Thursday, 11 February 2010

Lut Kucak: Danau Yang Terlupakan

Pertengahan tahun 2009 yang lalu, dalam sebuah kunjungan lapangan untuk penelitian saya di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saya mengunjungi sebuah danau yang masyarakat di sana menyebutnya dengan Lut Kucak. Danau ini berada di puncak gunung sebelah Utara Bener Meriah. Lut berarti laut atau danau. Orang Gayo menyebutkan Lut Tawar untuk Danau Laut Tawar yang ada di Takengon. Dan danau ini mereka sebut dengan Lut Kucak. Saya tidak tahu apa arti Kucak.
Untuk mencapai Lut Kucak kami harus naik sepeda motor khusus yang telah dimodifikasi. Dari Simpang Tiga, ibu kota Bener Meriah, hanya menempuh jalan lebih kuran 5 km. setelah itu kami menempuh sebuah jalan made in rakyat yang kecil, menanjak dan terus menanjak. Di sisi kanan jalan adalah gunung yang nampak mejulang. Sementara di sisi kiri adalah perkebunan rakyat yang menanam berbagai macam komoditas perrtanian, seperti kol, wortel, kentang dan lainnya. Saya heran juga bagaimana mereka bertani di lereng itu, bagaimana mereka mengangkut hasil panen, bagaimana mereka bekerja di lereng yang sangat terjal. Namun ini adalah nyata, kenyataan yang tak terbantahkan. Perkebunan rakyat menghiasi semua lereng gunung menunju Lut.
Dalam perjalanan itu kami mengalami musibah. Ban belakang sepeda motor kami bocor sebelum sampai ke Lut. Kami jadi ragu apakah akan melanjutkan atau tidak. Sebab menurut Fakhruddin, posisi kami masih setengah dari jalan menuju Lut. Setelah melalui beberapa pertimbagan, antara lain pasti ini kesemptan langka bisa menuju ke sana, maka kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Namun kami terpaksa berjalan kaki untuk menapai tujuan itu. Sepeda motor kami tinggalkan di pinggir jalan.

Perjalanan mencapai Lut ternyata masih sangat jauh. Apalagi jalan menanjak dan sangat terjal. Saya meminta berhenti berkali-kali untuk menarik nafas dan istirahat. Sekali, karena sangat capek kami berbaring di jalan yang agak rindang. Fakhruddin mengambil daun pisang hutan (Aceh: pisang bue) sebagai alas tidur. Ia mengatakan kalau daun pisang itu punya nilai mistik tersendiri. Saya diam saja dan mencoba menikmati. Ternyata ia benar, daun pisang itu terasa sangat tebal. Padahal saya tidur di atas bebatuan kecil yang tidak rata, namun dengan daun pisang itu, semua terasa berbeda. Runcingan batu yang ada justru terasa datar dan lembut. Saya merentangkan tangan dan kaki. Melepaskan segala penat. Melemaskan semua organ. Mengangkat sedikit baju sampai ke dada agar udara segar masuk ke kulit. Hasilnya sungguh ajaib. Sebuah kesegaran baru meresap dalam tubuh. Namun saya sudah sangat haus. Saya mengandalkan jurus pasrah dan berdoa dalam hati semoga ada bantuan tak-terduga yang dikirimkan Allah untuk kami yang sedang menderita ini.

Kami berdua melanjutkan perjalanan ke puncak yang memang tidak terlalu jauh lagi. Namun saya berhenti dua kali lagi. Duduk sebentar melepaskan lelah lalu jalan lagi. Dan, dalam di ujung perjalanan, hawa segar mulai terasa. Ada udara dingin yang meiup. Saya bayangkan itu adalah udara dari lut yang ada di balik gunung ini. Saya membayangkan lut yang luas dan hijau yangm membentang lebar membentuk kolam besar. Di atasnya berlayar beberapa nelayan dengan pancing di tanggannya. Atau di sekitarnya banyak pemanjing yang berjejer yang mencoba mengadu nasip ada kebutuhan ikan akan makanan.

