Tuesday, 23 February 2010

Menjadikan Artikel Akademik Layak Publish Internasional

Saya berfikir beberapa kali untuk judul tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan di atas mengena dengan isi yang akan saya bahas. Ini adalah sebuah pengalaman pribadi yang menurut saya dapat menjadi pelajaran juga bagi banyak orang. Satu waktu, pertengahan tahun lalu, saya jumpa dengan seorang peneliti senior dari Sumatera Utara. Beliau lulusan Australian National University dan sudah melakukan beberapa penelitian berkaitan dengan perkebunan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia. Sekarang ia menjadi team leader untuk penelitian perubahan iklim dan kemiskinan di Aceh. Orangnya biasa saja, penampilannya juga sederhana, tidak terlalu istimewa menurut saya.

Sebentar saja berkenalan dengannya langsung terasa akrab. Kami mulai banyak bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ternyata pengalaman penelitiannya bukan hanya di Indonesia, namun di mancanegara. Ia sudah menulis beberapa buku. Yang paling mengagumkan saya adalah, ia sudah menghasilkan 86 buah artikel ilmiah yang dipublikasikan di dalam jurnal dalam negeri dan luar negeri. Ia menunjukkan kepada saya jurnal dari Cina, Jepang, Malaysia, Australia, Amerika dan beberapa Jurnal ilmiah lainnya. Duh, ini adalah gambaran ideal saya di masa depan, saya membatin. Jujur, saya berharap dapat menjadi orang yang memberi kontribusi akademik bagi dunia internasional di satu masa. Apa yang saya pikirkan tentang hidup semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Saya mengatakan kalau saya akan belajar banyak dari beliau dan mulai berkonsultasi mengenai apa yang selama ini saya lakukan dan saya keluhkan di lapangan dalam penelitian yang saya lakukan. Dan, sebagai seorang senior, dan saya yakin ia memiliki apasitas itu, ia mulai memberikan beberapa saran untuk kebaikan penelitian saya. Peratama, saya mengeluhkan tetang rasionalisasi dalam menyususn sub-bab dalam sebuah artikel hasil penelitan ilmiah. Saya mendapatkan banyak data di lapangan, namun saya kesulitan menyusunnya menjadi sebuha artikel yang runtut dan logik. Ia menjelaskan kalau itu memang agak sulit bagi penelitian grounded yang tidak memiliki fokus yang kongkrit. Namun itu sedikit mudah bagi seorang peneliti yang sudah terlebih dahulu memiliki fokus dan menyusun sebuah rencana yang matang sebelum ke lapangan. Sebab ia hanya mencari data yang kemudian ia jadikan basis untuk apa yang ia sudah rancang. Memang kekurangan metode ini banyak, diantaranya kita berusaha “memperkosa data” memaksa data masuk ke dalam kerangka pikir yang sedang telah kita buat sebelumnya. Kalau penelitian etnografi yang sifatnya grounded, seperti yang sedang saya lakukan, maka yang diperlukan adalah mencari data sebanyaknya, lalu mengklasifikasikan data dan dari situ kemudian kita melahirkan sub bab. Sub bab inilah yang akan menyusun artikel kita. Perkuat dengan teori yang sudah ada sehingga ada hubungannya dengan dunia akademik yang lebih luas.

Kedua, saya mengeluhkan mengenai data lapangan yang terkadang tidak tahu harus dimasukkan ke mana. Ada bagian yang data lapangannya kuat, namun banyak pula yang tidak didukung oleh data lapangan yang ril dan kuat. Ini menjadikan tulisan terasa tidak mendalam dan tidak menjawab semua masalah yang sedang dibahas. Ia menyarankan saya memakai sebuah program komputer yang dapat meberikan masukan untuk merancang penlisan yang berbasis data. Ia memilikinya dan ia berjanji akan memberikan kepada saya masternya dan akan mengajarkan saya pemakaiannya. Mmmm... ini adalah rizki yang datang tiba-tiba. Dan saya berjanji akan belajar banyak dengan apa yang ia berikan.

Ia juga menjelaskan beberapa trik mencari dana penelitian. Katanya, Indonesia ini adalah ladang bagi penelitian. Dari sini lahir berbagai teori mengenai masyarakat dunia, terutama Asia dan negara berkembang. Teori itulah yang kemudian digunakan untuk pembangunan. Karena itu banyak lembaga yang mau dan bersedia memberikan banyak uang untuk melakukan penelitian di Indonesia, apa saja. “Yang penting kita memiliki pengalaman penelitian yang baik dan hasil karya kita akan dibaca. Makanya kalau peneltian itu ajngan main-main,” katanya. Sebab itu akan menjadi sebuah pencitraan diri kita. Orang akan melihat kita dari apa yang kita tulis. Mungkin kita tidak pandai ceramah, tidak bisa khutbah,, namun kalau kita bisa menulis dengan baik maka kita bisa tunjukkan apa yang telah kita tulis dan orang akan tahu apa yang kita sampaikan.

Yang paling menyenangkan ia menjelaskan mengani karakter tulisan akademik yang sangat disukai oleh jurnal-jurnal internasional, ringkas, padat dan tidak bertele. Sebuah paragraf itu hanya memuat satu atau dua ide. Kalimat berikutnya adalah supporting idea. Semua paragraf yang ada dalam sebuah sub bab adalah supporting terhadap mainidea yang ada dalam awal pargaraf sub bab itu. Dan semua sub bab adalah supporting idea dalam sebuah tulisan. Kompilasi dari ini semua kita sebuat dengan artikel akademik. Dan model inilah yang diterima oleh jurnal-jurnal Internasional. Lalu ia berharap (entah berdoa) semoga saya menjadi seorang penulis yang dapat mempublikasi karya di level Internasional. Amin.... kabulkanlah ya Allah.


Tulisan ini juga dimuat di Blog Pribadi saya: http://www.sehatihsan.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment