Thursday, 31 December 2009

Selamat, Setidaknya Kita Masih Hidup!

Selamat! setidaknya sampai sekarang kita masih diberikan kehidupan. Kehidupan adalah awal dari semua apa yang kita bisa lakukan. Syukurilah kehidupan kepada pemberi hidup dengan menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan diri dan kehidupan orang lain. Janganlah menjadikan hidup yang mengganggu kehidupan orang. Sebab hidup adalah hak asasi setiap orang.

Selamat! setidaknya kita masih diberikan kesehatan sampai sekarang. Kesehatanlah yang membuat kita bisa menikmati kehidupan dengan sempurna. Tanpa kesehatan betapa banyak nikmat Tuhan yang kita tidak bisa gunakan. Kita ada, tapi kita tidak bisa berbuat apa. Syukurilah kesehatan kepada pemberi Sehat, dengan menjaga dan memelihara kesehatan diri dan kesehatan orang lain. Jangnlah jadikan diri sebagai penyakit bagi orang, sebab setiap orang ingin sehat dan dapat menikmati kehidupan.

Selamat! Sampai saat ini kita masih diberikan kecukupan. Kecukupan dalam harta dan kecukupan dalam waktu. Berapapun jumlahnya, yakinlah itu yang terbaik buat kita. Jangan anda hidup dalam bayangan semu dengan angan yang jauh melebihi kemampuan yang anda miliki. Bersyukur atas apa yang ada anda miliki akan menjadikan hidup anda berkecukupan.

Selamat! sampai saat ini kita masih diberikan pengetahuan. Dengan pengetahuan kita bisa tahu bagaimana caranya menikmati hidup, menjaga kesehatan dan mendapatkan harta. Pengetahuan yang menjadikan kita berkembang dan turus menjadi lebih baik. Pengetahuan yang membangun peradaban. Pengetahuan yang menjadikan kita berbeda dengan makhluk Tuhan yang lain. Teruslah mencari pengetahuan sebab pengetahuan adalah anugerah Tuhan yang dititipkan di mana-mana. Hanya mereka yang gigih saja yang akan mendapatkannya.

Selamat! sampai kini kita masih diberikan rasa. Dengan rasa kita bisa menikmati keindahan hidup. Dengan rasa kita bisa merasakan kenyamanan dan keamanan. Dengan rasa kita bisa memahami apa yang tidak tergambarkan dan apa yang tidak terfikirkan. Dengan rasa kita bisa memahami apa yang tidak tertulis. Dengan rasa kita bisa mengetahui apa yang tidak terucap. Syukurilah semuanya kepada pemberi rasa. Hanya Dia yang dapat mempertahankan apakah kita akan tetap memiliki rasa ini sampai akhir hidup atau hanya sampai saat ini saja?

Selamat! Setidaknya kita bisa sampai pada detik ini. Namun hidup bukan hanya sampai sekarang, ia adalah kesinambungan masa lahi dan masa depan. Detik ini adalah bagian dari detik-detik yang panjang yang akan dilalui manusia. Detik ini sama saja dengan detik lain yang pernah ada. Hanya kita yang memberi ia makna berbeda. Karena kita telah memaknai maka nikmatiklah dia sebagi sebuah sesempatan untuk memahami semua apa yang telah kita lalui.

Selamat. Lanjutkan hidupmu esok hari.


Wednesday, 30 December 2009

“Gurita Prita”

Belakangan ini banyak cerita menganai Gurita; Gurita Cikeas, Gurita Kalla, dan Gurita Cendana. Kata Gurita dipakai untuk menunjukkan bagaimana sebuah pusat memiliki jaringan pada berbagai aspek lain yang dikendaikan dari kekuasan pusat tersebut. Gurita cikeas jelas, seperti digambarkan George Junus Aditjondro dalam Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (terlepas benar atau tidak) untuk menegaskan bagaimana SBY memiliki banyak tangan dalam menyalurkan kekayaan yang diperolehnya. Demikian halnya dengan Gurita Kalla (kalau ada), juga untuk mengatakan bagaimana Kalla memiliki jaringan yang luas dalam usaha dan bisnis yang memungkinkannya memanfaatkan jabatan untuk memajukan usaha jaringan tersebut. Saya tidak mengatakan SBY dan Kalla benar-benar memiliki jaringan itu, namun hanya menegaskan bahwa kata “gurita” belakangan ini selalu disebutkan untuk menggambarkan hal itu.

Model Gurita Cikeas terbentuk karena kekuasaan yang ada pada seseorang yang dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya. Hal ini lumrah saja terjadi pada sebuah pemerintahan yang kuat dan didukung oleh kelompok yang solit. Pada masa kekuasaan Soeharto gurita semacam ini tumbuh lebih lebas dan subur. Sudah bukan rahasia lagi Soeharto, anak, cucu dan keluarga besarnya memiliki perusahaan, perkebunan, pabrik dan berbagai macam usaha lain di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok sekalipun. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan kekuataan pemerintahan, dukungan partai mayoritas dan dukungan angkatan bersenjata. Apakah Cikeas sudah memiliki ini? Saya belum yakin, meskipun tidak mau mengatakan tidak ada sama sekali.

Namun demikian, selain gurita sebagaimana saya jelaskan di atas ada satau gurita lain yang tidak kalah besarnya, dan itu adalah “Gurita Prita”. Berbeda dengan Gurita Cikeas, Gurita Kalla, Gurita Cendana, dan gurita lainnya, Gurita Prita terbentuk pada kesatuan misi pembentuknya. Prita bukanlah orang yang memiliki jaringan kuat dan memiliki kekuasaan untuk mengatur “tangan-tangan” guritanya. Ia malah menjadi fokus di mana tangan-tangan yang ada di berbagai belahan tanah air bersatu. Yang bergerak untuk menjulurkan dan memanjangkan tangan bukan dari Prita-nya sebagai titik fokus, namun tangan-tangan gurita tumbuh sendiri dan menuju pada prita. Dan tangan ini dinamakan solidaritas.

Tumbuhnya solidaritas untuk prita karena masyarakat menyadari pentingnya membela dan mendukung pihak yang dizalimi oleh kekuasaan. Dalam hal ini prita menjadi sebuah simbol ketertindasan yang dilakukan oleh kekuasan tersebut. Masyarakat yang selalu mendambakan kehidupan yang adil dan bebas dari kesewenangan penguasa bersatu dalam usaha membebaskan prita dari segala tuntutan. Kemarin (29/12/09), ketika Majels Hakim Pengadilan Negeri Tanggerang memvonis bebas untuk Prita, masyarakat menyambut kebebasan itu sebagai kemenangan bersama masyarakat pencari keadilan.

Kalau Gurita kekuasan harus dimusnahkan dan dibasmi, maka Gurita Prita seyogyanya tidak berhenti sampai di sini. Sebab Gurita Prita terbangun berdasarkan solidaritas masyarakat luas yang ingin menjadikan negeri ini sebagai payung bagi keadilan dan kehidupan yang baik. Gurita Prita harus terus diberikan semangat dan gizi berupa pencerahan dan pengetahuan sehingga ia bisa mejalar pada kelompok yang lebih luas. Saat Gurita ini berkuasa, maka gurita-gurita yang dibangun dan dilahirkan oleh penguasa akan ketakutan dan tidak mau menunjukkan kekuasaannya. Dan itu adalah hari kemenangan rakyat pencari keadilan. Semoga.


Tuesday, 29 December 2009

Politik Bakar Buku

Hulagu Khan, siapa yang tidak kenal? Panglima besar pasukan Mongol yang mengakhiri salah satu episode kekuasaan Islam di Baghdad pada tahun 1258 setelah berkuasa lebih dari 500 tahun. Saat itu pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muktasim Billah (1242-1258) dari Dinasti Abbasiyah. Dalam penyerangannya, selain membunuh para penguasa dan menghancurkan peradaban, ia juga membakar ribuan kitab karangan ulama yang ada diperpustakaan Baitul Hikmah. Perpustakaan ini adalah sebuah pusat penerjemahan dan penelitian para cendikiawan Muslim terbesar yang dirintis sejak masa Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa al-Makmun. Di sana dilakukan alih bahasa dan penafsiran terhadap filsafat Yunani dan juga digunakan sebagai laboratorium bagi ilmuan Islam dalam melahirkan berbagai teori ilmu pengetahuan. Namun kebesaran perpustakaan ini musnah di tangan Hulaghu Khan, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Konon air sungai Eufrat yang membelah Baghdad menjadi hitam terkena polusi abu kertas jutaan buku yang terbakar.

Melompat ke Aceh dalam abad ke 17, di mana Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan pemusnahan terhadap buku-buku karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani pada masa kekuasaan Iskandar Tsani (1637-1641) karena dituduh sesat. Ajaran yang dibawa oleh Hamzah dianggap mengandung pemikiran wahdatul wujud yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan al-Jili. Wahdatul wujud adalah sebuah paham di mana manusia dianggap sebagai titisan Tuhan (wujud bayangan). Oleh sebab itu pada dasarnya manusia tidak memiliki keberadaan esensial, yang ada adalah keberadaan semu. Dalam pemahaman seperti ini wahdatul wujud dipandang menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, dan itu adalah perilaku syirik, dan sesat.

Belakangan, di Aceh peristiwa ini hampir saja terulang. Sekelompok ulama di Aceh menyatakan sebuah ajaran yang dibawa oleh ulama lain sebagai ajaran sesat. Mereka berargumen di dalam buku kecil yang diedarkan tertulis mengenai ajaran-ajaran Abdul Karim Al-Jili yang bernah “bermasalah” di masa lalu. Ulama tersebut meminta masyarakat mengumpulkan buku yang telah terlanjur beredar dalam masyarakat untuk dimusnahkan karena dikhawatirkan meracuni pemikiran umat Islam, merusak aqidah dan menimbulkan kesalahfahaman di kalangan umat.

Bagaimana dengan buku Gurita Cikeas dan beberapa buku yang dilarang oleh Mahkamah Agung sebelumnya? Jelas alasan terpenting yang dikemukakan adalah apa yang disampaikan dalam buku-buku yang dilarang bertentangan dengan pemahaman umum yang berkembang dan atau dikembangkan pemerintah. Memberikan perspektif yang berbeda atas pandangan umum itu bisa jadi sebagai sebuah gerakan anti pemerintah yang bermuara pada penyatuan visi menggulingkan kekuasaan. Sehingga untuk kepentingan proteksi kemungkinan ini pemerintah melakukan langkah awal dengan pelarangan peredaran buku dimaksud. Padahal pelarangan justru menjadikan buku itu semakin dicari dan menjadi semakin diyakini kebenarannya. Sekali titah pelarang dikeluarkan maka seribu kali klarifikasi yang disampaikan tidak akan mempan menghilangkan anggapan bahwa buku itu berisi kebenaran.

Padahal kalau si buku dibiarkan bereda luas dan bebas di masyarakat akan ada penghakiman publik pada isi buku. Masyarakat akan membaca sendiri dan menilai apakah buku itu memang menyampaikan kebenaran atau ia hanya rekayasa si penulis untuk mencari popularitas, atau memancing di air keruh. Atau seperti banyak yang menyarankan silakan jawab buku dengan buku yang lain. Kalau saya tidak salah respon seperti ini pernah dilontarkan oleh Prabowo (atau Wiranto?) kepada Mantan Presiden B.J. Habibie yang menyinggung namanya dalam Detik-Detik Yang Menentukan. Saat itu Prabowo (atau Wiranto?) mengatakan “Saya akan membuat buku untuk mengklarifikasi hal itu.

Jadi bukan dengan melarang dan membakar, tapi dengan menulis buku lain. Dari sini iklim menulis dan mulai bersinar dan ilmu pengetahuan akan menerangi bumi Indonesia.

Monday, 28 December 2009

UAN: Ujian Adu Nasib

Namanya Siti (bukan nama sebenarnya), siswa kelas tiga sebuah Madrasah Aliyah di Aceh Besar. Sejak kelas satu ia menjadi juara umum di sekolah yang dihuni seribuan siswa itu. Matematika adalah pelajaran yang lpaling disukainya. Sejak kelas satu ia mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran ini. Bahkan tidak jarang ia “dimanfaatkan” oleh guru untuk mengajarkan teman-temannya dalam sebuah topik bahasan saat sang guru berhalangan. Ia menjadikan soal-soal matematika sebagai permainan dan mengisi waktu luang. Bahkan ia mejadi duta sekolah untuk mengikuti berbagai olimpiade Matematika di berbagai tempat di Aceh dan Nasional. Memang ia bukan juara nasional, namun di Aceh ia termasuk jagoan dalam pelajaran ini. Tahun lalu.

Tahun lalu pula ia tertunduk lesu di meunasah (langgar) sekolah saat kepala sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang tidak lulus UAN. Satu diantara nama itu adalah namanya. Yang lebih menyedihkan nya, ia tidak lulus di mata pelajaran Matematika. Sementara pelajaran lain yang diujiankan ia mendapat nilai maksimal, bahkan yang tertinggi di sekolah itu. Namun apa daya, dengan ketentuan satu mata pelajaran tidak lewat berarti gatol (gagal total) ia harus menangis menunggu setahun kemudian. Padahal ia sudah mengantongi seurat undangan masuk ke Fakultas Kedokteran sebuah universitas di di Aceh. Dengan kondisi ini jelas ia harus permisi sambil menunduk malu.

Sementara Budi, juga bukan nama sebenarnya” berteriak girang karena ia dinyatakan lulus murni dalam mengikuti ujian itu. Padahal semua tahu kalau ia adalah anak yang jarang pergi ke sekolah, ugal-ugalan, menggunakan narkoba dan sama sekali tidak peduli dengan sekolahnya. Hanya karena ia anak “seorang” yang berpengaruh saja maka ia bisa bertahan dan tetap tercatat di lembaga pendidikan itu. Harinya, jangankan belajar buku saja dia tidak pernah bawa ke sekolah. Datang ke sekola kapan ia suka, pulang kapan ia mau. Mau tegur? Mau keluarkan? Mau pecat? “Bapakh saya si Anu” katanya, yang membuat dewan guru tidak berkutik, sebab itu menyangkut dengan hajat hidup dia sendiri.

Siti hanyalah satu di antara banyak “korban” UAN yang diwajibkan pemerintah pada semua sekolah di Indonesia dengan alasan standarisasi dan kontrol mutu. Namun karena pengawasan yang sangat lemah, plus moralitas pejabat yang sangat rendah, UAN justru berubah untuk kepentingan pejabat mempromosikan diri dan daerahnya. Seorang guru SMP bercerita sama saya bagaimana kepala sekolah meminta mereka untuk mengusahakan agar semua anak lulus UAN. Sebab sang kepala mendapat intruksi tidak tertulis dari kepala dinas untuk kredibilitas sekolahnya. Kepala dinas sendiri sedang berusaha menunjukkan kepada atasannya yang lebih tinggi bahwa di bawah kepemimpinannya lembaga pendidikan di Aceh sukses meningkatkan mutu lulusan.

Dengan cara demikin, maka UAN adalah ajang adu nasib para siswa. Keterlibatan dan teror pemegang kebijakan pendidikan, menjadikan sekolah tidak berdaya untuk menjalankan kejujuran. Anak-anak mendapatkan jawaban entah dari mana. Beredar dari ponsel ke ponsel atas nama “intruksi resmi” Mereka tinggal menghafal 1-a, 2-c, 3-a, 4-d, dan seterusnya, mereka akan mendapatkan tiket lulusan bernama ijazah. Sementara anak yang cerdas dengan kemampuan pribadi yang kuat, memegang teguh kejujuran dan percaya pada kemampuan sendiri, memiliki pemahaman yang baik pada pelajaran yang diikutinya belum tentu mendapatkan kelulusan. Selain ketidak hati-hatian dalam memberikan jawabab, kemampuan yang mereka dapatkan memang dibawah standar yang diharapkan. Ini juga tidak sepenuhnya salah mereka. Sebab fasilitas pendidikan, kemampuan guru, manajemen sekolah semua mempengaruhi kemampuannya dalam mendapatkan ilmu maksimal dari sebuah mata pelajaran.

Saya adalah orang yang setuju jika UAN tidak menjadi ajang vonis mati bagi siswa dalam menentukan kelulusan. Ada banyak faktor lain yang perlu dinilai dalam pendidikan, bukan hanya beberapa mata pelajaran. Sebab kita menamakannya dengan lembaga pendidikan, di mana anak dididik, bukan lembaga pengajaran di mana anak diajar. Pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan yang dilakukan terus menerus dalam berbagai bidang. Mengklaim anak “gagal” dalam pendidikan karena kegagalannya dalam satu mata pelajaran akan merusah semangatnya dalam belajar dan rasa pecaya dirinya dalam menggapai cita-cita.

Saya membayangkan ke depan tidak ada Siti lain yang tertunduk sedih, malu dan putus asa karena kegagalan dalam mata pelajaran yang ia faforitkan dan tidak ada Budi lain yang tertawa mengejeknya: “Apa juga juara umum!”

Tulisan saya yan lain bisa dilihat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

Ajong Baki Turun Haji

Namanya Ahmad, tapi di kampung ia sering dipanggil hanya dengan Mat. Ia jualan bakoeng (tembakau) sejak muda hingga sekarang, sehingga nama bakoeng menjadi identitasnya pula, Mat Bakoeng. Tidak ada yang tidak mengenalnya di kampung itu. Selain orangnya ramah, sopan, sosial, ia juga satu-satunya pedagang bakoeng di kampungnya. Tahun lalu ia naik haji dari hasil usaha jualan bakoeng. Pasti uangnya halal karena bukan hasil korupsi atau manipulasi bestek bangun jembatan dan jalan. Setelah pulang dari tanah suci orang menyematkan Haji di belakang namanya, jadilah Haji Bakoeng, nama aslinya “mat” tidak dipakai lagi. Namun karena orang kampung suka membolak-balikkan nama, namanya juga menjadi korban, ia dipanggil dengan Ajoeng Baki kebalikan dari Aji (haji) Bakoeng. Sampai sekarang nama itulah yang tersemat padanya. Ia tidak peduli dan menikmati saja, yang penting tembakaunya laris.

Belakangan ini, setiap jumpa dengan saya di warung kopi Lem Baka ia selalu bernostalgia tentang pengalamannya naik haji tahun lalu. Ia nampak begitu kagum dengan pengalaman tersebut. Sebenarnya apa yang ia ceritakan tidaklah terlalu istimewa bagi banyak orang yang sering bepergian ke luar negeri bahkan ke luar kota. Misalnya tentang badan pesawat yang besar, pelayanan pramugari di dalam pesawat, bandara yang luas, hamparan padang pasir antara Madinah dan Makkah, bangunan bertingkat, gunung yang tandus, orang Afrika yang hitam, besar dan kuat, kerumunan jamaah yang menggunakan pakaian putih, masyarakat Makkah yang “tidak sopan” dan lain sebagainya. Namun bagi Ajong Baki, ini adalah pengalaman yang luar biasa ketika ia naik haji. Pengalaman ini selalu diulang dan poles lagi pada kesempatan yang lain. Ia merasa sangat tahu tentang Makkah dan Madinah, tentang administrasi haji, tentang pembangunan di Arab Saudi dan kebijakan pemerintah di sana. Tentu saja ini menggelikan, namun saya mendengar saja dengan khidmad, apalagi rambutnya sudah mulai beruban dan ia butuh orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.

Saya mendapatkan banyak Ajong Baki lain belakangan ini setelah mereka pulang menunaikan ibadah haji. Yang menjadi menarik dalam perjalanan ibdah ini bukan pengalaman “beribadahnya” namun pengalaman melakukan perjalanan ke luar negeri dan melihat pemandangan yang berbeda di negeri orang. Sementara pengalaman beribadah yang seharusnya menjadi esensi dari perjalanan itu menjadi terabaikan. Sepertinya di sana, para jamaah hanya melaksanakan rukun dan wajib haji sebagai “syarat sah” melaksanakan ibadah haji. Selebihnya mereka menikmati perjalanan dan pengalaman baru pergi ke negeri orang dan berjumpa dengan orang yang berbeda.

Ini sungguh menyedihkan. Haji adalah rukun Islam yang terakhir yang diwajibkan sekali saja seumur hidup. Hakikat dari menunaikan ibadah haji adalah pengalaman spiritual penghambaan diri kepada Allah di “Rumah-Nya.” Seharusnya pengalaman yang muncul adalah pengalaman beribadah tersebut, pengalaman bagaimana nikmatnya berzikir, bagaimana semangatnya beribadah, bagaimana ibadah tanpa lelah, ibadah lebih khusyu’, ibadah menjadi “kebutuhan” dan lain sebagainya. Sebab Ka’bah menjadi kiblat kaum muslimin dalam melaksanakan shalat sehari-hari. Maka kalau shalat di lakukan di sana, maka mi’rajnya menjadi lebih dekat dan lebih mudah, lalu kenikmatan dalam beribadah juga semakin besar. Sayangnya, hal ini hanya diceritakan oleh sedikit orang yang baru pulang dari sana.

Saya yakin ini ada kaitannya dengan tingkat keterasingan masyarakat kita dari “kampung dunia.” Jarang sekali masyarakat Indonesia yang berada di kampung-kampung melakukan perjalanan ke Luar Negeri. Bukan hanya karena tidak mampuan secara ekonomi, budaya berwisata juga tidak berkembang baik di negara kita. Jarang-jarang orang mau jalan-jalan ke luar negeri meskipun ia mampu melaksanakannya. Jadinya, ketika “wisata wajib” itu dilaksanakan, maka ia berdecak kagum dan begitu terpesona, lalu lupa hakikat ibadah yang hendak dilaksanakannya.

Kalau memang tidak mugkin pemerintah mendorong agar masyarakat Indonesia juga sering ke luar negeri untuk jalan-jalan (jangan hanya pejabat saja menghabiskan uang negara untuk pelesiran atas nama studi banding) maka perlu pemahaman budaya dan penjelasan spiritual ibadah kepada mereka yang hendak ke tanah suci di masa yang akan datang. Jangan hanya gara-gara melihat pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di negaranya, mereka lantas lupa bahwa mereka sedang melaskanakan sebuah prosesi ibadah besar yang perlu ketenangan dan keseriusan. Kalau tidak maka Ajong Baki lain akan terus lahir. Bagaimana?

Petuah Punggawa Bola

Saya suka dengan ungkapan-ungkapan bijak penuh emosi dari siapa saja, terutama para sufi yang menjadi objek kajian saya selama ini. Namun sebenarnya saya suka ungkapan itu dari siapapun keluarnya, termasuk dari Punggawa bola. Jujur saja, saya tidak terlalu suka menonton bola, namun sedikit suka membaca beritanya. Di antara berita yang paling saya sukai adalah ungkapan-ungkapan para pelatih dan pemain dalam menyikapi pertandingan yang akan mereka lakonkan atau yang telah mereka lalui. Bagi saya apa yang mereka ungkapkan sebenarnya bukan hanya dalam konteks persepakbolaan saja, namun juga bisa diimplementasikan dalam kehidupan yang lebih luas.

Lihatlah bagaimana Puyol, kamten Barcelona FC merespon eforia kemenangan supporter dan fans Barca di seluruh dunia atas kesuksesan timnya merebut enam piala dalam tahun 2009 ini:

“Kami harus tahu jika kami tak bisa selalu menang dan kami akan kalah pada suatu ketika. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah untuk tetap kuat dan terus menatap ke depan. Kami harus terus berjuang, tetap sadar jika apa yang sudah kami lakukan akan sulit untuk dilakukan lagi, tapi kami harus menjaga sikap kami, meningkatkan kemampuan diri setiap harinya dan terus berusaha. Tak ada hal yang lebih baik selain bisa meraih kemenangan. Kami semua senang dan atmosfernya luar biasa karena dalam diri kami sendiri ada pertanyaan ‘mengapa kami harus kalah jika kami bisa menang?”

Apa yang diungkapkan Puyol merupakan refleksi dari sikap percaya diri dengan sikap rendah hati yang sangat diperlukan oleh semua orang dalam menghadapi hidup ini. Di satu sisi ia mengaku senang dengan apa yang telah diperoleh timnya belakangan ini, dan itu tentu saja itu manusiawi. Namun ia mengingatkan orang lain dan dirinya sendiri bahwa tidak selamanya kemenangan akan berpihak padanya, suatu saat ada kemungkinan kalah. Dan semua harus bersiap menerima kekalahan. Namun demikian, yang harus dilakukan adalah selalu memberikan yang terbaik dan berusaha kuat untuk mewujudkan kemenangan dan kesuksesan. Kemungkinan kalah memang ada, namun kalau kemungkinan menang juga ada kenapa tidak berusaha untuk menang? Menang dalam kehidupan.

Ungkapan lain yang saya kagumi dari Punggawa Bola adalah penghargaan kepada orang lain dengan tidak bergantung padanya. Guardiola, arsitek tim Barca menyikapi kemungkinan absennya Messi dan Xavi dalam sebuah pertandingan. Keduanya adalah pilar Barca yang amat penting dalam mewujudkan kemenangan. Namun Mr. Pep mengatakan:

“Mereka memang dua pemain penting, namun di sini kami selalu melakukannya secara bersama-sama. Jadi jika mereka tidak bisa bermain, kami masih mempunyai sebelas [pemain lagi] dan peluang untuk menang masih tetap terbuka. Untuk itu kami butuh sekali dukungan fans. Mereka tidak pernah gagal terhadap kami dan kami selalu mendapatkan dukungan mereka semua untuk bisa menang.”

