Wednesday, 17 February 2010

Beasiswa dan Momok Bahasa Inggris

Seorang teman saya, dosen di salah satu perguruan tinggi di Aceh, mengeluh panjang. Intinya ia merasa jengkel dan marah pada beberapa lembaga yang menyediakan beasiswa untuk akademisi dari Aceh dengan persyaratan yang, menurutnya, “aneh”. Persyarakat dimaksud adalah kemampuan Bahasa Inggris dengan alat ukur TOEFL atau IELTS hingga mencapai nilai tertentu. Bahkan itu menjadi alat ukut pertama yang sangat menentukan untuk proses seleksi berikutnya. Tanpa penguasaan Bahasa Inggris yang sesuai dengan persyaratan tersebut, katanya, mundur saja, tidak usah mendaftar. “Kalau bahasa Inggrismu jelek, maka jeleklah semua “amalanmu” yang lain. Dan kalau Bahasa Inggrismu bagus, maka keburukanmu yang lain akan dapat diperbaiki,” demikian katanya.

Tentu, sebagai teman sesama akademisi dan teman senasib, yaitu sama-sama tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, saya ikut sedih mendengarkan keluhannya. Apalagi saya tahu “siapa dia” dan bagaimana ia menjadi seseorang yang memiliki dedikasi yang kuat untuk belajar dan mengajarkannya kepada orang lain. Saya tahu apa yang ia lakukan untuk mengembangan ilmu pengetahuan dan apa yang ia kerjakan untuk menyebarkan ilmu tersebut kapada masyarakat. Saya juga tahu apa yang telah dilakukannya untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih baik. Beberapa masyarakat yang pernah berhubungan dengannya jelas menunjukkan keakraban dan terima kasih mereka atas apa yang ia telah lakukan.

Sayangnya ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dengan mendapatkan beasiswa karena kendala Bahasa Inggris. Padahal dari sisi penguasaan pengetahuan teoritis dalam bidangnya, dan kemampuan dalam metodologis dalam ilmu pengetahuan saya angkat tangan menghormatinya. Dari pengalamannya yang banyak, kerajinannya dalam menulis, partisipasinya dalam berbagai bidang akademik, mengharuskan saya selalu bertanya dalan belajar kepadanya. Hanya satu yang ia tidak bisa, yakni menguasai Bahasa Inggris dengan baik untuk memenuhi persyaratan donor tertentu.

Saya semakin sedih tatkala saya mengetahui teman lain yang jago bahasa Inggris, karena ia memang sarjana Bahasa Inggris, mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Padahal saya tahu pasti teman ini adalah “mahasiswa yang baik” saat ia kuliah. Ia bukanlah orang yang mau berorganisasi, ia tidak terlibat dalam masyarakat, ia bukanlah penulis dan peneliti. Satu-satunya penelitian yang pernah ia lakukan adalah skripsinya sendiri. Ia bukan pula seorang fasilitor yang mampu menunjukkan kepada masyarakat tentang berartinya pengetahuan mereka yang terpendam. Tapi ia dapat beasiswa karena kemampuannya dalam bahasa Inggris plus bimbingan seniornya ketika mengisi form beasiswa. Uniknya, ia mendapatkan beasiswa untuk jurusan Islamic Studies, lahan yang selama ini jauh dari konsen keilmuannya.

Andai saja, mereka yang memberikan beasiswa tidak hanya memfokuskan penilaian pada kemampuan bahasa Inggris, tapi melihat potensi seseorang untuk berkembang, sekarang dan di masa depan. Andai lembaga donor beasiswa juga meyediakan beasiswa untuk belajar bahasa Inggris kepada mereka yang memiliki potensi besar dalam bidang bukan bahasa Inggris. Andai kalau mau membantu tidak menakut-nakuti orang dengan skor TOFL dan IELTS yang mencekik leher. Mungkin akan banyak orang Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri tanpa takut dengan kendala bahasa. Bekali mereka dengan sedikit beasiswa untuk menguasai bahasa, itu jauh lebih adil dibandingkan dengan menjadikan bahasa sebagai alat ukur pertama untuk kemampuan lain yang dikuasainya. Sebab kesibukan, aktifitas sosial dan akademik yang ia lakukan bisa saja menjadikannya luput untuk belajar Bahasa Inggris yang memang bukan bahasa ibunya.

“Kamu bagaimana?” tanya temanku pada suatu hari setelah di mengupat, menghujat, mengungkapkan kekesalannya pada program beasiswa yang tidak meluluskannya karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang jelek. Saya jawab: “Semua yang kau ungkapkan adalah ungkapanku.”


No comments:

Post a Comment