Tuesday, 28 February 2012

Carnevale Ambrosiono: Pesta Rakyat di Milano

Secara tidak sengaja sabtu lalu saya datang ke Duomo. Saya terkejut saat melihat ada banyak orang di sana. "Banyak orang" sebenarnya biasa, namun hari sabtu yang lalu orang-orang mengenakan pakaian yang khas, pakaian tradisional, pakai topeng, pakaian super hero, mengecat muka dan lainnya. Anak-anak, remaja dan orang dewasa. Cina, India, Arab, Amerika Latin, Eropa, Afrika, sama saja. Semua berbaur jadi satu. Ada apa ini? Saya jadi penasaran.

Di depan Duomo saya melihat sebuah panggung bertuliskan: Carnevale Ambrosiano. Ternyata hari ini ada carnava ambrosiano. Saya tidak tahu pasti apa itu carnaval ambrosiano. Namun dari ngobrol dengan beberapa orang di sana disebutkan, karnaval ini adalah perta memperingati kedatangan dewa Abrojo atau Ambrosiano, seorang dewa yang melindungi kota Milan. Namun saat ini, pesta ini menjadi ajang bagi warga kota untuk saling berbagi dan membina silaturahim antar suku bangsa yang hidup di Milan.

Ada banyak hal yang menarik dari carnaval ini, diantaranya: pakaian yang dikenakan oleh peserta. Seperti karnaval agustusan di Indonesia, peserta carnaval ini juga mengenakan pakaian yang beraneka ragam. Namun karena yang mengikuti acara berasal dari suku bangsa yang berbeda jadi pakaiannya juga sangat beragam, sesuai dengan pakaian adat suku bangsa tersebut. Milan adalah kota kosmopolit. di sana hidup banyak orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku di dunia. Kosmopolit dalam pakaian ini nampak jelas dalam acara carnaval kali ini.

Menarik juga melihat keterlibatan anak-anak. Dalam acara ini anak-anak benar-benar mendapatkan tempat bermain dan bertemu dengan sesama mereka. Semua anak-anak berada di bawah pengawasan orang tua mereka. Jadi tidak ada anak yang berkeliaran, atau menangis karena kehilangan orang tuanya. Kemanapun mereka pegi, orang tua mereka mengikuti. Bahkan orang tua mereka membantu si anak untuk bisa terus bermain.

Menarik juga melihat kekhasan permainannya. Pada acara carneval ini permaian yang utama adalah kertas warna-warni yang di potong kecil-kecil (ada banyak orang yang menjual kertas ini dalam bungkusan plastik), dan spray salju. Kertas-kertas ini menjadi permaian utama bagi anak-anak. mereka melemparkan kertas ke udara dan menunggu jatuh ke mukanya lagi. Atau mereka melemparkan kertas kepada teman-teman kecilnya, baik yang mereka kenal atau bertemu saat berjalan. Tidak ada yang marah, yang ada hanya aksi saling melemparkan kertas.



Spray salju juga dipakai untuk aksi saling semrot. Mungkin aksinya hampir sama dengan anak SMA yang baru lulus ujian akhir. Hanya saja, dalam carnaval ini aksinya "lebih gila" karena saling berbalas semprot. Namun tidak ada yang marah karena mereka nampaknya menikmati acara semprot-semprotan itu. Yang paling banyak melakukannya memang anak-anak dan remaja, namun banyak orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadinya super heboh. Coba lihat rekaman yang saya upload di youtube berikut ini:

Tidak hanya pada siang hari, acara ini berlangsung hingga malam hari. Ada dua even menarik pada malam hari. pertama carbevale di populi, atau pesta rakyat. Dalam hal ini berbagai suku bangsa yang ada di Milan menunjukkan tarian dan nyanyian khas negara mereka. Namun karena hubungan masa lalu Italia lebih banyak dengan negara-negara di Amerika Latin, yang mendominasi pementasan ini juga dari Amarika Latin. Arab yang lumayan banyak di Milan juga menempatkan diri dalam pementasan ini. Sementara Cina dan Filipina yang ada di Milan nampaknya belum sampai pada taraf bisa tampil dalam acara ini. Jangan tanya Indonesia!

