Friday, 29 April 2011

Rincong Sakti

Sebuah rincong warisan nenek monyang kini kehilangan pemiliknya.Dua hari yang lalu, sang pemilik meninggal dunia dengan tenang. Pada hembusan nafasnya yang terakhir, terucap sebuah pesan, rincong yang kini terselip di pinggangnya akan menghilang seiring nafasnya berhenti. Sesosok makhluk ghaib akan datang mengambil rincong dan menyelamatkannya. Pada satu waktu rincong itu akan dikembalikan ke dunia, jika ada seorang anak manusia yang memenuhi syarat menerimanya. Dan hanya mereka yang sabar dalam kekayaan, rendah hati dalam kekuasaan, ramah dalam kejayaan, punya cinta dalam kemegahan, yang akan mewarisinya.

Rincong itu sebuah rincong sakti yang diwariskan dari indatu sejak zaman batu. Berbeda dengan emas dan perak, rincong berhias zamrut mutiara intan berlian ini diwariskan bukan kepada anak, tidak pada kemenakan, apalagi pada teman dan kerabat. Ia diwariskan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Tidak peduli apakah ia seorang petani, seorang pelayan, seorang tukang batu, abang becak, saudagar kain, ustaz, aktivis, ma blien, atau siapa saja. Selama ia memiliki syarat yang cukup, sosok bayangan yang datang dari alam ghaib akan mengantarkan rincong kepadanya.

Setelah pewaris terakhirnya meninggal dunia, masyarakat mulai membicarakan perihal rincong.Siapakah yang akan mewarisinya kelak? Siapakah yang berhak mendapatkannya? Siapa gerangan orang yang dipilih si makhluk ghaib untuk diselipkan rincong di pinggangnya?

Banyak orang mengharapkan rincong jadi miliknya. Namun semakin kuat ia berharap, semakin jauh rincong darinya. Semakin nampak ia berambisi, semakin menghilang bayangan rincong dari benaknya. Sebab rincong hanya memilih mereka yang tidak berkepentingan dengannya sebagai rincong, namun punya komitmen dan tanggung jawab menjaganya, menyelamatkannya, memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan besar yang bermanfaat untuk orang banyak.

Sebagian orang tidak sabar. Ia berharap rincong ia dapatkan, namun tidak mau memahami untuk apa rincong akan digunakan dan bagaimana mendapatkannya. Ia merasa bangga andai sebilah rincong terselip di pinggangnya. Apalagi jika itu adalah rincong warisan dari alam ghaib yang hanya ada satu-satunya di negeri itu. Ia berhayal dengan rincong di pinggangnya, ia bisa dapatkan apa yang ia mau, ia boleh pergi kemana ia suka, ia mampu penuhi semua hasrat. Dan hidup adalah surga dunia. Namun mimpi ini pula yang menyebabkan rincong semakin jauh darinya. Jangankan melirik, si makhluk ghaib sama sekali tidak teringat padanya.

Sayangnya, saat ini, tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan rincong. Si makhluk ghaib sudah kepanasan menggenggam rincong. Tahun ini ia harus sudah menyelipkan rincong itu ke pinggang seseorang. Bagaimana kalau tidak ada yang memenuhi syarat? Harus ada, batinnya. Sebab ia bukanlah makhluk yang tepat untuk menggenggam rincong. Ia adalah perantara yang membawa rincong dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan waktu itu semakin dekat, sementara seseorang belum ia dapat. Pada sebuah malam setelah maghrib sekonyong-konyong terdengar suara dibawa angin. "Sudah saatnya rincong aku sematkan, tapi tidak ada orang yang pantas dapatkan. Mungkin penglihatanku mulai rabun, telingaku mulai uzur. Sampaikanlah kepadaku wahai manusia, siapa gerangan yang layak mendapatkan rincong dari bangsamu. Antarkan namanya ke bukit anu. Saya menungu hingga mata hari tenggelam pada hari ini di bulan depan."

