Monday, 24 May 2010

4G Made In Aceh

Kalau teknologi Eropa atau China hanya mampu membuat 3G atau 3,5G, maka Aceh selama ini telah melahirkan 4G. Dan saya kira ini akan bertambah terus dalam waktu cepat. Apalagi partisipasi masyarakat Aceh dan peran pemerintah juga besar dalam membangunnya. Jadilah 4G di Aceh sangat berkembang dan terkenal.

“G” Pertama adalah Ganja
Baru saja saya nonton TV. Sebuah berita tentang “kesuksesan” aparat kepolisian menangkap dua pemuda di Jawa Barat yang membawa ganja. Dalam keterangan yang diberikan kepada polisi, mereka mengaku hanya sebagai kurir dan bukan pemakai, apalagi pedagang. Ganja tersebut dititpkan seseorang dan harus diberikan kepada seseorang lain yang telah ditunjuk. Untuk ini mereka akan mendapatkan imbalan yang lumayan. Sampai di sini masih tidak ada masalah dengan berita tersebut. Namun sebelum mengakhiri berita dikatakan: “Menurut polisi ganja itu berasal dari Aceh.”

Memang ganja memiliki cerita sendiri dalam masyarakat Aceh. Dulu, ketika saya masih anak-anak, orang kampung menanam ganja di pinggiran sumur yang terbuat dari tanah. Namun bukan untuk dihisap sebagai rokok atau dihisap asapnya seperti saat ini. Waktu itu ganja dibuat sebagai bumbu yang menjadikan masakan lebih nikmat dan neundang, gethoo!. Atau menjelang bulan puasa, daun ini dipakai untuk menjadikan daging lebih empuk saat di makan. Namun setelah terjadi pembangunan yang masuk ke kampung-kampung, informasi sudah sampai ke sana, ganja ternyata diharamkan dan dilarang negara. Jadinya, tanaman di pinggir sumur itupun lenyap.

Tapi yang justru kebijakan ini menjadikan tanaman ganja berkembang sangat banyak di hutan-hutan seluruh Aceh. Saya memang tidak punya bukti, namun itu menjadi sebuah rahasia umum. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menanam ganja, menjualnya atau terlibat dalam kurir. Namun jangan salah, tidak semua orang Aceh melakukan itu atau menyetujuinya. Banyak orang Aceh juga menjadi korban karena peredaran salah satu jenis narkotika tersebut.

“G” kedua adalah GAM

Berita mengani GAM pernah mewarnai media masa Indonesia selama beberapa tahun. Hal ini tidak lain karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memiliki sekelompok pasukan yang mampu berperang melawan pasukan pemerintah. Dalam berbagai kesempatan jelas dikatakan GAM menginginkan kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia. Indonesia dianggap telah berlaku tidak adil kepada masyarakat Aceh. Selain berlaku tidak adil dalam budaya, agama dan pendidikan, Indonesia dinilai tidak adil juga dalam mengelola sumber daya alam. Banyaknya hasilalam di Aceh tidak pernah dinikmati oleh orang Aceh sendiri.

Kondisi ini mendorong sekelompok masyarakat bergabung membentuk sebuah pasukan yang menamakan diri mereka dengan GAM. lebih lima tahun GAM melawan pemerintah Indonesia dan telah menyebabkan banyak cerita yang lahir. Kebanyakan ceritanya adalah cerita menyakitkan karena berhubungan dengan kematian, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembakaran, penistaan dan lain sebagainya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah GAM telah mewarnai perkembangan pemikiran politik di Indonesia, langsung atau tidak langsung.

Saat ini beberapa kabupaten di Aceh berada di bawah pimpinan mantan GAM. Sayangnya daerah Aceh sekarang defisit anggatran. Bukan hanya di tingkat provinsi, namun juga di kabupaten. Apakah ini karena pemerintahan GAM atau kesalahan persoanal pemimpin? wallahu’a'lam. Yang pasti beberapa daerah kabupaten di Aceh saat ini terancam bangkrut karena tidak mampu membayar gaji pegawai dan menyediakan dana untuk pembangunan.


“G” ketiga adalah Gempa


Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang lalu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan kehidupan daerah Aceh. Betap[a tidak? Aceh yang selama konflik tertutup untuk diakses oleh mendia, dilihat oleh orang luasr dan orang asing, namun setelah Gempa aceh menjadi daerah yang sangat kosmopolit. Banyak orang dari berbagai bangsa di dunia datang untuk menyaksikan dan membantu korban tsunami di Aceh. Kesempatan ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan terlupakan.

Gempa dan tsunami sedemikian besar perannya dalam membentuk kehidupan masyarakat di Aceh. Salah satunya adalah perubahan budaya masyarakat, perubahan cara pandang, dan berbagai pembangunan fisik di kampung-kampung atau di daerah perkotaan. Ini juga sebagai awal bagi masyarakat Aceh untuk menciptakan dan mendidik generasi di masa yang akan datang yang lebih baik. Negara-negara yang pernah datang ke Aceh pada masa tsunami terukir pada prasasti yang dibuat di Balang Padang, Banda Aceh. Sekarang prasasti tersebut telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.


“G” Keempat adalah Gaun


Masalah gaun atau pakaian perempuan juga tidak kalah pentingnya di Aceh. Salah-salah berpakaian anda tidak ada bisa mewujudkan rencana. Saya contohkan, kalau anda perempuan mau pergi ke rumah sakit di Meulaboh, Ibu Kota Aceh Barat, namun memakai celana jeans, maka dapat dipastikan anda tidak bsia menjumpai saudara anada yang sakit. Atau kalau anda mau jumpa direkturnya, anda juga tidak akan diberikan izin.

Ini terjadi karena bupati Aceh Barat menerapkan sebuah peraturan tentang keharusan masyaakat Meulaboh mengenakan rok dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bupati bahkan menyediakan belasan ribu rok untuk menggantiakn celana ketat yang dipakai oleh perempuan dan dibagikan secara gratis. Namun jika pakaian ketat anda ditemukan di tempat razia, anda harus mengiklaskan pakaian tersbeut dimusnahkan. Ngeri? Tidak juga. Sebab juka anda sudah tahu, maka kota Meulaboh adaalh kota yang mana tenteram terkendali. :-D

Itulah empat G yang telah diciptakan di Aceh. Dalam waktu dekat mungkin Aceh akan melahirkan G kelima. Entah apa namanya.

No comments:

Post a Comment