Friday, 26 February 2010

Maulid di Aceh

Dulu, saat masih kecil, satu hari saya meminta kakek menyembelih seekor ayam. Sudah lama rasanya tidak merasakan masakan ayam yang lezat. Sebagai cucu laki-laki yang paling rajin pergi sekolah, saya memang mendapatkan hak istimewa untuk urusan minta-meminta ini. Kakekpun memberi hak memilih langsung ayam di dalam kandangnya. Hanya ada satu pesan: “Nyan bek kacok yang agam mirah, manok molod” artinya kira-kira: Jangan ambil ayam jantan yang merah, itu dipersiapkan untuk maulid.

Aceh seperti halnya daerah lain di Indonesia memiliki tradisi melaksanakan maulid yang khas. Pada hari pertama, seperti hari ini, tradisi maulid belum nampak. Acara-acara maulid yang telah membudaya baru dimulai pertengahan bulan ini dan dua bulan kemudian. Hampir semua kampung di Aceh melaksanakannya. Pun demikian, setiap daerah di Aceh memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dengan daerah yang lain. Bahkan terkadang antara satu kampung dengan kampung lain juga memiliki cara yang berbeda merayakan maulid.

Kembali ke persoalan ayam tadi. Hampir semua keluarga di kampung-kampung mempersiapkan ayam khusus buat merayakan maulid. Sejak setelah lebaran puasa, beberapa ekor ayam jantan mulai diberikan pakan khusus agar tumbuh besar dan dagingnya padat. Di kapung-kampung, masyarakat tidak suka memakan ayam potong. Katanya, ayam potong kotor dan dagingnya hambar. Karenanya ayam kampung dipelihara secara khusus untuk kebutuhan maulid. Apa yang terjadi? Saat perayaan maulid dilakukan, sajian berupa ayam menjadi sajian umum. Segala jenis masakan ayam ada, tinggal pilih.

Perayaan maulid sendiri dilakukan di masjid. Di kampung saya, Aceh Selatan, memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan Aceh Besar dan Banda Aceh. Di sana, kami merayakan maulid sejak sore hari setelah Ashar sampai malam hari setelah Isya. Sore hari maulid dilakukan dengan membaca dalae (zikir maulid) oleh kelompok zikir dari kampung tetangga yang khusus diundang. Biasanya kami mengundang empat kampung terdekat dengand kampung kami. Setelah mereka membacakan zikirnya, mereka akan dihidangkan makanan yang telah disipakan.

Acara untuk masyarakat kampung kami sendiri dilakukan pada malam hari. Setelah Isya maulid mulai dimulai. Semua laki-laki di kampung, anak-anak sampai orang dewasa berdiri berjejer membentuk shaf melingkar dan berlapis. Di salah satu sisinya beberapa teungku (ulama) berdiri memegang kitab dalae yang akan dibacakan. Kitab tersebut dibaca dengan berirama khas syair. Setiap syair dibacakan, jamaah mengulangnya kembali. Banyak syair dibacakan dalam bahasa Aceh. Jamaah mengulang syair ini disertai dengan gerakan-gerakan tertentu. Kadang membungkuk ke depan-belakang, kiri kanan, menggeleng kepala, bahkan meloncat-loncat dalam barisan sambil mengelilingi seluruh bagian Masjid. Bagian ini biasanya dilakukan pada sesi terakhir dari zikir maulid. Sebab banyak orang yang kemudian pingsan karena kelelahan. Tapi masyarakat menyebut dengan: katroeh, atau sudah sampai. Maksudnya, dari zikir yang dilakukan, ia sudah sampai kepada Tuhan, fana dalam bahasa Sufi.

Hari ini proses itu sudah mulai dibicarakan. Saya yakin awal bulan depan berbagai kampung di Aceh mulai melakukan kauri molod. Hidangan-hidangan besar akan nampak di setiap masjid kampung. Undangan-undangan makan akan datang setiap minggu. “Perbaikan gizi” begitu kami istilahkan ketika masih kosan sebagai mahasiswa. Bahkan, untuk besok saya sudah mengantongi dua undangan. Ada yang mau ikut?

Saya yakin sekali, ini adalah cara masyarakat mengingat Nabi mereka. Pasti mereka melakukannya karena cinta. Rasio-rasio kadang sulit memahami kenapa mereka menghabiskan uang besar untuk “pesta” sesaat. Namun cinta terkadang memang gila. Apalagi cinta pada Rasulullah. Saya mengucapkan Selamat hari maulid Nabi Muhammad Saw. Jadikan pesan universalnya sebagai teladan dalam meniti hidup di dunia.



No comments:

Post a Comment