Sunday, 27 December 2009

Sebuah Kenangan bersama ARTI

Desember 2009 ini secara resmi berakhir aktifitas Aceh Research Institute (ARTI) di Aceh. Berakhirnya peran lembaga ini menjadi sebuah ending yang mengharukan bagi banyak orang yang pernah terlibat di sana. Selama tiga tahun terakhir ARTI telah melakukan peran penting sebagai mesin produksi lahirnya peneliti-peneliti muda Ilmu Sosial dan Humaniora di Aceh. Meskipun kantornya ada di Banda Aceh, namun ARTI menjangkau berbagai perguruan tinggi lain, seperti Universitas Malikussaleh dan STAIN Malikusaleh di Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Aceh Tengah dan Universitas Teuku Umar Aceh Barat. Di sana peneliti Aceh masa depan dikaderkan dengan bimbingan dan arahan intensif dari peneliti senior lokal, nasional dan internasional.

Saya adalah satu di antara orang yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam mesin produksi peneliti ARTI. Meskipun saat ini belum lahir sebagai seorang peneliti handal, namun saya sudah melihat jalan itu dan tahu arahnya. Bola ada di kaki saya, apakah saya akan membawa diri ke sana atau tidak itu adalah pilihan, usaha, nasib, dan doa; saya sendiri yang menentukan. Namun ARTI telah melakukan tugasnya dengan baik, membuka mata pada realitas yang lebih besar, menunjukkan bahwa Aceh adalah ladangnya penelitian sosial, mengatakan bahwa di sana, di mana-mana orang begitu bersemangat bicara ilmu pengetahuan, dan petunjuk-petunjuk lain yang diberikan.
Apa yang dilakukan ARTI bagi saya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Dengan sistem pelatihan yang berbeda dengan apa yang saya peroleh sebelumnya, dengan keseriusan, ketegasan, kedisiplinan yang diterapkan, dengan fasilitas dan pendampingan yang disediakan, saya dengan jujur mengatakan bahwa ARTI telah melakukan yang terbaik untuk saya bahkan jauh di atas apa yang saya bisa bayangkan. Saya yakin ini pula yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Saat saya ikut kelas ARTI level Pertama, saya berjumpa dengan Prof. David Reeve, penulis biografi terkenal. Salah seorang tokoh Indonesia yang ditulis dengan begitu apik adalah Ong Hok Ham, orang Tionghoa yang lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri. David memperkenalkan dasar-dasar penelitian dengan begitu renyah. Sebelumnya saya membayangkan sebuah penelitian begitu rumit. Beberapa kali belajar metodologi penelitian saya disuguhkan dengan berbagai teori dan pengertian yang tidak pernah saya ketahui maksudnya secara pasti hingga sekarang. Namun hal ini menjadi berbeda di tangan David. Penelitian adalah berusaha menulis apa yang kamu ingin tulis. Bagaimana caranya, itu terserah kamu. Kamulah yang tahu bagaimana melakukan pekerjaanmu sendiri. Orang boleh mengatakan apa saja, namun yang harus memutuskan adalah kamu sendiri, sebab kamu yang tahu akan menulis apa, tentang apa, lokasinya di mana, orangnya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya terkesan dan terkesima, ternyata peneliti itu adalah saya sendiri dan sayalah yang menentukan langkahnya.

Ketika saya dipanggil untuk masuk ke level kedua saya berjumpa dengan Arskal Salim, Adlin Sila, dan Eka Srimulyani. Para peneliti muda yang pengalaman pelitiannya sudah mendunia. Arskal Salim adalah dosen UIN Jakarta yang melakukan penelitian di Aceh dalam beberapa topik. Ia memiliki berpengalaman yang kaya dalam penyusun proposal penelitian yang berhubungan dengan funding internasional yang sering membiayai penelitian. Dan darinyalah kami menuntut “Ilmu Proposal”, tentang bagaimana membuat proposal yang baik. Sebab, kata Arskal, tidak ada proposal yang benar atau proposal salah. Sebuah proposal –selama dibuat dengan serius- telah melewati tahapan pemikiran dan kontemplasi yang panjang. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah bagiamana menjadikannya lebih baik. Dan proposal yang baik adalah proposal yang jelas masalahnya apa, tujannya untuk apa, dan bagaimana anda akan melakukan penelitian. Kalau tiga hal ini sudah jelas maka yang lain akan menyusul pula, hanya perlu ketekunan dan keseriusan saja.

Kemudian, yang tidak mungkin saya lupakan adalah pelatihan tahap ketiga. Dalam tahapan ini peserta dibimbing oleh tiga pembimbing sekaligus; lokal, nasional dan internasional. Saya teringat ketika ibu Laura Yoder, direktur ARTI tahun 2008 mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira: Selamat, anda berhak mengikuti pelatihan tahap ketiga. Ini adalah awal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya ditawarkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi pembimbing saya untuk penelitian yang saya ajukan: “Kenduri Kematian Dalam Masyarakat Kluet.” Saya memilih orang yang saya sudah kenal dalam dunia akademik meskipun belum kenal secara fisik. Pembimbing lokal saya memilih Bapak Aslam Nur, dosen Antropologi Agama di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Untuk Nasional saya memilih Prof. Irwan Abdullah, Direktur (sekarang mantan) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Dan untuk pembimbing internasional saya memilih (atas saran dari Laura) Prof. Anthony Reid, sejarawan yang telah menulis beberapa buku dan jumlah artikel ilmiah yang tidak terkira mengenai sejarah Aceh. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Seorang anak kampung yang baru bisa berbicara bahasa Indonesia dalam usia 17 tahun, berjumpa dengan orang-orang besar adalah anugerah yang tiadatara. Dan di bawah bimbingan merekalah saya belajar melakukan penelitian.

