Monday, 1 February 2010

Seorang Bapak di Dalam Pesawat Terbang

Kemarin, dalam perjalan saya dari Jakarta ke Medan dengan Lion Air, saya duduk tidak jauh dari seorang bapak paruh baya. Saya duduk agak di belakang di seat sebelah kanan dalam. Dari tempat duduk saya jelas nampak si bapak, perilaku dan tindak-tanduknya selama penerbangan. Si Bapak itu nampak rapi dengan jas coklat dan sepatu hitamnya yang mengkilat. Dalam saku kemeja yang ia kenakan tersangkut sebuah pulpen berwarna emas yang memantulkan cahaya lampu dalam pesawat. Dari penampilannya, saya sangat yakin dengan pasti ini bukan pengalaman pertama si Bapak melakukan perjalanan dengan pesawat. Namun dari beberapa tingkahnya, saya ingin belajar untuk ketertiban hidup yang singkat ini.

Saya masuk lebih dahulu dalam pesawat saat kami berangkat dari Jakarta. Saya telah duduk di kursi ketika si Bapak datang sambil menelpon entah siapa. Ia datang dengan sebuah koper besar yang akan dimasukkan ke dalam kabin pesawat. Sesampai di dekat saya ia memperlihatkan tiketnya kepada seorang laki-laki muda yang dipanggilnya Zul. “Coba lihat di mana saya duduk,” katanya. Kumisnya yang terpangkas rapi ternyata tidak menjamin ia mampu melihat tiket sendiri untuk memastikan tempat duduknya. Setelah Zul menunjukkan tempat duduknya, ia meminta Zul mengangkat koper besar itu untuk dimasukkan dalam kabin pesawat. Zul menurut saja. Ia mengangkat koper dan berusaha memasukkan ke dalam kabin. Sayangnya kabin di sekitar ia duduk telah penuh. Ia harus mengatur kembali barang kabin penumpang lain baru kemudian memaksa koper besar itu masuk ke dalam kabin pesawat. Itu semua dilakuan oleh Zul. Si Bapak telah duduk dengan manis sambil membersihkan kacamatanya.

Sesaat sebelum berangkat pramugari memperagakan cara memakai pakaian untuk keselamatan penerbangan. Pramugari yang cantik, berkulit putih, dengan rok yang terbelah sapai ke paha berdiri tidak jauh di depan si Bapak. Si Bapak memperhatikan dengan antusias peragaan itu, dari pertama hingga si pramugari selesai dengan atraksinya. Ini memang sudah seharusnya agar dalam kondisi darurat di udara kita bisa selamat dan bisa sampai ke tujuan dengan selamat pula. Namun si Bapak harus sedikit ditegur oleh pramugasi karena tidak mengindahkan aba-aba untuk menegakkan sandaran kursi sebelum pesawat lepaslandas. Sejak duduk ia sudah menurunkan sandaran kursinya hingga orang yang duduk di belakang sulit masuk ke kursi bagian dalam.

Saat pesawat sudah mulai terbang si Bapak beberapa kali berbicara dengan pramugari. Pertama ia menanyakan di mana kamar kecil. Pramugari mengatakan ada satu kamar kecil di bagian depan dan dua di bagian belakang. Setelah si pramugari lewat, si Bapak tetap duduk dan tidak beranjak ke kamar kecil. Kedua ia menanyakan apakah pesawat yang ditumpanginya berhenti di Medan atau langsung ke Banda Aceh. Pramugari mengatakan pesawat akan transit di Medan dan penumpang yang akan ke Banda Aceh harus naik pesawat lain. Ketiga, si Bapak melihat-lihat produk yang ditawarkan pramugari saat sesi penjualan produk Lion Air. Ia melihat-lihat sebuah topi, mencobanya, menanyakan harga, namun tidak jadi membeli. Mungkin terlalau mahal. Beberapa kali yang lain saya tidak tahu ia berbicara apa lagi. Saya tertidur.

Sesaat kami akan mendarat di Polonia, si Bapak tertidur pulas dengan sandaran yang direbahkan maksimal. Ia tidak mendengar intuksi untuk menegakkan sandaran kursi karena pesawat akan mendarat. Seorang pramugari membangunkannya dengan menepuk pundaknya beberapa kali. Lalu membantu si Bapak menegakkan sandaran kursinya. Saat baru mendarat di Bandara Polonia Medan, si Bapak langsung menelpon Istrinya untuk mengatakan kalau ia transit sebentar di Polonia sebelum melanjutkan ke Banda Aceh ketika pesawat sedang berjalan ke tempat parkirnya. Ia berdiri sebelum pesawat benar-benar berhenti dan mencoba membuka kabin di mana tadi diletakkan kopernya. Ia memanggi Zul untuk mengambil koper tersebut. Zul bangun dengan tergesa dan membantu si Bapak mengambil kopernya. Setelah ia mendapatkan koper, ia mulai bergerak ke depan saat orang-orang mulai berdiri karena pesawat sudah berhenti. Ia berada persis di dekat pintu di muka bangku terdepan, siap turun dari pintu depan. Sebuah suara dari pramugari terdengar: “Bapak dan Ibu kami persilahkan anda turun dari pintu belakang.”

1 comment:

  1. Profil penumpang angkuh yang tepat sekali! "Kumisnya yang terpangkas rapi ternyata tidak menjamin ia mampu melihat tiket sendiri untuk memastikan tempat duduknya." hahahahahhahahahahahahahah! Salut!

    ReplyDelete