Friday, 5 February 2010

Kenapa Orang Jawa Tidak Mau Memberontak?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya: Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa. Kali ini saya ingin berbagai cerita tentang pandangan masyarakat Wonodadi mengenai pemerintah dan berbagai “kezaliman” yang dilakukan pemerintah kepada mereka. Sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada diri saya sendiri sebelum saya pergi dan tinggal di sebuah rumah pedalaman Jawa selama dua minggu: kenapa masyarakat Jawa tidak memberontak pada NKRI? Namun setelah tinggal di sana saya tetap tidak bisa menjawabnya. Selain karena saya hanya tinggal selama dua minggu, keterbatasan komunikasi karena faktor bahasa membuat saya tidak dapat maksimal mengeksplorasi pandangan hidup mereka. Beberapa kejadian yang saya alami di sana sedikit mengarah ke jawaban pertanyaan saya. Namun saya tidak berani menyimpulkan apapun.

Suatu hari di Wonodadi saya pergi dengan Pak Nurdin yang hendak mencari rumput untuk pakan kambing peliharaannya. Untuk mencari rumput, kami perlu mendaki sebuah gunung yang becek namun tidak terlalu terjal. Di sana ditanam rumput gajah untuk pakan sapi dan hidup secara liar rambatan untuk makanan kambing. Di sela-sela mencari rambatan saya berdiskusi dengan Pak Nurdin mengenai kehidupan mereka. Dari diskusi itu antara lain Pak Nurdin mengatakan kalau dusunnya sekarang semakin sulit. Masyarakat semakin banyak, sementara tanah tidak bertambah. Hutan yang ada di sekeliling dusun juga milik Perhutani. Kalau ada tanaman di sana, misalnya kopi, harus membayar pajak kepada Perhutani setiap tahun. Katanya uang keamanan. Masyarakat diperbolehkan mengambil getah Pinus milik perhutani. Namun mereka harus membawa ke tempat penampungan di kecamatan. Dan itu dengan berjalan kaki menelusuri jalan pegunungan yang sangat susah. Padahal per kilogram Perhutani hanya membayar Rp. 2.000,- Harga ini menurut Pak Nurdin sangat tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan dalam mendapatkan getah Pinus.

Saya bertanya, kalau Bapak merasa tidak adil, kenapa bapak tidak sampaikan kepada mereka? Pak Nurdin mengatakan: “Susah Mas, kalau disampaikan nanti malah ngak dapat apa-apa lagi. Lagian, meskipun harga getah murah dan susah membawanya, kita kan tetap bisa menanam kopi dan mendapatkan hasil kopi setiap tahun. Apalagi kalau nanam kopi di kebun Perhutani kopinya aman dan tidak diganggu. Paling ada orang-orang nakal yang mengambil sedikit. Kita biarkan saja.”

Di hari yang lain saya pergi ke Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Kajen adalah kota kecil yang nampaknya tidak ada geliat pembangunan. Saya mencari-cari batik pekalongan di Kajen, tapi tidak menemukan. Menurut info dari seorang warga yang saya tanyai, Batik Pekalongan banyak dijual di Pekalongan Kota. Saat naik angkot, saya duduk di depan dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Antara lain saya menanyakan mengenai pembangunan yang dilakukan oleh bupati mereka yang perempuan. Katanya, bupati sekarang hanya fokus dalam mambangun rumah ibadah. Dalam beberapa tahun terkahir kepemimpinannya, beberapa masjid besar dibangun, dan banyak sumbangan untuk masjid-masjid kecil. Ia tidak membangun jalan dan sarana publik yang lain.

Saya katakan pada Sopir, kalau itu suatu hal yang bagus, siapa tahu dari situ akan lahir kader-kader terbaik Pekalongan yang dapat membangun kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Bang Sopir mengatakan, “kalau niatnya begitu tidak masalah. Tapi ini kan dia (bupati) mau menutup aib setelah kasus perselingkuhannya dengan wakil bupati terbongkar dan diketahui masyarakat banyak.” Kalau anda tahu mereka berslingkuh kenapa di didemo atau digugat sama-sama ke pengadilan? Kenapa dewan diam saja? Jangan-jangan itu main-mainan lawan politik mereka saja? Sopir nampak serius dan mengatakan. Benar lho mereka selingkuh. Tapi kan tidak ada yang berani melapor dan menggugat. Kalau mahasiswa berani mendemo SBY, karena mereka tidak dapat apa-apa dari SBY. Tapi mahasiswa takut demo sama bupati, nanti mereka tidak mendapat bantuan lagi.

Saat duduk di pangkalan ojek menunggu doplak yang akan membawa saya pulang ke Wonodadi, saya berbincang dengan tukang ojek mengenai pembangunan di bawah pemerintahan bupati Pekalongan sekarang ini. Jawabannya sedikit berbeda dengan Sopir Angkot. Katanya bupati hanya fokus membangun pasar. Di mana-mana pasar dibangun, diperluas dan dilengkapi dengan fasilitas yang bagus. Tapi bupati tidak membangun jalan. Di mana-mana jalan rusak dan tidak diperbaiki. Saya mengatakan kalau pasar itu kebutuhan banyak orang dan memang diperlukan dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Namun Bang Ojek mengatakan itu semua dilakukan untuk menutupi berita perselingkuhannya dengan wakil bupati. Saya sedikit komentar: kalau masyarakat tahu bupatinya selingkuh dan memiliki bukti, kenapa diam saja? Bang Ojek menjawab: “Wah… di sini susah mas. Orang kalau sudah bisa hidup, dapat makan seadanya, sudah cukup. Tidak mau ribut-ribut. Mahasiswa saja yang biasanya suka demo juga diam saja, apalagi masyarakat seperti saya ini, bagusan nrimo saja. Kan kata orang-orang tua dulu, nrimo itu pangkal kebahagiaan.”

No comments:

Post a Comment