Monday, 8 February 2010

Waduk Keliling Ketandusan

Kemarin, saya dan istri menghabiskan hari minggu di sebuah waduk di Aceh Besar yang dikenal dengan Waduk Keliling. Saya sudah lama merencanakan akan mengunjungi waduk tersebut, sejak pertama kali saya dengar tahun lalu. Namun baru kemarin rencana itu terealisasi, alhamdulillah. Waduk ini adalah waduk terbesar di Aceh di mana air yang ditampung telah menyerupai danau. Presiden SBY meresmikannya pada pertengahan tahun lalu. Untuk membuat waduk pemerintah telah merogoh pundi-pundi negara Rp. 270,3 milyar yan disebarkan di atas lahan lahan 330 hektare. Waduk Keliling ini dapat menampung air lebih 20 juta meter kubik dengan kedalaman 7 sampai 20 meter. Waduk ini menadi sumber air bagi pertanian dan rumah tangga masyarakat di beberapa wilayah Aceh Besar. Kondisi inilah yang menyebabkannya menjadi sebagai salah satu objek wisata baru di Aceh Besar. Dan saya adalah salah seorang wisatawannya.

Saya pergi ke sana menjelang tengah hari, membawa bekal makan siang dengan menu khas Aceh tempoe doeloe; asam sabe. Perjalanan dengan sepeda motor di tengah terik matahari menjadikan jarak ke Waduk terasa sangat jauh. Padahal kalau dilihat dari batu tanda kilometar yang dibuat oleh pemerintah, jarak ke sana hanya 25 km plus 5 km masuk ke dalam. Beruntung ketika mulai masuk ke jalan menuju lokasi waduk di sisi kiri dan kanan jalan masih ada pepohonan meskipun tidak terlalu banyak. Apalagi jalan yang menanjak menurun dengan aspal yang bagus menjadikan perjalanan terasa menyenangkan.

Sekelompok anak muda berdiri di pintu masuk menuju lokasi. Mereka menghentikan semua kenderaan yang akan masuk ke arena waduk dan memberikan karcis. Saya menanyakan berapa saya harus bayar untuk masuk ke sana, dan seorang anak muda menjawab Rp. 5.000,- Saat saya mengeluarkan uang yang ternyata saya hanya memiliki pecahan uang ribuan tiga lembar. Anak muda itu mengatakan, “itu saja sudah cukup.” “Ini Cuma tiga ribu.” “Hana peu bang, nyang kasep,” katanya, cukup tiga ribu. Saya lalu membayar dengan uang itu dan saya diberikan selembar kertas berwarna biru. Di sana tertera tulisan, karcis masuk lokasi Bendungan Keliling Rp. 2.000,-.

Saya terkesima dengan bendungan itu. Tidak seluas Danau Laut Tawar memang. Tidak pula seindah danau Toba. Apalagi kalau dibandingakan dengan beberapa danau yang sudah mendunia dan dikunjungi jutaan orang. Ini hanyalah sebuah waduk yang menampung air guyuran hujan plus air serapan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sebab dari sana, sebelah barat dan selatan adalah rentetan pegunungan yang menabingi Aceh Besar dan Banda Aceh. Air dari pegunungan itulah yang mengalir ke waduk ini.

Jalan aspal yang mengelilingi waduk hanya pendek saja, mungkin satu kilometer. Selebihnya jalan masih berbatu dan bergelombang. Saya menelusuri jalan itu dengan sepeda motor dan masuk ke jalan-jalan yang ada bekas kenderaan orang lain. Di bagi timur waduk ada jalan yang menuju ke gundukan-gundukan hijau dengan beberapa pohon kecil di atasnya. Gundukan itu nampak seperti pulau di tengah danau. Ada beberapa gundunkan yang terpisah-pisah dan nampak alami. Banyak juga orang memancing dengan membuat tenda di pinggir waduk. Ketika saya tanyakan ikan apa yang mereka peroleh, salah seorang mengatakan ikan nila. Dengan kondisi rumput yang hijau dan tebal, saya kira ini tempat yang bagus buat proses pembelajaran, pelatihan, outbound, camping dan lainnya. Mungkin satu saat saya akan mebawa mahasiswa saya ke sana. Sedikit gangguan dengan banyaknya kotoran sapi, mungkin bisa dibersihkan sebelum dipakai.

Di sebuah tepian waduk yang agak sepi dan terpisah, di mana banyak semak-semak di pinggir waduk, saya melihat sebuah sepeda motor dengan tiga orang anak usia SMP duduk di sisinya. Mereka berteduh di bawah sebatang pohon rindang seukuran betis orang dewasa yang tingginya lebih kurang tiga meter. Seorang perempuan duduk persis di bawah pohon. Seorang perempuan lainnya dan seorang laki-laki duduk setengah meter di depannya sambil berpelukan. Saat saya lewat si laki-laki muda ini sedang berusa memeluk kepala teman perempuannya dan mendekatkan mukanya ke arah pipi perempuan. Teman perempuannya melihat saja dari belakang. Tiba-tiba si laki-laki muda ini melihat saya tanpa mengehentikan aksinya. Saya melambatkan laju sepeda motor dan mendehem lalu bertanya: “peu acara nyan?” Ia menghentikan aksinya dan tersenyum pada saya dan melepaskan pelukannya, bertingkah persis seperti anak yang tertangkap basah, duduk sedikit menjauh dan nampak malu-malu. Saya tidak tahu apakah mereka melanjutkan acara setelah saya pergi.

Waduk ini memang berisi air yang jernih. Sayangnya gudukan-gundukan itu hanya ditumbuhi semak-semak dengan pohon-pohon kecil saja. Hanya sedikit pohon besar layaknya hutan, dan itu sangat tidak mewakili. Bahkan di sisi Utara waduk yang ada pegunungan juga terlihat gunung yang gundul akibat penebangan, entah liar atau dibiarkan. Yang pasti tidak nampak lagi pohon besar menjulang dengan dau hijau yang rindang. Di beberapa bagian nampak ada pohon jati dan pohon cemara yang baru di tanam. Namun sedikit kurang dirawat sehingga banyak pohon tidak tumbuh normal bahkan banyak yang mati dan mengering. Ini menyebabkan suasanya di sana menjadi sama panasnya dengan di Banda Aceh. Padahal saat melihat bentangan air ada kesenangan, kedamaian dan kesegaran meresap dalam jiwa, sesegar air di sana. Namun saat mata mengarah ke pegunungan yang ada di sekelilingnya, yang ada adalah ketandusan dan kekeringan. Mungkin inilah sebabnya kenapa disebut dengan Waduk keliling, yaitu Waduk yang dikelilingi oleh ketandusan. Hom lah.


No comments:

Post a Comment