Ini salah satu pementasan dari Cuba:

 
 


Dan ini sebuah shalawat dari Arab/Mesir:

 

Acara malam ditutup dengan sebuah pementasan drama. Ada yang menarik dari pementasan ini, yaitu, pesertanya semua berjalan di atas kaki tambahan sehingga mereka menjadi sangat tinggi-tinggi. Dari semula hingga pementasan berakhir, semua berjalan di atas kaki tambahan itu. Jadi bukan hanya menarik penampilan drmanya, namun juga seolah kita sedang menonton sebuah akrobat. Saya terkesima dengan penampilan drama ini. Saya merekam sejak pertama hingga akhir yang seluruhnya hampir satu jam. Namun sayang sekali tidak bisa diupload ke youtube karena terlalu panjang. Berikut salah satu bagian dalam pementasan itu:







Monday, 27 February 2012

Wajib Jurnal? Jurnal yang Bagaimana?

Meskipun sudah sedikit mereda, diskusi mengenai wajib menulis di jurnal yang digagas oleh Dikti masih menarik dibahas. Hal ini tidak terlepas dari efek berantai kebijakan ini. Dari semangat menulis, kualitas tulisan hingga kemungkinan menampung tulisan mahasiswa. Jadi baaimanapun keputusan Dikti akan berimplikasi pada banyak sistem di perguruan tinggi di Indonesia.

Paling umum ada dua -katakanlah- kubu yang terbentuk akibat keputusan tersebut. Mereka sama-sama berpijak pada satu keinginan yang mulia yaitu memajukan dunia akademik Indonesia. Hanya saja kelompok yang pro dengan surat Dikti merasa cara "pemaksaan" ala Dikti ini sudah pas karena mau tidak mau orang akan berfikir keras untuk menulis agar ia bisa lulus di sebuah jenjang pendidikan. Sementara kelompok kedua berfikir itu tidak logis sebab kita belum siap dengan fasilias dan sistim pengelolaan jurnal. Kebijakan mendadak seperti ini bukannya akan meningkatkan iklim akademik di perguruan tinggi, malah menjadi pendorong lahirnya tulisan asal-asalan.

Seorang teman saya pengurus sebuah jurnal bersyukur dengan munculnya surat Dikti ini. Ia berharap pemaksaan ala Dikti ini akan meningkatkan jumlah tulisan ilmiah yang akan masuk ke jurnal yang dikelolanya. Selama ini katana, ia sangat sulit mendapatkan tulisan sehingga jurnalnya sering terbit terlambat. Jangankan tulisan yang berbobot, tulisan dengan kualitas biasa saja hampir tidak mencukupi untuk sekali terbit

Dengan adanya surat dikti maka mau-tidak mau mahasiswa akan menulis dan mencari jurnal untuk memuat tulisan mereka. Dalam kondisi seperti ini pengelola jurnal mungkin akan kebanjiran tulisan. Bahkan kalau mau pasang tarif sekalipun akan tetap mendapatkan tulisan (sesuatu yang sulit untuk konteks penerbitan jurnal selama ini).

Menulis itu mudah?

Ada sebuah kecenderungan belakangan ini tentang dunia menulis di Indonesia. Beberapa orang menjadi(kan dirinya) sebagai motivator menulis. Prinsip mereka sama saja: menulis itu mudah. Mereka mengkampanyekan prinsip bahwa cara menulis adalah dengan mulai menulis. Beberapa diantaranya lebih spesifik lagi, misalnya bagaimana menulis di koran, menulis novel, menulis buku dalam seminggu, dan lain sebagainya.

Bahkan setelah keluarnya surat Dikti saya membaca beberapa artikel yang mengatakan menulis di jurnal itu mudah dan juga menyenangkan. Jadi tidak ada alasan untuk takut dengan peraturan tersebut. Sealiknya malah surat Dikti bisa menjadi pendorong bagi kita untuk terus berkarya. Perlu dicatat, yang menulis artikel tersebut adalah seorang editor penerbitan, bukan seorang akademisi di kampus.