Saya ingin cerita sedikit tentang dua orang pembimbing saya, Anthony Reid dan irwan Abdullah. Bagi saya Toni adalah sebuah kebun ilmu yang sangat luas. Wawasan dan pengetahuannya terbentang tak bertepi. Setidaknya begitulah yang saya lihat dalam konsultasi pertama kali bersamanya. Saya bagaikan sebuah gelas yang kecil dan ia adalah ember besar penuh air ilmu. Tatkala air di dalamnya dituangkan, sangat banyak yang tercecer dan terbuang karena keterbatasan tempat penampungan yang saya miliki. Saya hanya menangkap sedikit sekali dari ilmunya. Meskipun, dengan keterbatasan komunikasi karena kendala bahasa, saya tahu ia telah berusaha menyesuaikan memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkat atau kadar keilmuan saya.

Dalam konsultasi pertama yang saya laksanakan dengan Anthony saya mendapatkan banyak pengetahuan. Yang paling berkesan adalah, cara pandangannya mengenai sebuah masalah kecil dalam konteks yang besar. Semula saya berfikir, apalah artinya penelitian mengenai kenduri kematian dalam masyaraat Kluet. Ini hanyalah masalah kecil dan tidak menyelesaikan apa-apa dan tidak menjelaskan banyak hal. Namun tatkala Toni sedikit demi sedikit mebawa saya ke cakrawala ilmu yang berkembang di dunia, saya mulai sadar bahwa apa yang saya lakukan dalam membahas kenduri dalam masyraklat Kluet bukan sekecil yang saya bayangkan. Ia berada di antara semaraknya kajian keilmuan dalam bidang yang sama yang telah dilakukan banyak orang lain. Saya bukanlah satu-satunya orang yang mengerjakan dan tertarik dengan bidang ini.

Prof. Irwan Abdullah saya umpamakan dengan sebuah kebun pengetahuan serba ada. Meskipun ia memperkenalkan diri sebagai antropolog, namun dalam diskusi bersamanya ia ternyata menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan metodologi ilmu-ilmu. Pertemuan pertama saya bersamanya tatkala ia datang ke Banda Aceh untuk sebuah urusan. Ia menelpon saya dan mengajak saya minum kopi pagi di warung kopi Cek Yuke jalan Tepi Kali. Bagi saya ini sungguh menyenangkan. Kapan lagi bisa duduk dengan Profesor Antropologi UGM? Saya akan memanfaatkan waktu untuk maksimal menggali ilmu darinya. Dan apa yang saya pikirkan benar terwujud. Dalam diskusi bersamanya, keran ilmunya mulai dibuka dan sedikit demi sedikit airnya mengalir. Awalnya saya katakan, saya kesulitan dalam menentukan sistematika sebuah tulisan. Lalu ia mulai mendiskusikan tulisan saya dan membuat coretan yang sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan dan yang paling penting itu adalah model untuk tulisan apapun juga. Darinya saya juga belajar semangat menulis. “Coba kamu pikirkan, apakah saya, sebagai seorang direktur sekolah pascasarjana UGM, memiliki waktu untuk menulis dan melakukan penelitian?” Saya bayangkan, sebagai seorang dosen muda dan baru saja saya sering tidak cukup waktu, bagaimana lagi dengan seorang Prof. Irwan? Ternyata saya salah. Ia mengatakan tulisanya terbit hampir setiap bulan di berbagai jurnal ilmiah. Ia juga menulis sendiri makalah seminar, modul mengajar dan materi pelatihan. Kapan itu dilakukan? “Kitalah yang menetukan waktu untuk menulis, bukan waktu yang mengatur kita.” Lalu ia menjelaskan beberapa tips yang dapat digunakan. Misalnya memulai dengan membuat kerangka, mengisi ide pokok, pengembangkan paragraf, dan seterusnya. Saat mendengar penjelasanya, rasanya keesokan hari saya bisa menulis lima artikel akademik. Tapi ternyata, saya masih saja belum bisa selancar yang saya bayangkan.

