Tuesday, 28 June 2011

Sehari Bersama Keluarga Italia

Saya beruntung, dalam sebuah kunjungan ke Milan beberapa waktu yang lalu, saya bisa tinggal dengan sebuah keluarga asli Italia. Awalnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang perempuan yang menurut saya hampir sebaya saya juga, namanya Amalia. Ia tinggal di Pavia, sebuah kota yang tidak jauh dari Milan. Ia mengundang saya ke kotanya untuk melihat kota lama peninggalan Romawi kuno. Dan pada satu hari minggu, saya memenuhi undangannya mengunjungi Pavia. Hanya 30 menit dari Milan dengan kereta api.

Sebelum mampir ke rumahnya, saya diajak makan siang di sebuah desa pinggiran, tidak jauh dari Pavia. Perjalan ke sana butuh waktu 30 menit. Namun karena ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya merasa semua indah. Pohon-pohon yang masih kering, lahan gandum yang siap tanam, dan pegunungan di kejauhan yang nampak ditutup salju. Sungguh memikat hati. Apalagi Amalia selalu menjelaskan tentang semua tempat yang kami lewati.

Rumah yang kami tuju adalah sebuah bangunan kecil namun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ia ada di tengah ladang gandum yang maha luas. Rumah itu nampak seperti tidak terurus. Di depannya tumbuh rumput hijau yang memanjang dan tidak dirapikan. Ada sampah dedauanan di mana-mana. Bebeberapa pohon yang tumbuh di depan rumah juga seperti tidak dirapikan. Namun kondisi ini menunjukkan sebuah suasana pedesaan yang sangat khas.

Si empunya rumah adalah keluarga muda yang punya tiga orang anak, dua perempuan dan yang bungsu laki-laki, masih balita. Clara, sanga istri mengaku tidak kuliah. Setelah tamat SMU ia menikah dan mengurus anaknya. Karenanya, ia bekerja sebagai desainer sekaligus penjahit di rumahnya. Semula saya kurang yakin, sebab dalam benak saya, kalau ia desainer dan penjahit, pasti ia butuh tenaga kerja. Sementara itu tidak terlihat di rumahnya. Setelah saya tanya, ternyata ia mendesain sendiri dan menjahit sendiri baju yang akan dijual. Ia mengaku memilih jenis kain yang bagus, membuatnya dengan bagus pula sehingga bisa dijual mahal. Baju hasil desainnya dijual di pusat kota Milan.

Si suami, Fabio, adalah laki-laki muda yang tinggi. Ia mengaku seorang petani. Ia pernah bekerja di Inggris 9 bulan sebagai pelayan restoran. Karenanya ia bisa bahasa Inggris, meskipun sudah tidak lancar lagi karena sudah lama. Namun kemampuan bahasa ini membuat saya merasa nyaman berada di sana. Apalagi selama ada saya, mereka tidak bicara bahasa Italia, melainkan bahasa Inggris.

Fabio ahli masak. Dialah yang memasak makan siang untuk kami. Ia mengatakan kalau ia memasak sesuatu yang berbeda kepada saya. Katanya” “Amalia bilang kalau kamu seornag muslim. Kami hanya tahu kalau muslim tidak boleh makan babi. Saya masak pasta dengan labu untuk kamu. Saya masakkan dalam panci masak air, supaya tidak ada bekas babi.” Sungguh saya terharu. Grazie Fabio. Mereka menghargai keimanan saya dengan caranya sendiri.

Namun ada yang mengesakan saya. Anak perempuan Clara yang berusia tujuh tahun digigit anjing saat ia sedang bermain hingga berdarah. Ia tidak menjerit, tidak menangis. Ia datang kepada ibunya dan mengatakan kalau ia digigit anjing. Karena Clara sedang membereskan piring di meja, ia meminta kakaknya membersihkan luka si adik dengnan tissue. Setelah darah dibersihkan, mereka kembali bermain, termasuk anjing yang barusan menggigitnya.

Menjelang sore kami kembali ke Pavia, menuju rumah Amalia. Saya diperkenalkan dengan suami Amalia. Ia mengaku pernah pergi ke Bali lima tahun yang lalu. Dan masih bisa mengucapkan “Apa Kabar” denga nada dan intonasi khas Italia. Ia seorang punk, namun juga seorang professor sejarah Eropa Klasik yang mengajar di sebuah Universitas di Bologna.

bersambung…..