Apa yang salah? Tidak ada! Semua orang punya hak mengemukakan pendapatnya, termasuk mengenai menulis. Bahkan siapa saja berhak mengemukakan pandangannya mengenai cara menulis, termasuk "cara menulis mudah di jurnal ilmiah". Hanya saja, apakah apa yang dikatakan tersebut bisa sesuai dengan kenyataan di lapangan? Mungkin aspek ini bisa menjadi celah kita berdiskusi.

Menulis vs Menulis di Jurnal

Saya sendiri memandang, ada perbedaan antara "menulis" dengan "menulis di jurnal. Saya membuat tulisan ini dengan meggunakan handphone sambil duduk berjemur (karena ini adalah hari kedua matahari bersinar terang) di balkon apartemen saya di Milan dan menikmati kopi espresso. Dengan ini, saya sudah "menulis". Apakah dengan cara yang sama saya bisa menulis sebuah artikel untuk jurnal ilmiah? Saya sendiri menjawab, tidak akan!

Menulis di jurnal adalah sebuah proses yang serius dan -sedikit- kerja keras. Tidak bisa instan atau tiba-tiba siap. Menulis jurnal adalah seuah abstraksi dari pandangan seorang penulis terhadap realitas dengan menggunakan kacamata keilmuan. Tulisan akan jadi "ilmiah" jika ia terkoneksi dengan teori tertentu dalam sebuah bidang ilmu. Sekali lagi, menurut saya, maaf, ini bukan hal mudah.

Oleh sebab itu tulisan di jurnal tidak bisa dibuat asal-asalan dan sambil lalu. Ambil sana copot sini kopas sana sini, plum! Jadilah sebuah tulisan. Apakah itu bisa disebut karya ilmiah? Kalau "iya" maka benar anggapan menulis di jurnal itu mudah. Namun bagi saya, tulisan di jurnal harus dimulai dengan mengidentifikas masalah, mengemukakan literatur atau debat singkat teoritis mengenai tulisan dimaksud, lalu kita menawarkan sesuatu yang berbeda atau cara berbeda dalam hal yang sama.

Tidak hanya di situ, tulisan di jurnal juga wajib mendapatkan pembacaan dan koreksi dari satu atau berapa orang lain yang dianggap paham dengan bidang ilmu yang dibahas dalam sebuah tulisan. Tidak bisa seperti saya menulis di blog ini, membuka template buat postingan baru, menulis, lalu tekan publish, selesai. Publikasi di jurnal membutuhkan sebuah proses yang jauh lebih lama dan panjang.

Kejar kuantitas atau tingkatkan kualitas

Andai tujuan publukasi di jurnal seperti yang ada dalam surat Dikti (untuk mengejar kuantitas publikasi yang jauh tertinggal dari Malaysia) maka cara Dikti memaksa publikasi kepada mahasiswa sudah sangat tepat. Mulai bulan agustus 2012 kita akan lihat lahirnya tulisan-tulisan "ilmiah" yang dipublikasikan melalui berbagai jurnal, termasuk "jurnal online".

Namun sebaliknya kalau tujuannya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui publikasi ilmiah maka ada banyak jalan lain yang harus dilakukan dan pemaksaan tidak termasuk diantaranya. Jalan itu antaa lain adalah meningkatkan kesadaran ilmiah di kalangan akademisi kampus, ya mahasiswa ya dosen. Tanpa kesadaran akademik, mampu memproduksi jutaan  jurnal sekalipun SDM bukannya akan semakin baik tapi semakin hancur karena lahirnya tulisan asal-asalan dan jurnal hasil plagiasi.

Di sinilah, menurut saya, peran dosen di peguruan tinggi. Dosen seharusnya menjadi sebuah panutan bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Jika seorang dosen mengajarkan mahasiswa tentang menulis, maka ia harus bisa mencontohkan tulisannya sendiri. Bukan berarti tidak boleh mengambil contoh tulisan lain (yang dengan jujur diakui lebih baik) tapi menunjukkan tulisan sendiri akan melahirkan sebuah motivasi berbeda pada masiswa karena si dosen tidak "omdo" alias omong doang. Dengan mencontohkan tulisan sendiri si dosen juga bisa bercerita bagaimana tulisan itu diproses dari awal hingga selesai dan dipublikasi. Dengan cara ini publukasi di jurnal akan banyak dan juga bagus. Semoga.

