Wednesday, 16 December 2009

Tidak Semua Hadits Harus Diamalkan

Tadi pagi beberapa dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan diskusi bulanan mengenai Hadits Syar'i dan NonSyar'i serta bagaimana menerapkannya dalam konteks kehidupan sosial. Saya secara pribadi sangat senang dengan diskusi ini karena diikuti oleh banyak dosen (25 orang), padahal ini adalah forum "tidak resmi" dan tidak ada amplopnya setelah diskusi berakhir dan dilakukan di ruang kuliah. Ditengah perubahan sosial dan cara pandangan mengenai diskusi, workshop, seminar yang terjadi di Aceh pasca tsunami, di mana orang berfikir setiap melakukan pertemuan ada amplopnya, maka forum yang saya ikuti tadi pagi memberikan harapan baru untuk kebangkita sebuah kelompok-kelompok ilmiah di kampus dan di Aceh umumnya. Saya tidak mengatakan ini adalah satu-satunya furum yang demikian, tapi masih ada yang lainnya. Mungkin satau saat perlu sebuah komunikasi intensif untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban di Aceh dan dunia Islam.
Kembali kepada furum diskusi tadi. Tema yang diangkat oleh panitia dari Sear-fiqh sebenarnya hal yang biasa diperbincangkan di kalangan teman-teman di Jurusan Tafsir Hadits. Namun tatkala ini dikemukakan dalam forum heterogen, maka wacana menjadi lain dan penuh dinamika. Sebab tidak semua orang dalam forum itu memiliki pengetahuan yang dalam mengenai ilmu hadits. Sehingga ketika apa yang disebutkan berbeda dengan apa yang dipahami saat ini menimbulkan sebuah diskusi menarik dan mendalam yang sangat rugi kalau dilewatkan. Di sini saya akan berbagi sedikit saja, sejauh yang saya masih ingat dan melekat daam kepala. Maaf kalau apa yang saya sampaikan ini adalah hal yang biasa bagi teman-teman. Saya sendiri meletakkan sebagai hidangan istimewa di pertengahan minggu ini.

Syahdan, selama ini ternyata banyak dasar amalan yang dilakukan oleh umat Islam dalam menjalankan aktifitas kehidupannya didasari pada hadits, bukan Al-Qur'an. Bahkan ada kecenderungan umat Islam akan sangat marah dan terbakar emosinya kalau ada hadits yang disalah artikan atau ditafsirkan berbeda dengan apa yang dipahaminya. Klaim-kalim keluar dari Islam, munafiq, syirik, kafir, sesat dan lain sebagainya sering kita dengar karena seseorang tidak menafsirkan hadits seperti yang "biasa" dipahami. Namun klaim seperti itu tidak terlalu "heboh" kalau ada penafsiran yang berbeda dengan mayoritas ulama terhadap ayat al-Qur'an. Biasa jadi hal ini dibsebakan karena ayat al-Qur'an lebih filosofis dan hadits lebih praktis sehingga orang lebih mudah memahami hadits ketimbang al-Qur'an. Namun di sisi lain ini adalah sebuah kemunduran sebab hadits sesungguhnya sangat terkait dengan kondisi alam dan lingkungan di mana Rasulullah hidup dan terkait dengan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW.

Nah, inilah yang menjadi tema diskusi kami. Dua pemakalah muda yang memaparkan makalahnya, Dr. Tanthowi (Alumnus UIN Jogja)dan Dr. Tarmizi (Alumnus UIN Jakarta) mengatakan bahwa dalam hadits Nabi ada sisi-sisi non tasyri'iyyah, yakni tidak dietetapkan sebayang Syar'i. Dalam posisi demikian maka tidak ada kewajian kepada umat Islam untuk mengikutinya. Setiap orang, setiap bangsa, setiap kelompok umat memiliki adat kebiasaan yang sama sekali dengan masa dan kebiasaan di Mana Nabi hidup. Sehingga sangatlah mustahil untuk membawa semua apa yang dilakukan dan berlaku pada masa Nabi dalam konteks kehidupan kita saat ini. Dalam hal ini berlaku juga aspek kemanusiaan Nabi. Ada hal yang dianjurkan Nabi bukan sebagai sebuah wahyu yang datang dari Allah, namun hanyalah aspek kehidupan kemanusiaannya saja. Misalnya makanan tertentu, obat-obatan, cara dan warna berpakaian, cara makan, dll hanyalah budaya Nabi sebagai orang Arab dan Nabi sebagai manusia. Maka dalam hal ini umat Islam tidak serta merta harus mengikutinya dan menempatkan hal ini sebagai sesuatu yang wajib.