Memang saya akui saya tidak dapat melakukan penelitian tahap tiga dengan maksimal, terutama dalam bagian akhir penelitian sampai penulisan hasilnya. Pertama karena kesibukan pembimbing nasional dan internasional saya. Prof. Irwan Abdullah adalah direktur Sekolah Pascasarjana yang tidak mungkin datang ke Aceh dan menemani saya di lapangan, jauh di pedalaman Kluet Timur Aceh Selatan. Demikian juga Anthony Reid yang tinggal di Singapura. Saya berjumpa dengan mereka beberapa kali saja, selebihnya berkomunikasi dengan e-mail. Sebagai orang yang masih sangat awam dengan penelitian seperti ini, maka saya masih sangat kesulitan dalam mewujudkan banyak saran dari pembimbing saya tersebut. Namun masalah paling berat adalah ketika pada 10 Agustus 2008 bapak saya tercinta meninggal dunia. Beliau adalah orang Kluet, beliau mengetahui banyak adat budaya Kluet. Beliau menjadi teman diskusi saya selama di lapangan, bahkan tidak jarang diskusi sampai pagi. Setelah beliau meninggal dunia, sangat berat bagi saya untuk membaca catatan lapangan dan hasil wawancara saya di lapangan. Sebab penelitian saya juga mengani kenduri kematian. Sehingga membuka file-file penelitian itu saya langsung terbayang wajahnya, tawanya, semangatnya, kasih sayang dan cintanya. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memisahkan saya sebagai seorang peneliti dengan saya sebagai anak yang memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan artikel penelitian saya meskipun paling terlambat dibandingkan teman-teman yang lain.
Dan yang sangat-sangat tidak mungkin terlupakan adalah bimbingan, pencerahan, kuliah, diskusi yang dilakukan dalam sela-sela program pelatihan yang dilaksanakan.

Saya ingat sekali bagaimana Ibu Melly dan Eve selalu mengirimi SMS bahwa akan ada seorang ahli datang ke ARTI dan dia bersedia memberikan kuliah dan bimbingan. Di waktu lain ada SMS yang isinya ada pemaparan hasil penelitian sementara dari seorang mahasiswa internasional yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Pernah juga seorang ahli dalam bidang tertentu datang ke ARTI dan kami berkumpul untuk mendiskusikan berbagai temuan sementara di lapangan dan mencari pemecahannya bersama.
Hal di atas masih ditambah dengan berbagai pelatihan lain yang saya ikuti di kampus dan di luar kampus. Di IAIN Ar-Raniry saya megikuti sebuah pelatihan metodologi penelitian bagi dosen. Saya juga mengikuti pelatihan metodologi penelitian bencana alam di Yogayakarta. Pada pertengahan 2009 saya mengikuti metode penulisan makalah ilmiah di USU Medan. Di ARTI sendiri diadakan pelatihan penulisan artikel untuk buku kompilasi. Semua menerpa saya untuk dapat maju dan berusaha menggapai yang terbaik.

Apa yang saya dapatkan dari ini semua? Tidak terhingga dan tidak terkira, mungkin ini jawaban saya. Saya merasa “lebih nyambung” saat mendiskusikan penelitian dengan siapapun di bandingkan dulu. Harus saya akui saya kewalahan dalam teori-teori dan istilah yang rumit, terutama dalam penelitian angka-angka. Namun alhamdulillah saya sedikit diberikan kemudahan oleh Allah dalam membahas penelitian-penelitin sosial lapangan. Saya merasa lebih percaya diri dalam menceritakan dan membincangkan penelitian kepada orang lain. Saya lebih mudah membagi pengetahuan mengenai penelitian dengan teman dan mahasiswa. Saya lebih mudah dan terbimbing dalam menulis, walaupun masih jauh dari sempurna. Dan banyak hal lain. Yang sangat penting adalah saya memiliki semangat yang menggelora untuk terus belajar menulis, melakukan penelitian, mendiskusikan ilmu pengetahuan dalan lain sebagainya. Saya tahu bahwa di balik semua ini salah satunya ada ARTI.

Saat ini saya sedang menyelesaikan peneltian saya mengenai Adat Gayo bersama Internasional Center foa Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Awal Desember 2009 saya mempresentasikan sebuah hasil penelitian saya di International Posgraduate Conference di Yogyakarta. Di kampus saya mengasuh mata kuliah Metodologi penelitian. Beberapa teman mulai menjadikan saya sebagai salah seorang teman disksui dalam membuat penelitian. Bagi saya ini adalah rahmat keilmuan yang Allah berikan melalui serangkaian pelatihan bersama ARTI.

Hanya karena penguasan bahasa Inggris yang sangat buruk sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal dalam diri saya ketika mau mengembangkan diri lebih baik lagi. Dan persoalan bahasa ini pula yang membuat saya masih terus menunda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan meskipun terasa sangat berat. Hanya ada satu keyakinan bahwa ini bukan “hil yang mustahal” untuk diwujudkan.Saya masih mengimpkan suatu saat saya dapatmelanjutkan pendidikan di tempat yang pebih maju dan memiliki iklim akademik yang menyenangkan.

Akhirnya saya ingin mengatakan terima kasih Arti, Pak Michael, Ibu Barbara, Ibu Laura, Pak Harold, Eve, Ibu Melly, Ibu Eka, David, Arskal, Adlin, Kamaruzzaman, Irwan Abdullah, Anthony Reid, Aslam Nur, dan semua teman-teman pelatihan ARTI Level I, II dan III. Mudah-mudahan apa yang telah saya peroleh dari ARTI menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


No comments:

Post a Comment