Negeri itu menjadi gempar. Semua orang hendak mendapatkan rincong. Semua merasa berhak. Semua merasa mampu. Yang dulu pencopet kini jadi penceramah. Yang dulu pembunuh kini jadi pencinta. Yang dulu pendusta kini jadi alim. Yang dilu menipu sekarang jadi amanah. Bukan hanya itu, yang dulu menyimpan hartanya di lemari besi berkunci nuga, kini menghamburkan emas ke jalan-jalan. Yang dulu berlumpur dalam dosa dan kekejian, sekarang berbalut sorban mengharap simpati.Dan simpati mulai datang. Nama-nama mulai diunggulkan. Dan pemilik nama mulai bertengkar. Masing-masing mengatakan dialah yang paling pantas, dialah yang paling unggul, dialah yang paling berhak. Tidak ada yang rendah hati, tidak ada yang sabar, tidak ada yang bicara dengan cinta.Mereka bicara tentang dirinya, bukan tentang siapa yang telah mempercayakan rincong kepadanya.

Makhluk ghaib dari persemayamannya menyaksikan. Semakin bingung dengan keadaan. "Mereka tahu rincong ini untuk seorang yang tabah, seorang yang ramah, seorang yang adil,yang penuh cinta. Tapi kenapa mereka memperebutkannya dengan kekerasan, kesombongan, kekejian, salaing hasut dan fitnah?"

Saturday, 9 April 2011

Milan Seminggu Pandangn

Sebenarnya saya sedikit malu menceritakan pengalaman ini karena khawatir dinilai menderita shock culture. Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Eropa yang selama ini dianggap salah satu kiblat kemajuan peradaban dan perkembangan teknologi. Namun di sisi lain saya juga ingin berbagi pengalaman, khususnya dengan teman-teman yang belum pernah ke sana, siapa tahu bisa tertarik dan menjadi inspirasi dan pelajaran jika satu saat punya kesempatan terbang ke sana, atau menjadi inspirasi untuk melakukan sesuatu di sini, dalam konteks kehidupan pribadi atau sosial kita. Mudah-mudahan cerita sederhana ini ada manfaatnya.

Perjalanan ke Milan

Pergi ke Milan, tentu saja membutuhkan syarat administrasi yang sedikit merepotkan. Karena saya pergi dengan tujuan pendidikan,maka saya membutuhkan visa studi dari kedutaan Italia. Visa studi bisa diperoleh secara gratis (kalau visa lainnya membutuhkan biaya di atas Rp. 500 rb) dengan melengkapi syarat-syaratnya. Kalau telah mengantongi visa, berarti kita sudah memiliki izin masuk ke Italia. Namun karena Italia adalah salah satu dari negara Eropa anggota Schengen, maka kalau bisa masuk ke Italia, berarti bisa juga masuk ke negara-negara Eropa yang tergabung dalam Schengen lainnya, seperti Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, dan lainnya. Tidak termasuk Inggris dan Polandia dan kebanyakan negara di Eropa Barat.

Saya menempuh perjalanan ke Milan dengan menumpang pesawat Emirates, pesawat yang berpusat di Dubai yang usianya jauh lebih muda dari Garuda Indonesia. Namun sekarang maskapai ini telah mengantongi lebih dari 200 penghargaan Internasional dan melayani penerbangan lebih dari 100 tujuan di berbagai belahan dunia. Emirates terbang dua kali dari Jakarta ke Dubai setiap hari, jam enam sore dan jam sebelas malam. Emirates juga banyak ditumpangi oleh TKI yang akan pergi ke Timur Tengah untuk mencari kerja. Bahkan, saat saya berangkat, lebih dari setengah penupangnya adalah TKW yang selalu berkelompok-kelompok dan diaorganisir perjalanannya oleh perusahaan tertentu.

Emirates, dan saya kira maskapai penerbangan internasional yang lain, memberikan fasilitas yang membuat kejenuhan duduk di pesawat selama tujuh jam sedikit berkurang. Selain ada menu istimewa yang disajikan, teh dan kopi kapan saja diinginkan, mie instan, ada juga layar kecil di depan setiap bangku yang memungkinkan semua penumpang untuk menonton, mendengarkan musik atau bermain game sepanjang perjalanan. Bahkan kalau anda punya kartu kredit dan -tentu saja uang yang cukup- anda bisa menggunakan telepon yang disedikan di pesawat. Dari sana anda bisa menelpon siapa saya sepanjang penerbangan. Untuk yang satu ini saya tidak pernah mencoba dan saya tidak tahu bagaimana rasanya. Namun adalah pemandangan yang lumrah melihat orang menggunakan telepon di dalam pesawat selama penerbangan.