Friday, 24 February 2012

Haruskan IAIN Menjadi UIN?

Belakangan ini kampanye dan usaha mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry semakin kencang. Pihak kampus IAIN melakukan beberapa audiensi dengan berbagai pihak di Aceh untuk mendapatkan dukungan perubahan tersebut. Selain pemerintah Aceh, pemerintah kota Banda Aceh, DPRA, Polda Acehpun sudah menyatakan dukungan untuk perubahan IAIN menjadi UIN. Dukungan ini menjadi salah satu aspek yang akan menguatkan tawaran IAIN kepada pemerintah dalam usaha perubahan ini. Tanpa mengecilkan arti usaha itu, sebuah pertanyaan yang layak diajukan adalah: sejauh mana perlunya perubahan IAIN menjadi UIN?

Alasan terdepan yang selalu dikemukakan oleh petinggi kampus dalam usaha perubahan ini adalah, "agar IAIN bisa membuka fakultas umum seperti halnya kampus tetangga, Unsyiah". Pembukaan fakultas dan prodi umum akan menjadikan IAIN ampu bersaing dengan universitas lain dalam menjaring minat studi mahasiswa. Apalagi belakangan di Aceh sudah berdiri STAIN Malikussaleh dan STAIN Cot Kala yang juga memiliki misi studi Islam yang hampir sama dengan IAIN. Nyaris, mahasiswa IAIN Ar-Raniry beberapa tahun terakhir didominasi oleh alumni SMA/MAN dari pantai Barat Selatan dan Banda Aceh-Aceh Besar.

Tujuan lainnya yang meskipun tidak terlalu populer namun ada dalam pikiran semua pihak di IAIN adalah, perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan jalan yang lebih mudah untuk menerapkan dan merealisasikan ide-ide tentang ilmu integrasi islam dan ilmu pengetahuan umum yang selama beberapa dasawarsa terakhir sudah sangat populer di dunia Islam. Sudah terlalu banyak "teori" integrasi yang sudah diberikan, namun masih sangat sedikit aplikasinya di lapangan. Dengan menjadi UIN maka kesempatan IAIN mengaplikasikan teori tersebut akan menjadi lebih mudah.

Arti IAIN: Sebuah Introspeksi

Meskipun sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry, saya tidaklah terlalu ambisius untuk perubahan ini, meskipun saya bukan orang yang menolak sama sekali. Ada sebuah keraguan yang tidak bisa saya hindari ketika semangat perubahan ini didengungkan. Keraguan ini adalah menyangkut dengan pertanyaan: Apakah kita sanggup dengan perubahan tersebut?

Banyak kolega saya di IAIN menyambutnya dengan acungan kepalan tangan ke atas dan mengatakan: "Kita bisa!" Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Saya yakin, kesiapan dan semangat akan membuat semuanya menjadi lebihmudah. Jika semua orang di IAIN sudah merasa perubahan ini akan menjadikan IAIN lebih baik, maka tidak tidak alasan untuk menundanya.

Namun saya ingin mengatakan, janganlah semangat perubahan menjadi UIN hanya didasarkan pada keinginan "kesempatan membuka prodi umum" dan "kesempatan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum" semata tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan selama ini. "Bisa" di sini adalah, apa yang sudah kita lakukan selama ini dengan status kampus yang "hanya" Institut.

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab. Apakah yang menyebabkan IAIN mundur karena "institut" atau karena faktor lain yang ada di dalamnya. Kedua, apakah nama "universitas Islam" akan menjamin IAIN ke depan lebih baik? Dua pertanyaan ini akan membawa kita untuk bisa melihat kembali pada diri masing-masing, lalu menilais sejauh mana perubahan nama ini perlu.

