadap isue baru yang langsung sampai pada kesimpulan bahwa kita mesti memasukkannya sebagai mata kuliah di perguruan tinggi menunjukkan cara pandang kita pada masalah pendidikan tidak holistik. Sebab memasukkan sesuatu yang baru tanpa mendapatkan pertimbangan yang matang akan menyebabkan adanya kemungkinan gonta-ganti mata kuliah yang sangat mengganggu keberlangsungan pendidikan. Sayangnya ini memang menjadi budaya di Indonesia. Sehingga ada istilah yang berkembang, kerja Menteri Pendidikan hanyalah ganti nama sekolah dan ganti nama kurikulum saja. Jadinya, namna SMA sudah berganti beberapa kali pasca Reformasi.
Hal lain yang mungkin timbul dengan jalan cara pandang seperti ini adalah setiap isue baru yang muncul ke depan selalu dihubungkan dengan mata kuliah pendidikan tinggi. Kemungkinan, ketika marak pembobolan ATM dan berbagai kasus cyber crime, maka nanti akan ada usulan untuk menjadikan masalah ini sebagai sebuah mata kuliah di perguruan tinggi. Akhirnya semua isue yang mewabah kita jadikan mata kuliah. Mahasiswa sibuk dengan mata kuliah baru, lembaga sibuk dengan gonta-ganti manajemen baru sementara substansi pendidikan semakin jauh kita tinggalkan.

Mungkin dalam kasus seperti ini pendekatan multi perspektiflah yang lebih tepat. Bagaimana isue-isue kontemporer yang terjadi di Indonesia dan dunia Internasional dapat teserap dalam mata kuliah yang sudah ada tanpa harus menghadirkan mata kuliah baru kalau memang tidak benar-benar dibutuhkan. Demikian halnya dengan kiat tetap harus berlapang dada untuk melepaskan atau mengganti muatan kurikulum mata kuliah yang memang tidak perlu lagi atau sudah berubah fokus seiring dengan perubahan waktu. Dalam hal ini maka tenaga pengajarlah yang harus memiliki kompetensi yang mumpuni untuk melakukan berbagai proses integrasi isue-isue kontemporer dalam matakuliah yang diampunya, sehingga isue-isue tersebut mendapat penjelasan yang memadai kepada mahasiswa.

tulisan ini juga dimuat di:
www.kompasiana.com/sehatihsan
www.sehatihsan.blogspot.com

Friday, 19 February 2010

Sandiwara di Ruang Kelas

Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, ngak mau belajar, malas membaca dan lainnya.

Suatu hari yang lain, saya minum kopi bersama seorang mahasiswa yang saya kenal dengan baik. Saya coba tanyai dia, apakah ia merasa puas dengan dosen-dosen yang mengajarnya selama ia kuliah yang sudah delapan semester. Jawabnya: tidak! Tidak ada satupun dosen yang menjadikannya puas. Ada beberapa yang menurutnya bagus, namun tidak sampai pada puas. Kebetulan saya mengenal salah seorang dosen yang disebutkan hampir memberinya kepuasan tersebut. Beliau adalah dosen senior yang sebentar lagi mau pensiun. Saat dulu saya kuliah, saya juga pernah masuk di kelasnya. Saat itu beliau mengajar Filsafat Umum. Saya ingat sepanjang kuliah beliau menceritakan kisah lucu, pengalaman dia dan keluarganya sepanjang jam kuliah. Saya tidak yakin kalau itu adalah sebuah metode filsafat. Sebab sampai pertemuan berakhir saya sama sekali tidak tahu kalau saya sudah belajar filsafat. Atau mungkin itu memang cara mengajar filsafat? Entahlah.

Pengalam di atas membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa pendidikan yang berlangsung di kampus saya selama ini tidak saling memuaskan. Saya sebagai seorang pengajar merasa tidak puas dengan kondisi mahasiswa. Saya merasa mahasiswa malas, bodoh, tidak mau membaca dan membuat tugas. Di sisi lain, pada saat yang sama, mahasiswa juga merasa tidak puas dengan apa yang saya lakukan kepada mereka. Apa yang saya berikan ternyata bukan apa yang mereka harapkan, setidaknya tidak memuaskan mereka. Materi kuliah yang saya pilih, meskipun terkadang besama dengan mereka, tidak membuat mereka menikmatinya. Kalau ini benar, maka dalam kelas sepanjang semester semuanya adalah sebuah sandiwara. Kami tertawa karena dalam “skenario” ada sebuah momen di mana kami harus tertawa. Kami merasa semangat karena kami memang didesain untk bersemangat. Semua kami lakukan karena sebuah skenario tidak tertulis yang kami pahami bersama.

Lalu, kalau kami tidak saling memuaskan, apa manfaat dari interaksi yang kami sebut pendidikan selama ini? Apa yang akan kami dapatkan? Apa yang menguntungkan kami? Lagi-lagi, entahlah.

Saya menduga-duga, pasti di luar kampus saya, di luar daerah saya, di luar departemen saya, di luar tingkatan pendidikan yang saya alami saat ini, ada kemungkinan “sandiwara” pendidikan ini berlangsung. Sebuah interaksi yang berlangsung di kelas adalah interaksi semu yang dipaksanakan karena formalisasi pendidikan yang kita akui benar. Padahal di belakangnya hanyalah kamuflase dan tipuan-tipuan metodologi yang dianggap ilmiah. Sementara di kelas, setiap hari berlangsung sebuah sandiwara yang terkadang sangat sulit menjadi media untuk mendewasakan manusia. Ali-alih menjadikan mahasiswa lebih terdidik, lebih dewasa, lebih bijaksana, kita malah memberikan mereka teror mental yang menjadikan mahasiswa memandang dirinya sebagai orang yang bersalah. Kalau ini yang terjadi –mudah-mudahan saya salah- maka wajar saja kalau mahasiswa menjadi alat yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat. Atau lumrah saja kalau mereka lulus justru menambah masalah, bukan menjadi bagian dari solusi.

Entahlah, mungkin suatu saat semua bisa berubah. Mungkin, langkah awal, saya bisa berusaha untuk diri sendiri saja. Selanjutnya, Wallahu’a’lam.

Thursday, 18 February 2010

Polisi Sebagai Pengyom Masyarakat?

