Monday, 28 December 2009

Petuah Punggawa Bola

Saya suka dengan ungkapan-ungkapan bijak penuh emosi dari siapa saja, terutama para sufi yang menjadi objek kajian saya selama ini. Namun sebenarnya saya suka ungkapan itu dari siapapun keluarnya, termasuk dari Punggawa bola. Jujur saja, saya tidak terlalu suka menonton bola, namun sedikit suka membaca beritanya. Di antara berita yang paling saya sukai adalah ungkapan-ungkapan para pelatih dan pemain dalam menyikapi pertandingan yang akan mereka lakonkan atau yang telah mereka lalui. Bagi saya apa yang mereka ungkapkan sebenarnya bukan hanya dalam konteks persepakbolaan saja, namun juga bisa diimplementasikan dalam kehidupan yang lebih luas.

Lihatlah bagaimana Puyol, kamten Barcelona FC merespon eforia kemenangan supporter dan fans Barca di seluruh dunia atas kesuksesan timnya merebut enam piala dalam tahun 2009 ini:

“Kami harus tahu jika kami tak bisa selalu menang dan kami akan kalah pada suatu ketika. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah untuk tetap kuat dan terus menatap ke depan. Kami harus terus berjuang, tetap sadar jika apa yang sudah kami lakukan akan sulit untuk dilakukan lagi, tapi kami harus menjaga sikap kami, meningkatkan kemampuan diri setiap harinya dan terus berusaha. Tak ada hal yang lebih baik selain bisa meraih kemenangan. Kami semua senang dan atmosfernya luar biasa karena dalam diri kami sendiri ada pertanyaan ‘mengapa kami harus kalah jika kami bisa menang?”

Apa yang diungkapkan Puyol merupakan refleksi dari sikap percaya diri dengan sikap rendah hati yang sangat diperlukan oleh semua orang dalam menghadapi hidup ini. Di satu sisi ia mengaku senang dengan apa yang telah diperoleh timnya belakangan ini, dan itu tentu saja itu manusiawi. Namun ia mengingatkan orang lain dan dirinya sendiri bahwa tidak selamanya kemenangan akan berpihak padanya, suatu saat ada kemungkinan kalah. Dan semua harus bersiap menerima kekalahan. Namun demikian, yang harus dilakukan adalah selalu memberikan yang terbaik dan berusaha kuat untuk mewujudkan kemenangan dan kesuksesan. Kemungkinan kalah memang ada, namun kalau kemungkinan menang juga ada kenapa tidak berusaha untuk menang? Menang dalam kehidupan.

Ungkapan lain yang saya kagumi dari Punggawa Bola adalah penghargaan kepada orang lain dengan tidak bergantung padanya. Guardiola, arsitek tim Barca menyikapi kemungkinan absennya Messi dan Xavi dalam sebuah pertandingan. Keduanya adalah pilar Barca yang amat penting dalam mewujudkan kemenangan. Namun Mr. Pep mengatakan:

“Mereka memang dua pemain penting, namun di sini kami selalu melakukannya secara bersama-sama. Jadi jika mereka tidak bisa bermain, kami masih mempunyai sebelas [pemain lagi] dan peluang untuk menang masih tetap terbuka. Untuk itu kami butuh sekali dukungan fans. Mereka tidak pernah gagal terhadap kami dan kami selalu mendapatkan dukungan mereka semua untuk bisa menang.”

Sikap Guardiola ini mencerminkan bagaimana ia tidak mau tergantung pada satu atau dua orang yang “istimewa” dalam timnya. Ia sangat percaya bahwa sebuah kemenangan dan kesuksesan bukan karena si fulan atau si fulen saja, namun karena kerja sama antar orang-orang yang terlibat di dalam lapangan dan di luar lapangan semuanya. Bahkan penonton yang ada di sekitar lapangan juga seolah menjadi pemain keduabelas dalam sebuah tim. Bagi saya ini pula yang berlaku di luar lapangan. Kemenangan, kesuksesan, keberhasilan sebuah tim bukan hanya karena ada backing dari pihak tertentu, namun karena kerjasama yang baik dari seluruh elemen yang ada dalam kelompok itu.

Sikap lain yang saya pelajari dari pesepak bola adalah penghargaan pada pihak lain secara sportif dan tulus. Cristiano Ronaldo, pemain termahal di dunia yang dibeli Real Madrid dari Mancester United dengan ksatria menilai bahwa kesuksesan Barcelona memborong enam gelar dalam satu tahun itu sebuah hal yang pantas mereka dapatkan:


“Barcelona telah memenangkan segalanya di dunia, dan menjadi klub terbaik saat ini. Gaya bermain mereka terus mengalami peningkatan, dan para pemainnya telah bermain bersama-sama dalam jangka waktu lama. Ini adalah tim dengan level tertinggi.”

Namun pujian kepada pihak lain diiringi dengan tekat dan kepercayaan diri yang kuat untuk menjadikan timnya mendapatkan penghargaan yang sama:

“Kami di Madrid harus berbuat lebih baik lagi, dan berusaha memenangkan trofi Liga Champions. Tentu saja tidak akan mudah, tapi di sepakbola segala sesuatunya bisa terjadi. Seperti yang pernah saya bilang, Madrid mempunyai kesempatan untuk juara, tapi Barca yang memenangi semuanya. Mereka adalah tim yang hebat, serta berharap bertemu Barca di final [Liga Champions] di Madrid, dan mengalahkan mereka.”

Tiga Punggawa Bola yang saya angkat di atas hanya beberapa diantara orang hebat yang saya kagumi karena kehebatan mereka di lapangan dan karena ungkapan mereka yang jujur, penuh penghargaan dan motivasi. Tentu saja bukan mereka saja, masih banyak pesepakbola yang lain, atlet lain yang memiliki ungkapan bijak pula, sengaja atau tanpa sadar. Dan bagi kita yang penting adalah bagaimana mengambil pelajaran dari semuanya untuk kebaikan hidup diri kita, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Insyaallah.

No comments:

Post a Comment