Kualitas Pribadi vs Sebuah Nama

Saya sendiri cenderung berfikir bahwa ketertinggalan kampus bukan disebabkan oleh namanya, namun ada pada sistim pengelolaan yang ada di dalamnya. "Institut" dan "Universitas" bagi saya sama saja sejauh ia bisa dikelola dengan baik dan dengan sebuah visi yang jelas. Selain itu, di dalamnya ada civitas akademika yang memiliki dedikasi dan semnagat yang tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apapun namanya, jika ia memiliki dedikasi yang kuat dalam pengembangan ilmu, maka ia tetap akan maju dan diincar oleh siapa saja.

Selama ini, saya melihat, IAIN belumlah menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan agama di Aceh. Peran IAIN masih sekedar menjalankan administrasi pendidikan ilmu agama Islam saja, belum sampai pada mengembangkan dan mensponsori pengembangan ilmu keislaman. Sebagai "administrator", selama ini IAIN menjadi media transformasi ilmu dari seorang dosen kepada mahasiswa. Dosen mendapatkan ilmu dari tempat lain dan membaginya kepada mahasiswa. Tidak ada ilmu "khas" IAIN yang dikembangkan, yang ada hanyalah pengambilan ilmu dari tempat lain dan bulat-bulat diberikan kembali kepada mahasiswa.

Mudahnya begini. Meskipun IAIN berada di Aceh, namun Aceh sama sekali tidak bisa dilihat dari IAIN. Penelitian-penelitian yang ada di IAIN masih tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di Aceh. Bahkan apa yang terjadi di Aceh, tidak bisa dijelaskan oleh civitasakademika IAIN. Justru ornag luar -provinsi atau negara- yang datang ke Aceh untuk melakukan penelitian dan dokumentasi mengenai Aceh. Celakanya, dokumentasi mereka kemudian menjadi rujukan bagi civitasakademika IAIN dalam melihat daerahnya sendiri.

Tentu kita tidak bisa menafikan beberapa pakar dari IAIN yang berperan dalam pengembangan agama dan pemerintahan di Aceh. Namun itu jelas bukan (setidaknya tidak 100%) bagian dari posisinya sebagai ilmuan. Sebagai ilmuan, menurut saya, civitasakademika IAIN harus menjadi "perekam peradaban" yang sedang berlangsung di Aceh, dan menempatkan perspektifnya dalam semua hal yang yang terjadi di Aceh belakangan ini. Apakah ini sudah terjadi? Saya melihatnya belum.

Hal yang paling mudah adalah dengan melihat konteks Aceh kontemporer, saat ini. Sekarang di Aceh sedang berlangsung sebuah proses pemeilihan kepala daerah. Ada banyak partai, ada banyak kekerasan, ada banyak teror, ada banyak intrik politik, dan lain sebagainya. Di sisi lain, IAIN memiliki jurusan politik Islam. Pertanyaannya, sejauh mana akademisi di jurusan politik Islam mencerdasi apa yang terjadi dalam proses demokrasi di Aceh ditinjau dari eprspektif Islam? Apakah proses ini sudah sesuai dengan prinsip politik Islam?

Seharunya, ini menjadi "laboraorium hidup" bagi IAIN untuk menerapkan apa yang berkembang di kampus. Apa yang sudah didiskusikan di kelas, bisa dilihat di pangangan dan melakukan penilaian. Hasil penelitian akan kembali didiskusikan di kampus dan diabstraksikan dalam bentuk tesis-tesis keilmuan yang akan terus berkembang secara dinamis. Semakin lama, abstraksi ini semakin kuat dan teruji. Dan pada suatu masa ia akan menjadi salah satu produk ilmu pengetahuan khas yang lahir dari IAIN.

Mungkin lain kali saya akan mencoba memberikan gambaran dan contoh dari beberapa fenomena sosial di Aceh lainnya.

Kembali ke pertanyaan semula, apakah untuk melakukan ini perlu mengubah IAIN menjadi UIN? Saya kembali menjawabnya: Tidak! Dalam status sebagai IAINpun, hal ini bisa dilakukan.

Namun pertanyaan yang paling -menurut saya- sulit untuk dijawab adalah, Apakah alumni sebuah kampus yang bergelut dengan wacana keilmuan teoritis adakan bisa mendapatkan pekerjaan setelah ia menjadi sarjana?