Tahun lalu, saat satu malam saya pulang dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh, di mana saya melakukan penelitian, saya mendapat pengalaman baru berhubungan dengan Polisi. Di kecamatan Pintu Rime Gayo, tepatnya di perbatassan masuk ke Kabupaten Bireun, kami di stop oleh sepasukan Polisi. Seorang yang pendek dan gendut, berkumis, memakai sebo bertulisakan polisi menanyakan nama semua penumpang sambil mengarahkan senter ke muka mereka. Si Pendek menanyakan nama saya sambil mengarahkan senter ke muka saya. Saya menyebutkan nama dengan mengangkat lengan menutup mata yang silau karena senter. Namun si Pendek sepertinya kurang mendengar suara saya dan menanyakan kembali. Saya menyebutkan untuk keduakalinya tanpa mengangkat lengan karena senternya tidak lagi mengarah ke muka saya. si Pendek nampaknya maklum lalu menanyakan kepada penumpang lain dengan cara yang sama sampai selesai, dan kami diizinkan melanjutkan perjalnanan.

Menurut Sopir yang diminta turun dari mobil saat pemeriksaan, mereka sedang mencari tiga orang pembawa ganja. Malam sebelumnya mereka sudah menangkap dua orang. Sekarang tinggal satu orang lagi, perempuan. Namun mereka menanyakan semua karena tidak tertutup kemungkinan ada yang baru. Sopir bilang operasi begini memang sering dilakukan polisi untuk menangkap pembawa ganja. Namun sering juga sopir atau penumpang yang tidak bersalah menjadi korban. Sopir juga bisa menjadi korban kalau ada penumpang pemilik ganja turun tiba-tiba sebelum pemeriksaan setelah dapat informasi dari temannya dan ia meninggalkan barangnya di mobil. Pada kondisi seperti itu maka sopir menjadi penanggung jawab barang yang ada di dalam mobilnya. Sopir mobil yang saya tumpangi mengaku kalau ada temanya sesama sopir yang sudah menjadi korban kejadian seperti ini.

Menurut sopir, penumpang juga bisa mejadi korban. Kalau tidak hati-hati ia bisa dijebak oleh polisi. Saat memerikasa dompet penumpang, polisi memasukkan ganja ke dalamnya dompetnya lalu menuduh pemilik dompet membawa ganja. Karenanya, bang sopir menyarankan, kalau ada pemeriksaan polisi minta lihat dulu tangannya baru kemudian berikan dompet. Atau katakan tidak memakai dompet, tanyakan dia surat apa yang diperlukan, KTP? SIM? Atau surat apa. Itu saja berikan. Dompet tinggalkan di dalam tas.

Di Jeunieb, Bireun, kami dihentikan lagi oleh sekelompok orang yang memakai baju seragam seperti polisi dan bertuliskan POLISI di bagian dada kanannya. Mereka menggunakan senjata, sepatu, topi dan semua atribut kepolisian seperti yang sering kita lihat. Mereka ada lima orang, laki-laki semuanya. Kami dihentikan di jalan lempang yang agak sepi penduduk, hanya diterangi lampu jalan dari sebelah kanan. Saya terjaga saat seorang anggota komplotan yang nampak masih muda tersebut meminta sopir turun dari mobil dan mengeluarkan suart-surat kelengkapannya. Sopir turun dengan buru-buru dan setengah ketakutan sambil berusaha membuka pintu mobilnya yang sedikit macet. Si Polisi mengambil surat itu dan memeriksa ke bagian belakang mobil sampai ke sisi kiri yang agak gelap. Di sisi kiri persis di dekat saya duduk, pintu samping kiri. Saya mendengar anggota kelompok itu berkata: “berapa kamu kasih?” Sopir menjawab: “dua puluh pak”. Ia berkata lagi: “dua puluh ngak mau aku, seratus.” Saya mencoba mengerling ke tempat mereka melakukan transaksi. Sopir mengeluarkan sejumlah uang yang saya tidak tahu berapa, namun melihat itu anggota kelompok ini mengembalikan surat-surat mobil yang tadi dimintanya.

Sopir hendak masuk kembali ke mobil dari jalan depan saat seorang anggota yang nampak lebih senior, tegap dengan perut sedikit buncit, datang dari arah kanan menyeberang jalan menuju mobil. Ia berkata: “Periksa yang ini, yang ini. Apa sudah ada yang periksa?” Ia berpapasan dengan sopir yang hendak naik ke mobil. Sopir mengatakan: “Beres pak.” Namun nampaknya ia kurang mendengar apa yang dikatakan sopir. Ia membuntuti sopir sampai ke pintu mobil. Ia berkata dengan suara yang agak keras membentak: “Apa kau bilang barusan?” Sopir jawab: “Sudah beres Pak.” Ia berkata lagi dengan suara yang lebih tinggi: “Bukan, apa yang kau barusan bilang untuk aku?” Sopir mengulangi: “Sudah beres pak, sudah diperiksa sama anggota Bapak.” Ia nampak mengerti namun masih marah. Ia mengatakan: “Kau jangan macam-macam ya, awas kalau macam-majam sama aku.” Sopir menutup pintu mobil dan melanjutkan perjalanan.

Saat mobil mulai jalan sopir mulai berserapah, “kau makan itu uang haram, kau kasih untuk anak istri kau, mudah-mudahan jadi penyakit selama hidup dan jadi api neraka di akirat.” Dan tanpa saya minta sopir mulai bercerita: “Memang sering begini bang, mereka minta uang gila-gilaan. Masa dia minta cepek, apalagi yang awak dapat, haa? Repas lima ratus, isi minyak duaratus, kasih toke cepek limpul, kalau dia minta seratus kan tinggal limpul sama kita. Gimana mau kerja kalau gaji limpul. Kalau dua puluh dia minta masih wajar kalau memang kita salah. Tapi ini seratus, kan gila!” Aku lihat sopir bercerita penuh emosi. “Kalau begini ngak semnagat awak bekerja,” lanjutnya.

Ia mengakui kalau mobilnya ber-plat hitam (pribadi) dan BK (Sumatera Utara). Namun ia mengatakan itu tidak masalah. Tidak ada sweeping setelah konflik. Tidak ada razia malam hari kecuali di depan pos polisi, itupun sekedar pemeriksaan (saya tidak mengeti bagaimana membedakan razia dengan pemeriksaan). Ia juga mengatakan, kalau memang kita salah karena mengangkut sewa dengan plat hitam, kita masih punya alasan. Bukan kami angkut sewa, ini mobil pribadi tapi disewa oleh beberapa orang dan meminta diantar ke tempatnya yang berbeda. “Kan benar begitu bang?” Ia meminta persetujuan saya. Saya terpaksa menjawab “iya” meskipun belum tentu sepakat dengan apa yang ia jelaskan. Ia mengatakan kalau itu memang polisi liar yang sedang mencari uang. Pura-pura saja mengamankan lalu-lintas, padahal mereka mau cari uang untuk diri sendiri.