Sikap Guardiola ini mencerminkan bagaimana ia tidak mau tergantung pada satu atau dua orang yang “istimewa” dalam timnya. Ia sangat percaya bahwa sebuah kemenangan dan kesuksesan bukan karena si fulan atau si fulen saja, namun karena kerja sama antar orang-orang yang terlibat di dalam lapangan dan di luar lapangan semuanya. Bahkan penonton yang ada di sekitar lapangan juga seolah menjadi pemain keduabelas dalam sebuah tim. Bagi saya ini pula yang berlaku di luar lapangan. Kemenangan, kesuksesan, keberhasilan sebuah tim bukan hanya karena ada backing dari pihak tertentu, namun karena kerjasama yang baik dari seluruh elemen yang ada dalam kelompok itu.

Sikap lain yang saya pelajari dari pesepak bola adalah penghargaan pada pihak lain secara sportif dan tulus. Cristiano Ronaldo, pemain termahal di dunia yang dibeli Real Madrid dari Mancester United dengan ksatria menilai bahwa kesuksesan Barcelona memborong enam gelar dalam satu tahun itu sebuah hal yang pantas mereka dapatkan:


“Barcelona telah memenangkan segalanya di dunia, dan menjadi klub terbaik saat ini. Gaya bermain mereka terus mengalami peningkatan, dan para pemainnya telah bermain bersama-sama dalam jangka waktu lama. Ini adalah tim dengan level tertinggi.”

Namun pujian kepada pihak lain diiringi dengan tekat dan kepercayaan diri yang kuat untuk menjadikan timnya mendapatkan penghargaan yang sama:

“Kami di Madrid harus berbuat lebih baik lagi, dan berusaha memenangkan trofi Liga Champions. Tentu saja tidak akan mudah, tapi di sepakbola segala sesuatunya bisa terjadi. Seperti yang pernah saya bilang, Madrid mempunyai kesempatan untuk juara, tapi Barca yang memenangi semuanya. Mereka adalah tim yang hebat, serta berharap bertemu Barca di final [Liga Champions] di Madrid, dan mengalahkan mereka.”

Tiga Punggawa Bola yang saya angkat di atas hanya beberapa diantara orang hebat yang saya kagumi karena kehebatan mereka di lapangan dan karena ungkapan mereka yang jujur, penuh penghargaan dan motivasi. Tentu saja bukan mereka saja, masih banyak pesepakbola yang lain, atlet lain yang memiliki ungkapan bijak pula, sengaja atau tanpa sadar. Dan bagi kita yang penting adalah bagaimana mengambil pelajaran dari semuanya untuk kebaikan hidup diri kita, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Insyaallah.

Sunday, 27 December 2009

Sebuah Kenangan bersama ARTI

Desember 2009 ini secara resmi berakhir aktifitas Aceh Research Institute (ARTI) di Aceh. Berakhirnya peran lembaga ini menjadi sebuah ending yang mengharukan bagi banyak orang yang pernah terlibat di sana. Selama tiga tahun terakhir ARTI telah melakukan peran penting sebagai mesin produksi lahirnya peneliti-peneliti muda Ilmu Sosial dan Humaniora di Aceh. Meskipun kantornya ada di Banda Aceh, namun ARTI menjangkau berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Malikussaleh dan STAIN Malikusaleh di Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Aceh Tengah dan Universitas Teuku Umar Aceh Barat. Di sana peneliti Aceh masa depan dikaderkan dengan bimbingan dan arahan intensif dari peneliti senior lokal, nasional dan internasional.

Saya adalah satu di antara orang yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam mesin produksi peneliti ARTI. Meskipun saat ini belum lahir sebagai seorang peneliti handal, namun saya sudah melihat jalan itu dan tahu arahnya. Bola ada di kaki saya, apakah saya akan membawa diri ke sana atau tidak itu adalah pilihan, usaha, nasib, dan doa; saya sendiri yang menentukan. Namun ARTI telah melakukan tugasnya dengan baik, membuka mata pada realitas yang lebih besar, menunjukkan bahwa Aceh adalah ladangnya penelitian sosial, mengatakan bahwa di sana, di mana-mana orang begitu bersemangat bicara ilmu pengetahuan, dan petunjuk-petunjuk lain yang diberikan.
Apa yang dilakukan ARTI bagi saya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Dengan sistem pelatihan yang berbeda dengan apa yang saya peroleh sebelumnya, dengan keseriusan, ketegasan, kedisiplinan yang diterapkan, dengan fasilitas dan pendampingan yang disediakan, saya dengan jujur mengatakan bahwa ARTI telah melakukan yang terbaik untuk saya bahkan jauh di atas apa yang saya bisa bayangkan. Saya yakin ini pula yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Saat saya ikut kelas ARTI level Pertama, saya berjumpa dengan Prof. David Reeve, penulis biografi terkenal. Salah seorang tokoh Indonesia yang ditulis dengan begitu apik adalah Ong Hok Ham, orang Tionghoa yang lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri. David memperkenalkan dasar-dasar penelitian dengan begitu renyah. Sebelumnya saya membayangkan sebuah penelitian begitu rumit. Beberapa kali belajar metodologi penelitian saya disuguhkan dengan berbagai teori dan pengertian yang tidak pernah saya ketahui maksudnya secara pasti hingga sekarang. Namun hal ini menjadi berbeda di tangan David. Penelitian adalah berusaha menulis apa yang kamu ingin tulis. Bagaimana caranya, itu terserah kamu. Kamulah yang tahu bagaimana melakukan pekerjaanmu sendiri. Orang boleh mengatakan apa saja, namun yang harus memutuskan adalah kamu sendiri, sebab kamu yang tahu akan menulis apa, tentang apa, lokasinya di mana, orangnya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya terkesan dan terkesima, ternyata peneliti itu adalah saya sendiri dan sayalah yang menentukan langkahnya.

Ketika saya dipanggil untuk masuk ke level kedua saya berjumpa dengan Arskal Salim, Adlin Sila, dan Eka Srimulyani. Para peneliti muda yang pengalaman pelitiannya sudah mendunia. Arskal Salim adalah dosen UIN Jakarta yang melakukan penelitian di Aceh dalam beberapa topik. Ia memiliki berpengalaman yang kaya dalam penyusun proposal penelitian yang berhubungan dengan funding internasional yang sering membiayai penelitian. Dan darinyalah kami menuntut “Ilmu Proposal”, tentang bagaimana membuat proposal yang baik. Sebab, kata Arskal, tidak ada proposal yang benar atau proposal salah. Sebuah proposal –selama dibuat dengan serius- telah melewati tahapan pemikiran dan kontemplasi yang panjang. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah bagiamana menjadikannya lebih baik. Dan proposal yang baik adalah proposal yang jelas masalahnya apa, tujannya untuk apa, dan bagaimana anda akan melakukan penelitian. Kalau tiga hal ini sudah jelas maka yang lain akan menyusul pula, hanya perlu ketekunan dan keseriusan saja.

Kemudian, yang tidak mungkin saya lupakan adalah pelatihan tahap ketiga. Dalam tahapan ini peserta dibimbing oleh tiga pembimbing sekaligus; lokal, nasional dan internasional. Saya teringat ketika ibu Laura Yoder, direktur ARTI tahun 2008 mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira: Selamat, anda berhak mengikuti pelatihan tahap ketiga. Ini adalah awal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya ditawarkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pembimbing saya untuk penelitian yang saya ajukan: “Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet.” Saya memilih orang yang saya sudah kenal dalam dunia akademik meskipun belum kenal secara fisik. Pembimbing lokal saya memilih Bapak Aslam Nur, dosen Antropologi Agama di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Untuk Nasional saya memilih Prof. Irwan Abdullah, Direktur (sekarang mantan) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dan untuk pembimbing internasional saya memilih (atas saran dari Laura) Prof. Anthony Reid, sejarawan yang telah menulis beberapa buku dan jumlah artikel ilmiah yang tidak terkira mengenai sejarah Aceh. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Seorang anak kampung yang baru bisa berbicara bahasa Indonesia dalam usia 17 tahun, berjumpa dengan orang-orang besar adalah anugerah yang tiadatara. Dan di bawah bimbingan merekalah saya belajar melakukan penelitian.

Saya ingin cerita sedikit tentang dua orang pembimbing saya, Anthony Reid dan irwan Abdullah. Bagi saya Toni adalah sebuah kebun ilmu yang sangat luas. Wawasan dan pengetahuannya terbentang tak bertepi. Setidaknya begitulah yang saya lihat dalam konsultasi pertama kali bersamanya. Saya bagaikan sebuah gelas yang kecil dan ia adalah ember besar penuh air ilmu. Tatkala air di dalamnya dituangkan, sangat banyak yang tercecer dan terbuang karena keterbatasan tempat penampungan yang saya miliki. Saya hanya menangkap sedikit sekali dari ilmunya. Meskipun, dengan keterbatasan komunikasi karena kendala bahasa, saya tahu ia telah berusaha menyesuaikan memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkat atau kadar keilmuan saya.

Dalam konsultasi pertama yang saya laksanakan dengan Anthony saya mendapatkan banyak pengetahuan. Yang paling berkesan adalah, cara pandangannya mengenai sebuah masalah kecil dalam konteks yang besar. Semula saya berfikir, apalah artinya penelitian mengenai kenduri kematian dalam masyaraat Kluet. Ini hanyalah masalah kecil dan tidak menyelesaikan apa-apa dan tidak menjelaskan banyak hal. Namun tatkala Toni sedikit demi sedikit mebawa saya ke cakrawala ilmu yang berkembang di dunia, saya mulai sadar bahwa apa yang saya lakukan dalam membahas kenduri dalam masyraklat Kluet bukan sekecil yang saya bayangkan. Ia berada di antara semaraknya kajian keilmuan dalam bidang yang sama yang telah dilakukan banyak orang lain. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengerjakan dan tertarik dengan bidang ini.

Prof. Irwan Abdullah saya umpamakan dengan sebuah kebun pengetahuan serba ada. Meskipun ia memperkenalkan diri sebagai antropolog, namun dalam diskusi bersamanya ia ternyata menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan metodologi ilmu-ilmu. Pertemuan pertama saya bersamanya tatkala ia datang ke Banda Aceh untuk sebuah urusan. Ia menelpon saya dan mengajak saya minum kopi pagi di warung kopi Cek Yuke jalan Tepi Kali. Bagi saya ini sungguh menyenangkan. Kapan lagi bisa duduk dengan Profesor Antropologi UGM? Saya akan memanfaatkan waktu untuk maksimal menggali ilmu darinya. Dan apa yang saya pikirkan benar terwujud. Dalam diskusi bersamanya, keran ilmunya mulai dibuka dan sedikit demi sedikit airnya mengalir. Awalnya saya katakan, saya kesulitan dalam menentukan sistematika sebuah tulisan. Lalu ia mulai mendiskusikan tulisan saya dan membuat coretan yang sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan dan yang paling penting itu adalah model untuk tulisan apapun juga. Darinya saya juga belajar semangat menulis. “Coba kamu pikirkan, apakah saya, sebagai seorang direktur sekolah pascasarjana UGM, memiliki waktu untuk menulis dan melakukan penelitian?” Saya bayangkan, sebagai seorang dosen muda dan baru saja saya sering tidak cukup waktu, bagaimana lagi dengan seorang Prof. Irwan? Ternyata saya salah. Ia mengatakan tulisanya terbit hampir setiap bulan di berbagai jurnal ilmiah. Ia juga menulis sendiri makalah seminar, modul mengajar dan materi pelatihan. Kapan itu dilakukan? “Kitalah yang menetukan waktu untuk menulis, bukan waktu yang mengatur kita.” Lalu ia menjelaskan beberapa tips yang dapat digunakan. Misalnya memulai dengan membuat kerangka, mengisi ide pokok, pengembangkan paragraf, dan seterusnya. Saat mendengar penjelasanya, rasanya keesokan hari saya bisa menulis lima artikel akademik. Tapi ternyata, saya masih saja belum bisa selancar yang saya bayangkan.

Memang saya akui saya tidak dapat melakukan penelitian tahap tiga dengan maksimal, terutama dalam bagian akhir penelitian sampai penulisan hasilnya. Pertama karena kesibukan pembimbing nasional dan internasional saya. Prof. Irwan Abdullah adalah direktur Sekolah Pascasarjana yang tidak mungkin datang ke Aceh dan menemani saya di lapangan, jauh di pedalaman Kluet Timur Aceh Selatan. Demikian juga Anthony Reid yang tinggal di Singapura. Saya berjumpa dengan mereka beberapa kali saja, selebihnya berkomunikasi dengan e-mail. Sebagai orang yang masih sangat awam dengan penelitian seperti ini, maka saya masih sangat kesulitan dalam mewujudkan banyak saran dari pembimbing saya tersebut. Namun masalah paling berat adalah ketika pada 10 Agustus 2008 bapak saya tercinta meninggal dunia. Beliau adalah orang Kluet, beliau mengetahui banyak adat budaya Kluet. Beliau menjadi teman diskusi saya selama di lapangan, bahkan tidak jarang diskusi sampai pagi. Setelah beliau meninggal dunia, sangat berat bagi saya untuk membaca catatan lapangan dan hasil wawancara saya di lapangan. Sebab penelitian saya juga mengani kenduri kematian. Sehingga membuka file-file penelitian itu saya langsung terbayang wajahnya, tawanya, semangatnya, kasih sayang dan cintanya. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memisahkan saya sebagai seorang peneliti dengan saya sebagai anak yang memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan artikel penelitian saya meskipun paling terlambat dibandingkan teman-teman yang lain.
Dan yang sangat-sangat tidak mungkin terlupakan adalah bimbingan, pencerahan, kuliah, diskusi yang dilakukan dalam sela-sela program pelatihan yang dilaksanakan.

Saya ingat sekali bagaimana Ibu Melly dan Eve selalu mengirimi SMS bahwa akan ada seorang ahli datang ke ARTI dan dia bersedia memberikan kuliah dan bimbingan. Di waktu lain ada SMS yang isinya ada pemaparan hasil penelitian sementara dari seorang mahasiswa internasional yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Pernah juga seorang ahli dalam bidang tertentu datang ke ARTI dan kami berkumpul untuk mendiskusikan berbagai temuan sementara di lapangan dan mencari pemecahannya bersama.
Hal di atas masih ditambah dengan berbagai pelatihan lain yang saya ikuti di kampus dan di luar kampus. Di IAIN Ar-Raniry saya megikuti sebuah pelatihan metodologi penelitian bagi dosen. Saya juga mengikuti pelatihan metodologi penelitian bencana alam di Yogayakarta. Pada pertengahan 2009 saya mengikuti metode penulisan makalah ilmiah di USU Medan. Di ARTI sendiri diadakan pelatihan penulisan artikel untuk buku kompilasi. Semua menerpa saya untuk dapat maju dan berusaha menggapai yang terbaik.

Apa yang saya dapatkan dari ini semua? Tidak terhingga dan tidak terkira, mungkin ini jawaban saya. Saya merasa “lebih nyambung” saat mendiskusikan penelitian dengan siapapun di bandingkan dulu. Harus saya akui saya kewalahan dalam teori-teori dan istilah yang rumit, terutama dalam penelitian angka-angka. Namun alhamdulillah saya sedikit diberikan kemudahan oleh Allah dalam membahas penelitian-penelitin sosial lapangan. Saya merasa lebih percaya diri dalam menceritakan dan membincangkan penelitian kepada orang lain. Saya lebih mudah membagi pengetahuan mengenai penelitian dengan teman dan mahasiswa. Saya lebih mudah dan terbimbing dalam menulis, walaupun masih jauh dari sempurna. Dan banyak hal lain. Yang sangat penting adalah saya memiliki semangat yang menggelora untuk terus belajar menulis, melakukan penelitian, mendiskusikan ilmu pengetahuan dalan lain sebagainya. Saya tahu bahwa di balik semua ini salah satunya ada ARTI.

Saat ini saya sedang menyelesaikan peneltian saya mengenai Adat Gayo bersama Internasional Center foa Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Awal Desember 2009 saya mempresentasikan sebuah hasil penelitian saya di International Posgraduate Conference di Yogyakarta. Di kampus saya mengasuh mata kuliah Metodologi penelitian. Beberapa teman mulai menjadikan saya sebagai salah seorang teman disksui dalam membuat penelitian. Bagi saya ini adalah rahmat keilmuan yang Allah berikan melalui serangkaian pelatihan bersama ARTI.

Hanya karena penguasan bahasa Inggris yang sangat buruk sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal dalam diri saya ketika mau mengembangkan diri lebih baik lagi. Dan persoalan bahasa ini pula yang membuat saya masih terus menunda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan meskipun terasa sangat berat. Hanya ada satu keyakinan bahwa ini bukan “hil yang mustahal” untuk diwujudkan.Saya masih mengimpkan suatu saat saya dapatmelanjutkan pendidikan di tempat yang pebih maju dan memiliki iklim akademik yang menyenangkan.

Akhirnya saya ingin mengatakan terima kasih Arti, Pak Michael, Ibu Barbara, Ibu Laura, Pak Harold, Eve, Ibu Melly, Ibu Eka, David, Arskal, Adlin, Kamaruzzaman, Irwan Abdullah, Anthony Reid, Aslam Nur, dan semua teman-teman pelatihan ARTI Level I, II dan III. Mudah-mudahan apa yang telah saya peroleh dari ARTI menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


Saturday, 26 December 2009

Tsunami: yang Tersisa Adalah Pelajaran (5)

Peristiwa itu terus mejauh. Tanggal 26 Desember 2009 kali ini berarti telah lima tahun ia berlalu. Namun gempa dahsyat, gelombang hitam, gerombolan manusia yang melarikan diri, lautan genangan air hitam, mayat-mayat yang berserakan, puing rumah yang roboh, anak-anak yang mejerit mencari orang tuanya, orang tua yang menangis kehilangan anaknya, manusia yang terurai ususnya terbaring tanpa pertolongan, seorang gadis kecil yang kehilangan sebelah lengannya, seorang orang tua yang kehilangan matanya, seorang ibu yang kehilangan kakinya, masih terbayang jelas di pelupuk mata. Rasanya gambar itu terukir dan tidak mungkin hilang lagi. Begitu jelas, begitu hidup, begitu nyata, sampai kini.

Namun saya yakin pula bahwa hidup bukan hanya untuk mengenang itu saja. Ada banyak hal lain yang perlu dilakukan. Bencana memang datang, prahara memang terjadi, kekacauan, konflik, perebutan kekuasaan selalu terulang dan terulang. Tapi hidup tetap harus dilalui dengan perjuangan dan kebahagiaan. Terlarut dalam duka dan kenangan masa lalu akan menghantarkan manusia pada masa lalu itu dalam hayal dan mimpinya. Ia terbuai dan terlalai dengan mimpi itu hingga ia lupa realita yang ada di depan matanya. Dan tidak ada yang diperoleh oleh orang yang demikian selain penyesalan dan kegagalan. Kita harus bangkit dan bersemangat!

Semangat saya semakin bangkit tatkala ribuan orang datang dari berbagai daerah dan negera bahu-membahu menampakkan kepedulian mereka untuk membantu masyarakat Aceh bangkit kembali. Malam kedua pasca bencana langit Banda Aceh dipenuhi oleh pesawat yang datang setiap menitnya. Beberapa diantaranya harus terbang berputar di udara untuk menapatkan “giliran” mendarat. Mereka membawa orang yang hendak membantu meringankan penderitaan korban tsunami dan membawa banyak bantuan yang diperlukan; makanan, pakaian, obat-obatan, selimut, tenda, dan lainnya. Sehingga pada minggu pertama saja ratusan tenda pengungsi telah dilengkapi dengan posko kesehatan dan tenaga medis. Bukan hanya tenaga kesehatan dari Indonesia, namun juga dari manca negara. Pasukan militer dari Jerman, Malaisya, Amerika, Australia, Jepang, Inggis, Rusia dan dari berbagai negara lain mendirikan tenda pelayanan bagi pengungsi. Saya takjub, mereka begitu siap, begitu lengkap, begitu rapi terkoordinasi. Kehadiran mereka sungguh membuat semangt hidup saya bangkit kembali.

Beberapa bulan kemudian, kala bantuan darurat itu selesai, disusul pula bantuan jangka panjang, fisik dan mental intelektual. Saya adalah salah satu orang yang “bangkit” dengan berbagai bantuan tersebut. Dua bulan setelah tsunami saya bekerja dengan Nonviolence International selama delapan bulan. Kemudian saya bergabung dengan British Red Cross Society (BRCS) untuk program community development, di Aceh Jaya. Bekerja dengan lembaga asing, berteman dan bergaul dengan orang yang berbeda daerah dan negara menjadikan saya seolah lupa bahwa saya adalah bagian dari korban. Saya malah merasa orang yang harus membantu teman-teman, saudara-saudara, masyarakat Aceh yang menjadi korban tsunami. Bekerja dengan mereka saya belajar banyak hal, tentang pergaulan, manajemen, keuangan, kedisiplinan, kepemimpinan, fasilitasi dan lain sebagainya. Nampak saja saya bekerja, padahal sesungguhnya saya sedang belajar. Dan belajar adalah terapi untuk mental saya yang droup dan trauma setelah musibah itu melanda.

Wujud bantuan dan kepedulian Indonesia dan Dunia pasca tsunami terus berlanjut pada hitungan bulan dan tahuan kemudian. Kepada masyarakat yang rumahnya hancur dibangun kembali rumah, walaupun tidak sebaik dan seindah sebelumnya. Kepada mereka yang hilang mata pencaharian diberikan modal usaha. Kepada mereka yang tidak memiliki keterampilan diberikan pelatihan. Kepada mereka yang tidak memiliki biaya pendidikan diberikan beasiswa. Pemerintah Aceh dan kabupaten kota, baik yang terkena tsunami atau tidak juga mendapatkan bantuan yang besar. Banyak bangunan yang didirikan dengan bantuan dari berbagai negara, banyak fasilitas yang disediakan dengan sumbangan masyarakat Internasional. Banyak pelatihan, seminar, workshop yang digelar untuk kemajuan sumber daya manusia di Aceh oleh berbagai organisasi nasional dan Internasional. Dan berkah yang paling besar adalah terwujudnya perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tanggal 15 Agustus 2005. Sungguh, bagi saya ini adalah berkah dan nikmat yang tiada terkira. Andai mereka tidak ada atau tidak peduli, mungkin Aceh hari ini adalah sebuah kota tua yang terhapus dari peta dunia.

Saya berjumpa dengan orang yang merasa dizalimi dan tidak puas dengan semua bantuan itu. Ada mereka yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan semua yang diberikan untuk korban tsunami. Ada juga yang sampai hari ini masih tinggal di tenda-tenda karena mereka terabaikan dari pantauan pemberi bantuan. Di sebalik itu ada mereka yang memanfaatkan bantuan untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya. Ada yang menggunakan data korban untuk mencari uang. Tidak sedikit pula yang “mengemis” mengatakan ia adalah korban tsuami untuk membangkitkan emosi iba pada orang lain dan memberinya bantuan. Bagi saya itu adalah fenomena manusiawi yang ada dan terjadi di mana saja di dunia ini.

Satu hal yang pasti, setelah bencana besar itu terjadi lima tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang tak terkira besarnya. Pelajaran tentang fenomena alam, tentang keterbukaan, tentang kerja sama dan bantuan kemanusiaan, pelajaran kehidupan dari masyarakat yang berbeda, pelajaran tentang berbagai ilmu kehidupan yang kaya yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di kesempatan lain dalam hidup saya. Dan saya berterima kasih kepada semua yang memberikan perhatian itu, sejak hari pertama tsunami hingga hari ini. Terima kasih Indonesia, terima kasih dunia.

Friday, 25 December 2009

Menulis Itu Sebagian Dari Iman

Kalau dalam sebuah hadits disebutkan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka saya yakin pula kalau menulis juga sebagian dari iman. Sebab menulis menyebabkan orang tahu kalau ada hadits yang mengatakan demikian. Andai menulis tidak ada, atau andai apa yang dikatakan Nabi tidak tertulis, mungkin ucapannya kini hilang ditelan zaman. Menulislah yang menyelamatkannya, maka menulis itu sebagai dari iman.
Almarhum Hamka, orator, ulama dan sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan, “tulisalah apa yang baik orang lakukan atau lakukanlah apa yang baik orang tuliskan.” Hal inilah yang akan menjadikan seseorang tercatat dalam buku stambuk dunia. Sebab seorang penulis atau seorang yang melakukan hal-hal yang perlu ditulis akan hidup lebih lama dari ajalnya. Sementara mereka yang tidak menulis atau melakukan hal-hal yang layak ditulis akan mati sebelum ajalnya tiba.

“Saya hanya menulis apa yang saya benar-benar lakukan,” kata Paulo Coelho, penulis novel best seller sepanjang zaman, The Alchemist. Sebab tanpa melakukan, maka tulisan bukanlah keluar dari hati namun hanya sebuah kamuflase semata. Pembaca mungkin saja tertipu dengan olah kata dan diksi puitis dalam sebuah tulisan sehingga mempengaruhinya masuk dalam alam tulisan itu. Namun tulisan yang tidak sesuai dengan kepribadian penulisnya tidak akan menadapatkan nilai di sisi yang Maha Menulis, Dia yang menulis segala apa yang terjadi pada ciptaan-Nya. Sementara seorang penulis yang menulis sekaligus melakukan apa yang ditulisnya akan mendapatkan nilai double, dari manusia yang mendapatkan manfaat dari tulisannya dan dari Tuhan yang Maha Menulis. Bahkan jika ia menulis tentang kebenaran yang mendapatkan cacian dan ejekan dari manusia lain, Tuhan tetap memihak padanya. Dalam koteks inilah Bunda Taresha pernah mengatakan bahwa teruslah berbuat baik meskipun orang memandang perbuatanmu hina dan tercela. Sebab pada akhirnya perbuatan baik itu bukanlah antara engkau dengan mereka, namun antara engkau dengan Dia di Sana.

Teruslah menulis sebab itu akan membuat catatan amal baik kita menjadi lebih banyak. Menulis membantu para malaikat yang bertugas mencatat amalan kebajikan dalam menilai perbuatan kita. Mereka terbantu karena tulisan kita adalah bukti tidak terbantahkan dihadapan Tuhan atas apa yang telah kita lakukan di dunia. Tulisan yang kita buat sekarang akan merekam siapa saja yang membacanya dan siapa saja yang mengambil manfaat darinya. Suatu saat kelak, ketika hari pembalasan tiba, ia akan menjadi saksi di hadapan Tuhan bahwa apa yang kita lakukan telah meberikan manfaat yang besar untuk banyak manusia. Ia akan menceritakan siapa yang membacanya dan siapa yang mengambil manfaat darinya kepada Tuhan. Dan berdasarkan laporan itu Tuhan akan menganugerahkan satya lencana Surga bagi penulisnya. Amin…


Thursday, 24 December 2009

Pengabdian dan Masa Depan (4)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2006. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------

Saya mendapatkan makan pagi di rumah famili setelah berjalan kaki 4 km. Kemudian saya dipesankan untuk melihat nenek yang ada di Kp. Keuramat, sekitar 7 km dari rumah itu. Berbekal sebuah sepeda kecil saya menelusuri jalan di Kota Banda Aceh pas sehari setelah tsunami. Sengaja saya memilih jalan utama kota untuk menyaksikan bagaimana peristiwa ini meluluhlantakkan semua yang ada di kota ini. Sayangnya berjalan dengan sepeda pada hari kedua tsunami sama saja dengan membawa sepeda. Artinya bukan kita yang naik ke atas sepeda, tapi sepeda yang harus digendong. Sampah-sampah bercampur mayat menggunung di sepanjang jalan. Saya dengan terpaksa, kadang sengaja terkadang tidak, harus menginjak mayat yang ada di sepanjang jalan itu (Kepada mayat yang merasa saja injak, saja mohon maaf).

Pada hari itu beberapa mobil yang datang entah dari mana sudah mulai membersihkan jalan. Banyak orang mulai mencari saudaranya yang hilang. Ada juga yang mencari kenderaan atau benda berharga di dalam puing-puing rumahnya yang ditinggalkan. Namun tidak sedikit ada orang yang sangat tidak bermoral, hari itu mereka datang untuk mengumpulkan emas dan barang berharga yang ada di tubuh dan pakaian jenazah korban tsunami. Saya tidak tahu mereka datang dari mana. Semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk kejahatan itu.

Saya mendapatkan saudara saya yang di kampung Keuramat selamat. Mereka sempat naik ke lantai dua hingga air yang penuh di lantai satu rumah itu tidak mencederai siapapun. Namun tidak ada yang dapat diselamatkan di dalam rumah. Semua barang, mobil, motor, buku, lemari dan lainnya hancur dimakan air. Kami mencoba turun dari lantai dua dengan menyusun beberapa lemari dekat jendela. Sebab lantai satu, jalan yang ada tangganya sudah tertutup sama sekali. Lalu dari sana kami berjalan dan mencari tempat yang aman. Setelah membawa mereka ke rumah famili yang lain, saya kembali ke Rukoh dan sekitarnya untuk membantu mengangkat jenazah yang berserakan di pinggir jalan dan di dalam rumah. Saat itu sudah banyak orang yang bekerja untuk mengangkat jenazah.

Keesoan harinya (hari selasa), saya baru sadar kalau tamu di rumah famili di Lambaro sudah sangat banyak. Beras, air, makanan lain yang ada di sana tidak mungkin mencukupi untuk orang sejumlah itu. Dengan tiga orang laki-laki lain yang ada di sana kami menempuh perjalanan ke Peunayong (10 km) untuk mencari makanan. Di Peunayong kami mencari makanan yang terbuang yang masih bisa dimanfaatkan. Saya mendapatkan minyak goreng dan sekardus Indomie. Teman saya yang lain mendapatkan roti dan makanan yang lain lagi. Inilah yang kami bawa pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sampai di rumah saya kelelahan dan hampir tidak daat bergerak lagi. Tangan, kaki, dan badan saya semuanya seperti patah-padah tidak berdaya. Saya tertidur telentang dan fana. Baru sadar keesokan harinya. Saya tertidur 14 jam.

Saya katakan sama Makcik pemilik rumah bahwa saya tidak mungkin berpangku tangan atas kejadian ini. Saya ingin melakukan sesuatu. Memang saya korban, namun kesedihan, kerugian, pederitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan banyak orang lain yang juga menjadi korban tsunami. Saat itulah saya pergi ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman di Asrama Pascasarjana IAIN Banda Aceh. Asrama ini menampung 300 kk pengungsi dari seputaran IAIN. Di sana antara lain ada Bapak Prof. Rusjdi, Rektor IAIN Ar-Raniry dan Prof. Muslim, ketua MPU Aceh. Mereka mengungsi karena rumahnya juga diterjang gelombang. Selain mereka ada juga dosen lain dan masyarakat di sekitar kampus.

Beberapa hari kemudian kami membentuk Pusat Koordinasi Pasca Bencana (PKPB) atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Saya salut dengan Prof. Muslim yang pada masa itu langsung berfikir untuk melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi sosial masyarakat untk bentuan pasca bencana. Sebab saat itu, seminggu setelah Tsunami, banyak bantuan yang datang namun tidak terdistribusi dengan merata. PKPB rencanya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak lain hingga bantuan tidak tumpang tindih sementara banyak pengungsi yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Sayangnya PKPB hanyalah kelompok kecil, sehingga untuk melakukan itu tidak memiliki bergaining yang kuat. Jadinya, PKPB melakukan servey ke beberapa lokasi yang disinyalir tidak mendapatkan bantuan lalu memberikan info kepada organisasi yang menangani bantuan untuk menyalurkan ke sana.

Sebulan setelah tsunami adalah bulan pengabdian. Bergabung dengan teman-teman saya mencoba melakukan apa yang paling baik untuk menjadikan kehidupan dalam kesedihan itu bisa bersemangat kembalai. Pada akhir bulan Januari 2005 kami sempat menyelenggarakan pertemuan pertama berbagai tokoh dan unsur masyarakat mengenai rehabilitasi pasca bencana. Seingat saya inilah pertemuan pertama menyusun rancangan pembangunan Aceh pasca Tsunami. Salah satu rekomendasinya adalah perbaikan jalan. Sebab katanya, orang Aceh kalau ada jalan tanpa bantuan yang lain juga bisa hidup dan bangkit kembali. Sayangnya jalanlah yang terakhir dibuat. Hingga saat ini, lima tahun pasca tsunami, Barat-Selatan Aceh masih terisolir karena tidak ada jalan.

Hidup adalah Saling Memberi (3)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-----------------------------------------------------------------------
Di tengah kerumunan orang saya melihat manusia yang tidak sempurna. Ada yang tanpa kaki, tanpa lengan, usus yag keluar, tanpa mata sebelah, dan kebanyakan tanpa nyawa. Beberapa orang berinisiatif menutupi jasad tanpa nyawa itu dengan kain yang ada di badannya, lalu seorang bapak paruh baya mengatakan, tutuplah yang masih hidup dan dirimu sendiri. Jaga yang masih hidup agar tetap hidup, iklaskan yang telah meninggal dunia. Pakaian tidak berarti apa-apa untuk mereka. Kitalah yang memerlukan pakaian sekarang. Kalau pakaian ini kita berikan kepada yang telah mati, apa yang akan kita gunakan untuk mngusir dingin nanti malam? Petuah bapak paruh baya ini dipatuhi. Mayat-mayat yang tergeletak disana akhirnya terbuka tanpa tutupan sama sekali. Hanya beberapa lembar tikar lusuh dan kertas koran dari asrama yang digunakan untuk menutupinya.

Lalu saya meminta izin kepada adik perempuan saya untuk pergi. Saya sudah pastikan mereka selamat dan sementara itu cukup. Saya harus membantu banyak orang yang mungkin bisa diselamatkan. Turun dari asrama saya mencoba menyusuri jalan yang berlumpur di depannya. Pemandangan mayat dan orang sakit ada di mana-mana. Saya membantu beberapa orang menganggat orang yang terluka. Tiba-tiba sala melihta sepotong tangan bergerak di tengah lumpur. Tangan itu melambai-lambai sambil berucap: Allah… Allah…. Allah… Seorang anak muda lari ketakutan. Tangan tanpa kepala itu disangka hantu. Saya dan seorang teman jadi penasaran. Tidak mungkin hantu mengucapkan lafaz suci nama Ilahi. Kami mendekati tangan hitam legam itu. Ternyata seorang orang tua yang terkubur lumpur. Lalu kami mengangkat orang itu dan membawa ke asrama.

Hari itu saya habiskan untuk membantu mengangkat jenazah, sampai sore. Sedikit waktu saya sisakan untuk mengantar makanan kepada adik-adik saya di asrama. Makanan yang saya peroleh dari sebuah kulkas yang hanyut (Seandainya ada yang merasa sebagai pemilik kulkas itu izinkan saya telah mengambil beberapa potong kue dan beberapa buah jeruk di dalamnya). Lalu kami berjalan kaki 6 km ke Lambaro Angan, rumah famili yang tidak terkena tsunami karena jauh dari lautan. Di sana berkumpul banyak famili lain dan saudara dari famili itu. Sehingga rumah kecil tiga kamar itu menjadi penuh sesak. Sebuah tenda darurat harus segera dibangun di depannya karena di dalam rumah tidak cukup tempat. Saya sendiri kembali ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman lain yang tidak ada saudaranya di Banda Aceh. Sangat tidak enak rasanya membiarkan mereka “terbuang” tanpa kebersamaan.

Malam hari kami tidur seputaran masjid dan perpustakaan Induk Unsyiah. Di sana tidur dan berkumpul banyak orang, entah dari mana saja asalnya. Pemandangan korban tsunami semakin beragam. Di atas masjid saya menjumpai beberapa orang dengan usus terburai di laur badan tidur dengan berlapis koran. Beberapa orang lainnya merintih kesakitan karena anggota badannya yang hilang. Namun hanya sedikit yang dapat terlayani, sebab kebanyakan mereka harus melayani diri sendiri. Di Masjid itu juga kami sering harus berlarian karena ada isu tsunami yang lebih besar muncul lagi. Katanya, air sudah smpai ke Rukoh dan dua kali lebih besar dari pagi tadi. Dan itu terjadi beberapa kali. Sampai ada inisiatif dari pengurus masjid untuk menjamin kebenaran informasi. Jam 11.00 malam pengurus masjid mengumumkan lewat microfon bahwa yang memiliki otoritas untuk menyatakan benar atau tidaknya info tsunami hanyalah pengurus masjid, selebihnya tidak boleh dipercaya. Kalau pengurus mengatakan ada air laut naik, maka larilah. Kalau sumber informasi tidak jelas, maka baikan saja. Sejak saat itulah kami sedikit lebih tenang dan dapat tidur dengan nyenyak.

Saya tidak memiliki kain selain baju yang menempel di badan. Di sebuah aula dekat perpustakaan ada dipajang beberapa papan bunga yang berisi ucapan selamat pernikahan yang dilaksanakan paginya. Saya dan beberapa orang yang lain merusak papan bunga itu dan mengambil kain dasarnya. Ternyata pemilik bunga menggunakan kain bludu yang agak tebal untuk ditusuk dengan jarum bunga. Setelah bunga-bunga itu saya buang saya mendapatkan selembar kain tebal yang luas dan sangat hangat. Cukup untuk mebungkus badan dan menghabiskan sisa malam itu. Dengan kain itu saya mencari posisi di tengah orang-orang yang sudah berbaring di sembarang tempat di sekitar masjid dan perpustakan. Di sebuah tempat kosong, di antara tubuh-tubuh yang terbujur lelap saya membaringkan diri berselimut kain bunga.

Saya bangun ketika matahari sudah naik sehasta dan menyilaukan mata. Meskipun masih ngantuk dan lelah saya mencoba bangun dan menggerakkan badan. Ketika keluar dari bungkjusan kain selimut dan membuka mata saya sedikit heran kanapa orang-orang yang tidur di samping kanan dan kiri saya juga belum bangun. Mereka masih tidur dengan tenang dan nyaris tanpa gerakan. Beberapa detik kemudian saya baru sadar kalau di sana adalah tempat meletakkan jenazah korban tsunami yang sudah ditutp dengan berbagai macam benda, kain, goni, daun, koran dan lain sebagainya. Padahal pagi tad saya ikut mengantarkan jenazah ke sana, namun saya lupa. Semalam fenomena ini tidak nampak karena gelapnya malam sehingga saya tidur di sana bersma mereka. Dan ketika pagi datang saya baru tahu kalau semalam saya tidur diapit oleh jenazah-jenazah korban tsunami. Pantas saya bermimpi masuk surga.

Artikel ini juga dimuat di:
www.sehatihsan.blogspot.com
www.kompasiana.com/sehatihsan

Wednesday, 23 December 2009

Manuskrip Yang Tertindas

Kemarin (22/12/09), seharian saya mengikuti seminar pernaskahan Nusantara yang dilaksanakan Oleh LSM PKPM Aceh bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Topik utama seminar ini adalah melihat begaimana perkembangan upaya penyelamatan naskah lama (manuskrip) yang ada di Aceh dan dinusantara pada umumnya. Bagi saya ini menarik karena persoalan manuskrip bukan hanya masalah ilmuan semata, namun juga masalah politik. Kesadaran yang rendah akan manuskrip di kalangan pemerintah menyebabkan banyak kekayaan cagar budaya berbentuk naskah kuno berpindah tangan kepada ilmuan asing dan bangsa asing yang kemudian menyimpannya di perpustakaan negara mereka. Ilmuan Indonesia yang memiliki ketertarikan dengan naskah tersebut atau ada usaha untuk mengkaji berbagai perkembangan sosial dalam sejarah Indonesia harus datang ke luar negeri, ke museum-museum dan perpustakaan di Belanda, Inggris, Amerika, Jepang dan Jerman untuk mendapatkannya.

Dalam seminar terungkap beberapa pengalaman teman-teman yang melakukan usaha penyelamatan naskah kuno di Aceh dan Indonesia umumnya ketika berhadapan dengan sistem kebijakan pemerintah. Misalnya, ketika mereka membutuhkan kertas penempel untuk naskah yang rusak dan bolong, mereka harus memesannya di Jepang. Meskipun Indonesia bisa membuatnya, namun kebutuhan yang sangat sedikit membuat perusahaan tidak mengeluarkan kertas tersebut. Di Jepang, kertas itu mereka beli dengan harga sekitar 5 juta. Namun ketika masuk ke Indonesia, pemerintah mengenakan pajak barang Impor senilai 11 juta. Padahal kertas tersebut jelas untuk kepentingan penyelamatan naskah kuno Indonesia dan bukan untuk kepentingan komersil.

Pengalaman lain adalah kedatangan kolektor ke daerah-daerah, seperti Aceh, Riau dan Padang yang menjadi “gudang” naskah kuno Melayu. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, terutama Malaysia, Inggris, Belanda, Jerman dan Amerika. Naskah tua mereka beli dengan harga murah (tapi mahal bagi masyarakat kita). Lalu naskah tersebut dibawa ke negeri mereka. Pihak imigrasi di Bandara tidak pernah mempermasalahkan dan menangkap barang tersebut. Padahal jelas itu termasuk benda cagar budaya yang dijamin penyelamatannya oleh undang-undang. Dengan cara ini maka naskah-naskah lama mulai berpindah ke luar negeri. Saya tidak tahu persis apakah bandara tidak memiliki sistem untuk mengetahui manuskrip yang dibawa keluar atau mereka tidak peduli, apalah arti sebuah buku lama.

Apa akibatnya? Saat ini para cendikiawan Indonesia yang hendak melakukan penelitian mengenai naskah kuno dan perkembangan masyarakat di Nusantara dalam sejarah, harus datang ke negara lain untuk mendapatkan bahannya. Di sana untuk melihat dan mendapatkan focopynya mereka harus membayar mahal. Namun tidak ada pilihan lain karena Indonesia sendiri tidak menjaga dan melestarikannya. Pemerintah nampaknya tidak peduli dengan masalah ini karena pemahaman yang kurang mengenai manuscrip dan kegunaannya. Sampai sekarang, setelah dimulai tahun 2003, Perpustakaan Nasional baru menyelesaikan restorasi (penyelamatan) sekitar 1300 naskah kuno (termasuk peta dan surat). Padahal indonesia adalah gudang bagi manuskrip kuno tersebut. Dengan pola kerja seperti sekarang Perpusnas butuh waktu 150 tahun untuk menyelesaikan semua naskah yang tersedia.

Alhamdulillah, belakangan ini ada sebuah keinginan baik dari berbagai negara lain untuk “mengembalikan” manuskrip Indonesia. Pengembalian ini bukanlah dalam bentuk fisiknya, sebab hal ini tidak mungkin, selain mereka tidak mau, Indonesia pasti belum siap untuk mejaganya. Mereka akan mengembalikan dalam bentuk digital. Untuk manuskrip Aceh di Belanda sudah dilakukan tahun lalu. Semua manuskrip Aceh bisa diperoleh secara online di www.acehbooks.org. Kita masih menunggu “kebaikan hati” negara lain untuk melakukan hal yang sama sehingga sejarah bangsa kita bisa dikaji oleh naka Indonesia sendiril

Agaknya diperlukan sebuah badan khusus untuk mpenanganan Naskha dan manuskrip kono di Indonesia. Kalau pemerintah membuat Badan Arkeologi Nasional, seharusnya ada juga Badan Manuskrip Nasional, agar manuskrip hasil karya bapak bangsa yang ratusan tahun yang lalu dapat diselamatkan dan dipelajari kembali.

Semoga.

Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
------------------------------------------
Sukses menyelamatkan diri dari kejaran Tsunami ternyata bukan akhir dari pejalanan hari itu, malah sebaliknya, awal dari semua perubahan yang saya alami sampai saat ini. Saya berlari lebih kurang 1,5 km dari rumah sampai benar-benar selamat dari amukan gelombang. Di Darussalam, tepatnya di lokasi kampus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, ternyata banyak orang berkumpul. Sebab di sanalah ujung dari gelombang dahsyat itu. Saya berjumpa dengan banyak teman yang juga “berhasil” menyelamatkan diri. Saat bertemu kami bercanda, tertawa, mengisahkan kehebohan yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Sama sekali saya, dan juga beberapa teman, tidak sadar ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah sejarah Aceh dan mungkin juga sejarah Indonesia.

Sampai tiba-tiba kami dihebohkan dengan sekelompok orang yang mengangkat sesosok jenazah laki-laki telanjang dari dalam air yang masih tergenang. Orang-orang berkerumun menyaksikan jenazah itu. Mungkin sebagian ingin tahu itu jenazah siapa, namun banyak pula yang hanya ingin melihat saja kondisi jenazah yang tidak lazim itu. Sebelum semua orang dapat melihat, dari arah lain sudah terdengar kabar ada jenazah yang lain lagi, dan bagitu seterusnya. Muka-muka senang dan penuh canda yang kami perlihatkan sebelumnya mendadak kecut dan takut. Saya berjalan agak ke Barat, dekat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Di sana ada sebuah jalan yang mengarah ke dalam lautan air gelombang yang sedang surut. Tiba-tiba seorang perempuan setengah telanjang, berkulit putih, sedikit gemuk dan agak pendek diangkat dari air. Itu persis seperti ciri-ciri adik perempuan saya. Tiba-tiba jantung saya berdetak cepat. Saya lupa diri dan kalut. Tidak peduli dengan air gelombang yang surut dengan begitu deras, saya masuk dan berenang. Niat hati hanya satu, memastikan kondisi tiga orang adik perempuan saya plus dua adik sepupu yang tinggal di desa Rukoh, sebuah desa yang turut hancur terkena tsunami.

Saya berusaha berenang dan sesekali berjalan mengarungi air gelombang yang sedang surut. Tempat di mana saya berjalan pada dasarnya memang sebuah jalan umum, namun gelombang lautan yang naik tiba-tiba menjadikannya sebagai sebuah sungai. Saya berusaha terus berjalan dan sesekali berenang. Setelah 100 meter saya lalui, air sudah mulai mengering hingga menjadi selutut. Saya bisa berjalan lebih cepat ke arah rumah adik saya meskipun dengan sebuah perjuangan keras karena air surut yang sangat deras.

Perjalanan itu menimbulkan kesan yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Untuk pertama kali, saya melihat beberapa jenazah tersangkut di pagar dan di dalam mobil. Sebuah mobil angkutan yang penuh sesak dengan penumpang terbalik ke selokan di pinggir jalan dengan seluruh penumpang di dalamnya tewas menggenaskan. Banyak jenazah tertutup lumpur dan hanya terlihat bagian tertentu dari badannya. Kebanyakan jenazah itu terbuka pakaiannya hingga telanjang. Mungkin ganas dan putaran air yang sangat kuat menjadikan semua yang melekat pada tubuh mereka lepas dan hilang. Saya juga melihat beberapa potongan tubuh yang tidak utuh. Di atas sebuah sampah yang menumpuk saya lihat sebuah potongan tangan yang badannya sama sekali tidak ada di sana. Belum lagi beberapa peralatan rumah tangga masyarakat yang berhamburan ke tengah jalan. Mobil, motor, kulkas, mesin cuci, dispenser, kompor gas, gas kompor, semuanya berserakan di tengah dan sekitar jalan yang saya lalui.

Tapi saya tidak bisa peduli dengan itu semua karena pikiran dan perasaan saya masih berkecamuk. Bagaimana nasip adik-adik saya? Dengan kondisi yang saya saksikan di sepanjang jalan, membuat saya semakin khawatir nasib mereka. Saya terus berjalan hingga sampai di ujung jalan, di mana ada tiga asrama mahasiswa Unsyiah berlantai tiga yang penuh sesak dengan manusia. Saya mencoba menuju ke sana, sebab bangunan itu tidak jauh dari rumah kosan adik saya. Ketika saya masuk ke pagar halaman yang di sisi kirinya tersangkut mayat seorang bapak tua, sebuah suara serak penuh tangisan memanggil saya dari lantai dua. Saya kenal pasti dengan suara itu, dan itu adalah adik perempuan saya. Setetes air mata meleleh di pipi saya. Setidaknya satu orang pasti selamat. Lalu saya bergegas naik ke lantai dua bangunan yang penuh sesak itu. Alhamdulillah, saya berjumpa dengan tiga orang adik perempuan saya dan dua adik sepupu. Mereka semuanya selamat. Hanya saja rumah dan semua isinya hancur lebih diterjang tsunami. Saya teringat dua lemari buku yang berisi lebih kurang 600 judul buku plus makalah, majalah, jurnal, kliping, dll yang saya “titip” di rumah mereka. Semuanya wa’fuanna, innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Renungan:


Saya kalang kabut, tidak hati-hati dan ceroboh. Perasaan sedih dan duka membuat saya bertindak tidak hati-hati. Saya “terjun” ke dalam air begitu ingin tahun kondisi adik saya. Padahal saya hanya punya pakaian di badan satu-satunya dan handphone di dalam kantong. Saya juga masuk ke dalam air yang masih deras. Saya bertindak tanpa ilmu. Handphone saya sebenarnya sudah selamat, namun ia menjadi korban kecerobohan saya. Untung saya selamat dalam air surut yang di tempat lain memakan banyak korban. Seharusnya saya sedikit berfikir dan tenang sebelum bertindak.

Bagian I

Tuesday, 22 December 2009

Memori Tsunami: Ilmu dan Amal (1)

Artikel ini saya tulis untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------------------------------------------------
Pagi itu saya bangun agak awal dari biasanya. Maklum minggu, jatahnya olahraga bagi kebanyakan anak kos di tempat saya. Saya dan beberapa teman kosan yang lain bermain bola di depan rumah kontrakan kami yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Saat kami asyik dengan sikulit bundar, berteriak, berlarian, tiba-tiba sebuah getaran dari pusat bumi datang, disusul dengan ayunan tanah yang maha dahsyat. Pepohonan yang ada di sekitar rumah bergoncang layaknya ditiup sangkakala kiamat. Kami menjauh dari pepohonan dan duduk berkerumun di tengah halaman sambil memandang pohon yang berayun. Takut kalau-kalau tumbang ke arah kami. Dari lidah kami keluar ucapan: “lailaha illallah” berulang-ulang. Meudo’a oh wate saket, Meuratep oh wate geumpa, kata orang Aceh. Sindiran untuk orang yang menyebut nama Allah hanya pada saat sakit dan dalam bencana.

Sepuluh menit kemudian gempa berhenti. Dari wajah kami terpancar rasa ketakutan, kekhawatiran, was-was dan berbagai macam perasaan lain yang tak tergambarkan. Saya, selain orang yang paling tua dan paling lama tinggal di sana, juga yang paling “senior” menjadi tempat teman-teman bercerita perasaannya. Kami berkerumun di bawah pohon akasia yang masih teguh berdiri dan mulai bertukar cerita tentang perasaan mereka diguncang gempa selama sepuluh menit. Tidak semua, beberapa diantaranya mengejar sarang burung yang jatuh dari pohon kelapa. Ada anak burung yang masih kecil jatuh dari sana. Katanya itu burung tiong meuh (tiung emas – maaf kalau bahasa indonesianya keliru) yang bisa dijual mahal kalau sudah mulai tumbuh bulu dan mulai bisa terbang.

Kebetulan saya punya sedikit pengetahuan tentang tsunami. Saya becerita kepada teman-teman mengenai berbagai peristiwa tsunami yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, misalnya Bayuwangi. Tsunami adalah naiknya air laut ke daratan sampai jauh. Hal semacam ini sering terjadi di Jepang. Biasanya tsunami terjadi setelah gempa besar melanda. Ada banyak penyebab kenapa ini terjadi. Diantaranya adalah terjadinya sebuah retakan di dasar lautan yang menyebabkan air masuk ke dalamnya, lalu ketika air penuh maka terjadi gelombang balik ke daratan dan akan menghancurkan kehidupan di sana.

Saya ingat bagaiamana teman-teman saat itu menyimak apa yang saya katakan dengan hati-hati. Mereka paham bahwa itu adalah sebuah realitas yang alami dan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Pelajaran penting yang kami catat bahwa gempa dan tsunami bukan karena Tuhan sudah mulai bosan apalagi marah dengan apa yag dilakukan anak manusia di bumi-Nya, namun itu adalah bagian dari cara Dia mengatur tata kehidupan bumi agar semakin stabil dan berjalan lancar.

Itu hanya lima belas menit. Saya kemudian mandi dan mengganti baju. Rencananya saya akan pergi ke rumah paman karena ada sedikit pekerjaan yang harus saya lakukan. Sepuluh menit menunggu angkot tapi tidak juga kunjung datang. Tiba-tiba dari arah jembatan Lamnyong, 100 m dari tempat saya berdiri, orang-orang berkerumun mengatakan kalau air laut naik ke darat. Lari…. larii…. air laut naiik…. Teriakan itu diulang-ulang. Saya bukannya lari menjauh tapi justru lari ke jembatan. Penasaran bagaimana wujud air laut yang naik ke darat tersebut. Namun langkah saya terhalang oleh gerombolan besar manusia yang lari menjauh.

Saya bergegas kembali ke rumah. Saya ingat di dalam tas saya ada kunci toko teman yang saya pinjam dua hari sebelumnya saat saya ingin mengetik di komputernya. Saya berniat mengambil kunci tersebut, siapa tahu bisa menyelamatkan orang ke dalam toko kalau-kalau airnya besar. Bergegas pulang dan masuk ke dalam kamar lalau mengambil kunci. Saat keluar saya melihat sebuah gelombang hitam pekat, tinggi dan kekar, seolah ingin mencengkram semua benda di depannya, membawa kayu, papan, seng, droum, sampah segala jenis, berlari kencang mengejar saya. Saat itu, dengan kekuatan entah dari mana, saya lari menjauh. Saya tidak bisa lagi sampai ke pintu keluar pagar komplek karena terlalu jauh. Sehingga terpaksa langsung melompat pagar kawat berduri yang berada lima meter dari tempat saya berdiri. Wallahu’a’lam. Entah dari mana tenaga, pagar setinggi satu meter setengah itu berhasil saya lewati. Hanya sebuah goresan memanjang di kaki saya (saya baru sadar tiga hari kemudian) terkena duri pagar. Saya lalu main kejar-kejaran dengan gelombang hitam. Ada jarak 10 meter di antara kami. Namun kekuatan gelombang yang semakin melemah dan akhirnya pecah membuat pelarian saya tidak terlalu jauh. Inilah yang kemudian disebut tsunami.

Renungan:


Saya sedih dan kecewa, kenapa pengetahuan saya mengenai tsunami tidak menggerakkan saya untuk mengajak masyarakat mengungsi dan lari. Saya hanya bercerita tapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan saya. Andai waktu itu apa yangs aya ketahui saya sampaikan kepada banyak orang, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang terselamatkan, atau setidaknya akan banyak barang berharga bisa diselamatkan pemiliknya.

Bersambung ke Bag.II: Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

Sunday, 20 December 2009

Tasawuf Gaul

Tiba-tiba saya ingat cerita seorang teman yang dulu kuliah di UIN Jakarta tahun 1998, beberapa bulan setalah Sueharto lengser. Dalam sambutan pelepasan jenazah Prof. Harun Nasution, Pjs. Rektor UIN Jakarta, saya lupa nama beliau, mengatakan: “Pak Harun ini Sufi, tapi beliau Shalat.” kalimat pendek ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, memang kalau sufi tidak shalat? kedua, apakah seseorang yang melakukan shalat tidak bisa jadi sufi?

Dalam belantara wacana pemikiran keislaman, tasawuf sering kali diposisikan sebagai ajaran yang meninggalkan berbagai ajaran islam “biasa” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal yang tidak biasa adalah menunjukkan perilaku yang bagi normalnya ajaran agama adalah sesat dan tidak sesuai dengan kaidah kesilaman. Oleh sebab itu sering kali para sufi dianggap sebagai pembawa aliran sesat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana sufi dan fuqaha salaling klaim kebenaran dan tidak mau melakukan dialog untuk kebaikan kehidupan beragama. Pandangan demikian tentu saja kurang bijak, sebab selain bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri yang menempatkan kebebasan berfikir di atas segalanya, tasawuf dan para sufi juga sama sekali bukan orang yang meninggalkan ajaran Islam syariat.

Kalau kita lihat asal kata dan asal munculnya, sufi adalah mereka yang dengan semangat yang kuat ingin menjadikan hidup dan segala aktifitasnya sebagai cara menunju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua yang ia lakukan, selama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama dan kebaikan universal, maka itu bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan para sufi. Setiap gerah dan pemikiran yang ada padanya, setiap potensi yang ia miliki, setiap masalah yang ia terima, setiap apapun yang terjadi padanya, maka itu adalah sarana menunju kepada Tuhan. Ia menghadirkan Tuhan dalam pekerjaaan, dalam pemikiran, dalam wacana, dalam aktifitas yang ia lakukan.

Untuk konteks modern saat ini maka sufi bisa hadir dalam diri setiap orang selama ia melakukan sesuatu dengan landasan keinginan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sangat yakin sufi bisa berwujud dalam seorang pekerja kantoran, pedagang, penguasa, pengajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan semua orang. Hanya sata yang mereka butuhkan yaitu kesadaran dan keinginan mempersembahkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan dan kehidupan manusia. Sebab kehidupan manusia yang baik juga sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Dalam konteks ini maka sufi pasti shalat dan orang yang rajin shalat pasti bisa jadi sufi. Sufi pasti berbuat untuk kebaikan sosial dan masyarakat dalam bentuk apapun dan bagaimanapu, dan mereka yang berbuat untuk kebajiakan pasti bisa jadi sufi. Dan mereka inilah yang saya namakan dengan Sufi Gaul.

Saturday, 19 December 2009

Hijrah Tanpa Ide

Sejak dua hari yang lalu, kamis 17 Desember 2009, saya ingin menulis tentang hijrah. Senang rasanya kalau momen seperti itu dapat menulis dan mencurahkan sekepal ide. Sayangnya ide tidak kunjung datang. Kemarin, saat mata hari pada hari pertama tahun baru Islam berjalan, saya duduk di depan komputer beberapa kali, namun saya juga tidak mendapatkan ide apapun tentang hijrah. Hari ini, tiba di kantor saya membuka komputer dan teringat kembali keinginan untuk menulis "makna hijrah" namun saya belum tahu juga mau menulis apa, sampai kata pertama untuk artikel ini saya mulai. Begitulah menulis kalau hanya bertumpu pada ide yang sudah komplit pasti tidak dapat memulai apapun. Saya mencoba resep lama, memulai menulis tanpa ide.
Hijrah adalah peristiwa besar yang terjadi pada masa Nabi di mana Nabi berpindah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan ini bukan sekedar menghabiskan akhir minggu setelah beliau lelah bekerja dan berusaha di Makkah. Namun perpindahan ini menandai ekspansi besar Islam pada awal perkembangannya hingga berpengaruh hingga saat ini. Latar belakang hijrah, kondisi sosial di Makkah dan Madinah sebelum hijrah, cara Nabi berhijrah dan segenap peristiwa yang mengitari peristiwa besar ini membuat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah semata namun juga memiliki makna psikologis, spiritualitas, sosial, politik dan lain sebagainya. Dan dalam konteks inilah para ahli Islam modern memaknai hijrah.

Adalah Ali Syari'ati, seorang tokoh revolusi Islam Iran tahun 1979 yang teramat sangat saya kagumi memaknai hijrah dalam perspektif sosiologi dan spiritual. Katanya"
Hijrah merupakan sebuah proses pemutusan keterkaitan masyarakat terhadap tanah kelahiran dan tempat tinggalnya, sehingga bisa mengubah pandangan manusia terhadap alam dan kesemestaan (world view) yang pada akhirnya akan mengubah watak masyarakatnya dari kejumudan, kemerosotan sosial, keterkungkungan pada tanah kelahirannya, kearah masyarakat yang lebih dinamis dan terbuka.


Kutipan ini menurut saya sangat cocok untuk konteks kehidupan masyarakat kita belakangan ini. Kecintaan terhadap tanah air dan diri yang berlebihan membuat kita berubah menuhankan diri dan tanah air juga. Wujud penuhanan itu terlihat dalam kebanggaan akan diri, -berupa suku, bahasa, budaya, hukum dan norma yang berlaku dalam kehidupannya,- dan kebanggaan akan tanah airnya, -berupa lokasi geografis, kekayaan alam, pemandangan dan lain sebagainya,- di mana mereka hidup. Cara pandang seperti ini pertama: menyebabkan kematian dan ketertutupan pada pengetahuan yang lebih luas pada realitas dan ilmu yang lebih besar. Kita mendapatkan banyak orang yang begitu angganya dengan daerahnya sendiri lalu memandang rendah dan hina daerah lain. Hal ini dilakukan dengan melakukan generalisasi budaya pada sebuah suku tertentu tanpa memandang keunikan dan kelebihan lain yang dimiliki oleh semua bangsa dan semua suku. Kedua, cara pandang ini juga menyebabkan ia merasa cukup dengan apa yang ada disekitarnya meskipun itu membuatnya menderita. Misalnya, hanya karena kebanggaan akan kampung halaman seseorang tidak mua berpindah dan mencari penghidupan di daerah lain yang akan membawanya -mungkin- mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kembali kepada apa ang disebuatkan Ali Syariati di atas, bahwa hijrah dalam tataran tertentu juga perubahan pada cara pandang pada diri dan dunia. Cara pandang pada diri bisa jadi dilakukan dengan sebuah kontemplasi akan realitas kedirian yang ada. Selama ini saya melakukan apa? apa yang ingin saya dapatkan? apa yang akan saya berikan kepada dunia? bagaimana saya bisa berperan agar kehdupan menjadi lebih baik? dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan ruang yang lebih luas bagi kita untuk menyadari bahwa kita secara individu hanyalah satu diantara milyaran orang yang ada di dunia. peran saya hanyalah scuail dari apa yang terjadi di dunia yang sangat luas ini. Lalu apa yang ingin saya banggakan? kenapa saya haru mengutamakan diri sendiri? kenapa saya harus memuji diri sendiri? ada sejuta kemungkinan apa yang saya lakukan adalah apa yang jga orang lain telah sukses melakukannya.