Mungkin ini bisa jadi sebuah pertanyaan yang lain lagi, namun sekaligus harus dijawab berbarengan dengan keinginan perubahan IAIN menjadi UIN. Memang sulit mengatakan bahwa seorang alumni IAIN bisa eksis di dunia kerja kalau kampus tidak menyesuaikan diri dengan apa yang berkembang. Seorang ahli filsafat Islam alumni Fakultas Ushuluddin misalnya. Ia lulus dengan predikat terbaik di kampus, mau jadi apa? Apa yang bisa dilakukannya? Satu dua orang bisa menjadi peneliti atau penulis, namun berapa banyak yang bisa demikian? Akhirnya mereka akan kembali ke kampung dan hidup seperti masyarakat biasa di sana. Lalu untuk apa kuliah?

Saya sendiri sungguh tidak punya jawaban untuk pertanyaan seperti ini. Jika dengan mengubah Institut menjadi Universitas mampu mengatasi problem ini, maka saya bisa maklumi kalau perubahan itu memang niscaya. Saya ikut mendoakan saja.



Thursday, 9 February 2012

Ibu Muda dan Surat Dikti

Ibu itu masih muda, mungkin tiga tahun lebih muda dari istri saya. Tapi anaknya dua tahun lebih tua dari anak kami. Saat saya tinggal di Jogja tahun lalu, hampir setiap awal bulan kami berjumpa. Saya dan istri, dia bersama anak laki-lakinya, sama-sama pergi ke Mbah Mul, tukang urut kebugaran bayi di Yogyakarta. Karena sering jumpa, kami sering bercerita, termasuk tentang pekerjaan suaminya.

“Masnya kok mau ya, kuliah dengan biaya sendiri jauh-jauh dari Aceh. Suamiku dikasih beasiswa ke Mesir tapi malah lebih suka kerja di sini.”

“Suami mbak kerjanya apa?”

“Itu… bantuin mahasiswa bikin tugas akhir. Katanya, mendingan kerja dari pada sekolah. Kalo sekolah ga bakal bisa beli mobil dan bikin rumah seperti sekarang.”

“Masa sih bantuin bikin tugas akhir mahasiswa bisa buat rumah dan beli mobil?”

“Bisa dong mas. Masku sudah punya banyak skripsi, tesis dan disertasi di komputernya, semua jurusan. Dia juga ada penelitian kerja sama dengan pegawai pusat penelitian universitas di Jogja. Jadi gampang bikin karya akhir. Kalo skripsi paling dua tiga hari udah siap. Kalau disertasi bisa sebulan.”

“Trus dapat berapa untuk satu karya akhir?”

“Itu rahasia”

“Emangnya banyak ya, mahasiswa yang minta dibikini karya akhir begitu?”

“Bukan hanya mahasiswa, dosen juga banyak.Untuk jurna buat naik pangkat. Apalagi pejabat-pejabat yang mau cepat selesai kuliah. Dia mau bayar mahal lho, yang penting cepat selesai.”

***

Melalui surat Nomor: 152/E/T/2012 tertanggal 27 January 2012, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia mengeluarkan kebijakan baru terkait dengan kelulusan sarjana di Universitas. Semua lulusan berbagai strata harus mempublikasikan tulisannya di jurnal ilmiah. Hal ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan publikasi ilmiah di Indonesia yang kalah jauh dari Malaysia. Sebuah niat yang perlu kita apresiasi.

Namun sayup-sayup saya teringat percakapan kami setahun yang lalu di Yogyakarta. Suami-suami lain mungkin akan berfikir untuk melakukan hal yang sama dengan suami si mbak itu. Tidaklah terlalu sulit membuat skripsi, tesis bahkan disertasi, apalagi bagi mereka yang sudah berkali-kali membuatnya. Kopas sana kopas sini, selesai. Bahkan kini sudah ada “jasa konsultasi dan pengolahan data akademik” di internet yang bisa membuat skripsi dalam beberapa hari saja.

Bagaimana dengan karya ilmiah di jurnal? Mereka bisa membuat dengan jurnalnya sekalian. Sangat gampang!!

Begitulah Indonesia.