Thursday, 18 February 2010

Polisi Sebagai Pengyom Masyarakat?

Tahun lalu, saat satu malam saya pulang dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh, di mana saya melakukan penelitian, saya mendapat pengalaman baru berhubungan dengan Polisi. Di kecamatan Pintu Rime Gayo, tepatnya di perbatassan masuk ke Kabupaten Bireun, kami di stop oleh sepasukan Polisi. Seorang yang pendek dan gendut, berkumis, memakai sebo bertulisakan polisi menanyakan nama semua penumpang sambil mengarahkan senter ke muka mereka. Si Pendek menanyakan nama saya sambil mengarahkan senter ke muka saya. Saya menyebutkan nama dengan mengangkat lengan menutup mata yang silau karena senter. Namun si Pendek sepertinya kurang mendengar suara saya dan menanyakan kembali. Saya menyebutkan untuk keduakalinya tanpa mengangkat lengan karena senternya tidak lagi mengarah ke muka saya. si Pendek nampaknya maklum lalu menanyakan kepada penumpang lain dengan cara yang sama sampai selesai, dan kami diizinkan melanjutkan perjalnanan.

Menurut Sopir yang diminta turun dari mobil saat pemeriksaan, mereka sedang mencari tiga orang pembawa ganja. Malam sebelumnya mereka sudah menangkap dua orang. Sekarang tinggal satu orang lagi, perempuan. Namun mereka menanyakan semua karena tidak tertutup kemungkinan ada yang baru. Sopir bilang operasi begini memang sering dilakukan polisi untuk menangkap pembawa ganja. Namun sering juga sopir atau penumpang yang tidak bersalah menjadi korban. Sopir juga bisa menjadi korban kalau ada penumpang pemilik ganja turun tiba-tiba sebelum pemeriksaan setelah dapat informasi dari temannya dan ia meninggalkan barangnya di mobil. Pada kondisi seperti itu maka sopir menjadi penanggung jawab barang yang ada di dalam mobilnya. Sopir mobil yang saya tumpangi mengaku kalau ada temanya sesama sopir yang sudah menjadi korban kejadian seperti ini.

Menurut sopir, penumpang juga bisa mejadi korban. Kalau tidak hati-hati ia bisa dijebak oleh polisi. Saat memerikasa dompet penumpang, polisi memasukkan ganja ke dalamnya dompetnya lalu menuduh pemilik dompet membawa ganja. Karenanya, bang sopir menyarankan, kalau ada pemeriksaan polisi minta lihat dulu tangannya baru kemudian berikan dompet. Atau katakan tidak memakai dompet, tanyakan dia surat apa yang diperlukan, KTP? SIM? Atau surat apa. Itu saja berikan. Dompet tinggalkan di dalam tas.

Di Jeunieb, Bireun, kami dihentikan lagi oleh sekelompok orang yang memakai baju seragam seperti polisi dan bertuliskan POLISI di bagian dada kanannya. Mereka menggunakan senjata, sepatu, topi dan semua atribut kepolisian seperti yang sering kita lihat. Mereka ada lima orang, laki-laki semuanya. Kami dihentikan di jalan lempang yang agak sepi penduduk, hanya diterangi lampu jalan dari sebelah kanan. Saya terjaga saat seorang anggota komplotan yang nampak masih muda tersebut meminta sopir turun dari mobil dan mengeluarkan suart-surat kelengkapannya. Sopir turun dengan buru-buru dan setengah ketakutan sambil berusaha membuka pintu mobilnya yang sedikit macet. Si Polisi mengambil surat itu dan memeriksa ke bagian belakang mobil sampai ke sisi kiri yang agak gelap. Di sisi kiri persis di dekat saya duduk, pintu samping kiri. Saya mendengar anggota kelompok itu berkata: “berapa kamu kasih?” Sopir menjawab: “dua puluh pak”. Ia berkata lagi: “dua puluh ngak mau aku, seratus.” Saya mencoba mengerling ke tempat mereka melakukan transaksi. Sopir mengeluarkan sejumlah uang yang saya tidak tahu berapa, namun melihat itu anggota kelompok ini mengembalikan surat-surat mobil yang tadi dimintanya.