Saat teman saya mengatakan: ini danaunya, saya sempat terkejut dan sedikit kecewa. Saya mendapatkan danau ini bukan seperti danau yang saya bayangkan, namun lebih seperti rawa-rawa di sawah. Memang letaknya dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi dan hutan belantara yang masih hijau. Bahkan di bagian Baratnya adalah gunung merapi yang masih diam namun punya potensi batuk-batuk mengeluarkan isinya. Namun ini memang agak sulit dikatakan sebagai sebuah danau. Pada masa lalu mungkin saja, namun sekarang ini adalah sebuah kubangan besar yang keruh coklat dikelilingi oleh lembah yang ditumbuhi rumput. Beberapa orang memancing di pinggirnya.

Di puncak gunung yang menghadap ke sana ada perkebunan masyarakat. Seperti banyak daerah di lereng gunung dalam perjalanan ke sana, perkebunan ini sangat jauh dari dataran. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka dapat membawa turun hasil penennya. Oke, jika itu hanya sata atau dua kilogram. Namun dengan luas lahan yang –saya perkirakan- setengah hektar ini, mungkin akan menghasilakan puluhan kilogram sayuran. Bagaimana mungkin mereka mengangkut ke bawah? Etahlah. Terkadang kebutuhan akan uang dapat menciptakan berbagai keanehan dalam kehidupan yang sulit dipahami.
Sayangnya pembukaan lahan untuk perkembunan ini mengorbankan banyak pepohonan.

Puncak gunung ini sudah gundul, sudah tidak berpohon lagi. Hanya ada beberapa bagin yang masih dipenuhi pepohonan dan ditutupi hutan lebat. Namun itu juga nampaknya hanya menunggu waktu untuk dikorbankan. Tidak lama lagi, saya yakin, semuanya juga akan gundul. Betapa sayangnya mereka, hanya kaena kepentingan ekonomi sesaat, hutan ditebang dan malapetaka mengancam banyak orang yang berada di lereng sana. Ada banyak perkampungan di bawah sana yang terancam dengan berbagai tindakan tidak sadar dari sebagain anggota masyarakat.

Beberapa orang memancing di pinggiran danau. Saya tidak tahu apakah di sini ada ikan khasnya atau tidak. Namun mereka nampak tetap bersemangat memancing di bawah teriknya matahari siang. Menurut teman saya ikan di sini ikan kecil-kecil. Sedikit lebih besar dari ikan depik yang khas di danau laut tawar. Saya tidak tahu bentuknya dan bagimana rasanya. Saya juga tidak melihat ada orang yang mendapatkan ikan atau membawa pulang hasil pancingannya.

Air danau keruh terlihat keruh dan tidak segar. Mungkin dedaunan pohon yang jatuh kesana menjadikan airnya kotor, coklat kehitam-hitaman. Saat berjalan di pinggirnya terasa seperti berada di atas pelampung. Menurut teman saya di bawah tanah yang kami injak ada air danau. Tanah itu menutupi bagian atas danau saja, sementara di abgian bawahnya tetap masih ada air. Dan air itulah yang mengalir ke sungai-sungai masyarakat yang ada di perkampunagn di bawahnya. Sehingga jika terus digunduli hutan di sekitarnya, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi longsor dan air yang ada di danau ini tumpah ke perkampungan.

Banyak pohon besar di samping danau. Bahkan kami makan di bawah sebuah pohon besar yang nampak tidak pernah disinggahi manusia. Di bawahnya terasa sangat dingin dan nyaman. Dari pohon yang kami singgahi nampak kalau danau Lut Kucak ini semakin mengecil. Dulu, kata teman saya, saat ia masih kecil, danau ini terasa lebih lebar. Dengan turunnya tanah di badan gunung yang telah digunduli, danau sedikit demi sedikit semakin tertutup dan mengecil. Bahkan tidak tertutup kemungkinan danau ini akan tertutup dengan tanah di bgian atasnya dan menghilang dari pandangan mata.
Andai pemerintah Bener Meriah peduli dengan kondisi danau ini, saya yakin ia akan menjadi objek wisata yang menarik. Dari puncak gunung di mana danau itu berada kita bisa saksikan pemendangan luas kabupaten Bener Meriah dan puncak gunung merapi di bagian Baratnya. Di sekitar danau juga ada sumber air panas yang bisa dijadikan obejk wisaya tambahan. Apalagi di sana juga ada kuburan Belanda yang bisa menjadi objek wisata sejarah. Danau Laut Kucak bisa menjadi sebuah paket wisata yang menarik. Hanya perlu pengelolaan dan pembuatan jalan yang lebih baik untuk menuju ke sana.

No comments:

Post a Comment