Wednesday, 24 February 2010

Sesendok Air di Kolam Madu

Alkisah, seorang raja di zaman dahulu meminta rakyatnya mengumpulkan madu. Sebagai raja yang bijak dan dituruti maka semua orang sepakat saja dengan apa yang diperintahkan raja. Apalagi madu merupakan penghasilan terbesar di negeri itu. Demi mensukseskan perhelatan tersebut raja menyiapkan sebuah kolam besar yang agak jauh dari kerajaan, dekat hutan belantara. Kolam itu akan ditinggalkan sendiri tanpa pengawalan. Pada sebuah malam yang telah ditentukan setiap keluarga harus membawa sesendok madu dan mengisinya ke dalam kolam.

Seorang laki-laki paruh baya dengan dua anak dan seorang Istri berfikir berbeda menanggapi perintah ini. “Untuk apa saya memberikan raja sesendok madu. Ia memiliki madu yang banyak. Lagi pula apalah untungnya aku membawa madu ke sana, yang ada maduku berkurang. Aku akan membawa sesendok air saja. Kolammnya jauh di hutan, tidak ada pengawalan, malampun gelap gulita. Siapa yang tahu kalau aku memasukkan sesendok air? Apalagi dalam sebuah kolam madu maka sesendok air pasti tidak akan berwujud apa-apa.” Demikian pikirnya. Dan demikian pula yang dilakukannya pada malam yang telah ditentukan.

Keesokan hari, setelah malam pengumpulan madu itu selesai, betapa terkejut masyarakat yang menyaksikannya. Sementara sang raja tersenyum saja penuh makna. Mereka semua menyaksikan, kolam yang disedikan untuk menampung madu, bukan madu yang terkumpul tapi sebuah kolam yang penuh air. Banyak masyarakat malu dan takut pada kenyataan ini. Bagaimana tidak? mereka telah mendapatkan layanan yang baik dari rajanya, namun saat diminta menyumbangkan madu yang diperoleh adalah sekolam air. Raja menanyakan beberapa warganya, kenapa ini bisa terjadi. Ternyata, semua orang berfikir seperti bapak paruh baya dengan dua orang anak. “Apalah artinya sesendok air dalam sebuah kolam madu.” Saat ini menjadi pikiran semua orang, maka yang terjadi adalah kolam air, bukan kolam madu.

Berbagai ketimpangan da masalah sosial yang ada dalam masyarakat kita saat ini berawal dari cara pandang yang sama dengan bapak di atas. Tadi pagi, saat berangkat ke kantor saya melihat sebuah sedan warna hitam dengan plat polisi berwarna merah bertulisan putih tiba-tiba membuka kaca mobilnya dan melemparkan sebuah botol air meneral yang sudah kosong ke jalan raya. Di tempat lain, seorang temanku, dosen, melemparkan putung rokoknya dari dalam ruang kantor ke pintu depan. Putung rokok itu jatuh persis di depan pintu. Seorang penjual nasi pagi saya lihat membuang air comberannya di tengah jalan besar agar langsung digilas roda dan kering. Seorang yang lain dengan pengalaman lain pula. Dan semua kita pasti pernah punya pengalamana yang sama. Atau bahkan kita sendiri adalah orang yang melakukan itu, sadar atau tidak.

Ketika ini semua menadi kebiasaan umum, maka lahirlah lautan sampah di mana-mana. Lahirlah lautan abu rokok seluas lantai. Lahirlah air comberan yang baunya menyengat di jalan raya. Lahirlah berbagai lautan dosa yang awalnya adalah dosa kecil yang kita anggap kecil dan tidak berpengaruh. Padahal dosa-dosa inilah yang kemudian membesar dan menjadi masalah yang harus kita selesaikan dengan uang banyak, tenaga berat dan waktu yang panjang. Padahal semua berawal dari pengabaian kita pada sebuah kesadaran kecil untuk mentaati aturan dan menjaga agar dosa-dosa kecil itu tidak kita lakukan. Padahal andai saja banyak orang yang menghindari dosa kecil, maka dosa sosial yang besar tidak adakan pernah ada. Namun kalau kita berfikir “apakah artinya sesendok air di dalam kolam madu” akan kolam kesalahan sosial akan bertumpuk di mana-mana.

Jadi, mulailah dari diri sendiri.

No comments:

Post a Comment