Sopir hendak masuk kembali ke mobil dari jalan depan saat seorang anggota yang nampak lebih senior, tegap dengan perut sedikit buncit, datang dari arah kanan menyeberang jalan menuju mobil. Ia berkata: “Periksa yang ini, yang ini. Apa sudah ada yang periksa?” Ia berpapasan dengan sopir yang hendak naik ke mobil. Sopir mengatakan: “Beres pak.” Namun nampaknya ia kurang mendengar apa yang dikatakan sopir. Ia membuntuti sopir sampai ke pintu mobil. Ia berkata dengan suara yang agak keras membentak: “Apa kau bilang barusan?” Sopir jawab: “Sudah beres Pak.” Ia berkata lagi dengan suara yang lebih tinggi: “Bukan, apa yang kau barusan bilang untuk aku?” Sopir mengulangi: “Sudah beres pak, sudah diperiksa sama anggota Bapak.” Ia nampak mengerti namun masih marah. Ia mengatakan: “Kau jangan macam-macam ya, awas kalau macam-majam sama aku.” Sopir menutup pintu mobil dan melanjutkan perjalanan.

Saat mobil mulai jalan sopir mulai berserapah, “kau makan itu uang haram, kau kasih untuk anak istri kau, mudah-mudahan jadi penyakit selama hidup dan jadi api neraka di akirat.” Dan tanpa saya minta sopir mulai bercerita: “Memang sering begini bang, mereka minta uang gila-gilaan. Masa dia minta cepek, apalagi yang awak dapat, haa? Repas lima ratus, isi minyak duaratus, kasih toke cepek limpul, kalau dia minta seratus kan tinggal limpul sama kita. Gimana mau kerja kalau gaji limpul. Kalau dua puluh dia minta masih wajar kalau memang kita salah. Tapi ini seratus, kan gila!” Aku lihat sopir bercerita penuh emosi. “Kalau begini ngak semnagat awak bekerja,” lanjutnya.

Ia mengakui kalau mobilnya ber-plat hitam (pribadi) dan BK (Sumatera Utara). Namun ia mengatakan itu tidak masalah. Tidak ada sweeping setelah konflik. Tidak ada razia malam hari kecuali di depan pos polisi, itupun sekedar pemeriksaan (saya tidak mengeti bagaimana membedakan razia dengan pemeriksaan). Ia juga mengatakan, kalau memang kita salah karena mengangkut sewa dengan plat hitam, kita masih punya alasan. Bukan kami angkut sewa, ini mobil pribadi tapi disewa oleh beberapa orang dan meminta diantar ke tempatnya yang berbeda. “Kan benar begitu bang?” Ia meminta persetujuan saya. Saya terpaksa menjawab “iya” meskipun belum tentu sepakat dengan apa yang ia jelaskan. Ia mengatakan kalau itu memang polisi liar yang sedang mencari uang. Pura-pura saja mengamankan lalu-lintas, padahal mereka mau cari uang untuk diri sendiri.

Kami berhenti di sebuah rumah makan setengah jam berjalan. Setelah makan minum dan hendak melanjutkan perjalanan, ia menelpon temannya yang berangkat dari arah Banda Aceh menuju Takengon menanyakan apakah ada sweeping di jalan. Temannya menjawab tidak. Ia menceritakan tentang kejadian di Jeunib dan mengatakan kalau ia terpaksa memberikan uang. Temannya tanya berapa ia berikan dan ia menatakan Rp. 50 ribu.

Aslinya, tulisan ini ada di: www.sehatihsan.blogspot.com

No comments:

Post a Comment