Setelah tujuh jam tafakkur di pesawat, kita mendarat di Dubai. Sayangnya saya mendarat malam hari sehingga bangunan-bangunan gedung megah yang selama ini saya bayangkan sebagai maskot kota Dubai tidak nampak. Namun saya sempat menikmatinya saat melanjutkan penerbangan ke Milan dan saat pulang dari Milan. Yang jelas sempat saya nikmati adalah kebesaran bandara Internasional Dubai. Meskipun saya sampai jam 02.00 dini hari, namun keramaian dan kesemarakan bandara masih sangat terasa. Pertokoan yang selalu buka, restoran yang siap menyajikan makanan, toko buku, perhiasan, oleh-oleh, toko handphone dan laptop, dan tentu saja, money changer yang ada di mana-mana. Kalau mau berbelanja jelas anda harus menukarkan uang ke dalam Dirham Uni Emirat Arabyang nilainya sekitar Rp. 2.400,- Atau bisa juga berbelanja dengan Dolar dan Euro di beberapa toko. Tapi kalau mau tidur, di bandara Dubai juga tersedia kursi lesehan yang pas digunakan untuk tidur. Tentu saja jumlahnya terbatas, namun kalau sigap, pasti bisa dapat tempat tidur sambil menunggu jam penerbangan berikutnya. Saya sendiri memilih tidur di di Mushalla yang nyaman bersama peumpang dari Asia Timur yang juga transit di sana. Setelah transit 10 jam, saya melanjutkan penerbangan ke Milan. Dubai - Milan ditempuh dalam waktu lebih kurang enam jam.

Saat memasuki wilyah Italia, dari pesawat yang terlihat adalah pergunungan batu yang menjulang. Namun di bagian selatan nampaknya adalah lahan subur yang hijau. Di sela-sela bebatuan itu ada kota dan jalan yang nampak sangat rapi. Bahkan tidak jarang terlihat ladang gandum yang siap tanam baru saja dikerjakan. Yang pasti, sejauh perjalanan saya di Indonesia dan Malaysia, potret seperti ini tidak pernah terlihat. Indonesia dan Malaysia yang berada di atas garis katulistiwa menyajikan pemandangan hijau dedaunan dan sungai yang berliku. Namun bukan mana yang lebih baik yang penting saya kemukakan, tetapi perbedaan itu adalah keindahan yang menimbulkan kesan tersendiri bagi saya.

Saya mendarat di Malpensa, satu diantara tiga bandara Internasional di Milan. Saat saya mendarat, tidak banyak pesawat di sana terutama dibandingkan dengan Jakarta dan Dubai. Ada sebuah pesawat Thai dan Egyp yang sedang parkir, dan beberapa pesawat kargo. Di Malpensa saya berjumpa dengan seorang perempuan beserta ibu dan bapaknya. Sang perempuan mengatakan ia hendak mengikuti kursus pembuatan sepatu di Milan. Saya tanya, kenapa tidak di Cibaduyut saja? Sambil tertawa, ia mengatakan kalau di Milan ia juga ingin belajar model dan desain modern sepatu untuk membuka usaha di Surabaya nantinya. Sewaktu saya mengurus visa di Jakarta, saya juga berjumpa dengan seorang perempuan yang hendak ke Florence, Italia, untuk belajar teknologi kulit untuk membuat tas, sepatu dan lainnya. Ternyata memang banyak orang Indonesia yang datang ke Italia untuk belajar hal-hal seperti ini. Sayangnya, saya tidak bertemu orang yang mau ke Universitas Milano-Bicocca mengambil Antropologi seperti saya.

