Thursday, 10 December 2009

Ar-Raniry Post dan Semangat Generasi

Semalam saya harus kerja sampai agak larut bersama beberapa teman untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Bos kami memanggil seorang mahasiswa yang menangani Tabloid Ar-Raniry Post. Katanya, sampai waktu deadline pengambilan anggaran untuk percetakan tabloid, mereka belum menyelesaikan pekerjaanya. Jika pada malam itu pekerjaan mereka belum selesai, maka anggaran untuk percetakan tidak akan keluar dan pekerjaan mereka yang telah dilakukan selama ini semua akan sia-sia. Saya tidak tahu persis apakah mereka mulai mengerjakan tabloid itu atau belum. Yang pasti, mereka mulai membuka internet untuk mendapatkan bahan-bahan yang relefan yang akan dimuat untuk tabloit tersebut.

Saya teringat delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001.Saya bersama beberapa orang teman; Ardiansyah (sekarang menjadi Direktur Radio NARA FM, Nagan Raya), Taufiq al-Mubarak (Redaktur Harian Aceh, Banda Aceh), Zainal Abidin (Redaktur Harian Serambi Indonesia), Muhammad MTA Aktifis Partai SIRA), dan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, juga mengelola tabloid yang sama. Saat sampai ke tangan kami, Ar-Raniry Post sudah tidak terbit sejak tahun 1990. Berakhirnya Ar-Raniry Post pada masa kepemimpinan Bang Ikhwanul Fitri Nasution. Saat itu ia mengangkat isu Karti Izin Tinggal (KIT) yang diberlakukan kepala desa di seputaran IAIN kepada mahasiswa yang kos di sana. Kebijakan keuchik disorot oleh Ichwan karena menggunakan kekerasan dan intimidasi. Beberapa mahasiswa yang tidak menggunakan KIT diusir pada malam hari. Padahal mereka baru saja datang dari kampung untuk melanjutkan pendidikan di Banda Aceh. Semnatara untuk mendapatkan KIT prosesnya sangat sulit dan mahal.

Ichwan diintrogasi oleh Polisi setelah dilaporkan oleh Pak Kades. Ia diinapkan di Hotel Pordeo beberapa malam. Di sana ia mendapatkan intimidasi dan "pelajaran" mengenai moralitas. Setelah dikeluarkan ia diwajibkan meminta maaf kepada sang kades ditambah dengan menempelkan permintaan maaf tersebut di pohon-pohon pinggir jalan sepanjang jalan menuju kampus. Hal ini tentu saja lumrah terjadi tahun 90-an, saat Sueharto memanjakan kepala desa yang memenangkan Golkar di daerahnya dan memberikan kesempatan untuk berselingkuh dengan penegak hukum setelah diberikan sejumlah uang.

Ar-Raniry Post pernah diterbitkan pada pertengahan tahun 90-an. Namun itu hanya selebaran kecil dan dibagikan dalam kelompok yang terbatas. Saat itu Bang Andi Sabri (dimana kau kini Abang?) memuat hasil sebaran angket mengenai kepemimpinan Bapak Prof. Safwan Idris (alm). Angket ini mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Safwan, IAIN Ar-Raniry banyak mengalami kemunduran dan banyak mahasiswa tidak puas dengan pelayanan dan fasilitas kampus. Meskipun kemudian angket ini dianggap keliru karena metodologi yang tidak pas dan pertanyaan yang tidak netral, namun ini adalah sebuah dedikasi luar biasa yang mereka tunjukkan untuk membangun Ar-Raniry Post.

Pada tahun 2001 saya dan teman-teman mencoba membangkitakan lagi. Awalnya kami ingin melanjutkan Ar-Raniry Post sebagai sebuah newsletter kecil. Namun entah semangat dari mana, kami akhirnya memilih menerbitkan sebuah tabloid yang lebih besar dengan 20 halaman. Cover dan halaman tengahnya didesain warna. Kami bekerja keras untuk mendapatkan berita. Rapat tiap malam membahas perkembangan tugas masing-masing. Dengan fasilitas yang serba kurang, hanya ada satu komputer dan satu tip rekam yang harus digilir, kami mencoba mengisi seluruh rubrik di Ar-raniry Post. Dan di sinilah dedikasi kami teruji.

Saya masih ingat bagaimana MTA mendesain tabloid sampai larut malam. Namun setelah sampai di percetakan Serambi semuanya diubah lagi oleh layouter mereka. Layouternya berkata: Ini tidak bisa naik detak, harus diubah lagi." Saya juga masih ingat bagaimana kami saling menyalahkan karena berita yang kami tulis tidak ada yang beres (semuanya masih belajar). Saya masih ingat bagaimana Ardiansyah dengan kawan lain menitipkan Ar-raniry Post ke kios-kios koran dan mereka mengatakan: "Meah dek, Ar-Raniry Post hana laku." lalu Ardi pulang dengan berlinang Air mata. Saja juga ingat bagaimana Taufiq Al-Mubarak dibentak polisi karena mengambil gambar Truk Reo penuh polisi yang sedang patroli di simpang lima Banda Aceh. Saya sendiri prnah dikejar-kejar pasien Rumah Sakit Jiwa karena meliput kehidupan keseharian mereka. Dan yang paling menyedihkan adalah kami harus patungan untuk menyediakan uang ongkos cetak dengan sifat waqaf, sebab pasti tidak akan dikembalikan.

Namun itu semaua adalah perjuangan. Pada tahun 2001, saat eskalasi konflik Aceh masih meninggi, Saya dan Ardiansyah membawa tabloid Ar-aniry Post ke Konferensi Jurnalis Kampus se Indonesia di Jember Jawa Timur. Kami menumpang Bus PMTOH Ekonomi sampai ke Jakarta karena tidak ada uang naik pesawat. Bersama-sama teman dari UI, UNJ dan U-Terbuka, naik kereta api ke Jogja (bergantungan karena tidak ada tiket). Malamnya kami menginap di UII Jogja selama satu malam lalu melanjutkan perjalanan ke Jember dengan kereta Api bersama teman-teman yang lain. Sebelumnya, dalam perjalanan kami sempat diintrogasi oleh polisi di Besitang Sumatera Utara selama 6 jam karena setelah mereka mendapatkan tabloid kami memuat gambar Brimob yang sedang mengarahkan senjata kepada seorang demonstran yang sudah telanjang tinggal kolor. Namun kami selamat setelah mereka mendapatkan seorang ibu membawa ganja di dalam pakaiannya dan tasnya.

Itulah perjuangan dan dedikasi kami, dulu, untuk Ar-Raniry Post. Saat saya melihat adek-adek mahasiswa semalam, tengan tingkah dan semangat mereka, airmata saya tumpah ke dalam. Betapa kampus telah memfasilitasi mereka, betapa mereka tidak perlu pikirkan uang dan fasilitas, mereka tidak perlu takut dengan tentara dan polisi, namun mereka tidak memiliki dedikasi untuk mengembangkannya. Rasanya saya ingin membentak dan menghardiknyanya, mengatakan betapa ia telah menghina kami yang pernah memperjuangkan Ar-Raniry Post dengan resiko mati. Namun saya takut gempa Sumbar terulang di Banda Aceh. :-)

2 comments:

  1. beda ya dengan sumber post? saya sering baca sumber, tapi tabloid ar raniry belum pernah

    ReplyDelete
  2. Beda. Ar-Raniry Post sudah lama, meskipun timbul tengggelam. Kalau sumber Post itu media yg dikeluarkan oleh mahasiswa jurusan Komunikasi Islam Fakultas Dakwah

    ReplyDelete