Monday, 22 February 2010

Asap Rokok Bapak Dokter

Seorang dokter paruh baya, tetangga saya beberapa tahun yang lalu mengadakan syukuran di rumahnya. Salah seorang putranya lulus menjadi sarjana teknik arsitektur di sebuah universtas di Jerman dan akan segera melanjutkan S2, juga di Jerman. Sebagai tetangga, saya dengan seorang teman datang lebih cepat dari undangan lain untuk bantu-bantu mempersiapkan segala sesuatu buat acara syukuran yang akan diadakan setelah shalat Isya. Saat pertama datang saya dipersilahkan duduk di runag tamu. Di meja atas meja tamunya yang cantik terletak sebuah asbak keramik berbentuk binatang yang punggungnya berlobang. Di sanalah abu rokok dimasukkan. Sebatang rokok yang tidak habis dihisap diletakkan di pinggir asbak, pada sebuah lobang kecil yang dibuat pas untuk sebatang rokok.

Ia memang perokok, demikian juga teman saya yang datang bersama. Namunn saat saya datang keduanya sedang tidak merokok. Karenanya kepulan asap rokok juga tidak mengganggu. Sayangnya, tumpukan abu rokok di dalam asbak cantik di meja ukir yang cantik itu menimbulkan aroma rokok yang tidak kalah pahit menusuk hidung dibandingkan dengan asap rokok biasa. Apalagi beberapa puting rokok yang sudah lama bersemayam dalam asbak tersebut, menjadikan asbak sebagai sebuah sumber aroma rokok yang menusuk sampai ke jantung.

Dokter kok perokok, batin saya. Dokter adalah mereka yang berkerja untuk menyembuhkan orang sakit, termasuk menasehati mereka untuk menghindari perilaku tertentu agar tidak sakit. Antara lain menghindari rokok. Namun di rumah dokter pula sebuah asbak rokok mengeluarkan aroma yang jauh lebih panjang dari aroma sebatang rokok. Asbak yang penuh dengan asap dan puting rokok yang lembab menyebabkan aromanya keluar sepanjang waktu. Aroma ini lama-kelamaan juga menempel di gorden, gantungan baju, bahkan di dinding. Inilah yang kemudian masuk dalam paru-paru orang yang ada di sana, termasuk sang dokter dan keluarganya.

Saya yakin ia tahu merokok berbahaya, dan itu pula yang dinasehatinya pada orang lain. Namun kenapa ia tetap merokok dan menjadikan rokok sebagai bagian dari hidupnya? Jawabnya, ia tidak memiliki integritas.
Integritas!

Kalau kita menelusuri dari asal katanya, integritas berasal dari bahasa Latin “integrate” yang artinya sempurna. Seorang yang sempurna adalah orang yang memiliki completeness, wholeness, unified, dan entirety, dan kata lain yang merujuk pada keutuhan seseorang. Integritas seseorang akan terpancar pada semua perbuatan dan pemikirannya. Ciri utama orang yang memiliki integritas adalah kesamaan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Ia menjadi contoh tepat atas apa yang dia katakan. Seorang dokter yang menasehati pasien akan bahaya rokok, si dokter sendiri bukanlah perokok. Seorang guru yang menasehati anak-anaknya untuk rajin belajar, dia sendiri adalah orang yang banyak membaca. Seorang politisi yang mengatakan akan manjadi orang yang menyuarakan kepentingan rakyat, dia sendiri adalah orang yang sederhana dan jujur, bukan mengambil kesempatan saat menjadi wakil rakyat dengan memperkaya diri. Demikian halnya dengan seorang ulama yang mengajak umat untuk kebajikan, ia sendiri adalah teladan untuk ajakan yang dia suarakan.

Inilah yang sulit kita peroleh saat ini. Kebanyakannya, orang hanya bisa menyuarakan namun ia sendiri bukan contoh yang tepat untuk kata yang diucapkannya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, melihat tingkah dan pekerjaanya, ia justru orang yang sama sekali ikut dan menjadi bagian dari apa yang ditentangnya. Kasus yang paling mudah terlihat dalam perilaku banyak pejabat kita di Indonesia; baik pejabat karir maupun politisi. Sebelum menjadi pejabat atau di atas panggung ia adalah orang yang kamil, sempurna, seolah tidak ada cacat apapun. Namun kalau kita lihat ke belakang, pekerjaan, keluarga, aktifitasnya, ia adalah pemimpin bagi perbuatan yang selalu dikutuknya dari atas mimbar.

Saya jadi teringat sebuah pepatah yang sangat dikenal dalam masyarakat Aceh, namun tidak diamalkan. “Tajak bak laku linggang, meupinggang bak laku ija, tangui balaku tuboeh, tapajoeh balaku yang na,” yang artinya mengajak kita untuk jujur pada kenyataan kita sendiri dengan melakukan apa yang sesuai dengan kemampuan. Kalau tidak demikian maka yang terjadi adalah omong kosong yang sama sekali tidak adakan menjadikan negeri dan kehidupan ini menjadi lebih baik. Jadikan diri kita adalah wujud nyata dari kata-kata dan ucapan kita sendiri.




No comments:

Post a Comment