Kami berhenti di sebuah rumah makan setengah jam berjalan. Setelah makan minum dan hendak melanjutkan perjalanan, ia menelpon temannya yang berangkat dari arah Banda Aceh menuju Takengon menanyakan apakah ada sweeping di jalan. Temannya menjawab tidak. Ia menceritakan tentang kejadian di Jeunib dan mengatakan kalau ia terpaksa memberikan uang. Temannya tanya berapa ia berikan dan ia menatakan Rp. 50 ribu.

Aslinya, tulisan ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

Sebuah Kenangan di Tanah Gayo

Saya ingin menulis sesuatu tentang Gayo. Tapi ada sebuah pepatah yang saya percaya pasti benar: Foto bercerita lebihd ari seribu kata." Saya postingkan saja beberapa foto di sini. Mudah-mudahan ia bisa bercerita sendiri;


Pada tikungan hendak memasuki Kota Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah kita akan disuguhi sebuah tulisan Visit Tanoh Gayo 2008. Saya pergi ke sana pada tahun 2009, tulisan itu masih belum diganti. Ada sebuah gerbang yang sedang dibangun untuk menyambut kedatangan tamu, namun saya belum sempat mengambil fotonya.



Dari salah satu bagian sebelum masuk ke Kota Takengon kita bisa saksikan bentangan Danau Laut Tawar dan jalan berliku menuju ke sana. Saya mengambil foto ini dari sebuah warung kopi yang menghadap ke Danau. Satu saat saya ingin menum kopi di sana sambil menatap indahnya Danau LAut Tawar.


Jalan masuk ke KOta Takengon yang masih dalam perbaikan dan perluasan. Kota Takengon adalah ibu kota Aceh Tengah. Terletak persis di dekat Danau Laut Tawar nan eksotik.


Salah satu pasar tradisonal di Takengon. Di sini kita bisa dapatkan berbagai oleh-oleh khas Gayo. Mau ikan depik? Nah, di pasar ini bisa diperoleh. Tapi kalau mau yang segar dan masih mentah silahkan tangkap sendiri di dalam danau. Heheh


Kalau Capek, bisa istirakat di cafe-cafe yang ada di KOta Takengon sambil makan mie goreng Spesial Khat Takengon dan jus melon.


Atu minum segelas kopi Gayo yang Sruuuppp.... maknyuusss.


Mari kita berjalan mengelilingi Danau Laut Tawar. Tidak ada kenderaan umum yang khusus disediakan untuk wisatawan. Kalau anda mau melakukannya, maka carilah teman atau kenalan, atau siapa saja yang bisa anda ajak untuk melakukan ini. Kebetulsan saya punya teman di sana, saya memakai motornya untuk mengelilingi danau.


Satu sisi Danau yang teramat indah untuk dilewati. Duduk di atas tempat pemancingan milik masyarakat sambil menunggu ikan-ikan memakan umpan.


Sisi lain dari Danau Laut Tawar dengan pemandangan masyarakat yang sedang mencari ikan. Ada ikan Depik yang menjadi trade mark Danu LAut TAwar. Sayangnya populasi ikan ini semakin berkurang. Mungkin karean terlalu banyak orang yang suka, sehinga banyak pula yang diambil oleh nelayan.


Sebuah Gua yang ada di pinggir Danau Laut Tawar yang penh misteri. Saya tidak pernah masuk ke dalamnya.


Sebuah bangunan yang dibuat oleh TNI di Bintang, daerah sebelah Timur Danau LAut Tawar. Di dekat tugu ini sering juga dilaksanakan pacuan kuda tradisional. Beberapa warung kopi menghadap Danau sangat cocok untuk istirahat dan bersantai sejenak.


Kopi adalah tanaman yang banayk tumbuh di Tanoh Gayo. KArenanya di mana-mana kita bisa dapatkan segelas kopi yang nikmat.


Beberapa hiasan yang terbuat dari akar kopi. Hiasan kerajinan tangan ini agak sulit diperoleh, biasanya hanya ada di rumah penduduk dan tidak di jual di pasar.


Seorang anak dengan pakaian adat Gayo.

Aslinya, foto-foto ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

Wednesday, 17 February 2010

Beasiswa dan Momok Bahasa Inggris

Seorang teman saya, dosen di salah satu perguruan tinggi di Aceh, mengeluh panjang. Intinya ia merasa jengkel dan marah pada beberapa lembaga yang menyediakan beasiswa untuk akademisi dari Aceh dengan persyaratan yang, menurutnya, “aneh”. Persyarakat dimaksud adalah kemampuan Bahasa Inggris dengan alat ukur TOEFL atau IELTS hingga mencapai nilai tertentu. Bahkan itu menjadi alat ukut pertama yang sangat menentukan untuk proses seleksi berikutnya. Tanpa penguasaan Bahasa Inggris yang sesuai dengan persyaratan tersebut, katanya, mundur saja, tidak usah mendaftar. “Kalau bahasa Inggrismu jelek, maka jeleklah semua “amalanmu” yang lain. Dan kalau Bahasa Inggrismu bagus, maka keburukanmu yang lain akan dapat diperbaiki,” demikian katanya.

Tentu, sebagai teman sesama akademisi dan teman senasib, yaitu sama-sama tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, saya ikut sedih mendengarkan keluhannya. Apalagi saya tahu “siapa dia” dan bagaimana ia menjadi seseorang yang memiliki dedikasi yang kuat untuk belajar dan mengajarkannya kepada orang lain. Saya tahu apa yang ia lakukan untuk mengembangan ilmu pengetahuan dan apa yang ia kerjakan untuk menyebarkan ilmu tersebut kapada masyarakat. Saya juga tahu apa yang telah dilakukannya untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih baik. Beberapa masyarakat yang pernah berhubungan dengannya jelas menunjukkan keakraban dan terima kasih mereka atas apa yang ia telah lakukan.

Sayangnya ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dengan mendapatkan beasiswa karena kendala Bahasa Inggris. Padahal dari sisi penguasaan pengetahuan teoritis dalam bidangnya, dan kemampuan dalam metodologis dalam ilmu pengetahuan saya angkat tangan menghormatinya. Dari pengalamannya yang banyak, kerajinannya dalam menulis, partisipasinya dalam berbagai bidang akademik, mengharuskan saya selalu bertanya dalan belajar kepadanya. Hanya satu yang ia tidak bisa, yakni menguasai Bahasa Inggris dengan baik untuk memenuhi persyaratan donor tertentu.