Saturday, 25 June 2011

Tunda Naik Haji 5 Tahun!

Ruyati yang dihukum pancung beberapa hari yang lalu hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerja migran Indonesia yang mendapatkan kekerasan bahkan berujung pada kematian di Arab Saudi. Kita masih belum lupa peristiwa penyiksaan kepada Sumiati. Bahkan dalam daftar "tunggu" ada dua puluhan TKW lain yang akan mendapatkan perlakuan yang sama. Hukuman pancung! Apakah kita akan tetap diam dan membiarkan hukum yang zalim itu mempermalukan kita? Bayangkan kalau itu menimpa sanak kerabat anda sendiri.

Seharusnya sebagai bangsa, kita ahrus malu. Hingga saat ini tidak ada bangsa miskin manapun di dunia yang mengirimkan tenaga kerja sektor domestik ke Arab Saudi. Indonesia satu-satunya negara yang memeras perempuan berpendidikan rendah untuk mendapatkan devisa! Ini menjadi bahan ejekan dan cemoohan dari negara lain. Bagaimana mungkin sebuah negara besar menambang devisa dari darah dan keringat kaum perempuan. Apalagi itu dilakukan di Arab Saudi, negara yang terkenal di seluruh jagat tentang perilaku warganya kepada perempuan asing yang bekerja di rumahnya.

Sebagai respon atas apa yang dilakukan pemerintah Saudi terhadap warga Indonesia sudah seharusnya kita melayangkan protes besar-besaran. Menurut saya, kita harus menunda pelaksanakan ibadah haji hingga pemerintah Saudi menjamin tegaknya hukum yang berperikemanusiaan kepada pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di sana. Kalau ini dilakukan, maka warga saudi akan bersimpuh di lutut pemerintahnya untuk segera mengabulkan tuntutan Indonesia. Soalnya, mereka akan kehilangan masa panen yang terjadi pada musim haji. Apalagi jamaah haji asal Indonesia terkenal dengan budaya belanjanya.

Apakah ini mengganggu iman umat Islam? Menurut saya tidak juga. Haji adalah kewajiban personal yang harus dilakukan kalau mereka mampu. Mampu bukan hanya masalha biaya, kesehatan, dan anak yang ditinggalkan selama melaksanakan haji. Dalam konteks modern mampu juga terkait dengan masalah diplomasi politik. Bebeda dengan zaman dahulu di mana Makkah adalah milik bersama umat Islam, sekarang Makkah adalah salah satu wilayah administratif negara Saudi. Siapapun kalau mau masuk ke sana harus memenuhi persyaratan administrasi, pun untuk beribadah. Dengan berbagai kekerasan yang dilakukan Arab kepada Indonesia, sudah saatnya kita memprotesnya. Dan protes administrasi salah satu yang memiliki bergaining yang kuat.

Jadi, kalau mau orang Indonesia yang bekerja di Saudi mendapat perlakukan yang baik, kita bisa melakukanya dengan menunda haji sampai ada perjanjian untuk memberikan pelayanan yang lebih baik pada pekerja migran kita di sana. Saya yakin pemerintah Saudi akan melakukannya. Sebab mereka akan sangat rugi jika jamaah terbesar haji dan umrah menunda keberangkatannya. Dan mereka tidak akan mau kehilangan pendapatan hanya gara-gara ulang waraganya. Mungkin, seminggu setelah protes itu, pemerintah Saudi sudah mengeluarkan pernyataan akan melindungi TKW yang ada di sana.

Bagaimana, apa anda sepakat dengan saya?

Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Memberi Sedekah kepada Pengemis Cilik!

Hampir di semua kota di Indonesia, pengemis menjadi salah satu peandangan yang tidak bisa dihindari. Di perempatan jalan yang ada lampu merah, di kafe-cafe, di pasar dan tempat lainnya. Dan dari sekian banyak pengemis itu masih berumur di bawah sepuluh tahun. Bahkan sepertinya ada yang masih berusia lima tahun ke bawah. Beberapa bayi bahkan digunakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan rasa iba dari masyarakat lantas memberikan bantuan, sedekah kepada mereka.

Rasa iba terkadang menjadi alasan bagi kita untuk menjulurkan tangan memberikan bantuan kepada mereka. Tidak tega juga melihat muka sedih memelas mereka. Meskipun kita terkadang terfikir kalau itu hanya pura-pura, namun terkadang tetap tidak tega. Oke kalau benar itu pura-pura, bagaimana kalau ia benar? Apa yang akan ditanyakan Tuhan kelak ketika kita melihat hamba-Nya yang kelaparan tapi kita tidak membantu. Mungkin itu alasan sehingga mereka merogoh kocek memberikan bantuan.

Saya salah seorang yang berfikir demikian dua tahun yang lalu. Saya merasa iba dengan kehidupan mereka. Dengan hanya memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000,- rasanya tidak akan mengurangi apa yang ada di kantong saya. Bahkan tidak terlalu berat kalau memberikan Rp. 500 beberapa kali dalam sehari. Namun itu dulu. Sejak tahun 2008 awal saya sudah memutuskan untuk tidak meberikan sedekah kepada pengemis cilik di pinggir sajalan atau yang datang ke rumah-rumah.

Inilah alasan saya!

Satu hari saya sedang shalat zuhur di sebuah masjid di kota saya. Saat itu pas bulan puasa. Di masjid itu sering berkumpul pengemis, tua muda dan anak-anak. Biasanya mereka berkumpul di gerbang depan, di mana jamaah keluar masuk menuju masjid/pulang. Di sana mereka menengadahkan tangan, atau meletakkan kemasan air mineral gelasan di depannya. Jamaah yang merasa mau membantu memasukkan uang ke dalamnya.

Seorang anak yang saya taksir berumur tujuh tahun berada di dalam masjid. Setelah shalat saya mendekatinya. Saya berniat akan mebelinya satu stelan baju untuk si anak untuk menyambut hari raya yang segera akan tiba. Saya melihatnya sedang menghitung uang recehan yang baru dikeluarkan dari tas kecil yang selalu dibawanya. Di sisi kanannya ada setumpuk uang seribuan yang sudah disusun rapi. Di depannya ada uang pecahan koin yang masih berhamburan belum dikelompok-kelompokkan.

Saya mendekatinya dan bertanya:

"Udah dapat berapa dek?"

"Yang ini Rp. 350.000," katanya sambil menunjukkan uang seribuan plus beberapa uang pecahan besar di sisinya. "Yang ini belum dihitung" katanya sambil menunjukkan uang receh di depannya.

"Wah.... dapat banyak hari ini?"

"Ngak bang. Biasanya, siang begini sudah Rp. 500 ribu. Sekarang mungkin Rp. 400 ribu saja."

Wah... si anak ini luar biasa. Rp. 500 ribu hanya sepagi. Bagimana kalau sepanjang hari.

"Memang biasanya sehari dapat berapa," saya coba tanya sama si anak.

"Ngak tentu bang. kalau puasa begini bisa sampai Rp. 1 juta."

"Kalau ngak puasa?"

"Sehari Rp.300 bang" jawabnya polos.

"Oooo... kamu sudah ada baju baru untuk lebaran?"

"Sudah"

"Berapa lembar?"

"Sembilan"

Saya tidak punya pertanyaan lagi. Niat membantu mebelikan selembar baju baru untuk si anak langsung hilang. Apalah artinya selembar baju baru untuk anak 7 tahunan di tengah sembilan baju baru yang sudah ia miliki plus penghasilan satu jutaan sehari.

Sejak saat itu saya tidak pernah memberikan uang lagi kepada pengamis cilik. Apalagi saya punya pengalaman memata-matai seorang perempuan paruh baya yang nampak sehat menggendong anaknya meminta sedekah, dari ia memulai aksinya di perempatan jalan sampai ia pulang kembali ke rumahnya. Nanti akan saya ceritakan...

Menulis Instant Hasil Maksimal, Mungkinkah?

Beberapa tulisan di kompasiana, di blog, di koran, bahkan beberapa buku dipublikasi dengan tema yang mirip: Menulis cepat hasil berlipat. Cepat dalam arti tulisan bisa dibuat dalam waktu yang tidak terlalu lama, tidak perlu mengorbankan pekerjaan utama, tidak juga harus bolak-balik ke perpustakaan apalagi bongkar-ongkar arsip yang berdebu di museum. Hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja dalam satu hari, tulisan selesai. Sementara hasil berlipat sering dimaknai dengan menjadikan buku sebagai best seller, banyak laku, penulis dikenal, diajak seminar, presentasi hasil buku, dan dapat banyak uang. Mungkinkah ini terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit. Pengalaman beberapa penulis membuktikan bagaimana mereka tiba-tiba menjadi populer dengan karya yang dihasilkannya secara instant. Seorang lelaki yang biasa kita kenal sebagai pendiam, pemalu dan kuper, tiba-tiba sudah menjadi motivator dengan pakaian necis dan penghasilan menawan. Ia yang biasanya paling jauh hanya ke luar kabupaten tiba-tiba sudah diundang sampai ke luar pulau. Hanya karena sebuah bukunya yang tiba-tiba menjadi best seller.

Jadi, menjadi tenar dengan cepat bukan hal yang tidak mungkin, setidaknya berdasarkan pengalaman yang sudah kita lihat sendiri di sekitar kita. Kalau anda mau, dengan beberapa motivasi yang diberikan orang yang berpengalaman, mungkin anda akan mencapai hal yang sama. Anda bisa meyelesaikan dalam waktu tertentu, mempublikasikannya, menjadi best seller, anda jadi terkenal dan jadi kaya.

Namun demikian, secara pribadi saya tidak percaya dengan karya instant memiliki hasil maksimal. Bagi saya sebuah karya yang baik harus lahir dari kerja keras dengan menghabiskan waktu untuk menghasilkannya. Jika anda mau menerbitkan buku yang berkualitas, maka tingkat kualitas buku itu tergantung pada seberapa berkualitas waktu yang anda habiskan dalam menulis buku tersebut. Jika anda menulis buku sambil ngobrol ngudal-ngidul sama teman-teman, atau sambil minum kopi dan makan kacang goreng, maka kualitas buku juga setara dengan kualitas segelas kopi. Buku ia hanya sedap sesaat, menebarkan aroma ke mana-mana, diteguk sekali, habis lalu dilupakan.

Bagi saya, sebuah buku yang berkualitas harus ditulis dengan serius, menghabiskan banyak waktu yang berkualitas, bersungguh-sungguh mendapatkan bahan pendukung, melakukan klarifikasi fakta dan data, menunjukkan kalau si penulis paham dengan apa yang ditulisnya. Buku dengan kerja keras akan berimplikasi pada hasil buku yang berkualitas pula. Mungkin, buku anda memang tidak laris di awal penerbitannya, namun buku yang berualitas akan menjadi saksi sejarah sepanjang zaman. Ia tidak lapuk oleh sinar, tidak lapuk oleh hujan. Hanya kiamat yang akan menghapusnnya dari dunia.

Saya pernha mengikuti sebuah pelatihan menulis dengan seorang motivator dari Jakarta. Sang motivator mengaku telah menulis 38 buku dalam tiga tahun terakhir yang semuanya best seller. "38 buku dalam 3 tahun?" saya benar-benar terkejut. Apalagi ia mengatakan kalau buku-buku itu best seller. Saya memang bukan kutu buku, namun hampir semua toko buku di kota saya bisa saya kenali judul-judul buku yang dijual di sana. Sebab setiap minggu saya menghabiskan waktu berjam-jem di toko buku untuk baca buku gratis. Namun saya tidak mengenal penulis ini, tidak tahu buku apa yang ditulisnya sampai ai sendiri mengakui dalam forum tersebut.

Bedakan dengan beberapa penulis beberapa buku yang menurut saya luar biasa. Bukunya beberapa saja. Namun dari sepuluh tahun yang lalu dipublikasi hingga saat ini, bukunya masih dicari orang. Tidak ada lebel best seller di depan bukunya. Namun banyak orang tertarik mendapatkannya. Karena di dalam buku itu ada ilmu, ada pengetahuan, ada kebijaksanaan universal yang tidak hilang oleh waktu.

Jadi, jangan mau menulis buku instant. Tulislah buku dengan serius, dengan hati, kerja keras, sebab hanya dengan demikian bukumu akan abadi.

Tidak Perlu ke Arab! Harta TKI Ada di Bawah Ranjangnya

Salah satu novel paling berpengaruh di dunia adalah Alchemis yang ditulis oleh Paulo Coelho. Novel yang tidak terlalu tebal ini sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia. Meskipun kecil, novel ini diakui telah mempengaruhi visi banyak orang tentang hidup. Salah satu hal yang penting dalam novel ini adalah pandangan bahwa keinginan akan terwujud pada setiap orang yang benar-benar menginginkannya.

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda dari Santiago yang melakukan sebuah perjalanan mencari harta karun. Awalnya, pada suatu malam, saat ia tidur di atas dipannya pada sebuah gubuk tua, ia bermimpi bahwa di sebuah tempat di sisi piramida Mesir terkubur emas besar yang bisa menghidupinya hingga sepuluh keturunan mendatang. Karena mimpi ini datang berulang kali, ia yakin ini sebagai pesan dari tuhan. Lantas ia melakukan perjalanan menuju piramida Mesir.

Dalam perjalanan ini ia berjumpa dengan berbagai macam ras, pekerjaan, sifat manusia dan berbagai pandangan alam yang jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungannya selama ini. Dalam perjalanannya, ia juga erhadapan dengan sebuah suku yang masih suka berperang di gurun pasir. Di sana pula ia jatuh cinta pada Fatimah, seorang anggota suku yang hidup berpindah-pindah. Dan yang paling penting adalah, ia berjumpa dengan seorang ahli kimia yang mampu mengubah logam biasa menjadi emas murni. Kemampuan ini telah dibuktikan langsung di hadapan si anak. Pun demikian, si ahli kimia tetap meneguhkan hati si anak dalam mencapai impiannya, mendapatkan harta karun di sisi piramid mesir.

Si anak yang telah menempuh perjalanan jauh, keras dan penuh perjuangan, akhirnya sampai di sisi Piramida mesir. Ia mencocokkan ciri-ciri piramida yang hadir dalam mimpinya dengan piramida yang ada di hadapannya. Setelah memastikan bahwa ia sudah sampai di tempat yang tepat, ia mulai menggali pasir untuk mencapatkan emas yang dicarinya. Saat ia kelelahan melakukan penggalian, ia didatangi oleh sekelompok perampok dan merampoknya. Sebongkah emas yang dia miliki hasil pemberian dari ahli kimia turut dirampok. Perampok menanyakan apa yang ia lakukan. Setelah si anak menjelaskan, perampok itu tertawa terbahak dan mengatakan: "Tahun lalu juga ada yang mengatakan kepadaku kalau di sebuah gubuk tua di Spanyol, dekat sebuah pohon besar yang tua, terdapat harta karun berupa emas permata yang banyak." Si anak terkejut. Rumah yang dikatakan si perampok adalah gubuknya di Spanyol. Ia bergegas pulang, dan mendapatkan emas seperti yang dikatakan si perampok.

***

Cerita ini, menurut saya, relevan dengan apa yang terjadi dengan fenomena TKI saat ini. Para TKI pada dasarnya adalah "anak lelaki" yang bermimpi bahwa di luar negeri sana ada sebuah harta karun yang tertimbun dalam bentangan pasir. Mereka begitu yakin dengan "mimpi" ini setelah melihat beberapa tamannya pulang membawa harta tersebut. Dengan susah payah, mereka berusaha datang ke sana. Sebagian ke Malaysia, sebagian ke Saudi, ke Hongkong, Taiwan, Singapura dan lain sebagainya. Tujuannya sama saja, mewujudkan mimpi mendapatkan "harta karun" di luar negeri sana.

Untuk tujuan ini mereka berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, melintasi benua, dan yang paling berat menghadapi resiko mendapatkan kekerasan dari majikannya. Ruyati, buruh migran dari Indoensia yang dihukum pancung di Saudi beberapa waktu yang lalu adalah satu diantara mereka yang ingin menjemput mimpinya. Di sana ada ratusan dan bahkan ribuan Ruyati yang lain yang juga memiliki niat yang sama. Mereka meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung halaman orang lain. Bekerja, berusaha, berjuang, dan bahkan "berperang" mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan mimpi itu.

Pertanyaannya, apakah harta karun itu ada di luar negeri atau ada di bawah ranjangnya sendiri? Saya adalah orang yang percaya kalau harta karun ada di bawah ranjang sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Coelho dalam novel di atas. Namun harus kita akui pula bahwa harta karun itu tidak bisa diperoleh tanpa sebuah kompetensi, skil dan kemampuan melihat realitas yang ada. "Hartamu ada di mana hatimu ada" kata Coelho dalam novel itu. Dan untuk mendapatkannya harus ada sebuah keinginan kuat. "Jika kau benar-benar menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan bahu mambahu mewujudkan keinginanmu," katanya.

Mungkin, di sinilah peran pemerintah. Menunjukkan bahwa "di bawah ranjang" para TKI terdapat harta karun yang besar, yang bisa menghidupi mereka tujuh turunan. Untuk mendapatkan harta itu, pemerintah harus melatih, belajar, meningkatkan skil, kompetensi, dalam berbagai bidang. Sebab tanpa ini semua, harta karun itu akan diambil orang dan dimanfaatkan untuk kepentingannya. Bahkan bisa jadi harta itu tidak bermanfaat untuk ia sendiri meskipun berasal dari bawah ranjangnya. Pemerintah harus menunjukkan bagaimana harta itu biasa diambil, dan bagaimana harta itu dipelihara agar terus dapat menghidupinya.

Ekspresi "Puas" Gadis Jepang

Seminggu belakangan ini aku menonton sebuah stasion televisi nasional yang meyiarkan acara pertandingan ala Jepang. Awalnya aku tidak sengaja menontonya saat minum kopi sore di sebuah warung. Ternyata menarik juga, pertandingan itu dikemas secara menyenangkan dan penuh tantangan. Beberapa yang aku ingat antara lain adalah pertandingan memancing ikan tuna di lautan, pertandingan membikin kue mirip makanan tertentu, pertandingan membuat eskrim, dan tadi sore pertandingan membauat masakan untuk merayakan sesuatu.

Menurutku, ide pertandingan itu sangat menarik. Sederhana, tapi menyenangakan dan mendidik. Secara pribadi, dalam salah satu sesi, aku belajar cara membuat telor dadar yang variatif. Sudah kucoba, rasanya lezat! sangat lezat.

Tulisan ini bukan hendak menceritakan tentang masakan itu. Tapi bagaimana orang Jepang mengekspresikan kegembiraan atau kesedihannya. Dari beberapa kali menonton itu aku simpulkan beberapa sikap orang jepang dalam mengekspresikan kepuasannya:

Tidak suka bicara banyak
Saat pembawa acara menanyakan kesuksesan atau kegagalannya, orang Jepang hanya menjawab satu atau dua kata; "iya, aku sedih", lalu ia meninggalkan pembawa acara. Atau kalau ia memenangkan perlombaan, paling hanya mengatakan: "Aku senang sekali". Tidak ada percakapan panjang lebar, tidak ada salah teknis, salah wasit, salah peralatan, dll. Ekspresi kekalahan atau kemenangan sama saja, singat dan tidak berlebihan.
Tidak suka jingkrak-jingkrak
Untuk merayakan kemenangannya, orang Jepang tidak melompat-lompat kegirangan, tidak berjingkrak-jingkrak kesetanan, cukup bertepuk tangan saja sambil membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Kalaupun berteriak senang, itu dilakukan sekali atau dua kali saja, tidak berlebih-lebihan.
Tidak ada peluk cium pada teman
Kalau pertandingan menggunakan tim, orang Jepang tidak cipika-cipiki saat mengekspresikan kemenangannya. Tidak ada peluk-pelukan sambil berteriak. Tidak ada juga lompat-lompat. Masing-masing anggota kelompok mengatakan terima kasih, lalu selesai.
Menghargai karya seseorang
Semua juri saat menilai masaan selalu mengatakan, "Wah... makanan ini lezat sekali, dia sangat pandai membuatnya". Walaupun kemudian nilai yang diberikan tidak banyak, tapi pujian itu membaut yang berkarya menjadi tersanjung dan merasa dihargai.


Aku teringat, beberapa bulan yang lalu di sebuah stasion televisi lainnya yang menyiarkan lomba masak ala Indonesia. Saat mencicipi hasil masakan pesarta, jurinya mengatakan, "Wah... masakan ini kurang garam, ikannya kurang matang" dll.

Saat pemenang diumumkan, pesarta yang menang berteriak kesetanan merayakan kemenangannya. Ia berteriak berjingkrak sambil memeluk teman-temannya.

Saat pembawa acara meminta tanggapannya atas kemenangan yang baru diperolah, peserta ini menceritakan perasaannya, kenapa ia bisa memang, prediksi-prediksi sebelumnya, kenapa orang lain bisa kalah, dll. Sangat banyak. Pembawa acara terpaksa mengatakan kalau ia sudah mengerti.

Begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.