Saturday, 20 October 2012

Antara Hujan dan Kematian

Meskipun tidak menyeluruh dan juga tidak lebat, hujan hari ini cukup membuat beberapa hari yang gerah di Banda Aceh jadi sedikit terobati. Hujan seperti ini sepertinya tidak sampai membuat risau penjual es-krim keliling, tapi cukup untuk menyiram tanaman petani sayuran. Sukses menghapus sedikit debu tapi tidak sampai membuat banjir di jalan. Ini namanya hujan rahmat.

Hujan yang "tiba-tiba" seperti ini menyisakan sebuah renungan menarik. Sangat banyak pengendara sepeda motor yang harus berteduh di emperan toko, di bawah pohon, di mana saja yang membuat mereka terhindar dari basah hujan. Atau, ada banyak orang yang "nekat" melaju dalam hujan meskipun resikonya adalah basah kuyup. Mungkin ada satu kepentingan yang tidak mungkin ditunda. Hanya secuil orang yang berdiri, mengenakan mantel, dan baru kemudian melanjutkan perjalanan.  

Pemandangan seperti ini sangat berbeda jika kita siap dengan mantel di kenderaan. Kapan saja hujan turun, kitabisa segera berhenti di pinggir jalan, mengenakan mantel, lalu melanjutkan perjalanan. Di dalam sepeda motor harus terdapat "mantel abadi" yang tidak pernah dipindahkan. Jadinya, hujan yang datang tiba-tiba sekalipun tidak menghalangi kita untuk melanjutkan perjalanan dan mencapai tujuan dengan "selamat" tanpa kebasahan. Kita tetap siap atas apa yang datangnya tiba-tiba. 

Sebenarnya hujan tersebut tidak sepenuhnya tiba-tiba. Ia merupakan peristiwa alam yang normal. Bahkan sering kali sebelum hujan turun, alam menunjukkan tanda-tandanya; langit mendung, angin sedikit kencang, dan atau ada rintik kecil. Namun sering kali kita acuh dengan tanda-tanda itu. Meskipun kita tahu tanda alam itu adalah akan turun hujan, namun kita tetap tidak peduli. Kita baru "peduli" saat hujan benar-benar datang dan membuat badan kita basah. Dalam hati kita mengatakan: andai aku punya mantel.... 

 Mungkin, beginilah gambaran bagaimana sikap kita menghadapi kematian. "Kematian" adalah suatu hal yang alamiah dan pasti akan terjadi pada semua manusia. Seperti halnya hujan, ia bisa datang tiba-tiba, kapan dia mau. Sebagian memberi kita tanda; tua dan sakit. Namun ada banyak kematian yang datang tanpa tanda. Satu hal yang pasti, ia adalah sesuatu yang alami dan akan dialami oleh semua manusia tanpa kecuali. Seperti halnya mantel di dalam sepeda motor, kita juga sering luput dengan persiapan menghadapi kematian. 

Meskipun kita tahu kalau kematian itu bisa datang kapan saja, meskipun kita sadar ia akan dialami oleh semua orang, meskipun kita paham kalau kematian adalah sebuah perjalanan yang perlu persiapan, kita tetap lalai. Bahkan ada banyak orang yang tetap lalai dengan persiapan itu padahal "tanda-tanda" sudah diberikan oleh Tuhan. Kita baru sadar ketika ruh hendak meninggalkan badan. Ohh... andai aku punya persiapan. Tapi semuanya sudah terlambat. Kita tetap menempuh perjalanan jauh itu tanpa persiapan; nekat!