Saya semakin sedih tatkala saya mengetahui teman lain yang jago bahasa Inggris, karena ia memang sarjana Bahasa Inggris, mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Padahal saya tahu pasti teman ini adalah “mahasiswa yang baik” saat ia kuliah. Ia bukanlah orang yang mau berorganisasi, ia tidak terlibat dalam masyarakat, ia bukanlah penulis dan peneliti. Satu-satunya penelitian yang pernah ia lakukan adalah skripsinya sendiri. Ia bukan pula seorang fasilitor yang mampu menunjukkan kepada masyarakat tentang berartinya pengetahuan mereka yang terpendam. Tapi ia dapat beasiswa karena kemampuannya dalam bahasa Inggris plus bimbingan seniornya ketika mengisi form beasiswa. Uniknya, ia mendapatkan beasiswa untuk jurusan Islamic Studies, lahan yang selama ini jauh dari konsen keilmuannya.

Andai saja, mereka yang memberikan beasiswa tidak hanya memfokuskan penilaian pada kemampuan bahasa Inggris, tapi melihat potensi seseorang untuk berkembang, sekarang dan di masa depan. Andai lembaga donor beasiswa juga meyediakan beasiswa untuk belajar bahasa Inggris kepada mereka yang memiliki potensi besar dalam bidang bukan bahasa Inggris. Andai kalau mau membantu tidak menakut-nakuti orang dengan skor TOFL dan IELTS yang mencekik leher. Mungkin akan banyak orang Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri tanpa takut dengan kendala bahasa. Bekali mereka dengan sedikit beasiswa untuk menguasai bahasa, itu jauh lebih adil dibandingkan dengan menjadikan bahasa sebagai alat ukur pertama untuk kemampuan lain yang dikuasainya. Sebab kesibukan, aktifitas sosial dan akademik yang ia lakukan bisa saja menjadikannya luput untuk belajar Bahasa Inggris yang memang bukan bahasa ibunya.

“Kamu bagaimana?” tanya temanku pada suatu hari setelah di mengupat, menghujat, mengungkapkan kekesalannya pada program beasiswa yang tidak meluluskannya karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang jelek. Saya jawab: “Semua yang kau ungkapkan adalah ungkapanku.”


Monday, 15 February 2010

Cinta Anak Alam: Cerita Dari Wonodadi (4)


Anak-anak memiliki bahasa yang sama, bahasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di mana saja mereka terbebas dari kepentingan, prasangka dan kemunafikan. Ketulusan yang ditunjukkan anak-anak Wonodadi, sebuah dusun pedalama Jawa Tengah, selama saya berada di lapangan adalah salah satu contohnya. Mereka mengungkapkan persahabatan dengan jujur tanpa mengharapkan balasan. Mereka menunjukkan perhatian dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mereka membantu dengan iklas dan sepenuh hati. Beberapa pengalaman berikut adalah bukti itu semua.

Suatu sore, anak-anak berkumpul di depan rumah di mana saya tinggal. Saya tidak tahu kapan, namun mereka mengatakan saya berjanji untuk main-main ke pemandian di atas gunung yang dikenal dengan Kali Sepi (saya tidak tahu kenapa namanya sepi, meskipun memang di sana sangat sepi karena di lereng gunung). Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Di Wonodadi, jam 12 siang sama sekali tidak terasa terik mata hari. Tanah selalu dilindungi awan dari sengatan matahari. Karenanya, meskipun tengah hari bukanlah saat yang terik kalau mau melakukan perjalanan.

Saya sebenarnya sedikit malas untuk pergi mandi sebab ini siang hari dan sedang ada pekerjaan (menulis cacatatan lapangan). Lalu saya katakan kalau saya khawatir akan terjadi hujan dan mengajak mereka mandi keesokan hari saja. Sebab biasanya siang hujan akan turun meskipun nampaknya matahari bersinar terang. Namun alasan ini kurang diterima oleh anak-anak itu. Mereka tetap mengajak saya untuk pergi ke pemandian. Saya tidak punya alasan lain. Saya meminta mereka menunggu sampai anak-anak kelas lima dan enam pulang dari sekolah mereka. Nampak mereka bersabar.
Setelah semua anak berkumpul kami pergi menunju pemandian. Hampir semua anak di dusun ini ikut bersama. Ada beberapa yang, karena masih terlalu kecil, tidak mau ikut karena karena terlalu jauh. Beberapa orang warga yang lewat menanyakan ke mana kami mau pergi dan saya jawab mau main-main bersama anak-anak dusun, dan mereka paham dengan kenyataan ini. Saya tidak mendengar ungkapan, “hati-hati ya,” dari para orang tua yang melihat anaknya dalam rombongan itu. Kemungknan bagi mereka ini sudah biasa dan mereka sudah selalu melihat anaknya naik ke sana.

Saat anak-anak sedang asik mandi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Saya mengajak mereka naik ke darat dan segera pulang. Semuanya bergegas naik dan mengenakan pakaian. Hujan terus turun dengan sangat lebat dan mereka berpakaian cepat-cepat dan segera beranjak pulang. Kami berjalan buru-buru pulang karena hujan semakin deras. Tidak jauh dari tempat permandian kami sudah basah kuyup. Beberapa anak perempuan mengambil daun keladi besar sebagai payung. Namun angin yang kencang menerbangkan payung itu. Mereka berlari kembali. Tiba-tiba dari belakang seorang anak laki-laki menawarkan saya daun pisang yang entah diambil di mana dan bagaimana. Sebuah daun pisang kecil tentu tidak cukup melindungi dari guyuran hujan. Namun tidak mungkin juga menolak pemberian itu. Saya mengucapkan terima kasih dan mengambil daun pisang tersebut. Saya terus berjalan dalam hujan itu dengan cepat dan meminta anak-anak juga berjalan cepat.

Saat melewati anak perempuan, seorang anak perempuan mengatakan meminta maaf kepada saya karena mengajak saya ke pemandian sehingga menjadi basah. Padahal saya sebelum berangkat sudah mengatakan kalau hujan mau turun dan menawarkan pergi ke pemandian keesokan harinya. Namun mereka memaksa untuk tetap pergi lalu saya ikut pergi. Jadinya sekarang kami semua basah kuyup. Saya mengatakan tidak apa-apa dan tidak ada yang salah. Mereka mengkhawatirkan saya kemasukan angin dan sakit. Saya mengatakan tidak masalah, sebab kalau masuk angin nanti saya akan keluarkan di kelas saat mengajar. Dan mereka tertawa.