Cara pandang akan melahirkan cara bersikap dalam pergaulan dan dalam membina hubungan dengan orang lain. Para ekstrimis, fundamentalis, radikalis, orientalis, borjuis, hedonis, dan is-is lain yang mungkin dimasukkan ke sana, adalah mereka yang sebenarnya menempatkan cara pandangnya pada dunia berasarkan kediriannya. Inilah yang menyebabkan ia berfikir bahwa dia the only one di dunia sementara yang lain hanya mengontrak sementara. Ini menyababkan mereka suka menghabisi orang lain hanya karena keinginannya menguasai dunia. Padahal jelas dunia bukan hanya milik satu orang atau sekelompok orang saja, namun milik bersa dan karenanya bersama pula harus menjaganya.

Beginilah akhir dari tulisan yang tidak ber-ide ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Selamat tahun baru hijriah 1431 H semoga tahund epan ide-ide terus bermunculan layaknya air di musim hujan.


Wednesday, 16 December 2009

Tidak Semua Hadits Harus Diamalkan

Tadi pagi beberapa dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan diskusi bulanan mengenai Hadits Syar'i dan NonSyar'i serta bagaimana menerapkannya dalam konteks kehidupan sosial. Saya secara pribadi sangat senang dengan diskusi ini karena diikuti oleh banyak dosen (25 orang), padahal ini adalah forum "tidak resmi" dan tidak ada amplopnya setelah diskusi berakhir dan dilakukan di ruang kuliah. Ditengah perubahan sosial dan cara pandangan mengenai diskusi, workshop, seminar yang terjadi di Aceh pasca tsunami, di mana orang berfikir setiap melakukan pertemuan ada amplopnya, maka forum yang saya ikuti tadi pagi memberikan harapan baru untuk kebangkita sebuah kelompok-kelompok ilmiah di kampus dan di Aceh umumnya. Saya tidak mengatakan ini adalah satu-satunya furum yang demikian, tapi masih ada yang lainnya. Mungkin satau saat perlu sebuah komunikasi intensif untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban di Aceh dan dunia Islam.
Kembali kepada furum diskusi tadi. Tema yang diangkat oleh panitia dari Sear-fiqh sebenarnya hal yang biasa diperbincangkan di kalangan teman-teman di Jurusan Tafsir Hadits. Namun tatkala ini dikemukakan dalam forum heterogen, maka wacana menjadi lain dan penuh dinamika. Sebab tidak semua orang dalam forum itu memiliki pengetahuan yang dalam mengenai ilmu hadits. Sehingga ketika apa yang disebutkan berbeda dengan apa yang dipahami saat ini menimbulkan sebuah diskusi menarik dan mendalam yang sangat rugi kalau dilewatkan. Di sini saya akan berbagi sedikit saja, sejauh yang saya masih ingat dan melekat daam kepala. Maaf kalau apa yang saya sampaikan ini adalah hal yang biasa bagi teman-teman. Saya sendiri meletakkan sebagai hidangan istimewa di pertengahan minggu ini.

Syahdan, selama ini ternyata banyak dasar amalan yang dilakukan oleh umat Islam dalam menjalankan aktifitas kehidupannya didasari pada hadits, bukan Al-Qur'an. Bahkan ada kecenderungan umat Islam akan sangat marah dan terbakar emosinya kalau ada hadits yang disalah artikan atau ditafsirkan berbeda dengan apa yang dipahaminya. Klaim-kalim keluar dari Islam, munafiq, syirik, kafir, sesat dan lain sebagainya sering kita dengar karena seseorang tidak menafsirkan hadits seperti yang "biasa" dipahami. Namun klaim seperti itu tidak terlalu "heboh" kalau ada penafsiran yang berbeda dengan mayoritas ulama terhadap ayat al-Qur'an. Biasa jadi hal ini dibsebakan karena ayat al-Qur'an lebih filosofis dan hadits lebih praktis sehingga orang lebih mudah memahami hadits ketimbang al-Qur'an. Namun di sisi lain ini adalah sebuah kemunduran sebab hadits sesungguhnya sangat terkait dengan kondisi alam dan lingkungan di mana Rasulullah hidup dan terkait dengan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW.

Nah, inilah yang menjadi tema diskusi kami. Dua pemakalah muda yang memaparkan makalahnya, Dr. Tanthowi (Alumnus UIN Jogja)dan Dr. Tarmizi (Alumnus UIN Jakarta) mengatakan bahwa dalam hadits Nabi ada sisi-sisi non tasyri'iyyah, yakni tidak dietetapkan sebayang Syar'i. Dalam posisi demikian maka tidak ada kewajian kepada umat Islam untuk mengikutinya. Setiap orang, setiap bangsa, setiap kelompok umat memiliki adat kebiasaan yang sama sekali dengan masa dan kebiasaan di Mana Nabi hidup. Sehingga sangatlah mustahil untuk membawa semua apa yang dilakukan dan berlaku pada masa Nabi dalam konteks kehidupan kita saat ini. Dalam hal ini berlaku juga aspek kemanusiaan Nabi. Ada hal yang dianjurkan Nabi bukan sebagai sebuah wahyu yang datang dari Allah, namun hanyalah aspek kehidupan kemanusiaannya saja. Misalnya makanan tertentu, obat-obatan, cara dan warna berpakaian, cara makan, dll hanyalah budaya Nabi sebagai orang Arab dan Nabi sebagai manusia. Maka dalam hal ini umat Islam tidak serta merta harus mengikutinya dan menempatkan hal ini sebagai sesuatu yang wajib.

Masalah lain adalah banyaknya hadits yang jelas, sahih, namun menjadi sangat sulit jika diterapkan dalam konteks masyarakat yang selalu berubah seperti sekarang ini. Diperlukan sebuah penyelarasan antara apa yang pada masa kehidupan Nabi menjadi sebuatu yang lumrah dengan kehidupan saat ini yang sangat berbeda dengan 14 abat yang lalu. Di sinilah diperlukan sebuah kearifan, tawadhu', wara' agar apa yang dipilih terbut bukan karena nafsu semata namun benar-benar sebuah keinginan pengabdian kepada Allah. Dalam hal ini diperlukan sebuah kontemplasi atas apa yang terjadi hari ini dalam masyarakat dan bagaimana menyikapinya. Sebab kalau tidak maka ajaran Islam menjadi suatu kesempurnaan yang hadir di ruang hampa. Dia bagus dalam pengakuan namun sama sekali tidak dapat diterapkan.

Yang menjadi masaalh adalah batasan atau kriteria. Bagaimana suatu hadits dianggap mengandung nilai syar'i atau tidak sehingga dapat dilakukan. Contoh kecil adalah, apakah minum dengan tangan kanan adalah sesuatu yang syar'i atau tidak. Kalau hadits ini dipahami sebagai "ajaran" dari Tuhan, maka ia menjadi wajib (kalau perlu ada qanunnnya, heheh). Namun kalau ini dipandang sebagai kebiasaan orang Arab saja, maka tidaklah berdosa dan tidak pula bermasalah orang minum dengan tangan kiri jika masyarakatnya memang biasa demikian. Ada banya hadits yang sejenis. Lalu bagaimana kita memilahnya? bagaimana kita mengkategorikannya? bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan ini adalah hadits kemanusiaan dan kebudayaan saja bukan hadits syar'i?

Saya sangat ingin tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan ini. Sayangnya diskusi akan dilanjutkan bulan depan waktu sudah siang. Dua pemakalah lain akan membahas ini tahun depan.

Tulisan ini juga dimuat di blog saya: www.sehatihsan.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sehatihsan

Tuesday, 15 December 2009

Mengubah Ideologi Kerja adalah PNS

Setiap pagi saya pergi ke kantor bersama dengan "gelombang" mahasiswa yang pergi ke kamppus untuk kuliah. Kadang-kadang di ruas jalan tertentu kenderaan mahasiswa dan kenderaan lain menjadi sangat lambat karena macet. Dalam kondisi seperti inilah saya berfikir betapa banyak mahasiswa di Banda Aceh saat ini. Itu belum lagi mahasiswa yang datang pada jam-jam berikutnya sesuai dengan jadwal kuliah mereka. Belum lagi mahasiswa yang kampusnya bukan di Darussalam. Belum lagi mahasiswa di daerah-daerah, di universitas terbuka, universitas kelas jauh dan universitas penjajaj gelar yang bertebaran di mana-mana di selauruh Aceh. Bagaimana kalau semua mereka berfikir bahwa kulaih dan belajar hanya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil? ini sebuah musibah, bencana tsunami jilid dua.
Saya mengkhawatirkan hal ini bukan karena saya sudah jadi PNS dan atau saya takut mendapatkan saingan dalam pekerjaan, heheh. Namun kalau kita renungin ini adalah hil yang mustahal untuk diwujudkan. Pada sisi yang lain di beberapa lembaga pemerintahan sudah kebanyakan pegawai negeri. Sehingga Pemko Banda Aceh misalnya sudah dua tahun ini tidak menerima pegawai negeri karena dianggap pegawai yang sudah ada telah mencukupi. Hanya perlu pemberdayaan dan penyesuaian saja.

celakanya lagi ideologi PNS adalah pekerjaan sesungguhnya juga menghinggapi masyarakat secara umum. Seorang orang tua masih merasa belum cukup jika anaknya yang telah disekolahkan jauh dan tinggi kemudian hanya menjadi pengusaha sukses. Bagi kebanyakan orang tua pekerjaan adaalh PNS. Kalau masih menjadi kontraktor, pengusasa, pedagang, pengrajin, petani, itu belum bekerja dan masih "dang-dang jeut kepegawai". Sehinga setiap ada pembukaan tes pegawai negeri abnyak orang tua memaksa anaknya untuk mengikuti tes.

Ideologi PNS sebagai pekerjaan ini menyebabkan orang tua melakukan "apapun" untuk mewujudkan mimpi dan ideologinya. Banyak yang bahkan menempuh jalan tercela dengan membawar "kacok" atau memberikan uang pelicin kepada pejabat tertentu yang menyatakan sanggup melulusakan anaknya menjadi pegawai. Bahkan Wakil Bupati Aceh "Ketelatan", tahun lalu meluluskan istrinya yang tidak ikut tes pegawai negeri dalam dua formasi. Ini mungkin sebuah hal sepele, namun hal ini mengindikasikan bagaimana pejabat publikpun tergiur untuk membangun rezim pegawai negeri bagi keluarganya.

Saya yakin kalau ideologi ini dapat dipadamkan dengan memulai pendidikan yang tidak berorientasi filosofis semata di perguruan tinggi. Saya lliaht kurikulum yang ada saat ini menjuruskan mahasiswa kepada pendidikan yang menggali nilai filofosif pengetahuan dan hanya belajar pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri. Ini menyebabkan mereka tidak terbiasa dengan dunia ril lapangan dan tantangan yang akan mereka hadapi setelah menamatkan pendidikan. Sehingga tidak jarang muncul anggapan bahwa masa yang laing sakit itu adalah masa-masa setelah kuliah namun tidak ada pekerjaan (maksudnya PNS).

Usaha untuk ini bisa saja dilakukan dengan memasukkan aspek-aspek "pemasaran" dalam setap matakuliah. Untuk matakuliah tertentu yang bersifat keterampilan hal ini tidak diperlukan, namun bagi mata kuliah yang filosofis perlu juga memasukkan unsur "bagaimana menjual ilmu" yang ada tersebut. Saya istilahkan dengan menjual ilmu yang berarti bagaimana menunjukkan kepada masyarakat bahwa ilmu yang ada sama dia itu penting sehingga masyarakat tertarik untuk "membelinya."

Pertengahan tahun lalu saya mnegikuti worksho Ulumul Hadits. Saya pikir ini merupakan ilmu khusus yang hanya bicara masalah hadits semata dan hanya diperlukan oleh Dosen Ilmu Hadits dan mahasiswa Tafsir Hadits di Fakultas Ushuluddin IAIN dan STAIN. Namun ketika seorang dosen dari Jakarta menjelaskan aspek "bisnis" dari ilmu itu saya baru sadar bahwa Ulumul Hadits bukan hanya kepentingan ionsan akademik namun juga kepentingan semua umat Islam. Dengan menggunakan teknologi pemograman komputer ia merancang sebuah CD tutorial belajar cepat ilmu hadits dan mengenai hadits-hadits "bermasalah" yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota. CD hadits ini mendapatkan sambutan karena banyak orang yang ingin mendapatkan ilmu praktis tersebut.

Pola yang digunakan dalam bidang hadits ini saya kira juga bisa digunakan dalam bidangilmu yang lain. Sebab semua ilmu pada dasarnya memiliki hubungan dan keterkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Yang penting adalah bagaimana kita mengemasnya menjadi sebuah produk. Di satu sisi untuk mendidik masyarakat dengan ilmu yang kita pelajari, di sisi lain untuk mendapatkan "pekerjaan" yang bukan PNS. Sang meunan....