Sunday, 20 December 2009

Tasawuf Gaul

Tiba-tiba saya ingat cerita seorang teman yang dulu kuliah di UIN Jakarta tahun 1998, beberapa bulan setalah Sueharto lengser. Dalam sambutan pelepasan jenazah Prof. Harun Nasution, Pjs. Rektor UIN Jakarta, saya lupa nama beliau, mengatakan: “Pak Harun ini Sufi, tapi beliau Shalat.” kalimat pendek ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, memang kalau sufi tidak shalat? kedua, apakah seseorang yang melakukan shalat tidak bisa jadi sufi?

Dalam belantara wacana pemikiran keislaman, tasawuf sering kali diposisikan sebagai ajaran yang meninggalkan berbagai ajaran islam “biasa” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal yang tidak biasa adalah menunjukkan perilaku yang bagi normalnya ajaran agama adalah sesat dan tidak sesuai dengan kaidah kesilaman. Oleh sebab itu sering kali para sufi dianggap sebagai pembawa aliran sesat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Dalam sejarah kita bisa lihat bagaimana sufi dan fuqaha salaling klaim kebenaran dan tidak mau melakukan dialog untuk kebaikan kehidupan beragama. Pandangan demikian tentu saja kurang bijak, sebab selain bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri yang menempatkan kebebasan berfikir di atas segalanya, tasawuf dan para sufi juga sama sekali bukan orang yang meninggalkan ajaran Islam syariat.

Kalau kita lihat asal kata dan asal munculnya, sufi adalah mereka yang dengan semangat yang kuat ingin menjadikan hidup dan segala aktifitasnya sebagai cara menunju Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua yang ia lakukan, selama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama dan kebaikan universal, maka itu bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan para sufi. Setiap gerah dan pemikiran yang ada padanya, setiap potensi yang ia miliki, setiap masalah yang ia terima, setiap apapun yang terjadi padanya, maka itu adalah sarana menunju kepada Tuhan. Ia menghadirkan Tuhan dalam pekerjaaan, dalam pemikiran, dalam wacana, dalam aktifitas yang ia lakukan.

Untuk konteks modern saat ini maka sufi bisa hadir dalam diri setiap orang selama ia melakukan sesuatu dengan landasan keinginan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya sangat yakin sufi bisa berwujud dalam seorang pekerja kantoran, pedagang, penguasa, pengajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan semua orang. Hanya sata yang mereka butuhkan yaitu kesadaran dan keinginan mempersembahkan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan dan kehidupan manusia. Sebab kehidupan manusia yang baik juga sebagai sebuah amanah dari Tuhan. Dalam konteks ini maka sufi pasti shalat dan orang yang rajin shalat pasti bisa jadi sufi. Sufi pasti berbuat untuk kebaikan sosial dan masyarakat dalam bentuk apapun dan bagaimanapu, dan mereka yang berbuat untuk kebajiakan pasti bisa jadi sufi. Dan mereka inilah yang saya namakan dengan Sufi Gaul.

1 comment:

  1. Thanks ur notification. Now, ur blog have fix in my blog. hehehe..
    O ya, nice ur blog. I like.

    By Herman RN

    ReplyDelete