Wednesday, 30 December 2009

“Gurita Prita”

Belakangan ini banyak cerita menganai Gurita; Gurita Cikeas, Gurita Kalla, dan Gurita Cendana. Kata Gurita dipakai untuk menunjukkan bagaimana sebuah pusat memiliki jaringan pada berbagai aspek lain yang dikendaikan dari kekuasan pusat tersebut. Gurita cikeas jelas, seperti digambarkan George Junus Aditjondro dalam Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (terlepas benar atau tidak) untuk menegaskan bagaimana SBY memiliki banyak tangan dalam menyalurkan kekayaan yang diperolehnya. Demikian halnya dengan Gurita Kalla (kalau ada), juga untuk mengatakan bagaimana Kalla memiliki jaringan yang luas dalam usaha dan bisnis yang memungkinkannya memanfaatkan jabatan untuk memajukan usaha jaringan tersebut. Saya tidak mengatakan SBY dan Kalla benar-benar memiliki jaringan itu, namun hanya menegaskan bahwa kata “gurita” belakangan ini selalu disebutkan untuk menggambarkan hal itu.

Model Gurita Cikeas terbentuk karena kekuasaan yang ada pada seseorang yang dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya. Hal ini lumrah saja terjadi pada sebuah pemerintahan yang kuat dan didukung oleh kelompok yang solit. Pada masa kekuasaan Soeharto gurita semacam ini tumbuh lebih lebas dan subur. Sudah bukan rahasia lagi Soeharto, anak, cucu dan keluarga besarnya memiliki perusahaan, perkebunan, pabrik dan berbagai macam usaha lain di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok sekalipun. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan kekuataan pemerintahan, dukungan partai mayoritas dan dukungan angkatan bersenjata. Apakah Cikeas sudah memiliki ini? Saya belum yakin, meskipun tidak mau mengatakan tidak ada sama sekali.

Namun demikian, selain gurita sebagaimana saya jelaskan di atas ada satau gurita lain yang tidak kalah besarnya, dan itu adalah “Gurita Prita”. Berbeda dengan Gurita Cikeas, Gurita Kalla, Gurita Cendana, dan gurita lainnya, Gurita Prita terbentuk pada kesatuan misi pembentuknya. Prita bukanlah orang yang memiliki jaringan kuat dan memiliki kekuasaan untuk mengatur “tangan-tangan” guritanya. Ia malah menjadi fokus di mana tangan-tangan yang ada di berbagai belahan tanah air bersatu. Yang bergerak untuk menjulurkan dan memanjangkan tangan bukan dari Prita-nya sebagai titik fokus, namun tangan-tangan gurita tumbuh sendiri dan menuju pada prita. Dan tangan ini dinamakan solidaritas.

Tumbuhnya solidaritas untuk prita karena masyarakat menyadari pentingnya membela dan mendukung pihak yang dizalimi oleh kekuasaan. Dalam hal ini prita menjadi sebuah simbol ketertindasan yang dilakukan oleh kekuasan tersebut. Masyarakat yang selalu mendambakan kehidupan yang adil dan bebas dari kesewenangan penguasa bersatu dalam usaha membebaskan prita dari segala tuntutan. Kemarin (29/12/09), ketika Majels Hakim Pengadilan Negeri Tanggerang memvonis bebas untuk Prita, masyarakat menyambut kebebasan itu sebagai kemenangan bersama masyarakat pencari keadilan.

Kalau Gurita kekuasan harus dimusnahkan dan dibasmi, maka Gurita Prita seyogyanya tidak berhenti sampai di sini. Sebab Gurita Prita terbangun berdasarkan solidaritas masyarakat luas yang ingin menjadikan negeri ini sebagai payung bagi keadilan dan kehidupan yang baik. Gurita Prita harus terus diberikan semangat dan gizi berupa pencerahan dan pengetahuan sehingga ia bisa mejalar pada kelompok yang lebih luas. Saat Gurita ini berkuasa, maka gurita-gurita yang dibangun dan dilahirkan oleh penguasa akan ketakutan dan tidak mau menunjukkan kekuasaannya. Dan itu adalah hari kemenangan rakyat pencari keadilan. Semoga.


No comments:

Post a Comment