Tuesday, 11 May 2010

Kenapa Mereka Memilih Dukun?

Rumah itu tidak dapat dikatakan mewah. Namun untuk konteks perumahan masyarakat di desa, rumah itu bisa disebut lebih dari sederhana. Halamannya nampak tidak ada bunga dan tanaman. Di sisi kanan rumah ada sebuah toko kelontong yang lumayan penuh dengan barang dagangan. Sementara di sisi kirinya ada sebuah garasi yang tidak ada mobilnya. Dan, di dalam garasi itulah penuh dengan orang keluar masuk. Di depan garasi pula banyak orang duduk santai, merokok, ngobrol, bercerita macam-macam, laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak.

Ternyata di dalam garasi sedang berlangsung pengobatan.

Rumah itu adalah rumah seorang tabib yang lumayan terkenal di Aceh Besar. Saya mendengar namanya sudah dua tahun yang lalu. Dari berita mulut ke mulut, katanya, sang tabib mampu mengobati banyak penyakit. Banyak orang yang sudah sembuh berkat usahanya. Ada yang lumpuh sudah bisa berjalan kembali, ada yang sembuh total dari penyakit hernia, darah tinggi, TBC, dan berbagai penyakit lainnya. Saya kira ini sebuah pekerjaan luar biasa. Dan karenanya saya berniat mengunjunginya kalau ada waktu. Dan baru kemarin saya berkesempatan merealisasikan niat saya menyaksikan prosesi pengobatan yang beliau lakukan.

Di dalam garasi yang tidak terlalu besar itu penuh dengan orang-orang yang menunggu giliran berobat. Kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sang tabib duduk di tengah ruangan, dikerumuni oleh orang-orang yang akan berobat. Ia memanggil satu persatu berdasarkan urutan air mineral yang sudah diantarkan oleh calon pasien pada pagi hari sebelum pengobatan. Setiap pasien yang dipanggil diminta duduk di depannya. Kemudian ditanyakan keluhan penyakitnya. Sang tabib mengambil air, merajahnya, membuka tutup botol air, mencelupkan sebuah keris, menutup kembali dan menyerahkan kepada pasien. Beberapa pesien disebutkan obat-obatan yang harus diminum atau dimakan yang tersedia di toko samping rumahnya. Namun banyak pasien yang tidak perlu obat-obatan. Cukup dengan air itu saja. Pasien mambayar biaya pengobatan seiklas hati.

Proses pengobatan yang terbuka dan sederhana ini, bagi saya sangat tidak rasional untuk menyembuhkan penyakit. Namun kenyataannya banyak orang percaya dan yakin itu bisa menyembuhkan. Saya duduk di depan garasi dan berbicang dengan beberapa orang yang sedang menunggu giliuran berobat. Seorang bapak paruh baya menyebutkan, ia menderita batuk yang menahun. Badannya sudah kurus dan kering. Ia sudah membawa kepada dokter berkali-kali, namun tidak juga sembuh. Dan sudah dua bulan belakangan, ia rajin datang ke tabib ini. Dan ia merasakan perubahan, katanya sudah lumayan berkurang.

Seorang ibu yang saya ajak bicara terlihat jelas kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Katanya itu sudah berlangsung lama. Ia sudah membawanya sampai ke Penang, Malaysia, namun belum juga sembuh. Bahkan dokter tidak konsisten mengatakan penyakitnya. Lain dokter lain pula “fatwa” mengenai penyakit tersebut. Jadinya, ia datang ke sang tabib. Dan, -lagi-lagi menurut si ibu- ia sudah merasa baikan. Bahkan di bagian perut sudah nampak tumbuh kulit baru. Saya tanyakan, apa yang dilakukan sang tabib? ternyata tidak ada yang spesial, sama saja dengan apa yang dilakukan pada orang lain. Ia hanya minum air putih yang telah dirajah dan memakai obat gosok.

Dari kenderaan yang ada di depan rumah sang tabib jelas yang datang ke sana bukan hanya mereka dari golongan ekonomi lemah. Banyak mobil mewah dan motor berjejer di sana. Kita juga bisa lihat dari pakaian yang dikenakan calon pasien, nampaknya mereka bukan orang yang sama sekali tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit. Namun, kata salah seorang yang saya ajak bicara, umumnya yang datang ke sana adalah mereka yang kecewa dengan apa yang diperolehnya di rumah sakit. Kecewa karena mereka tidak ada jaminan sembuh, bahkan ada yang kecewa karena penyakitnya justru tambah parah.

Saya teringat Ponari, beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah batu “ajaib” ia menyembuhkan banyak orang. Entah benar-benar sembuh atau tidak, orang tersebut saja yang tahu. Namun saat itu banyak orang yang datang ke tempatnya berharap ada sentuhan batu ponari ke dalam air yang mereka bawa. Dan air itu dianggap sebagai obat yang akan mengusir penyakitnya. Praktek Ponari berakhir dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah setempat, dan pengakuan Ponari sendiri bahwa ia sudah tidak mampu mengobati lagi.

Pasti praktek seperti ini bukan hanya terjadi di Aceh, namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebuah catatan yang penting dari kasus ini yaitu keyakinan masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang masih sangat kuat. Keyakinan ini semakin kuat karena pelayanan dan tingkat kesembuhan yang sangat rendah di rumah sakit pemerintah dan biaya yang sangat mahal di rumah sakit swasta. Apalagi ada sebuah hukum tidak tertulis yang diyakini selama ini, “orang miskin dilarang sakit” yang menyebabkan praktek pengobatan ini menjadi pilihan warga.

1 comment: