Saturday, 29 May 2010

Bioskop di Banda Aceh: Sejarah Esek-Esek

Mungkin satu-satunya kota provinsi yang tidak ada bioskop hanyalah Banda Aceh. Saya tidak terlalu yakin dengan kesimpulan ini, namun dari sedikit kota yang saya kunjungi, nampaknya di daerah lain di Indonesia bioskop bukan hanya di kota provinsi, namun juga banyak terdapat di kota-kota kabupaten. Bahkan beberapa kecamatan yang agak besar juga memiliki bioskop sendiri. Meskipun dengan banyaknya media yang bisa dipakai untuk menonton film belakangan ini, namun citra bioskop sebagai tempat menonton film sesungguhnya masih sangat terasa dalam masyarakat. Jadinya, sebuah film akan terasa berbeda rasa dan kesannya jika ditonton di rumah dengan di bioskop.

Namun demikian di Banda Aceh, sampai saat ini tidak ada sebuah bioskop yang menayangkan film secara terjadwal dengan tetap seperti di kebanyakan kota lain. Bagi sebagian orang hal ini mungkin tidak bermasalah. Sebab tanpa bioskop masyarakat tetap bisa mendapatkan hiburan berupa film melalui media yang lain, seperti VCD Palyer, TV, Internet dan bahkan di handphone dengan fasilitas tertentu. Jadi sebenarnya tanpa bioskoppun masyarakat tetap mendapatkan kepuasan tontonan melalui media-media tersebut. Namun bagi sebagian orang kepuasan dalam menonton hanya diperoleh jika ia menonoton di pada layar lebar dan dengan suara besar-besar. Oleh sebab itu media-media pemutar film yang ada selama ini sangat tidak memadai. Selain suaranya kecil dan sulit didengar, juga gambar yang ditampilkannya tidak sedramatis dalam bioskop.

Sebelum Tsunami

Sebenarnya Banda Aceh bukan sama sekali tidak pernah memiliki bioskop. Dulu, tahun 2000-an dan sebelumnya, ada beberapa bioskop yang beroperasi di Banda Aceh. Antara lain Sinar Indah Bioskop (SIB) di Penayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Center. Namun semua bioskop itu sekarang sudah mati dan sama sekali tidak ada aktifitas pemutaran film lagi. Bahkan gedung bioskop itu sendiri sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kepentingan yang lain.

Pun demikian, bioskop-bioskop tersebut di atas, dalam sejarahnya tidak semuanya menayangkan film-film terbaru dan “berkualitas.” Saya dan beberapa orang teman satu kos-kosan pernah pergi menonton bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam dekat Balang Padang tahun 1998. Saat itu harga tiket sekitar Rp. 750 untuk satu orang. Saya dengan semua teman-teman sama sekali belum pernah menonoton bioskop sebelumnya. Pilihan kami pada Garuda hanya karena tiketnya murah dan lebih terkenal dibandingkan bioskop “murah” yang lain.

Di dalam gedung besar itu kami duduk di kursi yang sudah sangat lusuh dan goyang-goyang. Teman saya kesakitan dan gatal-gatal setelah pulang dari sana karena digigit kutu busuk. Belum lagi suasana yang gelap dan pengap. Meskipun film belum diputar, lampu yang menerangi ruangan besar itu hanya beberapa watt saja dan tidak mampu menunjukkan celah dan jalan yang ada di dalam sana. Saya dengar dari beberapa teman, hal yang sama terjadi juga di bioskop Jelita dan SIB. Namun saya tidak pernah masuk ke dalam dua bioskop tersebut. Hanya saja dari sisi performa luar bangunannya, sepertinya tidak jauh beda dengan bioskop Garuda.

Film yang diputar juga bukan film baru yang sedang hangat dalam berita televisi atau koran. Di sana diputar film-film lama yang judulnya saja terkadang tidak diketahui. Pada sore harinya, di depan gedung bioskop memang dipasang spanduk tentang film yang akan diputar pada malam harinya. Namun kenyataannya, tidak semua film yang ditunjukkan di depan bioskop diputar di dalam bioskop. Beberapa bioskop bahkan memutar blue film di sela-sela film yang sedang diputar. Saat saya menonton bioskop tahun 1998 tersebut, saya juga mendengar teriakan dari penonton “puta asoe sigoe!” (putar “yang berisi” sekali). Kata “asoe” atau “berisi” berarti mereka meminta diputarkan blue film.

Pas 21 dan Gajah Theater

Namun tidak semua bioskop demikian adanya. Pas 21 dan Gajah Theater adalah bioskop yang memutar film terbaru dan film-film modern. Jadwal tayangnya juga tetap dan konsisten. Bahkan mereka mempublikasi film yang akan ditayangkan di koran lokal setiap hari. Kedua bioskop ini tidak jauh berbeda dengan bioskop Pas 21 yang hampir ada di berbgaia kota di Indonesia saat ini. Namun Pas 21 berakhir setelah terjadi kebakaran (dikbakar?) hebat di Pasar Aceh Shoping Center pada tahun 2001 (?). Sejak saat itu bioskop ini tidak beroperasi lagi di Banda Aceh. Gajah Theater menjadi pemain terakhir yang menutup lapaknya setelah tsunami melanda Aceh.

Kenapa bioskop di Banda Aceh gulung tikar? Menurut saya ini adalah pertanyaan menarik untuk ditelusuri. Sebab ada beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin “bisnis tidak menguntungkan” adalah jawaban dari pengusaha bioskop itu sendiri. Namun sebagai daerah yang memiliki tiga peristiwa “seksi”; Syariat Islam Konflik dan tsunami, kita tidak bisa bisa hanya melihat dari sisi bisnis semata. Di balik itu, ketiga peristiwa lain, menurut saya, pasti memiliki kontribusi yang menyebabkan bioskop di Banda Aceh ditutup oleh pengusahanya.

Konflik dan Syariat Islam


Suasana konflik di Aceh yang mulai memanas pada tahun 2008 memang menjadi salah satu penyebab utama. Setidaknya konflik menyebabkan dikuranginya jam penayangan film dimalam hari. Tahun 1997 saya masih jualan durian sampai jam satu malam di Pasar Aceh. Saat itu tidak ada masalah dengan tengah malam berada di luar ruamah. Namun setelah konflik mulai membesar di Aceh, jam malam mulai berlaku. Akibatnya bisoskop di Banda Aceh menutup pemutaran film di malam hari. Mereka hanya membukanya sore hari saja. Kondisi ini meyababkan bioskop SIB, Garuda dan Jelita Theater mati suri. Sebab sebelumnya pangsa pasar mereka ada di malam hari, terdiri dari pekerja dan mahasiswa yang hanya punya waktu malam hari untuk menonton.

