Saturday, 27 February 2010

Ambivalensi Pengamat

Alkisah, Lukmanul Hakim ingin mengajarkan anaknya tentang opini manusia tentang orang lain. Ia dan anaknya melkukan perjalanan ke luar kota dengan membawa seekor onta dewasa. Berdua dengan anaknya ia naik ke punggung onta dan meletakkan barang di bagian belakang mereka. Sepanjang jalan orang-orang mengatakan: betapa zalimnya mereka. Seekor onta dinaiki berdua dan ditambah barang di belakangnya. Apakah mereka tidak berfikir onta itu akan sakit dan menderita?

Lukman tahu apa yang dikatakan orang. Ia turun dan hanya membiarkan anaknya yang duduk di punggung onta. Ia sendiri memegang tali onta dan berjalan di depan. Orang-orang mengatakan, betapa anak itu durhaka. Ia membiarkan bapaknya menarik onta sementara ia sendiri duduk tenang di atasnya. Ia sungguh tidak menghargai orang tuanya yang sudah lemah. Kenapa ia melakukan ini semua? sungguh ini anak yang tidak tahu membalas budi.

Lukman ganti posisi. Ia yang duduk di atas dan anaknya yang menarik onta. Orang tetap berkata, betapa orang tua yang tidak bertanggung jawab. Ia membiarkan anaknya menarik onta semntara ia sendiri duduk enak di atasnya. Sebagai seorang orang tua seharusnya ia yang menarik onta untuk anaknya, bukan justru mempekerjakan anak untuk kepentingannya. Dia telah melanggar Hak Azazi Anak.

LUkman turun dan berjalan berdua dengan anaknya sambil menarik onta. Onta berjalan tanpa beban karena mereka dan barang-barangnya telah diturunkan. Orang-orang berkata, betapa bodohnya mereka. Mereka memiliki onta tapi tidak dimanfaatkan. Hari pans terik bagini pasti akan lebih mudah jika mereka naik onta. Perjalanan akan lebih cepat sampai ke tujuan. Lalu untuk apa onta kalau tidak dipergunakan?
Lalu Lukman berkata pada anaknya: Nak, inilah Ambivalensi Pengamat.

Manusia memang penuh ambivalensi. Ketika jalan rusak dan berlubang mereka ramai-ramai protes agar pemerintah segera membangun jalan. Namun ketika jalan telah dibangun, sudah mulus dan keras, ramai-ramai pula membuat polisi tidur di depan rumahnya. Berkenderaan menjadi sangat tidak nyaman, perut sakit bergetar. Kenderaan menjadi cepat. Tidak hati-hati (misalnya tidak tahu di sana ada polisi tidur) bisa celaka. Ketika musim kemarau ramai-ramai minta hujan segera turun agar kekeringan bisa segera pulih. Tapi begitu hujan ramai-ramai susah karena takut benjir melanda kampung mereka. Begitulah manusia.

Opini yang lahir dari sikap ambivalen ini kerap diarahkan pada kita. Orang memandang kita dengan kesalahan yang menumpuk.Kenapa ia begini padahal ia begitu. Maunya ia begini saja. Dia sangat tidak layak mendaatkan itu. Ia dapat karena ia memiliki hubungan dengan bapak pulan. Celakanya banyak diantara kita terpengaruh. Jadilah kita hidup untuk memuaskan opini orang yang punya mulut besar itu, bahkan dengan berkorban dan menyakiti diri sendiri. Apakah kita harus hidup di bawah opini yang menuh dengan kecurigaan dan kecemburuan itu?

Tuhan menciptakan kita dengan potensi kemampuan untuk memilih, maka pergunakanlah potensi itu dengan baik.

Wallahu’a'lam.



Tulisan ini saya publikasikan juga di: http://sehatihsan.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment