Tuesday, 8 December 2009

Paulo Coelho si Penyihir Sesat

Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri--bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita? Itulah pertanyaan utama dalam karya penulis bestseller Paulo Coelho, Sang Penyihir dari Portobello. Seperti halnya Sang Alkemis, karya Coelho yang telah diterjemahkan kedalam 64 bahasa di dunia, kisah Sang Penyihir dari Portobello ini memiliki kekuatan untuk mengubah sudut pandang para pembacanya mengenai cinta, gairah, suka cita, dan pengorbanan. Ini pula yang menjadikan saya tertarik untuk membaca buku yang satu ini. Dengan keterbatasan dalam bahasa Inggris, saya membaca edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia.


Di buku Sang Penyihir dari Portobello ini Coelho menamakan tokoh utamanya dengan Athena. Athena memiliki daya spiritual yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Athena lahir dari rahim seorang Gipsi di Rumania. Saat berumur kurang dari 3 bulan ia diadopsi oleh sebuah keluarga kaya asal Beirut yang sudah lama tidak memiliki anak. Ia dibawa pulang ke negeri di Timur Tengah tersebut dan diberi nama Sherine Khalil. Namun atas saran seorang familinya yang sepertinya tahu bahwa nama berbau Arab akan membawa masalah kelak kemudian hari, mereka memanggil gadis ciliknya dengan sebuah nama yang cenderung netral; "Athena"; merujuk pada dewi kebijaksanaan, kecerdasan, dan peperangan bagi orang Yunani.

Dari kecil Athena ’berbeda’ dari gadis lainnya. Ia punya kecendrungan religius yang kuat, mengatakan dirinya dikelilingi sekumpulan teman tak terlihat, dan meramalkan perpecahan panjang di Beirut. Ramalan itu menjadi kenyataan, lalu dia bersama keluarga pun migrasi ke Inggris, menikah di usia muda, bercerai dan menjadi single mother dari satu putra hasil pernikahannya.

Fokus cerita yang dipaparkan Coelho adalah tentang Athena yang terus mencari ’ruang kosong di dalam diri’ sampai ia menemukan sebuah cara mendapatkan ketenangan yakni dengan tarian. Tarian yang dilakukan dengan gerakan tertentu diiringi dengan musik tertentu membawanya pada kondisi trans. Trans adalah situasi di mana ia menemukan dirinya sendiri dalam kebahagiaan dan kekuatan untuk mempengaruhi orang lain.

”......Menarilah dengan hanya diiringi suara perkusi; ulangi prosesnya setiap hari; ketahuilah bahwa, pada momen tertentu, matamu akan terpejam secara amat alami, dan kau akan mulai melihat cahaya yang datang dari dalam, cahaya yang menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dan membangun kekuatanmu yang tersembunyi,” demikian kata Pavel Podbielski, pemilik apartemen di mana ia tinggal. Pria imigran Polandia ini membuat Athena paham untuk pertama kalinya bahwa menari bisa membawanya pada kepuasan spiritual.

Namun pencarian ’ruang kosong dalam diri’ belum berhenti ketika Athena memahami jalan cahaya (Vertex) yang berasal dari tradisi Siberia. Ia memboyong Viorel, sang anak, pergi ke Dubai dan sukses menjadi agen properti. Akan tetapi, keberhasilan secara materi tak pula membawa kebahagiaan. Di kota ini Athena sempat belajar kaligrafi. Dalam kaligrafi ia juga menemukan jalan menuju ketenangan. Sebab setiap gerak dalam kaligrafi mengikuti gerak kosmos yang berpengaruh pada ketenangan. Namun ini juga tidak memuaskannya, hingga akhirnya ia memutuskan menelusuri jejak ibu kandung ke Rumania, yang justru mempertemukan dirinya dengan Edda yang akhirnya menjadi guru spiritualnya.

Athena selanjutnya menularkan ajaran spiritualnya ke penduduk London, dalam bentuk kebijaksanaan universal Hagia Sofia, dan pada akhirnya menimbulkan reaksi pro dan kontra. Ada pengikutnya, dengan tujuan bermacam-macam. Menemukan kebahagiaan, atau sekadar ingin tahu dan minta diramal. Sebaliknya kelompok penghujat menjulukinya sebagai Sang Penyihir dari Portobello.

Hingga suatu hari ditemukan mayat wanita yang identitasnya dikenali sebagai Athena.

Kisah tentang Athena bergulir paska kematiannya, dari penuturan orang ketiga. Heron Ryan, jurnalis yang jatuh cinta pada Athena sejak pertemuan di Rumania. Guru spiritual Athena, Deidre O’Neill atau lebih dikenal dengan nama ”Edda”. Ibu angkat Samira R. Khalil, Andrea McCain (aktris), Sejarawan Antoine Locadour, pemilik apartemen tempat Athena pernah menyewa kamar, dan mantan suami Athena. Masih adapula tokoh-tokoh lain yang sempat bersinggungan dengan wanita yang meninggal sebelum berusia 30 tahun itu.

Darah Gipsi mengalir dalam tubuh Athena yang membuatnya menikmati bunyi-bunyian dan tarian. Ditinjau dari ilmu antropologi kita juga memahami tradisi lama menghormati Dewa, Yang Maha Agung, atau Maha Besar dalam bentuk tarian pemujaan. Misalkan Whirling Dervishes dalam aliran Sufisme. Atau dalam buku ini menyebutkan tentang tari jalan cahaya atau Vertex dari kaum Siberia yang diajarkan oleh Podbielski.

Athena menemukan kedamaian dalam Tuhan yang feminin. Tuhan dalam bentuk ”Dewi” atau ”Ibu” dalam pencarian ibu kandungnya. ”Dewi” yang memberikan sisi wanita yang melindungi kita di saat bahaya, menemani saat kita menjalankan kegiatan sehari-hari dengan penuh cinta dan sukacita. Sekali lagi kita diingatkan akan cinta, sebuah kisah perjalanan menemukan kedamaian spiritual dan pengorbanan atas nama cinta.

Sumber: Ruang Resensi (dengan sedikit perubahan)

No comments:

Post a Comment