Kemudian, pemberlakuan Syariat Islam juga mungkin menjadikan usaha ini menjadi tidak menarik bagi pengusaha. Sebab hampir diketahui bersama, dalam bioskop orang bukan hanya menonotn film saja, namun juga mengambil kesempatan bersepi-sepi, atau dalam bahasan Syariat Islam di Aceh, berhalwat. Sebuah pasangan yang masuk ke dalam gedung itu tidak hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan, namun juga menjadi ajang di mana mereka bisa bermesra-mesraan, peluk cium dan meraba-raba. Kondisi ini ingin dihindari oleh pemerintah Aceh setelah penerapan syariat Islam. Oleh sebab itu ada sebuah seruan agar bioskop memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menonton. Saya memang tidak melihat hal ini dipraktekkan dengan baik di gedung bioskop. Namun setidaknya seruan ini menyebabkan pengusaha bioskop enggan membuka bioskopnya. Sebab akan sangat banyak pasangan muda yang menjadi target pasar mereka memilih tidak menonton bioskop dari pada ditangkap Wilayatul Hisbah (petugas pengawas penerapan syariat Islam) yang bertugas untuk menertipkan mereka.

Sejak konflik dan adanya penerapan syariat Islam di Aceh, operasi bioskop di Banda Aceh mulai surut. Bahkan setelah Pas 21 terbakar hanya Gajah Theater yang beroperasi. Seingat saya, tahun 2003 saya masih sempat beberapakali menonton bioskop di Gajah Theater. Di sanalah saya melihat instruksi dari pemerintah agar melakukan pemisahan penonton laki-laki dan perempuan sama sekali tidak diindahkan. Di dalam bioskop laki-laki dan perempuan tetap juga duduk bersama, seperti di berbagai bioskop kota lain di Indonesia. Namun saat itu bioskop hanya diputar sampai jam 18.30, sesaat sebelum azan maghrib. Hal ini berkaitan dengan jam malam yang diterapkan oleh pemerintahan militer yang sempat memegang kendali pemerintahan Aceh pada awal tahun 2000-an.

Bioskop Pasca Tsunami


Setelah tsunami melanda Aceh semua bioskop musnah. Gajah Theater yang bertahan sampai tsunami juga menutup usahanya hingga saat ini. Sekarang ini gedung Gajah Theater telah dipakai oleh aparat militer sebagai gudang logistik mereka. Saya tidak tahu apakah bangunan itu memang miliki militer. Sebab dari sisi lokasinya, Gajah Theater memang berada di dekat komplek militer, jadi memang memungkinkan kalau bangunan dan usaha itu memang milik mereka sebelumnya.

Apakah bioskop masih diperlukan di Banda Aceh? wallahu’a’lam. Dilihat dari sisi pengembangan kota dan kebutuhan modern masyarakat sebuah bioskop adalah keniscayaan. Apalagi belakangan ini masyarakat Aceh jelas terlihat kekurangan hiburan. Pusat-pusat hiburan dikunjungi banyak orang dan jauh melebihi kapasitasnya. Namun dilihat dari mudharatnya, terutama berkaitan dengan penerapan syariat Islam, menghadirkan bioskop mungkin perlu sebuah kajian mendalam lagi, baik dari film yang diputar, setting tempat duduk di dalam ruangan dan lain sebagainya. Saya sangat yakin, semangat Islam tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk mendapatkan hiburan.Wallahu’a’lam.

Monday, 24 May 2010

4G Made In Aceh

Kalau teknologi Eropa atau China hanya mampu membuat 3G atau 3,5G, maka Aceh selama ini telah melahirkan 4G. Dan saya kira ini akan bertambah terus dalam waktu cepat. Apalagi partisipasi masyarakat Aceh dan peran pemerintah juga besar dalam membangunnya. Jadilah 4G di Aceh sangat berkembang dan terkenal.

“G” Pertama adalah Ganja
Baru saja saya nonton TV. Sebuah berita tentang “kesuksesan” aparat kepolisian menangkap dua pemuda di Jawa Barat yang membawa ganja. Dalam keterangan yang diberikan kepada polisi, mereka mengaku hanya sebagai kurir dan bukan pemakai, apalagi pedagang. Ganja tersebut dititpkan seseorang dan harus diberikan kepada seseorang lain yang telah ditunjuk. Untuk ini mereka akan mendapatkan imbalan yang lumayan. Sampai di sini masih tidak ada masalah dengan berita tersebut. Namun sebelum mengakhiri berita dikatakan: “Menurut polisi ganja itu berasal dari Aceh.”

Memang ganja memiliki cerita sendiri dalam masyarakat Aceh. Dulu, ketika saya masih anak-anak, orang kampung menanam ganja di pinggiran sumur yang terbuat dari tanah. Namun bukan untuk dihisap sebagai rokok atau dihisap asapnya seperti saat ini. Waktu itu ganja dibuat sebagai bumbu yang menjadikan masakan lebih nikmat dan neundang, gethoo!. Atau menjelang bulan puasa, daun ini dipakai untuk menjadikan daging lebih empuk saat di makan. Namun setelah terjadi pembangunan yang masuk ke kampung-kampung, informasi sudah sampai ke sana, ganja ternyata diharamkan dan dilarang negara. Jadinya, tanaman di pinggir sumur itupun lenyap.

Tapi yang justru kebijakan ini menjadikan tanaman ganja berkembang sangat banyak di hutan-hutan seluruh Aceh. Saya memang tidak punya bukti, namun itu menjadi sebuah rahasia umum. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menanam ganja, menjualnya atau terlibat dalam kurir. Namun jangan salah, tidak semua orang Aceh melakukan itu atau menyetujuinya. Banyak orang Aceh juga menjadi korban karena peredaran salah satu jenis narkotika tersebut.

“G” kedua adalah GAM

Berita mengani GAM pernah mewarnai media masa Indonesia selama beberapa tahun. Hal ini tidak lain karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memiliki sekelompok pasukan yang mampu berperang melawan pasukan pemerintah. Dalam berbagai kesempatan jelas dikatakan GAM menginginkan kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia. Indonesia dianggap telah berlaku tidak adil kepada masyarakat Aceh. Selain berlaku tidak adil dalam budaya, agama dan pendidikan, Indonesia dinilai tidak adil juga dalam mengelola sumber daya alam. Banyaknya hasilalam di Aceh tidak pernah dinikmati oleh orang Aceh sendiri.

Kondisi ini mendorong sekelompok masyarakat bergabung membentuk sebuah pasukan yang menamakan diri mereka dengan GAM. lebih lima tahun GAM melawan pemerintah Indonesia dan telah menyebabkan banyak cerita yang lahir. Kebanyakan ceritanya adalah cerita menyakitkan karena berhubungan dengan kematian, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembakaran, penistaan dan lain sebagainya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah GAM telah mewarnai perkembangan pemikiran politik di Indonesia, langsung atau tidak langsung.

Saat ini beberapa kabupaten di Aceh berada di bawah pimpinan mantan GAM. Sayangnya daerah Aceh sekarang defisit anggatran. Bukan hanya di tingkat provinsi, namun juga di kabupaten. Apakah ini karena pemerintahan GAM atau kesalahan persoanal pemimpin? wallahu’a'lam. Yang pasti beberapa daerah kabupaten di Aceh saat ini terancam bangkrut karena tidak mampu membayar gaji pegawai dan menyediakan dana untuk pembangunan.


“G” ketiga adalah Gempa


Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang lalu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan daerah Aceh. Betap[a tidak? Aceh yang selama konflik tertutup untuk diakses oleh mendia, dilihat oleh orang luasr dan orang asing, namun setelah Gempa aceh menjadi daerah yang sangat kosmopolit. Banyak orang dari berbagai bangsa di dunia datang untuk menyaksikan dan membantu korban tsunami di Aceh. Kesempatan ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan terlupakan.

Gempa dan tsunami sedemikian besar perannya dalam membentuk kehidupan masyarakat di Aceh. Salah satunya adalah perubahan budaya masyarakat, perubahan cara pandang, dan berbagai pembangunan fisik di kampung-kampung atau di daerah perkotaan. Ini juga sebagai awal bagi masyarakat Aceh untuk menciptakan dan mendidik generasi di masa yang akan datang yang lebih baik. Negara-negara yang pernah datang ke Aceh pada masa tsunami terukir pada prasasti yang dibuat di Balang Padang, Banda Aceh. Sekarang prasasti tersebut telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.


“G” Keempat adalah Gaun


Masalah gaun atau pakaian perempuan juga tidak kalah pentingnya di Aceh. Salah-salah berpakaian anda tidak ada bisa mewujudkan rencana. Saya contohkan, kalau anda perempuan mau pergi ke rumah sakit di Meulaboh, Ibu Kota Aceh Barat, namun memakai celana jeans, maka dapat dipastikan anda tidak bsia menjumpai saudara anada yang sakit. Atau kalau anda mau jumpa direkturnya, anda juga tidak akan diberikan izin.

Ini terjadi karena bupati Aceh Barat menerapkan sebuah peraturan tentang keharusan masyaakat Meulaboh mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bupati bahkan menyediakan belasan ribu rok untuk menggantiakn celana ketat yang dipakai oleh perempuan dan dibagikan secara gratis. Namun jika pakaian ketat anda ditemukan di tempat razia, anda harus mengiklaskan pakaian tersbeut dimusnahkan. Ngeri? Tidak juga. Sebab juka anda sudah tahu, maka kota Meulaboh adaalh kota yang mana tenteram terkendali. :-D

Itulah empat G yang telah diciptakan di Aceh. Dalam waktu dekat mungkin Aceh akan melahirkan G kelima. Entah apa namanya.

Friday, 21 May 2010

Saya Pilih Deactivate Account FB Mulai Hari ini!

Sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang yang untuk membuat karikatur Nabi Muhammad di FB memunculkan beragam tanggapan dari facebooker. Bukan hanya facebooker muslim, namun banyak facebooker yang non muslim dan bahkan yang selama ini tidak meyakini satu agama tertentu. Beberapa teman saya yang non-muslim mengirimi saya pesan keprihatinan atas sebuah gerakan yang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat namun di sisi lain menghina kelompok beragama tertentu; dalam hal ini Islam. Sementara respon dari kalangan teman-teman yang muslim bisa dilihat dari status FB mereka, atau beberapa tulisan di blog, termasuk kompasiana.

Respon dari kalangan teman-teman muslim umumnya sama, tidak setuju dengan aksi tersebut dan memandang itu sebagai sebuah penistaan pada agama. Namun dalam responnya teman-teman muslim terbagi dua, menutup account facebook dan tetap melanjutkannya. Yang melanjutkan dan tetap menggunakan acconut facebook beranggapan bahwa di dunia maya apapun bisa terjadi. Termasuk penghinaan agama dengan karikatur Nabi. Namun itu semua tidak mengharuskan kita keluar dri facebook. Sebab ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari facebook. Selain silaturahim, bisnis, tegur sapa, dan tentu saja menambah jeringan dan keakraban pertemanan.

Namun bagi sebagain orang lain, memilih menutup account facebook. Alasannya sebagai bentuk protes terhadap kelompok orang yang melakukan sebuah tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bersama. Meskipun kelompok tersebut bukan dibuat oleh pengelola facebook, namun facebook tetap dianggap bertangguang jawab karena kelalaian dan respon yang lambat atas kejadian ini. Atas dasar ini maka sebagian muslim memilih untuk menonaktifkan account-nya. Apakah usaha itu berpengaruh pada kebesaran facebook secara keseluruhan? Dapat dipastikan sama sekali tidak. Apalagi jumlah yang mendaftar lebih banyak dari yang menonaktifkan.

Saya memilih menonaktifkan account facebook saya sejak hari ini. Alasan saya sebenarnya sangat pribadi. Bahwa saya merasa tidak nyaman dengan usaha-usaha demikian yang dilakukan oleh sekelompok orang. Bagi saya, lebih baik tidak memiliki acoount facebook dari pada harus menyaksikan sekelompok orang yang -menurut saya- tidak beradab dan tidak menghargai sensitifitas pemeluk agama. Dan saya sangat yakin, ini bukanlah gerakan terakhir yang akan terjadi melalui situs jejaring sosial ini. Dengan melihat respon besar yang ada, maka ke depan akan ada gerakan-gerakan lain yang tujuannya masa saja, memacing emosi dan menghina pemeluk agama.