Selamat datang Milan

Tidak ada yang terlalu istimewa saat pertama kali tiba di Milan. Sebab pemandangan di sekitar bandara hampir sama saja dengan bandara-bandara lain di Indonesia. Hanya saja, pepohonannya sedang tidak berdaun setelah musim gugur beberapa waktu yang lalu. Saat saya tiba di sana, Milan juga masih lumayan dingin meskipun matahari bersinar terang. Tapi sebuah sweater yang biasa dipakai di Indoensia sudah cukup nyaman dengan kondisi cuaca ini. Oiya, dari bandara Malpensa saya menuju kota Milan dengan menumpang bus Bandara Shuttle Bus yang langsung membawa kita ke terminal sentral di kota Milan (dari terminal ini ada semua pilihan transportasi yang siap mengantarkan anda ke tempat tujuan). Bayarannya "hanya" 7,5 euro (mungkin 90-an ribu rupiah). Bus ini cukup nyaman, dan melaju dengan lancar. Tidak dijebak macet, tidak banyak klakson, dan tidak ada pengamen di dalamnya, hahaha. Saya ditunggu oleh seorang kawan di terminal ini sehingga perjalanan selanjutnya menjadi lebih mudah.

Pada hari setelah menyelesaikan urusan di kampus, saya memanfaatkan waktu unutk melihat-lihat kota Milan. Salah satu yang saya kunjungi pertama kali adalah Duomo, gereja Katolik yang telah berusia lebih dari 1000 tahun. Duomo terletak di tengah kota Milan dan bisa disebut sebagai maskotnya kota Milan. Duomo sendiri bukan satu-satunya bangunan tua di sana, ia dikelilingi oleh bangunan lain yang tidak kalah kalsiknya. Dan di bangunan tua itulah hadir toko-toko pakaian terkenal hingga ke Indonesia. Banyak gadis dan ibu-ibu yang keluar dari toko itu dengan menenteng tas yang berisi belanjaan. Bukan hanya orang Italia, dari face mereka jelas mereka berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dan tentunya, di sini juga kita bisa menikmati kopi khas Italia sambil bermandikan sinar matahari sore yang tepat menyinari Duomo.

Enaknya, Milan memiliki sistim transportasi yang sangat baik. Selain tram, kereta api yang mengikuti jalan raya, ada juga bus, dan Metro, kereta api bawah tanah. Mau kemana saja akan sangat mudah dengan kenderaan ini. Kuncinya pegang saja peta transportasi sehingga bisa melihat kenderaan yang lebih mudah menuju ke tempat tujuan. Untuk tiketnya, bisa di beli di kedai koran yang banyak terdapat di pinggir jalan. Selembar tiket "hanya" (lagi-lagi dalam tanda petik) 1 euro yang bisa dipakai untuk sekali jalan. Jangan lupa gesek tiket ke box elektronik di tram atau masukkan ke dalam bok di pintu masuk terminal Metro. Kalau anda pernah ke Malaysia, model seperti ini pasti tidak asing lagi. Selama saya di Milan memang tidak ada pemeriksaan tiket di dalam tram. Artinya, tanpa tiket sebenarnya kita juga bisa menumpang. Namun kalau ada pemeriksaan dan anda kedapatan tidak memiliki tiket (atau punya tiket namun tidak digesek) anda akan dikenakan bayaran dua kali lipat harga tiket.

Bagi anda yang Muslim, memang sedikit terkendala dengan makanan. Karena saya hanya sebentar di Milan, saya hanya menemukan beberapa restoran yang menyedikan makanan muslim, seperti kebab turki dan makanan Arab. Namun makanan lain yang tidak megandung unsur babi bisa diperoleh di restoran Italia sekalipun. Bahkan ada jenis pizza yang tidak ada unsur babinya, yang diganti dengan terong. Demikian juga ada pasta yang dicampur dengan buah labu yang kelezatannya tidak berkurang, namun tetap bisa dinikmati dengan nyaman. Alternatif lain adalah roti dan buah yang tersedia di toko-toko. Memang sedikit agak sulit kalau terlalu fanatik pada nasi dengan ikan goreng dan kuah lemak ala masakan Padang. Sebab itu perlu masak sendiri. Saya sendiri tidak tahu di mana bisa membeli bahan-bahan masakan khas seperti di negeri kita. Namun saya pernah dengar, di mana-mana di seluruh dunia tidaklah sulit mendapatkan bahan untuk membuat masakan seperti masakan di Indoensia.

