Saturday, 27 February 2010

Catatan Lapangan Antropolog

Guru Antropologi Saya di UGM Jogja menasehati saya satu hal: Catatlah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan." Ia mengatakan ini saat kami hendak berangkat menuju lapangan untuk sebuah training penelitian. Semula, saya tidak sepenuhnya mengerti kenapa ini perlu dilakukan. Sebab tidak semua apa yang kita lihat di lapangan itu perlu. Lagi pula untuk sebuah studi yang telah dipilih topik dan masalahnya rasanya tidak mesti harus bersusah-susah menulis hal lain yang secara langsung memang kita tidak butuhkan untuk penelitian yang sedang dilakukan. Namun sebagai murid, saya lakukan saja apa yang ia minta sambil tetap memendam pertanyaan itu dalam hati dan berniat akan menanyakan padanya kalau ada waktu yang tepat.

Dua minggu setelah itu, waktu itu tiba. Saya menumpang mobilnya saat pulang dari lapangan ke kampus. Saya duduk persis di belakangnya. Saya ajukan pertanyaan yang sudah dua minggu saya pendam. Kenapa harus mencatat semua yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan saat berada di lapangan. Ia mengatakan kalau itu memang dibutuhkan. Saya menimpali, dari catatan yang saya bikin jelas terlihat kalau ada bagian yang tidak perlu dalam penelitian saya. Saya menulis tentang selametan, lalu apa hubungannya dengan pembangkit listrik tenaga air di dusun lokasi penelitian saya? Ia mengatakan, itu mungkin memang tidak bermanfaat padamu kali ini. Namun saat kamu menulis tema lain, misalnya pengembangan wilayah, informasi ini akan menjadi catatan berharga. Lagi pula, siapa yang mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga air di dusun itu sepuluh tahun mendatang? Catatanmu akan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Ia akan menjelaskan kepadamu bagaimana kamu saat berada di sana pada tahun ini.

Saat ini, saya akui, ada banyak hal yang saya alami, saya saksikan, saya rasa, saya dapatkan bukti, lima tahun lalu. Namun hari ini saya tidak dapat berbuat banyak karena tidak ada catatan sama sekali. Mungkin saya ingat peristiwanya, namun saya tidak ingat detailnya. Mungkin saya ingat konteksnya, namun saya lupa kontennya. Padahal, lima tahun lalu, saat bekerja sebagai relawan tsunami, bekerja dengan Palang Merah Inggris, menjadi trainer dan lainnya, saya mendapatkan banyak "data" yang sangat penting. Tapi kini itu telah hilang seiring dengan perkembangan zaman. Peristiwa itu kini menjadi kisah yang kadang saya ceritakan dengan sedikit bumbu romantis. Saya benar-benar melupakan apa yang sudah saya dapatkan.

Kembali kepada Guru saya dari UGM. Ia mengatakan masih memiliki catatan lapangan mengani Kabupaten Pekalongan sejak 20 tahun yang lalu. Hampir setiap bulan dia menghabiskan satu buku untuk mencatat data-data yang diperlukan. Hingga saat ini, ia telah mengoleksi lebih dua ratus buku catatan lapangan. Catatan-catatan itu amat membantunya dalam menulis artikel. Beberapa artikel publikasi internasionalnya dibuat berdasarkan catatan lapangan tersebut. "Kalau untuk artikel jurnal kampus, tinggal ambil satu buku secara acak, sudah bisa membuat satu artikel" katanya. Catatan-catatan itu benar-benar mereka dengan detai apa yang terjadi di Pekalongan 20 tahun yang lalu.

Saya tahu ini sesuatu yang berat, meskipun saya juga tahu ini sesuatu yang perting. Hanya sebuah usaha sungguh-sungguh yang dapat meweujudkan ini semua. Keseriusan, kejelian, kewaspadaan akan membantu kita mendapatkan hal-hal sederhana yang bercerita. Dan ini semua, pada saatnya nanti akan menjadi saksi tidak terbantahkan tentang sebuah periode sejarah yang pernah berlangsung dan bagaimana kita memahaminya.

Jadi, catatlah apa yang ada di sekitarmu, suatu saat ia akan menjelaskan padamu siapa dirimu sebenarnya.


Tulisan ini saya muat juga di: www.sehatihsan.blogspot.com

No comments:

Post a Comment