Bagi saya, kehidupan di dunia tidak bisa dibangun dengan kebencian dan penghinaan pada golongan yang berbeda. Setiap kelompok yang memiliki kayakinan religius memiliki nilai sakral yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bukan hanya untuk Islam dan dilakukan oleh orang yang tidak senang pada Islam, namun juga -bisa jadi- dilakukan oleh sekelompok orang Islam pada kelompok lain. Dan praktik tersebut, bagi saya, sama tidak baiknya. Sebab kalau ada sekelompok orang telah merasa senang dengan menghina orang lain, itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam relasi kehidupan dunia ini.

Dan, dari pada saya menyaksikan gerakan seperti itu di kemudian hari, disuguhkan gambar-gambar yang melukai hati kaimanan saya, saya memilih menonaktifkan account facebook sejak hari ini. Saya sangat yakin, sisi positif facebook bisa saya dapatkan dengan media lain yang ada saat ini.

Banda Aceh 210510

Wednesday, 19 May 2010

Maaf, Asapmu Bukan Untukku

Sedikit kesal, saat ke kantor sebuah sepeda motor mendahuli saya dari sisi kiri. Setelah mengklakson bertubi-tubi motor yang dikedendarai -nampaknya seorang- mahasiswa ini melaju dengan cepat. Ia sempat menancapkan gas pas ketika posisinya dihadapan saya. Sangat bising dan mengganggu. Apalagi asap abu-abu keluar dari kenalpot motornya. Syukur bukan langsung mengenai muka. Namun asap tebal itu mau tidak mau tetap harus saya lewati karena persis berada di depan saya. Tapi apa hendak dikata, itulah kehidupan jalan raya kita.

Kenderaan yang bersap tebal secara umum dipahami dapat mengganggu udara, menyebabkan polusi, dan pada kerangka besarnya sebagai sumbangan untuk pemanasan global. Ini benar dan saya sepakat. Namun tidak kalah pentingnya adalah asap tebal sebuah kenderaan juga mengganggu kehidupan manusia di jalan raya. Seorang yang berjalan dengan baik, mengikuti aturan lalu lintas, menikmati perjalanan, tiba-tiba harus menghirup udara pengap yang berbau yang disebabkan oleh pemilik kenderaan lain yang mengeluarkana asap.

Saya belum pernah mendengar ada orang yang celaka gara-gara amsuk dalam asap mobil/motor. Namun saya sangat yakin itu mungkin terjadi. Dalam keadaan gelap karena asap, atau dalam keadaan mata terganggu, hidupng tersumbat, maka bukanlah mustahil akan mengganggu konsentrasi pengendara motor. Dan akibatnya ia bisa saja menabrak orang lain atau ia ditabrak orang karena salah jalur. Kalau ini terjadi maka pemilik kenderaan yang berasap pasti tidak mau tahu, bahkan ia mungkin tidak peduli kalau asapnya menimbulkan petaka.

Lebih jauh lagi adalah masalah penyakit. Asap kotor yang berdebu dan berminyak akan masuk ke dalam tubuh manusia lewat pernafasannya. Dan melalui sistim pernafasan maka asap itu pula yang akan masuk ke paru-paru. Kalau hanya sekali dua kali saja mungkin sistim dalam paru-paru akan sanggup menetralisir. Namun tatkala ini terjadi setiap pagi, siang, malam setiap kita berjalan di jelasn raya, maka jantung mana yang snaggup menetralisirnya? asap-asap itu menyumbangkan sumber penyakit pada manusia.

Lain asap motor/bus lain pula asap rokok. Meski sudah diperingatkan kalau merokok merugikan kesehatan dan mengeringkan isi dompet namun merokok masih menjadi aktifitas terlancar yang dilakukan manusia. Oke, tidak masalah kalau itu adalah pilihan sendiri, pilihan dari orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk kepunahannya sendiri, itu adalah hak semua orang. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, jangan ajak orang lain untuk menikmati penyakit dan kepunahan itu dengan menebarkan asapnya.

Jika anda merokok maka pastikan anda berada di tempat yang asapnya tidak terhirup orang lain, atau anda dapat menghisap semua asap rokok dan tidak membiarkan asap rokok anda terhisappada orang lain. Saat asap-asap yang anda keluarkan, dari mobil-motor, rokok itu terhisap pada orang lain dan menjadi penyakit baginya, maka itu juga akan menjadi dosa bagi anda sepanjang masa. Pada umat beragama dosa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penyebab kesedihan, keterasingan, depresi dan ketidakbagiaan.

Kita perlu melampuai langkah kecil yang penting untuk mewujudkan Masyarakat Tertib.

Tuesday, 18 May 2010

Berapa Kali anda Klakson Hari Ini?

Semua kenderaan bermotor pasti ada klaksonnya, keculai sudah rusak atau dicuri maling. Dan semua pengendara pasti pernah menggunakannya. Dalam satu hari, saya yakin, tidak ada orang yang mampu menghitung berapa kali ia menggunakan klakson. Sebab klakson seolah menjadi satu-satunya alat komunikasi saat berkenderaan. Kalau jumpa teman dijalan orang pakai klakson, minta jalan juga klakson, ada orang lewat tekan klakson, ada mobil yang berhenti seenaknya tekan klakson, berkali-kali lagi. Belakangan ada juga pendemo yang menekan klakson berulang-ulang tanda gerombolan mereka melintas di jalan raya.

Tidak cukup dengan klakson standar yang telah dibuat oleh pabrik mobil atau sepeda motor, belakangan juga muncul klakson istimewa. Ada yang menamakannya dengan klakson kebo. Klakson ini dijual bebas di pasar dan boleh dibeli oleh siapa saja. Jadinya, sebuah sepeda motor kecil yang hanya muat satu orang pun menggunakan klakson besar. Suaranya berat dan keras serak. Jika diklakson persis di belakang pengendara lain dijamin pengendara tersebut akan terkejut setengah mati. Atau bahkan bisa langsung mati jika ia jantungan atau ia diserempet oleh mobil di belakangnya.

