Tuesday, 22 December 2009

Memori Tsunami: Ilmu dan Amal (1)

Artikel ini saya tulis untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------------------------------------------------
Pagi itu saya bangun agak awal dari biasanya. Maklum minggu, jatahnya olahraga bagi kebanyakan anak kos di tempat saya. Saya dan beberapa teman kosan yang lain bermain bola di depan rumah kontrakan kami yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Saat kami asyik dengan sikulit bundar, berteriak, berlarian, tiba-tiba sebuah getaran dari pusat bumi datang, disusul dengan ayunan tanah yang maha dahsyat. Pepohonan yang ada di sekitar rumah bergoncang layaknya ditiup sangkakala kiamat. Kami menjauh dari pepohonan dan duduk berkerumun di tengah halaman sambil memandang pohon yang berayun. Takut kalau-kalau tumbang ke arah kami. Dari lidah kami keluar ucapan: “lailaha illallah” berulang-ulang. Meudo’a oh wate saket, Meuratep oh wate geumpa, kata orang Aceh. Sindiran untuk orang yang menyebut nama Allah hanya pada saat sakit dan dalam bencana.

Sepuluh menit kemudian gempa berhenti. Dari wajah kami terpancar rasa ketakutan, kekhawatiran, was-was dan berbagai macam perasaan lain yang tak tergambarkan. Saya, selain orang yang paling tua dan paling lama tinggal di sana, juga yang paling “senior” menjadi tempat teman-teman bercerita perasaannya. Kami berkerumun di bawah pohon akasia yang masih teguh berdiri dan mulai bertukar cerita tentang perasaan mereka diguncang gempa selama sepuluh menit. Tidak semua, beberapa diantaranya mengejar sarang burung yang jatuh dari pohon kelapa. Ada anak burung yang masih kecil jatuh dari sana. Katanya itu burung tiong meuh (tiung emas – maaf kalau bahasa indonesianya keliru) yang bisa dijual mahal kalau sudah mulai tumbuh bulu dan mulai bisa terbang.

Kebetulan saya punya sedikit pengetahuan tentang tsunami. Saya becerita kepada teman-teman mengenai berbagai peristiwa tsunami yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, misalnya Bayuwangi. Tsunami adalah naiknya air laut ke daratan sampai jauh. Hal semacam ini sering terjadi di Jepang. Biasanya tsunami terjadi setelah gempa besar melanda. Ada banyak penyebab kenapa ini terjadi. Diantaranya adalah terjadinya sebuah retakan di dasar lautan yang menyebabkan air masuk ke dalamnya, lalu ketika air penuh maka terjadi gelombang balik ke daratan dan akan menghancurkan kehidupan di sana.

Saya ingat bagaiamana teman-teman saat itu menyimak apa yang saya katakan dengan hati-hati. Mereka paham bahwa itu adalah sebuah realitas yang alami dan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Pelajaran penting yang kami catat bahwa gempa dan tsunami bukan karena Tuhan sudah mulai bosan apalagi marah dengan apa yag dilakukan anak manusia di bumi-Nya, namun itu adalah bagian dari cara Dia mengatur tata kehidupan bumi agar semakin stabil dan berjalan lancar.

Itu hanya lima belas menit. Saya kemudian mandi dan mengganti baju. Rencananya saya akan pergi ke rumah paman karena ada sedikit pekerjaan yang harus saya lakukan. Sepuluh menit menunggu angkot tapi tidak juga kunjung datang. Tiba-tiba dari arah jembatan Lamnyong, 100 m dari tempat saya berdiri, orang-orang berkerumun mengatakan kalau air laut naik ke darat. Lari…. larii…. air laut naiik…. Teriakan itu diulang-ulang. Saya bukannya lari menjauh tapi justru lari ke jembatan. Penasaran bagaimana wujud air laut yang naik ke darat tersebut. Namun langkah saya terhalang oleh gerombolan besar manusia yang lari menjauh.

Saya bergegas kembali ke rumah. Saya ingat di dalam tas saya ada kunci toko teman yang saya pinjam dua hari sebelumnya saat saya ingin mengetik di komputernya. Saya berniat mengambil kunci tersebut, siapa tahu bisa menyelamatkan orang ke dalam toko kalau-kalau airnya besar. Bergegas pulang dan masuk ke dalam kamar lalau mengambil kunci. Saat keluar saya melihat sebuah gelombang hitam pekat, tinggi dan kekar, seolah ingin mencengkram semua benda di depannya, membawa kayu, papan, seng, droum, sampah segala jenis, berlari kencang mengejar saya. Saat itu, dengan kekuatan entah dari mana, saya lari menjauh. Saya tidak bisa lagi sampai ke pintu keluar pagar komplek karena terlalu jauh. Sehingga terpaksa langsung melompat pagar kawat berduri yang berada lima meter dari tempat saya berdiri. Wallahu’a’lam. Entah dari mana tenaga, pagar setinggi satu meter setengah itu berhasil saya lewati. Hanya sebuah goresan memanjang di kaki saya (saya baru sadar tiga hari kemudian) terkena duri pagar. Saya lalu main kejar-kejaran dengan gelombang hitam. Ada jarak 10 meter di antara kami. Namun kekuatan gelombang yang semakin melemah dan akhirnya pecah membuat pelarian saya tidak terlalu jauh. Inilah yang kemudian disebut tsunami.

Renungan:


Saya sedih dan kecewa, kenapa pengetahuan saya mengenai tsunami tidak menggerakkan saya untuk mengajak masyarakat mengungsi dan lari. Saya hanya bercerita tapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan saya. Andai waktu itu apa yangs aya ketahui saya sampaikan kepada banyak orang, mungkin akan lebih banyak lagi orang yang terselamatkan, atau setidaknya akan banyak barang berharga bisa diselamatkan pemiliknya.

Bersambung ke Bag.II: Memori Tsunami: Amal dan Ilmu (2)

No comments:

Post a Comment