Skip to main content

Posts

5 Cara Menemukan "Masalah" Penelitian

Sepertinya tidak ada orang di dunia yang tidak ada masalah. Dari banugn tidur hingga tidur lagi orang selalu terlibat masalah. Bahkan tidur sendiri terkadang punya masalah juga. Tapi dengan masalahlah orang bertahan hidup. mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah-masalah yang menipa dan menjadikannya kekuatan dalam megatasi masalah yang lain.

 Namun demikian, "Masalah Penelitian" sering kali tidak hinggap pada semua orang. Bahkan tidak pada orang yang sudah sangat lama belajar di perguruan tinggi, banyak membaca, mengikuti diskusi, dan bahkan mahasiswa yang "pinter" sekalipun. Ini menjadikan mereka kesulita menyelesaikan tugas akhir di kampus, seperti skirpsi, tesis bahasan disertasi.

 Menurut pengalaman saya ada lima trik agar kita bisa mendapatkan masalah dalam penelitian.

Trik Pertama:  Cintailah Sebuah Topik Ilmu 
Tidak kenal maka tidak sayang. Tidak kenal maka tidak tahu masalah apa yang terjadi di sana. Untuk mendapatkan sebuah masalah, c…
Recent posts

Tuhan Itu Apa Ayah? 5 Cara Menjawab Pertanyaan "Sulit" dari Anak Balita

Allah itu apa ayah? tanya Aqiel satu hari. Allah itu yang membuat kita semua. Rumahnya di mana? Dia tidak punya rumah. Kasihan Tuhan. Pertanyaan ini sudah saya duga pasti akan ditanyakan, cepat atau lambat. Semua orang tua yang punya anak pasti akan mendapatkan pertanyaan yang sama. Tidak peduli apapun agamanya. Kata 'Allah' atau sesuatu yang terkait dengan agama, merupakan salah satu kata yang sangat cepat dikenalkan kepada anak.

Setiap orang tua punya keinginan untuk memperkenalkan kepada anaknya masalah-masalah prinsip agama sejak dini. Selain sebagai ajaran agama, ini juga terkait dengan gengsi. Orang tua akan sangat bangga di depan orang lain kalau dapat menunjukkan anaknya yang masih kecil sudah paham agama.

Tapi banyak orang tua terkadang marah pada anak yang bertanya. Dari pada menjawab pertanyaan itu, ia malah melarang anak menanyakan hal-hal seperti itu. Tentu saja itu tidak benar. Bagaimanapun, anak memiliki hak untuk bertanya tentang apapun, dan kita sebagai or…

10 Tempat Wisata di Banda Aceh

Ada banyak tempat menarik di Aceh yang selama ini belum terekpose dan belum menjadi tempat wisata yang populer, terutama yang ada di daerah kabupaten. Misalnya, danau Laut Tawar di kota Takengon Aceh Tengah, Pulau Banyak di Singkil, Pantai-pantai di sepanjang jalan menuju Barat-Selatan Aceh, dan banyak lainnya. Selain karena masalah lokasi yang sangat jauh dengan Banda Aceh, lokasi tesebut juga tidak memiliki fasilitas yang memadai sebagai sebuah tempat wisata. Apalagi pemerintah Aceh hingga saat ini masih belum memandang lokasi wisata sebagai tempat yang dapat menghasilakn PAD dalam jumlah besar, sehingga mereka masih belum terlalu serius menggarapnya. Namun demikian beberapa diantaranya, terutama yang ada di sekitar Banda Aceh sudah memiliki jalan akses yang mudah dan memiliki fasiltas yang baik untuk wisatawan. Kalau memiliki waktu beberapa hari di Banda Aceh, inilah lokasi yang mudah dikunjungi:

1. Masjid Raya Baiturrahaman
Masjid Baiturrahman adalah icon provinsi Aceh. Dalam mas…

Autoetnografi: Dari Pengalaman ke Teks

Apa yang paling mudah ditulis? Jawabnya sudah pasti: pengalaman pribadi, sesuatu yang pernah dilakukan, dialami, dan itu sangat berkesan. Berbeda dengan pengetahuan yang sering kali terlupakan, pengalaman seperti terpatri di dalam ingatan seseorang. Semakin berkesan sebuah pengalaman, maka semakin kuat ia melekat dalam ingatan. Memang terkadang ia mengalami degradsai, atau bahkan penambahan dalam beberapa aspek detail, namun substansi sebuah pengalaman tetap tidak akan pernah hilang. 

