Saturday, 19 December 2009

Hijrah Tanpa Ide

Sejak dua hari yang lalu, kamis 17 Desember 2009, saya ingin menulis tentang hijrah. Senang rasanya kalau momen seperti itu dapat menulis dan mencurahkan sekepal ide. Sayangnya ide tidak kunjung datang. Kemarin, saat mata hari pada hari pertama tahun baru Islam berjalan, saya duduk di depan komputer beberapa kali, namun saya juga tidak mendapatkan ide apapun tentang hijrah. Hari ini, tiba di kantor saya membuka komputer dan teringat kembali keinginan untuk menulis "makna hijrah" namun saya belum tahu juga mau menulis apa, sampai kata pertama untuk artikel ini saya mulai. Begitulah menulis kalau hanya bertumpu pada ide yang sudah komplit pasti tidak dapat memulai apapun. Saya mencoba resep lama, memulai menulis tanpa ide.
Hijrah adalah peristiwa besar yang terjadi pada masa Nabi di mana Nabi berpindah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan ini bukan sekedar menghabiskan akhir minggu setelah beliau lelah bekerja dan berusaha di Makkah. Namun perpindahan ini menandai ekspansi besar Islam pada awal perkembangannya hingga berpengaruh hingga saat ini. Latar belakang hijrah, kondisi sosial di Makkah dan Madinah sebelum hijrah, cara Nabi berhijrah dan segenap peristiwa yang mengitari peristiwa besar ini membuat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah semata namun juga memiliki makna psikologis, spiritualitas, sosial, politik dan lain sebagainya. Dan dalam konteks inilah para ahli Islam modern memaknai hijrah.

Adalah Ali Syari'ati, seorang tokoh revolusi Islam Iran tahun 1979 yang teramat sangat saya kagumi memaknai hijrah dalam perspektif sosiologi dan spiritual. Katanya"
Hijrah merupakan sebuah proses pemutusan keterkaitan masyarakat terhadap tanah kelahiran dan tempat tinggalnya, sehingga bisa mengubah pandangan manusia terhadap alam dan kesemestaan (world view) yang pada akhirnya akan mengubah watak masyarakatnya dari kejumudan, kemerosotan sosial, keterkungkungan pada tanah kelahirannya, kearah masyarakat yang lebih dinamis dan terbuka.


Kutipan ini menurut saya sangat cocok untuk konteks kehidupan masyarakat kita belakangan ini. Kecintaan terhadap tanah air dan diri yang berlebihan membuat kita berubah menuhankan diri dan tanah air juga. Wujud penuhanan itu terlihat dalam kebanggaan akan diri, -berupa suku, bahasa, budaya, hukum dan norma yang berlaku dalam kehidupannya,- dan kebanggaan akan tanah airnya, -berupa lokasi geografis, kekayaan alam, pemandangan dan lain sebagainya,- di mana mereka hidup. Cara pandang seperti ini pertama: menyebabkan kematian dan ketertutupan pada pengetahuan yang lebih luas pada realitas dan ilmu yang lebih besar. Kita mendapatkan banyak orang yang begitu angganya dengan daerahnya sendiri lalu memandang rendah dan hina daerah lain. Hal ini dilakukan dengan melakukan generalisasi budaya pada sebuah suku tertentu tanpa memandang keunikan dan kelebihan lain yang dimiliki oleh semua bangsa dan semua suku. Kedua, cara pandang ini juga menyebabkan ia merasa cukup dengan apa yang ada disekitarnya meskipun itu membuatnya menderita. Misalnya, hanya karena kebanggaan akan kampung halaman seseorang tidak mua berpindah dan mencari penghidupan di daerah lain yang akan membawanya -mungkin- mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kembali kepada apa ang disebuatkan Ali Syariati di atas, bahwa hijrah dalam tataran tertentu juga perubahan pada cara pandang pada diri dan dunia. Cara pandang pada diri bisa jadi dilakukan dengan sebuah kontemplasi akan realitas kedirian yang ada. Selama ini saya melakukan apa? apa yang ingin saya dapatkan? apa yang akan saya berikan kepada dunia? bagaimana saya bisa berperan agar kehdupan menjadi lebih baik? dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan ruang yang lebih luas bagi kita untuk menyadari bahwa kita secara individu hanyalah satu diantara milyaran orang yang ada di dunia. peran saya hanyalah scuail dari apa yang terjadi di dunia yang sangat luas ini. Lalu apa yang ingin saya banggakan? kenapa saya haru mengutamakan diri sendiri? kenapa saya harus memuji diri sendiri? ada sejuta kemungkinan apa yang saya lakukan adalah apa yang jga orang lain telah sukses melakukannya.

Cara pandang akan melahirkan cara bersikap dalam pergaulan dan dalam membina hubungan dengan orang lain. Para ekstrimis, fundamentalis, radikalis, orientalis, borjuis, hedonis, dan is-is lain yang mungkin dimasukkan ke sana, adalah mereka yang sebenarnya menempatkan cara pandangnya pada dunia berasarkan kediriannya. Inilah yang menyebabkan ia berfikir bahwa dia the only one di dunia sementara yang lain hanya mengontrak sementara. Ini menyababkan mereka suka menghabisi orang lain hanya karena keinginannya menguasai dunia. Padahal jelas dunia bukan hanya milik satu orang atau sekelompok orang saja, namun milik bersa dan karenanya bersama pula harus menjaganya.

Beginilah akhir dari tulisan yang tidak ber-ide ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Selamat tahun baru hijriah 1431 H semoga tahund epan ide-ide terus bermunculan layaknya air di musim hujan.


2 comments:

  1. Artikel yang sangat menarik Mas Ihsan..
    Salam kenal dan sukses selalu..

    ReplyDelete