Pada suatu pagi yang lain, saya mengajak mereka jalan-jalan sebelum kelas dimulai. Kami jalan-jalan ke jembatan besar di mana turbin listrik diletakkan. Jalan menuju ke sana lebih terjal dibandingkan dengan jalan pemandian yang penah kami lewati sebelumnya. Jalan ini terbuat dari batu gunung yang dipecahkan dan disusun rapi. Kami berjalan menurun sedikit demi sedikit. Bekas hujan malam tadi menyebabkan jalanya mash dan licin. Saya harus selalu mengingatkan anak-anak agar hati-hati. Sebab dalam pandangan saya mereka terlalu ceroboh dan buru-buru. Mungkin saja ini hanya pandangan saya, sebab kenyataannya mereka memang selalu berjalan cepat pada jalan seperti itu. Turun ke jembatan memang membutuhkan energi besar. Jalan yang terjal dan licin membutuhkan kehati-hatian yang besar.

Kami hanya berfoto bersama di jembatan dan melihat-lihat sungai dengan air yang mengalir deras. Setelah berfoto bersama saya dan anak-anak mau kembali ke sekolah. Kembali ke sekolah berarti harus menempuh jalan menanjak yang terjal dan licin yang tadi kami turuni. Baru beberapa meter berjalan saya sudah merasakan kelelahan dan ini langsung nampak pada anak-anak. Saya berjalan sangat lambat dan dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali saya menompang tangan di lutut untuk menambah tenaga. Melihat ini beberapa anak perempuan langsung memberikan bantuan dengan mendorong saya. Tiga anak perempuan meletakkan kedua tangannya di pinggul saya dan mendorong saya ke depan. Terasa lebih nyaman dan kuat. Namun hal ini tidak mungkin saya lakukan karena akan menjadikan mereka lebih capek. Bagaimanapun kami sedang menempuh jalan yang sama dengan tanjakan yang sama. Namun mereka tidak mengindahkan larangan saya dan terus mendorong. Sampai akhirnya saya harus memegang tangan kecil itu dan memindahkannya.

Kami kembali berjalan sampai ke atas. Saya sangat kelehan. Keringat keluar mengalir membasahi baju. Begitu sampai di tanah yang datar saya langsung duduk di sebuah kayu balok yang akan dijadikan papan cor. Beberapa anak-anak meminta izin pada saya untuk minum. Mereka pergi ke arah perumahan di belakang sekolah. Sekejap kemudian mereka datang kembali dengan membawa segelas air dan memberikan kepada saya. “Mas kan capek,” katanya.


Saturday, 13 February 2010

A Shadow Falls: Antropologi Bergaya Novel

Ketika saya pulang dari Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di mana saya melakukan penelitian, saya menumpang mobil Bapak P, konsultan penelitian saya dari Jurusan Antropologi UGM Yogyakarta. Saya duduk persis di bangku belakang Bapak P yang bertindak sebagai sopir. Di sana ada sebuah kotak plastik yang berisi sebuah kamera besar dengan dua lensanya, beberapa baterai dan senter. Dalam kotak plastik itu juga ada sebuah buku tebal, sekitar 5 cm, yang berwarna kuning, begambar ilustrasi masjid, dan backgroundnya tulisan hanacoroko yang saya tidak tahu bacaannya. Saya mengambil buku itu dan yang pertama saya baca adalah pengarangnya; Andrew Beatty. Saya katakan pada Bapak P, apalah penulis buku ini adalah penulis Varieties of Javanese Religion? Ternyata benar. Ia menulis buku yang setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Variasi Agama Di Jawa.

Saya mendiskusikan buku itu dengan Bapak P. Dengan bahasa Inggis saya yang teramat sangat terbatas, saya mencoba sedikit memahami apa yang ditulis oleh Beatty dalam buku itu. Saat membuka halaman secara acak saya mendapatkan ia sedang bercerita tentang kunjungannya di lapangan dan mengungkapkan apa yang diceritakan masyarakat kepadanya. Saya pikir ini adalah sebagian saja dari bukunya yang tebal tersebut. Ternyata ketika saya membuka beberapa halaman yang lain, saya menjadi heran, di sana tertera cerita-cerita yang lain yang sama sekali tidak mirip dengan “buku ilmiah” yang selama ini saya kenal. Ini membuat saya bertanya pada Bapak P, apakah itu “dibenarkan” dalam Antropologi. Ternyata, model penulisan begitu adalah sebuah model baru yang dikembangkan dalam Antropologi khususnya dalam studi etnografi.

Beatty, menurut Bapak P adalah seorang antropolog yang “kemungkinan ia akan menjadi antropolog keas dunia.” Ia menggabungkan gaya bercerita yang biasanya dipakai oleh novelis dalam menyusun ceritanya dengan data-data lapangan yang diperoleh selama ini tinggal di lokasi penelitian. Saya membaca buku-buku antropolog lain yang menulis mengenai Indonesia semacam Clifford Geerzt, Minako Sakai, Mark Woodward, Leena Avonius dan John R. Bowen yang menulis mengenai masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Di sana saya memang menemukan gaya menulis bercerita dengan deskripsi yang sangat akrobatik tentang penglaman penulisnya di lapangan. Namun –sejauh yang saya pahami- mereka menjadikan cerita itu hanya sebagai “jalan masuk” saja untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tema yang mereka pilih. Selanjutnya mereka melakukan analisis dan pendalaman yang hampir sama dengan tulisan ilmiah sosial lainnya. Namun yang dilakukan Beatty adalah, ia terus bercerita dari paragraf pertama hingga terakhir. Bahkan ia tidak pernah menyebut-nyebut referensi atau membandingkannya dengan studi lain yang pernah ada. Ketika saya melihat di bagian akhir buku, tidak ada juga tercantum daftar referensi yang ia gunakan dalam menulis bukunya.