Klakson sebenarnya memiliki fungsi yang penting, terutama untuk menyatakan bahaya; persis seperti sirene ambulance atau sirene peringatan gempa. Di kota-kota besar di luar negeri hampir tidak terdengar suara klakson sebebas yang ada di Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, di Kuala Lumpur saja, suara klakson nyaris tidak pernah terdengar. Padahal jumlah bus dan kenderaan hmpir sama sja dengan kota-kota di Indonesia. Pengendara yang tertib dan peraturan lalu-lintas yang dipatuhi membuat fungsi klakson di sana sedikit berkurang. Klakson hanya dibunyikan dalam keadaan darurat, ada orang yang melanggar lalu lintas dan mengganggu orang lain, atau situasi khusus yang mengharuskan membunyikan klakson. Selebihnya klakson dimuseumkan saja, tidak ada yang menggunakannya.

Nah, bagaimana dengan kita? realitas di lingkungan dan masyarakat kita? Sepertinya bunyi klakson menjadi ciri khas jalan raya di Indonesia. Di mana-mana di seluruh kota Indonesia, klakson bermunyi di sepanjang jalan. Kenderaan bermotor, roda dua, roda tiga, roda empat, enam, delapan, sepuluh dan bahkan lebih banyak lagi menggunakan klakson di sepanjang perjalannya. Munculnya berbagai jenis klakson tambahan membaut kita hampir tidak dapat membedakan apakah sebuah klakson berasal dari motor atau mobil, mobil kecil atau mobil besar. Orang bisa saja menggunakan sebuah klakson yang seharusnya dipakai di truck pelabubuhan yang besar pada motornya.

Tragisnya lagi, bunyi klakson tidak mengenal waktu dan tempat. Seorang yang berpapasan di jalan raya yang saling kenal menggunakan klakson untuk menyapa temannya. Ada seorang nenak tua yang sedang lewat memotong jalan raya juga ditekan klakson besar-besar memintanya berlari cepat. Meminta jalan dari kenderaan di depan juga menekan klakson. Bahkan berkali-kali, seolah yang ada di depannya tidak memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Apalagi kalau ada kenderaan, angkot, bus, truck atau kenderaan apapun yang ,elanggar lalu lintas, pasti diklaksn berulang-ulang dan rame-rame. Belakangan ini, ada pula tradisi klakson saat lampu hijau di perempatan menyala untuk memberitahukan pada pengendara lain kalau lampu sudah hijau. Ada-ada saja.

Padahal jujur, kalau ditanyai semua orang, suara klakson itu menjengkelkan. Bukan hanya bagi orang yang berada di kantor atau di rumah yang kebetulan ada di dekat jalan raya, namun bagi pengendara sendiri klakson sebenarnya sangat mengganggu. Hanya mereka yang sudah sangat menikmati kebisingan saja dapat menikmati klakson berlebihan. Dan mereka pula yang menekan klakson berkali-kali di sepanjang jalan. Seolah klakson besar, keras, dan berulang itu menimbulkan sebuah kesenangan dalam berkenderaan.

Klakson berlebihan ini sebanrnya bukan hanya menimbulkan kebisingan, namun juga dapat menyebabkan kecelakaan. Saya pernah lihat sebuah kenderaan yang memanting stir ke iri tiba-tiba karena ada sebuah sepeda motor yang menekaln klakson besar di belakangnya. Di sisi kiri ia disambut dengan sebuah mobil pribadi yang sedang melaju kencang. Dan tabrakan tidak dapat dihindari. Saya tidak tahu nasib pengendara yang tertabrak itu. Namun saya tahu sepeda motor yang mengklaksonnya, ia lansung pergi dan tidak peduli dengan petaka yang telah dibuatnya. Kasus lain adalah timbulnya keraguan pada pejalan kaki kalau diklakson berulang-ulang. Klakson akan mempengaruhinya mengambil kesimpulan dalam berjalan. Ini juga sebuah potensi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi. Saya yakin semua kita punya pengalaman dengan klakson.

Untuk membangun Masyarakat Tertib, maka kurangi penggunaan klakson di jalan raya. Anda bisa beralasan bahwa klakson diperlukan untuk menegur orang yang sewenang-wenang atau mencaci-maki angkot yang berhenti seenaknya. Namun yakinlah, klakson untuk mereka tidak banyak membantu. Kesabaran dan kearifan, dengan ketenangan, anda tetap akan dapat jalan dan meneruskan perjalanan. Atau boleh saja tekan klakson, namun pastikan suaranya hanya didengar oleh orang yang anda maksudkan, bukan oleh orang lain. Sebab kasihan mereka yang tidak ada urusan dengan perjalanan anda menjadi terganggu.

Kita harus melampaui langkah kecil yang penting untuk membangun Masyarakat yang Tertib. Semoga bisa terwujud di suatu masa.

Monday, 17 May 2010

Masyarakat Tertib, Kapan Ya?

Di jalan raya,
Kita berhadapan dengan suara motor dan mobil yang memekakkan telinga. Beberapa motor dengan snegaja memasang knalpot yang mengeluarkan suara besar. Suara besar yang keluar dari knalpot menjadi sebuah kebanggaan dan prestise bagi pemiliknya. Dengan bangga pula ia mengenderainya dengan capat. Apa yang ia cari? popularitas? kepuasan? Inilah sebuah keanehan hidup, mendapatkan kepuasan dengan cara mengganngu kenyamanan.

Suara kenalpot besar belum cukup, masih ada suara klakson besar. Mobil kecil memasang klakson yang lebih besar dari kenderaannya. Bahkan ada motor yang memakai klakson truck gandengan yang memekakkan telinga. Anehnya, pemiliknya tersenyum senang ketika melihat orang lain terkejut, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Ia merasa bangga dengan kelakukannya yang sangat mengganggu kenyamanan.

Masih ada yang lebih buruk. Sebuah kenderaan yang megeluarkan asap hitam pekat di belakangnya. Dengan senagat bangga ia memacu mobil/motornya dengan cepat dan menjadikan jalan di belakangnya gelap gulita. Ia merasa enjoy saja dengan keadaan tersebut dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Terkadang ada yang ashma, ada yang jantungan, ada yang batuk dengan asap tersebut. Namun itulah keasyikan, merasa senang membuat orang susah.