Sayangnya, seringkali pengalaman personal ini diposisikan sebagai sesuatu yang subjektif dan tidak bisa dipakai sebagai data dalam penelitian. Penelitian yang -selalu dianggap- sangat objektif, berusaha seminimal mungkin menggunakan intervensi pribadi sipeneliti dalam laporannya. Peneliti -dianggap- harus independen, harus tidak memihak, dan harus menyajikan data apa adanya seperti yang ia temukan di lapangan. Ia harus memihak pada data, pada temuan-temuan faktual yang ada tenpam emanipulasinya. Hanya …

Setelah Lebaran lalu apa?

Sudah sangat lama tidak menulis di sini. Seorang teman pada malam terakhir bulan ramadan yang lalu mengatakan kalau ia baru saja membaca catatan - catatanku di sini. Aku jadi sadar kalau catatan itu sudah sangat lama tidak kuisi. Aku mengatakan kepadanya kalau setelah lebaran ini aku akan mulai menulis lagi, apa saja yang mungkin kutuliskan. Sebab sesungguhnya menulis adalah bagian yang tidak mungkin terpisahkan dari hidupku. Meskipun total di blog ini, namun menulis sampai saat ini tetap menjadi rutinitasku. Setelah lebaran lalu apa? Yang pasti aku mencoba menulis lagi. Dias hari setelah lebaran seorang teman menelponku. Ia adalah teman lama yang sudah tidak pernah komunikasi lagi dalam belasan tahun terakhir. Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkan nomor handphone dan memutuskan menghubungi. Namun ini adalah berkah lembaran yang kusyukuri. Bersambung...

Antara Hujan dan Kematian

Meskipun tidak menyeluruh dan juga tidak lebat, hujan hari ini cukup membuat beberapa hari yang gerah di Banda Aceh jadi sedikit terobati. Hujan seperti ini sepertinya tidak sampai membuat risau penjual es-krim keliling, tapi cukup untuk menyiram tanaman petani sayuran. Sukses menghapus sedikit debu tapi tidak sampai membuat banjir di jalan. Ini namanya hujan rahmat.

Hujan yang "tiba-tiba" seperti ini menyisakan sebuah renungan menarik. Sangat banyak pengendara sepeda motor yang harus berteduh di emperan toko, di bawah pohon, di mana saja yang membuat mereka terhindar dari basah hujan. Atau, ada banyak orang yang "nekat" melaju dalam hujan meskipun resikonya adalah basah kuyup. Mungkin ada satu kepentingan yang tidak mungkin ditunda. Hanya secuil orang yang berdiri, mengenakan mantel, dan baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Pemandangan seperti ini sangat berbeda jika kita siap dengan mantel di kenderaan. Kapan saja hujan turun, kitabisa segera berhenti di pinggi…

Inspirasi "Pantang Menyerah" dari Anak

Kini anakku sudah setahun. Saat aku pergi ke Italia, dia masih tujuh bulan. Sudah lima bulan lebih kami tidak bertemu. Jangan tanya bagaimana rasanya rindu.

Satu bulan yang lalu, lewat telpon ia sudah bisa memanggiku, “ayah…ayah…”. Itu kali pertama aku mendengar ia menyebut nama panggilan itu kepadaku. Aku yakin, beberapa hari ke depan ia pasti sudah punya kata baru: “ayah… wo… ayah… wo… ” (ayah, cepat pulang). Sungguh aku takkan sanggup mendengar kata itu.

Sekarang ia mulai bisa berjalan, meskipun belum lancar. Ia bisa berjalan pelan dan sudah lebih sepuluh langkah. Ia masih terus jatuh dan jatuh. Namun ia tidak pernah jera dengan jatuh. Anakku, seperti anak lainnya, dan seperti aku pada masa anak-anak, adalah orang yang menempatkan jatuh sebagai anak tangga menuju keberhasilan.

Kemarin istriku bercerita, kalau anak kami melihat iklan di televisi di mana ada anak-anak yang bergoyang, maka ia ikut bergoyang. Padahal kakinya belum terlalu kuat untuk begoyang. Hanya dua tiga kali berger…