Masalah lain adalah banyaknya hadits yang jelas, sahih, namun menjadi sangat sulit jika diterapkan dalam konteks masyarakat yang selalu berubah seperti sekarang ini. Diperlukan sebuah penyelarasan antara apa yang pada masa kehidupan Nabi menjadi sebuatu yang lumrah dengan kehidupan saat ini yang sangat berbeda dengan 14 abat yang lalu. Di sinilah diperlukan sebuah kearifan, tawadhu', wara' agar apa yang dipilih terbut bukan karena nafsu semata namun benar-benar sebuah keinginan pengabdian kepada Allah. Dalam hal ini diperlukan sebuah kontemplasi atas apa yang terjadi hari ini dalam masyarakat dan bagaimana menyikapinya. Sebab kalau tidak maka ajaran Islam menjadi suatu kesempurnaan yang hadir di ruang hampa. Dia bagus dalam pengakuan namun sama sekali tidak dapat diterapkan.

Yang menjadi masaalh adalah batasan atau kriteria. Bagaimana suatu hadits dianggap mengandung nilai syar'i atau tidak sehingga dapat dilakukan. Contoh kecil adalah, apakah minum dengan tangan kanan adalah sesuatu yang syar'i atau tidak. Kalau hadits ini dipahami sebagai "ajaran" dari Tuhan, maka ia menjadi wajib (kalau perlu ada qanunnnya, heheh). Namun kalau ini dipandang sebagai kebiasaan orang Arab saja, maka tidaklah berdosa dan tidak pula bermasalah orang minum dengan tangan kiri jika masyarakatnya memang biasa demikian. Ada banya hadits yang sejenis. Lalu bagaimana kita memilahnya? bagaimana kita mengkategorikannya? bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan ini adalah hadits kemanusiaan dan kebudayaan saja bukan hadits syar'i?

Saya sangat ingin tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan ini. Sayangnya diskusi akan dilanjutkan bulan depan waktu sudah siang. Dua pemakalah lain akan membahas ini tahun depan.

Tulisan ini juga dimuat di blog saya: www.sehatihsan.blogspot.com dan www.kompasiana.com/sehatihsan

4 comments:

  1. kadang kita harus mengembalikan pada niatun lilla hi ta'ala jika sudah mengalami kebuntuan.. namun demikian sebisa mungkin pandai dalam memilah milih hadits mana yg akan diterapkan..tidak bertentangan dengan ajaran Islam..dan juga norma sosial di masyarakat.. :)

    ReplyDelete
  2. sepakat! Sayangnya banyak yang berlebihan dalam melihat hadits lupa bahwa ia hidup di msa dan budaya yang berbeda dengan zaman Nabi.

    ReplyDelete
  3. wah dapat ilmu baru nih, ilmu hadits. TFS pak sehat...

    miris memang ya, pascatsunami, masyarakat aceh semakin banyak yang materialistis. bahkan untuk mengembangkan dirinya sendiri iya harus dibayar. semoga ke depan berangsur2 membaik

    ReplyDelete
  4. Hai, saya tertarik sekali dengar kelanjutannya. Bagaimana memilah mana hadits yang tidak usah diamalkan? Juga, apakah ulama-ulama di Indonesia sudah paham bahwa tidak semua hadits harus diamalkan sehingga tidak apa-apa jika melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hadits?

    ReplyDelete