Pelayanan Publik
Saat mebuat NPWP untuk saudara saya, sekelomok manusia berebutan mendapatkan nomor antrian. Pegawai pajak memberikan nomor antrian bukan berdasarkan orang yang datang, namun berdasarkan waktu. Saya yang datang jam 13.45 tidak mendapatkan nomor antrian satu, meskipun di sana hanya ada saya satu-satunya. Alasannya counter belum dibuka. Saat dibuka, sudah ada puluhan orang berada di sana. Dan mereka berebutan mendapatkan omor antrian. Saya mengundurkan diri dan tidak jadi membuat NPWP karena tidak mendapatkan nomor antrian, meskipun sudah datang duluan.

Salings serobot juga di loket bus dan kereta api. Yang mendapatkan pelayanan bagus adalah yang besar dan uat fisik dan besar suara. Berteriak, membentak, mengahrdik siapa saja. Ia segera mendapatkan apa yang ia mau. Orang yang mengikuti aturan, berdiri di garis antrian, harus berdiri saja melihat pemandangan itu. Dan tidak jarang harus menunggu berjam-jem baru mendapatkan pelayanan.

Fasilitas Umum
Apakah ada WC yang bersih di tempat umum? Mungkin di bandara internasional dan beberapa tempat lainnya. Namun banyak WC yang jorok dan kotor, menjadikan kita yang sudah keelet sekalipun harus mengurungkan niat menggunakannya. Di Mall dan pusat hiburan, juga tidak ada mushalla yang represenatif yang meengakomodir kebutuhan banyak pelanggan muslim. Di sebuah mall di Jogja, ruang shalat diletakkan di tempat parkir, remang-remang, sempit dan berbau asap. Padahal, banyak pelanggan mereka adalah muslim, membutuhkan tempat nyaman untuk beribadah.

Bukan hanya di mall dan tempat hiburan saja, di kantor pemerintahan, perusahaan dan yang sering juga terjadi di kampus-kampus, berbagai fasilitas mendasar manusia tidak tersedia dengan baik. Bahkan, lebih buruk lagi, di masjid-masid yang ada di hampir seluruh Indoensia, banyak fasilitas toilet yang kumuh dan tidak layak pakai. PAdahal untuk shalat yang sempurna jelas harus bersih dan suci.

Ketertiban Pasar

Di Banda Aceh ada pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan. Saat ada penertiban yang dilakukan Satpol PP beberapa ktivis mengatakan pemerintah tidak punya menghargai kemanusiaan, tidak menghormati masyarakatnya. Ada benarnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk menjadikan masyarakat mendapatkan pekerjaan. Namun masyarakat juga “bertanggung jawab” menjaga ketertiban. Tidak berjualan di badan jalan, di lorong-lorong di pasar, membuat kios kecil di depan pertokoan orang, membuat tenda di pinggir jalan, dll.

Pasar yang menjadi tempat di mana banyak orang berkunjung untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, seharunya nyaman dan menyenangkan. Sebab ini dikunjungi hampir setiap hari. Namun ulah dari sebagai orang yang tidak mau menjaga ketertiban, pasar menjadi sangat sumpek dan padat. Pergi ke pasar harus dengan nawitu yang kuat dan tidak bisa “sambilan” saja. Kita harus “bertempur” dengan hukum kesemrautan pasar.

Kapan Bisa Tertib?
Tertib adalah sunnatullah, fitrah kemanusiaan. Pada dasarnya manusia ingin tertib dan hidup teratur. Manusia mencintai kebersihan dan kenyamanan. Namun terkadang keinginan berlebihan dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dari orang lain menjadikan mereka tida tertib dan tidak menjadi kaidah dan norma bersama. Yang muncul adalah egoisme dan kesombongan. Merasa dirinya paling benar lalu melakukan apa saja demi “kebenran” tersebut.

Kaban bisa tertib? Ini adalah persoalan budaya. Hukum, seperti apapaun dibuat, jika budaya tertib tidak ada dalam masyarakat, maka ia akan tetap semraut, seenaknya, suka-suka saya, yang penting saya sukses, dan berbagai prinsip yang lain. Budaya tertib mesti dibangun dengan pendidikan karakter dan keteladanan. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada anak yang yang orang tuanya saja menerobos lampu merah. Tidak mungkin mengajarkan tertib kepada murid yang gurunya saja merokok di dalam ruangan kelas. Sangat msutahil menjadikan masyarakat tertib jika pomimpinnya saja sering tidak disiplin.

Tertibkanlah dirimu sendiri lalu tunjukkan itu pada orang lain. Dan satu saat bangsa kita akan tumbuh menjadi bangsa yang tertib. Itulah kehidupan yang mulia.

Tuesday, 11 May 2010

Kenapa Mereka Memilih Dukun?

Rumah itu tidak dapat dikatakan mewah. Namun untuk konteks perumahan masyarakat di desa, rumah itu bisa disebut lebih dari sederhana. Halamannya nampak tidak ada bunga dan tanaman. Di sisi kanan rumah ada sebuah toko kelontong yang lumayan penuh dengan barang dagangan. Sementara di sisi kirinya ada sebuah garasi yang tidak ada mobilnya. Dan, di dalam garasi itulah penuh dengan orang keluar masuk. Di depan garasi pula banyak orang duduk santai, merokok, ngobrol, bercerita macam-macam, laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak.

Ternyata di dalam garasi sedang berlangsung pengobatan.

Rumah itu adalah rumah seorang tabib yang lumayan terkenal di Aceh Besar. Saya mendengar namanya sudah dua tahun yang lalu. Dari berita mulut ke mulut, katanya, sang tabib mampu mengobati banyak penyakit. Banyak orang yang sudah sembuh berkat usahanya. Ada yang lumpuh sudah bisa berjalan kembali, ada yang sembuh total dari penyakit hernia, darah tinggi, TBC, dan berbagai penyakit lainnya. Saya kira ini sebuah pekerjaan luar biasa. Dan karenanya saya berniat mengunjunginya kalau ada waktu. Dan baru kemarin saya berkesempatan merealisasikan niat saya menyaksikan prosesi pengobatan yang beliau lakukan.

