Thursday, 24 December 2009

Pengabdian dan Masa Depan (4)

Tulisan ini saya buat untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2006. Tsunami telah membuat perubahan besar di Aceh dan –sesedikit mungkin- di Indonesia. Bagi saya pribadi ini adalah momen penting dalam perubahan hidup saya dalam banyak hal. Dan tulisan “lima babak” ini adalah rekaman perubahan itu.
-------------------------------

Saya mendapatkan makan pagi di rumah famili setelah berjalan kaki 4 km. Kemudian saya dipesankan untuk melihat nenek yang ada di Kp. Keuramat, sekitar 7 km dari rumah itu. Berbekal sebuah sepeda kecil saya menelusuri jalan di Kota Banda Aceh pas sehari setelah tsunami. Sengaja saya memilih jalan utama kota untuk menyaksikan bagaimana peristiwa ini meluluhlantakkan semua yang ada di kota ini. Sayangnya berjalan dengan sepeda pada hari kedua tsunami sama saja dengan membawa sepeda. Artinya bukan kita yang naik ke atas sepeda, tapi sepeda yang harus digendong. Sampah-sampah bercampur mayat menggunung di sepanjang jalan. Saya dengan terpaksa, kadang sengaja terkadang tidak, harus menginjak mayat yang ada di sepanjang jalan itu (Kepada mayat yang merasa saja injak, saja mohon maaf).

Pada hari itu beberapa mobil yang datang entah dari mana sudah mulai membersihkan jalan. Banyak orang mulai mencari saudaranya yang hilang. Ada juga yang mencari kenderaan atau benda berharga di dalam puing-puing rumahnya yang ditinggalkan. Namun tidak sedikit ada orang yang sangat tidak bermoral, hari itu mereka datang untuk mengumpulkan emas dan barang berharga yang ada di tubuh dan pakaian jenazah korban tsunami. Saya tidak tahu mereka datang dari mana. Semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal untuk kejahatan itu.

Saya mendapatkan saudara saya yang di kampung Keuramat selamat. Mereka sempat naik ke lantai dua hingga air yang penuh di lantai satu rumah itu tidak mencederai siapapun. Namun tidak ada yang dapat diselamatkan di dalam rumah. Semua barang, mobil, motor, buku, lemari dan lainnya hancur dimakan air. Kami mencoba turun dari lantai dua dengan menyusun beberapa lemari dekat jendela. Sebab lantai satu, jalan yang ada tangganya sudah tertutup sama sekali. Lalu dari sana kami berjalan dan mencari tempat yang aman. Setelah membawa mereka ke rumah famili yang lain, saya kembali ke Rukoh dan sekitarnya untuk membantu mengangkat jenazah yang berserakan di pinggir jalan dan di dalam rumah. Saat itu sudah banyak orang yang bekerja untuk mengangkat jenazah.

Keesoan harinya (hari selasa), saya baru sadar kalau tamu di rumah famili di Lambaro sudah sangat banyak. Beras, air, makanan lain yang ada di sana tidak mungkin mencukupi untuk orang sejumlah itu. Dengan tiga orang laki-laki lain yang ada di sana kami menempuh perjalanan ke Peunayong (10 km) untuk mencari makanan. Di Peunayong kami mencari makanan yang terbuang yang masih bisa dimanfaatkan. Saya mendapatkan minyak goreng dan sekardus Indomie. Teman saya yang lain mendapatkan roti dan makanan yang lain lagi. Inilah yang kami bawa pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sampai di rumah saya kelelahan dan hampir tidak daat bergerak lagi. Tangan, kaki, dan badan saya semuanya seperti patah-padah tidak berdaya. Saya tertidur telentang dan fana. Baru sadar keesokan harinya. Saya tertidur 14 jam.

Saya katakan sama Makcik pemilik rumah bahwa saya tidak mungkin berpangku tangan atas kejadian ini. Saya ingin melakukan sesuatu. Memang saya korban, namun kesedihan, kerugian, pederitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan banyak orang lain yang juga menjadi korban tsunami. Saat itulah saya pergi ke Darussalam dan bergabung dengan teman-teman di Asrama Pascasarjana IAIN Banda Aceh. Asrama ini menampung 300 kk pengungsi dari seputaran IAIN. Di sana antara lain ada Bapak Prof. Rusjdi, Rektor IAIN Ar-Raniry dan Prof. Muslim, ketua MPU Aceh. Mereka mengungsi karena rumahnya juga diterjang gelombang. Selain mereka ada juga dosen lain dan masyarakat di sekitar kampus.

Beberapa hari kemudian kami membentuk Pusat Koordinasi Pasca Bencana (PKPB) atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Saya salut dengan Prof. Muslim yang pada masa itu langsung berfikir untuk melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi sosial masyarakat untk bentuan pasca bencana. Sebab saat itu, seminggu setelah Tsunami, banyak bantuan yang datang namun tidak terdistribusi dengan merata. PKPB rencanya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak lain hingga bantuan tidak tumpang tindih sementara banyak pengungsi yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Sayangnya PKPB hanyalah kelompok kecil, sehingga untuk melakukan itu tidak memiliki bergaining yang kuat. Jadinya, PKPB melakukan servey ke beberapa lokasi yang disinyalir tidak mendapatkan bantuan lalu memberikan info kepada organisasi yang menangani bantuan untuk menyalurkan ke sana.

Sebulan setelah tsunami adalah bulan pengabdian. Bergabung dengan teman-teman saya mencoba melakukan apa yang paling baik untuk menjadikan kehidupan dalam kesedihan itu bisa bersemangat kembalai. Pada akhir bulan Januari 2005 kami sempat menyelenggarakan pertemuan pertama berbagai tokoh dan unsur masyarakat mengenai rehabilitasi pasca bencana. Seingat saya inilah pertemuan pertama menyusun rancangan pembangunan Aceh pasca Tsunami. Salah satu rekomendasinya adalah perbaikan jalan. Sebab katanya, orang Aceh kalau ada jalan tanpa bantuan yang lain juga bisa hidup dan bangkit kembali. Sayangnya jalanlah yang terakhir dibuat. Hingga saat ini, lima tahun pasca tsunami, Barat-Selatan Aceh masih terisolir karena tidak ada jalan.

1 comment:

  1. hebat yah...barangkali mau pasang iklan gratis. disini aja ya bos :
    http://butuhpembeli.blogspot.com

    ReplyDelete