Yang khas lainnya di Milan adalah tradisi minum kopi dan bir. Saya kira ini adalah minuman sehari-hari orang Milan (mungkin Italia), apalagi di musim dingin. Warung kopi bisa ditemukan di mana-mana di Milan, di sepanjang jalan. Mereka menyebutnya dengan Bar. Bar bukanlah restoran dengan pesta dansa pada malam hari, di Milan, Bar adalah warung kopi (dan bir) di mana kita bisa menemukan minuman instan. Bagi yang tidak boleh minum bir di sana bisa juga tersedia minum jus jeruk, capucino, dan minuman coca cola, sprite dan lainnya. Dari sisi harga jelas Milan punya standar yang lebih tinggi di bandingkan di Indonesia. Coca cola dalam botol plastik yang di Indonesia bisa kita dapatkan dengan harga Rp.6.000,-. di Milan kita harus bayar 2,5 euro (Sekitar 30 ribu rupiah). Harga ini juga berlaku untuk makanan dan minuman lain.

Sebagai orang Aceh yang memiliki tradisi minum kopi yang sangat kuat, saya menyukai kopi ekspreso ala Italia di Milan. Kopi ekspreso adalah kopi kental pekat yang di isi ke dalam gelas kecil. Itupun tidak penuh, hanya setengah saja. Kita bisa mengisinya dengan gula sesuai dengan selera. Tapi orang italia lebih suka kopi pahit. Ekspreso memiliki aroma kopi yang menusuk dan menggiurkan. Dalam budaya Milan, orang meminum ekspreso (dan juga minuman lainnya) sambil berdiri. Berdiri bisa langsung di meja yang membatasi konsumen dengan menjual, atau di meja tinggi tanpa kursi. Di meja itulah kita bisa berbincang-bincang sambil menikmati kopi sambil tetap berdiri. Beberapa Bar menyedikan kursi di depan tokonya. Orang duduk di sana di bawah matahari yang panas. Dalam kondisi sedikit dingin, berada di panas matahari ini memang disukai banyak orang Milan.

Saya bertanya pada seorang teman dari mana asal kopi yang dikonsumsi di Milan. Menurut sang teman, Italia bukanlah negara dengan produksi kopi yang tinggi. Produksi di Italia hanya bisa mencukupi sebagain kecil kebutuhan mereka. Kebanyakan kopi diimpor dari berbagai negara lain baik di Eropa mampun dari negara lain. Salah satu negara yang mengekspor kopi ke Italia adalah Belanda. Saya jadi ingat ada perusahaan kopi yang sangat besar milik Belanda yang beroperasi di Bener Meriah, Aceh. Perusahaan ini membawa kopi ke Eropa ber ton-ton. Tidak tertutup kemungkinan kopi Gayo inilah yang dikonsumsi di Milan, siapa tahu?

Sehari di Pavia

Saya mendapatkan kesempatan pergi ke Pavia, salah satu provinsi yang bersama Milan masih berada di bawah wilayah Lombardi, dan tinggal di sana bersama sebuah keluarga kecil yang kebetulan kakak leting saya di universitas. Pavia adalah kota dengan pemandangan klasik yang sangat berkesan. Teman saya di Milan pernah berkata kalau Milan adalah kota paling buruk dan semraut di Italia. Jadi jangan pernah mengatakan sudah sampai di Italia kalau hanya mengunjungi Milan. Dan benar saja, sesampai di Pavia (yang hanya 30 menit dengan kereta api) kesan klasik sudah mulai terasa. Pavia dipenuhi dengan bangunan lama era Romawi yang masih dipertahankan. Bangunan-bangunan inilah yang menjadi pemandangan Pavia kemana saja kita pergi. Apalagi saya diajak makan siang di rumah serang temannya yang berada di pedesaan. Rumah itu terletak di tengah perkebunan handum yang siap tanam, sebuah bangunan klasik abad pertengahan. Saya sangat menikmati makan bersama sebuah keluarga Italia pedesaan. Apalgi kebetulan mereka bisa sedikit-sedikit (seperti saya juga) Bahasa Inggris, sehingga komunikasi bisa dilakukan.