Di dalam garasi yang tidak terlalu besar itu penuh dengan orang-orang yang menunggu giliran berobat. Kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sang tabib duduk di tengah ruangan, dikerumuni oleh orang-orang yang akan berobat. Ia memanggil satu persatu berdasarkan urutan air mineral yang sudah diantarkan oleh calon pasien pada pagi hari sebelum pengobatan. Setiap pasien yang dipanggil diminta duduk di depannya. Kemudian ditanyakan keluhan penyakitnya. Sang tabib mengambil air, merajahnya, membuka tutup botol air, mencelupkan sebuah keris, menutup kembali dan menyerahkan kepada pasien. Beberapa pesien disebutkan obat-obatan yang harus diminum atau dimakan yang tersedia di toko samping rumahnya. Namun banyak pasien yang tidak perlu obat-obatan. Cukup dengan air itu saja. Pasien mambayar biaya pengobatan seiklas hati.

Proses pengobatan yang terbuka dan sederhana ini, bagi saya sangat tidak rasional untuk menyembuhkan penyakit. Namun kenyataannya banyak orang percaya dan yakin itu bisa menyembuhkan. Saya duduk di depan garasi dan berbicang dengan beberapa orang yang sedang menunggu giliuran berobat. Seorang bapak paruh baya menyebutkan, ia menderita batuk yang menahun. Badannya sudah kurus dan kering. Ia sudah membawa kepada dokter berkali-kali, namun tidak juga sembuh. Dan sudah dua bulan belakangan, ia rajin datang ke tabib ini. Dan ia merasakan perubahan, katanya sudah lumayan berkurang.

Seorang ibu yang saya ajak bicara terlihat jelas kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Katanya itu sudah berlangsung lama. Ia sudah membawanya sampai ke Penang, Malaysia, namun belum juga sembuh. Bahkan dokter tidak konsisten mengatakan penyakitnya. Lain dokter lain pula “fatwa” mengenai penyakit tersebut. Jadinya, ia datang ke sang tabib. Dan, -lagi-lagi menurut si ibu- ia sudah merasa baikan. Bahkan di bagian perut sudah nampak tumbuh kulit baru. Saya tanyakan, apa yang dilakukan sang tabib? ternyata tidak ada yang spesial, sama saja dengan apa yang dilakukan pada orang lain. Ia hanya minum air putih yang telah dirajah dan memakai obat gosok.

Dari kenderaan yang ada di depan rumah sang tabib jelas yang datang ke sana bukan hanya mereka dari golongan ekonomi lemah. Banyak mobil mewah dan motor berjejer di sana. Kita juga bisa lihat dari pakaian yang dikenakan calon pasien, nampaknya mereka bukan orang yang sama sekali tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit. Namun, kata salah seorang yang saya ajak bicara, umumnya yang datang ke sana adalah mereka yang kecewa dengan apa yang diperolehnya di rumah sakit. Kecewa karena mereka tidak ada jaminan sembuh, bahkan ada yang kecewa karena penyakitnya justru tambah parah.

Saya teringat Ponari, beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah batu “ajaib” ia menyembuhkan banyak orang. Entah benar-benar sembuh atau tidak, orang tersebut saja yang tahu. Namun saat itu banyak orang yang datang ke tempatnya berharap ada sentuhan batu ponari ke dalam air yang mereka bawa. Dan air itu dianggap sebagai obat yang akan mengusir penyakitnya. Praktek Ponari berakhir dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah setempat, dan pengakuan Ponari sendiri bahwa ia sudah tidak mampu mengobati lagi.

Pasti praktek seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebuah catatan yang penting dari kasus ini yaitu keyakinan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang masih sangat kuat. Keyakinan ini semakin kuat karena pelayanan dan tingkat kesembuhan yang sangat rendah di rumah sakit pemerintah dan biaya yang sangat mahal di rumah sakit swasta. Apalagi ada sebuah hukum tidak tertulis yang diyakini selama ini, “orang miskin dilarang sakit” yang menyebabkan praktek pengobatan ini menjadi pilihan warga.

Lagu Iwan Tidak Islami?

Lagu Iwan Kok Islami! kata seorang teman saya. Dia tidak menyebut-nyebut Islam. Ia cuma cerita anak jalanan, hutan, perang, korupsi, tikus, omar bakri, dan lain-lain. Mana Islamnya?

Ini terjadi di kantor. Saat seorang teman meminta saya memutar lagu mengiringi kami kerja. Saya tanyai dia, lagu apa yang ia sukai. Katanya ia suka lagu Islami. Lalu saya putar lagu Iwan Fals. Ia protes, katanya lagu Iwan tidak Islami. Yang ia maksud dengan lagu Islami adalah lagu-lagu qasidah Ida laila, Asnidar Darwis, dll. Atau nasyid modern yang pernah hit dan masih hit sampai sekarang dalam komunitas tertentu. Atau, paling tidak katanya, lagus Islami adalah lagu “religius” yang dinyanyikan GIGI atau Ungu, atau grup band lain yang bikin album khusus menjelang puasa.

Sebagai sebuah kebebasan memilih lagu, maka itu adalah hak semua orang. Artinya, setiap orang memiliki hak yang sama dalam memilih lagu kesukaan, penyanyi kebanggaan, materi dan syair yang ia sukai. Namun tatkala melabelkan islami atau tidak sebuah lagu, maka itu mejadi lahan yang layak untuk didiskusikan. Pertanyaan pentingnya adalah, apa perlunya lagu islami atau tidak? kedua, apakah lagu “islami” hanya yang menceritakan menganai pakaian, sikap sehari-hari, menyanyikan ayat al-Qur’an atau hadits Nabi saja? Dan itu yang kemudian kami diskusikan.

Bagi saya sendiri, tidaklah menjadi hal terlalu penting mendiskusikan apakah sebuah lagu islami atau tidak. Sebab -lagi-lagi bagi saya- lagu hanya untuk dinikmati, bukan dihayati sebagai sebuah pesan spiritual dan moral. saya lebih senang mendengar lagu karena irama dan musiknya, bukan karena substansi pesan yang disampaikan dalam syair lagunya. Ini pula yang menyebabkan musik-musik instrumen menjadi pengiring favorit saya dalam bekerja. Pun demikian saya tidak menafikan, beberapa syair lagu menarik hati dan menimbulkan kesan yang mendalam. Selain karena berkaitan dengan rasa dalam pengalaman saya sendiri, lagu tertentu juga mewakili cara pandang saya. Dan Iwan Fals, sejauh ini adalah penyanyi yang paling mewakili pandangan itu.