Di Banda Aceh, saya memiliki seorang teman Jerman, mahasiswa Antropologi dari Leiden University, Mr. D, yang sedang melakukan penelitian disertasinya di Aceh. Satu hari kami minum kopi di Solong, Ulee Kareng. Saya menceritakan pengalaman saya melakukan studi etnografi di Jawa. Kami mendiskusikan beberapa metodologi dalam mengumpulkan data lapangan, membuat catatan lapangan dan mengorganisir data. Kami juga mendiskusikan beberapa hal yang lain. Namun yang menarik adalah ketika ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Sambil mengatakan “Saya membawa buku menarik yang sebaiknya Sehat baca” ia mengeuarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Baru sedikit nampak warna kuning buku itu saya langsung katakan “Andrew Beatty”. Ia sedikit terkejut mendengarnya karena saya tahu tentang buku itu. Padahal untuk konteks Aceh, buku-buku baru terbitan luar negeri tentu tidak mudah dijumpai. Saya menjelaskan kalau saya pernah melihat buku tersebut di Yogyakarta. Kemudian kami mendiskusikan buku itu. Lagi-lagi, seperti Bapak P, teman bule ini mengatakan itu adalah buku yang menarik dan “bacaan wajib” bagi antropolog (atau yang merasa diri antropolog, seperti saya. heheh). Ia juga menjelaskan bagaimana Beatty “memasukkan” referensi dan teori-teori sosial dalam tulisannya.Memang nampak ia tidak mengutip tulisan orang lain dengan menulis nama orang tersebut, namun ia memiliki gambaran teoritis yang kaya sehingga dialog-dialog yang terbangun dalam buku itu juga menjadi sangat kaya dan sarat pengetahuan. “Inilah yang membedakannya dengan sebuah novel biasa,” kata Mr. D.

Di hari yang lain, saya minum kopi bersama teman bule Amerika, Mr. J, seorang mahasiswa antropologi asal Amerika yang sedang melakukan penelitian disertasinya sekaligus bekerja di Aceh. Ternyata ia juga menyebut-yebut tetang buku itu dan mengaku telah membacanya. Ia mengatakan buku itu adalah buku yang bagus yang harus dibaca untuk belajar model baru penulisan antropologi. Namun ia sedikit memberikan kritik pada Andrew Beatty, si penulis buku. Beatty, menurut Mr. J tidak mengakomodir pendapat-pendapat dari masyarakat yang ada di pemerintahan negara, politisi dan masyarakat modernis mengenai pemikiran keagamaan mereka. Bahkan Beatty nampaknya memberikan nilai negatif pada mereka dan menganggap aparatur pemerintah dan modernis “mengganggu” perkembangan Islam “yang benar” yang berkembang dalam masyarakat Pedesaan Jawa.

Sayangnya, saya hanya mendengar para antropolog kenalan saya mengatakan kalau buku itu bagus, baik, layak dibaca, memberikan gaya penulisan baru antropologi, dan lainnya. Saya sendiri tidak memiliki bukunya, dan belum membaca kecuali sesaat di dalam mobil Bapak P dan sesaat di warung kopi bersama Mr. D. Hal ini karena buku tersebut diterbitkan di London oleh Faber and Faber dan juga masih sangat baru, terbitan tahun 2009, dan pasti mahal untuk ukuran Rupiah. Padahal, jujur saya akui, gaya penulis buku yang dilakukan oleh Andrew Beatty adalah gaya yang “gw banget!” Saya ingin belajar dari apa yang telah dipraktekkan oleh Beatty, gaya menulis, sistematika, pemilihan subjek, dan lainnya. Sebuah laporan antropologi bergaya novel! Saya yakin, kalau demikian gaya menulisnya, bukan hanya antropolog dan akademisi sosial yang berkepentingan saja yang akan membaca buku “ilmiah” namun juga masyarakat umum yang lain akan menyukainya. Bahkan satu saat, saya membayangkan semua buku ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan ringan saja sehingga semua orang yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dapat menikmati dan belajar darinya.

Thursday, 11 February 2010

Lut Kucak: Danau Yang Terlupakan

Pertengahan tahun 2009 yang lalu, dalam sebuah kunjungan lapangan untuk penelitian saya di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya mengunjungi sebuah danau yang masyarakat di sana menyebutnya dengan Lut Kucak. Danau ini berada di puncak gunung sebelah Utara Bener Meriah. Lut berarti laut atau danau. Orang Gayo menyebutkan Lut Tawar untuk Danau Laut Tawar yang ada di Takengon. Dan danau ini mereka sebut dengan Lut Kucak. Saya tidak tahu apa arti Kucak.
Untuk mencapai Lut Kucak kami harus naik sepeda motor khusus yang telah dimodifikasi. Dari Simpang Tiga, ibu kota Bener Meriah, hanya menempuh jalan lebih kuran 5 km. setelah itu kami menempuh sebuah jalan made in rakyat yang kecil, menanjak dan terus menanjak. Di sisi kanan jalan adalah gunung yang nampak mejulang. Sementara di sisi kiri adalah perkebunan rakyat yang menanam berbagai macam komoditas perrtanian, seperti kol, wortel, kentang dan lainnya. Saya heran juga bagaimana mereka bertani di lereng itu, bagaimana mereka mengangkut hasil panen, bagaimana mereka bekerja di lereng yang sangat terjal. Namun ini adalah nyata, kenyataan yang tak terbantahkan. Perkebunan rakyat menghiasi semua lereng gunung menunju Lut.
Dalam perjalanan itu kami mengalami musibah. Ban belakang sepeda motor kami bocor sebelum sampai ke Lut. Kami jadi ragu apakah akan melanjutkan atau tidak. Sebab menurut Fakhruddin, posisi kami masih setengah dari jalan menuju Lut. Setelah melalui beberapa pertimbagan, antara lain pasti ini kesemptan langka bisa menuju ke sana, maka kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Namun kami terpaksa berjalan kaki untuk menapai tujuan itu. Sepeda motor kami tinggalkan di pinggir jalan.

Perjalanan mencapai Lut ternyata masih sangat jauh. Apalagi jalan menanjak dan sangat terjal. Saya meminta berhenti berkali-kali untuk menarik nafas dan istirahat. Sekali, karena sangat capek kami berbaring di jalan yang agak rindang. Fakhruddin mengambil daun pisang hutan (Aceh: pisang bue) sebagai alas tidur. Ia mengatakan kalau daun pisang itu punya nilai mistik tersendiri. Saya diam saja dan mencoba menikmati. Ternyata ia benar, daun pisang itu terasa sangat tebal. Padahal saya tidur di atas bebatuan kecil yang tidak rata, namun dengan daun pisang itu, semua terasa berbeda. Runcingan batu yang ada justru terasa datar dan lembut. Saya merentangkan tangan dan kaki. Melepaskan segala penat. Melemaskan semua organ. Mengangkat sedikit baju sampai ke dada agar udara segar masuk ke kulit. Hasilnya sungguh ajaib. Sebuah kesegaran baru meresap dalam tubuh. Namun saya sudah sangat haus. Saya mengandalkan jurus pasrah dan berdoa dalam hati semoga ada bantuan tak-terduga yang dikirimkan Allah untuk kami yang sedang menderita ini.