Kakak leting saya mengajak saya keliling kota Pavia dengan berjalan kaki. (Anda bisa bayangkan berapa luas kota yang bisa dikelilingi dengan berjalan kaki sore-sore). saya benar-benar tertegun dengan kondisi kota ini. Bangunan lama yang masih dipertahankan saat ini dihuni oleh keluarga-keluarga Italia seperti sebuah apartemen. Jelas orang tinggal di sini orang berada. Sebab tidak mungkin memiliki apartemen klasik ini dengan uang segepok. Harus ada sebuah bundelan tebal untuk menikmati tempat eksotik ini. Dan ini jelas terlihat dari mobil yang diparkir di sepanjang jalan di sekitar bangunan lama ini. Menurut kakak leting saya (yang juga memiliki rumah di kawasan ini), rumah-rumah ini dihuni oleh orang yang hanya tinggal di Pavia, namun bekerja di Milan. Mereka menganggap Pavia sebagai "asrama" sementara aktifitas sesungguhnya ada di Milan.

Diantara bangunan yang paling berkesan bagi saya adalah Univesitas Pavia yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 650. Artinya universitas ini sudah berdiri pada abad ke empat belas masehi. Universitas Pavia adalah salah satu universitas tertua di Italia. Selain Pavia ada Universitas Roma dan Bologna. Yang paling menarik adalah, mereka masih mempertahankan keklasikan bangunannya, desainnya, dan tata ruang di dalamnya. Rasanya begitu memasuki gerbang kampus, suasanya eropa abad pertengahan langsung terasa. Dan saya berdoa agar suatu waktu bisa datang legi ke Universitas ini sebagai tamu akademis, apakah sebagai mahasiswa, sebagai peneliti, atau mempresentasikan makalah dalam sebuah komferensi.

Bangunan lain adalah gereja dan benteng yang dibangun pada abad pertengahan. Sebuah gereja yang merupakan salah satu dari tiga gereja tertua di Italia berdiri di sini. Ia terbangan dari batu bata yang disusun rapi dan batu pualam yang berseri. Ada juga sebuah benteng perang yang masih berdiri utuh. Benteng ini masih dipertahankan bentuk aslinya hingga kini. Banyak orang datang ke sana untuk melihat-lihat benteng. Kebanyakan memang orang Eropa sendiri, dan sebagain orang Cina. Di benteng ini pula kita bisa masuk ke dalam dua buah museum lukisan klasik yang pernah dihasilkan di Pavia. Lukisan-lukisan luar biasa itu ada yang berusia ratusan tahun. Sayangnya saya tidak diperkenankan mengabadikannya dengan kamera.

Malam hari saya diajak keliling di sekitar perumahan klasik itu, bertemu dengan beberapa teman kakak leting saya di Bar, minum kopi dan makan kebab. Ada kebakraban di bar. Saya jadi teringat suasana warung kopi di Aceh. Bedanya, di Pavia orang-orang minum bir dan kopi sambil berdiri atau duduk di jalan dan di lantai. Di Aceh tersedia kursi yang banyak di mana orang-orang bisa duduk ber jam-jam menghabiskan waktu. Saya dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas, harus memaksanakan diri untuk terus berbicara dengan bahasa Inggris mereka yang juga terbatas. Namun karena terpaksa dan dalam suasana yang bersahabat, kendala bahasa seolah tidak ada (saya jadi teringat pengalaman di pedalaman Jawa tengah saat saya menghabiskan waktu tiga jam berbicara dengan seorang orang yang sudah sangat tua. Saat itu beliau bicara bahasa Jawa, saya bahasa Indonesia, sama-sama tidak mengerti, namun saling memahami). Yang ada hanyalah keakraban dan senyum tawa dengan keceriaan masing-masing. Setelah kembali ke Milan keesokan harinya, saya menceritakan pengalaman menakjubkan di Pavia ini pada seorang teman dan berharap ia akan mengatakan kalau saya benar-benar "sudah sampai" di Italia. Namun saya kecewa saat ia mengatakan, "Belum, itu hanya sedikit dari Italia. Kamu harus mengunjungi Padova, Florence, Roma, Bologna dan kota lain untuk mengatakan kamu sudah sampai di Italia. Di sana kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dan luar biasa."

Wah..... Mudah-mudahan saya bisa mengunjungi semuanya, termasuk negara Eropa lainnya. Saya kembali ke Indonesia keesokan harinya dengan pesawat dan jalur yang sama saat pergi, dan Insyaallah akan kembali ke Milan bulan September 2011 mendatang.