Kalu mau dihubungakan dengan agama, maka lagu-lagu Iwan Fals juga memiliki makna religiusitas yang mendalam. katakanlah lagunya menganai anak-anak terlantar. Bukankah dalam agama juga bicara mengani anak yatim yang terlantar. Surah al-Ma’un dalam Juz 30 jelas mencela orang yang menelantarkan anak-anak dan menyebutnya sebagai pendusta agama. Iwan juga meneriakkan menjaga alam, dan dalam al-qur’an juga banyak ayat yang berbicara mengenai keseimbangan alam. Apalagi masalah korupsi, keadilan, pemerintahan yang bersih, amanah, dan lain sebagainya.

Jadi, menikmati lagu Iwan sesungguhnya, menurut saya, adalah menikmati lagu Islami. syair-syairnya penuh dengan pesan yang perlu diimplementasi dalam kehidupan nyata untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik, lebih adil, lebik berharga.

Monday, 10 May 2010

Tidak Panik Pangkal Selamat

Kebetulan kemarin (09/05), saya dan keluarga besar Fakultas Ushuluddin IAIN Banda Aceh sedang melaksanakan acara di pinggiran sebuah pantai di Aceh Besar. Saat gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh kemarin persis saat saya sedang mengucapkan salam akhir shalat zuhur. Saya duduk sebentar berzikir meskipun gempa mulai mengguncang. Ada sedikit rasa khawatir kalau bangunan di mana saya shalat akan roboh. Apalagi mushalla tersebut adalah mushalla yang pernah dihantam tsunami enam tahun yang lalu. Namun kerena beberapa orang yang shalat di sana saya lihat tenang-tenang saja, hanya mengucapkan: “gempa”, dan berzikir, sayapun ikutan tenang.

Setelah shalat saya kembali ke tempat kami berkumpul, hanya sepuluh meter dari bibir pantai. Beberapa teman mengabarkan kalau info dari TV menyebutkan gempa yang terjadi barusan berpotensi terjadi tsunami. Info ini menyebabkan banyak yang panik. Bagaimana tidak? lebih setengah dari orang yang hadir dalam acara itu pernah merasakan dahsyatnya tsunami. Seorang guru besar sejarah yang kehilangan istri dan dua anaknya pada peristiwa tsunami tahun 2004 yang lalu saya lihat segera masuk mobil bersama istri dan dua anak beliau yang masih kecil-kecil (beliau menikah kembali setelah tsunami dan sudah dikaruniai dua orang anak). Saya yakin sekali kalau dalam benaknya masih menghantui peristiwa enam tahun yang lalu.

Namun Bapak Dekan Fakultas Ushuliddin mengingatkan, kalupun memilih untuk pulang maka tetap tenang dan jangan panik. Beliau sendiri memilih untuk tetap berada di pinggir pantai dan melanjutkan cara silaturahim yang sempat tertunda karena gempa. Pertimbangannya hanya satu, tanda-tanda tsunami bukan hanya gempa. Ada banyak tanda lain yang bisa kita pegang berdasarkan peristiwa enam tahun yang lalu, antara lain air laut surut, terjadi suara berdentum, keretakan tanah di pinggir pantai, burung yang terbang menjauh dari pantai dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, gempa tersebut, menurutnya tidak berpotensi tsunami, jadi tidak perlu panik. Saya dan banyak rekan yang lain percaya saja, dan ikut memeriahkan acara sampai selesai.

Sepulang dari acara tersebut saya mendengar cerita bahwa banyak orang yang menjadi korban karena melarikan diri setelah gempa terjadi. Di jalan menuju Ulee Kareeng Banda Aceh, lalu lintas sangat padat dan berdesakan. Beberapa kecelakan terjadi karena masing-masing orang hendak menyelamatkan diri dan mendahului orang lain. Seorang rekan yang bekerja di rumah sakit yang bertemu dengan saya semalam juga mengatakan mereka menangani beberapa orang yang menjadi korban karena kepanikan, umumnya kecelakaan lalu lintas. Padahal tsunami tidak terjadi.

Kepanikan ini wajar terjadi karena beberapa hal. Pertama karena masyarakat di Banda Aceh masih trauma dengan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Persitiwa itu pasti tidak akan lenyap dari pikiran mereka, saya juga. Ini menyebabkan setiap peristiwa gempa yang besar mengingatkan mereka pada peristiwa itu dan terdorong untuk melarikan diri dari pinggiran pantai. Kedua, adanya beberapa penjelasan dari pemerintah tentang fungsi alaram yang mendeteksi tsunami. Kemarin alaram early warning system berbunyi sangat keras di Meulaboh Aceh Barat. Ini menyebabkan masyarakat segera mengungsikan diri takut kalau-kalau tsunami terjadi. Ketiga, kepanikan warga terjadi karena aparat keamanan ikut panik juga menyikapi masalah. Beberapa aparat nampak mengarahkan masyarakat dengan sangat panik seolah ia juga tidak sabar mau menyelamatkan diri.

Mungkin masih ada penyebab yang lain. Namun saya ingin menagaskan bahwa “panik” menyebabkan kecelakaan dan berjatuhan korban yang sebenarnya tidak perlu. Apakah ini berarti kita tidak perlu khawatir dengan potensi tsunami? Tidak juga. Namun kekhawatiran pada potensi tsunami tidak harus dengan cara panik. Ada waktu jeda antara gempa dan tsunami lebih kurang 20 menit. Untuk konteks Banda Aceh itu adalah waktu yang cukup untuk mengungsi ke daerah aman. Apalagi beberapa desa telah dibangun bangunan penyelamat dari tsunami yang hanya berjarah beberapa puluh meter dari rumah mereka.

Belajar dari beberapa gampa yang menimbulkan kepanikan di Aceh belakangan ini, sudah sepantasnya ada sebuah usaha dari pemerintah dalam mengatasinya. Oke, selama ini ada sebuah pemberitahuan dari BMG mengenai gempa yang berpotensi tsunami, namun itu saja tidak cukup. Aparat pemerintah harus juga turun ke lapangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Misalnya dengan mengatur lalu lintas, memperingatkan agar jangan panik, mengatur jalur evakuasi agar tidak bertumpuk ke satu arah saja, dan usaha lainnya. Sungguh sangat disayangkan kalau gempa yang tidak menimbulkan korban apa-apa malah membuat orang jatuh pada saat berusaha menyelamatkan diri pasca gempa. Dan itu karena panik, bukan karena gempa itu sendiri. So, Tidak Panik adalah Pangkal Selamat.