Kami berdua melanjutkan perjalanan ke puncak yang memang tidak terlalu jauh lagi. Namun saya berhenti dua kali lagi. Duduk sebentar melepaskan lelah lalu jalan lagi. Dan, dalam di ujung perjalanan, hawa segar mulai terasa. Ada udara dingin yang meiup. Saya bayangkan itu adalah udara dari lut yang ada di balik gunung ini. Saya membayangkan lut yang luas dan hijau yangm membentang lebar membentuk kolam besar. Di atasnya berlayar beberapa nelayan dengan pancing di tanggannya. Atau di sekitarnya banyak pemanjing yang berjejer yang mencoba mengadu nasip ada kebutuhan ikan akan makanan.

Saat teman saya mengatakan: ini danaunya, saya sempat terkejut dan sedikit kecewa. Saya mendapatkan danau ini bukan seperti danau yang saya bayangkan, namun lebih seperti rawa-rawa di sawah. Memang letaknya dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi dan hutan belantara yang masih hijau. Bahkan di bagian Baratnya adalah gunung merapi yang masih diam namun punya potensi batuk-batuk mengeluarkan isinya. Namun ini memang agak sulit dikatakan sebagai sebuah danau. Pada masa lalu mungkin saja, namun sekarang ini adalah sebuah kubangan besar yang keruh coklat dikelilingi oleh lembah yang ditumbuhi rumput. Beberapa orang memancing di pinggirnya.

Di puncak gunung yang menghadap ke sana ada perkebunan masyarakat. Seperti banyak daerah di lereng gunung dalam perjalanan ke sana, perkebunan ini sangat jauh dari dataran. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka dapat membawa turun hasil penennya. Oke, jika itu hanya sata atau dua kilogram. Namun dengan luas lahan yang –saya perkirakan- setengah hektar ini, mungkin akan menghasilakan puluhan kilogram sayuran. Bagaimana mungkin mereka mengangkut ke bawah? Etahlah. Terkadang kebutuhan akan uang dapat menciptakan berbagai keanehan dalam kehidupan yang sulit dipahami.
Sayangnya pembukaan lahan untuk perkembunan ini mengorbankan banyak pepohonan.

Puncak gunung ini sudah gundul, sudah tidak berpohon lagi. Hanya ada beberapa bagin yang masih dipenuhi pepohonan dan ditutupi hutan lebat. Namun itu juga nampaknya hanya menunggu waktu untuk dikorbankan. Tidak lama lagi, saya yakin, semuanya juga akan gundul. Betapa sayangnya mereka, hanya kaena kepentingan ekonomi sesaat, hutan ditebang dan malapetaka mengancam banyak orang yang berada di lereng sana. Ada banyak perkampungan di bawah sana yang terancam dengan berbagai tindakan tidak sadar dari sebagain anggota masyarakat.

Beberapa orang memancing di pinggiran danau. Saya tidak tahu apakah di sini ada ikan khasnya atau tidak. Namun mereka nampak tetap bersemangat memancing di bawah teriknya matahari siang. Menurut teman saya ikan di sini ikan kecil-kecil. Sedikit lebih besar dari ikan depik yang khas di danau laut tawar. Saya tidak tahu bentuknya dan bagimana rasanya. Saya juga tidak melihat ada orang yang mendapatkan ikan atau membawa pulang hasil pancingannya.

Air danau keruh terlihat keruh dan tidak segar. Mungkin dedaunan pohon yang jatuh kesana menjadikan airnya kotor, coklat kehitam-hitaman. Saat berjalan di pinggirnya terasa seperti berada di atas pelampung. Menurut teman saya di bawah tanah yang kami injak ada air danau. Tanah itu menutupi bagian atas danau saja, sementara di abgian bawahnya tetap masih ada air. Dan air itulah yang mengalir ke sungai-sungai masyarakat yang ada di perkampunagn di bawahnya. Sehingga jika terus digunduli hutan di sekitarnya, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi longsor dan air yang ada di danau ini tumpah ke perkampungan.

Banyak pohon besar di samping danau. Bahkan kami makan di bawah sebuah pohon besar yang nampak tidak pernah disinggahi manusia. Di bawahnya terasa sangat dingin dan nyaman. Dari pohon yang kami singgahi nampak kalau danau Lut Kucak ini semakin mengecil. Dulu, kata teman saya, saat ia masih kecil, danau ini terasa lebih lebar. Dengan turunnya tanah di badan gunung yang telah digunduli, danau sedikit demi sedikit semakin tertutup dan mengecil. Bahkan tidak tertutup kemungkinan danau ini akan tertutup dengan tanah di bgian atasnya dan menghilang dari pandangan mata.
Andai pemerintah Bener Meriah peduli dengan kondisi danau ini, saya yakin ia akan menjadi objek wisata yang menarik. Dari puncak gunung di mana danau itu berada kita bisa saksikan pemendangan luas kabupaten Bener Meriah dan puncak gunung merapi di bagian Baratnya. Di sekitar danau juga ada sumber air panas yang bisa dijadikan obejk wisaya tambahan. Apalagi di sana juga ada kuburan Belanda yang bisa menjadi objek wisata sejarah. Danau Laut Kucak bisa menjadi sebuah paket wisata yang menarik. Hanya perlu pengelolaan dan pembuatan jalan yang lebih baik untuk menuju ke sana.

Tuesday, 9 February 2010

Antropologi Visual: Hidup adalah Sebuah Film

Pada sebuah Senin 13 Juli 2009, di kantor ARTI Banda Aceh kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul “Playing Between The Elephant.” Film ini dibuat oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan S3nya di Amerika dalam ilmu Antropologi Visual. Saya baru mendengar jenis ilmu ini. Selama ini saya hanya tahu antropologi, namun tidak mengetahui secara detail mengenai ilmunya. Maklum, saya bukan antropolog, saya hanya mencoba-coba masuk ke ranah ilmu ini lalu tertarik. Mungkin juga karena penelitian yang saya lakukan (tepatnya yang mendapatkan dana) hanya penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu ini. Guru-guru penelitian saya juga kebanyakan dari jenis ilmu ini. Akirnya, saya jatuh cinta pada antropologi meskipun saya tidak paham dasar-dasar teori antropologi.

