Tuesday, 15 December 2009

Mengubah Ideologi Kerja adalah PNS

Setiap pagi saya pergi ke kantor bersama dengan "gelombang" mahasiswa yang pergi ke kamppus untuk kuliah. Kadang-kadang di ruas jalan tertentu kenderaan mahasiswa dan kenderaan lain menjadi sangat lambat karena macet. Dalam kondisi seperti inilah saya berfikir betapa banyak mahasiswa di Banda Aceh saat ini. Itu belum lagi mahasiswa yang datang pada jam-jam berikutnya sesuai dengan jadwal kuliah mereka. Belum lagi mahasiswa yang kampusnya bukan di Darussalam. Belum lagi mahasiswa di daerah-daerah, di universitas terbuka, universitas kelas jauh dan universitas penjajaj gelar yang bertebaran di mana-mana di selauruh Aceh. Bagaimana kalau semua mereka berfikir bahwa kulaih dan belajar hanya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil? ini sebuah musibah, bencana tsunami jilid dua.
Saya mengkhawatirkan hal ini bukan karena saya sudah jadi PNS dan atau saya takut mendapatkan saingan dalam pekerjaan, heheh. Namun kalau kita renungin ini adalah hil yang mustahal untuk diwujudkan. Pada sisi yang lain di beberapa lembaga pemerintahan sudah kebanyakan pegawai negeri. Sehingga Pemko Banda Aceh misalnya sudah dua tahun ini tidak menerima pegawai negeri karena dianggap pegawai yang sudah ada telah mencukupi. Hanya perlu pemberdayaan dan penyesuaian saja.

celakanya lagi ideologi PNS adalah pekerjaan sesungguhnya juga menghinggapi masyarakat secara umum. Seorang orang tua masih merasa belum cukup jika anaknya yang telah disekolahkan jauh dan tinggi kemudian hanya menjadi pengusaha sukses. Bagi kebanyakan orang tua pekerjaan adaalh PNS. Kalau masih menjadi kontraktor, pengusasa, pedagang, pengrajin, petani, itu belum bekerja dan masih "dang-dang jeut kepegawai". Sehinga setiap ada pembukaan tes pegawai negeri abnyak orang tua memaksa anaknya untuk mengikuti tes.

Ideologi PNS sebagai pekerjaan ini menyebabkan orang tua melakukan "apapun" untuk mewujudkan mimpi dan ideologinya. Banyak yang bahkan menempuh jalan tercela dengan membawar "kacok" atau memberikan uang pelicin kepada pejabat tertentu yang menyatakan sanggup melulusakan anaknya menjadi pegawai. Bahkan Wakil Bupati Aceh "Ketelatan", tahun lalu meluluskan istrinya yang tidak ikut tes pegawai negeri dalam dua formasi. Ini mungkin sebuah hal sepele, namun hal ini mengindikasikan bagaimana pejabat publikpun tergiur untuk membangun rezim pegawai negeri bagi keluarganya.

Saya yakin kalau ideologi ini dapat dipadamkan dengan memulai pendidikan yang tidak berorientasi filosofis semata di perguruan tinggi. Saya lliaht kurikulum yang ada saat ini menjuruskan mahasiswa kepada pendidikan yang menggali nilai filofosif pengetahuan dan hanya belajar pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri. Ini menyebabkan mereka tidak terbiasa dengan dunia ril lapangan dan tantangan yang akan mereka hadapi setelah menamatkan pendidikan. Sehingga tidak jarang muncul anggapan bahwa masa yang laing sakit itu adalah masa-masa setelah kuliah namun tidak ada pekerjaan (maksudnya PNS).

Usaha untuk ini bisa saja dilakukan dengan memasukkan aspek-aspek "pemasaran" dalam setap matakuliah. Untuk matakuliah tertentu yang bersifat keterampilan hal ini tidak diperlukan, namun bagi mata kuliah yang filosofis perlu juga memasukkan unsur "bagaimana menjual ilmu" yang ada tersebut. Saya istilahkan dengan menjual ilmu yang berarti bagaimana menunjukkan kepada masyarakat bahwa ilmu yang ada sama dia itu penting sehingga masyarakat tertarik untuk "membelinya."

Pertengahan tahun lalu saya mnegikuti worksho Ulumul Hadits. Saya pikir ini merupakan ilmu khusus yang hanya bicara masalah hadits semata dan hanya diperlukan oleh Dosen Ilmu Hadits dan mahasiswa Tafsir Hadits di Fakultas Ushuluddin IAIN dan STAIN. Namun ketika seorang dosen dari Jakarta menjelaskan aspek "bisnis" dari ilmu itu saya baru sadar bahwa Ulumul Hadits bukan hanya kepentingan ionsan akademik namun juga kepentingan semua umat Islam. Dengan menggunakan teknologi pemograman komputer ia merancang sebuah CD tutorial belajar cepat ilmu hadits dan mengenai hadits-hadits "bermasalah" yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota. CD hadits ini mendapatkan sambutan karena banyak orang yang ingin mendapatkan ilmu praktis tersebut.

Pola yang digunakan dalam bidang hadits ini saya kira juga bisa digunakan dalam bidangilmu yang lain. Sebab semua ilmu pada dasarnya memiliki hubungan dan keterkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Yang penting adalah bagaimana kita mengemasnya menjadi sebuah produk. Di satu sisi untuk mendidik masyarakat dengan ilmu yang kita pelajari, di sisi lain untuk mendapatkan "pekerjaan" yang bukan PNS. Sang meunan....

2 comments:

  1. saya sebagai mahasiswa juga merasakan dan memikirkannya pak

    ReplyDelete
  2. hmm..
    sang beutoi...
    sepertinya harus ada teladan dulu di aceh baru bisa diberi contoh untuk generasi2 selanjutnya hmm...

    ReplyDelete