Monday, 28 December 2009

Ajong Baki Turun Haji

Namanya Ahmad, tapi di kampung ia sering dipanggil hanya dengan Mat. Ia jualan bakoeng (tembakau) sejak muda hingga sekarang, sehingga nama bakoeng menjadi identitasnya pula, Mat Bakoeng. Tidak ada yang tidak mengenalnya di kampung itu. Selain orangnya ramah, sopan, sosial, ia juga satu-satunya pedagang bakoeng di kampungnya. Tahun lalu ia naik haji dari hasil usaha jualan bakoeng. Pasti uangnya halal karena bukan hasil korupsi atau manipulasi bestek bangun jembatan dan jalan. Setelah pulang dari tanah suci orang menyematkan Haji di belakang namanya, jadilah Haji Bakoeng, nama aslinya “mat” tidak dipakai lagi. Namun karena orang kampung suka membolak-balikkan nama, namanya juga menjadi korban, ia dipanggil dengan Ajoeng Baki kebalikan dari Aji (haji) Bakoeng. Sampai sekarang nama itulah yang tersemat padanya. Ia tidak peduli dan menikmati saja, yang penting tembakaunya laris.

Belakangan ini, setiap jumpa dengan saya di warung kopi Lem Baka ia selalu bernostalgia tentang pengalamannya naik haji tahun lalu. Ia nampak begitu kagum dengan pengalaman tersebut. Sebenarnya apa yang ia ceritakan tidaklah terlalu istimewa bagi banyak orang yang sering bepergian ke luar negeri bahkan ke luar kota. Misalnya tentang badan pesawat yang besar, pelayanan pramugari di dalam pesawat, bandara yang luas, hamparan padang pasir antara Madinah dan Makkah, bangunan bertingkat, gunung yang tandus, orang Afrika yang hitam, besar dan kuat, kerumunan jamaah yang menggunakan pakaian putih, masyarakat Makkah yang “tidak sopan” dan lain sebagainya. Namun bagi Ajong Baki, ini adalah pengalaman yang luar biasa ketika ia naik haji. Pengalaman ini selalu diulang dan poles lagi pada kesempatan yang lain. Ia merasa sangat tahu tentang Makkah dan Madinah, tentang administrasi haji, tentang pembangunan di Arab Saudi dan kebijakan pemerintah di sana. Tentu saja ini menggelikan, namun saya mendengar saja dengan khidmad, apalagi rambutnya sudah mulai beruban dan ia butuh orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.

Saya mendapatkan banyak Ajong Baki lain belakangan ini setelah mereka pulang menunaikan ibadah haji. Yang menjadi menarik dalam perjalanan ibdah ini bukan pengalaman “beribadahnya” namun pengalaman melakukan perjalanan ke luar negeri dan melihat pemandangan yang berbeda di negeri orang. Sementara pengalaman beribadah yang seharusnya menjadi esensi dari perjalanan itu menjadi terabaikan. Sepertinya di sana, para jamaah hanya melaksanakan rukun dan wajib haji sebagai “syarat sah” melaksanakan ibadah haji. Selebihnya mereka menikmati perjalanan dan pengalaman baru pergi ke negeri orang dan berjumpa dengan orang yang berbeda.

Ini sungguh menyedihkan. Haji adalah rukun Islam yang terakhir yang diwajibkan sekali saja seumur hidup. Hakikat dari menunaikan ibadah haji adalah pengalaman spiritual penghambaan diri kepada Allah di “Rumah-Nya.” Seharusnya pengalaman yang muncul adalah pengalaman beribadah tersebut, pengalaman bagaimana nikmatnya berzikir, bagaimana semangatnya beribadah, bagaimana ibadah tanpa lelah, ibadah lebih khusyu’, ibadah menjadi “kebutuhan” dan lain sebagainya. Sebab Ka’bah menjadi kiblat kaum muslimin dalam melaksanakan shalat sehari-hari. Maka kalau shalat di lakukan di sana, maka mi’rajnya menjadi lebih dekat dan lebih mudah, lalu kenikmatan dalam beribadah juga semakin besar. Sayangnya, hal ini hanya diceritakan oleh sedikit orang yang baru pulang dari sana.

Saya yakin ini ada kaitannya dengan tingkat keterasingan masyarakat kita dari “kampung dunia.” Jarang sekali masyarakat Indonesia yang berada di kampung-kampung melakukan perjalanan ke Luar Negeri. Bukan hanya karena tidak mampuan secara ekonomi, budaya berwisata juga tidak berkembang baik di negara kita. Jarang-jarang orang mau jalan-jalan ke luar negeri meskipun ia mampu melaksanakannya. Jadinya, ketika “wisata wajib” itu dilaksanakan, maka ia berdecak kagum dan begitu terpesona, lalu lupa hakikat ibadah yang hendak dilaksanakannya.

Kalau memang tidak mugkin pemerintah mendorong agar masyarakat Indonesia juga sering ke luar negeri untuk jalan-jalan (jangan hanya pejabat saja menghabiskan uang negara untuk pelesiran atas nama studi banding) maka perlu pemahaman budaya dan penjelasan spiritual ibadah kepada mereka yang hendak ke tanah suci di masa yang akan datang. Jangan hanya gara-gara melihat pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di negaranya, mereka lantas lupa bahwa mereka sedang melaskanakan sebuah prosesi ibadah besar yang perlu ketenangan dan keseriusan. Kalau tidak maka Ajong Baki lain akan terus lahir. Bagaimana?

No comments:

Post a Comment