Kembali ke film. Film itu dibuat selama setahun setengah di sebuah desa di Pidie, Aceh, yang terkena dampak tsunami tahun 2004. Selain tsunami, penduduk desa ini juga tergolong dalam masyarakat yang sederhana, bukan hanya dalam struktur sosial, namun juga dalam ekonomi dan lokasi desanya. Dari film itu nampak desa mereka dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang sangat riskan kalau dilalui oleh mobil dengan muatan berat. Ketertinggalan juga nampak dari model rumah penduduk yang ada di sana. Rumah yang sangat sederhana, sebuah petakan yang tinggi di sepinggang yang kemungkinan tanpa kamar. Sayangnya dalam film tidak menshot kondisi di dalam rumah.

Film ini bercerita mengenai proses pembangunan rumah yang dilakukan oleh UN-Habitat sejak perencanaan awal hingga kahir dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sang sutradara dengan cerdas mengambil setiap kejadian yang ada dalam masyarakat di sana selama setahun. Hasil itu kemudian diramu menjadi sebuah film yang SUNGGUH!!! sangat hidup. Bahkan mirip dengan sebuah film yang dibuat dengan sebuah narasi yang direncanakan. Padahal jelas, ini adalah film dokumenter yang semuanya tidak diseting dan tidak diatur oleh seorang sutradara sebelum film dibuat. Ia hanya menshoting berbagai kejadian dalam masyarakat lalu kemudian dirangkai menjadi sebuah film. Bagai saya si mahasiswa telah melakukan sebuah pekerjaan luar biasa. Ia masuk ke dalam sebuah masyarakat tanpa sebuah perencanaan film yang bagaimana akan dibuat nantinya. Ia mengaku hanya ada bayangan awal bahwa akan ada sebuah rekonstruksi rumah dalam masyarakat tersebut. Namun sedikitpun ia tidak membayangkan kalau hasilnya adalah seperti yang dia buat dalam sebuah film tersebut.

Bagi saya, meskipun ini adalah sebuah hasil antropologi visual, namun kalau saya pelajari dari “balik layarnya” ini adalah sebuah pelajaran mengenai antropologi. Ada beberapa catatan yang saya ambil dari cerita si mahasiswa dalam proses pembuatan dan pemutaran film ini. Pertama, ia adalah “orang asing” yang masuk ke dalam sebuah masyarakat. Saya yakin pasti ada cara-caranya masuk ke dalam masyarakat tersebut. Bagaimana ia menyampaikan maksudnya, bagaimana ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa ia akan membuat sebuah film. Bagaimana ia dengan rajin setaip hari datang ke sana, ke dalam kampung itu dan kemudian mendapatan engle yang luar biasa menarik sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah film. Bagaimana ia bisa mendapatkan masyarakat yang -dalam kamera- nampak tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Masyarakat dalam berbagai kesempatan tetap saja berjalan sebagaimana adanya, nampak seperti tidak dibuat-buat -dan memang saya yakin begitu adanya. Hanya beberapa sisi dari Pak Keuchik saja yang nampaknya diseting oleh sutradara. Namun kebanyakan dari aksi masyarakat berjalan sangat alamiah dan seperi umumnya yang ada dalam masyarakat.

Kedua, bagaimana dia bisa mendapatkan titik-titik yang menarik dalam masyarakat yang sedang berjalan, lalu ia menjadikan titik itu sebagai rangkaian cerita yang mengalir dan bersambung. Padahal apa yang ia lakukan adalah sebuah proses yang sangat lama dan terus berubah dalam amsyarakat. Namun nampak jelas kemudian bagaimana ia mampu menghubungkan titik yang ia peroleh tersebut menjadi sebuah rangakian cerita yang sangat menggugah. Saya lihat tidak ada masyarakat yang nampaknya keberatan dengan apa yang dilakukan sang sutradara terhadap mereka. Mereka tetap saja melakukan segala seuatu sebagaimana adanya, kebiasaan mereka sendiri di kampungnya.

Ketiga, bagaimana ia meutuskan untuk mengamil sebuah alur cerita yang kemudian menjadi sebuah film. Dari informasi si mahasiswa, ia memiliki 200 jam hasil shotuingan di lapangan. Dari 200 jam ini kemudian ia hanya mengambil 2 jam saja untuk sebuah film. Bagaimana caranya memilih? Bagaimana ia menentukan sesuatu yang perlu dan sesuatu yang tidak perlu dari datanya padahal ia sudah mendapatkan data tersebut? Bagaimana ia dengan “teganya” membuang data yang sudah diperoleh dengan suah-payah hanya untuk mempertahankan 2 jam film yang ia perlukan. Ini butuh kejelian dan kemampuan dalam memahami secara mendapam apa yang ada di lapangan dan apa yang kita butuhkan untuk penelitian.

Saya yakin apa yang dilakukan orang ini adalah sebuah usaha besar yang melelahkan dan sangat sulit untuk dibuat pada awalnya. Namun setelah ia menjadi film dan ditonton, sungguh ini adalah sebuah karya yang ajaib dan menentukan sebuah cerita yang sangat khas Aceh pada masa awal tsunami. Saya tahu ini sebab saya juga pernah menjadi petugas lapangan di Teunom. Apa yang ada dalam film ini adalah apa yang saya lihat di teunom dulu. Banyak orang yang marah-marah, yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Banyak orang yang tidak mengerti dengan program yang mereka ikut atau sok tidak mengerti. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang pada dasarnya tidak mungkin dan tidak perlu.

Saya sangat yakin sebagai sebuah karya antropologi, apa yang dilakukan oleh sutradara film ini juga sebuah pelajaran pada seorang antropolog atau seorang yang sedang melakukan penelitan sosial. Langkah yang ia jalankan oleh orang tersebut juga langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sosial yang lain. Apa yang kemudian dikaryakan sebagai hasil dari kerja lapangan yang panjang dalam masyarakat tersebut juga sebagai sebuah hasil yang seharusnya diperoleh oleh seorang yang sedang melakukan penelitian lapangan di desa.

Saya belajar bagaimana sebuah karya antropologi yang sifatnya etnografi memang terkadang jauh dari apa yang sebelumnya direncanakan oleh seorang peneliti. Apa yung diperoleh di lapangan sungguh sangat tidak terduga dan tidak dapat dipredisksi. Makanya diperlukan sebuah pencatatan yang mendatail dari apa yang ada di lapangan dan sedikit komentar yang sifatnya general. Ini akan sangat membantu seorang peneliti dalam membuat sebuah karya ilmiah setelah ia kembali ke kantornya di mana ia memulai menulis.